cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Kreativitas Wahyu Santosa Prabowo dalam Penggarapan Dramatari Sunan Kalijaga Widowati, Kawuryansih
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12762

Abstract

RINGKASANArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kreativitas Wahyu Santosa Prabowo dalam menggarap dramatari Sunan Kalijaga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Wahyu dalam penggarapan dramatari Sunan Kalijaga tampak pada kemampuannya dalam memecahkan masalah ketika diminta menggarap sebuah karya tari yakni dengan cara memilih perjalanan spiritual Sunan Kalijaga sebagai ide garap tari. Ide kreatif muncul karena adanya beberapa aspek yang turut menunjang kreativitas. Di antaranya adalah keterlibatannya ketika dipercaya untuk menggarap karya tari di Universitas Michigan, kepekaan Wahyu dalam memahami situasi seperti memahami kemampuan penari dan pengrawit yang semua merupakan mahasiswa asing, dan perhatiannya untuk menampilkan seni Jawa yang digarap dengan memadukan nuansa Islam di negeri Paman Sam. Kreativitas juga tampak pada serangkaian proses kreatif penciptaan tari yang ia lakukan, yang terdiri dari proses eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Dari adanya ide kreatif yang muncul dan serangkaian proses kreatif yang telah dilakukan tersebut tersebut terwujudlah bentuk sajian dramatari Sunan Kalijaga yang kental dengan nuansa Jawa dan Islam dengan penari dan pengrawit yang terlibat kebanyakan merupakan mahasiswa asing.ABSTRACTWahyu Santosa Prabowo’s Creativity in The Creation of Sunan Kalijaga Dance Drama. This article aims to describe the creativity of Wahyu Santosa Prabowo in the creation of Sunan Kalijaga dance drama. This research uses a qualitative approach with a descriptive qualitative method. The data are collected through observation, interview, and documentation techniques. The finding of this research shows that Wahyu’s creativity in creating Sunan Kalijaga dance drama is showcased in his problem-solving ability upon being asked to create a dance drama by choosing the spiritual journey of Sunan Kalijaga as the core idea for the dance. Such creative idea appears due to a number of aspects which support creativity. Among those aspects are his involvement when trusted to work on a dance in The University of Michigan, his sensitivity in grasping the situation such as knowing well about the skills and ability of the dancers and narrators even though the majority were foreign students, as well as his attention to show Javanese art which was created with Islamic nuance in The United States of America. His creativity is also visible in a set of creative processes while creating the dance, which includes exploration, improvisation, and formation. Thus, this resulted in the emergence of creative idea which led to the creation of dance drama of Sunan Kalijaga with its thick nuance of Javanese and Islamic culture, and with dancers as well as narrators who were mostly foreign students.
NALA: KARYA TARI YANG TERINSPIRASI DARI TOKOH SINTA YANG DIKORELASIKAN PADA FENOMENA MASA SEKARANG
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11274

Abstract

ABSTRAKKarya tari Nala terinspirasi dari tokoh Sinta dalam kisah pewayangan Ramayana. Dikisahkan, selama Sinta diculik Rahwana, ia merasa sedih, marah, putus asa, dan juga rindu. Hal ini memunculkan ide gagasan penciptaan tari yang dituangkan dalam sebuah koreografi Tunggal, bertipe dramatik dengan tema kesetiaan. Metode penciptaan yang digunakan dari Alma Hawkins yang menguraikan proses penciptaan terdiri atas eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Penyajian karya ini menggunakan sajian sinematografi dengan memperhatikan ruang pertunjukan berdasarkan angle kamera. Karya tari yang berdurasi 9 menit, proses penggarapannya berpijak pada esensi filosofi ngenceng yaitu teteg sebagai sumber kreatif gerak tari gaya Yogyakarta yang terdiri dari 4 bagian. Bagian I menggambarkan keadaan Sinta ketika bermimpi tentang Rahwana, bagian II penggambaran perasaan Sinta ketika dibaluti kesedihan, bagian III menyajikan sifat manusiawi yang ada di dalam diri Sinta, yaitu marah dan kecewa, dengan menghadirkan setting kain berwarna merah sebagai properti memberi suasana tegang. Bagian IV menghadirkan motif ngenceng penggambaran rasa sabar dan legawa dengan kain berwarna putih sebagai simbol keikhlasan.ABSTRACTNala's dance work is inspired Sinta, by the puppet character in the Ramayana story. The story of Sinta's journey while being abducted by Rahwana gave rise to feelings of sadness, anger and longing, bringing up ideas that were poured into a single choreography. This work is presented in the form of a single choreography with the choreographer as a dancer. This solo choreography is of dramatic type and the theme in this work is loyalty. The idea was used as a foothold by using the Alma Hawkins method in the process of its creation, namely; exploration, improvisation, composition, and evaluation. The presentation of this work uses a cinematographic presentation by paying attention to theperformance space based on the camera angel in certain parts. This work is 9 minutes long with the process of making it based on the essence of the ngenceng philosophy, namely teteg as a creative source of motion so that it produces 4 parts. Part I contains the state of Sinta when dreaming about Ravana, part II describes how Sinta feels when she is sad, part III presents Sinta's human nature, namely anger and chaos, by presenting cloth settings and costume play which are used as props to give a tense atmosphere. Part IV presents the motif of ngenceng depicting a sense of patience and relief as a symbol of sincerity.
WA ODE MENERJANG BADAI: KARYA TARI YANG MEREFLEKSIKAN PERJUANGAN PEREMPUAN BUTON DALAM MENGGAPAI KEMERDEKAAN
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11279

Abstract

RINGKASANWa Ode Menerjang Badai adalah perjuangan wanita Buton dalam melawan kebebasannya. Koreografinya terinspirasi oleh pribadi penulis/koreografer sebagai wanita yang menyandang gelar bangsawan Ode. Hari ini, banyak perempuan Buton Ode yang benar-benar ingin mencapai tujuannya dengan membuat pilihan sendiri. Dalam lagu Khabanti tradisional dan novel modern Di bawah bayang-bayang, Ode digambarkan sebagai perempuan yang hampir tidak memiliki kebebasan karena dibatasi secara ketat oleh aturan tradisional di mana pernikahan yang diatur adalah kebiasaan di antara keluarga kerajaan. "Wa Ode Menerjang Badai ” ditarikan oleh lima orang penari perempuan, salah satunya bertindak sebagai Wa Ode — karakter utama — yang berjuang untuk kebebasan dan status yang setara. Sepanjang koreografi Wa Ode mengungkapkan rasa frustrasi, kebingungan, dan kecemasannya berbagai cara untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan, yaitu membebaskan wanita Buton dari dunia maya yang belenggu aturan tradisional untuk mencapai kebebasan dan kesetaraanABSTRACTWaode Crossing the Storm is the struggle og Buton women in fighting their freedom. The choreography is inspired by the author-choreographer’s personal experience as a woman who bears the noble title of Ode. Today, many Buton Ode women really want to achieve her goals by making her own choices. In the traditional khabanti songs and modern novel Under Shadow of Ode, the Ode women are depicted as almost having no freedom bounded strictly by traditional rules in which arranged marriage is customary among royal families. “Waode Crossing the Storm” is performed by five female dancers one of them acts as Waode—the main character—who is fighting for freedom and equal status. Along the choreography Waode expresses he frustration, confusion, and anxiety indifferent ways to make her dream a reality, i.e, freeing Buton women from the shackles of traditional rules to achieve freedom and equality.
Peran Pendidikan Seni dalam Penyebaran Agama Islam untuk Membentuk Karakter Religius Parhan, Muhamad; Nirmala, Fatra Lena; Herlianingrat, Ratu Stevanny; Purnamasari, Wulan
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12763

Abstract

RINGKASANDi zaman dengan kemajuan teknologi saat ini, berdampak negatif pada anak-anak ataupun masyarakat akan kurang terbentuknya karakter religius. Dampak negatif ini menimbulkan adanya kesenjangan sosial, kurangnya sopan santun, sampai perilaku buruk lainnya. Pembentukan karakter religius membutuhkan proses dan peran dalam pendidikan. Peran pendidikan bukan hanya dari sisi agama saja, tetapi dapat juga dari sisi pendidikan seni. Pendidikan seni memiliki peran untuk membentuk manusia yang beradab, berdisiplin, bertanggung jawab, maupun religius. Suatu pesan baik yang terkandung di dalam suatu karya seni, akan bisa mengubah perspektif dan sikap seorang peserta didik ke arah yang positif. Peran pendidikan seni dirancang suatu strategi untuk membentuk identitas dan perilaku yang disesuaikan pada ketentuan dan ketetapan agama Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penyebaran agama Islam melalui pendidikan seni dalam membentuk sebuah karakter religius pada masyarakat, dan juga bisa mengembangkan potensi diri untuk berkelakuan baik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada pembentukan karakter religius perlu adanya pembiasaan dari diri sendiri, dan pendidikan seni hanya sebagai perantara atau jembatan untuk melakukan proses pembiasaan tersebut.ABSTRACTIn this age of a lot of technology, there is a negative impact on religious character that makes children or society less formed. From the negative impact it causes social inequality, lack of manners, to other bad behavior. In the formation of religious character requires the process of several roles in education. Not only the role of religious education, but there are other roles such as art education. From this art education, it has a role to form civilized, disciplined, responsible, and religious human beings. A good message contained in a work of art, will be able to change a person's perspective to be able to change his attitude towards a more positive one. In that role, a strategy is designed to form a good identity and behavior that is adjusted to the provisions and what is stipulated by the Islamic religion. The purpose of this study is to describe the spread of Islam through art education in shaping a religious character in society, and also to develop selfpotential for good behavior. In this research, descriptive method is used and the approach is qualitative. Then from this research it will result that in the formation of religious character it is necessary to habituate oneself, and art education is only an intermediary or bridge to carry out the habituation process
REPRESENTASI GONG DALAM TARI NGERUAI KENEMIAK (ANALISIS POLA DUA ESTETIKA PARADOKS) Regaria Tindarika; Winda Istiandini; Ahadi Sulissusiawan
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11275

Abstract

ABSTRAKTari Ngeruai Kenemiak memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapatpenggunaan alat musik Gong sebagai properti tarinya. Gong ini dimainkan selama pertunjukan tari berlangsung. Adapun cara memainkannya dengan dipegang, diayunkan ke atas dan bawah, diinjak, dan diduduki. Dengan menggunakan teori estetika paradoks oleh Jakob Sumarjo, penelitian ini akan dianalisis berdasarkan bentuk properti, cara penggunaannya dalam upacara maupun tari Ngeruai Kenemiak. Metode yangdigunakan adalah deskriptif dan bentuk penelitian ini adalah kualitatif. Data dianalisis melalui pendekatan semiotik. Teknik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi danstudi pustaka. Melalui tari Ngeruai Kenemiak tergambar jelas bahwa tari ini mendapat inspirasi dari prosesiadat Ngeruai Kenemiak yang merupakan upacara kelahiran bayi suku Dayak Kantu’. Gong yang setelah dianalisis menggunakan pola dua menggunakan estetika paradoks merupakan representasi dari dunia, siklus kehidupan, serta peran manusia di dalamnya sangat terikat oleh hungungan antar sesama manusia, alam sekitarnya dan juga Petara atau Tuhan.ABSTRACTThis research is motivated by Ngeruai Kenemiak dance which has its own uniqueness, namely the use of Gongmusical instruments as dance properties. This gong is played during the dance performance. As for how to playit, it is to be held, swinging up and down, being stepped on, and being occupied. Using the paradoxical aesthetic theory by Jakob Sumarjo, this research will be analyzed based on the shape of the property, the way it is used in ceremonies and Ngeruai Kenemiak dance. The method used is descriptive and the form of this research is qualitative. The data are analyzed through a semiotic approach. The techniques carried out in this study are observation, interviews, documentation and literature studies. Through the Ngeruai Kenemiak dance, it is clearly illustrated that this dance draws inspiration from the traditional procession of Ngeruai Kenemiak whichis the birth ceremony of the baby of the Dayak Kantu tribe'. Gong, which after analysis using pattern two usingparadoxical aesthetics, is a representation of the world, the cycle of life, and the role of humans in it is very much bound by the relationship between fellow humans, the surrounding nature and also Petara or God.
Analisis Biosemiotik dan Etnokoreologi dalam Zapin Selatpanjang pada Motif Langkah Asas Jalan Irawan, Pebri; Martiara, Rina; Setyastuti, Setyastuti
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12741

Abstract

RINGKASANPenelitian ini diawali dengan perspektif biosemiotik karena keterkaitan budaya leluhur penulis dengan tanda alam yang kuat dan ekspresi budaya yang muncul dari alam. Kebudayaan tradisional dibangun dengan mempertimbangkan kondisi alam serta adaptasi atasnya. Pengetahuan terarsip dalam kesenian tradisi termasuk pada budaya gerak yang dalam analisis ini adalah tarian Zapin Selatpanjang pada motif langkah Asas Jalan. Motif tersebut kemudian dianalisis dengan teori biosemiotik untuk memahami makna sinyal alam dalam gerakan. Etnokoreologi juga digunakan untuk mengidentifikasi konteks budaya di balik gerakan tarian. Studi kasus melihat adaptasi manusia terhadap alam melalui motif tari Zapin Selatpanjang, yang menghubungkan masyarakat dengan laut. Biosemiotika menyoroti pembentukan makna dalam interaksi organisme dengan lingkungan. Tarian Zapin Selatpanjang merefleksikan adaptasi tubuh masyarakat terhadap lingkungan geografis uniknya. Konsep biosemiotik, koreologi, dan etnokoreologi digunakan untuk menganalisis integrasi pengetahuan lokal tentang alam dalam gerakan tarian tradisional sebagai arsip pengetahuan alam.ABSTRACTThis research begins with a biosemiotic perspective due to the strong connection of the author's ancestral culture with natural signs and cultural expressions emerging from nature. Traditional culture is constructed by considering natural conditions and adaptations to them. Archived knowledge in traditional arts, including in the realm of movement culture analyzed in this study, focuses on the Zapin Selatpanjang dance with its "Asas Jalan" (Basic Steps) motif. This motif is then analyzed using biosemiotic theory to understand the meaning of natural signals in movement. Ethnochoreology is also employed to identify the cultural context behind dance movements. Case studies examine human adaptation to nature through motifs in the Zapin Selatpanjang dance, which connects communities with the sea. Biosemiotics highlights the formation of meaning in organism-environment interactions. The Zapin Selatpanjang dance reflects the community's bodily adaptation to its unique geographic environment. Concepts of biosemiotics, choreology, and ethnochoreology are used to analyze the integration of local knowledge about nature in traditional dance movements as a repository of environmental knowledge.
Penyajian Tari Topeng Klana Cirebon Gaya Gegesik dalam Konteks Budaya Pesisir sebagai Sumber Kearifan Lokal Pramadanti, Triana; Malarsih, Malarsih; Hartono, Hartono
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12764

Abstract

RINGKASANTari topeng klana gaya Gegesik merupakan salah satu gaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Namun tidak sedikit masyarakat yang dapat memahami bagaimana pentingnya menjaga dan melestarikan tari topeng klana gaya Gegesik dengan mempelajari isi dari unsur-unsur tari yang terdapat di dalamnya yang tertuang dalam bentuk penyajian tari. Dengan memahami komponen-komponen yang ada di dalamnya, tari topeng klana gaya Gegesik akan tetap terjaga keasliannya tanpa mengubah satu hal apapun yang menjadi pakem tari topeng klana gaya Gegesik. Tari topeng klana gaya Gegesik memiliki daya tarik yang tinggi untuk ditampilkan dalam acara acara upacara, penyambutan tamu agung, maupun mengisi event-event baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun di luar pemerintahan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi sebagai pisau bedah untuk mengkaji komponen teks pada tari. Terdapat 8 komponen teks dalam tari topeng klana gaya Gegesik yaitu gerak, penari, rias, busana, pola lantai, music, property, tempat pertunjukan. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah penelitian, ditemukan bahwa bentuk penyajian tari topeng klana gaya Gegesik memiliki 8 komponen yang saling berkaitan dan tidak dapat mengubah keaslian di dalamnya, dengan demikian tari topeng klana Cirebon gaya Gegesik memiliki unsur-unsur yang tidak dapat diubah begitu saja dan memiliki makna dan nilai yang tersirat disetiap gerak, musik, kostum dan unsur-unsur lainnya.ABSTRACTGegesik-style Klana mask dance is one of the styles that have survived to the present day. The importance of maintaining and preserving the Gegesik-style Klana mask dance, which is comprised of dance elements presented in the form of a dance perfomance, is understood by a few people who have studied its dance elements. By comprehending the elements contained therein, the Gegesik style of the masked Klana dance will maintain its authenticity without altering a single aspect of the Gegesik style masked Klana dance's standard. Gegesik-style Klana mask dance has excellent appeal for ceremonial events, welcoming guests, and filling in events organized by government and non-government organizations. This study used qualitative research and an ethnochoreological methodology as a scalpel to investigate the textual components of dance. The Gegesik style Klana mask dance has eight text components: movement, dancers, make-up, clothing, floor patterns, music, property, and place of performance. Collecting data was done with observation, interviews, and document analysis. After conducting research, the researcher discovered that the form of perfomance of the Gegesik-style masked Klana dance consists of eight interrelated components that cannot be changed without altering its authenticity. Consequently, the Gegesik-style Cirebon masked Klana dance contains elements that cannot be easily altered, as well as meanings and values implicit in every movement, music, costume, and another component.
ANALISIS KOREOGRAFI TARI SETABEK DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN Widya Yuli Sartika; Rina Martiara; Budi Astuti
Joged Vol 22, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v22i2.11276

Abstract

RINGKASANTari Setabek merupakan tari penyambutan tamu yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Tari ini ditarikan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 1 orang penari utama (pembawa tepak), 2 orang penari dayang penabur bunga, 4 orang penari pengiring, 2 orang pembawa tombak (laki-laki), dan 1 orang pembawa payung (laki-laki). Untuk menganalisis, dipakai pendekatan koreografi. Analisis pendekatan koreografi meliputi aspek bentuk, teknik, dan isi serta aspek tenaga, ruang dan waktu. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pemahaman analisis koreografi terdiri dari prinsip-prinsip kebentukan yang meliputi kebentukan, variasi, repetisi, transisi, rangkaian, dan klimaks. Struktur tari Setabek terdiri dari 3 bagian berdasarkan pola iringan, pola gerak, dan pola lantai, yaitu Jebo Maro (pembuka), Bedundai (inti), dan Karang Buri (penutup). Secara koreografis dapat disimpulkan bahwa ragam gerak yang spesifik pada tari Setabek adalah motif tabek dan motif lambaian, karena motif tersebut sering muncul atau dilakukan berulang kali dan juga sebagai motif penghubung antara gerakan yang satu dengan yang lainnya. Dari analisis struktur, tari Setabek memiliki 6 kalimat gerak dan 18 frase. Jumlah keseluruhan motif yang ada pada tari Setabek yaitu 128 motif yang terdiri atas 11 jenis motif dari 123 jumlah motif putri dan 5 jenis motif dari 5 jumlah motif laki-laki dengan 10 pola lantai yang digunakan. Dari struktur ini terlihat secara kebentukan bahwa tari Setabek merupakan tari yang bertemakan penyambutan tamu yang bisa dilihat dari gerakannya yang mencirikan penghormatan. Secara teknik gerak-gerak dalam tari Setabek ini memiliki kecendrungan bergerak sejajar dengan torso dan gerakan yang dilakukan juga tidak terlalu luas atau lebar, kebanyakan gerak yang dilakukan bergerak secara lemah lembut dan mengayun, serta hal tersebut juga didukung dengan musiknya yang sangat lembut dan mengalir. Secara isi tari Setabek merealisasikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Musi Banyuasin, hal tersebut terlihat dari segi kostum, properti, dan lain-lain.ABSTRACTThis study analyzes the choreography of the Setabek dance in Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. Setabek dance is a welcoming dance that is characteristic of Musi Banyuasin Regency, South Sumatra. This dance is danced by 10 dancers consisting of 1 main dancer (slap bearer), 2 flower-sowing dayang dancers, 4 accompaniment dancers, 2 spear bearers (male), and 1 umbrella carrier (male). To analyze, used a choreographic approach. The analysis of the choreographic approach includes aspects of form, technique, and content as well as aspects of energy, space and time. The three concepts are a unified whole. The understanding of choreographic analysis consists of the principles of formation which include formation, variation, repetition, transition, sequence, and climax. The structure of the Setabek dance consists of 3 parts based on the accompaniment pattern, movement pattern, and floor pattern, namely Jebo Maro (opener), Bedundai (core), and Karang Buri (cover). Choreographically, it can be concluded that the specific range of motion in the Setabek dance is the tabek motif and the waving motif, because these motifs often appear or are performed repeatedly and also serve as a connecting motif between one movement and another. From the structural analysis, the Setabek dance has 6 sentences of movement and 18 phrases. The total number of motifs in the Setabek dance is 128 motifs consisting of 11 types of motifs from 123 female motifs and 5 types of motifs from 5 male motifs with 10 floor patterns used. From this structure, it can be seen from the form that the Setabek dance is a dance with the theme of welcoming guests which can be seen from its movements that characterize respect. Technically the movements in this Setabek dance have a tendency to move parallel to the torso and the movements performed are also not too broad or wide, most of the movements performed are gentle and swaying, and this is also supported by the music which is very soft and flowing. The content of the Setabek dance realizes the values that exist in the Musi Banyuasin community, this can be seen in terms of costumes, properties, and others.
Wariga Murti: Sebuah Transformasi Tumpek Wariga dalam Bentuk Karya Tari Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta; Santosa, Hendra; Padmini, Tjok Istri Putra; Sutirtha, I Wayan
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12743

Abstract

RINGKASANArtikel ini memaparkan hasil studi/projek independen program kegiatan MBKM yang dilakukan pada semester VII (September-Desember 2022). Kegiatan MBKM berupa projek independen yang bermitra kerja dengan Sanggar Semara Ratih, menciptakan sebuah karya tari hasil kolaborasi antara pencipta dengan Sanggar Semara Ratih. Proses penciptaan karya tari inovatif diwujudkan dengan menggunakan metode penciptaan Angripta Sasolahan yang tahapannya terdiri dari ngarencana, nuasen, makalin, nelesin dan ngebah. Tari Wariga Murti bertemakan tumbuhan-spirit religius, ditarikan oleh 6 orang penari. Tata rias Tari Wariga Murti menggunakan tata rias karakter untuk memperjelas karakter yang ingin ditonjolkan. Sedangkan tata busana Tari Wariga Murti yaitu memasukkan unsur atau elemen warna tumbuhan ke dalam busana. Karya tari ini memiliki struktur yang terdiri dari tiga bagian dan berdurasi 11 menit dengan musik tarinya menggunakan MIDI. Terciptanya karya Tari Wariga Murti, pencipta berharap peristiwa budaya Tumpek Wariga tetap dapat ditarikan dan terpelihara dengan baik.ABSTRACTWariga Murti : Transformation Of Tumpek Wariga In The Form Of Dance This article aims to present the results of independent studies/projects of the MBKM activity program while the creators are participating in semester VII (September-December 2022). MBKM activities are in the form of independent projects in partnership with Sanggar Semara Ratih. The independent project activity by creating a dance work is the result of a collaboration between the creator and Sanggar Semara Ratih. The process of creating innovative dance works with Sanggar Semara Ratih was realized using the Angripta Sasolahan creation method, the stages of which consisted of planning, nuasen, makalin, nelesin and singing. The Wariga Murti dance has the theme of religious plants and is danced by 6 dancers. Wariga Murti Dance make-up uses character make-up to clarify the character you want to highlight. Meanwhile, the fashion for the Wariga Murti Dance involves incorporating elements or elements of plant colors into the clothing. This dance work has a structure consisting of three parts and is 11 minutes long with dance music using MIDI. With the creation of the Wariga Murti dance, the creator hopes that the Tumpek Wariga cultural event can still be danced and maintained properly.
Perkembangan Bentuk Penyajian Raminten Cabaret Show di Gedung Hamzah Batik Malioboro Dianto, Elan Fitra; Sushartami, Wiwik; Fitriasari, Paramitha Dyah
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12765

Abstract

RINGKASANRaminten Cabaret Show adalah salah satu hiburan yang berada di Raminten 3 Resto, Gedung Hamzah Batik Malioboro Yogyakarta. Istilah kabaret di Raminten 3 Resto berarti sebuah pertunjukan layaknya konser musik (lipsync), para laki-laki yang berdandan seperti perempuan atau disebut sebagai draq queen, mengenakan busana yang dirancang agar dapat menyerupai artis-artis papan atas Indonesia bahkan diva dunia dan dilengkapi dengan riasan wajah yang menguatkan terbentuknya karakteristik seorang draq queen. Permasalahan dari penelitian ini adalah menganalisis perkembangan bentuk penyajian Raminten Cabaret Show berdasarkan elemen-elemen pendukungnya seperti tema, gerak, musik, tata rias dan busana serta tata rupa pentas. Hal tersebut dikarenakan keinginan dari pemilik Hamzah Batik yakni Hamzah Sulaiman untuk menjadikan pertunjukan Raminten Cabaret Show sebagai tujuan wisata. Penelitian ini menggunakan teori bentuk penyajian dari Soedarsono dengan pendekatan kualitatif etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik studi literatur, observasi, wawancara dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raminten Cabaret Show telah mengalamati perkembangan bentuk penyajian karena adanya kreativitas dari setiap pemainnya. Selain itu, keinginan dari pemilik untuk menjadikannya sebagai tujuan wisata juga membuat tim manajemen terus melakukan perbaikan dari semua sisi pertunjukan Raminten Cabaret Show.ABSTRACTRaminten Cabaret Show is one of the entertainment venues located at Raminten 3 Resto, Hamzah Batik Malioboro Building Yogyakarta. The term cabaret at Raminten 3 Resto means a show like a music concert (lip sync), men who dress up as women or referred to as draq queens, wearing clothes designed to resemble Indonesia's top artists and even world divas and equipped with facial makeup that strengthens the formation of the characteristics of a draq queen. The problem of this research is that Raminten Cabaret Show has developed in the form of its presentation. This is due to the desire of the owner of Hamzah Batik, Hamzah Sulaiman, to make the Raminten Cabaret Show a tourist destination. This research aims to see the development of the presentation form of Raminten Cabaret Show by using Soedarsono's presentation form theory. This research analyzes the development of the presentation form of Raminten Cabaret Show based on supporting elements such as theme, motion, music, makeup and clothing and stage layout. This research was conducted at Hamzah Batik Building on the third floor using a qualitative ethnographic approach. Data collection was done by using literature study, observation, interview and documentation techniques. The results showed that Raminten Cabaret Show has experienced the development of the form of presentation due to the creativity of each player. In addition, the desire of the owner to make it a tourist destination also makes the management team continue to make improvements from all sides of the Raminten Cabaret Show