cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Induksi Mutasi Monstera adansonii untuk Menghasilkan Variegata Secara Ex Vitro Suhaimi, Annisa; Umam, Khotibul; Sandra, Edhy
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 1 (2023): February 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i1.5834

Abstract

Monstera merupakan salah satu tanaman hias yang saat ini banyak diminati oleh pecinta tanaman karena memiliki nilai estetika tersendiri. Ditengah pandemi covid19 melanda dunia termasuk Indonesia, tanaman yang dijadikan primadona oleh pebisnis tanaman hias adalah genus Monstera, salah satunya Monstera adansonii. M. adansonii yang diminati saat ini adalah jenis variegata. Salah satu teknik untuk menghasilkan variegata pada M. adansonii adalah dengan melakukan mutasi pada bagian daun sehingga menghasilkan daun berwarna putih belang berbeda dari warna aslinya. Pada penelitian ini dilakukan mutasi pada M. adansonii menggunakan  empat zat kimia yaitu streptomisin, strepson, etil metil sulfonat (EMS), dan ekstrak rokok kretek dengan tujuan untuk mengetahui mutagen yang paling efektif membentuk variegata pada M. adansonii. Setelah perlakuan diberikan, kemudian dilakukan pengamatan terhadap jumlah tunas, warna dan jumlah daun. M. adansonii dengan perlakuan streptomisin menghasilkan warna hijau bercorak putih pada daun, sedangkan zat mutagen lainnya strepson, EMS dan ekstrak rokok kretek tidak dapat menghasilkan variegata pada M. adansonii. 
Analisis In silico Heksosa, D-Manitol dan Asam Malat Kulit Kopi sebagai Penghambat Infeksi Virus Corona Bare, Yohanes; Timba, Frederiksen Novenrius Sini; Nurak, Maria Marcelina Dua; Sari, Dewi Ratih Tirto
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.5970

Abstract

COVID-19 merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus corona, dan telah menjadi pandemik dari 2019 hingga 2022. Berbagai terapi telah dilakukan dan dikembangkan oleh banyak peneliti, termasuk pembuatan vaksin COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi senyawa pada kulit kopi sebagai agen penghambat kompleks antara spike glycoprotein SARS-CoV-2 dan Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) secara in silico. Kajian in silico dilakukan dengan mengunduh struktur 3D senyawa yaitu heksosa, asam malat, dan D-manitol dari PubChem NCBI, serta kompleks spike glycoprotein SARS-CoV-2 – ACE2 dari Protein Data Bank. Interaksi masing-masing senyawa uji dan kompleks dianalisis dengan Molegro Virtual Docker dan divisualisasi dengan Discovery Studio. Hasil analisis menunjukkan bahwa heksosa, asam malat dan D-manitol mengikat bagian diantara spike glycoprotein SARS-CoV-2 dan ACE2. Residu sisi aktif ikatan antara kompleks dengan ketiga senyawa uji merupakan residu protein dari ACE2 dan spike glycoprotein SARS-CoV-2. Jenis ikatan yang terbentuk antara senyawa dan kompleks protein didominasi oleh ikatan hidrogen, dan beberapa gaya Van der Waals. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa senyawa heksosa, asam malat, dan D-manitol yang ada pada kulit kopi memiliki potensi sebagai anti SARS-CoV-2, namun demikian itu perlu dilakukan pembuktian secara in vitro dan in vivo. 
Pertumbuhan Pakchoi (Brassica rapa) dan Kale (Brassica oleracea) pada Jenis Media Tanam Hidroponik Berbeda: Growth of Pakchoi (Brassica rapa) and Kale (Brassica oleracea) on Different Hydroponic Growing Media Barus, Tati; Ashar, Meinanda; Hutagalung, Rory Anthony
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.5991

Abstract

Jenis media tanam menentukan kualitas pertumbuhan tanaman pada sistem hidroponik. Brassica rapa (pakchoi) dan Brassica oleracea (kale) merupakan jenis  tanaman yang banyak dibudidayakan secara hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan pakchoi dan kale pada rockwool impor, rockwool lokal, dan spons sebagai media tanam pada sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Bibit pakchoi dan kale dipindahkan ke perangkat hidroponik pada umur delapan hari setelah semai. Tanaman dipanen setelah 28 hari berada di perangkat hidroponik. Jumlah daun dihitung tiap minggu dan bobot tanaman diukur saat panen. Jumlah daun dan bobot tanaman pakchoi, serta jumlah daun kale tidak berbeda signifikan antara media tanam rockwool impor, rockwool lokal dan spons. Namun, bobot kale pada media tanam rockwool lokal dan rockwool impor signifikan lebih tinggi dibandingkan bobot kale pada media tanam spons. Dapat disimpulkan bahwa tanaman pakchoi memiliki kemampuan tumbuh yang sama pada media tanam rockwool impor, rockwool lokal, dan spons, namun tanaman kale memiliki kemampuan tumbuh yang lebih baik pada media tanam rockwool impor dan rockwool lokal dibandingkan pada spons. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa setiap tanaman memiliki respon pertumbuhan yang berbeda terhadap berbagai jenis media tanam. Pemanfaatan spons sebagai alternatif media tanam rockwool perlu diteliti pada jenis tanaman yang lain. 
Variasi Konsentrasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Rendaman Akar Bambu Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum Secara In Vitro Sandiase, I Kadek; Widiyanti, Ni Luh Putu Manik; Warpala, I Wayan Sukra
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.6075

Abstract

Salah satu agen hayati yang berpotensi sebagai biopestisida adalah plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). PGPR memiliki kemampuan dalam menekan pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum melalui mekanisme secara langsung dan secara tidak langsung. PGPR diketahui ada pada akar bambu yang memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman bambu dan menekan aktivitas fitopatogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat serta konsentrasi optimum dari PGPR rendaman akar bambu dalam menghambat  pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum. Metode pengujian digunakan adalah metode uji antagonis pada media PDA, dan media campuran PDA dan NA. Variasi konsentrasi PGPR rendaman akar bambu yang digunakan adalah 2,5, 5, 7,5 dan 10%. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis statistik menggunakan uji One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Tukey HSD pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan daya hambat PGPR rendaman akar bambu berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum pada media uji PDA dan media campuran. Konsentrasi PGPR rendaman akar bambu yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum adalah 10%.
Potensi Trichoderma asperellum TKD dalam Menghambat Phytophthora spp. pada Benih Kakao Selama Masa Penyimpanan Lila, Kadek Dian Lila Sawitri Kumala; Proborini, Meitini Wahyuni; Wijayanti, Febri Eka
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 1 (2023): February 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i1.6076

Abstract

Benih berkualitas sangat diperlukan dalam perbanyakan tanaman kakao. Adanya infeksi Phytophthora spp. menjadikan kualitas benih kakao menurun yang berdampak pada kemampuan tumbuh tanaman. Cendawan T. asperellum TKD dapat menghambat pertumbuhan patogen. Tujuan penelitian ini yaitu menguji kemampuan T. asperellum TKD dalam menghambat Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo, menentukan konsentrasi spora T. asperellum TKD yang optimum dan uji viabilitas benih. Perlakuan in vitro dilakukan dengan kultur ganda, dan perlakuan in vivo dilakukan pada benih kakao. Parameter yang diamati meliputi persentase daya hambat dengan kultur ganda, daya kecambah, indeks kecepatan perkecambahan dan penurunan populasi Phytophtora spp. Hasil penelitian menunjukan T. asperellum TKD menghambat Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo (P≤0,05). Rerata daya hambat in vitro adalah 58,74±4,58%. Konsentrasi spora T. asperellum TKD hingga 104 efektif menurunkan populasi Phytophthora spp secara in vivo. Konsentrasi spora T. asperellum TKD yang dapat menghambat pertumbuhan Phytophthora spp.  yang optimum adalah konsentrasi T1,70x106. Mekanisme penghambat T. asperellum TKD adalah kompetisi dimana terjadi interaksi dengan mekanisme mikoparasit dan antibiosis. Pemberian T. asperellum TKD menyebabkan benih memiliki daya perkecambahan lebih dari 80% dengan diikuti indeks kecepatan kecambah yang tinggi. Pemberian T. asperellum TKD mampu menghambat pertumbuhan Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo dan benih kakao dapat berkecambah optimal hingga hari ke-7 penyimpanan setelah pemberian T. asperellum TKD. 
Komposisi Vegetasi dalam Mendukung Potensi Wisata Alam di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung, Bali Wibisono, Adi Ariyanto; Wijaya, I Made Saka; Dalem, Anak Agung Gde Raka; Sari, Ida Ayu Eka Pertiwi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 1 (2023): February 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i1.6085

Abstract

Bali memiliki banyak daerah yang berpotensi sebagai daerah tujuan wisata alam, salah satunya dengan memanfaatkan kawasan di sekitar Sungai Ayung. Sungai merupakan ekosistem terbuka, sehingga berkaitan erat dengan vegetasi riparian. Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali merupakan salah satu desa yang berada di tepi Sungai Ayung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi vegetasi riparian di sekitar Sungai Ayung di Desa Bongkasa Pertiwi. Penentuan komposisi vegetasi riparian menggunakan metode plot, kemudian dianalisis untuk memperoleh parameter vegetasi dan lingkungan. Untuk mengetahui potensi wisata alam digunakan metode observasi dengan mengamati jenis tumbuhan yang memiliki interaksi khas dengan fauna setempat. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa vegetasi riparian yang terletak ke arah daratan memiliki struktur vegetasi yang lebih stabil dengan regenerasi jenis yang lebih baik dibandingkan dengan vegetasi riparian yang terletak ke arah Sungai Ayung. Secara umum, komposisi vegetasi riparian menunjukkan eksistensi dari pohon khas riparian, seperti bayur (Pterospermum javanicum). Bayur menjadi salah satu pohon penting yang berperan dalam mendukung wisata alam di Desa Bongkasa Pertiwi karena memiliki i interaksi dengan fauna lokal seperti burung alap-alap kawah (Falco peregrinus), burung pelatuk besi (Dinopium javanense), burung kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), dan burung cucak kuning (Pycnonotus melanicterus).
Epifauna pada Ekosistem Mangrove di Kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali  Girsang, Lestari Meliana; Pertami, Nyoman Dati; Ernawati, Ni Made
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.6333

Abstract

Epifauna merupakan makrozoobentos yang hidup di permukaan sedimen perairan atau menempel pada berbagai substrat perairan maupun pada organisme lain. Salah satu kawasan perairan yang sering dijadikan habitat oleh epifauna adalah ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan epifauna, jenis dan kerapatan mangrove, serta kondisi lingkungan (air dan substrat) pada ekosistem mangrove di Tahura Ngurah Rai, Bali. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Purposive Random Sampling dengan transek berpetak. Jenis epifauna yang ditemukan di Tahura Ngurah Rai, Bali terdiri dari 15 jenis (Terebralia sulcata, Nerita planospira, Cerithidea quoyii, Telescopium tellescopium, Littoraria lutea, Littoraria scabra, Littoraria carinifera, Littoraria pallescens, Pila ampullaceal, Nerita melanotragus, Cassidula nucleus, Austruca triangularis, Littorina undulate, Chricoreus capucinus, dan Pirenella alata) dengan kelimpahan berkisar antara 0,06-14,10 ind/m2 dan kelimpahan relatif berkisar antara 0% – 53%. Terdapat tujuh jenis mangrove yang ditemukan yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Xylocarpus moluccensis, Xylocarpus granatum, dan Lumnitzera racemose dengan kerapatan berkisar 200 – 3267 tegakan/ha. Lingkungan pada daerah penelitian menunjukan kondisi normal dan mendukung bagi pertumbuhan epifauna dan mangrove di Tahura Ngurah Rai Rai, Bali. 
Paparan Pestisida Menginduksi Senesen Dini pada Mesenchymal Stem Cell In Vitro Adaninggar, Ascarti; Oktavya, Galuh; Putri, Raden Roro Risang Ayu Dewayani; Aprilianti, Suci Hari Utami; Nuriliani, Ardaning
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i1.6340

Abstract

Pestisida merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan sebagai pengendali hama pada aktivitas pertanian. Residu penggunaan pestisida ini dapat mengakibatkan polusi pada lingkungan perairan khususnya di sekitar lahan pertanian. Pestisida yang terakumulasi pada lingkungan perairan maupun hasil pertanian memberikan dampak buruk bagi manusia antara lain gangguan pada sistem organ, jaringan, perkembangan, dan pada tingkat sel mengarah ke senesen. Senesen merupakan suatu kondisi saat sel berhenti melakukan proliferasi. Sel yang mengalami senesen secara alami umumnya terjadi pada individu tua, sebagai respons terhadap pemendekan telomer. Senesen dini akibat paparan pestisida pada umumnya melibatkan mekanisme stres oksidatif, kerusakan DNA, dan disfungsi mitokondria. Senesen memicu penurunan fungsi organ yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan seperti kanker, osteoporosis, penyakit kardiovaskuler hingga demensia. Selain itu, senesen juga dapat menyebabkan berhentinya siklus sel punca antara lain pada mesenchymal stem cells (MSCs). Ulasan ini fokus membahas mekanisme senesen akibat paparan pestisida pada sel punca terutama MSCs. Metode yang digunakan yaitu koleksi data dan analisis dari jurnal terindeks Scopus dengan menggunakan VOSviewer. Berdasarkan hasil ulasan diketahui bahwa pestisida menginduksi senesen pada MSCs melalui jaras peningkatan konsentrasi ROS dalam sel dan penurunan aktivitas ALDH. Hal tersebut menyebabkan aktivasi p53, dan p21, yang kemudian akan menyebabkan hambatan pada CDK2 dan  pRB, berakibat pada  inaktivasi E2F serta induksi senesen. Senesen juga akan memberikan respons patofisiologis lain hingga efek tumorigenesis. 
Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Kadar Piperin pada Kalus Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) Dewi, Kartika Puspita; Nugroho, Laurentius Hartanto; Sasongko, Aries Bagus; Hidayati, Lisna
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.6347

Abstract

Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan tanaman herbal yang mengandung alkaloid utama piperin. Prospek cabe jawa sebagai bahan obat belum didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup, karena rendahnya produktivitas tanaman. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan kultur kalus. Kalus dapat memproduksi metabolit sekunder relatif cepat dan berkelanjutan. Efektivitas produksi metabolit sekunder seperti piperin pada kalus dapat dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi sukrosa dalam medium kultur. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sukrosa pada morfologi kalus, pertumbuhan kalus, dan produksi piperin pada kalus cabe jawa. Medium Murashige and Skoog (MS), dan zat pengatur tumbuh naphtalene asetic acid (NAA) dan benzyl aminopurin (BAP) 1:2 digunakan untuk menginduksi kalus dari daun cabe jawa. Kalus yang terbentuk berwarna hijau muda dan kompak. Kalus disubkultur selama 35 hari pada medium MS dengan konsentrasi sukrosa 30 g/L, 40 g/L, 50 g/L, dan 60 g/L. Setelah inkubasi warna kalus berubah dengan tekstur tetap kompak. Berat segar dan berat kering dari kalus menurun dengan bertambahnya konsentrasi sukrosa. Piperin pada kalus diekstraksi dengan etanol 96% dan diukur kadarnya dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-Densitometri. Peningkatan konsentrasi sukrosa pada medium kulur tidak berpengaruh pada kadar piperin dari kalus cabe jawa. 
Potensi Bacillus spp. Sebagai Penghasil Biosurfaktan untuk Pengolahan Limbah Minyak Pelumas Zia, Khaleda Zia; Linda, Tetty Marta
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.6360

Abstract

Biosurfaktan adalah makromolekul ekstraseluler yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang memiliki sifat ramah lingkungan serta memiliki berbagai fungsi salah satunya untuk emulsifikasi limbah minyak. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi isolat Bacillus spp. dalam menghasilkan senyawa biosurfaktan untuk pengolahan limbah minyak pelumas. Metode yang digunakan adalah penetapan indeks emulsifikasi dan analisis aktivitas emulsifikasi (drop collapse test, oil spreading technique, uji tegangan muka) dari supernatan kultur Bacillus spp., serta karakterisasi biosurfaktan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Supernatan dari ketiga isolat Bacillus spp. menunjukkan hasil positif dengan uji drop collapse test dan oil spreading technique dengan diameter zona bening tertinggi diperoleh dari Bacillus sp 48 sebesar 10,2 mm, serta nilai indeks emulsifikasi (E24) sebesar 99,5%. Berdasarkan hasil KLT diketahui bahwa biosurfaktan yang dihasilkan oleh ketiga isolat bakteri Bacillus spp. adalah golongan lipopeptida. Bacillus spp. yang dapat menurunkan tegangan permukaan dari minyak pelumas adalah Bacillus sp 48 yaitu sebesar 19,7 dyne/cm, Bacillus sp 34 sebesar 17,9 dyne/cm dan Bacillus sp 84 sebesar 15,7 dyne/cm. Biosurfaktan dari ketiga isolat Bacillus spp. berpotensi dikembangkan dalam berbagai bidang industri. 

Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue