cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,873 Documents
AN ANALYSIS OF CLASSROOM INTERACTION IN ENGLISH LANGUAGE LEARNING BASED ON THE CURRICULUM 2013 AT SMA N 2 TABANAN ., Ni Putu Widya Kristy Yanti; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Drs.Gede Batan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12268

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kategori interaksi kelas yang muncul di kelas XII IPA 1 di SMA N 2 Tabanan dan permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System. Subyek penelitian ini adalah seorang guru Bahasa Inggris dan siswa kelas XII IPA 1. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Data dari penelitian ini dikumpulkan melaui observasi yang tidak mengganggu kegiatan belajar dan wawancara. Temuan menunjukkan bahwa: (1) deals with feelings terjadi 30 kali, praises or encourages terjadi 65 kali, jokes terjadi 10 kali, uses ideas of students terjadi 35 kali, repeat student response verbatim terjadi 44 kali, ask question terjadi 262 kali, gives information terjadi 246 kali, corrects without rejection terjadi 11 kali, gives direction terjadi 274 kali, criticizes student behavior terjadi 7 kali, criticizes student response terjadi 7 kali, student response-specific terjadi 150 kali, students response-open-ended or student-initiated terjadi 172 kali, silence terjadi 547 kali, confusion-work-oriented terjadi 6 kali, confusion-non-work-oriented terjadi 1 kali, laughter terjadi 17 kali, uses the native language terjadi 652 kali, nonverbal terjadi 43 kali; (2) permasalahan yang ditemui oleh guru yaitu, kesulitan menyampaikan materi kepada siswa, kesulitan memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan topic, kesulitan dalam mengimplementasikan pembelajaran discovery, kesulitan mengimplementasikan pendekatan saitifik, kesulitan untuk membuat siswa berkonsentrasi, dan kesulitan dalam menegur siswa; permasalahan yang dihadapi oleh siswa yaitu, kurangnya pembendaharaan kata, mereka tidak percaya diri untuk mengatakan jawaban mereka, tidak suka belajar Bahasa Inggris, mereka tidak mengerti yang dikatakan guru, siswa tidak bisa memfokusan pikiran dalam belajar Bahasa Inggris.Kata Kunci : interaksi kelas, pembelajaran bahasa inggris, kurikulum 2013, Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System This study aimed at finding the classroom interaction categories that occurred in the XII IPA 1 class of SMA N 2 Tabanan and the problem encountered in the English language learning. This study analyzed by used theory of Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System. The subjects of the study were one English teacher and the students of XII IPA 1 class. This study employed qualitative design. The data were collected through doing unobtrusively observation and interview. The result showed that, (1) deals with feelings occurred 30 times, praises or encourages occurred 65 times, jokes occurred 10 times, uses ideas of students occurred 35 times, repeat student response verbatim occurred 44 times, ask question occurred 262 times, gives information occurred 246 times, corrects without rejection occurred 11 times, gives direction occurred 274 times, criticizes student behavior occurred 7 times, criticizes student response occurred 7 times, student response-specific occurred 150 times, students response-open-ended or student-initiated occurred 172 times, silence occurred 547 times, confusion-work-oriented occurred 6 times, confusion-non-work-oriented occurred once, laughter occurred 17 times, uses the native language occurred 652 times, nonverbal occurred 43 times, (2) the problem encountered by the teacher were difficult in delivering the material to the students, difficult in deciding the learning strategy that appropriate with the topic, difficult in implementing discovery learning, difficult in implemented scientific approach, hard to make the students concentrate in learning, and difficult to admonished the students; the problems encountered by the students namely lack of vocabulary, they were not confident to tell their answer, they did not like learning English, they did not understand what the teacher said, and they could not concentrate their mind in learning English. keyword : Classroom Interaction, English Language Learning, Curriculum 2013, Foreign Language Interaction Analysis (FLINT) System
SUGGESTION ACTS EXPRESSED BY THE ELEVENTH GRADE STUDENTS AT SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 SINGARAJA ., I DEWA AYU VIRMA T; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.382 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15164

Abstract

Masalah yang ditemukan di saran siswa adalah kurangnya variasi dalam membuat dan menanggapi saran. Penelitian ini berfokus pada tindak lisan dan tanggapan lisan siswaterhadap saran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginfestigasi dan mengerti jenis dan strategi saran dan tanggapan. Penelitian ini adalah penelitian qualitatif yang menggunakan tehnik elisistasi dalam pengumpulan data saran dan tanggapan siswa melalui simulasi percakapan. Siswa diminta untuk membuat saran dan member tanggapan berdasarkan lima situasi berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar saran terdiri dari subjek, objek, dan kata kerja (modal) maka mereka lebih memilih conventionalized form. Dalam membuat tindak lisan, siswa lebih memilih menggunakan modal dan obligation sebagai kata kerja dalam saran. Dalam menanggapi saran, kebanyakan siswa menerima saran. Siswa lebih banyak menggunakan pernyataan persetujuan. Sedangkan, beberapa siswa menolak secara tidak langsung and member alsan untuk menolak saran. Kata Kunci : tindak saran, tindak lisan, tindak tanggapan The problem found in students’ suggestions and responses still less varied. This research focused on the students’ verbal acts and verbal responses of suggestion. The research objectives were to identify and understand the suggestion types and strategies of verbal acts and responses. This research was descriptive qualitative research that used elicitation technique to collect the students’ suggestions and responses through simulated speech encounter. The students were asked to make suggestions and give responses based on five different situations. The findings showed that mostly the suggestions contained subject, object and action verb (modal) and they prefer to choose conventionalized form. The Modal and Obligation was mostly chosen by the students as action verbs of verbal acts strategy. In responding, most of the students were accepting the suggestion. Most of the students used statements of agreement, in confirming the agreement. Whereas, some of the students indirectly refused and they gave reasons to refuse the suggestion.keyword : suggestion acts, verbal acts, verbal responses
THE EFFECT OF KIM'S BOARD GAME TOWARDS ENGLISH LEARNING ACHIEVEMENT OF 6TH GRADE STUDENTS IN SANGSIT, BULELENG IN ACADEMIC YEAR 2015/2016 ., Ni Ketut Apriliyani; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Made Hery Santoso, S.Pd, M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8241

Abstract

Kim’s board game merupakan board game yang diintegrasikan dengan Kim’s game. Permainan ini merupakan kombinasi dari ingatan dengan game untuk membantu siswa dalam mengingat kosa kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai pengaruh Kim’s board game terhadap prestasi belajar Bahasa Inggris siswa kelas enam di Sangsit, Buleleng tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain post-test only control group. Melalui teknik cluster random sampling, dapat ditentukan SD Negeri 2 Sangsit sebagai grup eksperimental dan SD Negeri 8 sebagai grup kontrol. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu try out test, teaching scenario dan post-test. Kemudian, data tersebut dianalisis secaran deskriptif dan inferensial dengan menggunakan program SPSS 21.0. Hasil analisis menunjukkan nilai rata-rata dari grup eksperimental adalah 88.70 sedangkan grup kontrol adalah 82.44. Selain itu, hasil dari uji t-test menunjukan Sig. (2-tailed) adalah 0.009 yang mana lebih rendah dari 0.05. Selanjutnya, hasil dari nilai t-observed (tobs) 2.688 lebih besar dari t-critical value (tcv) 2.000995 (𝛼=0.05, df=59). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penggunaan Kim’s board game terhadap prestasi belajar Bahasa Inggris siswa. Kim’s board game merupakan media yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran siswa di sekolah dasar. Kata Kunci : Prestasi belajar Bahasa Inggris, Kim’s board game, media visual, siswa sekolah dasar Kim’s board game is a board game which is integrated with Kim’s game. It is a combination of memory with a game to help students remembering vocabularies. This study aimed at investigating the effect of Kim’s board game towards students’ English learning achievement of sixth grade students in Sangsit, Bueleng in the academic year 2015/2016. This experimental study used post-test only control group design. The samples were determined through cluster random sampling technique. It was found that SD Negeri 2 sangsit as experimental group and SD Negeri 8 as control group. There were three instruments used to gather the data namely try out test, teaching scenario and post-test. Then, the data were analyzed by using SPSS 21.0 descriptively and inferentially. The analysis shows that the mean score of experimental group is 88.70 meanwhile the control group is 82.44. In addition, the result of independent sample t-test shows that Sig. (2-tailed) is 0.009 which is lower than 0.05. Furthermore, the t-observed (tobs) is 2.688 in which it is greater than t-critical value (tcv) (2.000995 (𝛼=0.05, df=59)). Therefore, the null hypothesis is rejected. Thus, there is a significant effect of using Kim’s board game towards the students’ English learning achievement. Kim’s board game is effective to be used as media in teaching primary students. keyword : English learning achievement, Kim’s board game, visual media, young learners
THE EFFECT OF CONTEXTUAL PICTURE SERIES TECHNIQUE TOWARDS STUDENTS’ WRITING COMPETENCY OF ELEVENTH GRADE STUDENTS AT SMK TI BALI GLOBAL SINGARAJA IN THE ACADEMIC YEARS 2016/2017 ., Ni Luh Gede Tangkas Rahmayanti; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2017):
Publisher : Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti adanya pengaruh Contextual picture series technique terhadap kompetensi menulis siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI dan sampel dari penelitian ini adalag 34 siswa dari kelas XI di SMK TI BALI GLOBAL Singaraja dipilih sebagai sampel melalui teknik cluster random sampling. Desain dari penelitian ini yaitu menggunakan posttest only control group design.. Perlakuan diberikan selama 9 kali pertemuan. Instumen dari peneitian ini adalah analitikal skoring rubric. posttest diberikan kepada siswa di akhir pertemuan untuk mengumpulkan data. Hasil posttest dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok eksperimen menunjukkan kompetensi menulis yang lebih baik dari pada control grup. Jadi, dapat disimpulkan bahwa contextual picture series technique memiliki efek yang positif pada kompetensi menulis siswa. Kata Kunci : Contextual Picture Series, Kompetensi Menulis This study aimed at investigating the effect of contextual picture series technique towards students’ writing competency. The population of this study was the students of class XI and the sample was 34 students’ of eleventh grade of students at SMK TI BALI GLOBAL Singaraja were selected as the sample trough cluster random sampling technique. The research design was posttest only control group design. Treatment was given for 9 times of meeting. The instrument of this study was analytical scoring rubric. A posttest was given to the students at the end of experiment to collect the data of students writing competency. The result of posttest was analyzed descriptively and inferentially by using t-test. The result of this study showed that experimental group performed better in writing rather that control group. So, it can be concluded that contextual picture series technique has an effect on students writing competency. keyword : Contextual Picture Series, Writing Competency
POLITENESS STRATEGIES IN TEACHER-STUDENTS CLASSROOM INTERACTION AT THE ELEVENTH GRADE STUDENTS OF SMK PGRI 1 SINGARAJA ., Siti Umayah; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.057 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis-jenis strategi kesopanan yang digunakan oleh guru dan siswa di dalam interaksi kelas, bagaimana strategi tersebut diwujudkan dalam tindakan dalam interaksi kelas dan fungsi pedagogik dari strategi kesopanan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yang dimana menggunakan strategi kesopanan sebanyak dua belas siswa dan satu guru dalam proses belajar dan mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang dikmpulkan mealui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang digunakan ialah: 1) bald on record sebagai dominan dalam strategi kesopnan karena memiliki hubungan yang dekat antara guru dan siswa. 2) Siswa menggunakan kesopanan positif karena mereka bertemu guru untuk pertama kalinya guru menunjukkan rasa hormat kepada guru. 3) Kesopanan negatif digunakan oleh siswa kelas sebelas yang memiliki jarak sosial atau saat mereka canggung. 4) Off record digunakan oleh siswa untuk berbicara dengan guru saat makna ucapan disampaikan secara implisit Ada empat fungsi pedagogik dalam strategi kesopanan yaitu memberikan jarak antar guru dan siswa, suasana di dalam kelas, mengurangi ketegangan siswa, dan membuat interaksi social antara guru dan siswa.Kata Kunci : strategi kesopanan, kelas interaksi, dan funsi pedagogik This study aimed to explain the types of politeness strategy used by the teacher-students in classroom interaction, how the politeness strategies realized in classroom interaction and the pedagogical function of politeness strategies. The subject of this study was as many as twelve students and one teacher who used in politeness strategies. This study was qualitative study. The data were collected through observation and interview. The findings of the study showed the followings: 1) Bald on record became dominant types of politeness strategies and it was close enough to their teacher to talk baldly in teaching and learning process. 2) The students used positive politeness because they met the teacher for the first time the teacher to show the respect to the teacher. 3) Negative politeness was used by the eleventh grade students that had some social distance or when they were awkward. 4) Off record strategy was used by the students to talk to the teacher when the meaning of the utterances was told implicitly. There were four pedagogical functions of politeness strategies, namely the social distance between teacher-students, maintaining the general atmosphere of teaching and learning process, reducing stress (tension reduction), and creating teacher-students social interaction.keyword : Politeness strategy, classroom interaction, and pedagogical function
DESIGNING ENGLISH SONGS AS SUPPLEMENTARY MATERIAL IN TEACHING ENGLISH FOR SEVENTH GRADE STUDENTS IN SMP NEGERI 1 KUBUTAMBAHAN IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Gede Pradipta Putra; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.8787

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan topik yang bisa diajarkan dengan menggunakan lagu sebagai materi tambahan dalam mengajar bahasa Inggris di SMP N 1 Kubutambahan, (2) lagu apa yang akan di desain dan (3) mengetahui kualitas dari lagu bahasa Inggris yang telah dirancang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas tujuh A di SMP N I Kubutambahan. Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan lembar observasi, kuesioner guru dan siswa, ceklis, rubrik penilaian, dan catatan tambahan. Penelitian ini adalah R & D (penelitian dan pengembangan) yang mengikuti beberapa prosedur berdasarkan model Sugiyono yaitu, mengidentifikasi potensi dan masalah, pengumpulan data, merancang produk, validasi desain produk, merevisi produk desain, mencoba produk, dan merevisi produk. Dengan demikian, ada produk prototipe dari lagu bahasa Inggris di akhir penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam tema yang bisa diajarkan dengan menggunakan lagu yaitu Sapaan, Memperkenalkan diri dan teman-teman, Hari, Pekerjaan, Hewan, dan Keluarga. Lagu yang di desain dalam penelitian ini adalah lagu anak-anak dan terdapat sebuah buku panduan untuk masing-masing tema lagu dan latihan soal sebagai aktivitas tambahan. Untuk kualitas media, ditemukan bahwa semua lagu dikategorikan sebagai media yang sangat baik. Dengan demikian, lagu berbahasa Inggris sangat tepat untuk digunakan dalam mengajar bahasa Inggris untuk siswa kelas tujuh sebagai materi tambahan.Kata Kunci : Lagu, Materi tambahan, Pengajaran bahasa Inggris untuk anak - anak. This research aimed to (1) find the topics that could be developed songs as a supplementary material in teaching English in SMP N 1 Kubutambahan, (2) find what songs that should be designed, and (3) find out the quality of designed English songs. The subject of this research was seven grade students in 7A class in SMP N I Kubutambahan. The data of this research were obtained by using observation sheet, teacher and students’ questionnaires, checklist, rubric, and notes. This research was R&D (research and development) which followed several procedures based on Sugiyono model namely, identifying potency and problem, collecting data, designing product, validating design product, revising design product, trying-out product, and revising product. Thus, there is a prototype product of English songs in the end of this research. The result of this research shows that there were six themes that could be taught by using songs namely greeting, introducing myself and friends, days, occupation, animals, and family. Songs that should be designed was children songs and there was a guidance book for each theme of the songs and exercises as a follow up activity. For the quality of the media, it was found that the songs are categorized as an excellent product. Thus, it is proper to be used in teaching English for seventh grade students as a supplementary material.keyword : Song, Supplementary material, Teaching English for young learners
THE MORPHOLOGICAL PROCESSES OF BALINESE DIALECT SPOKEN BY BATUMULAPAN VILLAGERS: A DESCRIPTIVE STUDY ., Ni Made Arisani; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 2 (2016): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i2.9578

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan afiksasi yang termasuk derivasi dan infleksi dari dialek Batumulapan di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah penduduk asli dari dialek tersebut. Subjek dari penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan melaksanakan observasi dan teknik perekaman. Data yang diperolah dikumpulkan dari tiga domain yang berbeda yaitu: domain keluarga, pertemanan dan persahabatan dan dianalisis dengan menggunakan prosedur dari data analisis yang diusulkan oleh Miles dan Huberman, (1984). Objek dari penelitian ini adalah afiksasi dari dialek Batumulapan yang termasuk derivasi dan infleksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam jenis awalan di BDBM yaitu: awalan {me-}, {nge-}, {ng-}, {a-}, {ny-}, and {h-}. Ada satu jenis sisipan {-h-}., dan ada lima jenis akhiran di BDBM yaitu: akhiran {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}. Awalan dan akhiran yang termasuk derivasi di BDBM adalah awalan {me-} dan akhiran {-te}, {-an}, dan {-e}. Awalan dan akhiran yang termasuk infleksi di BDBM adalah awalan {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-}, {a-}, dan {h-}, sisipan {-h-) dan akhiran {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}.Kata Kunci : Kata-kata kunci: afiksasi, dialek Batumulapan, proses derivasi dan infleksi This study aimed at describing the affixation which belongs to derivation and inflection of Balinese dialect spoken by Batumulapan villagers (BDBM) in Nusa Penida, Klungkung regency, Bali province. This research was a qualitative descriptive study. The subject of this study was the native speakers of the dialect. The subject was taken through purposive sampling technique. The data were collected by conducting observation and recording technique. The obtained data were collected in three different domains: family, friendship, and neighborhood domain, then analyzed by using the procedure of data analysis suggested by Miles and Huberman, (1984). The object of this study is affixation of BDBM that belongs to derivational and inflectional morpheme. The results of this research show that there are six kinds of prefixes: {me-}, {nge-}, {ng-}, {a-}, {ny-}, and {h-} in BDBM. There is one kind of infix {-h-}., and there are five suffixes: {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne} in BDBM. The prefixes and suffixes which belong to derivation in BDBM include: prefix {me-} and suffix {-te}, {-an}, and {-e}. Prefixes and suffixes in BDBM which belong to inflection include: Prefix {me-}, {nge-}, {ng-}, {ny-}, {a-}.and {h-}, infix {-h-) and suffix {-te}, {-an}, {-in}, {-e} and {-ne}.keyword : Key Words: affixation, Batumulapan dialect, derivational and inflectional processes
THE LINGUISTIC UNITING FEATURES OF TIGAWASA AND DENCARIK DIALECTS VIEWED FROM PHONOLOGICAL AND LEXICAL VARIATIONS ., Putu Mas Juliatmadi; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12278

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti penyatu fonologis dan leksikal pada dialek Tigawasa dan Dencarik. Informan dalam penelitian ini adalah penutur asli dari dialek Tigawasa dan Dencarik. Penelitian ini menggunakan desain linguistik lapangan. Data dari penelitian ini diperoleh berdasarkan daftar kata dari Swadesh dan Nothofer menggunakan tehnik pengamatan, wawancara, rekaman, dan pencatatan. Data yang diperoleh ditranskrip dan dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dialek Tigawasa dan Dencarik memiliki kesamaan dalam segi fonologis dan leksikal. Terdapat 25 fonem yang sama dalam segi fonologisnya. Fonem-fonem tersebut meliputi 6 huruf vokal (vowel): /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /ɔ/ dan /∂/; dan 19 konsonan: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/. Sebagai tambahan, pembeda antara dialek Tigawasa dan Dencarik terletak pada distribusi dari fonem /ʌ/ dan fonem /∂/-nya. Lebih lanjut, berdasarkan daftar kata dari Swadesh dan Nothofer yang memuat 668 kosa kata (lexicon), terdapat 365 kosa kata yang serupa dalam segi leksikalnya. Kosa kata tersebut bisa diklasifikasikan sebagai berikut: 291 kosa kata yang persis sama dan 74 kosa kata yang serupa. Dengan kata lain, lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah kosa kata yang didapat dari dialek Tigawasa dan Dencarik dinilai sama ataupun serupa. Sebagai tambahan, alasan kenapa dialek Tigawasa dan Dencarik mempunyai kesamaan dalam penggunaan Bahasa Bali adalah karena dialek Tigawasa dan Dencarik termasuk dalam bahasa yang mempunyai hubungan kekerabatan sehubungan dengan kedekatan keduanya secara geografis. Kata Kunci : dialek, variasi fonologi, variasi leksikal Abstract This study aimed to find out the phonological and lexical evidences that unite Tigawasa and Dencarik dialects. The informants of this study were the speakers of Tigawasa and Dencarik dialects. This research employed field linguistic design. The data of the study were collected based on Swadesh and Nothofer word lists using observation, interview, recording, and note-taking techniques. The obtained data were transcribed and analyzed descriptively. The results of the study show that Tigawasa and Dencarik dialects actually have similarities in terms of phonological and lexical features. There are 25 phonemes that are similar in Tigawasa and Dencarik dialects in terms of phonological features. Those phonemes include 6 vowels: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /ɔ/ and /∂/ ; and 19 consonants: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/. In addition, the differences between Tigawasa and Dencarik dialects is the distribution of phonemes /ʌ/ and /∂/ in Tigawasa and Dencarik dialects. Furthermore, from the Swadesh and Nothofer word lists which contain 668 lexicons, 365 lexicons are found similar in Tigawasa and Dencarik dialects in terms of lexical features. Those lexicons can be classified into: 291 exactly the same forms and 74 similar forms of lexicons. In the other words, more than 50% of the total number of lexicons that were found the same or similar in Tigawasa and Dencarik dialects. In addition, the reason why Tigawasa and Dencarik dialects have similarities in using Balinese is because Tigawasa and Dencarik dialects belong to a language family since they are geographically close. keyword : dialect, phonological variation, lexical variation.
Congratulation Acts among EFL Students at Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja ., I Dewa Gde Agung Ananta Kusuma; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.522 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15169

Abstract

Ucapan selamat sering diungkapkan dalam komunikasi sehari-hari. Selamat berekspresi untuk mempertahankan interaksi, bersosialisasi dengan orang-orang dan memperkuat hubungan sosial. Ucapan selamat sering diungkapkan oleh para siswa di sekolah tetapi para siswa tidak mengetahui dan memahami gaya kalimat yang tepat (bentuk) dan strategi tindakan ucapan selamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindakan lokusi (makna literal verbal dari apa yang dikatakan) dan tindakan perlocutionary (tanggapan terhadap apa yang dikatakan). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah 30 siswa SMP atau Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja. Data dikumpulkan oleh sebuah ajakan mengajar di mana peneliti meminta siswa untuk menanggapi simulasi bermain peran bermain. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tindakan lokusi, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para siswa lebih sering mengungkapkan bentuk-bentuk informal sebagai tindakan ucapan selamat dan bentuk-bentuk informal mereka sebagai tindakan pengesahan perlocutionary mereka. Juga, para siswa paling sering memilih menyebutkan kesempatan itu sebagai strategi ucapan selamat dan bertindak sebagai strategi dari tindakan-tindakan pemberian selamat kepatutan. Penelitian ini terbatas pada penggunaan permainan peran dalam lima situasi.Kata Kunci : Tindak tutur, bentuk tindakan ucapan selamat, strategi tindakan ucapan selamat Congratulation is frequently expressed in daily communication. Congratulation is expressed to maintain an interaction , to socialize with people and to strengthen the social relationship. Congratulation is often expressed by the students in school but the students do not know and understand the appropriate sentence styles (forms) and strategies of congratulation acts. This research was aimed at describing locutionary acts (the verbal literal meaning of what are said) and the perlocutionary acts (the responses to what are said). This research was a descriptive qualitative research. The subjects were 30 junior high school students or Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja. The data were collected by an elicitation teachique in which the researcher asked the students to response to simulated speech role play encounters. The data were analyzed descriptively by means of identifying and classifying locutionary acts, and drawing a conclusion. The results showed that the students more frequently expressed informal forms as their locutionary congratulation acts and informal forms as their perlocutionary congratulation acts. Also, the students most frequently chose mentioning the occasion as the strategy of locutionary congratulation acts and acknowledging as the strategy of perlocutionary congratulation acts. This research was limited to the use of a role play under five situations.keyword : speech acts, congratulation acts forms, congratulation acts strategies
A Survey on the Tenth Grade EFL Students' Learning Style and Reason of Selection at SMA Negeri 2 Semarapura in Academic Year 2015/2016 ., Gusti Bagus Semara Putra; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 4, No 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa gaya belajar pada siswa kelas 10 yang belajar berbahasa inggris sebagai bahasa asing dan alasan pemilihan gaya belajar tersebut di SMA Negeri 2 Semarapura. Metode yang telaah digunakan untuk memperoleh data adalah keusioner yang bernama Perceptual Learning Style Preference Questionnaire (PLSPQ) dan wawancara. Data – data tersebut dianalisa dengan mengunakan metode campuran. Hasil dari penelitian ini menempilkan bahwa sebagian besar siswa lebih menyukai gaya belajar berkelompok diikuti dengan kinesthetik, pendengaran, taktikal, melihat, dan gaya belajar individu. Itu juga didukung dengan hasil wawancara dimana siswa lebih banyak menyukai gaya belajar kelompok karena mereka dapat membagi materi pembelajaran atau ilu pengetahuan untuk mempersiapkan ujian. It dapat disimpulkan bahwa persentase siswa di sma Negeri 2 Semarapura terbesar lebih menyukai gaya belajar kelompok dengan persentase 79.5%.Kata Kunci : Siswa belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, Gaya belajar, Alasan pemilihan, Perceptual learning style preference questionnaire (PLSPQ) This research aimed at analyzing learning style and reason of selection of the tenth grade EFL students at SMA Negeri 2 Semarapura. The method used to obtain the data were questionnaire named Perceptual Learning Style Preference Questionnaire (PLSPQ) and interview. The data were analyzed by using mixed method approach. The result of the study showed that most of the students preferred group learning style followed by kinesthetic, auditory, tactile, visual, and individual learning style. It also was supported by the result of interview in which most students preferred group learning style by their responses on interview. The students preferred group learning style because they are able to share learning material or knowledge to prepare examination. It could be concluded that the most percentage of students at SMA Negeri 2 Semarapura preferred group learning style with the percentage 79.5%. keyword : EFL students, Learning style, Reason of selection, Perceptual learning style preference questionnaire (PLSPQ)

Page 57 of 188 | Total Record : 1873