cover
Contact Name
Dr. Nani Radiastuti
Contact Email
n_radiastuti@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
alkauniyah@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
AL KAUNIYAH
ISSN : 19783736     EISSN : 25026720     DOI : 10.15408/kauniyah
Core Subject : Science,
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi (p-ISSN: 1978-3736, e-ISSN: 2502-6720) is an Open Access Journal published by Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, and established since 2007. Since 2016 Al-Kauniyah has established a collaboration with the Association of Lecturer in Biology and Biology Education throughout the State Islamic Higher University (PTKIN) in Indonesia. Until 2015, Al-Kauniyah covered environmental biology solely, but since 2016 the journal has been extended to cover the entire field of biological science (bioscience). By publishing biannually, on April and October, Al-Kauniyah is intended to communicate original researches and current issues on the subject of biology. Since volume 9 issue 1 April 2016, Al-Kauniyah had been changes the layout. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Manuscripts can be submitted to AL-KAUNIYAH
Arjuna Subject : -
Articles 460 Documents
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Patin (Pangasius sp.) Setelah Pemberian Pakan Bersubstitusi Biji Ketapang (Terminalia catappa L.) Retno Aryani; Rudy Agung Nugroho; Windi Rosiana Dewi; Yanti Puspita Sari; Hetty Manurung; Rudianto Rudianto
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.12800

Abstract

 AbstrakPenggunaan biji tumbuhan yang mengandung protein tinggi sebagai bahan substitusi tepung ikan dalam pelet telah beberapa dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin (Pangasius sp.) setelah pemberian pakan bersubstitusi biji Terminalia catappa L. selama 12 minggu sebanyak 120 ekor ikan yang diberi pakan variasi substitusi tepung ikan: 0% (kontrol), 10, 15, dan 20%. Pertambahan bobot ikan (BWG), penambahan berat harian (DWG), pertambahan bobot mingguan (AWG), laju pertumbuhan relatif harian (SGR), pertambahan panjang total (LG), konversi pakan (FCR), efisien pakan (FE), dan kelangsungan hidup (SR) diukur setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi biji 10–20% dibandingkan dengan kontrol tanpa substitusi tidak ada beda nyata dalam parameter BWG, DWG, AWG, SGR, LG, FE dengan nilai tertinggi pada perlakuan 15% (P2) dan FCR 20% (P3). Sementara, SR berkisar 83,33–100%. Biji Ketapang dapat digunakan sebagai substitusi tepung ikan antara 10–20% untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang optimum.AbstractThe use of nut plant which contains high protein level as a substitution for fish meal in the diet of fish has been performed in some researches. This study was conducted to determine the growth and survival of catfish (Pangasius sp.) fed ketapang (Terminalia catappa L.) seeds substitution for fish meal in their test diet for 12 weeks. The aquarium contained 120 fish that fed various concentrations of substitution with ketapang seeds in the test diet, vis: 0% (control), 10, 15, and 20%. Fish weight gain (BWG), daily weight gain (DWG), weekly weight gain (AWG), relative daily growth rate (SGR), total fish length (Length gain), feed conversion (FCR), feed efficiency (FE), and survival (SR) were measured every week. The results showed that 10 to 20% ketapang seed substitution compare to control had no significant effect in term of  BWG, DWG, AWG, SGR, Length gain. The highest FE was achieved at 15% substitution while FCR 20%. The SR showed the percentage ranges from 83.33–100%. This study concluded that ketapang seed can be used as a fish meal substitution from 10–20% for optimum growth and survival of catfish.
Keragaman dan Komposisi Jenis Tumbuhan Sebagai Bioindikator Pemulihan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah Setelah Terbakar Muhammad Abdul Qirom; Tri Wira Yuwati; Dony Rachmanadi; Fajar Lestari
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.21837

Abstract

AbstrakDegradasi hutan menyebabkan perubahan komposisi jenis penyusun tegakan. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran kemampuan regenerasi alami dari areal bekas terbakar berdasarkan parameter keragaman jenis dan menggambarkan proses regenerasi alami pada areal bekas terbakar. Survei untuk memperoleh data jumlah dan kerapatan jenis, keragaman, dan komposisi jenis penyusun tegakan pada tiga lokasi yakni areal hutan sekunder, bekas terbakar 1997, dan bekas terbakar 2015. Penentuan keragaman jenis tersebut menggunakan beberapa indeks ekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis penyusun tegakan bervariasi antar lokasi. Pada areal bekas terbakar 2015, jumlah dan komposisi jenis penyusun tegakannya paling rendah, sedangkan pada areal bekas terbakar 1997 dan hutan sekunder mempunyai jumlah dan komposisi jenis yang hampir mirip. Perubahan komposisi jenis terbesar terjadi pada areal bekas terbakar 2015 dengan pengurangan jenis >82% untuk seluruh tingkat permudaan. Berdasarkan indeks ekologinya, areal hutan sekunder mempunyai tingkat kemerataan yang tinggi, tidak didominasi oleh jenis tertentu, dan jenis lebih beragam. Namun demikian, indeks ekologi pada areal bekas terbakar 1997 mendekati nilai dari hutan sekunder. Kondisi ini berdasarkan indeks kesamaan komunitas yang tinggi pada tingkat semai dan pancang >50%. Hal ini menunjukkan pemulihan alami pada areal bekas terbakar 1997 sangat mungkin terjadi dan areal bekas terbakar 2015 membutuhkan intervensi untuk meningkatkan kemampuan pemulihannya.AbstractThe forest degradation has altered stand composition. The research objectives was to obtain natural regeneration ability of post burning area based on species diversity parameter and describing the process of natural regeneration on the burnt area. The survey was carried out to obtain the data of number and species density, diversity and species composition of three stands including secondary forest, arean burnt in 1997 and 2015. Species diversity was measured with several ecological index. The result showed that species composition varied between those areas. The lowest stand species compositon was the 2015 burnt area. The 1997 burnt area and the secondary forest were similar in terms of stand species composition. The biggest changes of species composition was the 2015 burnt area with species removal of more than 82% for all regeneration stages. Based on the ecological indexes, the secondary forest had the highest evenness, no domination of a certain species and more diverse species existed. Nevertheless, ecological index of area burnt in 1997 was resembling the value of secondary forest. This condition was shown by the community similarity index of seedlings and saplings of  >50%. It indicated that the natural regeneration of the 1997 burnt area was happening and intervention was needed for the 2015 burnt area.
INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 16 NO. 2 OKTOBER 2023 Index index
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.35537

Abstract

Diet, Feed Preferences, and Nutritional Intake of Hylobates albibarbis in Transit Cage BKSDA Kalimantan Tengah Adisty Virakawugi Darniwa; Ida Kinasih; Nurul Aulia Fitri
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.27817

Abstract

AbstractHylobates albibarbis is a type of small primate that lives on the island of Borneo with a characteristic black face and white hair on the eyebrows, cheeks, and chin that resembles a beard. H. albibarbis feeding management is important in conservation efforts on ex-situ conservation because of animal welfare. This study aims to determine the composition of the diet, feed preferences and nutritional intake of feed given to H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya-Central Kalimantan Office for Conservation of Natural Resources (named Balai Konservasi Sumber Daya Alam-BKSDA) under the Directorate of Conservation of Natural Resources and Ecosystems of the Ministry of Environment & Forestry of the Republic of Indonesia. The methods used are focal animal sampling and restricted feeding observed in individual male adult and infant of H. albibarbis. The observations show that the feed preferred by adult H. albibarbis was the Ambon banana (98.21%) and the least preferred was the Kepok banana (74.26%). Otherwise, in infants H. albibarbis the most preferred feed was papaya (93.43%), and the least preferred feed was Ambon banana (58.10%). The average daily feed intake for adult H. albibarbis was 658.52 g, and for infant was 378.16 g. H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya BKSDA office, Central Kalimantan had good growth and healthy physical condition assumed from their body weight and length.AbstrakHylobates albibarbis merupakan kera kecil yang hidup di Pulau Kalimantan dengan ciri khas wajah berwarna hitam dan rambut berwarna putih pada alis, pipi, dan dagu yang menyerupai janggut. Pengelolaan pakan H. albibarbis penting dalam upaya konservasi dengan konservasi ex-situ untuk kesejahteraan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi pakan, preferensi pakan, dan asupan nutrisi pakan yang diberikan pada H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan adalah focal animal sampling dan restricted feeding pada individu jantan dewasa dan jantan bayi H. albibarbis. Observasi dilakukan dalam durasi 12 jam selama 31 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pakan yang disukai H. albibarbis dewasa adalah pisang Ambon (98,21%) dan yang tidak disukai adalah pisang Kepok (74,26%). Pakan yang disukai bayi H. albibarbis adalah pepaya (93,43%) dan yang tidak disukai adalah pisang Ambon (58,10%). Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis dewasa adalah 658,52 g. Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis bayi adalah 378,16 g. H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah memiliki pertumbuhan yang baik dan kondisi fisik yang sehat berdasarkan berat badan dan panjang tubuhnya.
Potensi Isolat Bakteri Selulolitik Toleran Panas Asal Tanah, Sampah Dapur, dan Kotoran Sapi Dalam Biodegradasi Serasah Daun Taruna Dwi Satwika; Hendro Pramono; Dwiana Muflihah Yulianti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.25616

Abstract

 AbstrakBakteri selulolitik memainkan peranan penting dalam biodegradasi komponen selulosa pada sampah organik. Namun, proses pengomposan umumnya melewati fase termofilik (suhu mencapai 55 °C), sehingga tidak semua bakteri dapat bertahan. Sebanyak delapan isolat bakteri selulolitik telah berhasil diisolasi dari tanah, sampah dapur, dan kotoran sapi. Namun, isolat-isolat tersebut belum diketahui aktivitas selulolitiknya pada suhu tinggi dan kemampuannya dalam mendegradasi biomassa serasah daun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas selulolitik isolat bakteri pada suhu tinggi secara kualitatif, mengetahui aktivitas selulolitik isolat bakteri secara kuantitatif, dan mengetahui kemampuan isolat bakteri selulolitik dalam mendegradasi biomassa serasah daun. Penelitian dilakukan dengan tahapan peremajaan isolat, skrining kualitatif aktivitas selulolitik isolat pada suhu ruangan, 45 °C dan 55 °C, skrining kuantitatif aktivitas selulolitik isolat, dan uji degradasi biomassa serasah daun. Sebanyak 6 dari 8 isolat bakteri menunjukkan aktivitas selulolitik pada medium Carboxy Methyl Celullose (CMC) Agar pada suhu 55 °C. Berdasarkan uji aktivitas enzim secara kuantitatif, 3 isolat (KS1, KS4, dan SD5) dengan aktivitas enzim tertinggi terpilih untuk pengujian degradasi serasah daun dan menunjukkan rata-rata aktivitas enzim secara berurutan 0,0074 UI/mL; 0,0080 UI/mL; 0,0159 UI/mL. Ketiga isolat mampu mempercepat proses degradasi serasah daun dan berpotensi sebagai agen pengomposan.AbstractHowever, the composting process generally passes through a thermophilic phase (55 °C), so that not all bacteria can survive. A total of 8 isolates of cellulolytic bacteria isolated from soil, kitchen waste, and cow dung have not yet known their cellulolytic activity at high temperatures and their ability to degrade leaf litter biomass. This study aimed to determine the cellulolytic activity of bacterial isolates at high temperatures qualitatively, to determine the cellulolytic activity of bacterial isolates quantitatively, and to determine the ability of these isolates to degrade leaf litter biomass. The research was carried out by reculture isolates; qualitative screening of isolate cellulolytic activity at room temperature, 45 °C and 55 °C; quantitative screening of isolate cellulolytic activity; and leaf litter biomass degradation test. Six of eight bacterial isolates showed cellulolytic activity on Carboxy Methyl Celullose (CMC) Agar medium at 55 °C. Three isolates (KS1, KS4, and SD5) with the highest enzyme activity were selected for the leaf litter degradation test and showed an average enzyme activity of 0.0074 UI/mL; 0.0080 UI/mL; 0.0159 UI/mL, respectively. The three isolates were able to accelerate the degradation process of leaf litter and have potential as composting agents.
Feed Management and Nutritional Status of Gibbons (Symphalangus Syndactylus Raffles, 1821) at Tegal Alur Animal Rescue Center, Jakarta Fahma Wijayanti; Abdul Bagas Al katiri; Nurul Handayani; Narti Fitriana
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.33624

Abstract

 AbstractGibbon (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) is an endangered species of black long-armed ape that is protected by national and international regulations. This study aims to analyze feeding behavior, feed management and nutritional status of gibbons in Tegal Alur Animal Rescue Center. The study was conducted in March-July 2020, using focal animal sampling and ad libitum sampling methods to 6 individual gibbons. Food management data collection includes information on feeding and the amount of feed, while nutritional status includes physical characteristics of the body, anthropometry, and analysis of feed composition. The results showed that the feeding schedule for gibbons was in accordance with the feeding times of gibbons in nature. Tegal Alur PPS provides food in the form of nine types of fruit, two types of vegetables and one type of leaves. Gibbons at Tegal Alur PPS Alur Animal Rescue Center has met the amount of feed consumption according to body weight. The nutritional status based on anthropometry shows that the body weight of the gibbon is not in accordance with its natural habitat. Morphological observations showed that the gibbon’s teeth and eyes were healthy, while some gibbons had hair loss and depigmentation.AbstrakOwa (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) merupakan spesies kera hitam lengan panjang yang terancam punah dan dilindungi oleh peraturan nasional dan internasional. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perilaku makan, pengelolaan pakan, dan status gizi owa di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juli 2020, dengan metode focal animal sampling dan ad libitum sampling pada 6 individu owa. Pendataan pengelolaan pakan meliputi informasi pakan dan jumlah pakan, sedangkan status gizi meliputi ciri fisik tubuh, antropometri, dan analisis komposisi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jadwal pemberian pakan owa sesuai dengan waktu pemberian pakan owa di alam. PPS Tegal Alur menyediakan makanan berupa sembilan jenis buah, dua jenis sayuran dan satu jenis daun-daunan. Owa di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur telah memenuhi jumlah konsumsi pakan sesuai dengan berat badan. Status gizi berdasarkan antropometri menunjukkan bahwa berat badan owa lebih rendah dengan berat badan Owa di habitat aslinya. Pengamatan morfologi menunjukkan bahwa gigi dan mata owa dalam keadaan sehat, sementara beberapa owa mengalami kerontokan rambut dan depigmentasi.
Potensi Ekstrak Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L.) Untuk Isolasi Kolagen Cumi-cumi (Loligo sp.) Sebagai Penyembuhan Luka Kulit Mencit (Mus musculus) Angelia Astria; Aniek Prasetyaningsih; Vinsa Cantya Prakasita
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.17629

Abstract

AbstrakKulit buah pepaya merupakan bagian dari buah pepaya yang tidak dikonsumsi dan mengandung enzim papain yang dapat digunakan sebagai pengganti papain murni untuk mengekstraksi kolagen. Tentakel cumi-cumi merupakan salah satu dari bahan baku marine collagen. Ekstraksi kolagen dari tentakel cumi-cumi menggunakan metode maserasi menggunakan CH3COOH dan penambahan ekstrak kulit buah pepaya pada konsentrasi 5, 10, 15, dan 20%. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 15% ekstrak kulit buah pepaya memberikan rendemen yang terbaik yaitu 19,2% (w). Kolagen yang dihasilkan memenuhi kriteria Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2014) pada jumlah mikrobia dan total coliform tetapi belum memenuhi pada kadar protein, pH, dan kadar air. Pada uji preklinis digunakan kolagen hasil ekstraksi dengan penambahan 20% ekstrak kulit buah pepaya yang memenuhi kriteria BSN dengan kadar protein terbanyak. Serum kolagen dibuat menjadi tiga konsentrasi, yaitu 5, 10, dan 20 mg/mL. Hasil pengujian preklinis menunjukkan bahwa kelompok perlakuan kolagen 20 mg/mL memiliki presentase penutupan luka kulit mencit terbaik sebesar 84,61%, dari hasil pengujian statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompok perlakuan kontrol positif.AbstractThe papaya peel, which is a part of papaya not typically consumed, contains the papain enzyme that can be used as a substitute for pure papain to extract the collagen. Squid tentacles are one of the mainsources of marine collagen. The extraction of collagen from squid tentacles was conducted using a maceration method with CH3CHOOH solvent, and the papaya peel extract was added at concentrations of 5, 10, 15, and 20%, respectively. The extraction process showed that the addition of 15% papaya peel extract provided the best result of 19.2% (bb). The collagen produced in this experiment met the BSN criteria for total microbes and total coliforms. However, it did not yet comply with the BSN criteria for protein content, pH, and water levels. The preclinical testing utilized the extracted collagen and the papaya peel extract with a 20% concentration, which met the BSN standards with the highest protein level. The serum collagen was divided into three concentrations: 5 mg/ml, 10 mg/ml, and 20 mg/ml. Preclinical studies showed that the treatment group receiving 20 mg/mL collagen exhibited the highest percentage of skin wound healing at 84.61%, and the statistical test found no significant difference compared to the positive control treatment group.
Karakterisasi Morfologi Citrus jambhiri Lush. dan Hubungan Kekerabatannya dengan Citrus amblycarpa (Hassk.) Ochse Putri Tiyara Junjung Buih; Ratna Susandarini
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.22920

Abstract

 AbstrakLimau Kuit (Citrus jambiri Lush.) merupakan salah satu spesies jeruk yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan produk minuman, perisa makanan, dan bumbu masakan. Sebagian besar publikasi mengenai limau Kuit hanya menggunakan nama lokal, dan limau ini mirip dengan spesies lain yang juga dikenal dengan nama limau dapat menimbulkan kerancuan identitas taksonominya. Hingga saat ini belum ada publikasi penegasan status taksonomi limau Kuit beserta karakterisasi morfologi yang lengkap. Penelitian ini bertujuan menghasilkan karakterisasi morfologi limau Kuit serta penegasan identitas taksonominya melalui perbandingan dan analisis hubungan kekerabatan dengan jeruk Sambal. Karakterisasi disusun berdasarkan pengamatan terhadap 49 karakter morfologi habitus, daun, dan buah. Pengamatan morfologi terhadap 11 sampel limau Kuit dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menunjukkan variasi intraspesies yang rendah. Hasil analisis klaster menunjukkan bahwa limau Kuit dan jeruk Sambal berkerabat jauh. Pola pengelompokkan berdasarkan analisis klaster menunjukkan sampel yang berasal dari lokasi berbeda memiliki tingkat kemiripan yang tinggi, baik untuk limau Kuit maupun pada kedua spesies. Analisis hubungan kekerabatan yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan penegasan identitas taksonomi limau Kuit sebagai spesies tersendiri dengan menunjukkan kekerabatan yang jauh dengan jeruk Sambal. Deskripsi spesies yang komprehensif berdasarkan karakterisasi morfologi menyediakan acuan untuk mengenali limau Kuit agar tidak terjadi kekeliruan dalam penyebutannya.AbstractRough lemon (Citrus jambhiri Lush.) is one of the citrus species widely cultivated and used by the people of South Kalimantan as an ingredient in beverage products, food flavoring, and spices. Most publications on rough lemon only mentioned local names, and its resemblance to other species known with similar name might lead to confusion on their taxonomic identity. Until now there has been no publication to confirm the taxonomic status along with a complete morphological characterization. This study aims to provide morphological characterization of rough lemon and to confirm its taxonomic identity through comparison and analysis of taxonomic relationship with Nasnaran mandarin. The characterization was compiled based on observations of 49 morphological characters of plant habit, leaves, and fruits. Morphological observations on 11 samples of rough lemon from South Kalimantan and Central Kalimantan showed low intraspecific variation. The results of cluster analysis showed that rough lemon and Nasnaran mandarin were distantly related. The grouping pattern based on cluster analysis showed that samples from different locations have high degree of similarity for these two species. The analysis of taxonomic relationship reported in this study confirmed the taxonomic identity of rough lemon as distinct species and distantly related to Nasnaran mandarin. The comprehensive species description resulting from morphological characterization in this study provides a reference to correctly identify rough lemon specimens to avoid misrecognition of the species.
Identification of Phytoplankton at Ephemeral Pond with Acidic pH in Bangka Regency Andri Kurniawan; Ardiansyah Kurniawan; Robin Robin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.28608

Abstract

 AbstractEphemeral waters, the temporary aquatic environment become an interesting habitat to explore extremophile organism, include phytoplankton. Furthermore, the waters have an acidic condition or low pH that impact to metabolisms, community structure, and diversity of phytoplankton. This study was conducted on June until August 2022 in Bangka Regency, Bangka Belitung Archipelago Province, Indonesia. We analyzed the phytoplankton presence at acidic ephemeral waters to indicated their potential as primary producer in food web, bioindicator, and ecological succession agent. This study was conducted by exploration method of phytoplankton diversity. The research observed and found five class and twelve genera that consist of class Chlorophyceae (genera Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, and Coleochaete), class Rhodophyceae (genera Lemanea), class Diatoms (genera Diatoma, Synedra, and Navicula), class Xanthophyceae (genera Ophiocytium), and class Cyanobacteria (genera Oscillatoria and Anabaena). The class Chlorophyceae, genera Enteromorpha were the highest community at the both of acidic waters and they could survive at pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8.AbstrakPerairan ephemeral, lingkungan perairan musiman menjadi suatu habitat yang menarik untuk mengeksplorasi organisme ekstremofil, termasuk fitoplankton. Lebih jauh lagi, perairan tersebut memiliki kondisi asam atau pH rendah yang berdampak pada metabolisme, struktur komunitas, dan diversitas fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2022 di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Kami menganalisis keberadaan fitoplankton di perairan ephemeral asam untuk mengindikasikan potensi fitoplankton sebagai produsen utama, bioindikator dan agen suksesi lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksplorasi diversitas fitoplankton. Penelitian ini mengobservasi dan menemukan lima kelas dan dua belas genus yang terdiri atas kelas Chlorophyceae (genus Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, dan Coleochaete), kelas Rhodophyceae (genus Lemanea), kelas Diatoms (genus Diatoma, Synedra, dan Navicula), kelas Xanthophyceae (genus Ophiocytium), dan kelas Cyanobacteria (genus Oscillatoria dan Anabaena). Kelas Chlorophyceae, genus Enteromorpha adalah komunitas tertinggi pada kedua perairan asam dan mampu bertahan pada pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8.
Produksi Antibodi Poliklonal Menggunakan Protein Rekombinan RBD-spike Untuk Deteksi SARS-CoV-2 Iryani Endah Febrianti; Yayuk Fatmawati; Intan Ria Neliana; Widhi Dyah Sawitri; Erlia Narulita; Bambang Sugiharto
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.25664

Abstract

 AbstrakSARS-CoV-2 merupakan virus yang menyebabkan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di seluruh dunia dan sampai saat ini kasus terbaru masih terus dilaporkan. Diagnostic test merupakan hal yang krusial untuk dikembangkan. Prinsip diagnostic test COVID-19 berbasis antigen, yaitu mendeteksi virus SARS-CoV-2 melalui respon antibodi dari penderita. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi antibodi poliklonal menggunakan protein rekombinan RBD-Spike untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 berbasis antibodi. Penelitian dimulai dengan penentuan domain RBD-Spike menggunakan pensejajaran asam amino, dan konstruksi DNA untuk RBD-Spike pada vektor ekspresi pET28a menggunakan sintetik nukleotida. Produksi protein rekombinan RBD-Spike diekspresikan pada sel bakteri Escherichia coli. Purifikasi dilakukan untuk memperoleh protein RBD-Spike dan selanjutnya digunakan sebagai antigen untuk induksi antibodi poliklonal pada kelinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi protein rekombinan RBD-Spike SARS-CoV-2 memerlukan induksi IPTG 0,1 mM dan terekspresi dalam bentuk inclusion bodies dengan ukuran 39 kDa. Purifikasi protein RBD-Spike dilakukan menggunaan resin afinitas NiNTA, elektroelusi, dan dialisis. Total protein RBD-Spike yang diperoleh sebanyak 4 mL dengan konsentrasi 10 mg/mL. Analisa Ouchterlony menunjukkan bahwa antibodi poliklonal terdeteksi pada minggu kedua setelah injeksi booster dan analisa spesifitas antibodi terhadap antigen menunjukkan bahwa antibodi poliklonal dapat mendeteksi protein RBD-Spike pada konsentrasi 0,1 µg. Selanjutnya diharapkan antibodi poliklonal dapat digunakan untuk deteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 dan dapat dikembangkan untuk kit deteksi berbasis antibodi.AbstractSARS-CoV-2 is the virus that causes Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) worldwide and the latest cases are still being reported until now. The diagnostic test is a crucial to be developed. The principle of the antigen-based COVID-19 diagnostic test is to detect the SARS-CoV-2 virus through antibody response from the patients. This study was conducted to produce polyclonal antibodies using recombinant protein RBD-Spike. The research was carried out by determining the RBD-Spike domain using amino acid alignment and constructing the DNA of RBD-Spike to the expression vector of pET28a using nucleotide synthesis. Production of RBD-Spike recombinant protein was expressed in Escherichia coli. Purification was carried out to obtain RBD-Spike protein and used to induce polyclonal antibody ina rabbit. The results showed that the expression of RBD-Spike recombinant protein required induction of IPTG 0.1 mM and was expressed in inclusion bodies with molecular size of 39 kDa. The purification of RBD-Spike protein was carried out using resin affinity, electroelution, and dialysis. The total protein of RBD-Spike obtained was 4 mL with a concentration of 10 mg/mL. Ouchterlony analysis revealed that polyclonal antibody was detected in the second week after booster injection and analysis of antibody specificity showed that polyclonal antibodies detected RBD-Spike protein at the concentration of 0.1µg of RBD-Spike protein. Moreover, it is expected that our polyclonal antibody detect the SARS-CoV-2 virus and can be developed for antibody-based detection kits.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 19 No. 1 (2026): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 18, No 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol. 16 No. 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 15, No 1 (2022): AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 2 (2020): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 12, No 1 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 2 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 11, No 1 (2018): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 2 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 2 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 9, No 1 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 2 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 8, No 1 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 2 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 7, No 1 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 2 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol 6, No 1 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi More Issue