cover
Contact Name
Muhammad Farkhan
Contact Email
farkhan@uinjkt.ac.id
Phone
+6285881159046
Journal Mail Official
alturats@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan Banten, Indonesia 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Buletin Al-Turas
ISSN : 08531692     EISSN : 25795848     DOI : https://dx.doi.org/10.15408/bat
JOURNAL BULETIN ALTURAS (ISSN 0853-1692; E-ISSN: 2579-5848) is open access journal that is published by Faculty of Adab and Humanities, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. It serves to disseminate research and practical articles that relating to the current issues on the study of history, literature, cultures, and religions. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines by using Bahasa Indonesia, English, and Arabic.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 600 Documents
Daud Beureu’eh and The Darul Islam Rebellion in Aceh Apipudin Apipudin
Buletin Al-Turas Vol 22, No 1 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.235 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i1.7221

Abstract

AbstractThis paper seeks to explore the Darul Islam rebellion in Aceh under the leadership of Daud Beureu’eh, particularly the main factors which instigated the rebellion, the dynamics which took place during the rebellion, and the end of the rebellion. The Darul Islam rebellion in Aceh occurred because of several factors. Firstly, the people of Aceh were disappointed with the central government of Indonesia which failed to fulfill its promise to grant Aceh special autonomy. Secondly, there was a clash between the ulemas (Moslem clerics) faction who supported the autonomy and the uléëbalangs (customary leaders) who opposed the autonomy because they did not want the ulemas to assume dominance in the government of Aceh. Third, the Indonesian central government at that time was adopting a parliamentary system which was highly unstable and inconsistent in its perspective on and treatment of Aceh. The Darul Islam rebellion in Aceh is considered unique in that it did not claim as many lives as other Darul Islam rebellions in various regions throughout Indonesia. This rebellion effectively ended on May 8, 1962. In order to bring this conflict to a speedy end, the central government gave up military operations and sought for political settlement andamicable dialogues with DI/TII to reach a consensus concerning the Aceh problem. Peace in Aceh was secured after the central government decided to grant Aceh the status of Daerah Istimewa (Special Region), which meant that Aceh was given the right to exercise a special autonomy in the areas of religion, education, and tradition.---Abstrak Tulisan berusaha menjelaskan tentang pemberontakan Darul Islam pimpinan Daud Beureu’eh di Aceh, terutama terkait dengan faktor utama pemicu terjadinya pemberontakan, dinamika, dan akhir dari pemberontakan tersebut. Pemberontakan Darul Islam di Aceh terjadi karena beberapa faktor. Pertama, rakyat Aceh merasa bahwa pemerintah pusat Indonesia tidak menepati janjinya untuk memberikan otonomi khusus buat Aceh. Kedua, adanya pertentangan antara ulama yang mendukung status otonomi dan ulibalang yang menentang otonomi karena mereka tidak menginginkan ulama menjadi dominan dalam pemerintahan Aceh. Ketiga, pemerintah pusat Indonesia saat itu menerapkan sistem pemerintahan parlementer yang ternyata menciptakan ketidakstabilan dan inkonsistensi dalam memperlakukan Aceh. Pemberontakan Darul Islam di Aceh dianggap unik dibandingkan dengan pemberontakan Darul Islam di daerah yang lain di Indonesia. Pemberontakan ini berakhir pada tanggal 8 Mei 1962. Agar konflik ini segera berakhir, pemerintah pusat menghentikan operasi militer dan memandang bahwa pendekatan politik bisa dilakukan melalui dialog dengan gerakan DI/TII untuk menemukan konsensus dalam menyelesaikan masalah Aceh. Perdamaian di Aceh baru dapat dicapai setelah pemerintah pusat memutuskan untuk memberikan status Daerah Istimewa, yakni Aceh diberi hak khusus untuk mengatur masalah keagamaan, pendidikan, dan budaya
Metode Penerjemahan Dalam Penerjemahan Bahasa Mandarin Ke Bahasa Indonesia Pada Buku Ajar Bahasa Tionghoa Tingkat Sma/Ma Kelas X Gustini Wijayanti Sunaryo
Buletin Al-Turas Vol 24, No 2 (2018): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2121.233 KB) | DOI: 10.15408/bat.v24i2.8680

Abstract

Translation is one of communication, therefore, the translator must be able to find the equivalence between the text translated with the translation. A translator other than claimed to be able to solve problems in translation, is also required to theory, methods, techniques and translation strategies. Based on the observation, there are still many translations in the exercise instruction and vocabulary in the high school Mandarin / MA textbook published by Depdikbud which misrepresents the purpose of the source language (Mandarin) to the target language (Indonesian). Failure of translation will result in the textbook is not communicative because the meaning or message conveyed is not understood by teachers and students, so the textbook is less able to help and motivate teachers and students in the learning process. The results show that the method used by many translators is the method of free translation, the rest using the method of literal translation and word by word that causes the translation to be unequal and less acceptable.---Terjemahan merupakan salah satu bentuk komunikasi, oleh karena itu, penerjemah harus mampu mencari kesepadanan antara teks yang diterjemahkan dengan terjemahannya. Seorang penerjemah selain dituntut  untuk dapat memecahkan permasalahan dalam penerjemahan,  juga dituntut untuk menguasai  teori dan metode serta teknik dan strategi penerjemahan. Berdasarkan pengamatan peneliti, masih banyak terjemahan dalam instruksi latihan ,  kosakata bahkan penjelasan dalam  buku ajar bahasa Mandarin SMA/MA terbitan  Depdikbud yang menyimpang atau salah menyampaikan maksud dari bahasa sumber (bahasa Mandarin) ke bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Kegagalan terjemahan akan mengakibatkan buku ajar tersebut tidak komunikatif karena makna atau pesan yang disampaikan tidak dipahami baik oleh guru maupun siswa, sehingga buku ajar tersebut kurang dapat membantu dan memotivasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.  Hasil penelitian menunjukkan metode yang banyak digunakan oleh penerjemah adalah metode penerjemahan bebas, selebihnya menggunakan metode penerjemahan harfiah dan kata per kata yang menyebabkan terjemahan menjadi tidak sepadan dan kurang berterima
Persebaran Islam Makam Quna Bersyair di Indonesia Mujib, Mujib
Buletin Al-Turas Vol 5, No 2 (1999): BULETIN AL-TURAS
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v9i9.6916

Abstract

Bertahun-tahun sejak Snouck Horgronje mengadakan penelitian peleografi nisan makam kuna Aceh pada tahun 1906 Masehi(Tjndrasasmita, 1980:107), dan dilanjutkan sampai kini oleh generasi-generasi sesudahnya dengan obyek yang berbeda , belum ada satupun laporan mereka yeng mengentengahkan analisis terhadap Inskripsi syair yang dipahatkan pada beberapa nisan makam kuna yang sebenarnya telah mereka laporkan keberadaannya dan pembacanya itu.Namun, panntas disyukuri sebaba diantara mereka ada yang telah mengemukakan dan memaparkan data berkaitan dengan pembacaan inskripsi syair tersebut, seperti HasanMuarif Abrary (1980), A.Cholid Sodrie (1990), Lukaman Nurkim (1990) , dan lain-lain. Mereka belum sempat menganalisis  persebaran nisan-nisanberinskripsi syair tersebut . Mereka uga belum membahas syair-syair tersebut secara mendalam. Hal itu mungkin juga karena adanya ikatan norma yang melekat dalam pembahsan arkeologi yang mengutamakan pembahasan benda-benda tinggalan masa lalu, bukan pembahasan materi syair yang terpahat pada benda-benda itu.
Abu Nawas Dalam Miras Dan Sajak Taubat AR, D Sirojudin
Buletin Al-Turas Vol 6, No 1 (2000): BULETIN AL-TURAS
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v6i10.6883

Abstract

Itulah dua bait sajak yang banyak dikumandangkan di masjid-masjid, biasanya menjelang shalat fardhu atau usai shalat jumu'ah, di Indonesia. Kuat dugaan, sejak itu karangan Abu nawas, meskipun ada yang menduga hasil karya Imam Syafi'i.Tetapi, siapa sebenarnya Abu Nawas? Selain pngetahuan tentang Sajak Taubat itu, masyarakat Indonesia hanya tahusi Abu Nawas dengan kombinasi sifat-sifat berwarna-warni; tukang banyol, cerdik atau gendeng! Abu Nawas "ngakalin" Harun al-Rasyid, sehingga Baginda selalu dapat dikalahkan. "Akal" Abu Nawas mengangkat masjid atau pura-pura gila agara tidak diangkat jadi Kadi dan kisah-kisah (yang sebenarnya lebih sekdar dongeng) lan yang kandung lengket di masyarakat, memperkuat legnda Abu Nawas ssebagai tokoh dongeng yang turun temurun bebrapa dasawarsa.
Islam, Etnisitas dan Integrasi: Kasus Malaysia Subchi, Imam
Buletin Al-Turas Vol 7, No 2 (2001): BULETIN AL-TURAS
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v7i12.6907

Abstract

Islam, etnisitas dan integrasi merupakan masalah penting untuk dibicarakan dalam konteks  Malaysia. Islam bukan hanya sebagai kenyakinan kaum Melayu, tetapi juga bertindak sebagai salah satu landasan pokok yang mendasari identitas mereka. Tulisan-tulisan Enloe (1970), Vasil (1971), Means (1976), Nagata (1979), dan Ongkili (1980) umpamanya melihat Islam sebagai kepercayaan orang Melayu yang mengukuhkan etnisitasnya, dan berfungsi sebagai pemicu konflik atau sebagai pembeda antara mereka dengan kelompok etnis lainnya. Pada prinsipnya, Islam bagi orang Melayu telah menjadi a principal moans of defining ethnic loyalty, the foundation of communal identity, atau ethnic bound. ary maker. Kesimpulan itu diperkuat dengan adanya pengakuan dalam konstitusi Malaysia yang menyebutkan bahwa "islam adalah agama Federasi, dan Sultan menjadi kepala agama di dalam negaranya sendiri.
Melacak Akar Pondasi Hubungan Indonesia-Rusia Kajian Historis Menggali Motif-Motif Teologis, Nautis, ideologis, dan Politik pada Literatur Rusia Abad 11-20 Jamaluddin Z, Wan
Buletin Al-Turas Vol 11, No 1 (2005): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v11i1.6783

Abstract

Nusantara image has entered the history of old Russian literature since the 11th-20th century. Its transmission process is in two ways. Firstly, translating classic and western European literature. Secondly, visiting Nusantara. This transmission effects the evolution of the Nusantara image in Russian literature representing the connection between two nations. This Nusantara image begins from the unrecognized Nusantara, a new age of translation, and a silver age if translation.
Al Shiraa’ Al ‘Aniif fii Riwayat Ismii Ahmar Merdu Arika
Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.362 KB) | DOI: 10.15408/bat.v24i1.7591

Abstract

The research is titled 'Violent Conflict in the novel' ismi ahmar 'by orhan parmuk. This study focuses on two core issues of violent conflict and lafaz-lafaz factors that show violent conflict. The analytical technique used is the method of analysis description that is used to analyze the data by describing or describing the data that has been collected as it is without intending to make conclusions that apply to the public or generation. The results obtained from research that is, the factors of conflict first factor biyulujiyah, that is the way someone do violence to his opponent or the way he melakukakn killing on his opponent. The second factor wastiqah, namely the murder that occurred between close friends, family and friends. Third factor ijtimaiyah, namely the relationship with social as in school and workplace so that happened violence. The fourth factor ijtimaiyah kharijiah, namely violence that occurred in the outside community such as the inclusion of the attack from the outside so that there was violence and murder.---Penelitian ini berjudul ‘Konflik kekerasan dalam novel “ismi ahmar” karya orhan parmuk. Penelitian ini fokus pada dua permasalahan inti yaitu factor-faktor konflik kekerasan dan lafaz-lafaz yang menunjukkan konflik kekerasan. Adapun teknik analisa yang digunakan adalah metode deskripsi analisis yaitu digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian  yaitu, factor-faktor konflikpertama factor biyulujiyah, yaitu cara seseorang melakukan kekerasan kepada lawannya atau cara dia melakukakn pembunuhan pada lawannya. Kedua factor wastiqah, yaitu pembunuhan yang terjadi antara teman dekat, keluargakerabat dan teman. Ketiga factor ijtimaiyah, yaitu hubungan dengan social seperti di sekolah dan tempat kerja sehingga terjadilah kekerasan. Keempat factor ijtimaiyah kharijiah, yaitu kekerasan yang terjadi di masyarakat luar seperti masuknyapeperangan dari luar sehingga terjadilah kekerasan dan pembunuhan.DOI : 10.15408/bat.v24i1.7591
Translation Strategies to Deal With Indonesia Censorship Regulation on Movie M. Agus Suriadi
Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v24i1.7132

Abstract

This study aims to begin an examination into how the censor regulation effect to movie subtitle which were being showed in Indonesia. To reach that, it using qualitative method in particular translations strategy has been existed. It found that various data hardly to deal with the regulation mostly classified into slang expression that effect to the vulgarity and offensive. It happened because the translator hard to find out the equivalence effect by facing the constrain of the time, space, and also scene. The strategies were used to deal with the regulation done by soften strategy the TL by doing paraphrase, modulation, and emphasize related to pragmatic context. The regulation has been ruling in order protect the audiences have been giving them the comfortless to enjoy the movie without worry about reflecting a state of moral or cultural decline to Indonesian people who have multicultural and ethnic. So, the bad word that relating to offensive language must not be found in the outsider movies with Indonesia subtitle.---Penelitian ini bertujuan untuk memulai pemeriksaan terhadap bagaimana efek regulasi sensor terhadap subtitle film yang sedang ditampilkan di Indonesia. Untuk mencapai itu, menggunakan metode kualitatif dalam strategi penerjemahan tertentu telah ada. Ditemukan bahwa berbagai data sulit untuk berurusan dengan peraturan yang sebagian besar diklasifikasikan ke dalam bahasa gaul yang berpengaruh pada vulgar dan ofensif. Itu terjadi karena penerjemah sulit untuk mengetahui efek kesetaraan dengan menghadapi batasan waktu, ruang, dan juga pemandangan. Strategi tersebut digunakan untuk menangani regulasi yang dilakukan dengan melunakkan strategi TL dengan melakukan parafrasa, modulasi, dan menekankan terkait dengan konteks pragmatis. Peraturan tersebut telah berkuasa untuk melindungi penonton yang telah memberi mereka kenyamanan untuk menikmati film tanpa khawatir mencerminkan keadaan penolakan moral atau budaya terhadap orang Indonesia yang memiliki multikultural dan etnis. Jadi, kata-kata buruk yang berhubungan dengan bahasa kasar tidak boleh ditemukan di film-film luar dengan subtitle Indonesia.DOI : 10.15408/bat.v24i1.7132
Semiotika: Teori dan Hubungannya dengan Sastra Kamil, Syukron
Buletin Al-Turas Vol 7, No 1 (2001): BULETIN AL-TURAS
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v7i11.6898

Abstract

Belakangan ini, semiotik atau semiotika merupakan salah satu pendekatan yang sedang diminati oleh paraAhli sastra, tidak terkecuali para peminat sastra di Indonesia. Dalam studi Islam, yang pertama menggunakannya adalah Mohammed Arkoun. Ia, dalam analisanya terhadap Alquran, sebagaimana yang diungkapkan Meuleman (1994:15-21 dan 1999:7-8, 21), menggunakan teori mitos dari Barthes dan Ricoeur. Katanya, ketika Alquran telah berubah pus resmi yang tertutup, bertentangan dengan fungsi dan makna yang sebenarnya, sehingga digunakan untuk membenarkan hirarki sosial kelompok dominan tertentu, maka Alquran telah menjadi mitos yang berfungsi sebagai pelestari dan pembeku (pemistik). Mitos merupakan salah satu kajian semiotik. Dalam semiotik, mitos tidak selamanya berkonotasi buruk. Mitos, menurut Arkoun, penting karena dapat berfungsi menggerakkan dan mengarahkan manusia. Akan tetapi, meskipun lebih tinggi dari dongeng, mitos adalah uraian yang tidak rasional dan faktual.
Beberapa Aspek Politik Muhammadiyah Hakim, Sudarnoto Abdul
Buletin Al-Turas Vol 9, No 1 (2003): BULETIN AL-TURAS
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v9i1.6888

Abstract

Sejak berdirinya tahun 1912, MUhammadiyah tidak prnah menjadi partai politik peserta Pemilu (kontestan). Meskipun demikian, dimensi politik MUhammadiyah tidak bisa diabaikan. Pilihan-pilihannya untuk bergerak di bidang sosial- keagamaan dan pendidikan dengan tingkat kepenganutan yang cukup besar telah menempatkan MUhammadiyah sebagai ormas Islam penting dan berpengaruh di Indonesia. Dengan demikian, implikasi politiknya pun tidak bisa diabaikan. Hal ini juga berarti bahwa sepanjang sejarahnya MUhammadiyah telah melampaui berbagai pengalaman politik yang cukup penting. Uraian ini berusaha mendiskusikan beberapa aspek politik MUhammadiyah.

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol. 31 No. 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol 30, No 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 1 (2024): Buletin Al-Turas Vol 29, No 2 (2023): Buletin Al-Turas Vol 29, No 1 (2023): Buletin Al-Turas Vol 28, No 2 (2022): Buletin Al-Turas Vol 28, No 1 (2022): Buletin Al-Turas Vol 27, No 2 (2021): Buletin Al-Turas Vol 27, No 1 (2021): Buletin Al-Turas Vol 26, No 2 (2020): Buletin Al-Turas Vol 26, No 1 (2020): Buletin Al-Turas Vol 25, No 2 (2019): Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol 25, No 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol 24, No 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 23 No. 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol 23, No 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol 23, No 1 (2017): Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas Vol 22, No 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol. 22 No. 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol 21, No 2 (2015): Buletin Al-Turas Vol 21, No 1 (2015): Buletin Al-Turas Vol 20, No 2 (2014): Buletin Al-Turas Vol 20, No 1 (2014): Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas Vol 19, No 1 (2013): Buletin Al-Turas Vol 18, No 2 (2012): Buletin Al-Turas Vol 17, No 1 (2011): Buletin Al-Turas Vol 16, No 3 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 2 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 1 (2010): Buletin Al-Turas Vol 15, No 3 (2009): Buletin Al-Turas Vol 15, No 1 (2009): Buletin Al-Turas Vol 14, No 2 (2008): BULETIN AL-TURAS Vol 14, No 1 (2008): Buletin Al-Turas Vol 13, No 2 (2007): Buletin Al-Turas Vol 13, No 1 (2007): Buletin Al-Turas Vol 12, No 3 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 2 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 1 (2006): Buletin Al-Turas Vol 11, No 3 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 2 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 1 (2005): Buletin Al-Turas Vol 10, No 3 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 2 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 1 (2004): Buletin Al-Turas Vol 9, No 2 (2003): Buletin Al-Turas Vol 9, No 1 (2003): BULETIN AL-TURAS Vol 8, No 1 (2002): Buletin Al-Turas Vol 7, No 2 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 7, No 1 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 6, No 1 (2000): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 2 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 1 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 4, No 1 (1998): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 3 (1996): Buletin Al-Turas Vol. 2 No. 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 1 (1996): Buletin Al-Turas Vol 1, No 2 (1995): Buletin Al-Turas Vol 1, No 1 (1995): Buletin Al-Turas More Issue