cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
KAJIAN STRUKTUR PERTUNJUKAN BEKSAN AJISAKA DI KERATON YOGYAKARTA Hanisputra, Muflikh Auditama; Sahid, Nur
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15204

Abstract

RINGKASANBeksan Ajisaka di Kraton Yogyakarta merupakan salah satu bentuk seni tari tradisional Jawa yang sarat dengan nilai budaya dan filosofi. Tulisan ini menganalisis struktur pertunjukan dengan analisis teks dengan elemen utama, seperti gerak, iringan, kostum tari, dan simbolisme yang terdapat pada Beksan Ajisaka. Struktur pertunjukan Beksan Ajisaka yang terdiri dari tiga bagian utama yaitu maju gendhing, inti, mundur gendhing, masing-masing memiliki fungsi naratif dan simbolik untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai kepemimpinan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Beksan Ajisaka berperan penting dalam menjaga tradisi budaya Kraton Yogyakarta. Oleh karena itu, pertunjukan ini tidak hanya sekedar hiburan, namun juga sebagai media penyampaian ajaran filosofis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, serta terdapat unsur sakral dalam tarian Beksan Ajisaka.ABSTRACTStudy of the Structure of the Beksan Ajisaka Performance at the Kraton Yogyakarta. This research focuses on analyzing the performance structure of Beksan Ajisaka in Kraton Yogyakarta, which is one of the traditional Javanese dance art forms full of cultural and philosophical values. This research uses a qualitative approach with direct observation and text analysis of the main elements of the performance, such as movement, accompaniment, dance costumes, and symbolism contained in Beksan Ajisaka. From the results of the research, the performance structure of Beksan Ajisaka which consists of three main parts: maju gendhing, tengah jogedan, and akhir, each has a narrative and symbolic function to convey moral messages and leadership values. This research also shows that Beksan Ajisaka plays an important role in maintaining the cultural traditions of Kraton Yogyakarta. Therefore, this performance is not only for entertainment, but also as a medium for conveying philosophical teachings related to daily life, and there are sacred elements in the Beksan Ajisaka dance.
KONSEP DWI TUNGGAL DALAM PROSES PENCIPTAAN BEKSAN MANUNGGAL JATI: SINTESIS GERAK TARI GAYA KERATON YOGYAKARTA DAN PURO PAKUALAMAN Hardiawan, Hendy
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15209

Abstract

RINGKASANTulisan ini bertujuan untuk memaparkan proses penciptaan Beksan Manunggal Jati dengan konsep Dwi Tunggal. Dalam karya ini, konsep Dwi Tunggal dimaksudkan sebagai percampuran dua gaya tari yaitu Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Fokus pembahasannya terletak pada sintesis gerak tari gaya Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Harapannya penciptaan karya tari ini mampu meningkatkan eksistensi dan memberikan kontribusi praktis dalam aspek pendidikan dan kebudayaan. Penelitian ini menggunakan metode Alma Hawkins yang terdiri dari eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan atau komposisi. Beksan Manunggal Jati memiliki konsep Dwi Tunggal yang berarti menyatunya Kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman yang menjadi satu, penyatuan ini merujuk pada elemen pertunjukannya, dalam hal ini pada elemen sintesis gerak tari. Dalam penyajiannya beksan ini mengadaptasi konsep bedhayan yang memiliki tiga struktur yaitu, majeng beksa, inti beksa, mundur beksa. Pola ruang dalam beksan ini menggunakan pola ruang pendopo yang berpengaruh terhadap pola lantai secara keseluruhan serta pembagian struktur gerak. Dalam penyajiannya Beksan ini memegang erat prinsip Joged Mataram yaitu greget, sengguh, nyawiji, dan ora mingkuh.ABSTRACTThis research aims to present the process of creating Beksan Manunggal Jati with the concept of Dwi Tunggal. In this work, the concept of Dwi Tunggal refers to the fusion of two dance styles, namely Kraton Yogyakarta and Puro Pakualaman. The focus of the discussion lies in the synthesis of the dance movements from the Kraton Yogyakarta and Puro Pakualaman styles. It is hoped that the creation of this dance work will enhance it’s existence and contribute practically to the fields of education and culture. This research used Alma Hawkins method, which includes exploration, improvisation, and formation or composition. Beksan Manunggal Jati has a Dwi Tunggal concept, meaning the unification of Kraton Yogyakarta and Puro Pakualaman into one entity. This unification refers to the elements of it’s performance, particularly the synthesis of it’s dance movements. In it’s presentation, this beksan adapts the concept of bedhayan, which consists of three structures: majeng beksa, inti beksa, and mundur beksa. The spatial pattern in this beksan follows a pendopo floor pattern, which influences the floor patterns and the division of the movement structure. In it’s presentation, this Beksan firmly adheres to the principles of Joged Mataram, namely greget, sengguh, nyawiji, and ora mingkuh.
SISTEM PEWARISAN DAN PERSEBARAN TARI REJANG DEWA KARYA SUASTI WIJAYA MENUJU TARI MONUMENTAL Kandiraras, Tudhy Putri Apyutea; Widyastuti, Ida Ayu Gede Sasrani; Saptono, Saptono
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15205

Abstract

RINGKASANTari di Bali bukan hanya sekedar pertunjukan pariwisata namun menjadi budaya, karena dilakukan hampir pada setiap rangkaian kehidupan masyarakat Bali. Melalui budaya terbentuk cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Berbagai seni timbul karena kemampuan manusia untuk menggali pandangan yang tajam dari pengalaman hidupnya. Proses kreatif tersebut merupakan suatu tangkapan inderawi, perasaan apa yang dirasakan, eksplorasi pengamatan dan perasaan, hubungan imajinatif dari pengalaman yang tersimpan, yang akhirnya kemudian membentuk suatu kebudayaan yang melekat pada keseharian masyarakatnya. Tari Rejang Dewa merupakan tari wali yang hingga sekarang terus diwariskan pada generasi muda. Keberadaaan tari ini tidak pernah lekang oleh waktu, dan terus dipelajari oleh semua kalangan, sehingga tari Rejang Dewa dapat dikatakan sebagai tari monumental.ABSTRACT Dance in Bali is not just a tourism show but becomes a local culture, because it is performed in almost every series of Balinese people's lives. Through culture, a way of life is formed that develops and is owned by a person or group of people and is passed down from generation to generation. Various arts arise because of the ability of humans to explore the sharp insights of their life experiences. The creative process is a sensory capture, a feeling of what is felt, an exploration of observations and feelings, an imaginative relationship of stored experiences, which ultimately thenforms a culture that is attached to the daily life of its people. Rejang Dewa dance is a guardian dance which until now continues to be passed down to the younger generation. The existence of this dance has never been timeless, and continues to be studied by all groups. So that Rejang Dewa dance can be said to be a Monumentalism dance.
CEMBENGAN KOREOGRAFI YANG TERINSPIRASI DARI TRADISI UPACARA TEBU MANTEN Nugratama, Anas Faizal; Alfirafindra, Raja; Sulistijaningtijas, Erlina Pantja
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15206

Abstract

RINGKASANKarya “Cembengan” adalah koreografi yang terinspirasi dari makna nilai-nilai tradisi budaya pada upacara tradisi Cembengan. Upacara tradisi Cembengan merupakan ritual yang dilakukan oleh para pekerja di dalam pabrik gula Madukismo untuk meminta keselamatan dan hasil produksi yang baik. Upacara tradisi Cembengan dilaksanakan pada saat panen tebu sebelum dimulainya produksi penggilingan tebu. Keseluruhan prosesi dan simbol-simbol yang memiliki makna filosofis pada upacara tradisi Cembengan, terdapat 3 bagian prosesi upacara tradisi Cembengan yang menarik perhatian penata untuk diulas kedalam bentuk konsep koreografi kelompok, yaitu prosesi Petik Tebu Manten, prosesi Pingit Tebu Manten, prosesi Arak-arakan Cembengan. Karya tari berjudul “Cembengan” ini digarap dalam bentuk koreografi kelompok, ditarikan oleh lima penari putri dan empat penari putra.ABSTRACTThe work "Cembengan" is a choreography inspired by the meaning of cultural tradition values in the Cembengan traditional ceremony. The Cembengan tradition ceremony is a ritual performed by workers at the Madukismo sugar factory to ask for safety and good production results. The Cembengan tradition ceremony is carried out during the sugarcane harvest before the start of sugarcane milling production. The entire procession and symbols that have a philosophical meaning in the Cembengan traditional ceremony, there are 3 parts of the Cembengan traditional ceremony procession that attract the attention of the stylist to be reviewed in the form of a group choreography concept, namely the Manten Sugar Cane Picking Procession, the Manten Pingit Cane Procession, the Cembengan Procession. The dance work entitled "Cembengan" is worked on in the form of group choreography, danced by five female dancers and four male dancers.
OLAH RASA SEBAGAI RANGSANG PENCIPTAAN TARI BAGI KOREOGRAFER Karti, Galih Puspita; Prasetyorini, Arjuni
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15207

Abstract

RINGKASANRasa memiliki peran yang kuat dalam kehidupan, bahkan sikap-sikap tubuh manusia terbentuk dipengaruhi oleh rasa. Demikian juga pada dunia tari, rasa sangat penting dihadirkan. Rasa berperan sebagai pendorong ekspresi jiwa yang menjadi hal esensial dalam tari. Selain hadir dalam penyajian, rasa juga hadir dalam proses garap koreografi. Rasa menjadi pemantik ide yang mendorong untuk menemukan konsep dasar tari, yang disebut sebagai rangsang tari. Rangsang diperoleh dalam tiga tahap berikut ini : 1) Olah rasa sebagai proses eksplorasi : Penyatuan rasa dan pikiran diwujudkan dalam gerak tubuh. 2) Refleksi: Proses melihat kembali atau mengingat segala sesuatu yang terjadi pada diri selama olah rasa berlangsung. 3) Inspirasi: Menemukan ide konsep dasar penciptaan tari yang diperoleh dari hasil refleksi olah rasa. Karya tari berdasarkan pengalaman empiris, lahir dari rasa yang dimiliki oleh penciptanya. Karya demikian memiliki nilai yang semakin kuat, sebab sebuah gagasan yang disuguhkan dalam karya memiliki keterikatan rasa yang kuat dengan koreografer.ABSTRACTThe sense of feeling plays a significant role in life, even influencing the formation of human bodily attitudes. Likewise, in the world of dance, feeling is crucial to be present. Feeling drives the emergence of soulful expression, an essential aspect of dance. In addition to being present in performance, feeling emerges in the choreographic creation process. Feeling acts as a trigger for ideas to discover the basic concept of dance, referred to as dance stimulation. In this journal, stimulation is obtained through three stages: 1) Sensory exploration as an exploration process: The unification of feeling and thought ismanifested through bodily movement. 2) Reflection: The process of looking back or recalling everything that occurs within oneself during sensory exploration. 3) Inspiration: Discovering the basic concept of dance creation derived from the reflection of sensory exploration. Dance works based on empirical experience are born from the creator's inner feelings. Such works hold stronger value, as the ideas presented in the piece have a profound emotional connection with the choreographer.
ANALISIS MAKNA TOPENG BUKOKNG DALAM TARI KATIPAK PADA RITUAL ADAT BABUKOKNG SUKU DAYAK MA’AMP DI KABUPATEN SEKADAU Sasmita, Ela; Tindarika, Regaria; Satrianingsih, Aline Rizky Oktaviari
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17932

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, bahan, motif dan makna intrinsik topeng Bukokng pada tari Katipak dalam ritual adat Babukokng di Kabupaten Sekadau serta hubungannya dengan nilai dan kepercayaan setempat. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Sumber dan data penelitian didapat dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian bahwa Bukokng merupakan perwujudan makhluk mitologi Bukokng Rimba yang bertugas untuk menjaga arwah hingga mengantarkannya menuju surga. Bukokng memiliki jenis dan bentuk yang berbeda tetapi memiliki tugas yang sama yaitu sebagai penjaga. Ketiga jenis Bukokng yaitu Bukokng Labu, Bukokng Pelaik dan Bukokng Mangar. Ciri khas yang berbeda pada topeng terlihat dari ekspresi simbolik yang merepresentasikan peran setiap Bukokng dalam ritual adat Babukokng. Bukokng Labu merupakan Bukokng kepala atau pemimpin dari semua jenis Bukokng dengan ekspresi yang tampak datar namun menyeramkan. Bukokng Pelaik menggunakan ekspresi garang dan menyeramkan untuk menakuti makhluk atau roh jahat. Sedangkan Bukokng Mangar memiliki ekspresi simbolik meyimbolkan kesedihan mendalam terutama berkaitan dengan kematian.ABSTRACTThis study aims to describe the forms, materials, motifs, and intrinsic meanings of the Bukokng masks used in the Katipak dance during the Babukokng traditional ritual in Sekadau Regency, as well as their relation to local values and beliefs. The research method used is descriptive with a qualitative research approach. The sources and data for this study were obtained through observation, interviews, and documentation.The results show that Bukokng represents a mythological creature called Bukokng Rimba, whose role is to guard spirits and guide them to heaven. There are different types and forms of Bukokng, but they share the same role as guardians. The three types of Bukokng are Bukokng Labu, Bukokng Pelaik, and Bukokng Mangar. The distinctive features of the masks are seen in the symbolic expressions that represent each Bukokng's role in the Babukokng traditional ritual. Bukokng Labu is the head or leader of all Bukokng types, characterized by a flat yet frightening expression. Bukokng Pelaik bears a fierce and terrifying expression meant to scare away evil beings or spirits. Meanwhile, Bukokng Mangar has a symbolic expression that represents deep sorrow, particularly in relation to death.
IRAMA YANG DIWUJUDKAN : DIMENSI MEDITATIF DALAM PELATIHAN POLIMETER UNTUK PENARI Putra, Putu Parama Kesawa Ananda
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17930

Abstract

ABSTRAKBody Notation adalah karya eksperimental yang mentransformasikan teknik musikal polymeter ke dalam bahasa tubuh, sekaligus menjadi solusi kreatif atas permasalahan "gending sing ngidang ngigelang" (musik yang tidak bisa ditarikan) di kalangan koreografer Bali. Penelitian ini menganalisis perkembangan kemampuan penari dan calon koreografer dalam merespons kompleksitas polymeter teknik musikal yang menggunakan dua ukuran birama berbeda dalam tempo sama, setelah diterapkan dalam praktik gerak. Melalui metode Alma Hawkins (eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan). Eksperimen tahap awal ini menunjukkan bahwa transformasi polymeter memerlukan panduan tempo untuk mempertahankan konsistensi birama, sekaligus melatih kepekaan kinestetik penari. Temuan utamanya adalah perubahan signifikan dalam cara tubuh merespons tempo dan struktur musik—awalnya bergantung pada petunjuk eksternal (metronome), kemudian berkembang menjadi pemahaman internal melalui pengalaman gerak. Body Notation tidak hanya menjawab tantangan "gending sing ngidang ngigelang", serta membuka ruang bagi penciptaan tari kontemporer berbasis musikalitas kompleks. Implikasinya, karya ini menjadi fondasi untuk eksperimen lanjutan dalam mengintegrasikan polymeter dengan gerak tari Bali, dengan tujuan akhir mengubah paradigma dari "musik yang tidak bisa ditarikan" menjadi "ngigelang gending" (menarikan musik).ABSTRACTBody Notation is an experimental work that transforms the musical technique of polymeter into bodily language, while serving as a creative solution to the problem of "gending sing ngidang ngigelang" (music that cannot be danced to) among Balinese choreographers. This study analyzes the development of dancers' and aspiring choreographers' ability to respond to the complexity of polymeter—a musical technique that employs two different time signatures within the same tempo— when applied to movement practice. Using Alma Hawkins' method (exploration, improvisation, and formation), this preliminary experiment demonstrates that polymeter transformation requires tempo guidance to maintain rhythmic consistency while training dancers' kinesthetic sensitivity. The key finding is a significant shift in how the body responds to tempo and musical structure—initially relying on external cues (metronome) before evolving into internal understanding through movement experience. Body Notation not only addresses the challenge of "gending sing ngidang ngigelang" but also opens new possibilities for contemporary dance creation based on complex musicality. As such, this work lays the foundation for further experimentation in integratingpolymeter with Balinese dance movement, ultimately aiming to shift the paradigm from "music that cannot be danced to" to "ngigelang gending" (dancing the music).
PANCA MAHA BUTA: KESEIMBANGAN EKOLOGI DAN HARMONI ALAM SEMESTA DALAM SEBUAH FILM TARI Aji, Yosef Adityanto
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17919

Abstract

ABSTRAKPanca Maha Buta merupakan karya yang dikategorikan sebagai film tari. Karya ini merupakan kolaborasi antara tari dan sinema sehingga menjadi satu kesatuan bentuk estetika visual. Proses penciptaan Panca Maha Buta menggunakan metode koreografi dan sinematografi, di mana masing-masing pendekatan saling berkaitan dan saling melengkapi. Karya ini ditarikan oleh delapan penari, menceritakan kisah perjalanan seorang perempuan dalam mencari keseimbangan ekologi dan harmoni alam. Panca Maha Buta terbagi dalam enam adegan, yang masing-masing adegan menggunakan lokasi yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk memperkuat konsep berkarya yang sesuai dengan konsep dan tema cerita. Panca Maha Buta menggunakan dua konsep utama dalam penyajiannya, yaitu film tari naratif dan film tari abstrak atau konseptual.ABSTRACTPanca Maha Buta is a work categorized as a dance film. This work is a collaboration between dance and cinema so that it becomes a unified form of visual aesthetics. The creation process of Panca Maha Buta uses choreography and cinematography methods, where each approach is interconnected and complementary. This work is danced by eight dancers, telling the story of a woman's journey seeking ecological balance and natural harmony. Panca Maha Buta is divided into six scenes, each scene using a different location. This aims to strengthen the concept of working in accordance with the concept and theme of the story. Panca Maha Buta uses two main concepts in its presentation, namely narrative dance film and abstract or conceptual dance film.
PEMBELAJARAN TARI KIPAS PAKARENA DALAM EKSTRAKURIKULER SENI TARI Salsabila S, Asela Syahla; Budiman, Agus; Sudirman, Agus
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17931

Abstract

ABSTRAKKegiatan ekstrakurikuler kesenian di sekolah menengah atas merupakan sesuatu kegiatan pembelajaran yang mendukung mata pelajaran seni budaya Pola kegiatan ekstrakurikuler kesenian yang dikembangkan di sekolah lebih menekankan untuk memberikan beragam pengalaman praktik berkesenian serta penting untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat peserta didik sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pembelajaran tari kipas pakarena serta mendeksripsikan proses pembelajaran di dalam ekstrakurikuler seni tari SMAN 5 Cimahi. Metode yang digunakan deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu 10 peserta didik ekstrakurikuler SMAN 5 Cimahi. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian bahwa peserta bisa mengenal kekayaan tari yang ada di Indonesia ini karena peserta didik memiliki minat tinggi dan aktif terlibat dalam setiap sesi latihan cenderung menunjukkan penguasaan yang lebih baik. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tari kipas pakarena di SMAN 5 Cimahi dirancang dengan pendekatan yang berpusat pada kenyamanan dan kesenangan peserta didik Pembelajaran tari ini tidak hanya terbatas pada penguasaan aspek motorik berupa gerakan tari semata. Pembelajaran tari kipas pakarena kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler telah memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan apresiasi peserta didik terhadap budaya local ini terwujud melalui penyampaian informasi menyeluruh yang mengenai latar belakang sejarahABSTRACTPakarena Fan Dance Learning in Dance Arts Extracurricular Activities Extracurricular arts activities in senior high schools are learning activities that support arts and culture subjects. The pattern of extracurricular arts activities developed in schools emphasizes providing a variety of artistic practical experiences and is important to help develop students according to the needs, potential, talents and interests of senior high school students. This study aims to determine the concept of learning the Pakarena fan dance and describe the learning process in the dance extracurricular of SMAN 5 Cimahi. The method used is descriptive using a qualitative approach. The subjects of this study were 10 extracurricular students of SMAN 5 Cimahi. Data were collected through observation and interviews as well as documentation. The results of the study that participants can recognize the richness of dance in Indonesia because students have a high interest and are actively involved in each practice session tend to show better mastery. The implementation of the Pakarena fan dance extracurricular activities at SMAN 5 Cimahi is designed with an approach that focuses on the comfort and enjoyment of students. This dance learning is not only limited tomastering the motoric aspects of dance movements alone. Learning the Pakarena fan dance as an extracurricular learning activity has had a significant impact on students' understanding and appreciation of local culture. This is realized through the delivery of comprehensive information regarding the historical
AKULTURASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM TARI GANDRUNG BANYUWANGI: TEORI AKULTURASI E., Tasya Syams
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17920

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui akulturasi nilai Islam dalam tari gandrung Banyuwangi. Penelitian ini menganalisis apa saja akulturasi nilai Islam yang terdapat dalam tari gandrung Banyuwangi dan apa yang menjadi penyebab akulturasi tersebut dengan menggunakan teori akulturasi budaya oleh Marden-Mayer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu, melalui wawancara, dan pencarian sumber sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Temuan dari penelitian ini adalah akulturasi nilai Islam dalam tari gandrung Banyuwangi dapat dilihat dari segi busana, gerakan tari, pergeseran fungsi tari gandrung, dan adanya penambahan unsur Islami yang lain. Adanya akulturasi disebabkan oleh adanya perkembangan Islam di Banyuwangi. Adapun proses terjadinya akulturasi terjadi secara bertahap dan perlahan, tanpa adanya hambatan yang berarti.ABSTRACTResearch tittle: Islamic Value’s Acculturation in Gandrung Dance Banyuwangi: Acculturation Theory. This study aims to determine the acculturation of Islamic values in the gandrung Banyuwangi dance. This study analyzes what the acculturation of Islamic values is in the gandrung Banyuwangi dance and what causes the acculturation using the theory of cultural acculturation by Marden-Mayer. There are two methods used in this study, namely the data collection method and the data analysis method. Data collection was carried out in two ways, namely through interviews, and searching for secondary sources in the form of books, journals and articles. The analysis used in this study is descriptive qualitative. The findings of this study are that the acculturation of Islamic values in the gandrung Banyuwangi dance can be seen from the clothing, dance movements, shifts in the function of the gandrung dance, and the addition of other Islamic elements. The existence of acculturation is caused by the development of Islam in Banyuwangi. The process of acculturation occurs gradually and slowly, without any significant obstacles.