cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 282 Documents
NGAJI ASIK SAMBIL NGOPI: STRATEGI BRANDING KOMUNITAS “TERAS DAKWAH” DI YOGYAKARTA, INDONESIA (LEARNING ISLAM WHILE ENJOYING COFFEE: A BRANDING STRATEGY OF “TERAS DAKWAH" COMMUNITY IN YOGYAKARTA, INDONESIA) Eko Saputra
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i2.2313

Abstract

The hybridity of Muslim youth with popular culture has had an influence on the da'wah packaging strategy carried out by many da'wah communities in Indonesia, including the Teras Da'wah Community in Yogyakarta, Indonesia. The packaging of da'wah with a more popular, fun, and modern cover has made Teras Da'wah as one of da'wah communities with the most wanted by many younger Muslims in Indonesia. This article aims to describe how the branding strategy is run by the Teras Da'wah Community using a qualitative research approach, namely through ethnographic and netnographic studies for six (6) months in the Teras Da'wah Community. The results of the study reveal that the appreciation of popular culture among young people today has a significant role in 'attracting' these millennials to recite the Koran in a relaxed but serious manner at Teras Da'wah. The form of this appreciation is packaged from the selection of an attractive logo, the interior of the room that resembles a cafe, the study content packaged in slang and the clustering of the study program according to the level of understanding of the members. The consequence of this strategy is the increasingly hybrid identity of Muslim youth in Indonesia due to the intersection between Islamic values and popular culture that has long been attached to them.Hibriditas anak-anak muda muslim dengan budaya populer telah membawa pengaruh pada strategi pengemasan dakwah yang dilakukan oleh banyak komunitas dakwah di Indonesia. Salah satu diantaranya yang telah menerapkan strategi tersebut adalah Komunitas Teras Dakwah di Yogyakarta, Indonesia. Pengemasan dakwah dengan cover yang lebih ngepop, fun, dan modern telah menjadikan Teras Dakwah sebagai komunitas dakwah yang diminati oleh banyak anak-anak muda muslim di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana strategi branding yang dilakukan oleh Komunitas Teras Dakwah dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yakni melalui studi etnografi dan netnografi selama enam (6) bulan di Komunitas Teras Dakwah. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa apresiasi Teras Dakwah terhadap budaya populer di kalangan anak muda saat ini memiliki peran signifikan dalam ‘menarik’ milenial ini untuk mengaji dengan santai tapi serius di Teras Dakwah. Wujud apresiasi ini dikemas dari pemilihan logo yang menarik, interior ruangan yang menyerupai kafe, konten kajian yang dikemas dengan bahasa gaul dan klusterisasi program kajian sesuai dengan tingkat pemahaman anggota. Konsekuensi dari strategi ini adalah semakin hibridnya identitas anak-anak muslim di Indonesia akibat persinggungan antara nilai-nilai Islam dengan budaya populer yang sudah lama melekat pada diri mereka.
IMPLEMENTASI KEADILAN GENDER DI PONDOK PESANTREN SABILURROSYAD KOTA MALANG Bella Fadhilatus Sanah; Ika Wildah Nafisah; Maulidina Zahrah Mukmina; Satria Adli Cholid; Taufan Adi Prayoga
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.1774

Abstract

Gender equality still becomes a sensitive issue in Islamic educational institutions, especially in pesantren, a traditional Islamic educational institution. There is a strong assumption that in the socio-religious tradition of pesantren, women's subordination still practices widely. However, some pesatren take serious attention to overcome this issue through their daily activities within pesantren. One of which is Pesantren Sabilurrosyad in Malang, East Java. This article aims to elaborate on the realization of gender justice in the pesantren. This research uses a qualitative approach through observation and in-depth interviews with the board members of pesantren, as well as its male and female students. The results showed that the Pesantren Sabilurrosyad had implemented the values of gender justice in their socio-religious activities. The implementation forms include providing opportunities for female students to become head of student association; female students are given freedom to recite the Koran directly to the kyai; and female teachers (ustadzah) are given the opportunity to share in one forum with male students.Kesetaraan gender masih menjadi isu sensitive di lembaga pendidikan Islam, khususnya di pondok pesantren. Terdapat anggapan bahwa dalam tradisi sosial-keagamaan di pesantren  subordinasi perempuan masih terjadi. Hal ini menjadi perhatian bagi beberapa pesantren yang ingin menjadikan isu ini sebagai bagian dari aktivitas pesantren, salah satunya adalah Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Malang. Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi perwujudan keadilan gender di pondok tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap para pengurus ponpes dan santri putra dan santri putri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren Sabilurrosyad telah mengimplementasikan nilai-nilai keadilan gender dalam tradisi sosial-keagamaan pesantren. Wujud implementasi tersebut diantaranya adalah memberikan kesempatan kepada santri putri untuk menjadi ketua pondok, santri putri diberikan kebebasan untuk mengaji langsung kepada kyai, serta pengajar putri (ustadzah) diberikan peluang untuk bersama 1 (satu) forum dengan santri putra.
FAKE REALITY: WOMEN PORTRAYAL IN BEAUTY PRODUCT ADVERTISEMENTS OF PAKISTANI PRIVATE CHANNELS Zarnab Rana
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2257

Abstract

Since advertising was introduced many centuries ago, women have been objectified and, in some cases, insulted or belittled. The second wave of feminists challenged society's definition of femininity, and society's insistence on equating men with “thought” and women with “nature” and “body.” This paper aims to investigate the question of women portrayal in Pakistani media with “Jean Baudrillard theory of Simulacra and Simulation”. It focuses on how media and writing are constantly affected by hyperreality. Films, commercials, news, web-based media, and so on address fake real factors with the goal that the current world can't understand reality and innovation. Content analysis was used to emphasize how sexist media constructs an unattainable or objective image of female beauty. This paper shows how personal achievements and accomplishments are only acceptable if they meet the criteria of unrealistic beauty standards. The idea of being “perfect” is reinforced through media but mostly women are suffering with anxiety, depression and the feeling of being insecure in their homes. The fear of being inferior and rejection make them vulnerable and less competitive in society which develops a sense of passiveness and low self-esteem.Sejak dunia periklanan diperkenalkan, perempuan telah menjadi objek, dan dalam beberapa kasus mereka direndahkan dan mengalami penolakan. Gelombang feminis telah menentang definisi feminitas dan desakan masyarakat untuk menyamakan laki-laki dengan ‘pikiran’ dan perempuan dengan ‘nature’ dan ‘body’. Artikel ini bermaksud untuk menyelidiki bagaimana proses penggambaran perempuan di media Pakistan melalui teori Simulacra dan Simulasi Jean Baudrillard. Tulisan ini juga berfokus pada bagaimana media secara terus-menerus dipengaruhi oleh hiperrealitas. Film, iklan, berita, media berbasis website, dan yang lainnya membahas realitas palsu dengan tujuan agar dunia saat ini tidak memahami realitas dan inovasi. Analisis Konten digunakan untuk menekankan bagaimana media seksis membangun citra kecantikan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana pencapaian pribadi hanya dapat diterima jika telah memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis. Gagasan untuk menjadi perempuan “sempurna” diperkuat melalui media, namun pada kenyataannya para perempuan justru mengalami kecemasan, depresi, dan perasaan tidak aman. Inferioritas dan dan ketakutan akan penolakan membuat mereka rentan dan kurang kompetitif dalam masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi sikap pasif dan memiliki harga diri yang rendah.
SOCIAL CAPITAL IN FISHERMEN LIVELIHOOD: CASE STUDY IN "KELOMPOK USAHA BERSAMA" (KUBE) KETAPANG, PANGKALPINANG, BANGKA Panggio Restu Wilujeng; Putra Pratama Saputra; Bustami Rahman; Luna Febriani; Herdiyanti Herdiyanti; Laila Hayati
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2091

Abstract

The empowerment of social community in a sustainable way becomes an unavoidable need, including within the fishermen community. As one of the economically marginalized social communities, the Fisherman community needs more serious attention from all related parties to create a join business group (Kelompok Usaha Bersama/KUBE) to improve their welfare. This article intends to find out how KUBE in Ketapang strengthen social capital in their groups as a strategy to increase the welfare of their members. This research was conducted using a qualitative approach through observation and in-depth interviews with 5 (five) fisherman informants as data collection techniques. The results showed that economic capital was not the main factor in increasing the empowerment of fishermen, but the social capital of KUBE group, such as networks, trust, and social bonds (bonding), have played a more important role in increasing the welfare of their members.Upaya untuk mengembangkan pemberdayaan kelompok sosial secara berkelanjutan saat ini menjadi suatu kebutuhan tak elakkan, termasuk dalam hal ini adalah kelompok nelayan. Sebagai salah satu kelompok sosial yang termarginalisasi secara ekonomi, kelompok ini membutuhkan intervensi dari berbagai pihak untuk meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu strategi yang dilakukan oleh Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Ketapang, Pangkalpinang, Bangka adalah dengan memperkuat modal sosial dalam kelompok tersebut. Artikel ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana upaya KUBE untuk menguatkan modal sosial di kelompok mereka sehingga mendorong para nelayan untuk menjadi lebih berdaya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara mendalam terhadap 5 (lima) orang informan nelayan anggota KUBE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal ekonomi tidak menjadi faktor utama dalam meningkatkan keberdayaan nelayan, namun di kelompok KUBE ini modal sosial berupa jaringan, kepercayaan, dan ikatan sosial (bonding) memegang peranan yang lebih penting. Melalui kedua modal ini nelayan dapat saling membantu kebutuhan ekonomi satu sama lain, dan meningkatkan keberdayaan mereka dalam mencapai akses sumberdaya ekonomi yang lebih baik.
ADAPTASI RITUAL DAN PRAKTIK SOSIAL-KEAGAMAAN MAHASISWA DI MASA PANDEMI (STUDI KASUS PADA MAHASISWA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT, UIN SUNAN AMPEL SURABAYA) Wiwik Setiyani Khasbullah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2164

Abstract

The COVID-19 pandemic that has been going on for more than two years has changed most socio-religious activities of the community, including many academic communities, especially students. The fact that all educational activities must be carried out online has also changed their religious activities and socio-religious practices. Students use their spare time during the distance learning process with worshipping and doing some social activities at home. This article aims to elaborate on how students adapt to the new situation regarding their religious activities. The research was conducted using a qualitative approach. Data collection techniques used in this research are in-depth interviews with 18 student informants and collecting virtual data through google form. The results showed that students' religious adaptation in worship practices and social activities had helped increase their spirituality and closeness to religion. This conclusion is supported by an increase in the quantity of worship such as the intensity of reading the Qur'an, discipline in conducting obligatory prayers, and the involvement of students in religious-based charity activities in the community.Pandemi Covid-19 di Indonesia selama kurang lebih 2 tahun ini telah mengubah seluruh aktivitas sosial keagamaan masyarakat, tidak terkecuali segment pendidikan khususnya mahasiswa. Fakta bahwa seluruh aktivitas pendidikan harus dilakukan dalam situasi jarak jauh secara langsung juga telah mengubah aktivitas ibadah dan praktik sosial-keagamaan mereka. Mahasiswa mengisi waktu-waktu luang mereka selama pembelajaran jarak jauh dengan aktivitas ibadah dan kegiatan sosial di rumah. Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi bagaimana mahasiswa melakukan adaptasi keagamaan di masa pandemi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan mahasiswa dan diperkuat dengan data virtual melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi keagamaan mahasiswa dalam praktik ibadah dan aktivitas sosial telah membantu meningkatkan spiritualitas dan kedekatan mereka kepada agama. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kuantitas ibadah seperti intensitas membaca Al-Qur’an, kedisiplinan dalam sholat wajib, dan keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas charity berbasis keagamaan di masyarakat.
OPTIMALISASI WHATSAPP GRUP LINTAS AGAMA DALAM MENGOKOHKAN JARINGAN SOSIAL UMAT BAHA’I DI DESA CEBOLEK KIDUL, PATI, JAWA TENGAH Moh Rosyid
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2125

Abstract

This paper aims to describe the existence of followers of the Baha'i religion in Cebolek Kidul, Margoyoso, Pati, Central Java. This lack of state and community recognition of the presence of followers of the Baha'i religion encourages them to preserve their existence by strengthening the interaction of fellow Baha'is with other interfaith fellows. Data of this paper was obtained by observing and doing in-depth interviews with the members of Baha'is. The results reveal that although Baha'i adherents have not yet received their rights as other recognized religious fellow in Indonesia, they maintain and preserve their existence by involving themselves in interfaith forums in the WhatsApp group. Their participation in the WhatsApp group becomes a medium for followers of other religions to understand Bahai teachings, follow information and dynamics of Baha'i, and provide a better understanding to the public about Baha'i religious teachings. As a consequence, Baha'i people in Cebolek Kidul feel close and become an inseparable part of their society.Artikel ini bertujuan untuk memaparkan eksistensi penganut agama Baha’i di Desa Cebolek Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kurangnya pengakuan negara dan masyarakat terhadap kehadiran para pemeluk agama Baha’i ini mendorong mereka untuk berupaya menjaga eksistensi dengan mengokohkan interaksi sesama pemeluk Baha’i dengan umat lintas agama lain. Upaya ini mereka lakukan melalui pengelolaan jaringan via grup WhatsApp (WA). Data diperoleh dengan observasi dan wawancara mendalam terhadap umat Baha’i. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa meskipun pemeluk agama Baha’i belum mendapatkan haknya sebagai umat beragama di Indonesia, namun mereka menjaga eksistensi mereka dengan melibatkan diri dalam forum lintas agama di grup Whatsapp. Keikutsertaan ini menjadi media bagi pemeluk agama lain untuk memahami ajaran Bahai, mengikuti informasi dan dinamika Baha’i, serta memberi pemahaman pada publik tentang ajaran agama Baha’i. Sehingga secara tidak langsung, umat Baha’i merasa dekat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat mereka.
BOOK REVIEW: CRITICAL NOTES ON IMAJINASI SOSIOLOGI: PEMBANGUNAN SOSIETAL B.J. Sujibto
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2610

Abstract

The essay is to examine a book entitled Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal by underlining two significant elements to critically read and debate some problematic theories and other explanations. Firstly, concerning sociological theories and social theories in general in which the author paid attention; secondly, the author’s discipline of implementing the theories based on the data and contextual basis of Indonesian society. I am concerned a lot with the theoretical problems of the book and how the author explained sociological theories since they are used as a tool to analyse current topics particularly of ‘societal’ development (with an apostrophe to indicate a new term for Indonesian society of either academic or popular usage). Apart from many typos and lack of references, the review found at least two problems to argue: first is about conceptual and theoretical problems and lexical inconsistencies including the major theory of sociological imagination used as a title of the book, and second is a failure to exercise the care that reference and citation must be rigorously taken into consideration.Esai ini mengkaji buku berjudul Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal dengan menggarisbawahi dua hal penting yang bisa dievaluasi dan dikritik. Pertama, tentang teori-teori sosiologi dan teori-teori sosial lainnya yang menjadi fokus penulis; kedua, kedisiplinan penulis dalam menerapkan teori berdasarkan data dan landasan kontekstual masyarakat Indonesia. Saya menaruh perhatian serius dalam masalah teori dalam buku ini dan bagaimana penulis menjelaskan teori sosiologi karena teori-teori tersebut digunakan sebagai alat untuk menganalisis topik khususnya tentang pembangunan ‘sosietal’ (dengan apostrof untuk menunjukkan istilah baru untuk masyarakat Indonesia baik penggunaan akademik atau populer). Terlepas dari banyak kesalahan ketik dan kurangnya penyediaan sitasi dan referensi, ulasan ini menemukan setidaknya dua masalah untuk diperdebatkan: pertama tentang masalah konsep dan teori dan inkonsistensi leksikal termasuk teori utama imajinasi sosiologis yang digunakan sebagai judul buku, dan kedua adalah kegagalan untuk berhati-hati bahwa referensi dan kutipan harus benar-benar dipertimbangkan dalam karya akademik.
IMPLEMENTATION OF PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR) IN THE DISASTER RESILIENT TOURISM VILLAGE EMPOWERMENT PROGRAM Vina Salviana Darvina Soedarwo; Muhammad Hayat; Ratih Juliati
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2462

Abstract

The COVID-19 pandemic has impacted many segments of society, including tourist villages in Indonesia. This condition encourages various higher education institutions to help tourism villages recover after the pandemic. UMM (University of Muhammadiyah Malang), through the MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Program has also participated by carrying out a series of empowerment activities to restore the economic aspects of tourist villages in Pujon, East Java. This village, during the pandemic, experienced a decrease in the number of visitors and the motivation of the managers as well. PAR (Participatory Action Research) has been chosen as an empowerment model in which researchers and informants could join in mapping the problems, finding the solutions, and formulating the joint programs. The findings showed that the PAR model used are proven to be successful in helping empower residents by increasing the motivation of village managers, using technology in marketing various products of residents, and increasing the availability of infrastructure that can improve the quality of services of tourism village managers.Pandemi Covid-19 selama dua tahun ini telah membawa dampak penurunan ekonomi pada banyak segmen masyarakat, termasuk diantaranya adalah desa wisata di Indonesia. Kondisi ini mendorong berbagai institusi pendidikan tinggi untuk membantu desa wisata pulih kembali pasca pandemi. UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) melalui Program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) turut berpartisipasi dengan melakukan serangkaian kegiatan pemberdayaan dalam rangka memulihkan ekonomi desa wisata di Pujon, Jawa Timur. Desa ini selama pandemi mengalami penurunan jumlah pengunjung dan motivasi para pengelola. PAR (Participatory Action Research) telah dipilih sebagai model pemberdayaan, dimana peneliti dan subjek penelitian bersama-sama memetakan persoalan, mencari solusi, dan merumuskan program bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PAR yang digunakan terbukti berhasil membantu memberdayakan warga, diantaranya adalah meningkatnya motivasi para pengelola desa, penggunaan teknologi untuk dapat beradaptasi dalam memasarkan berbagai produk warga, dan ketersediaan sarana prasarana yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dari pengelola desa wisata.
SOCIO-CATASTROPHISM IN THE RISK SOCIETY: CONCEPTS, CRITICISMS, AND PRAXIS Rangga Kala Mahaswa
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2514

Abstract

The Sociology of Risk is one of the concepts used to analyze the current state of a global society. The development of risk theory has changed in recent decades. However, there is room for sociological criticism in which the concept of risk society must open up to the opportunities and possibilities of discursive debates after long period of industrial revolution to the recent issues of Anthropocene. Based on qualitative research through literature studies and conceptual-philosophical approaches, this article argues that risk governance is one of the challenges to developing the sociological discourse, especially when the community faces ecological disasters. In a later stage, it can realize the possibility of the world of many worlds, and praxis develops into a way of looking at the future of world which is increasingly eroded by the challenges of ecological crisis.Sosiologi Risiko menjadi salah satu konsep yang digunakan untuk menganalisis kondisi masyarakat global saat ini. Perkembangan dan pemikiran teori risiko sendiri telah mengalami perubahan dalam beberapa dekade terakhir. Akan tetapi, terdapat ruang kritik sosiologis bahwa konsep masyarakat risiko harus membuka peluang terhadap risiko yang sejatinya telah berkelindan bahkan sebelum revolusi industri sekalipun dengan cara melibatkan diskursus Antroposen. Berbasis pada penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan dan pendekatan konseptual-filosofis, artikel ini berargumen bahwa tata kelola sosial risiko menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi perkembangan diskursus Sosiologi. Terutama ketika masyarakat dunia menghadapi krisis risiko ekologi global. Sehingga pada tahap selanjutnya dapat mewujudkan kemungkinan the world of many worlds dan secara praksis berkembang menjadi cara pandang untuk masa depan dunia yang semakin tererosi dengan tantangan krisis ekologi.
THE SPIRITUAL-ECOLOGICAL APPROACHES OF INDIGENOUS COMMUNITIES OF TIDORE TOWARDS ENVIRONMENTAL CONSERVATION David Efendi; Arifin Muhammad Ade; Alam Mahadika
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2552

Abstract

G20 summit in August has established various strategies and issues focusing in environmental managements, especially climate change. It has prompted some parties to realize a better understanding of climate change amid their limitations. The roles of indigenous communities are considered by many social scientists as parties which are able to contribute significantly to environmental conservation which indirectly has an impact on corporate efforts as the G20 country aspires to. This study intends to explain how the spiritual beliefs and practices of indigenous peoples in Tidore, North Maluku, who have been acculturated with Islam, can catalyze natural preservation. This research was conducted through an ethnographic approach in Kalaodi village, Tidore, North Maluku. The data was collected through observations and in-depth interviews with 16 informants consisting of traditional leaders, heads of village, and ordinary civilians. The findings showed that the beliefs and eco-spiritual practices of the Kalaodi people, known as Paca Goya, have successful impacts in environmental issues in the region remaining sustainable and even become one of the protected forests in Indonesia. It is undoubtedly a positive approach of campaigning better understanding of climate change amid public confusion about the threat of global warming.Negara G20 pada KTT Agustus lalu telah memantapkan berbagai strategi dan fokus isu dalam pengelolaan lingkungan, khususnya perubahan iklim. Hal ini mendorong sejumlah pihak untuk bagaimana mewujudkan perubahan iklim yang lebih baik di tengah berbagai keterbatasan yang ada? Peran komunitas adat dewasa ini dilirik oleh banyak ilmuwan sosial telah berkontribusi signifikan dalam konservasi lingkungan yang secara tidak langsung tentu memiliki dampak pada upaya peruahan iklim seperti yang dicita-citakan Negara G20. Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan bagaimana keyakinan dan praktik spritual masyarakat adat di Tidore Maluku Utara yang telah berakulturasi dengan budaya Islam mampu menjadi katalisator dalam pelestarian alam. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan etnografi di desa Kalaodi, Tidore, Maluku Utara. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap 16 informan yang terdiri dari tokoh adat, lurah, dan warga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan dan praktik eco-spiritual masyarakat Kalaodi yang dikenal dengan Paca Goya telah berhasil menjadikan kawasan lingkungan tersebut tetap lestari dan bahkan menjadi salah satu hutan lindung di Indonesia. Hal ini tentu menjadi indikasi positif bagi terwujudnya perubahan iklim yang lebih baik di tengah kebingungan masyarakat akan ancaman global warming dunia.