cover
Contact Name
Usman Malik
Contact Email
 usman.malik@lecturer.unri.ac.id
Phone
+62811756227
Journal Mail Official
kfi@ejournal.unri.ac.id
Editorial Address
Jurusan FMIPA Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Pekanbaru
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Komunikasi Fisika Indonesia
Published by Universitas Riau
ISSN : 14122960     EISSN : 2579521X     DOI : 10.31258/jkfi
KFI mempublikasikan artikel hasil penelitian dan review pada bidang fisika, namun tidak terbatas, yang meliputi fisika murni, geofisika, plasma, optik dan fotonik, instrumentasi, dan elektronika, dan fisika terapan (aplikasi fisika).
Articles 390 Documents
EFEK WAKTU RENDAM AKTIVASI KIMIA BERBANTUAN GELOMBANG MIKRO TERHADAP SIFAT FISIKA KARBON AKTIF DARI KULIT BUAH JENGKOL (PITHECELOBIUM JIRINGA) Yurike Asra; Iwantono Iwantono; Saktioto Saktioto; Rakhmawati Farma; Awitdrus Awitdrus
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.082 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.14.2.1109-1114

Abstract

Karbon aktif dari kulit jengkol dengan variasi waktu rendam aktivasi kimia menggunakan kalium hidroksida (KOH) yang dibantu dengan gelombang mikro telah berhasil dibuat, dengan rasio massa karbon terhadap KOH adalah 2:1. Waktu rendam aktivasi kimia divariasikan selama 24 jam, 36 jam, dan 48 jam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu rendam terhadap sifat fisis karbon aktif kulit jengkol melalui struktur mikro, luas permukaan, daya serap, dan struktur rantai karbon. Struktur mikro karbon aktif menunjukkan bahwa karbon aktif memiliki struktur semikristalin dengan kehadiran 2 puncak pada sudut 2θ sebesar 22,994o dan 42,102o dengan orientasi bidang (002) dan (100). Tinggi lapisan (Lc) tertinggi dihasilkan pada sampel dengan waktu perendaman 24 jam yaitu 1,773 nm, dengan luas permukaan 124,50 m2 /g. Daya serap karbon aktif terhadap metilen biru sebesar 99,569 mg/g dan struktur rantai karbon dari kulit jengkol menunjukkan adanya gugus fungsi C-H, C-C, C=O, dan C-O pada bilangan gelombang 2943,43 cm-1, 2369,65 cm1 , 1612,56 cm-1 dan 1160,23 cm-1.
ANALISA TINGKAT REDUKSI KEBISINGAN OLEH BAHAN BUSA PADARUANG TERTUTUP DALAM SKALA LABORATORIUM Krisman '; Riad Syech; Rosdiawan Obby Novaldy
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 13, No 13 (2016)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.498 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.13.13.907-911

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap bahan material busa menggunakan metode pengukuran pada ruang tertutup untuk menentukan nilai reduksi bunyi yang dihasilkan oleh speaker pada frekuensi tertentu. Bahan busa memiliki spesifikasi massa jenis berturut-turut 0,003 ⁄ , 0,0031 ⁄ , dan 0,0033 / serta memiliki volume 20 cm x 20 cm x 1,7 cm. Setiap sampel diukur pada jarak 30 cm, 50 cm dan 70 cm dari speaker. Hasil pengukuran dianalisa menurut jarak, massa jenis dan frekuensi. Berdasarkan hasil penelitian nilai Insertion Loss untuk sampel A, B dan C pada frekuensi 125 Hz dengan jarak 30 cm memiliki nilai 0,7 dB, 1 dB dan 1,1 dB. Nilai Insertion Loss ini meningkat seiring dengan meningkatnya massa jenis. Nilai Insertion Loss semakin bervariasi pada frekuensi yang lebih besar dari 500 Hz, hal ini dikarenakan bahan busa yang digunakan tidak mampu meredam kebisingan dengan frekuensi yang tinggi.
PEMANFAATAN POTENSI TANDAN KOSONG KELAPASAWIT SEBAGAI KARBON AKTIF UNTUK PEMBERSIHAIR LIMBAH AKTIVITAS PENAMBANGAN EMAS Erman Taer; Widya Sinta Mustika; Sugianto '
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 13, No 13 (2016)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.808 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.13.13.852-858

Abstract

Pemanfaatan biomassa sebagai karbon aktif untuk aplikasi pembersih air limbah dapat dilakukan dengan kombinasi metode aktivasi dan karbonisasi. Karbon aktif dibuat dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) melalui beberapa tahap pengolahan tongkol menjadi pelet karbon, kemudian dilakukan proses karbonisasi pada suhu 800 0 C di lingkungan gas Nitrogen (N2). Aktivasi kimia menggunakan larutan KOH sebagai aktivator. Metode Scanning Electron Microscopy (SEM) digunakan untuk menganalisa struktur dan morfologi permukaan pelet karbon aktif TKKS. Sementara komposisi unsur kimia penyusun sampel yang dianalisa menggunakan Energy Dispersif X-Ray (EDX). Uji kemampuan serapan karbon aktif terhadap logam berat dilakukan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Dari spektrum EDX menunjukkan kehadiran unsur karbon (C) 79,79 %, sedangkan kontaminasi maksimum logam Fe 2,36 % dan Zn 0,61 %. Dari pengujian serapan logam berat berdasarkan SSA diperoleh hasil bahwa serapan optimum untuk Fe 78,52 % dan Zn 77,23 %, sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa pelet karbon aktif TKKS memiliki daya serap yang lebih tinggi terhadap logam berat besi (Fe).
PERHITUNGAN INTERAKSI ANTAR NANOPARTIKEL MAGNETIK DAN MAGNETISASI DALAM LAPISAN TIPIS COBALT SAMARIUM MENGGUNAKAN SOFTWARE MATLAB R2015a Erwin Erwin; Salomo Salomo; Firman Syarief
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.736 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.14.2.1048-1054

Abstract

Perhitungan interaksi antar nanopartikel magnetik dan magnetisasi pada lapisan tipis cobalt samarium menggunakan Software MATLAB R2015a telah berhasil dibuat. Program komputer terdir dari dua buah program yaitu program menu dan program utama. Data yang diinputkan pada program menu adalah nilai magnetisasi DCD dan IRM yang diperoleh dari pengukuran menggunakan alternating gradient force magnetometer (AGFM). Langkah berikutnya, program utama akan melakukan perhitungan interaksi antar nanopartikel magnetik dan magnetisasi serta menampilkan hasil dalam bentuk grafik. Komposisi samarium divariasikan dari 10%, 13%, 16%, 22%, 35% dan 40%. Hasil menunjukan interaksi bernilai positif pada sampel, kecuali pada samarium 16% nilai interaksi negatif (-0,4 Arb.Unit), artinya interaksi berasal dari sifat dipolar. Nilai magnetisasi sampel menurun secara linier dari komposisi 10% sampai 40% yaitu 1085,33 emu/cm3 sampai 226,23 emu/cm3, sedangkan nilai koersivitas naik seiring dengan penambahan komposisi samarium diatas 16%, dan nilai maksimum terdapat pada komposisi 16% yaitu 2052,17 Oersted. Pertambahan reaksi pada Sm 16% menghasilkan nilai koersivitas yang kecil pada lapisan.
PENENTUAN TINGKAT KEMAGNETAN DAN INDUKSI MAGNETIK TOTAL ENDAPAN PASIR LAUT PANTAI PADANG SEBAGAI FUNGSI KEDALAMAN Krisman Krisman; Rachmat Syahadat; Erwin Erwin
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.987 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.14.1.993-998

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang penentuan nilai tingkat kemagnetan dan induksi magnetik endapan pasir besi sebagai fungsi kedalaman di pantai Padang Sumatera Barat. Sampel endapan pasir besi tersebut dikeringkan terlebih dahulu, kemudian dilakukan untuk menentukan dan mengidentifikasi kandungan sampel pasir pantai maka di gunakan alat XRF (X- Ray Fluorensence), pemisahan kosentrat pasir besi dengan pasir menggunakan alat iron sand separator. Hasil penelitian menyatakan bahwa nilai tingkat kemagnetan endapan pasir besi meningkat atau bertambah sebagai fungsi kedalaman, dimana nilai tingkat kemagnetan diperoleh dengan perbandingan antara massa kosentrat dengan massa sampel. Nilai induksi magnetik total diukur menggunakan alat sensor magnetik Probe Pasco PS-2162 melalui sebuah solenoida terbuat dari 2500 lilitan dengan panjang 8 cm dan diameter 2,5 cm yang dialiri arus listrik dengan variasi arus 2 A hingga 10 A dan jarak horizontal 1 hingga 5 mm disepanjang sumbu solenoida. Ketika arus listrik dinaikkan maka induksi magnetik total semakin besar, dan nilai induksi magnetik total berkurang ketika sebagai fungsi jarak horizontal. Kata kunci : endapan pasir besi, tingkat kemagnetan, iron sand separator, induksi magnetik. Jurnal Komunikasi Fisika Indonesia http://ejournal.unri.ac.id./index.php/JKFI Jurusan Fisika FMIPA Univ. Riau Pekanbaru. http://www.kfi.-fmipa.unri.ac.id Edisi April 2017. p-ISSN.1412-2960.; e-2579-521X Email: komunikasi.fisika.indonesia@gmail.com 991 PENENTUAN TINGKAT KEMAGNETAN DAN INDUKSI MAGNETIK TOTAL ENDAPAN PASIR LAUT PANTAI PADANG SEBAGAI FUNGSI KEDALAMAN Krisman1 , Rachmat Syahadat2 , Erwin Prodi S1 Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru, 28293, Indonesia Email : rachmat.syahadat@gmail.com ABSTRACT We report the determination of the stage of magnetism and magnetic induction iron sand deposits as a function of depth in Padang, West Sumatra coast. Samples of the iron sand deposits are dried first, then the separation concentrate iron sand with sand using iron sand separator apparatus to identify the element countain of sampels then it was used XRF ( X- Ray Fluerensence). The study results expressed that grades stage magnetism iron sand deposits increases or increases as a function of depth, where the value of stage magnetism obtained by the ratio between the mass of the sample mass concentratet. The value of magnetic induction total measured using a magnetic sensor Pasco PS-2162 through a solenoid made of 2500 loops with a length of 8 cm and a diameter of 2,5 cm were electrified by the variation of a current of 2 A to 10 A and a horizontal distance of 1 to 5 mm along the axis solenoid. When an electric current is increased, the greater the total magnetic induction, and the total value of magnetic induction decreases as a function of the horizontal distance. Keywords: iron sand deposits, magnetic degree, iron sand separator, magnetic induction. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang penentuan nilai tingkat kemagnetan dan induksi magnetik endapan pasir besi sebagai fungsi kedalaman di pantai Padang Sumatera Barat. Sampel endapan pasir besi tersebut dikeringkan terlebih dahulu, kemudian dilakukan untuk menentukan dan mengidentifikasi kandungan sampel pasir pantai maka di gunakan alat XRF (X- Ray Fluorensence), pemisahan kosentrat pasir besi dengan pasir menggunakan alat iron sand separator. Hasil penelitian menyatakan bahwa nilai tingkat kemagnetan endapan pasir besi meningkat atau bertambah sebagai fungsi kedalaman, dimana nilai tingkat kemagnetan diperoleh dengan perbandingan antara massa kosentrat dengan massa sampel. Nilai induksi magnetik total diukur menggunakan alat sensor magnetik Probe Pasco PS-2162 melalui sebuah solenoida terbuat dari 2500 lilitan dengan panjang 8 cm dan diameter 2,5 cm yang dialiri arus listrik dengan variasi arus 2 A hingga 10 A dan jarak horizontal 1 hingga 5 mm disepanjang sumbu solenoida. Ketika arus listrik dinaikkan maka induksi magnetik total semakin besar, dan nilai induksi magnetik total berkurang ketika sebagai fungsi jarak horizontal.
MODEL VOLUME RESAPAN AIR HUJAN PADA SUMUR RESAPAN DI KECAMATAN RUMBAI KOTA PEKANBARU Juandi M '; Kusnadi Gultom; Muhammad Edisar
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 13, No 12 (2016)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.306 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.13.12.787-792

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang Volume Resapan Air Hujan pada Sumur Resapan di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Perhitungan volume resapan diperoleh menggunakan data geolistrik dua dimensi. Konfigurasi elektroda Schlumberger dengan bentangan sebesar 164 meter. Hasil pengolahan data geolistrik menggunakan software Res2dinv diperoleh nilai tahanan jenis litologi penyusun lapisan-lapisan tanah di daerah pengukuran. Berdasarkan nilai tahanan jenis litologi yang diperoleh, maka diketahui nilai permeabilitas lapisan tanah di daerah penelitian sebesar 75,41 m/hari. Menggunakan data curah hujan rata-rata Kota Pekanbaru dari BMKG sebesar 0,27 mm3 /jam maka diperoleh hasil penelitian volume resapan air hujan untuk sumur resapan dimensi satu dengan tipe rumah 36 sebesar 15,23 m3 ; volume resapan dimensi dua dengan tipe rumah 38; tipe 45; dan tipe 48 diperoleh sebesar 19,58 m3 . Sedangkan untuk sumur resapan dimensi IV dengan tipe rumah 54 diperoleh volume resapan air hujan sebesar 40,82 m3 . Pemanfaatan air tanah oleh penduduk setempat adalah 8674,02 m3 /hari, dan pemanfaatan oleh industri sebesar 0,4 m3 /hari.
KARAKTERISASI SIFAT OPTIK DAN MORFOLOGI NANOROD ZnO YANG DIDOPING GALIUM (ZnO;Ga) Sri Novita; Iwantono Iwantono; Awidrus Awidrus
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.954 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.14.1.939-944

Abstract

Telah dilakukan penumbuhan nanorod ZnO menggunakan metode hidrotermal pada suhu 90o C selama 8 jam di atas permukaan Flourine Tin Oxide(FTO). Pada penelitian ini akan dianalisa bagaimana efek dari variasi persentase doping galium 0,5%, 1%; 1,5%; 2%; 2,5%, 3% dan 3,5% terhadap sifat optik dan morfologi nanorod ZnO yang tumbuh. Sampel ZnO didoping galium dikarakterisasi dengan spektroskopi UV-Vis dan Mikroskop Pindaian Emisi Medan Elektron (FESEM). Spektrum UV-Vis menunjukkan bahwa nilai reflektansi yang kuat terjadi pada panjang gelombang 400-800 nm.Sampel doping Ga 2,5% menghasilkan reflektansi terendah dibanding sampel lain. Foto FESEM menunjukkan bahwa nanorod ZnO yang didoping galium tumbuh di atas permukaan FTO dengan penampang berbentuk heksagonal. Sampel 2,5% galium lebih seragam dan lebih tegak dibandingkan dengan sampel yang lain.
KARAKTERISASI DAN PEMBUATAN KAPASITOR Ba0,3Sr0,7TiO3MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL Rahmi Dewi; Pipit Rahayu P; Krisman Krisman
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.763 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.14.2.1081-1087

Abstract

Film tipis dari bahan Barium Strontium Titanat (BST) dengan komposisi Ba0,3Sr0,7TiO3 dibuat dengan menggunakan metode sol-gel dan di annealing pada temperatur 600o Cdan 650o Cuntuk mendapatkan struktur kristalin. Film tipis BST tersebut dikarakterisasi menggunakan Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM) dan spektroskopi impedansi. Hasil karakterisasi menggunakan FESEM pada temperatur 600o C dan 650o C diperoleh ketebalan yaitu 69,22 nm dan 73,69 nm. Nilai komposisi massa Ba:Sr:Ti yang didapatkan dari hasil karakterisasi EDX padasuhu 600o Cadalah 0,3:1,7:3,8 dan pada suhu 650o C yaitu 0,1:0,3:0,8. Hasil karakterisasi menggunakan spektroskopi impedansi diperoleh nilai frekuensi, impedansi real (Z’) dan impedansi imajiner (Z”). Dari hasil impedansi jugadiperoleh informasi bahwa semakin besar frekuensi maka semakin kecil kapasitansi kompleks dan konstanta dielektrik, begitu juga sebaliknya. Secara umum semakin besar suhu annealing maka nilai kapasitansi dan konstanta dielektriknya akan semakin besar. Pada frekuensi 100 Hz dengan suhu 600o C dan 650o C, nilai kapasitansinyaadalah 1,457x10-5 F, 1,476x10-5 F. Nilai konstanta dielektrik untuk suhu 100 Hz pada suhu 600o C dan 650o C adalah 670 dan 723.
PENGGUNAAN ENERGI SURYA UNTUK PENJERNIHAN AIR GAMBUT MENGGUNAKAN REFLEKTORCERMIN CEKUNG Usman Malik; Muksin '; Juandi M '
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 13, No 13 (2016)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.766 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.13.13.883-889

Abstract

Penelitian tentang destilasi air gambut telah dilakukan dengan menggunakan alat pemanas energi matahari reflektor cermin cekung dengan dua variasi wadah yang berbeda, masing-masing wadah terbuat dari aluminium, satu dicat dengan warna hitam dan yang lainnya tanpa dicat. Reflektor cermin cekung dibuat dengan ukuran diameter 2,2 meter, tinggi cermin 0,3 meter dan panjang fokusnya 1 meter. Reflektor diletakkan di atas tanah dan disinari langsung oleh cahaya matahari. Kolektor yang berisi sampel air gambut diletakkan diatas reflektor tepat pada posisi titik fokus. Selama pemanasan, suhu diukur setiap jam dengan waktu pengamatan mulai pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Pengamatan dilakukan selama empat belas hari, tujuh hari pertama yaitu pengamatan untuk wadah tanpa dicat dan tujuh hari kedua untuk wadah yang dicat hitam pada cuaca cerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu maksimum sampel air gambut yang menggunakan wadah tanpa dicat adalah 89˚C, dan suhu maksimal pada titik fokus adalah 93˚C. Hasil volume destilasi air gambut tertinggi diperoleh 311 ml. Hasil pengamatan untuk destilasi pada wadah dicat hitam diperoleh suhu maksimal air gambut adalah 91˚C dan suhu maksimal pada titik fokusnya adalah 96˚C. Hasil volume destilasi air gambut tertinggi diperoleh 355 ml. Hasil pengujian laboratorium sampel air gambut sebelum destilasi terhadap parameter warna adalah 1368 Pt-Co dan pengujian laboratorium air gambut setelah di destilasi menjadi 65 Pt-Co, hal ini menunjukkan sampel setelah proses destilasi mengalami peningkatan kualitas yang sangat signifikan.
POLA ALIRAN AIR BAWAH TANAH DI PERUMNAS GRIYA BINA WIDYA UNRI MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI ELEKTRODA SCHLUMBERGER Muhammad Edisar; Listia Damayana; Juandi '
Komunikasi Fisika Indonesia Vol 13, No 12 (2016)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.643 KB) | DOI: 10.31258/jkfi.13.12.820-822

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentag pola aliran air bawah tanah di Perumnas Griya Bina Widya UNRI Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru. Pola aliran air bawah tanah dibuat menggunakan data pengukuran geolistrik satu dimensi dengan konfigurasi elektroda Schlumberger. Berdasarkan formasi litologi bawah tanah yang diperoleh dari data geolistrik, maka diperoleh hasil penelitian untuk tujuh blok dari blok A sampai dengan blok G di daerah penelitian terdapat empat lapisan formasi. Hasil pemetaan pola aliran air bawah tanah menunjukkan bahwa pada formasi lapisan pertama arah aliran air bawah tanah dari arah timur laut ke selatan lalu barat daya dengan ketebalan lapisan mulai dari 10 sampai 39,1 meter. Pola aliran air bawah tanah pada lapisan kedua adalah dari arah timur laut ke utara lalu selatan, ketebalan lapisan kedua ini mulai dari 8 sampai 52,8 meter. Pola aliran air bawah tanah pada formasi lapisan ketiga adalah dari arah timur laut ke selatan, dengan ketebalan lapisan ketiga ini sebesar 2,5 sampai 75,8 meter. Sementara untuk formasi lapisan keempat dengan ketebalan mulai 2,5 sampai 79,1 meter, pola aliran air bawah tanah mengalir dari arah utara ke tenggara.

Page 10 of 39 | Total Record : 390