cover
Contact Name
Baskoro Suryo Banindro
Contact Email
banindro@gmail.com
Phone
+6285641432978
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran Campus, first floor in C5 building, Gunungpati, Kota Semarang,
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
Core Subject : Humanities,
The journal publishes writings on (1) historiography, (2) philosophy of history, (3) history of education, and (4) history educaiton. Historiography means the writing of history based on the critical examination of sources, the selection of particular details from the authentic materials in those sources, and the synthesis of those details into a narrative that stands the test of critical examination. Historiography studies cover chronologically various themes, such as local history, social history, cultural history, economic history, political history, military history, intellectual history, environmental history, and other historical studies. Philosophy of history, the study either of the historical process and its development or of the methods used by historians to understand their material. History of education is a study of the past that focuses on educational issues. These include education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past. History education includes studies of how history teaches in school or society, curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks.
Articles 742 Documents
THOMAS STAMFORD RAFFLES: SEORANG UNIVERSALIS ATAU IMPERIALIS? Hariyono, Hariyono; Wijaya, Daya Negri
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5144

Abstract

It is debatable that Raffles is seemed to be a Universalist or an imperialist. The first refers to a belief that he is an agent of the spread of Western values to the Eastern. Others claim that he is the Western imperialist to the Eastern. This is caused by the forced values to the Eastern. Raffles issued the reformation of policy because the colonialism of VOC and the government of French-Dutch did not have any humanistic policy. He issued many humanistic policies till the end of his government in Java. One of his policies was the slavery tax. The tax was used specifically to abolish the practice of slavery and to the welfare of people. In other side, Raffles forced people to work in his friend’s land, Alexander Hare who opened the plantation in Banjarmasin. The life of workers was really suffering however his thoughts and his efforts becoming an insight to oppose the heritage of feudalism (slavery). To short, there was a lesson learnt why Raffles’ ideas were failed and came back to the previous structure.  Raffles dalam satu sisi terlihat sebagai seorang universalis dan disisi lain sebagai seorang imperialis. Ada yang memandang Raffles di Nusantara adalah penyebar nilai-nilai Barat ke dunia Timur. Sejarawan lain memandang Raffles sebagai bagian dari imperialisme Barat ke dunia Timur karena nilai-nilai yang ditawarkan tidak cocok dan dipaksakan secara politis. Raffles melakukan reformasi kebijakan karena kolonialisme VOC dan pemerintah kolonial Prancis-Belanda dirasa tidak humanis. Dia mengeluarkan banyak kebijakan yang bersifat humanis hingga akhir kepemimpinan. Salah satu kebijakannya adalah memberlakukan pajak bagi rakyat yang memiliki budak. Pajak digunakan sebagai penghapus praktek perbudakan secara khusus dan untuk kemaslahatan umat secara umum. Pada sisi lain Raffles mengirim pekerja pada sahabatnya Alexander Hare yang membuka perkebunan di dekat Banjarmasin. Kehidupan pekerja disana tentu sangat menderita tetapi pemikiran dan usahanya menjadi pelopor dalam menentang warisan feodalisme (perbudakan) yang patut dicela. Setidaknya dapat dijadikan pelajaran mengapa ide Raffles akhirnya terbentur dan kembali pada tatanan sebelumnya. 
REKONSTRUKSI KERAJAAN GALUH ABAD VIII-XV Lubis, Nina Herlina; Muhzin Z., Mumuh; Sofianto, Kunto; Mahzuni, Dade; Widyonugrohanto, Widyonugrohanto; Mulyadi, R.M.; Darsa, Undang Ahmad
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5142

Abstract

The title of this research is Reconstruction of Galuh Kingdom in 8th-15thcentury. Issue that will be studied is how to unravel the location of the capital and palace shape of Galuh Kingdom. To answer the issue is used the historical method which consists of four steps, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. Result of this research is that the existence of Galuh Kingdom is a history, not a myth. Historical sources which support the many arguments of its existence including inscriptions, foreign news, ancient manuscripts, social facts and mental facts. In addition, the life of its existence as long as eight centuries shows that Galuh Kingdom is not just existent but also strong because it is supported by a variety of solid and coherent system. Concerning about the location of capital and shape of the Kingdom , it still needs to explore further. Judul penelitian ini adalah Rekonstruksi Galuh Raya di abad ke-8-15. Masalah yang akan dipelajari adalah bagaimana mengungkap lokasi dari bentuk modal dan istana Kerajaan Galuh. Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini adalah bahwa keberadaan Kerajaan Galuh adalah sejarah, bukan mitos. Sumber-sumber sejarah yang mendukung banyak argumen keberadaannya termasuk prasasti, berita asing, naskah kuno, fakta sosial dan fakta mental. Selain itu, kehidupan keberadaannya selama delapan abad menunjukkan bahwa Kerajaan Galuh tidak hanya ada tapi juga kuat karena didukung oleh berbagai sistem yang solid dan koheren. Mengenai tentang lokasi ibukota dan bentuk Kerajaan, masih perlu untuk menjelajahi lebih lanjut. 
NASIONALISME DALAM TEROR DI MANDAR TAHUN 1947 Hamid, Abd Rahman
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5149

Abstract

The desire becoming the new state (Republic) had been paid expensively by Mandar people. In February 1947, Westerling commited massacre in Galung Lombok and the surrounding areas. The victims were accused of being extremists, robbers, and murderers. They are executed without process of law process and forgiveness. This incident became the historical milestone in the area in defending the Republic from terror of Dutch troops. The movement had influence and extensive network, not only in South Sulawesi, but also in Java and Kalimantan. People’s struggles were organized by KRIS Muda and GAPRI5.3.1. As a results of this study, it was found that there was encounter between nationalism and religion. Other organizations, particularly ALRI-PS, had role for defending the Republic. Choosing Mandar as target location for Westerling terror showed an important and powerful influence of the movement struggle in this region. Keinginan menjadi negara baru (republik) telah dibayar mahal oleh rakyat Mandar. Pada bulan Februari 1947, pasukan Westerling melakukan pembantaian massal di Galung Lombok dan daerah sekitarnya. Para korban dituduh sebagai ekstrimis, perampok, dan pembunuh. Mereka dieksekusi mati tanpa proses hukum dan ampun. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah daerah ini dalam membela Republik dari teror pasukan Be-landa. Gerakan itu memiliki pengaruh dan jaringan yang luas, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga Jawa dan Kalimantan.Perjuangan rakyat terorganisasi lewat KRIS Muda dan GAPRI 5.3.1. Dari hasil studi ini ditemukan adanya perjumpaan antara nasionalisme dan agama. Organisasi lain, khususnya ALRI-PS, berperan dalam membela republik. Dipilihnya Mandar sebagai lokasi sasaran teror Westerling menunjukkan penting dan kuatnya gerakan pengaruh perjuangan dari daerah ini. 
NIKAH SIRI DI WARUREJO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Arsal, Thriwaty; Wahyuni, Ekawati S.; Pandjaitan, Nurmala K.; Hubeis, Aida Vitayala S.
Paramita: Historical Studies Journal Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v25i2.5132

Abstract

Siri Marriage (unofficial marriage) is not a new phenomenon in Indonesia with its all negative impacts. However, in Warurejo village, siri marriage is accepted widely by society particularl actors and siri marriage network.  Siri marriage is a legal activity based on Islam if corresponding with legal requirements of marriag. Location of the research is conducted in  Warurejo village, East Java through qualitative, quantitative and semantics approaches. The result of research shows that siri marriage in Warurejo has been long standing and hereditary since Madura ethnic migrates to Warurejo. Siri marriage initially occurs among migrants, gradually changing and leading to commercialization. Warurejo people cannot predict the exact time when the commercialization of siri marriage applied in Warurejo village, but surely after commercialization occurs, there is a workplace for brokers and clerics. Economy needs sometimes cause the actors ignoring the negative impacts as a result of siri marriage, such as domestic violence, child custody, inheritance, etc. If there is a divorce, it is only delivered by brokers or short messages through mobile phone. Nikah siri bukanlah fenomena baru di Indonesia dengan segala dampak negatifnya. Namun, di Desa Warurejo nikah siri diterima secara luas oleh masyarakat, terutama aktor dan   jaringan nikah siri. Nikah siri merupakan tindakan yang sah menurut agama Islam sepanjang sesuai syarat sahnya pernikahan. Lokasi penelitian di lakukan di desa Warurejo Jawa Timur.dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif dan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nikah siri di Warurejo sudah berlangsung lama dan turun temurun. Sejak etnis Madura melakukan migrasi ke Warurejo. Nikah siri yang awalnya terjadi hanya sesama migran, lambat laun mengalami perubahan dan mengarah ke komersilisasi. Masyarakat Warurejo tidak bisa memperkirakan sejak kapan komersilisasi nikah siri mulai berlaku di Desa Warurejo, namun yang pasti sejak adanya komersilisasi maka sejak itu pula mulai memunculkan  lahan pekerjaan baru bagi para broker dan kyai/modin. Kebutuhan terhadap ekonomi  menyebabkan pelaku terkadang mengabaikan fungsi negatif yang diakibatkan oleh nikah siri, misalnya adanya kekerasan  dalam rumah tangga,  hak asuh anak, waris, dan lain-lain. Jika terjadi perceraian, maka perceraian itu hanya disampaikan melalui broker atau pesan pendek melalui telepon seluler. 
PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH Tanjung, Samsidar
Paramita: Historical Studies Journal Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v25i2.5170

Abstract

This study aims to investigate the effect of multi-channel teaching media and cognitive styles toward the history learning achievement. This quantitative, experimental study employs a 2X2 factorial design. It involves two independent variables, i.e. multi-channel teaching media (X1) and cognitive styles (X2), and learning achievement (Y) as the dependent variable. Population of the study is all students of the History Education Department who are taking the History of Indonesia 3. Samples are selected from this group using random sampling and are collected by conducting Learning Achievement and Cognitive Style tests. Findings signify that: (1) Teaching activities which utilize teaching media by utility (making use of the environment) bring greater learning achievement compared to those that utilize teaching media by design. (2) There are differences between the learning achievements of students. Those with field-independent cognitive style show better achievement than students who are field-dependent. (3) Findings show that students of the Indonesian History 3 course who were taught using teaching media by utility obtain better learning achievement than those who were taught using teaching media by design. Making use of the media available in the immediate learning environment will make it easier for students to manipulate information that they receive with their respective cognitive structure. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media dan gaya kognitif terhadap hasil belajar sejarah. Penelitian menggunakan eksperimen ini menggunakan desain faktorial 2X2. Ini melibatkan dua variabel independen, yaitu media pembelajaran (X1) dan gaya kognitif (X2), dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel dependen. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah yang mengambil Sejarah Indonesia 3. Sampel dipilih menggunakan random sampling dan dikumpulkan dengan melakukan hasil Belajar dan tes Gaya kognitif. Temuan menandakan bahwa: (1) kegiatan Pengajaran yang memanfaatkan media pembelajaran by utility (memanfaatkan lingkungan) membawa hasil belajar yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang memanfaatkan media pembelajaran by design. (2) Ada perbedaan antara prestasi belajar siswa. Mereka dengan gaya kognitif menunjukkan prestasi lebih baik. (3) Temuan menunjukkan bahwa siswa dari kuliah Sejarah Indonesia 3 yang diajarkan menggunakan media pembelajaran by utility memperoleh prestasi belajar yang lebih baik daripada mereka yang diajarkan menggunakan media yang mengajar dengan by design. Memanfaatkan media yang tersedia di lingkungan belajar langsung akan memudahkan siswa untuk memanipulasi informasi yang mereka terima dengan struktur kognitif mereka masing-masing. 
MAKNA SIMBOLIS BATIK PADA MASYARAKAT JAWA KUNA Maziyah, Siti; Mahirta, Mahirta; Atmosudiro, Sumijati
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5143

Abstract

This research aims to analyze symbolic meaning of batik in the ancient Javanese society. Next, it is also analyze whether the existence of batik can describe  cultures  in contemporary society. The research uses historical method in order to obtain field data and facts. Because of the required data consist of inscription which contains of sîma area in the Ancient Mataram Kingdom era made approximately in  IX-XV M,  so those data are collected either from Jakarta National Museum or pada National Library in  Jakarta. Then, interpretation is conducted to synthesize any field facts. The final stage is historiography, that is a writing process  of any available facts  becoming history writing. According to discussion above, it can be concluded that batik motif in the Ancient Javanese society has symbolic meaning  and it can be used as communication tools for contemporary society. The Ancient Javanese society realizes that from batik motif, it can be identified the social stratification of society. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolis batik pada masyarakat Jawa Kuna.Kemudian, dianalisis juga tentang apakah melalui keberadaan batik itu dapat mendiskripsikan kebudayaan masyarakat sezaman.Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dalam upaya untuk mendapatkan data dan fakta yang ada di lapangan. Mengingat data yang dibutuhkan berupa prasasti yang berisi tentang daerah sîma pada masa Kerajaan Mataram Kuna yang dibuat sekitar abad IX-XV M, maka data-data tersebut “digali” di Museum Nasional Jakarta maupun pada Perpustakaan Nasional di Jakarta.Selanjutnya dilakukan interpretasi untuk mensintesiskan segala fakta yang terdapat di lapangan. Langkah terakhir adalah historiografi, yaitu proses penulisan segala fakta yang ada menjadi sebuah tulisan sejarah.Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa motif batik pada masyarakat Jawa Kuna itu memiliki makna simbolik dan dapat digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi bagi masyarakat sezaman.Masyarakat Jawa Kuna menyadari bahwa melalui motif-motif batik dapat diketahui stratifikasi sosial masyarakat. 
MAKNA DAN STRUKTUR PAKAIAN KARNAVAL JOGJA FASHION WEEK DI YOGYAKARTA 2007-2014 Setiawan, Deni
Paramita: Historical Studies Journal Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v25i2.5139

Abstract

Costume exhibition show, Jogja Fashion Week Carnival, was intended to progress clothing industry, to lessen the imported clothes, and to raise the selling value of the traditional clothes in Indonesia. Throughout 2007-2014, the costume exhibition show was adequately effective to introduce the products of traditional culture becoming local characteristics to public. The research on carnival costume was made to find out the periods of the clothing style by applying art historic approach, to explain the issue of interpretation and social interaction, I used art sociological approach. The resulted conclusion was that every style of carnival costumes reflected several meanings, such as: clothing imagery, designer, and trademark. The costume structure consists of physical and non-physical ones. The physical structure was related to the issues of style, shape, and visual appearance; while the non-physical one comprised interpretation regarding the concepts of creation, social conditions, and history. The creation of carnival costumes was influenced by social condition referring to legends, fairy tales, and the myths. In addition, the designer played essential parts, i.e. creating and constructing new fashion of carnival costume in Yogyakarta. Acara pameran pakaian Karnaval Jogja Fashion Week, dimaksudkan untuk memajukan industri pakaian menekan jumlah impor pakaian asing, dan meningkatkan nilai jual kain-kain tradisi-onal di Indonesia. Sepanjang tahun 2007-2014, acara pameran pakaian cukup efektif memperkenalkan produk budaya tradisional yang menjadi ciri khas daerah kepada masyarakat. Penelitian pakaian karnaval dilakukan untuk mengetahui periodisasi gaya pakaian dengan menggunakan pendekatan sejarah seni; untuk menguraikan persoalan pemaknaan dan interaksi sosial masyarakat, digunakan pendekatan sosiologi seni. Kesimpulan yang dihasilkan adalah setiap gaya pakaian karnaval mencerminkan beberapa makna, seperti: pencitraan kain, perancang, dan merk dagang. Struktur pakaian terdiri atas fisik dan nonfisik, struktur fisik menyangkut persoalan gaya, bentuk, dan tampilan visual, sedangkan nonfisik meliputi pemaknaan yang terkait dengan konsep penciptaan, kondisi sosial, dan sejarah. Penciptaan pakaian karnaval dipengaruhi oleh kondisi sosial yang mengacu pada legenda, dongeng, dan mitos-mitos. Selain itu terdapat peran perancang yang menciptakan dan mengkreasikan bentuk baru pakaian karnaval di Yogyakarta. 
WACANA BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM BUKU TEKS SEJARAH Utami, Indah Wahyu Puji; Widiadi, Aditya Nugroho
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5150

Abstract

Textbook is one of learning sources used in history learning in school. History learning has function to preserve collective memories and necessary values, such as Bhineka Tunggal Ika. This research aims to reveal depiction and representation of  Bhineka Tunggal Ika value in history textbooks. It is qualitative research using critical discourse analysis, particularly representative analysis model by Roger Fowler.  Data sources in the research are the senior high school textbooks based on 2006 curriculum which can be downloaded at bse.kemdikbud.go.id. website. Method of collecting data is conducted by documentation technique. The validity of discourse analysis refers to  Ibnu Hamad’s opinion, namely holistic, historical situatedness, and theory. Next, analysis is conducted using critical discourse analysis by Fairclough  namely description, interpretation and explanation. The result of research shows that Bhineka Tunggal Ika is represented in various themes such as assimilation/acculturation/ syncretism, differences/diversity/plurality/complexity/multicultural, distinction/discrimination and unity. Bhineka Tunggal Ika should be understand as both  a result and continuous process. Buku teks merupakan salah satu sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Pembelajaran sejarah berfungsi untuk melestarikan memori kolektif dan nilai-nilai yang dianggap penting, salah satunya Bhineka Tunggal Ika. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengungkap penggambaran dan representasi nilai Bhineka Tunggal Ika dalam buku teks sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis wacana kritis, terutama analisis representasi model Roger Fowler. Sumber data pada penelitian ini adalah buku teks sejarah SMA berdasarkan kurikulum 2006 yang dapat diunduh pada laman bse.kemdikbud.go.id. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi.Validitas analisis wacana mengacu pada pendapat Ibnu Hamad, yaitu holistic, historical situatedness, dan teori.Selanjutnya analisis dilakukan dengan menggunakan model analisis wacana kritis Fairclough yaitu deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhineka Tunggal Ika direpresentasikan dalam berbagai tema seperti pembauran/akulturasi/sinkretisme, perbedaan/ keragaman/ pluralitas/ kemajemukan/ multikultural, pembedaan/diskriminasi serta persatuan dan kesatuan. Bhineka Tunggal Ika perlu dipahami sebagai hasil maupun proses yang terus berlanjut. 
THE NEW RESPONDS TOWARD THE CHALLENGE: ISLAMIC DAWAH AND CATHOLIC MISSION IN SEMARANG, 1890s-1940s Shokheh, Mukhamad
Paramita: Historical Studies Journal Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v25i2.5137

Abstract

This study discusses the growth and development of religious movements and their effects on social life of religious communities during the period 1890s-1940s Semarang. The main problems of this study are the growth and development of Islamic da’wah and Catholic mission and its influence on socio-religious life to the people in Semarang. This study used the historical method in order to answer the problem. The development of Islamic dawah and Catholic missions in Semarang in the period 1890s-1940s could be seen into two mainstream, namely the renewal of da’wah and indigenization of mission. Islamic dawah and Catholic mission have brought progress to the social religious life of societies. Poeple in Semarang recognized the religious organization and new forms of leadership which more rational and democratic, and the growth of new awareness of identity from  people to the identity as citizens. Penelitian ini mendiskusikan muncul dan berkembangnya gerakan keagamaan dan dampaknya pada kehidupan sosial pada komunitas agama periode 1890-an sampai 1940-an di Kota Semarang. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah pertumbuhan dan perkembangan dakwah Islam dan misi Katolik, serta pengaruhnya terhadap kehidupan sosial keagamaan di Semarang. Penelitian ini menggunakan metode sejarah untuk menjawab permasalahan. Perkembangan dakwah Islam dan misi Katolik pada periode 1890-an sampai 1940-an dapat dilihat dari dua mainstream, yakni pembaharuan dakwah dan indigenisasi (pelokalan) dari misi. Dakwah Islam dan misi Katolik memberikan progress terhadap kehidupan sosial keagamaan di Semarang. Masyarakat di Semarang mengenal organisasi keagamaan dan bentuk baru dari kepemimpinan yang lebih rasional dan demokratis, dan tumbuhnya kesadaran atas identitas personal menjadi identitas sebagai warga masyarakat. 
NASIONALISASI PERUSAHAAN-PERUSAHAAN ASING MENUJU EKONOMI BERDIKARI Wasino, Wasino
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5146

Abstract

After Indonesia declared its independence, the management of the private companies became a big problem for a new government, Indonesia. Expropriation efforts for those western private plantation companies actually had been developed in the first year of the independence and it continued until the Dutch-Indonesian Round Table Conference. There were three processes passed through companies’ transformation of the western private plantation in Indonesia, namely decolonization, Indonesia-nization and nationalization. Nationalization was legally based on the Indonesian Ordinance number 86 1958, but the real process occured since a year ago. Therefore,  Indonesia had to give financial compensation to the owner, but the reality was that this aspect was still unfinished until the end of Sukarno regime. The compensation had been continued in Suharto era and was fully paid in 2002. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, manajemen perusahaan swasta menjadi masalah besar bagi pemerintahan baru, Indonesia. Upaya pengambilalihan bagi perusahaan perkebunan swasta Barat sebenarnya telah dikembangkan pada tahun pertama kemerdekaan dan itu berlanjut hingga Konferensi Meja Bundar Belanda-Indonesia. Ada tiga proses melewati transformasi perusahaan dari perkebunan swasta Barat di Indonesia, yaitu dekolonisasi, Indonesia-nization dan nasionalisasi. Nasionalisasi secara hukum berdasarkan jumlah Ordonansi Indonesia 86 tahun 1958, tetapi proses nyata terjadi sejak setahun yang lalu. Oleh karena itu, Indonesia harus memberikan kompensasi finansial kepada pemilik, tetapi kenyataannya adalah bahwa aspek ini masih belum selesai sampai akhir rezim Sukarno. Kompensasi telah berlanjut di era Soeharto dan telah dilunasi pada tahun 2002.  

Filter by Year

2010 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 2 (2024): Disaster and Disease in History Vol 34, No 1 (2024): The Election and Political History Vol 33, No 2 (2023): History and Tragedy Vol 33, No 1 (2023): Social and Religious Aspect in History Vol 32, No 2 (2022): Social, Political, and Economic History Vol 32, No 1 (2022): Local Figure and Local History Vol 31, No 2 (2021): History of Asia and Indonesia Vol 31, No 1 (2021): Maritime and Socio-Economic History of Indonesia Vol 30, No 2 (2020): PARAMITA Vol 30, No 1 (2020): PARAMITA Vol 29, No 2 (2019): PARAMITA Vol 29, No 1 (2019): PARAMITA Vol 28, No 2 (2018): PARAMITA Vol 28, No 1 (2018): PARAMITA Vol 27, No 2 (2017): PARAMITA Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA Vol 26, No 2 (2016): PARAMITA Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA Vol 25, No 2 (2015): PARAMITA Vol 25, No 1 (2015): PARAMITA Vol 25, No 1 (2015): PARAMITA Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA Vol 24, No 1 (2014): PARAMITA Vol 24, No 1 (2014): PARAMITA Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA Vol 23, No 1 (2013): PARAMITA Vol 23, No 1 (2013): PARAMITA Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA Vol 22, No 2 (2012): PARAMITA Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA Vol 22, No 1 (2012) Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 1 (2010) Vol 20, No 1 (2010) More Issue