cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Polimorfisme Genetik DNA Mikrosatellite GEN BoLA Lokus DRB3 pada Sapi Bali (Bos indicus) I Ketut Puja; I Nengah Wandia; Putu Suastika; I Nyoman Sulabda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.116

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dasar mengenai distribusi frekuensi lokus DRB3 gen BoLa (bovine lymphocyte antigen) pada sapi Bali. Untuk isolasi DNA digunakan sampel darah sapi Bali yang diambil dari populasi sapi Bali yang berasal dari Bali dan sapi Bali yang berasal dari Nusa Penida. Jumlah sampel untuk sapi Bali yang berasal dari Bali adalah 22 ekor dan sapi yang berasal dari Nusa Penida 21 ekor. Jumlah allel lokus DRB3 pada sapi Bali asal Bali adalah 7 dan 9 allel dari sapi Bali asal Nusa Penida. Rataan heterozigositas perlokus adalah 0,7967 pada sapi Bali asal Nusa Penida dan 0,7863 pada sapi Bali asal Bali. Nilai PIC lokus DRB3 pada sapi Bali asal Nusa Penida adalah 0,7417 dan 0,742 pada sapi Bali asal Bali. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini adalah lokus DRB3 pada sapi Bali sangat polimorfik.
Metode Sensitif untuk Identifikasi Pencemaran Babi pada Makanan Tanpa Diolah dengan Teknik Amplifikasi PCR Endang Tri Margawati; Muhamad Ridwan; Indriawati Indriawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.117

Abstract

Pada era globalisasi akhir-akhir ini, tidak mungkin menghindar dari masuknya bahan makanan olahan atau tanpa diolah dari luar negeri. Tujuan penelitian ini yaitu menguji sensitivitas (kerentanan) teknik PCR untuk deteksi kandungan rendah kontaminan daging babi pada daging sapi mentah. Sebanyak 5 tingkat kontaminan daging babi (0,05; 0,10; 0,15; 0,20 dan 0,25%) dalam 5 gram berat total campuran daging telah diuji. Ke lima campuran daging dan 100% daging sapi serta 100% daging babi, dikoleksi DNA nya menggunakan kit DNA (QIAGEN). Satu pasang primer spesifik untuk porcine Leptin digunakan dalam amplifikasi DNA dengan kit PCR. Suhu annealing ditentukan dengan optimasi PCR terlebih dahulu. Dua siklus PCR (25 dan 35) diaplikasikan dalam amplifikasi. Produk PCR divisualisasi pada 1020% gradient PAGE untuk spesifik porcine Leptin. Hasil menunjukkan bahwa ukuran potongan Leptin (152pb) telah teridentifikasi pada ke lima sampel sampuran maupun pada control positif (pork), namun tidak terindikasi pada kontrol negatif (daging sapi). PCR dengan 35 siklus menghasilkan tampilan pita lebih baik dari 25 siklus. Studi ini menyarankan bahwa PCR dengan 35 siklus dapat digunakan sebagai metode cepat untuk identifikasi pencepamaran daging babi dengan dengan tingkat sensitivitas pencemaran daging babi sampai 0,05%.
Phylogenetic Tree dari Empat Isolat Edwardsiella Tarda di Indonesia Siti Narwiyani; Kurniasih Kurniasih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya kemungkinan subspecies Edwardsiella tarda secara molekuler. Edwardsiella tarda dapat diisolasi dari ikan Tilapia dan air yang tercemar dan diidentifikasi secara PCR dengan amplifikasi gen hemolysin. Isolat E. tarda diperoleh dari ikan nila (Yogyakarta), lele (Semarang dan Jambi), kura-kura impor (Brazilia), ikan mas (Pontianak). Isolat atipikal E. tarda (ATCC) dari Singapura digunakan sebagai pembading 4 isolat E. tarda dari Indonesia. Semua isolat E. tarda diekstraksi, diamplifikasi rRNA pada SSU 16S dan disequencing. Hasil sekuensing allignment menggunakan program CLUSTAL W versi 1.8. Selanjutnya dianalisis dengan metode neighbour-joining dan metode maximum parsimony untuk menghasilkan pohon phylogenetik (Saitou dan Nei, 1987). Phylogenetic tree menunjukkan bahwa 3 isolat E. tarda dari ikan merupakan strain yang sama dibanding E. tarda dari kura- kura Brazil dan isolat ATCC yang berasal dari manusia.
Mikrobiota Dominan dan Perannya dalam Cita Rasa Tape Singkong Tati Barus; Lydia Natalia Wijaya
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.119

Abstract

Tape singkong adalah jenis pangan fermentasi traditional Indonesia. Kualitasnya ditentukan oleh mikrob. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan menginvestigasi mikrob dominan dan mengkaji peranan mikrob tersebut terhadap cita rasa tape singkong. Analisis mikrob dilakukan terhadap tape singkong yang diperoleh dari Jakarta. Identifikasi khamir dilakukan berdasarkan sekuen daerah ITS rDNA, dan identifikasi bakteri berdasarkan sekuen gen 16S rRNA. Kelimpahan khamir ditemukan sekitar 10 7 CFU/g yang terdiri atas Saccharomyces cereviceae dan Pichia jadini. Bakteri yang dominan ditemukan Bacillus subtilis, Lactobacillus plantarum, dan Pseudomonas fragi. Masing-masing dengan kelimpahan 10 8 CFU/g. Tape singkong telah diproduksi menggunakan S. cereviceae (KO), S. cereviceae + B. subtilis (K1), S. cereviceae + L. plantarum (K2), dan S. cereviceae + P. fragi (K3). Produksi tape singkong menggunakan S. cereviceae (KO) memiliki kualitas paling rendah karena teksturnya keras, tidak beraroma, tidak manis, sehingga tidak memiliki karakteristik tape singkong secara umum. Tape singkong yang diproduksi menggunakan S. cereviceae + B. subtilis (K1) paling menguntungkan karena rasanya manis, aroma alkoholnya tidak terlalu tajam, dan tekstur lembut sehingga merupakan jenis tape singkong yang paling disenangi oleh panelis.
Penapisan Jamur Penghasil Senyawa Antimikroba dari Tanah Bangka dan Taman Wisata Alam Sibolangit serta Potensinya Menghambat Pertumbuhan Beberapa Jamur Patogen Tanaman Dwi Suryanto; Rahmiati Rahmiati; Kiki Nurtjahja
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.120

Abstract

Kajian tentang penapisan jamur tanah penghasil senyawa antimikroba yang diisolasi dari Bangka dan Taman Wisata Alam Sibolangit dan kemampuannya menghambat pertumbuhan jamur penyakit tanaman telah dilakukan. Tiga puluh isolat jamur diisolasi dari tanah menggunakan agar dektrosa kentang. Jamur yang ditemukan termasuk genus Penicillium, Aspergillus, Fusarium, Curvularia, Rhizomucor, Paecilomyces, Moniliella, Eupenicillium, dan Trichoderma, dan empat jamur tidak dapat diidentifikasi yaitu sp.1, sp.2, sp.3, dan sp.4. Jamur yang paling sering ditemukan dari genus Aspergillus dan Penicillium. Empatbelas isolat berpotensi menghambat pertumbuhan pertumbuhan Ganoderma boninense dan Fusarium oxysporum. Tidak ada isolat yang mampu menghambat pertumbuhan Penicillium citrinum. Ekstrak methanol Penicillium sp.1 menunjukkan kemampuan terbesar dalam menghambat pertumbuhan G. Boninense, sedangkan Penicillium sp.8 menghambat pertumbuhan F. oxysporum.
Karakterisasi Isolat Rhizoctonia sp. Patogenik dan Rhizoctonia Mikoriza Pada Tanaman Anggrek Tanah Spathoglottis plicata Soelistijono Soelistijono; Achmadi Priyatmojo; Endang Semiarti; Christanti Sumardiyono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.121

Abstract

Rhizoctonia mikoriza merupakan jamur yang mampu berasosiasi dengan anggrek tanah. Selain sebagai mikoriza, terdapat isolat Rhizoctonia sp. patogen dan penyebab penyakit busuk akar pada Spathoglottis plicata. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan antara Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza secara morfologi dan molekular menggunakan teknik RAPD. Hasil penelitian secara morfologi menunjukkan bahwa warna koloni, panjang dan jumlah inti sel isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza pada S. plicata tidak berbeda, tetapi berbeda pada ketebalan sel dan pengelompokan isolat berdasarkan uji anastomosis hifa. Teknik molekuler RAPD menunjukkan bahwa setiap isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza memiliki perbedaan pada struktur DNA.
Perbaikan Adaptasi Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) di Dataran Rendah Melalui Mutasi Induksi Rati Riyati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.122

Abstract

Penelitian bertujuan meningkatkan keragamanan genetik tanaman gandum di Indonesia melalui teknik mutasi menggunakan sinar gamma dari Cobalt-60, dan menemukan galur gandum yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Gadjah Mada, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada ketinggian  150 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor I adalah iradiasi sinar gamma yang terdiri atas 3 aras, yaitu D0 : Tanpa perlakuan iradiasi, D1: iradiasi 20 Krad, dan D2: iradiasi 30 Krad. Faktor II adalah tanaman M3 yang terdiri atas 4 aras, yaitu: V1=WL- 2265, V2=SA-75, V3=DWR -195, dan V4=PN-81. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma dengan Cobalt-60 dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman gandum di Indonesia dengan tetua WL-2265, SA-75, DWR-195, dan PN-81, sehingga dapat digunakan sebagai sumber genetik baru dalam program hibridisasi. Varietas WL-2265 dan DWR-195 yang diberi perlakuan iradiasi sinar gamma Cobalt-60 dengan dosis 20 krad maupun 30 krad dapat menghasilkan galur gandum yang mampu tumbuh di dataran rendah dengan hasil yang lebih baik daripada tanaman tetuanya.
Efek Ekstrak Teh Hijau terhadap Kadar Malondialdehid Nitrit Oksida dan Glutation Peroksidase Darah Tikus Putih Terpapar Plumbum Hernayanti Hernayanti; Ahmad Hamim Sadewa; Bambang Hariono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.123

Abstract

Plumbum bersifat toksik terhadap manusia. Teh hijau digunakan untuk mengobati penyakit karena mengandung catechin. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek catechin ekstrak teh hijau sebagai kelator Pb. Sebanyak 36 ekor tikus Wistar digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi 6 kelompok, 6 ekor per kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif. Kelompok II sampai VI diberi Pb asetat selama penelitian (66hari). Kelompok II sebagai kontrol positif tidak diberi perlakuan. Kelompok III, IV, dan V pada hari ke 35 diberi ekstrak teh hijau masing- masing 0,75 g/kgbb, 1,5 g/kgbb dan 3 g/kgbb. Kelompok VI diberi dimerkaprol dosis 3 g/kgbb sebagai pembanding. Ada tidaknya beda nyata antar perlakuan dianalisis dengan ANOVA diikuti dengan uji Duncan untuk mengetahui letak perbedaan. Parameter yang diukur adalah malondialdehid, aktivitas glutation peroksidase dan nitrit oksida, diukur dengan komersial kit. Hasil penelitian menunjukkan semua dosis ekstrak teh hijau dapat menurunkan MDA, Pb darah dan meningkatkan GPx serum serta NO. Dosis 3 g/kgbb optimum dalam menurunkan kadar MDA dari 2,75–0,07 µmol/L dan Pb darah dari 2,35–0,02 ppm. GPx serum meningkat dari 58,5–177 µmol/L dan NO serum dari 1,27,95 µmol/L. Simpulan hasil penelitian, ekstrak teh hijau dapat digunakan sebagai kelator Pb.
Aktivitas Antibakteri dari Damar Batu (Shorea eximia) asal Indonesia Noryawati Mulyono; Bibiana Widiyati Laya; Siuling Susanti Rusli
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.124

Abstract

Damar batu adalah resin natural, atau lebih tepatnya adalah hasil hutan bukan kayu dari tumbuhan Shorea eximia. Getah ini dihasilkan sebagai metabolit sekunder yang diinduksi oleh malnutrisi dan kekeringan. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi aktivitas antibakteri dalam metabolit sekunder tersebut. Resin dilarutkan dalam heksana, etil asetat, dan etanol secara terpisah selama 24 jam dengan konsentrasi 0,5 g L -1 . Selanjutnya, aktivitas antibakteri diuji terhadap Escherichia coli, Salmonella typhi, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, Chromobacter violaceum, Streptococcus sp., Staphylococcus aureus, S. epidermidis, dan Bacillus cereus. Tiga komponen utama dalam damar batu yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah δ-kadinen, valencene, dan spatulenol.
Kemampuan Asimilasi Kolesterol Tiga Strain Lactobacillus acidophilus Dalam Medium Cair Berkolesterol Widodo Widodo; Indratiningsih Indratiningsih; Widyantoro Widyantoro; Putri Adi Pertiwi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.125

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui kemampuan asimilasi kolesterol dari tiga strain Lactobacillus acidophilus FNCC 101, FNCC 108, dan FNCC 120. Uji asimilasi kolesterol dilakukan secara in vitro dengan menumbuhkan strain L. acidophilus secara anaerobik pada suhu 37 o C selama 24 jam pada media MRS broth mengandung kolesterol dan oxgall 0,4% (w/v). Konsentrasi kolesterol pada supernatan diukur dengan spektrofotometri panjang gelombang 550nm dan absorbansi yang diperoleh dipakai untuk menghitung kadar kolesterol berdasarkan standar kolesterol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. acidophilus menurunkan konsentrasi kolesterol pada supernatan. Tanpa inokulasi L. acidophilus, konsentrasi kolesterol pada supernatan adalah 1,46 μg/ml, sedangkan setelah inokulasi dengan L. acidophilus FNCC 120, 108 dan 101 konsentrasi kolesterol secara berurutan adalah 0,45; 0,47; dan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol optimum terjadi pada penambahan oxgall 0,4% (w/v) dengan konsentrasi kolesterol 0,52 μg/ml tersisa di supernatan dibandingkan konsentrasi 0,81 dan 0,71 μg/ml pada penambahan oxgall 0,1 dan 0,3%. Asimilasi kolesterol optimum pada suhu 37 o C dengan konsentrasi kolesterol supernatan 0,52 μg/ml. Asimilasi kolesterol meningkat setelah pertumbuhan mencapai fase logaritmik dan optimum setelah inkubasi 15 jam. Sebagai simpulan, L. acidophilus FNCC 101 mempunyai kemampuan asimilasi kolesterol tertinggi, ini dicapai pada suhu pertumbuhan 37 o C, penambahan oxgall 0,4% dan pada fase pertumbuhan logaritmik.

Page 63 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue