cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
+6281362081363
Journal Mail Official
jurnalekspresi@isi.ac.id
Editorial Address
Jl. Parangtritis No.KM.6.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ekspresi: Indonesian Art Journal
ISSN : 14114305     EISSN : 29645921     DOI : https://doi.org/10.24821/ekp.v1i11
EKSPRESI is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in April and October. Ekspresi published by Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas, art creation, and community service activities in the fields of arts and humanities.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2024)" : 7 Documents clear
Kendala Mahasiswa Baru dalam Mengikuti Perkuliahan Gitar Klasik pada Tingkat Perguruan Tinggi Situngkir, Rhoyda Nhovriana; Indrawan, Andre; Rokhani, Umilia
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14093

Abstract

Mahasiswa baru program Sarjana di Jurusan Musik umumnya menghadapi kendala dalam mengikuti kuliah gitar klasik karena sebelumnya tidak pernah mempelajari instrument tersebut secara formal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kendala apa saja yang di alami mereka dan mencari kemungkinan solusinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan informasi dari beberapa mahasiswa aktif gitar klasik yang menghadapi kendala tersebut. Hasil penelitian ini adalah informasi tentang kendala yang mereka hadapi, kemungkinan penyebabnya, dan solusi dari perspektif mahasiswa. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa seluruh responden tidak bisa membaca not balok sehingga kemandirian dalam mempelajari materi kuliah sangat minim. Guna mengatasi masalah tersebut mereka berkonsultasi kepada para senior. Masalah tersebut sedikit demi sedikit teratasi karena terbantu oleh kuliah-kuliah teori musik dan solfegio. Sebagai kesimpulan, sebenarnya tidak ada kendala yang berarti, kecuali kecemasan dalam menghadapi hal baru karena pada akhirnya dapat teratasi melalui proses adaptasi baik secara formal di dalam perkuliahan maupun di luar perkuliahan. Kata kunci: gitar klasik, perguruan tinggi seni, kendala mahasiswa AbstractNew Student Obstacles in Taking Classical Guitar Lectures at the College. New students of the Bachelor program in the Department of Music generally face obstacles in taking classical guitar courses because they have never studied the instrument formally before. The purpose of this study is to find out what obstacles they experience and find possible solutions. This study uses qualitative research methods by collecting information from several active classical guitar students who face these obstacles. The results of this study are information about the obstacles they face, possible causes, and solutions from a student's perspective. From the results of this study, it was found that all respondents could not read musical notes so independence in studying lecture material was minimal. In order to overcome this problem, they consulted the seniors. This problem was gradually resolved because lectures on music theory and solfeggio helped. In conclusion, there are actually no significant obstacles, except anxiety in dealing with new things because in the end they can be overcome through adaptation processes both formally in lectures and outside lectures. Keywords: classical guitar, art institute, student constraints
Pemeranan Tokoh Sherina dalam Drama Musikal Petualang Sherina-2 Karya Riri Riza Noviandri, Ramanda; Sumarno, Rano; Rahmah, Fitri
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14142

Abstract

Drama Musikal “Petualangan Sherina 2” karya Riri Riza merupakan alih wahana dari film “Petualangan Sherina 2”. Drama musikal memaparkan tentang aksi heroik terhadap kepedulian lingkungan melalui tokoh Sherina. Teori yang dipakai dalam memerankan tokoh Sherina adalah acting in musical. Acting in musical merupakan penggabungan antara akting, tari, dan nyanyian. Ini yang menjadi tantangan bagi aktor, di mana harus menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Metode akting yang dipakai dalam memerankan tokoh Sherina adalah metode akting presentasi. Metode akting presentasi aktor berusaha mengidentifikasi perilaku dan intelektual dirinya sendiri dan juga tokoh yang akan diperankan. Oleh karena itu, capaian aktor bukan kapasitas menjadi ‘orang lain’ namun merupakan ‘penyesuaian’ terhadap situasi dan kondisi baru, melalui tabungan- tabungan emosi yang dimiliki penulis secara pribadi. Kata kunci: Sherina, Drama musikal, Presentasi AbstractPlaying the Character of Sherina in the Musical Drama "Petualang Sherina-2" by Riri Riza. Drama Musical “The Adventure of Sherina 2” is an adaptation of the movie “The Adventure of Sherina 2”. The drama musical describes the heroic action towards environmental awareness through the character Sherina. The theory used in portraying Sherina's character is acting in musical. Acting in musical is a combination of acting, dance, and singing. This is a challenge for actors, who must balance these three elements. The acting method used in playing the character Sherina is the presentation acting method. Presentation acting method actors try to identify the behavior and intellect of themselves and also the character they will play. So that the actor's achievement is not the capacity to become 'someone else' but is an 'adjustment' to new situations and conditions, through the emotional savings that the author personally has. Keywords: Sherina, Drama Musical, Presentation
Cyber Crime Sebagai Sumber Penciptaan Skenario Film Pendek "Pitch Bill" Mahardika, Daphne Dinda; Sumarno, Rano; Wibowo, Philipus Nugroho Hari
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14143

Abstract

Skenario dengan judul Pitch Bill merupakan sebuah karya yang berfokus pada isu cyber crime masa kini. Karya ini berangkat dari keresahan yang  tumbuh akibat melihat grafik korban penipuan online yang kian naik, serta bentuk empati kepada orang-orang terdekat yang menjadi korban dari kasus penipuan online sekaligus menjadi narasumber wawancara dalam proses pengumpulan data. Penciptaan ini menggunakan teori kriminologi untuk menciptakan latar belakang tokoh-tokoh dengan didukung oleh data dari hasil wawancara, sebelum akhirnya dikemas menjadi sebuah karya fiksi dengan format filmis. Penerapan teori kriminologi, film komedi drama, dan skenario film guna mendukung proses kreatif serta inovatif. Pengumpulan data yang dilakukan setelah terciptanya ide dan konsep cerita bermaksud untuk dijadikan sebagai kriteria dalam proses pencarian data. Hal tersebut guna membantu dalam proses pengembangan untuk dijadikan skenario film yang utuh. Pitch Bill menceritakan tentang Kaivan yang membantu Sarah dalam produksi untuk film tugas akhirnya sebagai produser, namun Kaivan menggunakan jasa pinjaman online untuk dijadikan dana produksi film Sarah. Skenario film pendek Pitch Bill diproduksi menjadi sebuah film pendek. Produksi film pendek ini berupa proyek kerja sama antara mahasiswi jurusan Teater ISI Yogyakarta dengan mahasiswi jurusan Televisi dan Film Universitas Padjajaran. Kata kunci: Cyber Crime, Film Scenario, Comedy Drama Film, Online Lending, Pitch Bill AbstractCybercrime as a Source of Inspiration for the Creation of the Short Film Script Pitch Bill. Scenario called Pitch Bill focuses on current cyber crime issues. The scenario stems from the anxiety that has grown as a result of seeing the increasing graph of online fraud victims, as well as a form of empathy for the dearest one who have become victims of online fraud cases as well as being sources in the research process. The process of creating the background for the characters uses criminology theory supported by data from interviews, before finally turned into a work of fiction in filmic format. Application of criminological theory along with comedy drama film and film scenario to support creative and innovative process. The data collection carried out after the creation of story ideas the idea is intended to be used to classify in the data search process. This is to assist in the development process to become a complete film scenario. Pitch Bill tells the story of Kaivan who helps Sarah with the production of her final film as a producer, but Kaivan uses an online loan service as the main funds for Sarah’s film production. “Pitch Bill’s” short movie scenario was produced into a short movie. The production of this short movie is a collaborative project between the sutdent of theater department of ISI Yogyakarta and the student of television and film department of Padjajaran University. Keywords: Cyber crime, Film Scenario, Comedy Drama Film, Online Lending, Pitch Bill
Eksperimentasi Penggunaan Kayu Mangga sebagai Inovasi Alternatif Pengganti Kayu Maple dalam Pembuatan Violin Alam, Ghoni Maulana; Wirayudha, Asep Hidayat; Latif, Bakhrudin
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.13450

Abstract

Penelitian ini merupakan upaya eksplorasi yang mendalam terhadap proses pembuatan biola menggunakan kayu mangga dengan desain model Stradivarius tahun 1703, serta analisis terperinci terhadap karakteristik akustik yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental untuk menguji kelayakan kayu mangga sebagai bahan dasar violin, menggantikan kayu maple, yang tidak tersedia secara luas di Indonesia. Model yang digunakan adalah Violin model Stradivarius tahun 1703. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu mangga dapat dianggap sebagai alternatif yang potensial untuk bahan pembuatan biola, meskipun terdapat perbedaan signifikan dibandingkan dengan biola yang menggunakan kayu maple. Uji frekuensi resonansi dan analisis kekerasan suara menunjukkan bahwa biola dari kayu mangga mampu menghasilkan suara yang mampu bersaing, namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan stabilitas harmonik dan respons frekuensi tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan saran bahwa dengan penyesuaian teknik konstruksi yang tepat, potensi kayu mangga sebagai bahan baku untuk pembuatan biola bisa dioptimalkan. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan baru dalam bidang pembuatan alat musik tradisional, tetapi juga mengilustrasikan pentingnya eksplorasi bahan baku alternatif dalam konteks modern yang mengutamakan keberlanjutan dan ketersediaan bahan.Kata kunci: Violin, kayu mangga, frekuensi, eksperimentasi AbstractExperimental Use of Mango Wood as an Alternative Innovation to Maple Wood in Violin Construction. This study presents an in-depth exploration of the process of constructing violins using mango wood, modeled on the 1703 Stradivarius design, along with a detailed analysis of the resulting acoustic characteristics. An experimental approach was adopted to assess the viability of mango wood as a primary material in violin production, substituting the traditionally used maple wood, which is not widely available in Indonesia. The model applied was a 1703 Stradivarius-style violin. Findings indicate that mango wood has potential as an alternative material for violin making, although notable differences were observed when compared to violins crafted with maple wood. Resonance frequency tests and sound hardness analyses revealed that mango wood violins can produce competitive sound quality, yet further refinements are necessary to enhance harmonic stability and high-frequency response. Overall, this study suggests that with appropriate construction technique adjustments, the potential of mango wood as a violin-making material could be maximized. These findings not only provide new insights into traditional musical instrument manufacturing but also underscore the importance of exploring alternative materials in a modern context that prioritizes sustainability and material availability.Keywords: violin, manggo wood, frequency, experimentation
Musik Viral dalam Peningkatan Brand Awareness pada Konten TikTok Haura, Afifah Shafa; de Fretes, Daniel; Kustap, Kustap
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14266

Abstract

Di era digital dan perkembangan media sosial, TikTok menjadi platform yang populer untuk berbagi konten kreatif dalam pemasaran digital. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan musik viral sebagai elemen kunci dalam mencapai daya tarik pada konten TikTok. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis upaya meningkatkan Brand Awareness pada konten TikTok yang dihasilkan oleh Widya Robotics melalui penggunaan musik viral. Brand Awareness bertujuan untuk menggambarkan keberhasilan pemasaran dari segi eksposur dan interaksi audiens terhadap merek. Konten diunggah pada akun TikTok Widya Robotics dengan penulis sebagai divisi Social Media Specialist. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal yaitu studi tentang kekhususan dan kompleksitas suatu kasus, untuk memahami aktivitasnya dalam keadaan penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan musik viral secara efektif dapat meningkatkan Brand Awareness konten TikTok Widya Robotics. Terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah tampilan, interaksi, dan keterlibatan audiens setelah implementasi strategi ini.Kata kunci: musik viral, brand awareness, tiktok, media sosialAbstractViral Music in Enhancing Brand Awareness on TikTok Content. In the digital era and the development of social media, TikTok has become a popular platform for sharing creative content in digital marketing. This research focuses on utilizing viral music as a key element in achieving traction on TikTok content. This research aims to explore and analyze efforts to increase Brand Awareness on TikTok content produced by Widya Robotics through the use of viral music. Brand Awareness aims to describe marketing success in terms of audience exposure and interaction with the brand. The content is uploaded on Widya Robotics' TikTok account with the author as the Social Media Specialist division. This research uses a qualitative method with a single case study approach, which is a study of the specificity and complexity of a case, to understand its activities in important circumstances. The results showed that effective utilization of viral music can increase Brand Awareness of Widya Robotics' TikTok content. There was a significant increase in the number of views, interactions, and audience engagement after the implementation of this strategy.Keywords: viral music, brand awareness, tiktok, social media
Implementasi Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran Ekstrakurikuler Musik di SMPK St. Bernardus, Madiun Renata, Theresia Avilla Sus; Widodo, Tri Wahyu; Adzkia, Sagaf Faozata
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14094

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta menganalisis penggunaan metode tutor sebaya dan proses kegiatan ekstrakurikuler seni musik di SMP Katolik Santo Bernardus, Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Guru dan peserta didik dalam pembelajaran ekstrakurikuler, menjadi subjek utama pada penelitian ini. Pengumpulan data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi, paparan, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode tutor sebaya diterapkan dengan memilih peserta didik yang memiliki kemampuan lebih yang berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Proses kegiatan ekstrakurikuler ini melibatkan kelompok-kelompok kecil, di mana setiap kelompok memiliki satu atau dua tutor. Aktivitas ini meliputi praktek bermain alat musik, latihan bersama, dan diskusi kelompok. Metode tutor sebaya relevan digunakan, terbukti dari semangat dan capaian prestasi bidang musik yang telah diraih. Penggunaan metode tutor sebaya berpotensi baik, terbukti terbentuknya rasa tanggung jawab, interaksi, dan kepedulian antar peserta didik.Kata kunci: ekstrakurikuler, musik, metode, tutor sebaya AbstractPeer Tutoring Method Implementation in Extracurricular Music Learning at St. Bernardus Catholic Junior High School, Madiun. This study aims to describe and analyze the use of the peer tutoring method and the process of extracurricular music activities at St. Bernardus Catholic Junior High School, Madiun. A qualitative approach was employed, using a case study method, with the music teacher and students participating in extracurricular activities as the main subjects of the study. Data were collected through observations, interviews, and document analysis. Data analysis techniques included data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings indicate that the peer tutoring method is implemented by selecting students with advanced abilities to act as tutors for their peers. This extracurricular activity is conducted in small groups, with each group having one or two tutors. Activities include musical instrument practice, group rehearsals, and group discussions. The peer tutoring method is shown to be effective, as demonstrated by the enthusiasm and achievements in music attained by the students. The use of peer tutoring promotes positive outcomes, fostering responsibility, interaction, and care among students.Keywords: ekstracurricular, music, method, peer tutors
Diskontinuitas Perkembangan Sejarah Musik Barat dan Pengaruhnya terhadap Eksistensi Musik Gereja Sasongko, Michael Hari; Chrisnahanungkara, Ariel Januar
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.14235

Abstract

Perjalanan sejarah musik Barat pada dasarnya merupakan sejarah perkembangan dialektika musikal. Satu periode sebagai “tesis” berhadapan dengan suatu keadaan lain sebagai “antitesis”, dan melahirkan sintesis baru, yakni sebuah periode baru, yang mencakup nilai-nilai estetis dan segi bentuk dan isi. Sejak Periode Abad Pertengahan sampai Periode Romantik, dialektika ini berjalan secara linear. Inilah sejarah “Musik Klasik”. Linearitas ini bersentuhan dengan eksistensi liturgi gereja Kristen, sehingga hasil-hasil sintesis musikal itu dipakai oleh gereja dalam membangun sistem liturginya. Musik/komposisi ciptaan dari high culture dipakai oleh gereja yang melahirkn “simbiosis mutualisme”. Akan tetapi menghadapi fase Periode Modern, kenyaaan itu berubah. “kemesraan” antara gereja dangan high culture ini hilang, dan gereja mulai menggunakan bentuk-bentuk musikal yang lazim di dalm low culture, yang telah muncul di Abad Pertengahan Fase III. Hasil analisis menyatakan bahwa faktor eksternal memang peranan penting di dalam fenomena perubahan itu. Kata kunci: sejarah musik, musik klasik, musik gereja, periodisasi, perubahan. AbstractDiscontinuities in the Historical Development of Western Music and Their Impact on the Existence of Church Music. The course of Western music history is basically a history of the development of musical dialectics. One period as a "thesis" faces another condition as an "antithesis", and gives birth to a new synthesis, namely a new period, which includes aesthetic values and aspects of form and content. From the Middle Ages to the Romantic Period, this dialectic runs linearly. This is the history of "Classical Music". " This linearity touches on the existence of the liturgy of the Christian church, so that the results of the musical synthesis are used by the church in building its liturgical system. Music/compositions created from high culture are used by the church which gives birth to "mutualistic symbiosis". However, facing the Modern Period phase, this reality changes. The "intimacy" between the church and high culture is lost, and the church begins to use musical forms that are common in low culture, which have emerged in the Middle Ages Phase III. The results of the analysis state that external factors do play an important role in the phenomenon of change Keywords: music history, classical music, church music, periodization, change.

Page 1 of 1 | Total Record : 7