cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Identifikasi Keanekaragaman dan Sebaran Jenis Burung untuk Pengembangan Ekowisata Birdwatching di TWA Jering Menduyung Sonia, Anna; Jeniver, Jely; Milah, Siti Ade Nur; Irwanto, Riko
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6651

Abstract

Taman Wisata Alam Jering Menduyung memiliki potensi kenaekaragaman jenis burung yang tinggi dan dapat dikembangkan sebagai salah satu ekowisata birdwatching. Namun, data mengenai keanekaragaman dan sebaran jenis burung di kawasan ini masih sangat sedikit dan belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan sebaran jenis burung, serta jalur yang potensial untuk dikembangkan sebagai ekowisata birdwatching. Penelitian dilaksanakan pada Agustus sampai Oktober 2022. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi pada jalur 1 (hutan dataran rendah) dan jalur 2 (mangrove), serta metode IPA (Index Point of Abundance) pada jalur 3 (pantai). Hasil menunjukkan terdapat 39 spesies burung dari 11 ordo dan 24 famili, dengan nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener 2,981. Jalur 1 (hutan dataran rendah) sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi birdwatching dengan jumlah spesies burung sebanyak 30 jenis, sedangkan jalur 2 (mangrove) dan jalur 3 (pantai) dengan jumlah spesies burung sebanyak 13 jenis termasuk jalur berpotensi untuk pengamatan burung. 
Respon Morfo-anatomi dan Uji Histokimia Kemiri Sunan Terinokulasi Cendawan Endofit pada Tailing Tambang Emas Theana, Elena; Hamim; Sulistyaningsih, Yohana Caecilia; Surono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.6700

Abstract

Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) merupakan tanaman penghasil minyak non pangan yang dapat digunakan sebagai agen fitoremediasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan, anatomi, dan akumulasi Pb Kemiri Sunan yang diinokulasi jamur Dark Septate Endophyte (DSE) terhadap tailing tambang emas. Bibit berumur dua bulan yang telah diinokulasi jamur DSE 0,5% dipindahkan ke dalam pot berisi tailing tambang emas dengan konsentrasi berbeda dan ditanam selama 7 minggu. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, berat kering pucuk dan akar, luas permukaan daun dan anatomi jaringan. Analisis histokimia dilakukan untuk mengamati Pb dalam jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tailing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan parameter anatomi, tetapi tidak mempengaruhi berat kering tajuk dan akar maupun luas permukaan daun. Inokulasi DSE tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat kering pucuk dan akar, luas daun, dan parameter anatomi. Pada akar, akumulasi timbal diamati pada sel epidermis, korteks, berkas pembuluh, dan empulur akar, sedangkan pada daun diamati pada sel epidermis atas dan bawah, daerah antara xilem, dan jaringan parenkim. Inokulasi jamur DSE meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan toksisitas Pb pada Kemiri Sunan.
Perilaku Afiliatif Pasangan Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa, Ciwidey, Jawa Barat Pradekso, Nur Aisyah; Perwitasari-Farajallah, Dyah; Iskandar , Entang
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6701

Abstract

Owa jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa dengan status konservasi genting (endangered). Perilaku afiliatif merupakan perilaku sosial yang bersifat positif berupa bersentuhan, duduk berdekatan, saling menelisik, berpelukan, dan perilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku afiliatif serta kecenderungan perilaku kawin yang dilakukan pasangan owa Jawa dewasa di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa (PRPJ) Patuha, Ciwidey, Jawa Barat. Data perilaku afiliatif diambil dengan menggunakan metode focal-animal sampling selama 104 jam. Perilaku afiliatif yang teramati pada pasangan owa jawa Acoy (♀) – Iwan (♂) dan Kimba (♀) – Douglas (♂), yaitu mendekati, duduk berdekatan, bergelantungan berdekatan, dan saling menelisik. Perilaku duduk berdekatan paling banyak dilakukan oleh kedua pasangan, sedangkan perilaku saling menelisik hanya dilakukan oleh pasangan Kimba (♀) – Douglas (♂). Perilaku duduk berdekatan dilakukan dalam durasi yang paling tinggi dibandingkan perilaku afiliatif lainnya. Kedua pasangan tidak memiliki kecenderungan melakukan perilaku kawin selama pengamatan dilakukan.
Isolasi dan Karakterisasi Lactobacillus Species dari Susu Kambing Peternakan Lokal Octaviana, Cindy; Watumbara, Medista Lisa; Sugata, Marcelia; Jo, Juandy
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6718

Abstract

Mikrobiota susu kambing dapat mencakup bakteri asam laktat (BAL), khususnya Lactobacillus spp., yang berpotensi sebagai kandidat probiotik dan dapat dipergunakan dalam berbagai produk fermentasi. Pada penelitian ini, dilakukan isolasi dan karakterisasi BAL, khususnya Lactobacillus spp., dari susu kambing yang berasal dari peternakan lokal. Pada awalnya, didapatkan 25 isolat BAL dari susu kambing lokal. Semua isolat dikarakterisasi sesuai Bergey’s Manual of Systematics Archaea and Bacteria, yang dimulai dengan pewarnaan Gram, endospora dan ketahanan asam. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas biokimia (uji aktivitas katalase, uji aktivitas hemolitik, serta uji fermentasi karbohidrat) dan uji ketahanan isolat terhadap berbagai konsentrasi NaCl, pH dan suhu. Berdasarkan hasil yang diperoleh, isolat B4 dan B6 dipilih untuk diidentifikasi lebih lanjut. Kedua isolat menunjukkan kemiripan karakteristik dengan Lactobacillus spp., yaitu berbentuk basil atau kokobasil, Gram positif, tidak membentuk spora, tidak tahan asam, katalase negatif, tidak memfermentasi manitol, sensitif terhadap konsentrasi NaCl tinggi, serta tumbuh optimum pada pH 5.5-6.2 dan pada suhu 37-45°C. Identifikasi kedua isolat berdasarkan sekuens 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat B4 adalah Lacticaseibacillus paracasei dan isolat B6 adalah Limosilactobacillus fermentum. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa susu kambing peternakan lokal dapat menjadi sumber alternatif untuk mendapatkan isolat Lactobacillus spp.
Klasifikasi Accipitriformes dan Falconiformes Berdasarkan Penanda DNA Parsial Cytochrome Oxidase 1 (CO1) secara In Silico Ekajaya, Renandy Kristianlie; Endlessa, Chayra; Salsabila, Amalia Putri; Ningrum, Siti Ratu Rahayu; Hidayat, Topik
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6761

Abstract

Kategori burung pemangsa atau raptors dibagi ke dalam 3 ordo utama, yaitu Accipitriformes, Falconiformes, dan Strigiformes. Klasifikasi antara ordo Accipitriformes dan Falconiformes sering menjadi perdebatan karena spesies-spesiesnya memiliki kesamaan morfologi, namun berbeda saat memakan mangsa. Klasifikasi burung pemangsa yang telah ada memisahkan kedua ordo tersebut berdasarkan perilakunya saat menyergap dan membunuh mangsa. Maka, tujuan penelitian adalah untuk membuktikan pemisahan kedua ordo dengan pendekatan molekuler berupa data DNA. Penelitian ini menggunakan data sekunder sekuens penanda genetik DNA parsial cytochrome oxidase subunit 1 (COI) dari 15 spesies masing-masing ordo dan 1 spesies Strigiformes sebagai outgroup. Data diolah dengan menggunakan software Clustal-X dan PAUP. Hasilnya menunjukkan bahwa semua spesies memiliki tingkat homologi yang tinggi berdasarkan sekuens DNA-nya. Rekonstruksi pohon filogenetik mengklasifikasi kedua ordo ke dalam kelompok monofiletik yang membentuk dua cluster berbeda. Penelitian ini telah membuktikan bahwa Accipitriformes dan Falconiformes tidak hanya berbeda berdasarkan perilaku makann saja, melainkan namun juga berdasarkan genetik dari kedua ordo. Meskipun begitu, studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan reliabilitas hubungan filogenetik kedua ordo dengan menambahkan jumlah sampel sekunder, jenis penanda genetik, dan data primer.  
Interaksi Molekuler Senyawa Kuersetin dan Eugenol terhadap Protein Regulator Lintasan Penuaan SIR2, pada Khamir Saccharomyces cerevisiae Alfaridza, Annisa Nourma; Astuti, Rika Indri; Mubarik, Nisa Rachmania
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.6819

Abstract

Proses penuaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti peningkatan cekaman oksidatif dan inflamasi di mana senyawa antioksidan seperti kuersetin dan eugenol dapat mengatasi hal tersebut. Kuersetin dan eugenol merupakan senyawa antioksidan yang dapat ditemukan di alam. Kuersetin dan eugenol memiliki aktivitas antioksidan pada sel khamir maupun sel mamalia. Namun, mekanisme kedua senyawa ini dalam meregulasi penuaan di level molekuler belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui interaksi senyawa kuersetin dan eugenol pada protein Sir2 pada Saccharomyces cerevisiae yang memiliki peran sebagai regulator sistem penuaan. Penelitian menggunakan studi penambatan molekular dengan senyawa kuersetin dan eugenol sebagai ligan uji, sedangkan reseptornya menggunakan Sir2 asal Saccharomyces cerevisiae dengan kode PDB, 2HJH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kuersetin dan eugenol dapat berikatan secara molekuler dengan protein Sir2. Parameter afinitas ikatan (ΔG) dilihat dengan nilai negatif yang tinggi. Senyawa kuersetin memiliki afinitas ikatan (ΔG) sebesar -8.5 kkal/mol, sedangkan pada senyawa eugenol memiliki afinitas ikatan (ΔG) sebesar -6.5 kkal/mol. Selain itu, adanya ikatan kimia dan residu asam amino menunjukkan bahwa senyawa ligan uji memiliki potensi untuk bersaing dengan ligan alami. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efek ligan uji terhadap lintasan penuaan, in vivo.
Evaluasi Keragaman Fauna Avertebrata DAS Cisadane untuk Konservasi Lahan Basah Kota Bogor Prihatini, Wahyu; Sudrajat, Cecep
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i1.6857

Abstract

Lahan basah merupakan ekosistem perairan darat yang berperan penting memsok air bagi kebutuhan manusia. Penurunan kualitas perairan sungai akan berdampak terhadap keragaman jenis fauna avertebrata di ekosistem tersebut. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane merupakan aliran sungai besar, dengan daerah tangkapan air seluas 1.100 km2. Salah satu cara menilai kualitas air sungai secara biologi adalah melalui analisis makroavertebrata, karena kepekaannya terhadap bahan pencemar. Penelitian ini ditujukan untuk konservasi DAS Cisadane melalui analisis keragaman dan kelimpahan makroavertebrata. Pengambilan data dilakukan pada empat stasiun pengamatan, yaitu area Maseng (stasiun I), Pamoyanan Sari (stasiun II), Cibalagung (stasiun III), dan Bubulak (stasiun IV). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 21 spesies avertebrata, dengan tiga spesies paling melimpah, yaitu Pantala flavescenes (capung ciwet), Parathelphusa convexa (ketam/yuyu sawah), dan Lumbricina (cacing tanah). Tingkat keragaman spesies avertebrata secara keseluruhan termasuk dalam kategori keragaman sedang (indeks H’= 1,93). Tingkat keragaman spesies, dan kelimpahan spesies avertebrata ke arah hilir DAS Cisadane semakin menurun, berdasarkan kriteria indeks keragaman Shannon-Wienner, dan kelimpahan relatif spesies. Kualitas air sungai Cisadane terindikasi tercemar ringan-sedang di stasiun I, II, III, dan tercemar sedang-berat di stasiun IV.
Analisa Pendugaan Interaksi dan Dominasi Antara Jamur Saprofit dari Seresah Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Tanzil, Ahmad Ilham; Kurnianto, Agung Sih; Dewi, Nilasari; Efendi, Soleudin
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i2.6860

Abstract

Saat ini kendala utama dalam budidaya kakao yaitu terkait penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora palmivora masih belum terselesaikan. Hal ini disebabkan kondisi perkebunan kakao yang lembab menyebabkan patogen lebih cepat berkembang dan meluas dalam waktu singkat. Hal tersebut ditambah dengan seresah kulit buah kakao yang menjadi sumber inoculum penyebaran patogen. Sejauh ini petani melakukan pengendalian dengan bantuan fungisida kimia sintetik yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Alternatif pengendalian yang murah dan ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan jamur saprofit isolat lokal dari kulit buah kakao yang dapat berperan sebagai agens hayati. Penelitian dilakukan pengujian interaksi dan dominasi sesama jamur saprofit. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan berkompetisi dan hubungan antara jamur saprofit satu dengan jamur saprofit lainnya. Berdasarkan hasil penelitian bahwa jamur saprofit diduga memiliki hubungan interaksi kompetisi, mikoparasit dan antibiosis. Sedangkan hasil dominasi terendah hingga tertinggi yaitu Trichoderma sp. 3, Aspergillus sp., Trichoderma sp. 2, Trichoderma sp. 1, Rhizopus sp., Fusidium sp., Penicillium sp., dan Candida sp. Jamur saprofit dari seresah kulit buah kakao memiliki potensi dalam mengendalikan Phytophthora palmivora.
The Effect of Corn (Zea mays) Cob Extract on the Growth of Bifidobacteria Sejati, Ribka Ananda; Ariestanti, Catarina Aprilia; Amarantini, Charis
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.6942

Abstract

Corncob is a source of dietary fiber, contains xylan polysaccharides (12.4%–31.94%), and is classified as the highest xylan-producing source compared to other agricultural wastes. Human digestive enzymes cannot degrade xylan but can be enzymatically degraded by lactic acid bacteria (LAB) through fermentation. This research aimed to evaluate the effect of corncob extract on the growth of Bifidobacterium. Corncob extract is obtained through alkaline extraction. The growth of Bifidobacterium bifidum FNCC 0462 and Bifidobacterium longum FNCC 0463 was observed through in vitro fermentation for 48 h using the total plate count (TPC) method. Bifidobacterium bifidum FNCC 0462 showed the ability to ferment corn cob extract for 48 h of fermentation with the highest growth at 8 h of fermentation (4,08 log10 CFU/mL) while B. longum FNCC 0463 was able to grow up to 16 h of fermentation only. The results indicated that corncob extract could support B. bifidum FNCC 0462 growth.  
Pertumbuhan Kerang Gafrarium pec Pertumbuhan Kerang Gafrarium pectinatum pada Ekosistem Mangrove di Pesisir Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat Loinenak, Frida Aprilia; Sembay, Elsa Ancolina; Purba, Gandi Yantri Sevantina; Kaber, Yuanike; Lefaan, Paskalina Theresia; Kolibongso, Duait; Manangkalangi, Emmanuel
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i3.7025

Abstract

Kerang Gafrarium pectinatum, dengan nama lokal mambekorai, ditemukan pada ekosistem mangrove di pesisir Manokwari Selatan, Papua Barat. Sampai saat ini, spesies kerang ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai makanan. Penelitian mengenai populasi kerang G. pectinatum di lokasi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pertumbuhan dan parameter pertumbuhan yang meliputi panjang asimtotik (Lµ), koefisien pertumbuhan (K), dan perkiraan umur (t0). Sampel kerang dikumpulkan pada tiga zona (bagian bawah, tengah, dan atas) dengan menggunakan metode transek dan kuadrat. Pada setiap sampel kerang dilakukan pengukuran panjang cangkang dan berat total. Sebanyak 194 individu kerang berhasil dikumpulkan. Ukuran panjang cangkang dan berat total secara berturut-turut berkisar di antara 19,6-44,1 mm dan 2,15-30,74 g. Nilai b yang diperoleh sebesar 0,7214 dengan pola pertumbuhan alometrik negatif yang menunjukan bahwa pertambahan panjang cangkang lebih cepat dibandingkan berat totalnya. L∞, K dan t0 secara berturut-turut sebesar 45,94 mm, 0,96 tahun-1, dan -0,15 tahun. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dalam memantau perubahan kondisi populasi kerang, sehingga upaya pengelolaannya dapat berlangsung dengan baik dan keberadaan sumber daya hayati ini dapat dipertahankan.

Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue