cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Imajinasi
ISSN : 1829930X     EISSN : 25496697     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Imajinasi merupakan jurnal seni yang dikelola oleh Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes. Terbit perdana pada bulan Juli 2004. Terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juli dan Januari, dengan isi artikel tentang kajian atau analisis kritis dan hasil penelitian di bidang seni rupa.
Arjuna Subject : -
Articles 81 Documents
PERILAKU BERKESENIAN : KAJIAN DALAM ANALISIS GENDER Utomo, Udi
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran laki-laki dan perempuan dapat dibedakan dengan menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan nature (alami) dan pendekatan nurture (budaya). Dalam berbagai konteks budaya perbedaan secara alami (biologis) seringkali mendasari diferensiasi peran (division of labor) yang ada, akibatnya sering terjadi ketidakseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa kasus, ketidakseimbangan tersebut memunculkan adanya dominasi laki-laki atas perempuan. Sedangkan secara nurture (gender) perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat terkait dengan berbagai pandangan serta nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. Fakta tersebut dalam konteks kesenian tercermin melalui berbagai wujud karya seni, penokohan, proses pengajaran, proses pertunjukan, karir, dan pelabelan instrumen musik dan lain-lain. Kata kunci : Perilaku, kesenian, gender.
PENGEMBANGAN PARIWISATA MINAT KHUSUS KESENIAN TRADISIONAL -, Hartono
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia mempunyai banyak objek wisata baik wisata budaya, wisata buatan manusia, ataupun wisata alam. Peluang Indonesia untuk menjadi pemasok turis terbesar di ASEAN bahkan ASIA masih terbuka lebar karena Indonesia memiliki kemajemukan tradisi dan budaya, serta peninggalan sejarah dan purbakala yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata minat khusus. Keutamaan dan nilai positif pengemasan kesenian tradisional baik berupa tari, musik, batik, ataupun kerajinan tangan, di samping merupakan upaya-upaya pelestarian, juga untuk pengembangan kesenian itu sendiri, sebagai sarana kreatifitas seniman, serta juga dalam upaya pengenalan keluar. Selain hal tersebut juga mempunyai unggulan kompetitif untuk bersaing dengan objek wisata negara lain. Kata kunci: wisata minat khusus, kesenian tradisional.
PERUPA WANITA DALAM WILAYAH KOMUNITAS SENIMAN DI KOTA SEMARANG: KAJIAN EKSISTENSI DAN FAKTOR PENGHAMBATNYA -, Syakir
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profesi kesenirupaan tampaknya lebih banyak didominasi oleh perupa pria dibandingkan dengan perupa wanita. Fenomena ini merupakan suatu hal yang menurut penulis menarik untuk dicermati dan dikaji. Penelitian ini diarahkan untuk mencari jawaban atas: (1) bagaimana gambaran eksistensi wanita dalam profesi seniman perupa yang ada di Kota Semarang, (2) Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat bagi wanita untuk eksis berprofesi sebagai seniman perupa di Kota Semarang. Pendekatan dan strategi penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan perspektif jender. Latar penelitian ditentukan secara purposif, dengan pertimbangan kelayakan informasi yang diperlukan, yaitu wanita seniman perupa di Kota Semarang. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data ditempuh melalui proses reduksi, saajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini memberi jawaban atas masalah: pertama, telah terjadi kesenjangan yang sangat mencolok dalam hal profesi seniman perupa antara kaum wanita dan kaum pria di Kota Semarang. Dalam profesi ini sangat didominasi oleh pria dan sangat minim jumlah wanita yang dapat eksis dalam profesi ini. Kedua, faktor yang menjadi penghambat bagi wanita untuk eksis sebagai perupa yaitu: (a) rasa diskriminatif yang terkadang muncul pada diri wanita; (b) pengaruh kultur dalam kehidupan sosial budaya Jawa; (c) pengaruh keluarga, baik mendukung maupun tidak; (d) Naluri dalam kedudukan sebagai “wanita” yang harus mengemban tugas sebagai isteri dan sebagai ibu; (e) wanita yang punya profesi lain; (f) latar belakang pendidikan akdemis seni rupa; (g) Orientasi komersial dalam berkarya; (h) citra sebahagian masyarakat yang memandang profesi “seniman” atau perupa sebagai sosok yang bebas dan tidak teratur pola hidupnya; (i) Apresiasi masyarakat yang masih rendah terhadap karya seni rupa;serta (j) faktor psikologis pada diri wanita. Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan; (1) kepada wanita perupa khususnya yang ada di Kota Semarang agar tetap berusaha untuk eksis sebagai perupa profesional dan aktif dalam menyajikan karya-karya dalam gelar karya atau pameran, (2) kepada segenap masyarakat penikmat seni rupa, hendaknya dapat lebih meningkatkan apresiasinya sehingga dapat memberi penilaian yang lebih baik dan membangkitkan semangat berkarya bagi kreator seni Kota Semarang, (3) Kepada pemerintah dan pihak yang berwenang agar memberi perhatian khusus kepada wanita perupa Semarang sehingga mereka pun bisa eksis sebagaimana halnya perupa pria, tentunya dengan memberikan sarana dan fasilitas yang mendukung. Kata kunci: seniman, seni rupa, wanita perupa, eksistensi
SIMBOLISME BILANGAN DAN ARTEFAK BATIK DALAM SISTEM KEBUDAYAAN JAWA -, Dharsono
Imajinasi Vol 3, No 1 (2007): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami kebudayaan pada dasarnya sama dengan memahami masalah makna, nilai, dan simbol yang dijadikan acuan oleh masyarakat pendukungnya, sebagai sistem simbol dan pemberian makna, yang ditransmisikan melalui kode-kode simbolik. Pengertian kebudayaan tersebut memberikan konotasi bahwa kebudayaan sebagai ekspresi masyarakat berupa tingkah laku manusia yang di dalamnya terdapat gagasan dalam komunitasnya. Tulisan ini akan membahas permasalahan kebudayaan terkait dengan pandangan masyarakat berkaitan dengan penggunaan simbol bilangan dan motif batik dalam sistem kebudayaan Jawa.Kata Kunci: kebudayaan, simbol, kosmos, artefak budaya
STUDI TENTANG PENGEMBANGAN DESAIN KERAJINAN KERAMIK DESA MAYONG LOR JEPARA Karthadinata, Dewa Made
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Mayong Lor merupakan sentra industri kerajinan keramik, sebagian warga masyarakat menggantungkan kebutuhan ekonomi rumah tangganya pada kegiatan memproduksi kerajinan keramik tersebut. Masalah yang dikaji dirumuskan sebagai berikut: (1) barang-barang apa saja yang diproduksi para perajin keramik Mayong Lor ?, (2) dalam upaya memenuhi tuntutan pasar, upaya apakah yang dilakukan perajin mengembangkan desain keramik?, (3) bagaimana bentuk hasil pengembangan desain keramik itu? (4) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi usaha-usaha pengembangan desain keramik Mayong Lor? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, memahami, dan menjelaskan permasalahan tersebut. Hasilnya diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi dan evaluasi bagi pengembangan desain keramik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian adalah pengembangan desain keramik, seperti apa yang dirumuskan dalam masalah di atas. Data penelitian dikumpulkan dengan wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan teknik dokumentasi. Selanjutnya data penelitian dianalisis secara induktif, melalui proses reduksi, penyajian dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama kehadiran kerajinan bagi kehidupan keluarga sangat bermakna karena, dapat menunjang kehidupan atau mata pencaharian sehari-hari. Kedua, beberapa upaya perajin dalam pengembangan desain keramik, agar tetap mendapat peluang pasar yang baik, adalah dengan mengikuti pelatihan, belajar mandiri dan mengikuti perkembangan pasar. Ketiga, pengembangan desain keramik Mayong Lor secara umum terlihat ada dua bentuk yaitu pengembangan desain keramik pakai dan desain keramik murni atau keramik seni. Terakhir, keberhasilan pengembangan desain keramik tersebut didukung oleh faktor-faktor dari dalam dan luar. Faktor-faktor dari dalam meliputi kondisi lingkungan alam yang menyediakan bahan baku, semangat para tokoh perajin dalam mengembangkan usahanya dan dukungan moral dari Kepala Desa yang selalu mendampingi dan memantau para perajin dalam mengembangkan desain. Faktor-faktor dari luar, adalah pelatihan dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Seni Rupa UNNES dan Balai Besar Keramik Bandung. Faktor penghambat adalah rendahnya tingkat pendidikan perajin dan keterbatasan bahan bantu finishing serta minimnya sarana produksi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) para tokoh perajin senior hendaknya perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya terutama dalam mengembangkan desain produk serta teknologi produksi, (2) bantuan instansi dan lembaga terkait perlu diteruskan dan ditingkatkan secara periodik kepada perajin, (3) krisis pengadaan bahan bantu finishing dan sarana produksi seperti alat putar, bahan pewarna perlu segera ditangani Koperasi Unit Desa (KUD). Kata kunci : pengembangan, desain , keramik.
UPAYA PURA MANGKUNAGARAN DALAM MELESTARIKAN TARI GAYA MANGKUNAGARAN -, Malarsih
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Mangkunagaran adalah eks pusat pemerintahan Kadipaten Mangkunagaran di bawah Keraton Surakarta. Mangkunagaran memiliki jenis tari khusus yang sampai saat sekarang masih dikenal oleh masyarakat luas sebagai tari identitas Mangkunagaran, yakni tari gaya Mangkunagaran. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya Pura Mangkunagaran dalam melestarikan tari gaya Mangkunagaran, berkait dengan bagaimana Pura Mangkunagaran mempertahankan, memperkembangkan, dan menyebarluas-kannya. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif. Lokasi Penelitian, Pura Mangkunagaran. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah analisis data bergerak dari saat pengambilan data, penyajian data, reduksi data, dan verifikasi sebagai suatu siklus sampai temuan penelitian itu oleh peneliti diyakini kebenarannya. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pelestarian tari gaya Mangkunagaran dilakukan oleh pihak Pura dengan cara mempertahankan keasliannya melalui pelatihan dan penyajian di Pura Mangkunagaran utamanya untuk kepentingan upacara adat, (2) selain mempertahankan keaslian, pihak Pura juga mengembangkan materi dan fungsi. Pengembangan materi dan fungsi ini dimaksudkan untuk mengikuti laju kebutuhan masyarakat dalam berkesenian, (3) pelestarian juga dilakukan oleh pihak Pura di antaranya dengan cara menyebarluaskannya pada masyarakat umum dengan cara melatih para penari dari masyarakat umum, melakukan penyajian untuk berbagai kepentingan umum, mengikuti pertukaran seni budaya dengan negara sahabat, dan membukukan deskripsi tari gaya Mangkunagaran yang mudah didapat oleh masyarakat umum untuk dibaca dan dipelajari. Kata kunci: tari, pelestarian tari, gaya tari, mempertahankan tari, memperkembangkan tari, dan menyebarluaskan tari.  
SPIRITUALITAS ZEN DALAM SENI RUPA KONTEMPORER JEPANG Djatiprambudi, Djuli
Imajinasi Vol 3, No 1 (2007): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni rupa kontemporer Jepang memiliki watak khas yang bersumber pada peradaban klasik yang didasarkan pada Zen Budhisme. Pengaruh Budhisme yang datang dari Cina dan Korea dan kemudian berasimilasi dengan kepercayaan Shinto di Jepang membuahkan sekte Budha yang kemudian dikenal dengan Zen Budhisme. Prinsip kesederhanaan yang menjadi inti ajaran Budha bertemu dengan inti ajaran Shinto yang melebur dengan alam menjadi inti dasar dari paham estetik Zen, yang lebih cenderung bersifat esoterik. Semua ekspresi seni Jepang mulai periode Nara hingga sekarang tetap menjadi sumber inspirasi dan atruran normatif terhadap berbagai ekspresi seni seperti arsitektur, taman, interior, pakaian, lukisan, patung, dan sebagainya merujuk pada norma-norma estetik Zen Budhisme. Demikian pula spiritualitas Zen Budhisme terdapat pada karya-karya perupa kontemporer Jepang, antara lain Shigeo Toya,Tsuguo Yanai, Kurita Hiroshi, Maeyana Tadashi, dan Yukio Fujimoto. Prinsip-prinsip dasar estetik Zen Budhisme baik secara intuitif maupun formalistik serta simbolik menelusup pada dimensi estetik karya-karya mereka sebagai perupa kontemporer Jepang, sehingga membentuk identitas, karena itu berbeda dengan mainstream seni rupa Barat.Kata Kunci: seni rupa kontemporer, Zen Budhisme, estetik, spiritualitas, identitas.
TATA CARA PENDIRIAN CANDI: PERSPEKTIF NEGARAKERTAGAMA Harto, Dwi Budi
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendirian candi di Indonesia khususnya Jawa sebagian besar masih dalam keadaan ‘kelabu’, hal ini disebabkan terbatasnya data arkeologis yang terkait dengan pendirian dan tata bangun candi. Data lama dan pendapat sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa candi adalah makam raja dan kerabatnya, ternyata hal ini tidak benar. Negarakertagama sebagai data arkelogis menduduki urutan kedua (bahkan bisa pertama) tingkat validitasnya bila dikorek datanya terkait dengan tata cara pendiriancandi, maka akan menggambarkan tata cara pendirian candi yaitu pada peristiwa Sradha Agung Sri Rajapatni. Di samping menggunakan kitab Negarakertagama tata cara pendirian candi ini akan didasarkan pula pada data-data lain sebagai acuan pembahasan. Data lain yang digunakan sebagai acuan misalnya seni bangun/arsitektur candi, bahasa rupa relief candi, hasil kajian ikonografis, dan lain-lain. Berdasarkan datadata tersebut terlihat bahwa pendirian candi di Jawa sangat memperhatikan hubungan keselarasan, keserasian, keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos yang didasarkan atas sistem religi Hindu. Dengan kata lain, pendirian candi saat itu sangat kosmologis, yang jarang dijumpai pada konsep pembangunan gedung di masa sekarang ini. Kata kunci: Negarakertagama, kosmologi, makrokosmos, mikrokosmos, candi, master plan candi.  
FENOMENA ESTETIKASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI DALAM SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA -, Supatmo
Imajinasi Vol 1, No 2 (2005): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni rupa kontemporer Indonesia menemukan spirit awal dari lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru (1975) dengan gejala-gejala penolakan dan penentangan terhadap mainstream seni rupa moderen, yang dianggap sewenang-wenang atas nama universalitas, ditandai dengan penggunakan berbagai ragam media ungkap alternatif di luar tradisi fine art (seni lukis, seni patung, dan seni grafis), seperti seni rupa instalasi, seni rupa pertunjukan (performance art), seni rupa lingkungan (environmental art), video art, hingga seni rupa dengan media barang jadi (readymades). Penolakan itu juga diwarnai nuansa penghapusan (erasures) atas pengkotak-kotakan antarcabang seni rupa, antarcabang seni, percampuran berbagai gaya dan aturan (eklektik), hingga pengaburan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari. Dunia seni pada wacana seni rupa kontemporer tidak lagi dipandang sebagai “dunia agung”, yang terpisah dari dunia kehidupan sehari-hari. Pengaburan batas, bahkan penghapusan antara seni dengan kehidupan sehari-hari (estetikasi kehidupan sehari-hari) merupakan bentuk integrasi baru antara “dunia seni” dengan “dunia kehidupan sehari-hari” yang dilandasi oleh pemikiran akhir moderenisme (post modernism). Pemikiran posmoderenisme dalam konteks seni rupa yang sangat fenomenal dinyatakan secara filosofis oleh Arthur Danto, “The End of Art”, mengiri pameran “Brillo Box”-Andy Warhol (1964). Pernyataan filosofis “berakhirnya seni rupa” itu, pada tataran pemikiran, menandai berakhirnya seni rupa (mainstream moderenisme), sehingga mempersuasi lahirnya era seni rupa baru dengan paradigma posmoderen. Dinamika seni rupa dengan berbagai gejala dan fenomena yang bersumber dari padadigma posmoderen, yang di Indonesia lebih dikenal dengan terminologi seni rupa “kontemporer”, kembali menjadi arus besar yang mendominasi wajah seni rupa Indonesia mutakhir. Istilah seni rupa kontemporer tidak berhenti pada pengertian yang mengacu pada waktu (masa) sezaman atau masa kini, tetapi lebih berorientasi pada gejala-gejala dan fenomena anti-moderenisme. Berbagai perhelatan seni rupa kontemporer Indonesia, dalam wacana maupun praktik, sarat nuansa fenomena estetikasi kehidupan sehari-hari, yang dalam berbagai hal terasa epigonal dengan fenomena suatu masa perkembangan seni rupa di dunia Barat. Hal ini menandakan bahwa dinamika seni rupa kontemporer Indonesia selalu berputar-putar mengikuti superioritas arus besar seni rupa Barat. Kata kunci: estetikasi, readymades, moderenisme, posmoderenisme, kontemporer.
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENARI TARI KLASIK GAYA SURAKARTA MELALUI PENDEKATAN APRESIASI -, Malarsih
Imajinasi Vol 3, No 1 (2007): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah pembelajaran tari melalui pendekatan apresiasi dapat meningkatkan keterampilan menari peserta didik. Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini, adalah metode penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa tahapan, meliputi: (1) tahapan perencanaan, yang diawali dengan identifikasi masalah, identifikasi penyebab masalah, dan pengembangan intervensi, (2) tindakan sebagai pelaksanaan penelitian, (3) evaluasi pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian menunjukkan, keterampilan menari mahasiswa setelah dilakukan ujicoba tindakan melalui penelitian tindakan kelas ini, yakni dengan mencoba menerapkan pembelajaran menari tari klasik gaya Surakarta menggunakan pendekatan apresiasi, ternyata hasilnya meningkat. Peningkatan itu baik dari sisi penguasaan teknik tari, penguasaan pembawaan tarian/ ekspresi tari, maupun penguasaan dalam hal mensinkronkan iringan tari dengan gerakan tarinya. Singkatnya, melalui pembelajaran tari menggunakan pendekatan apresiasi, mahasiswa sebagai peserta didik dalam menari menjadi dapat menguasai wirama, wirasa, dan wiraga. Berdasar hasil penelitian ini disarankan, para pengajar tari untuk meningkatkan hasil pembelajaran tari yang optimal perlu selalu mencari metode yang paling tepat. Pembelajaran tari melalui pendekatan apresiasi dapat digunakan sebagai salah satu metode yang perlu dipraktikkan oleh setiap pendidik tari.Kata Kunci : tari, wirama,wirasa, wiraga, apresiasi