cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Imajinasi
ISSN : 1829930X     EISSN : 25496697     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Imajinasi merupakan jurnal seni yang dikelola oleh Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes. Terbit perdana pada bulan Juli 2004. Terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juli dan Januari, dengan isi artikel tentang kajian atau analisis kritis dan hasil penelitian di bidang seni rupa.
Arjuna Subject : -
Articles 81 Documents
PERJALANAN KREATIVITAS KAUM AKADEMIS SENI DI TENGAH DINAMIKA SOSIAL M, Soegeng Toekio
Imajinasi Vol 2, No 1 (2006): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni merupakan bagian integral dari bangunan peradaban manusia yang lengkap dengan berbagai komponen yang terkait dengannya. Derap seni senantiasa menunjukkan suatu kinerja pelakunya serta dinamika dari masyarakat pendukungnya. Keberadaannya tentu saja amat berperan dalam membentuk perilaku, etos kerja, bahkan kekuatan untuk merealisasi angan maupun harapan-harapan. Ada alur yang mesti menjembatani semua itu, baik yang bermula dari mengenali dan mengapresiasi untuk selanjutnya memahami pula manfaat yang ditawarkannya. Seni disadari menyandang nilai-nilai yang bermaslahat, manakala kekaryaan mampu menunjukkan implikasi dan refleksi kehidupan dalam bingkai konsep dan bersistem. Pada tema atau fungsi tertentu, di balik wujudnya yang terindera, karya seni menghimpun sekian makna yang dihasilkan lewat cipta-karsa. Ketertiban karya seni hanya dimungkinkan terbentuk melalui kinerja yang berlatar belakang terdidik. Namun hal itu bukanlah jaminan mutlak sepanjang pelaku seni sendiri tidak bersesuai dengan apa yang menjadi rujukannya. Sosok seniman yang kompeten ternyata mampu mengukir perjalanan budaya dengan berbagai wujud hasil cipta karsanya dan berjalan dari waktu ke waktu. Dalam rentang waktu kurang dari setengah abad, kinerja seniman di tengah kancah pembangunan memperlihatkan derap cukup signifikan. Semua itu ditandai pula oleh kiprahnya kaum akademis di dalam mengisi derap budaya yang dipadukan dengan laju perkembangan IPTEK berikut refleksi dinamika sosial. Para lulusan dari sekolah-sekolah seni; dalam skala berbeda mampu melebarkan cakrawala berkesenian dan bahkan membuka lahirnya pembaruan. Walau demikian, pengelolaan institusi seni menyadari benar kelambanannya untuk mengantisipasi derap perubahan. Semua itu sangat bersandar kepada kebijakan, pendanaan, kemudahan, dan dukungan. Kata Kunci: cipta-karsa, kompetensi, dinamika sosial
ORNAMEN CANDI BUDHA: KAJIAN BENTUK DAN POLA ORNAMEN CANDI BOROBUDUR, MENDUT, DAN PAWON Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut merupakan candi Budha yang berdekatan letaknya di daerah Kedu Jawa Tengah. Bentuk dan pola ornamen, khususnya yang terdapat pada candi-candi tersebut perlu dikaji dan didokumentasikan sebelum banyak mengalami kerusakan akibat waktu, keadaan alam, dan kontak manusia. Melalui kajian dan identifikasi ornamen dapat dijadikan sumber inspirasi penciptaan seni dan obyek apresiasi, khususnya dalam bidang seni rupa. Tujuan penelitian ialah untuk: (1) menginventarisasi dan mendokumentasikan ornamen-ornamen yang terdapat pada candicandi Budha di Jawa Tengah, (2) mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menggambar sketsa ornamen (3) mendeskripsikan bermacam bentuk dan pola ornamen yang terdapat pada candi-candi Budha di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data terutama menggunakan observasi dan kajian dokumen, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ornamen pada candi-candi Borobudur, Mendut, dan Pawon berupa pahatan motif hias relief rendah dan tinggi, dari bahan batu dalam berbagai ukuran dalam panel-panel hias persegi panjang, maupun dalam bentuk trimatra. Motif hias menggambarkan manusia, makhluk kahyangan, kala, makara, binatang, tumbuh-tumbuhan, kalpataru, pundi-pundi,pilar, dan tekstil atau kertas tempel. Pola ornamen terdiri atas pola dasar pilin tegar dan pola geometris, serta susunan unsur-unsur motif hias dalam pola keseimbangan setangkup.
RELIEF PARTHAYAJNA DI CANDI JAGO Oemar, Eko A. B.
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Relief Parthayajna terdapat di Candi Jago, Malang, Jawa Timur. Relief ini berisi cerita epos Mahabarata yang menggambarkan kisah perjalanan Arjuna menuju Gunung Indrakila untuk bertapa bertemu dengan dewa. Ditinjau dari teori perkembangan kebudayaan dari P. Sorokin, relief Parthayajna dalam tahap budaya ideational mengandung makna simbolik supra inderawi yang didasarkan pada ajaran Hindu-Syiwa, kemudian dalam tahap budaya idealistik mengalami perkembangan interpretasi sesuai dengan nilai ideal yang bersumber dari budaya local. Epos Mahabharata telah digubah oleh para pujangga Jawa, dan muncul pemeranan tokoh-tokoh ideal yang diwakili oleh Arjuna dan punakawan. Seiring dengan perkembangan zaman, relief Parthajayna dalam budaya inderawi atau sensate telah kehilangan nilai simbolik religiusnya; dinamika budaya membawa perubahan nilai-nilai atau norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sesuai selera zamannya. Sekarang masyarakat cenderung memposisikan relief di dinding Candi Jago itu sebagai artefak bisu yang hanya dinikmati sensasi inderawinya.Kata kunci : relief, Parthayajna, candi Jago, ideational, idealistik, inderawi.
FENOMENA ESTETIS DAN MAKNA SIMBOLIS BENTUK RAGAM HIAS RELIEF CANDI BAJANG RATU Iriaji, -
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Bajang Ratu merupakan salah satu peninggalan purbakala pada masa kerajaan Majapahit, terletak di desa Temon, Mojokerto Jawa Timur. Candi yang sebenarnya merupakan gapura berbentuk paduraksa itu, diyakini dahulu berada dalam kompleks keraton. Candi terbuat dari bahan batu bata merah, dihiasi relief yang unik dan menarik. Hiasan relief yang terdapat pada bagian atap candi, motif-motifnya melambangkan dunia atas dan dunia bawah. Gambaran dua kehidupan yang disatukan merupakan bentuk penyelarasan kehidupan manusia yang berada pada dunia tengah. Hal ini mengindikasikan pembuatan candi Bajang Ratu berhubungan dengan konsep estetika Hindu- Jawa, yang menekankan pada rasa keindahan terkait dengan lingkungan kultural dan religius, gambaran realitas dunia (jagad cilik) dan realitas kodrati (jagad gedhe). Dari segi penyusunan bentuk estetik yang simetris dan makna simbolik ragam hiasnya, candi Bajang Ratu melambangkan adanya kesatuan kehidupan masyarakat Majapahit yang beragam religi, yakni kepercayaan Jawa, Hindu, dan Budha. Pada bagian sayap candi terdapat bentuk ragam hias relief yang merupakan adegan cerita Ramayana. Hal ini menunjukkan sifat candi yang Winuistis, dan menggambarkan kehidupan masyarakat yang mayoritas saat itu beragama Hindu. Pada bagian badan candi bentuk ragam hiasnya menggambarkan cerita Sri Tanjung. Cerita ini melambangkan bentuk upacara pengruwatan, mengingat keterkaitannya dengan fungsi candi Bajang Ratu sebagai bangunan suci untuk memperingati raja Jayanegara yang wafat pada tahun 1326 M.Kata kunci: paduraksa, estetika Hindu-Jawa, ragam hias, pengruwatan.
VISUALISASI TOKOH CERITERA RAMAYANA PADA RELIEF CANDI INDUK PENATARAN Sumanto, -
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Penataran merupakan gugusan candi terbesar di Jawa Timur, terletak 12 kilometer sebelah utara kota Blitar. Ceritera Ramayana dipahatkan sebagai relief yang menarik di candi induk Penataran. Meskipun kisah Ramayana berasal dari India, ceritera yang terdapat pada candi Penataran telah mengalami perubahan. Bentuk reliefnya dinilai sebagai ungkapan cita rasa asli bangsa Indonesia. Relief ceritera Ramayana itu divisualisasikan tidak kurang dari 91 panel relief, dimulai dari tokoh Anoman dalam usahanya untuk menemui Sinta di negeri Alengka atas perintah Rama, pertarungan Anoman dengan para raksasa, hingga tewasnya Kumbakana adik Rahwana oleh bala tentara kera. Bentuk-bentuk tokoh dalam ceritera digambarkan mirip wayang kulit Bali. Pahatan reliefnya rendah dan datar, tanpa perspektif, dalam bahasa rupa yang khas. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran kepercayaan, agama, kepahlawanan, tentang cinta kasih, keindahan, dan lain-lain yang bersifat mendidik.Kata kunci: relief, ramayana, visualisasi, Penataran.
MASA PENDIRIAN CANDI SURAWANA DAN CANDI TIGAWANGI: Analisis Segi Relief dan Inskripsi Harto, Dwi Budi
Imajinasi Vol 5, No 2 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candi Surawana dan candi Tigawangi adalah salah dua di antara puluhan candi yang berada di Jawa Timur. Meskipun berada di Kediri kedua candi ini tidak termasuk peninggalan Masa Kediri, tetapi merupakan peninggalan Masa Majapahit. Jika dilacak dari berbagai literatur ternyata angka tahun pendirian dan pendiri kedua candi Masa Klasik Hindu-Budha ini menunjukkan data yang berbeda. Oleh karena itu pelurusan angka tahun pendirian dan pendiri keduacandi perlu dilakukan, yaitu dengan menggunakan pendekatan Historis-Arkeologis. Berdasarkan kajian ini, kitab Negarakertagama sebagai rujukan utama dibantu dengan data Arkeologis lainnya, maka secara interpretatif menunjukkan bahwa candi Surawana didirikan setelah candi Tigawangi. Dimungkinkan tahun pendirian candi Tigawangi ± 1358 M sedangkan candi Surawana antara 1358 M – 1361 M. Keduanya didirikan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1351 M – 1389 M). Candi Surawana dan candi Tigawangi kemungkinan merupakan pendharmaan salah dua di antara 4 nenek Hayam Wuruk selain Rajapatni (Gayatri), di antaranya: (1) Sang Prameswari Tri-bhuwana/Indreswari/Tribhuwaneswari; atau (2) Parameswari Mahadewi; atau (3) Prajnyaparamita Jayendradewi.  Pembangunan candi Surawana dipimpin oleh seorang Karaman (pejabat setingkat desa) yang bernama Si Da…. atau si Na…. atas perintah Bhre  Wengker/Wijayarajasa/R. Kudamerta. Sedangkan candi Tigawangi pembukaan tanahnya dilakukan oleh Hayam Wuruk di ladang Watsari di Tigawangi. Kemungkinan pembangunan selanjutnya ditangani oleh Rajasawardhana dari Matahun.Kata Kunci: candi Surawana, candi Tigawangi, angka tahun, pendirian, Negarakertagama.
PERSOALAN ISME DALAM SENI RUPA (DI) INDONESIA Salamun, -
Imajinasi Vol 5, No 1 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam sejarah seni rupa modern Indonesia, tedapat dua gerakan menonjol yang menjembatani perkembangan progresif dari seni murni yang dibawakan oleh PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) dan kelompok GSRBI (Gerakan Seni Rupa Indonesia Baru Indonesia). PERSAGI mengusung semangat kebebasan dalam penciptaan ke arah munculnya gaya seni yang beragam. Sementara GSRBI mereformasi konvensi akademik seni rupa melalui berbagai  kemungkinan mengekspresikan dan memilih media secara bebas. Namun dari aspek produk kreasi, usaha-usaha mereka tidak sebaru sebagaimana pada kelompok seni rupa Barat yang telah memulai lebih dulu. Di Barat perkembangan seni rupa modern menghasilkan berbagai ”isme” silih berganti sementara di Indonesia tampaknya hanya sebatas pada pengadaptasian belaka.Kata kunci: gerakan, gaya, kreasi.
PERSAGI SEBAGAI PELOPOR SENI LUKIS INDONESIA MODERN Nurhayati, Diah Uswatun
Imajinasi Vol 4, No 1 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persatuan Ahli-ahli gambar Indonesia (PERSAGI), merupakan perkumpulan pelukis-pelukis Indonesia pada masa kurang lebih setengah abad setelah Raden Saleh, sebuah organisasi modern pertama yang berusaha mencari identitas berkesenian dan pada akhirnya memunculkan corak modern yang menjadi pelopor bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Pemberontakan terhadap kolonialisme dan reaksi terhadap seni lukis yang berkembang pada masanya, serta semangat nasionalisme, merupakan motiovasi kelahiran PERSAGI. Dilandasi oleh semangat mencari identitas sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, PERSAGI menawarkan estetika dan mencari corak Indonesia baru dengan menolak estetika Mooi Indie. Tokohtokohnya di antaranya ialah Agus Djaya, S. Sudjojono, dan Emiria Sunassa, sedangkan di antara pewarisnya ialah Otto Djaya dan Affandi.Kata Kunci: seni lukis, corak modern, identitas.
METAFORA, METONIMIA, SINEKDOK, DAN IRONI DALAM KARYA SENI RUPA Mujiyono, -
Imajinasi Vol 4, No 1 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam komunikasi secara verbal (linguistik) sering digunakan gaya bahasa metafora, metonimia, sinekdok, dan ironi. Penyampaian pesan sering bersifat konotatif dan tidak transparan (bahasa figuratif). Upaya tersebut dilakukan untuk menghadirkan gramatika, semantika, dan pragmatika yang tidak seperti semestinya. Telah banyak beredar literatur kebahasaan yang mengungkap konsep tersebut namun jarang ditemui ulasan dalam seni rupa atau desain. Apakah konsep tersebut juga berlaku dalam komunikasi secara nonverbal misalnya dalam karya lukisan dan desain. Secara ilmu komunikasi, unsur rupa dan unsur bahasa berfungsi sebagai medium penyampai pesan antara komunikator dan komunikan. Oleh karena itu, pola dasar dan sistem kerja dalam bahasa juga bisa diterapkan dalam bahasa visual. Dalam bahasa visual, bila dikaji secara ilmu semiotika, metafora lebih menekankan adanya transfering signified pada sign yang berbeda, metonimia lebih mengandalkan adanya substitusi total sign berdasarkan asosiasi, sementara sinekdok lebih menekankan adanya substitusi sebagian terhadap sign berdasarkan tingkatan kategori, dan ironi adalah sebuah hubungan yang bertolak belakang antara signifier dan signified. Kata Kunci: signifer, signified, sign, konotasi, dan denotasi
FILSAFAT SENI TAOISME Sunarto, -
Imajinasi Vol 4, No 1 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taoisme merupakan sistem filsafat yang berkembang antara abad 5 dan 3 SM di Cina. Sebagai sebuah sistem filsafat, Taoisme memiliki sejarah yang panjang. Sebelum abad pertama sebelum Masehi, perkembangan pengajaran filosofisnya dikenal sebagai ‘Mazhab Tao’. Segala sesuatu diturunkan dari Tao. Tao adalah paduan Yin yang bersifat pasif dan Yang yang bersifat aktif, dari mana suatu keselarasan bergantung. Segala sesuatu dihasilkan atas pengaruh kekuatan Yin dan Yang. Interaksi dari Yin dan Yang akan menghasilkan harmoni atau keselarasan. Sementara harmoni dan penyatuan subjek dan objek menempati kedudukan penting dalam kreativitas seni. Ide-ide estetik taoisme, sebagaimana pemikiran filsafati dalam ide-ide klasik; selalu menempatkan semua ekspresi seni sebagai manifestasi dari transendensi jiwa.Kata Kunci: Taoisme, estetika, yin dan yang, harmoni.