cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Imajinasi
ISSN : 1829930X     EISSN : 25496697     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Imajinasi merupakan jurnal seni yang dikelola oleh Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes. Terbit perdana pada bulan Juli 2004. Terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juli dan Januari, dengan isi artikel tentang kajian atau analisis kritis dan hasil penelitian di bidang seni rupa.
Arjuna Subject : -
Articles 81 Documents
DUKUNGAN MASYARAKAT TERHADAP PERAJIN “FITRO” DALAM MEMBANGUN SENI KERAJINAN PERAK DI MALANG Herawati, Ida Siti
Imajinasi Vol 2, No 2 (2006): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“FITRO” adalah sebuah perusahaan kerajinan perhiasan aksesoris perak yang sudahberhasil mengembangkan usahanya selama 15 tahun. Keberhasilan yang saat inidicapai bukanlah seperti benda turun dari langit akan tetapi karena faktor sosial dariberbagai struktur yang terlibat, model interaksi yang diciptakan, prospek kerajinan dimasa mendatang, serta kreativitas dalam menciptakan desain yang sesuai denganmasyarakat dan individu. Masyarakat yang memberikan dukungan kepada perajindibagi menjadi 3 kelompok, yaitu (1) perusahaan, (2) keluarga, (3) masyarakatkonsumen. Semua dukungan masyarakat dilakukan melalui model interaksi sosial.Model yang pertama disebut interaksi langsung, yaitu transaksi bisnis yang terjadi dilokasi usaha. Model yang kedua yaitu interaksi tidak langsung, peran pembeli (buyer)sebagai mediator sangat penting dan bahkan mendominasi transaksi bisnis. Modelyang ketiga, yaitu interaksi melalui pameran. Saat ini perajin sudah dapat memahamigaya hidup, selera, sifat, dan minat masyarakat sehingga perajin mampu menciptakandesain eksklusif, perfect, dengan sentuhan etnik, serta desain yang mempribadi.Perkembangan desain aksesoris “FITRO” merupakan perwujudan konkret dari seleramasyarakat.Kata-kata Kunci: dukungan sosial, kerajinan perak, aksesori, model interaksi,kreativitas desain.
PADEPOKAN SENI MANGUN DHARMA DALAM KAJIAN FUNGSIONALISME STRUKTURAL Eksan, M.
Imajinasi Vol 2, No 2 (2006): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni tari wayang topeng atau seni drama tari wayang topeng Malangan hingga kinitetap eksis. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas berkesenian dari Padepokan SeniMangun Dharma yang fungsinya sebagai tempat belajar dan mengajarkan kesenian,termasuk bidang seni yang mendukung dalam seni pertunjukkan yang bercirikanMalangan kepada masyarakat di Malang Raya. Untuk kepentingan akademik danpraktis dampaknya organisasi kesenian tersebut penting untuk dikaji. Masalah utamayang akan dikaji di sini adalah bagaimana fungsi sistem, konsep keteraturan dankriteria yang dinilai fungsional. Metode yang diterapkan dalam kajian ini, yaknimetode deskriptif dalam konteks pendekatan fungsionalisme struktural. Hasil kajianmenunjukkan Padepokan Seni Mangun Dharma merupakan fakta sosial yangmemiliki konsep realitas empiris di luar imajinasi seseorang. Dalam hal ini sepertiyang diperankan oleh M. Soleh Adi Pramono yang menciptakan berbagai hubungansosial antara individu-individu secara teratur pada waktu tertentu dalam sistem sosial,sehingga dapat diartikan sebagai struktur sosial yang bersifat tetap dan stabil.Kata kunci : Padepokan Seni Mangun Dharma, FungsionalismeStruktural
ROLAND BARTHES DAN MITHOLOGI Iswidayati, Sri
Imajinasi Vol 2, No 2 (2006): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Roland Barthes sangat dikenal luas sebagai penulis yang menggunakananalisis semiotik dan pengembang pemikiran pendahulunya seorang bapaksemiologi atau semiotik Ferdinand de Saussure. Tulisan-tulisannyadipublikasikan dalam sebuah majalah di Perancis pada awal pertengahanabad silam memuat berbagai pesan, yang kemudian pesan-pesan itudisebutnya sebagai mitos. Barthes membahas mitos lebih serius danmenuangkannya pada bukunya yang diterbitkan oleh Noondy Press tahun1972 berjudul Mythologies di bagian Myth Today. Dalam konteks mitologilama, mitos bertalian dengan sejarah dan bentukan masyarakat padamasanya, tetapi Barthes memandangnya sebagai bentuk pesan atau tuturanyang harus diyakini kebenarannya walau tidak dapat dibuktikan. BagiBarthes, tuturan mitologis bukan saja berbentuk tuturan oral melainkandapat pula berbentuk tulisan, fotografi, film, laporan ilmiah, olah raga,pertunjukan, bahkan iklan dan lukisan. Di tangan Barthes semiotikdigunakan secara luas dalam banyak bidang sebagai alat untuk berfikirkritis.Kata Kunci: semiotik, mitos, tanda, sistem semiologi.
SENI SEBAGAI FAKTA SOSIAL: SEBUAH PENDEKATAN DENGAN PARADIGMA SOSIOLOGIS -, Wadiyo
Imajinasi Vol 2, No 2 (2006): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni dapat didekati dengan menggunakan berbagai sudut pandang ilmu, salahsatu di antaranya adalah sosiologi. Dalam sosiologi yang menjadi pokok persoalanadalah masyarakatnya bukan seninya. Dengan demikian jika seni tersebut didekatidengan menggunakan disiplin ilmu sosiologi maka yang dipelajari adalah masyarakatyang menggunakan seni tersebut untuk kepentingan apa pun, utamanya kepentinganuntuk memahami masyarakat pengguna seni. Dalam hubungannya dengan fakta sosial,sebenarnya hanya untuk menunjuk pokok persoalan tertentu yang menjadi fokus kajiansosiologi, yakni fakta sosial. Isi fakta sosial adalah struktur sosial dan pranata sosial.Salah satu wujud nyata fakta sosial adalah kehidupan kelompok. Dalam kenyataannya,kehidupan di masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Penggunaan istilahparadigma dalam kajian ini, digunakan untuk menunjuk pokok persoalan apa yangsemestinya dikaji oleh disiplin ilmu tertentu yang dalam hal ini adalah sosiologi.Nyatanya pokok persoalan yang dikaji ilmu sosiologi adalah ganda, di antaranyaadalah fakta sosial ini. Kehidupan seni di masyarakat juga merupakan fakta sosial.Oleh karena itu tidak keliru jika didekati dengan menggunakan pendekatan sosiologi.Kata kunci: fakta sosial, kelompok, struktur sosial, pranata sosial, seni.
ESTETIKA KETIDAKSADARAN: KONSEP SENI MENURUT PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD Zaenuri, Ahmad
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sigmund Freud lahir di Moravia pada tahun 1856. Pada akhir abad kesembilan belas, Freud mulai memformulasikan teorinya yang kontroversial mengenai seksualitas infantil dan interpretasi mimpi, keduanya merupakan pusat teori psikoanalisis. Psikoanalisis memberikan gagasan yang mendasar bahwa semua pikiran dan tindakan sadar adalah proses yang tidak disadari yang diringkas dalam frase pikiran yang tidak sadar. Perilaku dalam kehidupan sehari-hari merupakan perilaku sadar dalam ketidaksadaran. Represi atas ketidaksadaran akan termanifestasikan dalam perilaku tidak sadar seperti pada keseleo lidah, kekeliruan perilaku, fantasi, dan mimpi. Tekanan-tekanan psikologis dalam diri seniman dapat berupa harapan, impian, cita-cita, keinginan, perasaan senang atau tidak senang, pengalaman traumatis, kecemasan neurotik (anxiety), ketakutan (pobhia), baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan sosialnya. Proses represi terhadap libido oleh fiksasi terendap dalam alam bawah sadar oleh seniman, energinya diubah dalam proses berkarya seni. Simbol-simbol yang tertuang dalam seni surealistis merupakan gambaran sederhana dari dorongan libido dan merupakan kode yang perlu dipecahkan oleh audiens tentang apa yang terkandung dalam karya seni.  
UPACARA PERKAWINAN “NGERJE”: KAJIAN ESTETIKA TRADISIONAL SUKU GAYO DI KABUPATEN ACEH TENGAH Selian, Rida Safuan
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara perkawinan ngerje masyarakat Gayo di kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu upacara tradisional yang berkaitan dengan daur hidup dalam kehidupan masyarakat Gayo. Aturan-aturan adat dan tata cara pelaksanaan upacara perkawinan ngerje tersebut telah lama ada dan dilaksanakan sampai sekarang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan (1) perwujudan upacara perkawinan ngerje masyarakat  Gayo, (2) faktor estetis dan ekstraestetis yang terdapat dalam upacara perkawinan ngerje melalui simbol-simbol yang digunakan dalam upacara perkawinan, dan (3) proses sosialisasi nilai-nilai yang terdapat dalam upacara perkawinan ngerje suku Gayo. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif yang holistik untuk mengungkapkan perwujudan fisik upacara perkawinan ngerje suku Gayo. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumenter. Analisis simbol-simbol dalam upacara perkawinan ngerje dilakukan dengan pendekatan semiotik. Simbol-simbol tersebut terungkap lewat uberampe, perilaku, dan suasana dalam tiap tahapan upacara perkawinan ngerje. Masyarakat Gayo menganut sistem kekeluargaan belah atau klen dan melakukan sistem perkawinan exogami. Estetikanya berdasarkan pada estetika Islam yang berasal dari teks-teks kitab suci, tradisi puitik, hikayat dan dongeng-dongeng mitologis. Secara pragmatik upacara perkawinan ngerje merupakan pendidikan terhadap kedewasaan dalam berpikir dan bertindak, kerelaan, pembelajaran terhadap keseimbangan hidup dunia dan akhirat, kesetaraan golongan atau klen, menjadi manusia yang ideal dan wujud ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
MAKNA KARYA LUKIS PEREMPUAN MALANG – JAWA TIMUR DALAM ANALISIS SEMIOTIK Herawati, Ida Siti
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan pelukis di kota Malang yang mempunyai aktivitas berkesenian secara ajeg berkarya dan berpameran sangat sedikit jika dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini berpengaruh terhadap karya yang dihasilkan. Sejauh ini belum diketahui bagaimana sebenarnya perempuan mengekspresikan diri melalui karya lukis jika dikaitkan dengan makna nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa, misalnya yang tertuang dalam Serat Centhini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memahami dan menjelaskan: (1) aktivitas berkesenian, (2) perwujudan lukisan karya, (3) nilai-nilai yang diekspresikan dalam lukisan karya perempuan Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan sasaran 4 orang perempuan pelukis, dan 16 karya lukisnya melalui pengamatan, wawancara dan dokumen dengan peneliti sebagai instrumen. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan triangulasi sumber dan diskusi rekan sejawat. Analisis data menggunakan pendekatan semiotik yakni: sintaksis, semantik, dan pragmatik. Hasil penelitian ini adalah: (1) aktivitas berkesenian secara umum masih rendah, kegiatan melukis sekadar untuk mengisi waktu luang, kegiatan pameran masih sedikit, (2) perwujudan karya meliputi tema alam, gaya lukisan naturalistik, perwujudan realistis, dengan menggunakan warna monokromatik, garis struktural, bentuk nongeometris, tekstur halus, keseimbangan asimetri, emphasis pada subjek yang ditonjolkan, format lukisan horisontal, (3) nilai ”kehidupan yang harmonis” merupakan amanat perempuan pelukis Malang sebagai perwujudan dari nilai ketulusan, keikhlasan, dan kecintaan yang terdeteksi melalui nilai kesetaraan, kesederhanaan, kejujuran, kerjasama, keduniawian, kesuksesan, kesetiaan, pengendalian diri, kemandirian dan kedamaian.
WAYANG KULIT GAYA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA, PERUPAAN DAN PERBEDAANNYA Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang kulit purwa merupakan salah satu pertunjukan wayang yang masih digemari sampai sekarang. Pertunjukan wayang yang tersebar luas ke berbagai daerah itu, menimbulkan bermacam gaya, antara lain gaya Surakarta dan Yogyakarta. Perupaan wayang kulit sebagai peraga pertunjukan dari kedua gaya tersebut ternyata tidak hanya dari segi dimensi dan proporsi bentuk, melainkan juga banyak unsur lain yang membedakannya. Perbedaan perupaan wayang dari kedua gaya pada sejumlah tokohnya bahkan tampak sangat tajam sehingga masing-masing memiliki identitas dan penampilan yang berlainan. Penggambaran atribut dan irah-irahan, jenis busana, aksesori, pola muka, lengan dan tangan sampai kaki, serta tatah sungging wayang memiliki kontribusi yang nyata terhadap perbedaan perupaan kedua gaya wayang itu.
PENDIDIKAN ESTETIK MELALUI PEMBELAJARAN MENGGAMBAR-MELUKIS DI KLUB MERBY SEMARANG Sulthan, Sudirman
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran menggambar-melukis sebagai bagian dari pendidikan seni rupa bukanlah hal yang asing bagi anak, bahkan sejak usia dini anak sudah biasa membuat goresan-goresan yang dapat disebut sebagai kegiatan menggambar-melukis. Iklim pembelajaran sangat menentukan proses belajar-mengajar. Manajemen pembelajaran juga merupakan faktor yang menentukan dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan estetik dalam pembelajaran mengambar-melukis di Klub Merby Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif Data dikumpulkan melalui observasi langsung proses pelaksanaan pembelajaran menggambar-melukis di Klub Merby Semarang. Wawancara dan studi dokumen juga dilakukan dalam teknik pengumpulan data. Analisis data melalui langkah-langkah (a) pencatatan semua temuan fenomena di lapangan, (b) penelaahan kembali catatan lapangan, serta pemisahan kepentingan data dan klarifikasi. (c) pendeskripsian data serta (d) simpulan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggambar-melukis di Klub Merby bertujuan untuk mencetak lulusan yang memiliki keterampilan menggambar-melukis secara realistis naturalistis. Perencanaan disusun dalam satu semester ke depan dengan memperhitungkan momen yang terkait dengan peristiwa aktual. Materi pembelajaran antara lain berupa latihan keberanian untuk menarik garis, pewarnaan yang harmonis menggunakan gradasi warna, serta pemberian tema yang beragam dan pembuatan bentuk-bentuk yang lebih rumit dan kompleks. Pembelajaran berpusat pada guru dan berpusat pada siswa. Metode pembelajaran mayoritas menggunakan metode demonstrasi penuh dan sebagian, serta metode pemberian tugas menyertai setiap pembelajaran. Metode bercerita, tanya jawab dan sebagainya sering mengawali pembelajaran. Evaluasi pembelajaran mengikuti format yang sudah ada terdiri atas dua penilaian yaitu nilai hasil dan nilai proses. Iklim pembelajaran cukup kondusif dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai, dan dengan manajemen yang cukup bagus. Namun demikian, pembelajaran menggambar-melukis hendaknya dilaksanakan dengan berpijak pada pertimbangan untuk menumbuhkan semangat kreativitas, sikap dan imajinasi anak yang estetis dan tetap pada alur lingkungan yang sesuai.
PEMBELAJARAN SENI UNTUK MEMBERDAYAKAN ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG SURABAYA Zaini, Imam
Imajinasi Vol 4, No 2 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membiarkan anak jalanan sebagai bagian dari komunitas anak rawan yang bekerja, dalam rentang waktu yang cukup panjang di jalanan dengan kondisi lingkungan yang keras, tanpa perlindungan memadai, sesungguhnya adalah melanggar hak-hak dasar anak. Padahal sebenarnya mereka juga perlu bermain, belajar dan harus sekolah. Untuk mengeliminasi dan menangani anak jalanan, bukanlah pekerjaan yang mudah. Pendekatan sosial dan ekonomi saja tidak cukup, tetapi juga perlu memperhatikan persoalan budaya mereka. Perlu mengubah pola pikir, sikap mental dan nilai-nilai yang dianut dalam budaya mereka. Perubahan tersebut salah satunya bisa melalui pembelajaran seni. Kelebihan seni yang unik dan menarik, mempermudah anak jalanan untuk ikut dan bergabung belajar di sanggar Alang-alang. Sanggar Alang-alang telah berhasil menangani anak jalanan dengan pendekatan kesenian. Berbagai jenis seni diajarkan, yakni seni musik, seni tari, seni rupa, seni drama/teater, dan seni kerajinan. Strategi pembelajaran seni menekankan pada aspek keterampilan, kecakapan hidup (life skill) dan pendekatan kontekstual. Kontekstual dengan materi, tujuan, sasaran, hasil, pelatih, sumber, lingkungan, waktu, dan metode. Pembelajaran seni di sana dimanfaatkan sebagai media transformasi budaya (pembudayaan) melalui nilai-nilai estetika, etika dan agama. Seni dapat difungsikan untuk memberdayakan anak jalanan, baik secara pribadi, sosial, dan ekonomi. Pembelajaran seni di sanggar Alang-alang ibarat pisau bermata dua. Mata pisau yang satu untuk membedah persoalan budaya anak jalanan, sedangkan mata pisau yang lain untuk memberdayakan anak jalanan.