cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
THE MORPHOPHONEMIC CHANGE OF BORROWED ENGLISH WORDS IN INFO KOMPUTER MAGAZINES ., KADEK WAHYUTRIYUNI; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14847

Abstract

Penelitian ini menganalisa tentang perubahan morfofonemik dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia yang digunakan dalam majalah-majalah Info Komputer. Majalah-majalah yang digunakan adalah edisi-edisi spesial. Majalah-majalah tersebut dipublikasikan sekitar tahun 2014 sampai 2017. Penelitian ini merupakan content analysis karena data didapatkan dari majalah-majalah. Penelitian ini memakai model Interactive Data Analysis oleh Miles and Huberman (1994). Ada beberapa langkah-langkah untuk penelitian ini seperti, (1) Membaca, menandai, dan mengurutkan kata-kata yang dipinjam, (2) menerjemahkan kata-kata yang dipinjam, meletakkannya dalam tabel-tabel, dan menganalisis perubahan morfofonemik berdasarkan teori oleh Nida (1949), dan (3) menarik kesimpulan dari penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima jenis dari perubahan morfofonemik seperti, lima proses perubahan asimilasi, sepuluh proses penghilangan fonem konsonan, tiga proses penghilangan fonem vokal, satu proses perubahan palatalisasi, dan satu proses perubahan nasalisasi. Kata Kunci : kata-kata yang dipinjam, perubahan bahasa, perubahan morfofonemik This study analyzed the morphophonemic change of English words into Indonesian words which were used in Info Komputer magazines. The magazines which were used were special editions. The magazines were published around the years 2014 until 2017. This study was content analysis since the data were obtained from magazines. This study used Interactive Data Analysis model of Miles and Huberman (1994). There were three steps for this study such as (1) reading, marking, and listing the borrowed words, (2) transcribing the borrowed words, putting the words into tables and analyzing the morphophonemic change based on the theory of Nida (1949), and (3) drawing the conclusion of the study. The result of the study showed that there were five types of morphophonemic change such as five processes of assimilation, ten processes of loss of consonant phonemes, three processes of loss of vowel phonemes, one process of palatalization, and one process of nasalization.keyword : borrowed words, language change, morphophonemic change
LINGUISTIC FEATURES THAT UNITE AND DIFFERENTIATE DENBANTAS DIALECT AND BANYUASRI DIALECT ., I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.6992

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan fitur linguistik yang menyatukan dan membedakan Dialek Denbantas (DD) dan Banyuasri Dialek (BD) secara fonologis dan leksikal. Subjek dari penelitian ini adalah penutur DD dan BD. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian secara kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan daftar kata Swadesh dan Nothofer dengan cara observasi, wawancara, mendengarkan, dicatat, dan direkam. Data itu kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa DD dan BD memiliki persamaan dan perbedaan secara fonologis dan leksikal. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa terdapat 44 fonem yang menyatukan DD dan BD secara fonologis. Fonem-fonem tersebut adalah: 6 vokal: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /∂/, and /ɔ/; 7 diftong: /ʌʊ/, /Iʌ/, /Iʊ/, /ʌɔ/, /ʌ∂/, /ʊʌ/, and /ʌɛ/; 19 konsonan: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /ʔ/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/; dan 12 kluster: /mb/, /nd/, /sg/, /ŋg/, /jl/, /nj/, /ŋk/, /kr/, /mp/, /ms/, /nt/, and /rn/. Di sisi lain, ditemukan 16 fonem yang membedakan DD dan BD secara fonologis. Fonem tersebut adalah: 6 diftong: /∂ʊ/ dan /Iɔ/ ditemukan di DD, namun tidak terdapat di BD, sedangkan diftong /ʌI/, /I∂/, /ɔʌ/, and /ʊ∂/ hanya ditemukan di BD; 10 kluster: /rb/, /nc/, /tg/, /gr/, /gl/, dan /kp/ ditemukan di DD, namun tidak ditemukan di BD, sedangkan diftong /pl/, /gl/, /ŋl/, and /rs/ hanya ditemukan di BD; tetapi tidak ditemukan vokal dan konsonan yang berbeda di antara kedua dialek. Berdasarkan dua macam daftar kata yang digunakan yang terdiri dari 658 leksikon, 457 leksikon ditemukan sebagai penyatu DD dan BD secara leksikal. Leksikon tersebut diklasifikasikan menjadi: 371 leksikon yang sama dan 86 leksikon yang serupa. Di sisi lain, 158 leksikon ditemukan sebagai bukti yang membedakan DD dan BD secara leksikal.Kata Kunci : fitur linguistik, fitur fonologis, fitur leksikal, dialek The study aimed at finding out the linguistic features that unite and differentiate Denbantas Dialect (DD) and Banyuasri Dialect (BD) in terms of phonological and lexical features. The subjects of this study were the speakers of those dialects. This research employed qualitative design. The data of the study were collected based on Swadesh and Nothofer Wordlists using observation, interview, listening, note-taking, and recording techniques. The obtained data were transcribed and analyzed descriptively. The results of the study show that DD and BD actually have similarities and differences in term of phonological and lexical features. The results of the study show that there are 44 phonemes that unite DD and BD in term of phonological features. Those phonemes include 6 vowels: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /∂/, and /ɔ/; 7 diphthongs: /ʌʊ/, /Iʌ/, /Iʊ/, /ʌɔ/, /ʌ∂/, /ʊʌ/, and /ʌɛ/; 19 consonants: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /ʔ/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/; and 12 consonant clusters: /mb/, /nd/, /sg/, /ŋg/, /jl/, /nj/, /ŋk/, /kr/, /mp/, /ms/, /nt/, and /rn/. Meanwhile, there are 16 phonemes that differentiate DD and BD in term of phonological features. Those phonemes include: 6 diphthongs: /∂ʊ/ and /Iɔ/ are found in DD, but in BD the phonemes do not exist, while diphthongs /ʌI/, /I∂/, /ɔʌ/, and /ʊ∂/ are only found in BD; 10 consonant clusters: /rb/, /nc/, /tg/, /gr/, /gl/, and /kp/ are only found in DD, while diphthongs /pl/, /gl/, /ŋl/, and /rs/ are found in BD only; but there are no different vowels and consonants found in both dialects. From the two wordlists which contain 658 lexicons, 457 lexicons are found uniting DD and BD in term of lexical features. Those lexicons can be classified into: 371 exactly the same forms of lexicons and 86 similar form of lexicons. On the other hand, 158 lexicons are found as the evidence that differentiate DD and BD in term of lexical features.keyword : linguistic features, phonological features, lexical features, dialect
TYPES OF FIGURES OF SPEECH USED IN THE TOURISM COMPANIES'WEB ADVERTISEMENT ., I Kadek Yogi Sancaya; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.10628

Abstract

Studi ini merupakan sebuah studi deskriptif kualitatif yang menganalisa tentang penggunaan majas (figure of speech) oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata dalam penulisan headline iklannya yang ditemukan pada alamat website perusahaan tersebut. 75 headline yang berasal dari 72 perusahaan jasa pariwisata terkemuka di Bali dipilih sebagai obyek penelitian dalam studi ini. Seluruh data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan analisis dari isi iklan tersebut dan tabel persentase yang bertujuan untuk menentukan jenis majas yang paling banyak digunakan pada headline iklan-iklan pariwisata yang dimaksud. Kategori majas yang digunakan sebagai acuan penelitian pada studi ini adalah berdasarkan klasifikasi majas yang dikemukakan oleh Corbett (1961). Hasil studi menunjukkan bahwa kebanyakan dari perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan majas dalam penulisan headlinenya. Kategori trope dan grammatical structure/scheme banyak muncul pada data. 48% majas yang yang digunakan pada headline tergolong kedalam kategori tropes, sedangkan 52% merupakan kategori schemes. Kategori majas yang banyak digunakan iklan tersebut adalah tropes khususnya metaphor (10.7%), hyperbole (9.3%), dan personification (6.7%). Jenis majas lain yang juga sering digunakan adalah schemes seperti asyndeton (6.7%), assonance (5.3%), end rhyme (5.3%), internal rhyme (4%), polyptoton (4%), dan ellipsis (4%). Faktor penentu yang menyebabkan majas sering digunakan pada penulisan headline oleh para penerbit iklan adalah karena majas dapat memberi efek ‘prosaik’ yang dapat mempengaruhi pikiran para pembaca. Hal ini dipercaya dapat menarik minat pembaca untuk membeli produk yang diiklankan. Sebagai unsur penting dalam penulisan headline sebuah iklan, majas dianjurkan untuk diteliti lebih mendalam dalam penelitian-penelitian yang sama selanjutnya, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan kegiatan promosi produk-produk pariwisata. Hal ini dipercaya dapat memberi keuntungan bagi pengguna jasa iklan dan praktisi yang bergerak dibidang pariwisata.Kata Kunci : headline, iklan ,majas This present study was a descriptive qualitative study which concerned in analyzing the used of figures of speech in tourism companies’ advertisement found in web-sites. There were 75 ads-headlines which randomly selected from 72 leading tourism companies in Bali were used as the objects of the study. The data were analyzed descriptively by providing content analysis and a percentage table which were intended to find out the executional factors and the prominent types of figures used in the headlines. The figures examined in this study, were based on Corbett’s (1961) classification. The results showed that most of tourism companies in Bali used various types of figures in their headline. The figures of trope and grammatical structure/ scheme appeared almost evenly in the data. There were 48% figures belonged to the category of tropes, while the rest, 52% belonged to the schemes. The most prominent figures used on the advertisements were the category of tropes, particulary metaphor (10.7%), hyperbole (9.3%), and personification (6.7%). Other figures, as the part of schemes were also frequently used, such as asyndeton (6,7%), assonance (5.3%), end rhyme (5.3%), internal rhyme (4%), polyptoton (4%), and ellipsis (4%). The executional factor by which the figures commonly applied by the ads-publishers in headline was determined by the extended ‘prosaic’ effect of those kinds of figurative language to the reader’s mind. This phenomenon might impact on the readers’ curiosity to get in the products sale. As the most pominent element used in headline advertisement, figures of speech were recommended to be intensely examined by further researchers or tourism practitioners, especially in dealing with promotional activities or products campaign. It is believed that this concern might give benefits to ads users and practitioners of tourism industry. keyword : advertisement, figures of speech, headline
An analysis of jargon used by waiters and waitresses in food and beverage at Krisna Beach Street Singaraja. ., Putu Sutarma; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan jenis jargon, makna dan fungsi jargon yang digunakan oleh para pelayan dan pramusaji di Jalan Pantai Krisna Singaraja. Dalam menganalisa jargon, teori ini didukung oleh teori Allan & Burridge (2006), Chaer & Agustina (2010) dan Yule (2006). Analisis ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pelayan laki-laki dan pelayan wanita di departemen makanan dan minuman di Krisna Beach Street Singaraja. Teknik pengumpulan data adalah observasi, dokumentasi dan wawancara. Ditemukan jenis jargon yang digunakan oleh pelayan dan pramusaji, seperti singkatan 6 (26%), pinjaman 5 (21%) dan kata 17 (73%). Ditemukan bahwa artinya 28 jargon digunakan oleh para pelayan dan pramusaji di Krisna Beach Street. Dalam fungsi jargon, teori ini didukung oleh teori Allan & Burridge (2006) dan Ivess (1999) menemukan dua jargon fungsi yang digunakan oleh pelayan dan pelayan, (1) jargon sebagai bahasa yang efisien dan efektif dalam komunikasi dan (2) Jargon sebagai Identifikasi kelompokKata Kunci : jargon, food and beverage department , waiters and waitresses dan Krisna Beach Street This study aimed at analyzing and describing the types of jargon, meaning and function of jargon used by the waiters and waitresses in Krisna Beach Street Singaraja. In analyzing jargon, it was supported by theories from Allan & Burridge (2006), Chaer & Agustina ( 2010) and Yule (2006). This analysis used qualitative method. The subjects of this study were waiters and waitresses of the food and beverage department at Krisna Beach Street Singaraja. The technique of data collection was observation, documentation and interview. It was found types of jargon used by waiters and waitresses, such as abbreviation 6 (26 %) , borrowing 5 (21 %) and word 17 (73 % ). It was found that meaning 28 jargons used by the waiters and waitresses in Krisna Beach Street. In function of jargon, it was supported by theories from Allan & Burridge ( 2006) and Ivess( 1999) it found two functions jargons used by waiters and waitresses, (1) jargon as efficient and effective language in communication and ( 2) Jargon as group identification. keyword : jargon, food and beverage department , waiters and waitresses dan Krisna Beach Street
Developing a Textbook for Speaking Skill of English For Food and Beverage Service Subject Used by Tenth Grade Students at SMK Nusa Dua Sawan ., Anak Agung Raka Candra Dewi; ., Drs.Gede Batan,MA; ., I Putu Ngurah Wage M, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8667

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendapatkan materi berbicara bahasa Inggris untuk pelajaran layanan makanan dan minuman yang digunakan oleh siswa kelas X di SMK Nusa Dua Sawan dan (2) untuk melengkapi materi berbicara bahasa Inggris untuk pelajaran layanan makanan dan minuman yang digunakan oleh siswa kelas X di SMK Nusa Dua Sawan. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan yang diadaptasi dari Ellis dan Levy (2008). Ada lima langkah yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya, mengidentifikasi permasalahan, mendeskripsika tujuan, merancang produk, mengembangkan produk, menguji dan mengevaluasi produk. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah kuesioner siswa, pedoman wawancara, silabus, dan kuesioner penilaian ahli. Hasil dari kuesioner siswa dan wawancara guru menunjukkan bahwa buku ajar yang digunakan pada mata pelajaran layanan makanan dan minuman tidak dilengkapi dengan materi berbicara dalam bahasa Inggris. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, ada lima unit yang dikembangkan. Unit 1 adalah tentang menyambut tamu dan penanganan reservasi. Selanjutnya, materi mengantar dan memersilahkan tamu duduk tamu dibahas di Unit 2. Unit 3 fokus pada materi mengenai cara menjelaskan menu untuk tamu. Unit 4 mencakup cara untuk mengambil pesanan makanan dan minuman. Sementara itu, Unit 5 berisi ekspresi untuk memberikan rekomendasi dan menanggapi pertanyaan para tamu tentang menu. Kata Kunci : Buku pelajaran, Kemampuan berbicara, Layanan makan dan minuman, Pengembangan materi The objectives of the study were: (1) to find out speaking materials for English for food and beverage service used by tenth grade students at SMK Nusa Dua Sawan and (2) to supplement speaking materials for English for food and beverage service used by tenth grade students at SMK Nusa Dua Sawan. The type of this study was research and development which was adapted from Ellis and Levy (2008). There were five steps used in this study including, Identify problems, describe objectives, design artifact, develop artifact, and test and evaluate artifact. The instruments used to collect the data in this study were students’ questionnaire, interview guidelines, syllabus, and expert judgment questionnaire. The result of students’ questionnaire and interview indicate that the textbook used in food and beverage service subject is not completed with speaking materials in English. Based on the result of the needs analysis, there are five units developed. Unit 1 is about welcoming and handling reservation. Furthermore, escorting and seating guests is discussed in Unit 2. Unit 3 mainly concerns with how to explain the menu to guests. Unit 4 covers the way to take food and beverage orders. Meanwhile, Unit 5 contains the expressions of giving recommendations and respond guests’ questions towards menu.keyword : Food and beverage service, Materials development, Speaking skill, Textbooks
CULTURE SHOCK EXPERIENCED BY DUTCH TOURISTS IN KALIBUKBUK VILLAGE ., Gede Ari Suyasna Putra; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12053

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti fenonema gegar budaya yang dialami oleh turis Belanda dan bagaimana cara mereka mengatasi gegar budaya mereka di Desa Kalibukbuk. Peneliti membatasi pada penelitian gegar budaya yang berhubungan dengan komunikasi lisan dan komunikasi tidak lisan. Penelitian sekarang ini adalah sebuah studi kasus dengan desain penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah tiga turis Belanda yang tinggal di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan wawancara yang terstruktur dan tidak struktur dari tiga turis Belanda di Desa Kalibukbuk. Instrumen utama dari penelitian ini adalah peneliti sendiri, pedoman wawancara, perekam suara dan catatan. Teori dari Pederson yang digunakan didalam menganalisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada sepuluh fenomena gegar budaya didalam komunikasi lisan dan sepuluh didalam komunikasi tidak lisan. Dari semua gegar budaya, sebagian besar turis Belanda mengalami gegar budaya tentang transportasi. Selain itu, ada empat cara dari turis Belanda untuk mengatasi gegar budaya seperti meminta orang lokal untuk menjelaskan, mencoba untuk melakukan hal yang sama, berpikir solusi dengan cara mereka dan menghormati perbedaan budaya. Data dari observasi dan wawancara menyatakan masalah dari turis Belanda didalam meniru budaya baru di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Kata Kunci : gegar budaya, komunikasi tidak lisan, komunikasi lisan This study aimed at investigating the culture shock phenomena experienced by Dutch tourists and how the way they overcome their culture shock in Kalibukbuk village. The researcher limited on investigating the culture shock that related with verbal communication and non-verbal communication. This present study was a case study with qualitative research design. The subjects of this research were three Dutch tourists who stay in Kalibukbuk village, Buleleng regency, Bali. The researcher collected the data based on semi structure interview and semi unstructured interview from three Dutch tourists in Kalibukbuk village. The main instrument of this study was the researcher itself, interview guide, voice recorder and note. Pederson’s theory that used in analyzes the data. The result of this research shows that there were ten culture shock phenomena in verbal communication and ten in non-verbal communication. From all the culture shock, the most Dutch tourists experienced culture shock about transportation. Moreover, there were four ways of Dutch tourists to overcome the culture shock such as asked the local people to explain, tried to do the same thing, thought the solution their own and respect the difference culture. The data from observation and interview reveals the Dutch tourists’ problems in copying the new culture in Kalibukbuk village, Buleleng regency, Bali. keyword : culture shock, non-verbal communication, verbal communication
THE EFFECT OF TEACHING USING AUDIOVISUAL (VIDEO) MEDIA, ON SEVENTH GRADE STUDENTS’ LISTENING COMPREHENSION AT SMP NEGERI 1 MENGWI ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., I Putu Fendy Cahya Kusuma Brian; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.945 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara siswa kelas tujuh yang diajar dengan media audiovisual (video) dengan siswa yang diajar tanpa media audiovisual atau dengan media audio saja (cara konvensional dalam mengajar listening) di SMP Negeri 1 Mengwi, tahun ajaran 2017/2018. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas tujuh di SMP Negeri 1 Mengwi, tahun ajaran 2017/2018 yang dimana jumlah seluruhnya adalah 402 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas VII A dan VII B di SMP Negeri 1 Mengwi yang dimana tiap kelas terdapat 32 jumlah siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda (multiple choice test), dengan total jumlah pertanyaan adalah sebanyak 20. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Berdasarkan hasil analisis, data menunjukkan bahwa thit > ttab yaitu 7.34 > 1.99. Jika dibandingkan akan terlihat bahwa thit > ttab. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari mengajar listening dengan menggunakan media audiovisual (video) daripada menggunakan cara yang konvensional dalam mengajar listening (dengan menggunakan media audio saja).Kata Kunci : Pemahaman Listening, Media Audiovisual, Media Audio (Cara yang biasa) The purpose of this study was to know the differences between the seventh-grade students who were taught by audiovisual (video) media and the students who were taught without audiovisual media or by audio media only (conventional way in teaching listening) at SMP Negeri 1 Mengwi, academic year 2017/2018. The population of this study was the whole students in class VII of SMP Negeri 1 Mengwi academic year 2017/2018 in which the total students were 402. The samples in this study were Class VII A and VII B in SMP Negeri 1 Mengwi in which each class consisted of 32 students. The data were collected by using a multiple-choice test, with the total number of the questions were 20 questions. The data collected were analyzed by using descriptive statistics analysis and inferential statistics analysis (t-test). Based on the result of the analysis, it showed t.obs > t.cv which was 7.34 > 1.99. If compared, it showed that t.obs > t.cv. Therefore, it can be concluded that there was a significant effect of teaching listening by using audiovisual media rather than using the conventional way in teaching listening (by using audio media only).keyword : Listening Comprehension, Audiovisual Media, Audio Media (Conventional Way)
Diglossia Phenomenon of Balinese Variety in Sanda Village ., Ni Wayan Paramita Dewi; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.698 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.7892

Abstract

FENOMENA DIGLOSIA PADA VARIASI BAHASA BALI DI DESA SANDA Ni Wayan Paramita Dewi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk (1) menyelidiki situasi diglossic terjadi di Desa Sanda, Kabupaten Tabanan, (2) menyelidiki faktor yang mempengaruhi fenomena diglosia di desa Sanda. Penelitian ini dilakukan di Sanda, Pupuan Kecamatan, Kabupaten Tabanan. Subyek penelitian ini adalah orang-orang dari Sanda dalam lima domain: (1) (2) lingkungan (3) friendship (4) (5) pendidikan agama keluarga. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah peneliti, perekam, catatan lapangan, wawancara dipandu, dan laptop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan perekaman. Ada empat langkah yang dilakukan dalam menganalisis data: pengumpulan data, reduksi data, display data, dan data kesimpulan / verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi diglossic terjadi di desa Sanda, itu terlihat dari dua varietas bahasa yang digunakan di Sanda, yaitu: (1) ragam tinggi ditemukan dalam penggunaan basa alus, (2) ragam rendah ditemukan di kesamen basa dan basa kasar dari Bali. Ada dua faktor utama yang mempengaruhi diglosia fenomena di desa Sanda: (1) kelas sosial (2) konteks sosial.Kata Kunci : Diglosia, Variasi Bahasa Bali, Desa Sanda DIGLOSSIA PHENOMENON OF BALINESE VARIETY IN SANDA VILLAGE Ni Wayan Paramita Dewi English Education Department, Faculty of Language and Art Ganesha University of Education Singaraja, Indonesia ABSTRACT This research is descriptive qualitative research which aimed at (1) investigating the diglossic situation occurring in Sanda village, Tabanan regency, (2) investigating the factors that influence the phenomenon of diglossia in Sanda village. This study was conducted at Sanda, Pupuan sub-district, Tabanan regency. The subjects of this study were the people of Sanda in five domains: (1) family (2) neighborhood (3) friendship (4) religion (5) education. The instruments used in gathering the data were researcher, recorder, field note, guided interview, and laptop. The methods used in this research were interviews, observation and recording. There were four steps done in analyzing the data: data collection, data reduction, data display, and data conclusion/verification. The results showed that diglossic situation occurring in Sanda village, it seen from the two varieties of language used in Sanda, that is: (1) High variety discovered in basa alus usage, (2) Low variety discovered in basa kesamen and basa kasar of Balinese. There were two main factors influencing diglossia phenomenon in Sanda village: (1) social class (2) social context. keyword : Diglossia, Balinese variety, Sanda village
TEACHING ENGLISH VOCABULARY BY USING PUPPET TO THE FOURTH GRADERS OF SD INSAN MANDIRI AMLAPURA ., Ni Wayan Widiasih; ., Dr.Sudirman, M.L.S; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.10959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengajaran kosakata bahasa Inggris dengan menggunakan boneka kepada siswa sekolah dasar. Pengajaran kosakata bahasa Inggris dianalisis dari (1) cara guru mengajar kosakata bahasa Inggris dengan menggunakan boneka, dan (2) cara guru menilai prestasi siswa. Penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif yang menganalisis fenomena pengajaran kosakata bahasa Inggris dengan menggunakan boneka oleh guru di SD Insan Mandiri Amlapura. Subjek penelitian ini adalah seorang guru SD Insan Mandiri Amlapura. Data dikumpulkan melalui observasi, analisis dokumen, dan wawancara. Berdasarkan temuan pada penelitian tersebut, diperoleh data sebagai berikut (1) guru mengajarkan kosakata bahasa Inggris kepada siswa dengan menggunakan suara yang berbeda untuk setiap wayang dan dapat membuat siswa termotivasi untuk belajar, (2) guru menilai prestasi siswa melalui penilaian secara holistik yang meliputi dua bagian yaitu: tertulis (tugas yang diberikan selama proses pembelajaran di ruang kelas, dan pekerjaan rumah), dan lisan (berbicara) siswa disuruh kedepan kelas untuk berdialog bersama temannya. Dapat disimpulkan bahwa guru SD Insan Mandiri Amlapura dapat menggunakan boneka untuk mengajarkan kosa kata bahasa Inggris kepada siswa untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan pembelajaran yang menarik, dan menyenangkan. Sehingga siswa mudah memahami materi yang sampaikan.Kata Kunci : Boneka, kosa kata bahasa inggris, siswa. This research aimed at studying the teaching of English vocabulary by using puppet to elementary school students. The teaching of English vocabulary was analyzed from (1) the way the teacher teaches English vocabulary using puppet, and (2) the way the teacher assess the students’ achievement. This study was a qualitative case study which analyzed the phenomenon of teaching English vocabulary by using puppets by the teacher in SD Insan Mandiri Amlapura. The subject of this study was one teacher of SD Insan Mandiri Amlapura. The data were collected through observation, document analysis, and interview. Based on the findings of the study, the following data were obtained (1) the teacher taught students English vocabulary using different voice for each puppets, and can make students 'learning motivation (2) the teacher assesses the students’ achievement through a holistic assessment which covered two parts namely: written (assignment given during the learning process in the class room, and home work) and oral (speaking) the student came front of the class to dialogued with his friends. It can be concluded that the teachers of SD Insan Mandiri Amlapura can use puppets to teach English vocabulary to students to improve students' learning motivation with interesting, fun and enjoyable learning. So that students easily understand the material conveyed.keyword : Puppet, English vocabulary, young learners.
THE EFFECT OF ICT-BASED INTERACTIVE GAME ON FOURTH-GRADE STUDENTS' ENGLISH ACHIEVEMENT ., I Wayan Agus Budiarta; ., Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12489

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ICT-based interactive game memberikan pengaruh yang signifikan pada prestasi belajar Bahasa Inggris siswa kelas empat di gugus IV kecamatan Sukasada. Penelitian ini merupakan penelitian semu yang menggunakan post-test only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah 174 siswa dari delapan sekolah dasar di gugus IV kecamatan Sukasada. Sampel dalam penelitian ini adalah 23 siswa dari SDN 3 Sukasada dan 23 siswa dari SDN 4 Sukasada yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Data dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Hasil dari uji hipotesis (independent t-test) menunjukkan bahwa to=2,838>tcv = 2,015 dan nilai signifikasi dari data adalah 0,007 lebih rendah dari α = 0,05. Dapat dibuktikan bahwa ICT-based interactive game memberikan pengaruh yang signifikan pada prestasi belajar Bahasa Inggris siswa kelas empat. Kesimpulannya, ICT-based interactive game merupakan media pembelajaran yang efektif. Kata Kunci : prestasi siswa, ICT-based interactive game, pelajar usia dini The aim of this study was to justify whether ICT-based interactive game gave the significant effect on fourth grade students’ English achievement in cluster four in Sukasada district. It was a quasi-experimental research which used post-test only control group design. The population of this study was 174 students from eight elementary schools in cluster four in Sukasada district. The samples of this study were 23 students from SDN 3 Sukasada and 23 students from SDN 4 Sukasada which were selected by using cluster random sampling technique. The data were analyzed quantitatively by using descriptive and inferential statistics analysis. The result of hypothesis testing (independent t-test) shows that to=2.838>tcv = 2.015 and the significance value of the data was 0.007 lower than α = 0.05. It can be proved that ICT-based interactive game gives a significant effect towards students’ English achievement. In conclusion, ICT-based interactive game is an effective teaching media.keyword : English achievement, ICT-based interactive game, young learners

Page 37 of 188 | Total Record : 1873