cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mentari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
PENINGKATKAN MUTU DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SESUAI DENGAN TUNTUTAN GLOBAL Nasir Usman
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menjadi variabel determinan dan kedudukannya krusial ketika suatu bangsa menginginkan warganya berkualitas. Menjadikan pendidikan sebagai leading sector, benchmarking dari negara-negara lain,  good and clean government dalam era global bukan hanya sebagai persyaratan, tetapi lebih dari itu, ia menjadi keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Reformasi dan transformasi pendidikan selayaknya dilaksanakan sebagai langkah pembaruan dan pemberdayaan peningkatan mutu pendidikan, yang dilakukan secara simultan dengan sektor-sektor lainnya, Untuk itu, proses pembelajaran pada berbagai lembaga pendidikan harus berpijak pada empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Kata kunci: peningkatan mutu, penyelenggaraan pendidikan
PERBANDINGAN KESEGARAN JASMANI ANTARA SISWA SMP NEGERI 1 DENGAN SISWA SMP NEGERI 2 BANDA ACEH Bustamam -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sekolah bertujuan untuk memacu pada pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial, selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat. Kesegaran Jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan tugas sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui perbandingan tingkat kesegaran jasmani antara siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan jumlah siswa seluruhnya 670 siswa dan SMP Negeri 2 Banda Aceh dengan jumlah siswa seluruhnya 620 siswa, sedangkan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan area probability sample (sampel wilayah), dengan jumlah 60 siswa, terdiri dari 30 siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dan 30 siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah teknik penelitian diskriptif dengan teknik pengukuran. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk anak usia 10–12 tahun. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis data diperoleh thitung lebih kecil dari ttabel atau 0,916 2,048, maka ditolaknya hipotesis penelitian (Ha) dan diterimanya hipotesis statistik (Ho) artinya tidak terdapat tingkat perbedaan kesegaran jasmani pada siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Kata Kunci :   kesegaran jasmani 
FILSAFAT HUKUM KETATANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Said Mahyiddin
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 12, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah menunjukkan bahwa agama sebagai tradisi dan kebudayaan (yang dianut umatnya) memiliki kemampuan secara multiple untuk melakukan tafsiran ulang secara terus-menerus dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman. Agama-agama samawi seperti Judio-Kristen dan Islam dalam masa kontemporer mau tidak mau harus menjawab tantangan politik seperti halnya soal kebangsaan, kenegaraan dan demokrasi.            Agama, sebagaimana dinyatakan banyak kalangan, dapat dipandang sebagai instrumen ilahiah untuk memahami dunia.[1] Islam, dibandingkan dengan agama-agama lain, sebenarnya merupakan agama yang paling mudah untuk menerima premis semacam ini. Alasan utamanya terletak pada ciri Islam yang paling menonjol, yaitu sifatnya yang “hadir di mana-mana” (omnipresence). Ini sebuah pandangan yang mengakui bahwa “di mana-mana” kehadiran Islam selalu memberikan “panduan moral yang benar bagi tindakan manusia.”[2]            Dalam konteksnya yang sekarang, tidaklah terlalu mengejutkan, meskipun kadang-kadang mengkhawatirkan, bahwa dunia Islam kontemporer menyaksikan sebagian kaum Muslim yang ingin mendasarkan seluruh kerangka kehidupan sosial, ekonomi dan politik pada ajaran Islam secara eksklusif, tanpa menyadari keterbatasan-keterbatasan dan kendala-kendala yang bakal muncul dalam praktiknya. Ekspresi-ekspresinya dapat ditemukan dalam istilah-istilah simbolik yang dewasa ini popular seperti revitalisme Islam, kebangkitan Islam, revolusi Islam, atau fundamentalisme Islam.[3] Sementara ekspresi-ekspresi itu didorong oleh niat yang tulus, tidak dapat dipungkiri bahwa semuanya itu kurang dipikirkan secara matang dan pada kenyataannya lebih banyak bersifat apologetik.[4] Gagasan-gagasan pokok mereka seperti dikemukakan oleh Mohammed Arkoun, “tetap terpenjara oleh citra kedaerahan dan etnografis, terbelenggu oleh pendapat-pendapat klasik yang dirumuskan secara tidak memadai dalam bentuk slogan-slogan ideologis kontemporer.” Lebih lanjut, “artikulasi mereka masih tetap didominasi oleh kebutuhan ideologis untuk melegitimasi rezim-rezim masyarakat Islam dewasa ini.”[5]            Adalah sebuah fenomena yang mengejutkan bahwa sejak berakhirnya kolonialisme Barat pada pertengahan abad ke-20, Negara-negara Muslim (misalnya Turki, Mesir, Sudan, Maroko, Pakistan, Malaysia, Aljazair) mengalami kesulitan dalam upaya mereka mengembangkan sintesis yang memungkinkan (viable) antara praktik dan pemikiran politik Islam dengan negara di daerah mereka masing-masing. Di negara-negara tersebut, hubungan politik antara Islam dan negara ditandai oleh ketegangan-ketegangan yang tajam, jika bukan permusuhan. Sehubungan dengan posisi Islam yang menonjol di wilayah-wilayah tersebut, yakni karena kedudukannya sebagai agama yang dianut sebagian besar penduduk, tentu saja menimbulkan tanda tanya. Kenyataan inilah yang telah menarik perhatian sejumlah pengamat politik Islam untuk mengajukan pertanyaan, apakah Islam sesuai atau tidak dengan sistem politik modern, di mana gagasan negara-bangsa merupakan salah satu unsur pokoknya.[6]            Di Indonesia, dalam hal hubungannya politik dengan negara, sudah lama Islam mengalami jalan buntu. Baik pemerintahan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto memandang partai-partai politik yang berlandaskan Islam sebagai pesaing kekuasaan yang potensial, yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis. Terutama karena alasan ini, sepanjang lebih empat dekade, kedua pemerintah di atas berupaya untuk melemahkan dan “menjinakkan partai-partai Islam”. Akibatnya, tidak saja para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan lagi pada akhir 1950-an dalam perdebatan-perdebatan di Majelis Konstituante mengenai masa depan konstitusi Indonesia), tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali-kali disebut “kelompok minoritas atau “kelompok luar”.[7] Pendek kata, seperti telah dikemukakan para pengamat lain, Islam politik telah berhasil dikalahkan–baik secara konstitusional, fisik, birokratis, lewat pemilihan umum maupun secara simbolik.[8] Yang lebih menyedihkan lagi, Islam politik seringkali menjadi sasaran ketidak-percayaan, dicurigai menentang ideologi Pancasila. Dalam soal ini cukuplah dikatakan bahwa saling curiga antara Islam dan negara berlangsung di sebuah negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam.            Pertanyaan untuk persoalan di atas adalah: mengapa hal demikian yang terjadi? Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan ketegangan seperti itu? Adakah jalan keluar darinya, yakni jalan penyelesaian yang mengubah hubungan politik antara Islam dan negara dari saling memusuhi dan mencurigai menjadi harmonis dan saling menguntungkan? Untuk membantu mencari jalan keluar atas persoalan tersebut, penulis akan mencoba menemukan jawabannya dengan mengkaji hubungan Islam dan negara dalam perspektif Filsafat Hukum Islam–melacak akar-akar sejarah, prinsip-prinsip ketatanegaraan, mekanisme, aturan main, tujuan dan hakikat bernegara dalam hukum Islam. 
WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN PEMBAYARAN TELEPON RUMAH (Suatu Penelitian pada PT Telkom Banda Aceh) Fadhullah -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 16, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menegaskan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Namun, dalam kenyataannya,  pemutusan sambungan  telepon rumah secara sepihak  oleh PT Telkom yang merugikan pelanggan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor penyebab pemutusan  telepon rumah oleh  PT Telkom, bentuk wanprestasi  dan upaya yang ditempuh para pihak apabila terjadi perselisihan akibat pemutusan  telepon. Untuk memperoleh data yang bersifat teoritis  dilakukan penelitian kepustakaan, sedangkan penelitian lapangan melalui wawancara dengan responden dan informan.      Hasil penelitian menunjukkan    faktor penyebab  pemutusan  telepon rumah oleh  PT Telkom adalah akibat  pelanggan  tidak melaksanakan  pembayaran telepon.   Bentuk wanprestasi yang dilakukan  pelanggan adalah tidak melakukan pembayaran sesuai dengan perjanjian. Upaya upaya yang ditempuh para pihak apabila terjadi perselisihan, langsung mengajukan komplain  ke customer service PT Telkom. Disarankan kepada pelanggan agar mempelajari dahulu isi perjanjian. Kepada para pihak agar dapat menempuh jalur penyelesaian yang terbaik. Kepada pemerintah agar dapat mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan  perjanjian baku  dalam pelaksanaannya cenderung merugikan pelanggan.                                        Kata kunci: Wanprestasi, pelanggan, dan PT Telkom
PRINSIP DASAR PEMANDUAN ATLET BERBAKAT Razali -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 10, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prestasi olahraga dunia sejak beberapa tahun yang lalu telah ditampilkan secara luar biasa. Tingkat prestasi yang sebelumnya sangat sulit untuk dibayangkan, sekarang telah menjadi hal yang lumrah dan semakin lama semakin meningkat.  Kemajuan tersebut bukan hanya berkat dukungan sarana, prasarana, serta peralatan olahraga yang makin canggih, namun juga tidak lepas dari intervensi berbagai disiplin ilmu yang diterapkan dalam pemanduan atlet berbakat. Riset dalam berbagai ilmu telah membantu para pelatih untuk semakin meningkatkan kemahiran, keterampilan serta ilmu dalam teori dan metodologi pelatihan, khususnya dalam pemanduan atlet berbakat.  Kata kunci: Prinsip dasar,  atlet,  bakat.
MELATIH AKHLAK DALAM PROSES MENDIDIK ANAK Rusziati Abfa
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era teknologi informasi ini banyak permasalahan mengenai anak yang dihadapi oleh orang tua, masyarakat, termasuk para guru. Permasalahan utama bukan lagi bertumpu pada proses pemerolehan ilmu pengetahuan, tetapi berkenaan dengan prilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak saat ini yang menampakkan prilaku menyimpang dari tuntunan agama, dalam hal ini agama Islam. Akhir-akhir ini, di beberapa kota besar dikenal komunitas punk yang hidup sebagai manusia bebas nilai (free value). Mereka beryakinan boleh mengekspresikan apa pun yang mereka inginkan, tanpa dibatasi oleh norma-norma yang hidup dalam sebuah masyarakat beradab. Kondisi seperti ini dapat menggiring anak-anak lain yang masih dalam keadaan labil. Oleh karena itulah, orang tua, masyarakat, dan terutama guru sangat patut menerapkan prinsip-prinsip pelatihan dalam memperbaiki akhlak anak sejak dini dan berkesinambungan.  Kata kunci: akhlak, proses mendidik, pendidikan formal,                      pendidikan nonformal
EUTHANASIA MENURUT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM, HUKUM PIDANA, DAN ETIKA KEDOKTERAN Saiful -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut perspektif hukum Islam, euthanasia merupakan tindakan yang diharamkan. Ada beberapa alasan euthanasia dilarang dalam Islam, yaitu: Pertama, eutanasia merupakan tindakan mendahului takdir Allah swt. Setiap manusia sudah ditentukan ajalnya masing-masing oleh Allah swt. yang pada saatnya tiba tidak akan bisa diajukan atau diundurkan sedikit pun. Kedua, karena euthanasia merupakan bentuk putus asa dari rahmat Allah. Ketiga, eutanasia termasuk pembunuhan yang dilarang oleh Allah swt. Pembunuhan itu termasuk dosa besar. Undang-undang hukum pidana yang berlaku sekarang di Indonesia memuat pasal-pasal yang mengancam dengan hukuman bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja ataupun karena kurang hati-hati dengan 12 tahun penjara. Seorang dokter bisa dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum. Kedokteran Islam menilai praktik eutanasia (pembunuhan dengan belas kasihan) diharamkan, Islam sangat menghargai kehidupan dan tidak memberi hak bagi manusia untuk mencabut nyawa seseorang karena masalah nyawa itu adalah hak dan milik Allah.  Kata kunci:  euthanasia, perspektif Islam, hukum pidana,          etika kedokteran
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN PADA SMA NEGERI 8 BANDA ACEH Khairuddin -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan faktor-faktor penghambat program peningkatan mutu pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Subjeknya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan ketua komite sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perencanaan kegiatan pedidikan diawali dengan merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah oleh Tim Pengembang Sekolah. Program kerja disusun dengan cara merevisi program kerja tahun yang lalu. Subtansinya mengarah pada upaya peningkatan mutu pendidikan namun tidak mencantumkan target hasil secara detail. (2) Pelaksanaan program dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia melalui pembagian tugas pada komponen satuan pendidikan. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik tidak diterapkan dengan baik. Otonomi dimiliki, namun tidak memunculkan kegiatan dan produk yang inovatif. (3) Ada tim guru yang mengawasi kedisiplinan para siswa dan guru. Evaluasi terfokus pada program akademik dari pada efektivitas dan efisiensi pembelajaran dan kinerja guru. Evaluasi Diri Sekolah secara menyeluruh terhadap Standar Nasional Pendidikan belum menjadi budaya sekolah. (4) Faktor-faktor penghambat adalah rendahnya profesionalisme, lemahnya kerja tim dan peran komite sekolah yang sangat kurang. Kata kunci: manajemen berbasis sekolah dan mutu pendidikan
PETA KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN ACEH TENGAH Ramli -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 14, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah peta kompetensi siswa SMA di Kabupaten Aceh Tengah pada mata pelajaran yang di-UN-kan? (2) apakah faktor penyebab siswa belum menguasai kompetensi tertentu? (3) bagaimanakah model penyelesaian yang tepat terhadap permasalahan yang ada sebagai langkah konkret intervensi yang harus dilakukan? Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Pendekatan yang ditempuh adalah Grounded Research, yakni mengamati kondisi responden dan sumber data lainnya secara langsung dengan menggunakan instrument-instrumen seperti pedoman wawancara, angket atau kuesioner, dokumentasi, check list, dan FGD. Sesuai dengan tujuan dan luaran penelitian yang diharapkan, maka subjek penelitian sebagai sumber data dalam penelitian ini meliputi; i) dokumentasi hasil UN tiga tahun terakhir (Tahun 2007/2008 sampai dengan Tahun 2009/2010). Adapun jumlah SMA yang dipilih sebagai sampel tiga SMA; ii) siswa SMA Kelas XI. Jumlah siswa sebagai sampel 90 orang; iii) guru mata pelajaran yang di-UN-kan yang berjumlah 9 orang; iv ) Kepala sekolah 3 orang; v) wakil kepala sekolah, vi) Kepala Tata Usaha, dan vii) unsur dinas pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah 1 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53 KD mata pelajaran Bahasa Indonesia yang bermasalah pada SMA di Kabupaten Aceh Tengah, dengan rician 20 KD berada di Kelas X, 15 KD terdapat di kelas XI, dan  18 KD berada di Kelas XII. Hasil penelitian ini sangat menarik karena KD yang mudah, baik menurut data UN, siswa, dan guru hanya sebagian kecil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara umum KD mata pelajaran Bahasa Indonesia berada pada tataran sulit pada siswa di kabupaten Aceh Tengah.  Kata kunci: peta kompetensi, mata pelajaran Bahasa Indonesia    
PROFIL SEKOLAH MUHAMMADIYAH/AISYIAH DI PROVINSI ACEH Ramli -
Mentari: Majalah Ilmiah Universitas Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

            Sejak awal berdiri, Muhammadiyah/Aisyiah telah memiliki komitmen tinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur pendidikan.  Hal ini tampak melalui keputusan-keputusan persyarikatan yang dengan konsisten setiap kali Muktamar (sebagai forum tertinggi persyarikatan) menetapankan program kerja lima tahunnya dalam bidang pendidikan, sejak pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Dampak dari komitmen ini, dari tahun ke tahun sekolah (pendidikan) Muhammadiyah/Aisyiah terus bertambah jumlahnya di seluruh Indonesia.            Di Provinsi Aceh, sekolah Muhammadiyah/Aisyiah berjumlah lebih-kurang 60 buah dan tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota. Sekolah-sekolah dimaksud adalah Pendidikan Anak Usia Dini/Taman Kanak-Kanak Aisyiah (PAUD/TKA),  Sekolah Dasar Muhammadiyah (SDM), Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah (SMPM), dan Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah (SMAM/MAM/SMKM). Di samping itu, Muhammadiyah juga telah mendirikan satu universitas, yaitu Universitas Muhammadiyah Aceh dan beberapa Sekolah Tinggi/ Akademi Muhammadiyah.            Selanjutnya, bagaimanakah kondisi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Provinsi Aceh? Kondisi sekolah Muhammadiyah berbeda-beda. Ada sekolah yang kondisinya sangat bagus, ada pula yang mengkhawatirkan sehingga mempengaruhi kegiatan belajar-mengajar.            Sejalan dengan pertanyaan di atas, tulisan ini hanya dibatasi pada dua jenjang, yaitu prasekolah, PAUD/TKA dan SDM saat ini. Hal-hal yang akan dideskripsikan, antara lain tentang sarana/prasarana, rasio jumlah guru, jumlah siswa, pembiayaan murid, dan prestasi yang telah dicapai sehingga menggambarkan profil PAUD/TKA dan SDM di Provinsi Aceh. Deskripsi ini didasarkan pada Data Base Sekolah Muhammadiyah Tahun 2010 yang dibuat oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Aceh.