cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 126 Documents
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Derajat Infeksi Dengue Pada Anak Andra Novitasari; Galuh Ramaningrum; Devi Yanuar P
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.16 KB)

Abstract

Latar Belakang : Infeksi virus dengue sering menyerang anak usia dibawah 15 tahun. Penyakit infeksi dengue timbul secara akut dan dalam waktu singkat keadaan pasien dapat memburuk dan sering berakibat fatal akibat terlambat tertangani. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyebab kematian dengan jumlah yang bermakna.Infeksi virus dengue tidak selalu berkembang menjadi DBD. Faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah sistem imun yang dipengaruhi juga oleh status gizi, umur dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat infeksi dengue pada anak.Metode : Penelitian observasional analitik secara retrospektif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji chi square dilanjutkan dengan uji regresi logistik.Hasil : Sampel penelitian adalah sebesar 77 sampel. Analisis bivariat menunjukkan hasil uji chi square pada status gizi (p = 0,013<0,05) dan jenis kelamin (p = 0,026<0,05). Pada analisis regresi logistic pada status gizi diperoleh OR = 9,474 (95% CI : 1,177-76,227).Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan jenis kelamin dengan derajat infeksi dengue. Status gizi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap derajat infeksi dengue. Status gizi buruk/kurang memiliki peluang 9,474 kali menderita DBD. Kata Kunci : status gizi, umur, jenis kelamin, derajat infeksi dengue
Jumlah Paritas dan Anemia sebagai Faktor Prediktor Kejadian Ketuban Pecah Dini M. Irsam; Arum Kartika Dewi; Ellen Wulandari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.569 KB)

Abstract

Latar Belakang: Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah salah satu permasalahan di dalam bidang obsetri. Usia ibu, paritas, infeksi, anemia,kelainan letak janin, kehamilan ganda, peningkatan tekanan intrauterin dan faktor keturunan merupakan faktor terjadinya KPD. Penelitianini bertujuan untuk menganalisis faktor resiko terhadap kejadian ketuban pecah dini pada ibu melahirkan.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain case control. Kelompok kasus adalah ibu yang melahirkandengan KPD sedangkan kelompok kontrol ibu dengan melahirkan tanpa KPD. Variabel bebas yang diamati adalah usia ibu, paritas, infeksi,anemia dan kelainan letak janin. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple random sampling dengan besar sampel berjumlah 30sampel tiap kelompok, Dengan lokasi penelitian di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2014.Hasil: Hasil analisis bivariat dengan total responden 60 orang, kelompok kasus dan kontrol menggunakan chi-square. Usia kelompokkontrol dan kelompok kasus tidak berbeda bermakna ( p=0,347), paritas kelompok kontrol dan kelompok kasus berbeda bermakna (p=0,007OR=4,571), infeksi kelompok kontrol dan kelompok kasus tidak berbeda bermakna (p=0,195), anemia kelompok kontrol dan kelompokkasus berbeda bermakna ( OR=3,333 p=0,045), dan kelainan letak janin kelompok kontrol dan kelompok kasus (OR=4,261 p=0,145). Hasilanalisis multivariat menunjukan paritas ( p=0,007), anemia (p=0,054) dan kelainan letak janin ( p=0,145) yang paling berhubungan dengankejadian KPD pada ibu melahirkan. Hasil dengan persaman probabilitas didapatkan nilai paritas (0,15%) paling berpengaruh terhadapterjadinya KPD.Simpulan: Anemia dan jumlah paritas berhubungan dengan kejadian KPD.Kata Kunci: Ketuban pecah dini, Usia ibu, paritas, infeksi, anemia, kelainan letak
Karakteristik Hasil Pemeriksaan Ekokardiografi pada Penderita Gagal Jantung yang Dirawat di Rumah Sakit Roemani Periode 1 Januari – 31 Desember 2010 La ode Rinaldi; Kuntio Sri Herlambang; Andra Novitasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 3 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.598 KB)

Abstract

Latar Belakang : Gagal jantung masih merupakan masalah kesehatan yang terus meningkat prevalensinya dan bisa terjadi pada semua usia tergantung penyebabnya. Penggunaan ekokardiografi sebagai modalitas pencitraan telah meningkat secara substansial selama beberapa dekade terakhir ini, dan sangat direkomendasikan dalam evaluasi awal pada pasien yang diketahui atau dicurigai gagal jantung. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan karateristik ekokardiografi pada penderita gagal jantung yang dirawat di Rumah Sakit Roemani periode Januari – Desember 2010. Metode : Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Populasi penelitian seluruh pasien gagal jantung sebanyak 80 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 57 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap usia, jenis kelamin, etiologi, fraksi ejeksi, pola geometri ventrikel kiri dan katup jantung. Hasil : Usia terbanyak penderita gagal jantung di Rumah Sakit Roemani adalah usia 51-60 tahun (28,07%) dengan rata-rata umur penderita 59,2 tahun. Jenis kelamin penderita gagal jantung adalah laki-laki sebanyak 32 orang (56,1%), Etiologi gagal jantung yang paling sering adalah penyakit jantung iskemik sebanyak 33 orang (57,9%). Rata-rata fraksi ejeksi keseluruhan adalah 48,64, dari kelompok fraksi ejeksi > 45% (rata-rata 64,41), kelompok fraksi ejeksi < 45% (32,32). Pola geometri ventrikel kiri terbanyak adalah Hipertrofi Eksentrik 26 orang (57,9%). Simpulan : Analisa fungsi diastolik pada gagal jantung dengan fraksi ejeksi rendah dan fraksi ejeksi normal perlu dilakukan agar terapi bisa dilakukan dengan baik.
Tingkat Kecemasan Mempengaruhi Kualitas Tidur pada Penderita Asma Bronkial Usia Lanjut Merry Tyas Anggraini; Rihadini -; Festi Tsaqofah
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 3, No 2 (2014): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.045 KB)

Abstract

Latar Belakang : Kecemasan dapat terjadi akibat suatu kelainan medis salah satunya adalah asma bronkhial. Asma Bronkhial apabila terjadi pada orang-orang yang berusia diatas 65 tahun dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius karena pada usia lanjut terjadi penurunan secara perlahan fungsi tubuh dan menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki dan mempertahankan struktur fungsi normalnya. Hampir 75 % penderita asma terbangun dari tidurnya akibat timbulnya gejala malam dan sekitar 40 % merasakan gejala malam tiap hari. Hal ini merupakan salah satu yang mendasari timbulnya perubahan pola tidur pada lansia. Perubahan tidur yang terjadi pada usia lanjut dapat mempengaruhi kualitas tidur. Kualitas tidur merupakan kemampuan untuk mempertahankan waktu tidur dan tidak diserartai adanya gangguan tidurMetode: Jenis penelitian ini yang digunakan adalah penelitian kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita asma bronkhial yang berobat di BKPM Semarang pada bulan Januari Juli 2013.Cara pengambilan sample dilakukan secara purposive sampling, dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga didapatkan 30 responden, data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan analisis korelasi rank spearman.Hasil : Sebagian besar tingkat kecemasan pada seluruh responden adalah normal dengan rata-rata skor 60,0 dan rata-rata skor seluruh responden dengan kualitas tidur buruk adalah 56,7. Hasil analisis terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur dengan p value 0,01Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada pasien asma bronchial usia lanjut. Semakin tinggi skor tingkat kecemasan, maka semakin tinggi pula skor kualitas tidur yang berarti bahwa semakin berat tingkat kecemasan maka kualitas tidur semakin buruk.Kata Kunci :tingkat kecemasan, asma bronkial, kualitas tidur, usia lanjut
Studi Deskriptif Pemakaian Antibiotik di Rumah Sakit Roemani Periode Januari 2011 Sampai Juni 2011 di Instalasi Penyakit Dalam Bangsal Khodijah Deni Andre Atmadinata; Ichrojuddin Nasution; Andra Novitasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 3 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.363 KB)

Abstract

Latar belakang : Antibiotik adalah golongan obat yang paling banyak digunakan didunia. Penggunaan antibiotik secara rasional diartikan pemberian resep yang tepat atau sesuai indikasi, penggunaan dosis yang tepat, lama pemberian obat yang tepat, interval pemberian obat yang tepat, aman pada pemberiannya dan terjangkau oleh penderita. Tujuan : Untuk mengetahui pemakaian antibiotik di Instalasi Penyakit Dalam Bangsal Khodijah Rumah Sakit Roemani periode Januari 2011 sampai Juni 2011 Metode : Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Objek penelitian adalah seluruh resep yang mengandung antibiotik sebanyak 430 resep. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 202 resep. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan secara desktriptif terhadap golongan antibiotik, harga antibiotik, cara pemberian antibiotik, lama pemberian, merek dagang antibiotik, jumlah antibiotik, dan jumlah obat dalam sebuah resep. Hasil : Golongan antibiotik terbanyak yang diresepkan adalah sefalosporin sebesar 46,8%, harga antibiotik sediaan padat rata-rata Rp17.172,00, harga antibiotik sediaan cair rata-rata Rp60.765,00, cara pemberian antibiotik terbanyak adalah injeksi sebesar 51,7%, lama pemberian antibiotik terbanyak adalah 3 hari sebesar 32,5%, merek dagang antibiotik yang dipakai terbanyak generik sebesar 54,7%, jumlah antibiotik dalam sebuah resep terbanyak adalah 1 buah sebesar 89.61%, dan jumlah obat dalam sebuah resep terbanyak adalah 4 obat sebesar 24,6 % Simpulan: Pedoman pengobatan diperlukan untuk pemakaian antibiotik yang rasional.
Faktor yang Mempengaruhi Cara Persalinan di RSUD Tugurejo Semarang M. Taufiqy; Afiana Rohmani; Optie Ardha Berliana
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 3, No 1 (2014): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.948 KB)

Abstract

Latar Belakang: Risiko Kehamilan merupakan gangguan pada kehamilan yang dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan maupun persalinan. Oleh karena itu perlu adanya skrining risiko kehamilan untuk mencegah terjadinya komplikasi persalinan dan persalinan tindakan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara risiko kehamilan, usia, jarak kehamilan dan tempat tinggal dengan cara persalinan di ruang bersalin RSUD Tugurejo Semarang Periode Oktober-Desember Tahun 2013.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional yang dianalisis dengan uji statistik dengan tingkat kemaknaan 95% yang meliputi analisis univariat, analisis bivariat.Hasil : Hasil analisis bivariat dari 460 responden, variabel risiko kehamilan (OR = 5,428;p = 0,000; 95% CI = 3,304-8,916) menunjukan adanyahubungan bermakna antara risiko kehamilan dengan cara persalinan. Sedangkan variabel usia (OR = 0,982;p = 1,000;95% CI = 0,601-1,606) dan variabel jarak kehamilan (OR = 1,308;p = 0,490;95% CI = 0,704-2,429) dan variabel tempat tinggal (OR = 0,906;p = 0,818;95% CI = 0,532-1,542) menunjukan tidak ada hubungan bermakna antara usia, jarak kehamilan, dan tempat tinggal dengan cara persalinan.Simpulan : Ada hubungan bermakna antara risiko kehamilan dengan cara persalinan, dan tidak ada hubungan bermakna antara usia, jarakkehamilan dan tempat tinggal dengan cara persalinan.Kata kunci : Risiko Kehamilan, Cara persalinan.
Faktor Prediktor Kualitas Hidup Pasien Psoriasis : Studi Cross Sectional Eko Krisnarto; Andra Novitasari; Deviana Mutiara Aulirahma
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.521 KB)

Abstract

Latar belakang: Psoriasis adalah jenis penyakit inflamasi kulit yang bersifat kronis residif. Psoriasis dapat dialami olehberbagai usia. Psoriasis meningkatkan risiko depresi, kecemasan pada penderitanya sehingga dapat mempengaruhi kualitashidup.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien psoriasis.Metode:Penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan crosssectional. Sampel diambil dari penderitapsoriasis di RSUD Semarang. Data terdiri atas data sekunder yang berupa rekam medis pasien psoriasis di RSUD KotaSemarang dan data primer dengan kuesioner PDI (Psoriasis Disability Index). Kriteria inklusi penderita psoriasis usia >12tahun. Kriteria eksklusinya pasien dengan komplikasi penyakit lain. Analisis penelitian menggunakan uji chi square.Hasil: sampel penelitian adalah sebesar 40 sampel. Hasil analisis bivariat didapatkan variabel bentuk klinis memilikihubungan yang signifikan dengan kualitas hidup dengan nilai p = 0,049 (<0,05), sedangkan pada variabel usia, IMT,pendidikan dan pekerjaan tidak ada hubungannya dengan kualitas hidup pasien psoriasis.Kesimpulan: bentuk klinis merupakan faktor prediktor kualitas hidup pasien psoriasis. Bentuk klinis yang membuatkualitas hidup pasien menurun adalah berupa plak eritema disertai skuama.Kata kunci: psoriasis, kualitas hidup
Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum - Gilang; Harsoyo Notoatmodjo; Maya Dian Rakhmawatie
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 2 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.534 KB)

Abstract

Pendahuluan  : Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia menyebabkan kematian neonatus antara 8-35% di negara maju , sedangkan di negara berkembang antara 3156,5%.Faktor yang menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain faktor keadaan ibu, faktor keadaan bayi, faktor plasenta dan faktor persalinan. Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien asfiksia neonatorum dengan persalinan letak sungsang dan penyulit kehamilan persalinan lainnya dari 1 Januari 2009- 31 Desember 2010 di RSUD Tugurejo Semarang sebanyak 69 kasus. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan Uji Chi-Square dan Uji Fisher’s Exact pada beberapa variabel tertentu dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil : Faktor-faktor yang merupakan faktor yang berhubungan dengan asfiksia neonatorum antara lain  umur ibu (p=0,040), pendarahan antepartum (p=0,010). Berat Badan Lahir (BBL) bayi (p=0,033), pertolongan pertama letak sungsang  perabdominam dan pervaginam (p=0,006), partus lama atau macet (p=0,035) dan Ketuban Pecah Dini (KPD) (p=0,004). Analisi regresi logistik mendapatkan 4 faktor yang dominan kejadian asfiksia neonatorum yaitu BBL dengan nilai B expected nya paling besar (53,737), urutan kedua adalah pendarahan antepartum dengan nilai B expected (24,707), urutan ketiga adalah KPD dengan nilai B expected (9,560), dan urutan keempat adalah pertolongan persalinan letak sungsang pervaginam dengan nilai B expected (0,164). Kesimpulan : Hasil penelitian membuktikan bahwa faktor-faktor risiko seperti faktor ibu, faktor bayi dan faktor persalinan merupakanfaktor yang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum.Kata Kunci : asfiksia neonatorum, faktor risiko
Hubungan Ekspresi Reseptor Progesteron dengan Derajat Diferensiasi Carsinoma Mammae Noor Yazid; Afiana Rohmani; Vina Noviyanti
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.591 KB)

Abstract

Latar Belakang : Derajat differensi sel pada karsinoma mammae sering dikatikan dengan adanya reseptor progesteron. Adanya reseptorprogesteron pada sel kanker menunjukkan pertumbuhan sel kanker dipengaruhi oleh hormon progesteron. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara ekspresi reseptor progesteron dengan derajat diferensiasi pasien carcinoma mammae jenis duktus invasif.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional. Variabel pada penelitian ini adalah ekspresi reseptorprogesteron dan derajat diferensiasi pasien carcinoma mammae jenis duktus invasif . Sampel diambil dengan teknik random sampling ,sebanyak 161 pasien dari catatan medis bagian Patologi Anatomi Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Hasil : Hasil analisis bivariat dari 161 sampel menunjukkan tidak ada hubungan antara ekspresi reseptor progesteron dengan derajatdiferensiasi (p=0,147)Simpulan : Tidak ada hubungan antara ekspresi reseptor progesteron dengan derajat diferensiasi Kata kunci : carcinoma mammae, reseptor, progesteron, Derajat diferensiasi
Kualitas Fisik dan Sumber Air yang Dikonsumsi Berpengaruh Terhadap Kejadian Diare pada Balita Ika Dyah Kurniati; Harsoyo Notoatmojo; Dhevana Pradika Yanda Putra
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 3, No 1 (2014): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.239 KB)

Abstract

Latar Belakang: Sumber air utama merupakan sumber air yang digunakan oleh keluarga. Diare merupakan salah satu penyakit utama pada balita. Kurangnya perhatian pada sumber air utama dapat menimbulkan berbagai penyakit terutama diare. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas fisik dan sumber air utama dengan kejadian diare pada balita.Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian crossectional yang dilakukan pada bulan Desember 2012-Januari 2013. Sampel penelitian ini adalah balita usia 1-4 tahun di wilayah kerja Puskesmas Banget Ayu Semarang. Pengambilan data menggunakan alat bantu kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji Chi-square.Hasil : Jumlah responden sebanyak 90 sample, dimana 58 keluarga menggunakan PDAM dengan 27 balita (46,6%) terserang diare infeksi, 7 balita (12,1%) diare non infeksi dan 24 balita (41,4%) tidak diare. Sedangkan dari 32 keluarga (35.6%) pengguna air sumur terdapat 19 balita (59,4%) terserang diare infeksi, 3 balita (9.4%) terserang diare non infeksi dan 10 balita (31,3%) tidak diare. Hasil analisis chi-square hubungan diare dengan sumber air utama sebesar 0,507(p>0,05) sedangkan hubungan diare dengan kualitas fisik air sebesar p =0,005(p<0,05).Kesimpulan : Kualitas fisik dan sumber air minum berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita.Kata Kunci: kualitas air minum, sumber air minum, diare pada balita,

Page 9 of 13 | Total Record : 126