cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 282 Documents
INTERFAITH SOCIAL SOLIDARITY: A SOCIO-THEOLOGICAL ALTERNATIVE TO POST-PANDEMIC COMMUNITY EMPOWERMENT Fitriatul Hasanah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2692

Abstract

The welfare of citizens, particularly in Sukoreno Village, Jember, East Java, has been adversely affected by the Covid-19 pandemic in Indonesia over the past 2 (two) years. Efforts based on socio-theological principles and interfaith civil society have emerged as alternative solutions to address this issue. The purpose of this article is to elucidate the manifestations of interfaith social solidarity in Sukoreno Village, Jember, East Java, as a means of overcoming the economic challenges faced by the community in the post-Covid-19 pandemic. This study employed a qualitative method. Data collection techniques are carried out through observation, in-depth interviews, and document review. The findings indicated that this form of interfaith solidarity was fostered through the utilization of social capital within the community. Examples of such solidarity include social services, heightened Covid-19 awareness, and the optimization of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) and local village resources. While these efforts may not directly lead to significant improvements in the economic welfare of the community, they do highlight that community empowerment can be achieved through an interfaith approach.Pandemi Covid-19 di Indonesia selama 2 (dua) tahun terakhir telah menurunkan tingkat kesejahteraan warga, khususnya di Desa Sukoreno, Jember, Jawa Timur. Upaya berbasis sosio-teologi masyarakat sipil lintas agama menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi problem tersebut. Artikel ini bermaksud untuk menjelaskan bentuk-bentuk solidaritas sosial lintas agama di Desa Sukoreno, Jember, Jawa Timur dalam mengatasi problem ekonomi masyarakat pasca pandemi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bentuk solidaritas lintas agama ini muncul melalui pemanfaatan modal sosial yang ada di masyarakat. Diantaranya dalam bentuk bakti sosial, sigap Covid-19, dan optimalisasi UMKM dan potensi lokal desa. Upaya ini meskipun tidak dapat menjustifikasi peningkatan kesejahteraaan ekonomi warga, namun dapat merefleksikan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan lintas agama.
FROM ANTI-ESTABLISHMENT POPULISM MOVEMENT TO POLITICAL PARTY: REVISITING UMMAT PARTY IN INDONESIA Fairuz Arta Abhipraya; Fasih Raghib Gauhar; Ilham Agustian Candra
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2698

Abstract

The rise of populist movements in Indonesia's political culture and democracy is influenced by the pragmatic ideologies of Muslim figures and perspectives that represent the majority group in the country. The formation of the Ummat Party represents one of the manifestations of the populist movement. The objective of this research is to elucidate the evolution of anti-establishment populist movements that have manifested as the Ummat Party, which has been initiated by Islamic populist figures in Indonesia, specifically Amien Rais. This study was conducted using a qualitative research method. Data collection techniques were carried out through observation and literature review. The findings revealed that Amien Rais employed anti-establishment populist narratives to create a movement of resistance, resulting in the establishment of the Ummat Party in Indonesia. By utilizing this narrative, the Ummat Party aims to challenge the socio-political status quo within Indonesia's democratic culture, advocating for change. Moreover, the Ummat Party exhibits a political agenda in utilizing the anti-establishment movement as a strategy to attain power and as a form of opposition against the current government in Indonesia.Gerakan populisme dalam budaya politik dan demokrasi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh pemikiran praktis tokoh dan pandangan Muslim yang menjadi kelompok mayoritas di Indonesia. Munculnya Partai Ummat adalah salah satu dari bentuk gerakan populisme tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses munculnya gerakan populisme anti-kemapanan yang bertransformasi menjadi Partai Ummat yang digagas oleh tokoh populis Islam di Indonesia, yakni Amien Rais. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan telaah pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amien Rais menggunakan narasi populis anti kemapanan guna membentuk gerakan perlawanan dengan mendirikan Partai Ummat di Indonesia. Melalui narasi ini pula, Partai Ummat berupaya untuk mengubah struktur sosial politik dalam budaya demokrasi di Indonesia. Lebih lanjut, terdapat kepentingan politik Partai Ummat untuk mengambil isu gerakan anti kemapanan ini sebagai sarana mencapai kekuasaan dan sebagai bentuk resistensi terhadap pemerintah Indonesia saat ini.
HOW DOES ZAKAT EMPOWER SOCIETY? A CASE STUDY OF THE KHAIRPUR DISTRICT, PAKISTAN Safiullah Junejo; Saba Anwar
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2694

Abstract

Poverty is a worldwide issue of concern to the international community, including Pakistan. Khairpur is a rural region in Pakistan where a significant proportion of the population lives below the poverty threshold. This research aims to describe the practice of zakat and its implications for the residents of the Khairpur district in Pakistan, using qualitative research techniques. The methods employed to collect data in this study involved conducting interviews with Khairpur residents, observations, and reviewing relevant literature. The findings indicated that in Khairpur, the local community perceives the practice of zakat as a means of providing socio-economic security for the elderly by allocating zakat funds to healthcare facilities. Donating Zakat to educational institutions can also provide assistance to economically vulnerable groups of children. Zakat initiatives can aid women's groups in funding their wedding expenses and dowries. Nevertheless, this research also exposed that the transparency of zakat management has been inadequate and requires further improvement to ensure that a larger portion of the Khairpur population can reap the benefits of zakat.Problem global kemiskinan telah lama menjadi perhatian masyarakat dunia, termasuk di Pakistan. Khairpur adalah salah satu daerah pedesaan Pakistan yang memiliki banyak segmen masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan praktik zakat dan refleksinya bagi masyarakat di distrik Khairpur Pakistan melalui metode kualitatif.  Teknik pengumpulan data dilakukan melalui sejumlah wawancara dengan penduduk Khairpur, observasi, dan telaah pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik zakat di Khairpur telah dianggap oleh masyarakat setempat dapat memberikan jaminan sosial ekonomi untuk orang lanjut usia melalui zakat yang dialokasi ke dalam fasilitas kesehatan. Zakat yang dialokasikan ke dalam fasilitas pendidikan juga mampu membantu kelompok anak-anak yang memiliki kerentanan ekonomi. Sedangkan bagi bagi kelompok perempuan, program zakat dapat membantu mereka dalam pembiayaan mahar maupun upacara pernikahan. Meski demikian, pada sisi lain, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa praktik pengelolaan zakat belum transparan dan masih perlu ditingkatkan lagi jumlahnya agar semakin banyak segmen penduduk Khairpur yang merasakan manfaat zakat tersebut.
REVEALING THE FACES OF RURAL POVERTY IN INDONESIA: A CASE FROM TEMANGGUNG, CENTRAL JAVA Rofah Rofah; Astri Hanjarwati; Jamil Suprihatiningrum
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2758

Abstract

Previous research on poverty in rural areas of Indonesia has identified structural poverty as a significant underlying cause. The objective of this article is to provide an overview of the internal and external factors contributing to poverty in rural Java. The study utilized quantitative research methods and was conducted in the Merah Village, Temanggung, Central Java, which was selected as a representative area falling within the national poverty threshold. The findings indicated that rural communities were confronted not only with structural poverty issues such as limited access to economic resources, education, and empowerment. In addition, cultural poverty further compounded the issue, as it was characterized by pervasive perceptions of subjective well-being among the rural communities, with a majority (81.7%) feeling poor and uncertain about finding a way out of their situation, while only a minority (18.3%) felt prosperous. The prevalent perception of cultural poverty is closely intertwined with the structural characteristics of Javanese society, particularly the concept of 'nerimo', which can be interpreted as the belief that poverty is a God-given destiny that cannot be rejected or altered.Berbagai studi terdahulu tentang kemiskinan pedesaan di Indonesia telah mengungkapkan kemiskinan struktural telah menjadi penyebab utama. Artikel ini bermakud untuk mendeskripsikan penyebab internal dan eksternal kemiskinan di pedesaan Jawa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif, dengan mengambil lokasi di Desa Merah, Temanggung, Jawa Tengah sebagai representasi dari wilayah yang masih berada dalam garis kemiskinan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan tidak hanya dihadapkan pada problem kemiskinan struktural seperti misalnya minimnya akses ke sumber-sumber ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan. Namun juga semakin diperparah dengan kemiskinan kultural yang ditandai dengan kuatnya persepsi terhadap kesejahteraan subyektif, seperti misalnya perasaan bahwa mereka adalah orang miskin dan kebingungan bagaimana mencari jalan keluar atas situasi tersebut (81,7%), selebihnya hanya 18,3% yang merasa sejahtera. Kuatnya persepsi kemiskinan kultural ini berkaitan erat dengan karakter struktur masyarakat Jawa yang ‘nerimo’, yang dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa kemiskinan mereka adalah takdir tuhan yang tidak bisa ditolak.
UNRAVELING THE THREADS OF WOMANHOOD: A QUALITATIVE INQUIRY INTO THE CONSTRUCTION OF GENDER IN SASAK SOCIETY Ilhami, Hablun; Rohmaniyah, Inayah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2544

Abstract

Sasak society is renowned for its adherence to moral principles, humanism, and strong religious beliefs. Nevertheless, several research indicate the persistent existence of gender discrimination, particularly targeting women. This study seeks to examine the formation of the concept of 'being a woman' in Sasak culture, encompassing its many manifestations, underlying causes, and consequences for the social framework, particularly for women in Sasak society. This study employed a qualitative methodology, gathering primary data from several sources including regional chairman, religious leaders, Penelando customary authorities in Sasak, women fulfilling the role of housewives, and males serving as heads of households. The data collected from these sources utilizing the interview method is subsequently analyzed using Foucault's framework of power relations. The research reveals that in Sasak society, the construction of 'being a woman' entails the perception that domestic work is inherent to women. The formation of 'womanhood' in Sasak society is intricately linked to the ideology of male hegemony over women. This architecture significantly influences the occurrence of social issues, including the dual burden faced by women, the marginalization of women in the public domain, and the restricted availability of economic resources for women. Due to the intricate nature of power in the creation of gender, it is imperative to do more research with a broader pool of participants. This will enable the identification of more comprehensive concerns and the exploration of the dynamics within current power dynamics.Masyarakat Sasak selama ini dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, humanis dan religiusitas yang tinggi. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada sisi lain masih terdapat fenomena diskriminasi gender, khususnya pada perempuan. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi konstruksi 'menjadi perempuan' di masyarakat Sasak yang meliputi bentuk, faktor penyebab hingga implikasinya pada struktur sosial khususya perempuan di masyarakat Sasak. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif, dengan sumber data primer penelitian yang mencakup ketua wilayah, tokoh agama sekaligus ketua adat Penelando di Sasak, perempuan sebagai ibu rumah tangga, serta laki-laki selaku kepala keluarga. Data yang diperoleh melalui metode wawancara dari sumber data tersebut kemudian diinterpretasi dengan menggunakan pendekatan relasi kuasa Foucault. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk konstruksi 'menjadi perempuan' di masyarakat Sasak adalah  bahwa pekerjaan domestik dianggap sebagai kodrat perempuan. Konstruksi 'menjadi perempuan' di masyarakat Sasak ini berkaitan erat dengan wacana dominasi laki-laki terhadap perempuan. Konstruksi tersebut berdampak pada munculnya problem-problem sosial seperti adanya beban ganda perempuan, marginalisasi perempuan di ruang publik, hingga keterbatasan akses sumber ekonomi bagi perempuan. Mengingat sifat kekuasan dalam konstruksi gender yang sangat kompleks, maka perlu adanya penelitian lanjutan dengan informan yang lebih luas, guna mengidentifikasi persoalan-persoalan yang lebih komprehensif serta mengungkap dinamika relasi power yang ada. 
UNDERSTANDING AND ADDRESSING SEXUAL DEVIANCE: A COMPARATIVE ANALYSIS OF SEXUAL KNOWLEDGE AND BEHAVIOR AMONG TEENAGERS IN SUB URBAN PUBLIC AND RELIGIOUS SCHOOLS Desky, Ahmed Fernanda
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2717

Abstract

Several studies indicate that insufficient education on sexual matters in schools is a contributing factor to the engagement of teenagers in sexual deviant behaviors. Another contributing factor to sexual deviance in teenagers is their experience as victims of sexual abuse, parental violence, and coming from broken homes. These factors might promote the development of sexual dysfunction, particularly in suburban regions. The objective of this study is to provide a detailed account of the sexual knowledge and sexual behavior of teenagers attending schools in suburban settings. The researcher selected two schools in Deli Serdang Regency, one being a public school and the other a religious school, both with distinct educational system histories. This research methodology employs a quantitative study design utilizing a survey-based technique. The public school sample consisted of 74 respondents, whereas the religious school sample consisted of 91 respondents. The research data were gathered by a questionnaire and analyzed using the SPSS version 22 software. The findings demonstrated that sexual education in religious schools can significantly mitigate the occurrence of sexual aberrations in comparison to public schools. Meanwhile, teenagers attending public schools view engaging in physical touch while dating as a favorable activity. This contrasts with teenagers attending religious schools, where the emphasis is on instilling stronger religious ideals in order to restrict romantic relationships during adolescence.Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kurangnya pengetahuan tentang seks di sekolah menjadi salah satu sebab remaja melakukan penyimpangan seksual. Faktor lain yang memiliki korelasi dengan penyimpangann seksual adalah para remaja tersebut merupakan korban kekerasan seksual, kekerasan orang tua, dan latar belakang dari keluarga broken home yang kemudian memicu munculnya disfungsi seksual di wilayah sub urban. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pengetahuan seks dan perilaku seksual remaja di sekolah yang terletak di wilayah sub urban. Peneliti memilih dua sekolah dengan latar belakang sistem pendidikan yang berbeda, yaitu sekolah umum dan sekolah agama di Kabupaten Deli, Serdang. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey. Jumlah sampel sekolah umum sebanyak 74 responden, dan sampel sekolah agama sebanyak 91 responden. Data penelitian dikumpulkan menggunakan angket, dan diolah menggunakan program SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tentang seks di sekolah agama secara efektif dapat mencegah munculnya penyimpangan seks dibandingkan dengan sekolah umum. Sedangkan remaja di sekolah umum menganggap pacaran dengan melakukan kontak fisik merupakan suatu aktivitas positif. Hal ini berbeda dengan remaja di sekolah agama yang lebih menanamkan nilai-nilai agama untuk membatasi hubungan berpacaran di usia remaja. 
ANALYZING MEDIA CONVERGENCE IN THE HIJABER COMMUNITY FOR DISSEMINATING RELIGIOUS VALUES IN INDONESIA Meidina, Aulia Putri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2776

Abstract

Media convergence has resulted in many transformations in religious social dynamics, including the adoption of a 'marketing' approach by the Hijaber Community in Indonesia to promote religious principles. This community utilises a range of social media channels to disseminate these religious beliefs, aiming to enhance their visibility and acceptance among both online and offline populations. The objective of this study is to provide a description of the various types of media convergence seen within the community and analyse their influence on the community's development in the online realm. The study employed a qualitative netnography methodology to examine the social media accounts utilised by the subjects. The data was subsequently examined with the convergence culture hypothesis pioneered by Henry Jenkins.  The findings indicated that the media convergence process gave rise to two distinct types of convergence culture: participation culture and collective intelligence. This type of participatory culture is seen in the uploading of twibbons and the posts made by community followers, as well as the growing number of members in the Hijaber Community. Furthermore, communal intelligence is evident through the use of reels and IG live, which are available for access at any given moment.Konvergensi media telah memunculkan sejumlah perubahan dalam kehidupan sosial keagamaan, salah satunya adalah strategi ‘pemasaran’ nilai-nilai keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Hijaber Community di Indonesia. Komunitas ini mengintegrasikan berbagai platform media sosial untuk mempromosikan nilai-nilai keagamaan tersebut sehingga menjadi lebih banyak dikenal oleh masyarakat online dan offline. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan apa saja bentuk-bentuk konvergensi media dalam komunitas tersebut dan bagaimana konvergensi itu memberikan dampak perkembangan komunitas mereka di dunia maya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif netnografi dengan menelusuri berbagai akun sosial media yang mereka gunakan. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan teori budaya konvergensi yang digagas oleh Henry Jenkins. Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk budaya konvergensi yang muncul dari proses konvergensi media yaitu budaya partisipasi dan kecerdasan kolektif. Bentuk budaya partisipasi ini terlihat dalam unggahan twibbon dan postingan follower komunitas serta bertambahnya anggota komunitas Hijaber Community. Sedangkan kecerdasan kolektif dalam terlihat dari reels dan IG live yang dapat diakses setiap saat.
BOOK REVIEW: SUSTAINABLE LIVELIHOODS AND RURAL DEVELOPMENT Ariyanto, Komang
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2938

Abstract

The book is 168 pages thick with content full of knowledge (theoretical and practical) through various interrelated concepts in building a better livelihood framework. This book is very worth reading. This reminds that it can be understood and can be used by institutions or individuals who want and are currently carrying out development work in poverty alleviation, as well as in development studies and multidimensional rural development. This book can be read, both theoretically and practically, to encourage rural development planners and local institutions to reflect again on policies that are pro-poor, pay attention to local parameters, and voice the aspirations of the community and local institutions at a more macro level. Finally, this book gives us an understanding of the study of rural development, especially poverty alleviation through the subject's livelihood. Moreover, in elaborating Henry Bernstein's political-economy approach which can be applied from the smallest unit, such as the household to a wider spectrum, to the global realm so that it can enrich and strengthen the analysis of sustainable livelihoods at various loci. However, this book also needs to add related issues related to connectivity and discussion with the global development agenda SGDs, and needs case studies on sustainable livelihoods globally as reference material and strengthens the political economy perspective that has been described in the case study.
Exploring the Role of Religious Leaders and Religious Organizations in Combating Corruption in Indonesia Roshady, Mohammad Ezha Fachriza; Wibowo, Satrio Adjie
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/txjcq141

Abstract

Corruption remains a significant issue in Indonesia, hindering development and governance across various sectors. Despite the strong religious character of Indonesian society, the role of religious leaders in combating corruption has yet to produce substantial results. This study aims to analyze the role and challenges faced by religious leaders in reducing corruption, focusing on their influence in anti-corruption movements at the community level. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through literature reviews, interviews, and case studies from religious organizations collaborating with the Corruption Eradication Commission (KPK). Key informants included KPK officials and religious leaders. The findings reveal that while religious leaders possess moral authority and influence within their communities, their involvement in anti-corruption efforts remains limited. The study also identifies several obstacles, such as limited political influence, difficulties in addressing corruption issues, and challenges in effectively communicating anti-corruption messages to the public. Further research is needed to evaluate the long-term effectiveness of religious leaders' involvement and to develop strategies for strengthening their collaboration with state institutions in the fight against corruption. Korupsi tetap menjadi masalah serius di Indonesia yang menghambat perkembangan dan tata kelola di berbagai sektor. Meskipun masyarakat Indonesia dikenal religius, peran pemimpin agama dalam memberantas korupsi belum memberikan dampak yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan tantangan yang dihadapi pemimpin agama dalam upaya mengurangi korupsi, dengan fokus pada pengaruh mereka terhadap gerakan anti-korupsi di tingkat masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui tinjauan literatur, wawancara, dan studi kasus dari organisasi keagamaan yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Informan utama mencakup pejabat KPK dan pemimpin organisasi keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemimpin agama memiliki otoritas moral dan pengaruh dalam komunitas mereka, keterlibatan mereka dalam upaya pemberantasan korupsi masih terbatas. Penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan, seperti keterbatasan pengaruh politik, kesulitan dalam memahami isu korupsi, dan tantangan dalam menyampaikan pesan anti-korupsi agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari keterlibatan pemimpin agama serta mengembangkan strategi untuk meningkatkan kolaborasi mereka dengan lembaga negara dalam pemberantasan korupsi.
SHAPING INTERFAITH PERSPECTIVES: AN ANALYSIS OF INDONESIAN YOUTH VIEWS ON TRUST, SOCIAL INTERACTION, AND POLITICAL INCLINATIONS ACROSS SECONDARY SCHOOL Fatah, Anton Abdul; Huda, Miftahul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 18 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v18i1.2947

Abstract

The objective of this research is to analyze the viewpoints of young Indonesians during their adolescence and adulthood about trust between different religions, social interaction, and political inclinations. Specifically, it emphasizes how the duration of secondary school education might shape their viewpoints. This study used ordinal logistic regression analysis to examine panel data collected from the Indonesian Family Life Survey, which comprises a sample size of over 20,000 respondents. The findings indicate a decrease in the standard of individuals' interfaith conduct between 2007 and 2014. The research indicates that those who finished secondary school during the New Order era exhibit higher levels of tolerance towards interfaith ideas in comparison to those who completed secondary school during the Reformation era. The disparity might be attributed to the policies of the New Order administration, which prioritized national cohesion and stability while actively opposing religious "extremism". The research findings indicate that those who finished secondary school during the post-New Order era have a heightened inclination towards interfaith political socialization and preferences. The results of this study hold significant relevance in the current climate of growing intolerance and religious division, particularly with regards to the determinants of interfaith attitudes and behavior, as well as the role of education in fostering ideals of tolerance. Hence, this study underscores the necessity for additional longitudinal and comparative research on interfaith community interactions, including a broader spectrum of age cohorts and geographical areas.Penelitian ini bertujuan untuk mengulas perspektif generasi muda Indonesia pada usia remaja dan dewasa pada kepercayaan (trust), sosialisasi, dan preferensi politik lintas agama. Secara khusus, penelitian ini menyoroti bagaimana masa pendidikan sekolah menengah dapat memengaruhi perspektif mereka. Melalui analisis regresi logistik ordinal, penelitian ini menganalisis data panel yang diperoleh dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia, yang mencakup lebih dari 20.000 responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kualitas perilaku lintas agama masyarakat pada tahun 2007 hingga 2014. Data penelitian ini memperlihatkan bagaimana generasi muda yang menyelesaikan sekolah menengah pertama pada masa Orde Baru menunjukkan penerimaan yang lebih besar terhadap kepercayaan lintas agama dibandingkan dengan mereka yang menempuh pendidikan sekolah menengah di masa Reformasi. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh kebijakan rezim Orde Baru yang menitikberatkan pada pentingnya persatuan dan stabilitas nasional serta cenderung menentang 'ekstremisme' agama. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang menyelesaikan pendidikan SLTP/SLTA pasca Orde Baru menunjukkan kecenderungan yang lebih besar dalam aspek sosialisasi dan preferensi politik lintas agama. Temuan penelitian ini juga sangat penting dalam konteks meningkatnya intoleransi dan polarisasi agama saat ini, terutama terkait faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku antarumat beragama dan pentingnya pendidikan dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi. Oleh karenanya, penelitian ini menekankan perlunya kajian longitudinal dan komparatif lanjutan tentang hubungan masyarakat lintas agama yang mencakup rentang kelompok usia dan wilayah yang lebih luas.