cover
Contact Name
Fathiah Alatas
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
edusains-fitk@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EDUSAINS
ISSN : 19797281     EISSN : 24431281     DOI : 10.15408/es
Core Subject : Education,
EDUSAINS is a journal publishing the Natural Science Education, Biology Education, Physics Education, and Chemistry Education Journal. Edusains is published by Center for Science Education (CSE) which is located in Departement of Natural Science Education, Faculty of Education and Teachers' Training, Islamic State University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK Irwan, Irwan; Maridi, Maridi; Dwiastuti, Sri
EDUSAINS Vol 11, No 1 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v11i1.9586

Abstract

DEVELOPMENT OF A MODULE OF BIOLOGY-BASED GUIDED INKUIRI TO EMPOWER LEARNERS ON THE AFFECTIVE AND PSYCHOMOTOR DOMAINS       AbstractThis study aims to improve students’ affective and psychomotor performance through the development of guided-inquiry based biology modules. The research method used was research and development of Borg & Gall that has been modified. A cluster random sampling was conducted to determine 59 students. Data validation was conducted from experts, education practitioners and peers, and students. On average the score of the validation was in a good category with the value of 86.38, 92.71, and 91,80 respectively. With regards to the affective performance, there was a significant different of the score for both experimental and control group. The experimental group gained 81.75 (good) while the control group 65.76 (sufficient).  On the other hand, the average value for psychomotor performance was relatively higher with 92.53 (very good) for experimental group and 75.91 (good) for control group. The results of data analysis using the SPSS application (version 21) showed that the data in both classes were normally distributed and homogeneous so that they were continued with independent samples t-test. The results of statistical tests of affective domains show Tvalue>Ttabel (15.992> 2.002) and Sig. (2-tailed) 0.00 <0.005. Psychomotor domain data show Tvalue>Ttabel (18,312> 2,002) and Sig. (2-tailed) 0.00 <0.005. Based on these results it was concluded that the use of the guided inquiry-based biology modules was able to improve students’ affective and psychomotor performances. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada ranah afektif dan psikomotorik melalui pengembangan modul biologi berbasis inkuiri terbimbing. Metode penelitian yang digunakan yaitu research and development Borg&Gall yang telah dimodifikasi menjadi 9 tahap. Sampel penelitian diambil secara cluster random sampling sebanyak 59 orang. Hasil validasi pengembangan modul oleh para ahli diperoleh nilai rerata sebesar 86,38 dengan kategori baik, hasil validasi oleh praktisi pendidikan dan teman sejawat diperoleh nilai rerata sebesar 92,71 dengan kategori sangat baik, hasil validasi oleh 16 orang peserta didik diperoleh nilai rerata sebesar 91,80 dengan kategori sangat baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata nilai hasil belajar peserta didik pada ranah afektif di kelas eksperimen sebesar 81,75 dengan kategori sangat baik dan di kelas kontrol sebesar 65,76 dengan kategori cukup. Rerata nilai hasil belajar peserta didik pada ranah psikomotorik di kelas eksperimen sebesar 92,53 dengan kategori sangat baik dan di kelas kontrol sebesar 75,91 dengan kategori baik. Hasil analisis data menggunakan aplikasi SPSS v.21 menunjukkan bahwa data di kedua kelas berdistribusi normal dan homogen sehingga dilanjutkan dengan uji independent sampel t-test. Hasil uji statistik data ranah afektif menunjukkan Thitung>TTabel (15,992>2,002) dan Sig. (2-tailed) 0,00<0,005. Data ranah psikomotorik menunjukkan Thitung>Ttabel (18,312>2,002) dan Sig. (2-tailed) 0,00<0,005. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa penggunaan modul biologi berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik pada ranah afektif dan psikomotorik. 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI SURAKARTA Rahayu, Suryani Jati; Sukarmin, Sukarmin; Karyanto, Puguh
EDUSAINS Vol 11, No 2 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.364 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i2.11355

Abstract

PROJECT BASED LEARNING IMPLEMENTATION IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN SURAKARTAAbstractProject-based learning needs to be implemented in junior high schools because by applying this model it will enhance student creativity. Project-based learning is a learning model that makes students active and innovative, completing a project in a certain period. This study aims to analyze the learning process at the junior high school in several schools in Surakarta to implement project-based learning. The design of this study is qualitative descriptive. Data analysis using Milles Huberman by observation, in-depth interviews, and student cognitive achievement. The results show that the learning that has been done in several Junior High School in Surakarta has not used project-based learning. This lack of using Project-Based learning is because the teacher has no direction or is still limited to learning using the Project-Based Learning model, so the teacher prefers to teach with lecture and discussion methods in the classroom. Even though in the 2013 curriculum, the application of a student-centered learning model is highly recommended. The researcher hopes that the results of this study will help design a curriculum that uses a project-based learning model. AbstrakPembelajaran berbasis proyek perlu diterapkan di sekolah menengah pertama, karena dengan penerapan model ini akan meningkatkan kreativitas siswa. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang membuat siswa aktif dan inovatif, menyelesaikan suatu proyek dalam kurun waktu tertentu. Studi ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran tingkat SMP pada beberapa sekolah di Surakarta untuk menerapkan pembelajaran berbasis proyek. Desain penelitian ini deskriptif kualitatif. Analisis data menggunakan Milles Huberman dengan cara observasi, wawancara mendalam dan hasil belajar kognitif siswa. Hasil nya menunjukkkan bahwa pembelajaran yang telah dilakukan di beberapa SMP Negeri di Surakarta belum menggunakan pembelajaran berbasis proyek. Hal ini dikarenakan guru tidak memiliki arahan atau masih terbatas untuk pembelajaran menggunakan model Project Based Learning, sehingga guru lebih memilih mengajar dengan metode ceramah dan diskusi di kelas. Padahal di kurikulum 2013, penerapan model pembelajaran yang berpusat pada siswa sangat dianjurkan. Peneliti berharap dengan hasil penelitian ini akan membantu perancang kurikulum membuat perubahan yang berkaitan dengan pembelajaran dengan menerapkan model Project Based Learning. 
PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) ABILITY OF PRE SERVICE BIOLOGICAL TEACHERS BASED ON LESSON PLAN AND TEACHING PRACTICE Risya Pramana Situmorang
EDUSAINS Vol 11, No 1 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.692 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i1.10988

Abstract

PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) KEMAMPUAN GURU BIASA PRA PELAYANAN BERBASIS RENCANA PELAJARAN DAN PRAKTEK PENGAJARAN AbstrakPenelitian ini mengidentifikasi empat aspek berbeda dari pengetahuan pedagogi dan tiga aspek dari pengetahuan materi, serta terkait di antara aspek-aspek PCK. Penelitian ini menunjukkan bahwa skor PCK calon guru biologi dalam menyusun rencana pelajaran dan praktik mengajar berada dalam kategori baik, dengan hasil persentase skor CK 70,83% (baik), hasil persentase skor PK 75,70% (baik), dan hasil persentase skor PCK 66,67% (sangat baik). Temuan dalam penelitian ini adalah kemampuan smahasiswa calon guru mulai berkembang mengenai PCK melalui cara penyampaian materi pelajaran biologi dengan menghargai ide-ide siswa sebelumnya dalam pembelajaran, meskipun kedalaman pemahaman bervariasi. Selain itu, hasil PCK menunjukkan banyak perkembangan dalam perancangan rencana pelajaran melalui pengetahuan konstruktivis. Pengembangan terhadap pengetahuan pedagogi, konten dan PCK berkaitan dengan keterampilan mengajar merupakan aspek yang sangat penting. Penggunaan rencana pelajaran yang mudah diakses dapat meningkatkan kemampuan PCK untuk mengembangkan prinsip-prinsip pedagogis. Meskipun pengembangan konten dan PCK terkait pedagogis, mungkin cukup untuk memungkinkan mahasiswa calon guru untuk membuat dan menghubungkan konteks materi pelajaran biologi yang memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kontekstual. AbstractThis study identified four distinct aspects of pedagogical knowledge and three aspects of content knowledge, as well as related among these PCK aspects. This study shows that the PCK scores of pre service biology teachers in preparing lesson plan and teaching practice are in good category, with result of CK score percentage 70.83% (good), result of PK score percentage 75.70% (good), and result of PCK score percentage 66.67% (very good). Finding in this study were pre service students ability about PCK began to develop an understanding of the way to deliver biology subject material that values students’ prior ideas in learning, eventhough the depth of this understanding varied. In addition, PCK show as much growth in their lesson plan with respect to the constructing knowledge. In developing a pedagogy and content knowledge of PCK, relating to skills about teaching, appears to be critical. Using lesson plan that is simple accessible seems to increase PCK ability to develop pedagogical principles. Although development of content and pedagogical related PCK, it may be enough to allow pre-service student to create and relate the biology subject material contexts that facilitate students in contextual learning.
POTENSI PENGGUNAAN PETA PIKIRAN MELALUI LEARNING COMMUNITY SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM GERAK Lukitasari, Marheny; Pujiati, Pujiati; Banconowati, Mawar
EDUSAINS Vol 11, No 1 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.821 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i1.9568

Abstract

POTENTIAL OF MIND MAPS THROUGH COMMUNITY LEARNING TO IMPROVE LEARNING ACTIVITY ON SKELETAL SYSTEM CONCEPT                                 AbstractThis research described the use of mind map with discussion during learning activity that potentially increased learning community to deliver skeletal system concept. The mind map was applied in four meeting with 27 second-grade senior high school students. Students were put in groups and each groups was assigned to design a mind map of skeletal system concept. The data of learning community was obtained from: 1) The mind map results from all groups, 2) The discussion along every group to arrange the mind map, and 3) The students’ scores of skeletal system concept test.  The instruments used were rubric of mind map assessment, observation sheet, and essay test. Qualitative descriptive was used to analyse data. The results showed that 80% of the mind map achieved the assessment rubric while the activity of students was 64.4%. The last, the highest grade of students’ test was gained by group 4, that was 8.84 out of 10. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan potensi penggunaan peta pikiran melalui learning community (LC) sebagai upaya meningkatkan aktifitas belajar siswa pada materi system gerak. Penerapan peta pikiran dilakukan sebanyak empat kali tatap muka untuk satu kompetensi dasar pada siswa kelas XI dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang. Seluruh kegiatan dilakukan secara berkelompok dengan mendesain peta pikiran yang dikerjakan sesuai materi. Data aktifitas belajar dengan LC yang dikumpulkan didapatkan dari 1) rubrik peta pikiran kelompok siswa, 2) aktifitas diskusi, dan 3) skor tes untuk materi system gerak. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah lembar penilaian, lembar observasi dan tes essay. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta pikiran yang dikerjakan kelompok siswa adalah 80%, keaktifan diskusi memiliki rata-rata 64,64 dan rata-rata skor tes per kelompok dicapai oleh kelompok 5 dengan skor tertinggi  adalah 8,84. 
EFEKTIFITAS PELATIHAN LABORATORIUM VIRTUAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAGI GURU KIMIA Achmad Lutfi; Sukarmin Sukarmin
EDUSAINS Vol 11, No 2 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.22 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i2.11222

Abstract

EFFECTIVITY OF VIRTUAL LABORATORY TRAINING AS A LEARNING MEDIA FOR CHEMISTRY TEACHERSAchmad Lutfi, SukarminUniversitas Negeri Surabaya, Indonesia achmadlutfi@unesa.ac.idAbstractThe study aims to determine the level of training achievement using virtual laboratories for chemistry teachers on the ability of teachers to use virtual laboratories and the achievement of objectives in learning chemistry using virtual laboratories. The training was conducted for chemistry teachers who were members of the City and District High School Chemistry Teachers' Working Group (MGMP). During the study, the teachers were trained in how to install, operate virtual laboratories, and conduct experiments with virtual laboratories. At the end of the activity, an ability test was conducted using a virtual laboratory, giving questionnaires to participants and assigning participant assignments in the form of lesson plans (RPP) with the use of virtual laboratories as learning media. The data obtained showed that 90% of the participating teachers had been able to use virtual laboratory programs, including installing, operating, and conducting experiments with virtual laboratories. 82-100% of the participants found it useful to participate in the activities, and the compiled lesson plans showed that the participants were able to use the virtual laboratory as a medium for chemistry learning with a percentage of 85% -100%, and students gave positive responses and good learning outcomes after participating in chemistry learning with use of virtual laboratories. AbstrakPenelitian bertujuan mengetahui tingkat ketercapaian pelatihan menggunakan laboratorium virtual bagi guru kimia terhadap kemampuan guru menggunakan laboratorium virtual dan ketercapaian pembelajaran kimia dengan menggunakan laboratorium virtual. Pelatihan dilakukan terhadap guru kimia yang tergabung pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran Kimia Sekolah Menengah Atas  Kota dan Kabupaten Kediri. Selama penelitian dilatihkan cara menginstal , mengoperasikan laboratorium virtual dan melakukan percobaan dengan laboratorium virtual. Pada akhir kegiatan dilakukan tes kemampuan menggunakan laboratorium virtual, pemberian angket kepada peserta dan pemberian tugas peserta berupa pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan pemanfaatan laboratorium virtual sebagai media pembelajaran. Data yang diperoleh menunjukkan 90% guru peserta telah mampu menggunakan program laboratorium virtual, meliputi: menginstal, mengoperasikan, dan melakukan percobaan dengan laboratotium virtual. Sebesar 82-100 % peserta merasa bermanfaat mengikuti kegiatan dan RPP yang disusun memperlihatkan bahwa peserta sudah dapat memanfaatkan laboratorium virtual sebagai media pembelajaran kimia dengan prosentasi  85%-100%, serta peserta didik memberikan tanggapan positif dan hasil belajar yang baik setelah mengikuti  pembelajaran kimia dengan penggunaan laboratorium virtual. 
EFFORTS TO IMPROVE SCIENTIFIC ATTITUDE AND PRESERVATION OF LOCAL CULTURE THROUGH ETHNOBIOLOGY-BASED BIOLOGICAL PRACTICUM Siti - Sunariyati; Suatma Suatma; Yula Miranda
EDUSAINS Vol 11, No 2 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.347 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i2.13622

Abstract

UPAYA PENINGKATAN SIKAP ILMIAH DAN PELESTARIAN BUDAYA LOKAL MELALUI PRAKTIKUM BIOLOGI BERBASIS ETNOBIOLOGI AbstrakPotensi lokal yang ada di sekitar sekolah pada umumnya belum banyak dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar biologi, oleh sebab itu perlu dikembangkan praktikum biologi berbasis etnobiologi sebagai upaya pelestarian budaya lokal.Tujuan penelitian ini adalah 1) mengkaji pengetahuan Etnobiologi dan meningkatkan sikap ilmiah peserta didik SMA melalui praktikum biologi. 2) mengintegrasikan budaya lokal masyarakat suku Dayak Ngaju di wilayah Kabupaten Gunung Mas pada materi pelajaran biologi. Tahap pertama merupakan penelitian deskriptif kualitatif, pada tahap ini dilakukan pengkajian potensi lokal berbasis etnobiologi meliputi sumber daya alam hewan, tumbuhan dan potensi lokal lainnya, yang dimanfaatkan masyarakat.Tahap kedua dilaksanakan praktikum biologi berbasis etnobiologi pada peserta didik kelas X di tiga SMA wilayah Kabupaten Gunung Mas dengan menggunakan angket respons peserta didik terhadap pelaksanaan praktikum. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan sikap ilmiah setelah mendapatkan pembelajaran biologi berbasis etnobiologi dibanding kelompok kontrol dengan rata-rata skor sebesar 0,47 (kriteria sedang).Budaya lokal perlu didokumentasikan dan diajarkan kepada generasi berikutnya untuk menghindari kehilangan budaya lokal di wilayah setempat.AbstractLocal potentials that exist around the school, in general, have not been maximally utilized as a source of biology learning. Therefore, it needs to be developed learning biology-based on ethnobiology efforts of preservation of local culture. The purpose of this research is 1) to study the knowledge of ethnobiology and to improve the scientific attitude of the learner of high school students through biology practicum. 2) integrate the local culture of the Dayak Ngaju tribe community in the Gunung Mas District area in biology subject matter. The first stage is qualitative descriptive research. At this stage conducted an assessment of local potency based on ethnobiology covering natural animal resources, plants, and other local potencies, which is utilized by society. The second stage is practicum based on ethnobiology biology of class X students in three high schools in Gunung Mas District by using the questionnaire of students' responses to the practicum implementation. The results showed that there was an increase in scientific attitude after obtaining biology learning based on ethnobiology- compared to the control group with an average score of 0.47 (medium criterion). Local culture needs to be documented and taught to the next generation to avoid losing local culture in the local area. 
IDENTIFICATION OF MISCONCEPTION OF HIGH SCHOOL STUDENTS ON TEMPERATURE AND CALOR TOPIC USING FOUR-TIER DIAGNOSTIC INSTRUMENT Maison Maison; Ida Cuci Safitri; Rendy Wikrama Wardana
EDUSAINS Vol 11, No 2 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v11i2.11465

Abstract

IDENTIFIKASI MISCONCEPTION MAHASISWA SEKOLAH TINGGI PADA TEMPERATUR DAN TOPIK KALOR MENGGUNAKAN INSTRUMEN DIAGNOSTIK EMPAT-TIER AbstrakMiskonsepsi merupakan suatu konsepsi seseorang yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah yang dimiliki oleh para ahli. Miskonsepsi harus dihindari dan kalau sudah terjadi perlu diremediasi karena dapat menjadi faktor penghambat dalam proses belajar siswa. Namun, miskonsepsi tidak mudah diidentifikasi, diperlukan instrumen khusus dan langkah-langkah tertentu untuk mengungkapkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali, mengungkap, serta mendeskripsikan miskonsepsi siswa pada materi suhu dan kalor. Responden penelitian berjumlah 127 orang yang merupakan siswa dari SMA favorit di Jambi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Four-Tier Diagnostic Instrument pada materi suhu dan kalor. Analisis data dilakukan dengan cara mencari persentase jawaban benar pada setiap tingkat (tier) untuk setiap item dan persentase jawaban miskonsepsi untuk setiap kategori. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa 10 jenis miskonsepsi pada materi suhu dan kalor pada siswa telah dapat diidentifikasi dengan menggunakan sembilan buah item instrumen. Rata-rata miskonsepsi adalah sebesar 24.25%, False Positif sebesar 9,01%, False Negatif sebesar 4,72%, dan Lack of Knowledge sebesar 10,32% pada materi suhu dan kalor. persentase miskonsepsi tertinggi terletak pada miskonsepsi keenam (M6) sebesar 58,27%, yaitu “Ketika berada pada ruang yang sama suhu besi lebih rendah daripada suhu benda di sekitarnya”.AbstractThe misconception is a conception of someone who is not in accordance with the scientific conception possessed by experts. Misconceptions must be avoided, and if they occur, they need to be remediated because they can be a limiting factor in student learning. However, misconceptions are not easily identified; special instruments and specific steps are needed to express them. The purpose of this study is to explore, uncover, and describe students' misconceptions in temperature and heat material. The research respondents were 127 students from a favorite high school in Jambi. The instrument used for data collection was the Four-Tier Diagnostic Instrument on temperature and heat material. Data analysis was done by finding the percentage of correct answers at each level (tier) for each item and the percentage of answers to misconceptions for each category. The results showed that ten types of misconceptions in the temperature and heat material in students had been identified using nine instrument items. The average misconception is 24.25%, False Positive is 9.01%, False Negative is 4.72%, and Lack of Knowledge is 10.32% in temperature and heat material. The highest percentage of misconception lies in the sixth misconception (M6) of 58.27%, namely "When in the same room the temperature of the iron is lower than the temperature of the objects around it". 
SCIENCE LITERACY SKILLS OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS BASED ON SCIENCE LITERACY SKILLS OF TEACHERS AND GEOGRAPHICAL LOCATION Endah Lestari; Adisyahputra Adisyahputra; Ratna Komala
EDUSAINS Vol 11, No 1 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v11i1.8602

Abstract

KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DITINJAU DARI KEMAMPUAN LITERASI SAINS GURU DAN LETAK GEOGRAFIS SEKOLAHEndah Lestari, Adisyahputra, Ratna KomalaState University of Jakarta, IndonesiaNdhh.lestari@gmail.comAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan literasi sains siswa berdasarkan kemampuan literasi sains guru di kota dan di desa. Kemampuan literasi sains siswa dan guru di kota dan di desa diukur dengan mengunakan dua jenis tes instrumen yang berbeda untuk guru dan siswa yang masing-masing terdiri dari 40 soal PISA dan TIMSS yang sudah di modifikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Ex-Post Facto. Populasi penelitian tiga sekolah di desa dan tiga sekolah di kota yang diambil secara purposive sampling berdasarkan nilai UN tinggi, sedang dan rendah di dua wilayah yang berbeda di kota dan desa, dengan jumlah subjek penelitian 480 siswa dan 16 guru yang diambil secara acak. Analisis data menggunakan uji ANAVA Faktorial 2x2x3. Hasil penelitian menunjukkan: 1) terdapat pengaruh letak geografis sekolah di desa dan di kota terhadap literasi sains siswa dengan p<0,00 ; 2) Tidak terdapat pengaruh nilai UN terhadap skor literasi sains siswa dengan p>0,189 ; 3) tidak terdapat pengaruh literasi sains guru terhadap literasi sains siswa dengan p>0,318 ; 4) terdapat pengaruh letak geografis di kota dan di desa dengan input UN terhadap literasi sains siswa dengan P<0,00 ; 5) tidak terdapat pengaruh letak geografis dengan literasi guru terhadap skor literasi sains siswa p>0,194 ; 6) terdapat pengaruh input skor UN dengan literasi sains guru terhadap skor literasi sains siswa dengan P<0,00 ; 7) tidak terdapat pengaruh letak geografis, nilai UN dan literasi guru terhadap skor literasi sains siswa dengan P>0,712.  AbstractThis study aims to determine the science literacy ability of students based on teacher’s literacy abilities in cities and villages. The science literacy ability of students and teachers both in cities and villages were measured using two different types of test instruments each for teachers and students consisting of 40 modified PISA and TIMSS questions. The method used in this research is Ex-Post Facto. The study population were three schools in the village and three schools in the city chosen by purposive sampling based on the high, medium and low national examination (UN) scores, with the total number of research subjects of 480 students and 16 teachers taken at randomly. Data analysis was made using ANAVA test. The results showed: 1) there is an influence of the geographic location of the school in the village and in the city against students science literacy with p <0.00; 2) there is no effect of UN score on science literacy score of students with p> 0.189; 3) there is no influence of teachers science literacy on students science literacy with p> 0,318; 4) there is an influence of geographical location in city and in village with UN input to students science literacy with P <0,00; 5) there is no influence of geographical location with teachers literacy toward students science literacy score p> 0,194; 6) there is an influence of UN score input with teachers science literacy on science literacy score of students with P <0.00; 7) there is no influence of geographical location, UN value and teachers literacy toward science literacy score of students with P> 0.712. 
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTU MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA KONSEP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN UPAYA PELESTARIAN Juriah Juriah; Zulfiani Zulfiani
EDUSAINS Vol 11, No 1 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.333 KB) | DOI: 10.15408/es.v11i1.6394

Abstract

INCREASING STUDENTS LEARNING OUTCOME THROUGH THE IMPLEMENTATION OF PROBLEM BASED-LEARNING MODEL ASSISTED WITH VIDEO ON THE CONCEPT OF ENVIRONMENTAL CHANGES AND PRESERVATION EFFORT       Juriah1, Zulfiani21SMA Negeri 3 Tangerang Selatan, Indonesia2UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesiazulfiani@uinjkt.ac.idAbstractThe research aims to determine the improvement of students’ biology learning outcomes in class X IPA 3 SMAN 3 Tangerang Selatan. It was conducted through the problem-based learning model assisted with video. The method was Classroom Action Research (CAR) held in two cycles. Using essay test and observation sheet, 29 students of class X IPA 3 were involved. The result showed that at the first cycle, students’ learning average was 85,31 with 93%learning completeness. Following the second cycle, both the learning average and completeness increased to 93,41 and 100% respectively. The results of the acquisition of communication skills and product making skills of the first cycle average 85,39 and the second cycle is 86,06. The average value of N-Gain in cycle I and II respectively is 0,67 and 0,79 (high category).  Students activities have also risen from 89% (cycle I) to 100% (cycle II). This concluded that problem based-learning model assisted with video enables students to enhance their learning outcomes especially on the concept of environmental changes and preservation effort. AbstrakPenelitian ini  bertujuan  untuk untuk mengetahui peningkatan hasil belajar biologi pada peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 3 Kota Tangerang Selatan tahun ajaran 2016/2017 dengan menerapkan model problem based learning disertai media video.  Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah peserta didik  kelas  X IPA 3 SMAN 3 Kota Tangerang  Selatan tahun  ajaran 2016/2017 dengan jumlah peserta didik sebanyak 29 orang. Instrumen penelitian berupa tes uraian dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan pencapaian hasil belajar pengetahuan pada siklus I rerata  85,31 dengan jumlah yang mencapai Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) 93%,  pada siklus II  rerata belajar 93.41 dengan KBM 100%. Hasil perolehan nilai keterampilan komunikasi dan keterampilan membuat produk siklus I rerata 85,39 dan siklus II  yaitu 86,06. Adapun rerata nilai N-Gain pada setiap siklusnya adalah 0,67 pada siklus I dan 0,79 pada siklus II dengan kategori pemahaman  tinggi. Aktifitas peserta didik juga meningkat dari 89% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model problem based learning berbantu media video dapat meningkatkan hasil belajar pada konsep perubahan lingkungan. 
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-DISCOVERY Wartono Wartono; John Rafafy Batlolona; Rizqi Maulidina Mahfi
EDUSAINS Vol 11, No 2 (2019): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v11i2.8574

Abstract

ENHANCEMENT OF PHYSICS PROBLEM-SOLVING SKILLS WITH INQUIRY-DISCOVERY LEARNING MODEL AbstractThe purpose of this study was to determine differences in problem solving abilities of students who were given inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews with students who were given conventional learning. This study uses a quasi-experimental pretest-posttest control group design. The average gain score of the problem solving ability test shows that students who are taught with inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews are higher than students who are taught with conventional learning. Hypothesis test results show that students who are learning with inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews have higher problem solving abilities than students who are taught with conventional learning, this also applies to students with high or low initial abilities. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diberi pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web dengan siswa yang diberi pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi exsperiment pretest-posttest control group design. Hasil rata-rata gain score tes kemampuan pemecahan masalah menunjukkan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa siswa yang dibelajarakan dengan pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web memiliki peningkatan kemampuan pemecahan masalah lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarakan dengan pembelajaran konvensional, hal ini juga berlaku pada siswa yang berkemampuan awal tinggi maupun rendah. 

Page 3 of 31 | Total Record : 303