cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
+6281362081363
Journal Mail Official
jurnalekspresi@isi.ac.id
Editorial Address
Jl. Parangtritis No.KM.6.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ekspresi: Indonesian Art Journal
ISSN : 14114305     EISSN : 29645921     DOI : https://doi.org/10.24821/ekp.v1i11
EKSPRESI is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in April and October. Ekspresi published by Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas, art creation, and community service activities in the fields of arts and humanities.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2025)" : 10 Documents clear
Metode Penciptaan Musik Iringan untuk Seni Pertunjukan: Pendekatan Interdisipliner bagi Mahasiswa Seni Musik Kurniawan, Rahmat
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.15106

Abstract

AbstrakSeni pertunjukan, seperti tari dan teater, merupakan bentuk ekspresi budaya yang kompleks di mana musik iringan memegang peranan krusial dalam membangun suasana, mendukung narasi, serta memperkuat emosi. Namun, penciptaan musik iringan yang efektif sering menjadi tantangan bagi mahasiswa seni musik. Masalah utama yang dihadapi adalah kesulitan mengintegrasikan pengetahuan musik yang mereka miliki dengan pemahaman mendalam tentang elemen-elemen seni pertunjukan lainnya, seperti koreografi, alur cerita, dan karakteristik gerak atau dialog. Akibatnya, musik yang dihasilkan seringkali kurang selaras dengan kebutuhan pertunjukan secara keseluruhan. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman konteks pertunjukan secara holistik, dengan mempertimbangkan aspek koreografi, narasi teater, dan desain panggung. Melalui integrasi wawasan dari berbagai disiplin ilmu seperti musikologi, koreografi, dramaturgi, dan teknologi audio, serta penekanan pada kolaborasi, pendekatan interdisipliner menawarkan solusi yang lebih relevan untuk mengatasi tantangan tersebut. Tujuannya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan menciptakan musik iringan yang tidak hanya kompeten secara musikal tetapi juga menyatu secara efektif dengan visi artistik pertunjukan secara menyeluruh.Kata kunci: musik iringan, metodologi, interdisipliner, seni pertunjukan AbstractThe Method of Creating Musical Accompaniment for Performing Arts: An Interdisciplinary Approach for Music Arts Students. Performing arts, such as dance and theater, are complex forms of cultural expression in which accompaniment music plays a crucial role in building atmosphere, supporting narrative, and reinforcing emotion. However, the creation of effective accompaniment music often presents a challenge for music students. The primary problem faced is the difficulty in integrating their existing musical knowledge with a deep understanding of other performing arts elements, such as choreography, storyline, and the characteristics of movement or dialogue. Consequently, the resulting music often lacks harmony with the overall needs of the performance. This article highlights the importance of an interdisciplinary approach in the methodology of creating accompaniment music for music students. This approach enables a holistic understanding of the performance context, considering aspects of choreography, theatrical narrative, and stage design. Through the integration of insights from various disciplines such as musicology, choreography, dramaturgy, and audio technology, along with an emphasis on collaboration, the interdisciplinary approach offers a more relevant solution to address these challenges. Its aim is to equip students with the ability to create accompaniment music that is not only musically competent but also effectively integrates with the overall artistic vision of the performance.Keywords: musical accompaniment, methodology, interdisciplinary, performing arts
Keselarasan Interaksi Musisi dalam Proses Latihan Band Mahadika, Fado Putra
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.14949

Abstract

AbstrakProses latihan musik ansambel memiliki beberapa kendala, hal tersebut dikarenakan terdapat adanya penyatuan dari banyak personil yang harus menjadi satu kesatuan. Dari hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengatasi interferensi yang terjadi dalam interaksi antar musisi dalam proses latihan bermusik secara ansambel untuk mencapai keselarasan harmoni secara sosial dan musikal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengamatan dan pengumpulan data yang bertahap melalui koding. Penelitian dilakukan pada ansambel musik yang terdiri oleh musisi dengan beragam latar belakang baik itu secara sosial dan secara pengalaman musikal. Interferensi komunikasi yang terjadi ketika proses latihan musik dapat teratasi dengan melakukan komunikasi yang sudah disetujui oleh para musisi dalam ansambel musik tersebut, komunikasi tersebut dilakukan secara verbal dengan berbicara dan non-verbal dengan menggunakan tangan, anggukan kepala, atau hembusan nafas. Hal ini dikarenakan oleh habitus para musisi dalam ansambel tersebut yang mempunyai pandangan yang sama untuk komunikasi non-verbal maka dari itu keselarasan interaksi musisi bisa didapatkan kembali. Kata kunci: keselarasan; interaksi musisi; band  AbstractThe Synchronization of Musicians’ Interaction in Band Rehearsal Processes. The process of practicing ensemble music has several obstacles, this is because there is a unification of many personnel who must become one unit. From this, this study aims to determine and overcome the interference that occurs in the interaction between musicians in the process of practicing music as an ensemble to achieve social and musical harmony. The research method used is a qualitative method with observation techniques and gradual data collection through coding. The study was conducted on a music ensemble consisting of musicians with various backgrounds, both socially and in terms of musical experience. The results of the study showed that communication interference that occurs during the music practice process can be overcome by communicating that has been agreed upon by the musicians in the music ensemble, the communication is carried out verbally and non-verbally. This is because the habitus of the musicians in the ensemble has the same view for non-verbal communication, therefore the harmony of musician interaction can be obtained again. Keywords: harmony; musician interaction; band
Ekstrakurikuler Kriya Anyaman Bambu sebagai Penguatan Lokalitas dan Kreativitas Siswa: Studi Kasus SDN Tangkil Bantul Firmansyah, Feri; Setyaningrum, Fery
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.15693

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekstrakurikuler kriya anyaman bambu sebagai proses kreativitas dan penguatan lokalitas siswa kelas V di SDN Tangkil Bantul. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek utama dalam penelitian ini siswa kelas V. Pengumpulan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalu tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ekstrakurikuler kriya anyaman bambu mendorong proses kreativitas siswa kelas V di SDN Tangkil Bantul. Proses kreativitas yang terjadi pada siswa kelas V yaitu proses persiapan, inkubasi, iluminasi, serta verifikasi. Ekstrakurikuler kriya anyaman bambu memberikan dampak positif dalam memperkuat lokalitas siswa kelas V, kegiatan ini siswa terlibat secara langsung dalam praktik pembuatan kriya anyaman bambu sehingga siswa mengenal, menghargai, mengetahui nilai budaya, serta menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab siswa untuk melestarikan budaya lokal kriya anyaman bambu.Kata kunci: ekstrakurikuler, kriya, anyaman bambu, kreativitas, lokalitas.AbstractBamboo Weaving Craft Extracurricular Activities as Strengthening of Student Locality and Creativity: A Case Study at Tangkil Bantul Public Elementary School. This research aims to describe extracurricular bamboo weaving crafts as a process of creativity and strengthening the locality of class V students at SDN Tangkil Bantul.  The type of research used is qualitative research with a case study method. The main subjects in this research were fifth grade students. Data were collected from observations, interviews and documentation. Data analysis techniques go through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.   The results of the research show that extracurricular bamboo woven crafts encourage the creativity process of class V students at SDN Tangkil Bantul. The creativity process that occurs in class V students is the process of preparation, incubation, illumination and verification. Extracurricular bamboo woven crafts have a positive impact in strengthening the locality of class V students. In this activity, students are directly involved in the practice of making bamboo woven crafts so that students know, appreciate and understand cultural values, as well as fostering a sense of pride and responsibility in students to preserve the local culture of bamboo woven crafts.Keywords: extracurricular, crafts, bamboo weaving, creativity, locality.
Regenerasi dan Adaptasi sebagai Strategi Pelestarian Wayang Topeng Kelompok Kadaryono di Situbondo, Jawa Timur Rahmayani, Wahdania Nur; Gustyawan, Tofan; Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satrio
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.16160

Abstract

AbstrakWayang topeng adalah salah satu jenis teater rakyat tradisional yang berasal dari Situbondo, Jawa Timur, yang kini mengalami penurunan intensitas pertunjukan dibandingkan dengan kesenian ludruk dan ketoprak. Kelompok Wayang Topeng Kadaryono menjadi salah satu representasi penting dalam pelestarian bentuk seni ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan dan dinamika kelompok Kadaryono dalam mempertahankan eksistensi seni pertunjukan wayang topeng. Dengan menggunakan pendekatan sejarah dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan tokoh seniman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian wayang topeng didorong oleh inisiatif pelaku seni itu sendiri, terutama Ki Dalang Kadaryono, yang secara aktif menjaga kesinambungan tradisi melalui regenerasi internal dan adaptasi format pementasan. Keberlangsungan kesenian ini membutuhkan kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan pemerintah sebagai ekosistem pendukung yang berkelanjutan.Kata kunci: Situbondo, wayang topeng, keberadaan, KadaryonoAbstractRegeneration and Adaptation as Preservation Strategies for the Kadaryono Group's Wayang Topeng in Situbondo, East Java. Wayang topeng is a traditional folk theater in Situbondo, East Java, which has experienced a decline in performance frequency compared to other regional arts such as ludruk and ketoprak. The Kadaryono mask puppet group plays a vital role in preserving this art form. This study aims to describe the presence and cultural significance of the Kadaryono group in maintaining the existence of wayang topeng. Employing a historical approach and qualitative descriptive method, data were collected through literature review, field observation, and in-depth interviews with local art figures. The results indicate that preservation efforts are initiated by the artists themselves, particularly Ki Dalang Kadaryono, who continues to sustain the tradition through internal regeneration and performance adaptation. The sustainability of this cultural heritage relies on the collaborative support of artists, the community, and local authorities. Keywords: Situbondo, puppet mask, existence, Kadaryono
Transkulturasi Naskah Pinangan Anton Chekhov: Eksplorasi Dramaturgi Visual dan Kritik Sosial dalam Teater Indonesia Handayani, Lusi; Pramasheilla, Dinda Assalia Avero; Utami, Yhovy Hendricasri; Rahmayani, Wahdania Nur
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.15849

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas proses penafsiran visual dan dramaturgi dalam pertunjukan teater yang merekontekstualisasi naskah The Proposal Karya Anton Chekhov ke dalam konteks budaya Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah mengeksplorasi bagaimana teks drama klasik asal Rusia tersebut dapat diterjemahkan secara artistik ke dalam ruang lokal melalui pendekatan penyutradaraan, pemilihan gaya permainan aktor, desain artistik, serta penggunaan simbol-simbol visual. Topik ini dipilih karena Pinangan mengandung ironi sosial yang relevan dengan dinamika kelas menengah Indonesia kontemporer, namun membutuhkan pembacaan ulang agar dapat diterima oleh penonton lokal Penelitian ini menggunakan pendekatan penciptaan seni (artistic reserch) dengan metode practice- as-research, yaitu metode penciptaan karya yang berangkat dari eksplorasi terhadap teks sastra (naskah Pinangan karya Anton Chekhov), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan teater melalui tahapan-tahapan kreatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertunjukan teater Pinangan versi Indonesia tidak hanya mengubah aspek bahasa dan latar, tetapi juga menambahkan nuansa kritik sosial baru, memperkuat komedi situasional, serta menciptakan dialog antar budaya antara teks asli dan penonton masa kini. Penafsiran dramaturgis yang dilakukan berhasil menampilkan kembali substansi naskah secara segar tanpa kehilangan esensi Chekhovian, sekaligus memperkuat pesan lokal dalam praktik teater Indonesia.Kata kunci: Rekontekstualisasi, Penafsiran Teater, Dramaturgi, Naskah Chekhov, Kritik Sosial AbstractThe Transculturation of Anton Chekhov's The Proposal: Visual Dramaturgy and Social Criticism in Indonesian Theatre. This article discusses the process of visual and dramaturgical interpretation in a theatrical performance that recontextualizes Anton Chekhov's The Proposal script into an Indonesian cultural context. The purpose of this study is to explore how the classic Russian drama text can be artistically translated into a local space through a directorial approach, the selection of actor playing styles, artistic design, and the use of visual symbols. This topic was chosen because Pinangan contains social irony that is relevant to the dynamics of the contemporary Indonesian middle class, but requires rereading in order to be accepted by local audiences. This study uses an artistic research approach with the practice-as-research method, namely a method of creating works that starts from an exploration of literary texts (the Pinangan script by Anton Chekhov), which is then translated into a theatrical performance through creative stages. The results of the study show that the Indonesian version of the Pinangan theatrical performance not only changes the language and setting aspects, but also adds new nuances of social criticism, strengthens situational comedy, and creates an intercultural dialogue between the original text and today's audience. The dramaturgical interpretation carried out successfully re-presents the substance of the script in a fresh way without losing the Chekhovian essence, while strengthening the local message in Indonesian theatrical practice.Keywords: Recontextualization, Theater Interpretation, Dramaturgy, Chekhov's Script, Social Criticism
Karakteristik Demografis dan Psikografis Audiens Musik Klasik Jakarta City Philharmonic Orchestra Nurmusabih, Nandya Abror
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.15865

Abstract

AbstrakArtikel ini memberikan identifikasi dan penjelasan mengenai karakteristik demografis dan psikografis penonton, serta motivasi yang mempengaruhi kehadiran mereka dalam sebuah pertunjukan musik. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 600 responden yang datanya diambil pada pertunjukan Jakarta City Philharmonic Orchestra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penonton adalah perempuan dengan presentase 61%, dengan profesi dominan sebagai karyawan perusahaan swasta dengan presentase 36% dan rerata pengeluaran bulanan antara 3-5,9 juta dengan presentase 35%. Sebagian besar responden berstatus lajang dengan presentase 86% dan memiliki pendidikan terakhir sarjana (S1) dengan presentase 59%. Motivasi utama penonton untuk hadir adalah untuk relaksasi dan hiburan, diikuti oleh keinginan untuk memperoleh wawasan baru tentang seni. Analisis tabulasi silang mengungkapkan bahwa perempuan lebih banyak hadir dibandingkan laki-laki dengan presentase 61% dan 39%, dan penonton lajang cenderung lebih sering menghadiri pertunjukan dengan presentase 86%. Penelitian ini juga mengidentifikasi empat segmen penonton berdasarkan gaya hidup, yaitu "penikmat", "wanita aspirasional", "sarjana milenial", dan "lajang berjiwa seni". Hasil kajian dapat memberikan rujukan bagi pengelola seni dalam merancang strategi pemasaran yang lebih efektif dan menarik bagi penonton musik orkestra.Kata kunci:  audiens, Jakarta City Philharmonic Orchestra, musik orkestra, segmentasi penonton AbstractDemographic and Psychographic Characteristics of the Jakarta City Philharmonic Orchestra's Classical Music Audience. This article identifies and explains the demographic and psychographic characteristics of concert attendees, as well as the motivations influencing their presence at a musical performance. Utilizing a descriptive quantitative approach, the study surveyed 600 respondents whose data were collected during a Jakarta City Philharmonic Orchestra concert. The findings reveal that the majority of attendees were female (61%), predominantly employed in private sector companies (36%), with average monthly expenditures ranging between 3 to 5.9 million IDR (35%). Most respondents were single (86%) and held an undergraduate degree (59%). The primary motivation for attendance was relaxation and entertainment, followed by a desire to gain new insights into the arts. Cross-tabulation analysis indicates that women attended in greater numbers than men (61% vs. 39%), and single individuals were more likely to participate in performances (86%). The study further categorizes the audience into four lifestyle-based segments: “enthusiasts,” “aspirational women,” “millennial graduates,” and “arts-spirited singles.” These findings offer valuable insights for arts organizers in designing more effective and appealing marketing strategies targeted toward orchestral music audiences. Keywords: audience, Jakarta City Philharmonic Orchestra, orchestral music, audience segmentation
Maaghak suwek: Tradisi Syukuran Panen Padi Masyarakat Pulau Birandang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau Prayoga, Aidil Aldian; Septriani, Septriani
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.16898

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji Tradisi Maaghak Suwek yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pulau Birandang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Prosesi yang dilangsungkan sarat simbolisme, seperti arak-arakan, makan bajambau, doa bersama, serta penggunaan Ubek Padi—ramuan berbahan dasar dedaunan sebagai obat tradisional untuk tanaman padi. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang semakin dilupakan oleh generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori Tradisi dari C.A. Van Peursen dan teori interpretasi simbolik dari Clifford Geertz. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Maaghak Suwek berakar dari nasihat para alim ulama terdahulu sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Tradisi ini tidak hanya bermakna sebagai warisan budaya, namun juga sebagai bentuk adaptasi ekologis dan spiritual masyarakat terhadap lingkungan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai luhur budaya lokal dan menjadi dasar perumusan program pelestarian budaya berbasis komunitas. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya studi antropologi budaya dengan memberikan contoh konkret tentang sinergi antara tradisi lokal, agama, dan lingkungan dalam satu sistem sosial yang utuh.Kata kunci: Tradisi, Maaghak Suwek, Pulau Birandang AbstractMaaghak Suwek: A Rice Harvest Thanksgiving Ritual in Birandang Island, Riau, Indonesia. This research examines the Maaghak Suwek tradition practiced by the community of Pulau Birandang Village, Kampar Regency, Riau Province. The ceremonial procession is rich in symbolism, featuring elements such as a ritual parade, a bajambau communal feast, collective prayers, and the use of Ubek Padi—a traditional herbal concoction made from leaves used to treat rice plants. The urgency of this study lies in the endeavor to preserve a cultural and local wisdom containing spiritual, social, and ecological values that are increasingly fading from the awareness of the younger generation. Employing a qualitative approach, this study utilizes C.A. Van Peursen's theory of Tradition and Clifford Geertz's theory of symbolic interpretation. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, documentation, and literature study. The findings indicate that the Maaghak Suwek tradition is rooted in the counsel of past religious scholars, representing the community's earnest effort to maintain balance between humans, nature, and God. This tradition holds significance not merely as a cultural heritage but also as a form of the community's ecological and spiritual adaptation to their environment. The implications of this research contribute directly to the community by raising awareness of the values embedded in their local culture, while also providing a foundation for formulating community-based cultural preservation programs. This study enriches the field of cultural anthropology by providing a concrete example of the synergy between local tradition, religion, and the environment within a cohesive social system.Keywords: Tradition, Maaghak Suwek, Birandang Island
Prosesi dan Makna Simbolik Tradisi Maanton Tando di Nagari Lubuk Ulang Aling Hari, Solok Selatan Wiranda, Windi; Yurisman, Yurisman
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.16980

Abstract

AbstrakTradisi Maanton Tando dalam adat Minangkabau merupakan prosesi seserahan tando (ikatan janji) oleh pihak laki-laki kepada perempuan sebagai ikatan menuju pernikahan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosesi dan menginterpretasikan makna simboliknya. Dengan pendekatan kualitatif dan teori interpretatif simbolik Clifford Geertz, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosesi terdiri dari beberapa tahapan seperti persiapan seserahan, mamopek siriah, baarak, batombe, baretong, dan mancaliak-caliak. Setiap isi tando mengandung makna simbolis mendalam, seperti cincin (janji), gambiu (penguat hubungan), sirih-pinang (kesopanan dan ketulusan), serta kelapa tua berlukis (dinamika rumah tangga). Tradisi ini memiliki nilai sosial sebagai pengikat hubungan keluarga dan spiritual sebagai pemberi makna sakral dalam pernikahan. Temuan juga menunjukkan adaptasi isi tando terhadap modernitas tanpa meninggalkan nilai adat, mengindikasikan bahwa tradisi bersifat dinamis dan dapat berevolusi seiring zaman selama nilai-nilai dasar tradisinya tetap terjaga. Kata kunci: Maanton Tando, interpretasi, makna, budaya, spiritual AbstractThe Procession and Symbolic Meaning of the Maanton Tando Tradition in South Solok, West Sumatra. The Maanton Tando tradition in Minangkabau culture is a procession where the male party presents the tando (pledge gifts) to the female party as a binding commitment toward marriage. This study aims to describe the procession and interpret its symbolic meanings. Using a qualitative approach and Clifford Geertz's symbolic interpretive theory, data were collected through observation, interviews, and documentation. The results reveal that the procession consists of several stages, such as preparation of offerings (persiapan seserahan), wrapping betel leaves (mamopek siriah), ceremonial parade (baarak), poetic recitation (batombe), dialogue (baretong), and ceremonial visit (mancaliak-caliak). Each item in the tando carries profound symbolic meanings, such as the ring (promise), gambier (strengthening relationships), betel and areca nut (courtesy and sincerity), and painted mature coconut (dynamics of household life). This tradition holds social value as a binder of family relationships and spiritual value as a sacred element of marriage. The findings also show adaptations in the content of the tando to modernity without abandoning traditional values, indicating that tradition is dynamic and can evolve over time as long as its core values are preserved. Keywords: Maanton Tando, interpretation, meaning, culture, spiritual
Tradisi Manggusuak pada Pernikahan di Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat Sefitriani, Cantika; Endrizal, Endrizal
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.17150

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan luaran penelitian yang mendeskripsikan tradisi Manggusuak di masyarakat Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari siklus pernikahan yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan teori dari Clifford Geertz. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan, wawancara, dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Manggusuak merupakan prosesi luluran calon pengantin wanita dengan ramuan tradisional sebagai bentuk simbolis penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesi ini dilaksanakan tiga hari sebelum acara baraelek (pesta pernikahan). Ramuan ini terdiri dari berbagai bahan alami yang masing-masingnya memiliki makna simbolik. Tradisi Manggusuak tidak hanya berfungsi sebagai proses penyucian calon pengantin perempuan secara fisik, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau mengenai kesiapan memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesnya yang kompleks, dimulai dari pengumpulan bahan alami, pengolahan secara tradisional, hingga peluluran yang disertai petuah dan doa, menjadikan Manggusuak tidak hanya sebagai upacara perawatan diri, namun juga cermin dari sistem pengetahuan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat.Kata kunci: Tradisi, Manggusuak, PaninggahanAbstractManggusuak in Nagari Paninggahan: Local Specificity within Minangkabau Matrimonial Traditions. This article presents the findings of a research project that describes the Manggusuak tradition practiced by the community of Nagari Paninggahan, Solok, West Sumatra. This tradition forms an integral part of the marriage cycle and has been passed down through generations. The study employs Clifford Geertz’s interpretive cultural theory and adopts a qualitative approach, utilizing field observation, interviews, and documentation as data collection techniques. Data were analyzed through reduction, presentation, conclusion drawing, and verification. Manggusuak is a ritual in which the bride-to-be undergoes a traditional body scrub using herbal mixtures, symbolizing purification before entering married life. The ritual is performed three days prior to the baraelek (wedding celebration). The herbal mixture consists of various natural ingredients, each bearing symbolic meaning. Beyond its function as physical cleansing, Manggusuak serves as a medium for transmitting the Minangkabau community’s core values regarding readiness for marriage. Its intricate process—from gathering natural materials and preparing them traditionally to the act of scrubbing accompanied by advice and prayers—positions Manggusuak not merely as a beauty ritual, but as a reflection of local knowledge systems embedded in everyday life.Keywords: Tradition, Manggusuak, Paninggahan.
Pertunjukan Tradisi Lukah Gilo di Nagari Tarung-Tarung IX Koto Sungai Lasi Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat Fitri, Anisa; Kasman, Selvi
Ekspresi Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekspresi.v14i1.17151

Abstract

AbstrakArtikel ini ditulis untuk mendeskripsikan tata cara pelaksanaan serta fungsi pertunjukan tradisi Lukah Gilo bagi masyarakat setempat. Adapun artikel ini merupakan luaran penelitian yang menggunakan teori tradisi dari Bronislaw Malinowski. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Adapun objek penelitian ini adalah pertunjukan tradisi Lukah Gilo. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sekunder. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Lukah Gilo merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang menampilkan keahlian khas masyarakat dalam menciptakan ilusi seolah-olah sebuah benda mati yakni lukah atau perangkap ikan dari bambu dapat bergerak dan hidup dengan sendirinya. Gerakan-gerakan lukah tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh manusia, melainkan melalui serangkaian ritual, mantra, dan iringan musik tradisional yang diyakini mengundang kekuatan gaib. Atraksi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan kepercayaan spiritual serta kearifan lokal masyarakat pendukung tradisi tersebut. Fungsi pertunjukan tradisi Lukah Gilo bagi masyarakat Taruang-Taruang, adalah sebagai hiburan, sebagai tempat ekspresi bagi pelaku kesenian,memberikan kenikmatan estetis,sebagai komunikasi dan juga pengintegrasian masyarakat, sebagai representasi simbolis, sebagai respon fisik, memperkuat konformitas norma-norma sosial, serta stabilitas kebudayaan. Lukah Gilo juga berfungsi sebagai hiburan dan tontonan yang menarik terutama dalam acara-acara adat, festival, atau upacara tertentu.Kata kunci :  Lukah Gilo, Pertunjukan, Tradisi, FungsionalismeAbstractThe Lukah Gilo Traditional Performance in Taruang-Taruang IX Koto Sungai Lasi, Solok Regency, West Sumatra Province. This study aims to describe the procedures of implementation as well as the functions of the Lukah Gilo traditional performance for the local community. To support the research, the study employs Bronislaw Malinowski’s theory of tradition. In addition, the research applies a qualitative approach with data collection techniques including direct field observation, interviews, and documentation. The object of this research is the Lukah Gilo traditional performance. The data sources consist of both primary and secondary sources. Data analysis was carried out through three stages: data collection, data reduction (which includes reducing data, presenting data, and drawing conclusions with verification). The results of the study indicate that the Lukah Gilo performance is one form of folk performing arts that showcases the distinctive skills of the community in creating the illusion that an inanimate object—namely lukah (a bamboo fish trap)—can move and come to life on its own. The movements of the lukah are not directly controlled by humans, but rather are brought forth through a series of rituals, chants, and traditional musical accompaniment believed to summon supernatural forces. This attraction not only entertains but also reflects the community’s spiritual beliefs and local wisdom. The functions of the Lukah Gilo traditional performance for the people of Taruang-Taruang include entertainment, providing a space for artistic expression, offering aesthetic enjoyment, serving as a means of communication and community integration, symbolic representation, physical response, reinforcing conformity to social norms, and maintaining cultural stability. Lukah Gilo also functions as an appealing spectacle, especially in customary ceremonies, festivals, or certain rituals.Keywords: Lukah Gilo, Performance, Tradition, Functionalism

Page 1 of 1 | Total Record : 10