cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
Perkembangan Anak Ditinjau dari Teori Mature Religion Putra, Windisyah
Nadwa Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.541

Abstract

Physical development is not necessarily equivalent to spiritual development. Normally, a person who has reached maturity level will have spiritual maturity pattern such as thought maturity, personal maturity, and emotional maturity. Yet, the balance between physical maturity and spiritual maturity sometimes does not run in parallel. One may have grown physically but not spiritually. Re-ligious values need to be established in children since early ages. The religious values mean any deeds relating humans and God or among human beings rela-tionship. Physical development is measured based on chronological age, peak of human physical development which is called maturity. On the other hand, spir-itual development is measured based on level of ability and certain ability level achieved by spiritual development which is called maturity.AbstrakKedewasaan jasmani belum tentu berkembang setara dengan perkembangan ro-hani. Umumnya orang dewasa memiliki pola kematangan rohani tetapi dalam beberapa kasus keduanya tidak berkembang secara seimbang. Secara fisik, seseorang mungkin sudah dewasa tetapi secara rohani ia ternyata belum matang, termasuk kematangan keberagamaannya. Nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis. Puncak perkembangan jasmani yang dicapai manusia disebut dengan kedewasaan. Perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan; pencapaian tingkat abilitas tertentu bagi perkembangan rohani disebut dengan istilah kematangan.
Lingkungan Menyenangkan dalam Pendidikan Anak Usia Dini: Pemikiran Montessori Hidayatulloh, M. Agung
Nadwa Vol 8, No 1 (2014): Kepribadian Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.1.574

Abstract

This article presents the description of a pleasant environment according to the Montessori method. fun environment characteristics and implications for the sustainability of early childhood education in Indonesia is also a discus-sion section. Montessori considers the environment as a key children spontaneous learning. Because the child is an active agent in its environment, Montessori suggested that the environment here should be fun for children and also provide opportunities for the development of the potential of eachindividual. In addition there is ease of access, with full responsibility, and freedom of movement, in the early child hood environment should be designed in such a way to make it look real, natural, and beautiful.AbstrakArtikel ini mengetengahkan deskripsi lingkungan menyenangkan menurut metode Montessori. Karakteristik lingkungan menyenangkan dan implikasinya bagi keberlangsungan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia juga men-jadi bagian pembahasan. Montessori menganggap lingkungan sebagai kunci utama pembelajaran spontan anak. Dikarenakan anak adalah agen aktif dalam lingkungannya, Montessori menyarankan agar lingkungan di sini hendaknyayang menyenangkan bagi anak dan juga memberi kesempatan bagi perkembangan potensi masing-masing individu. Di samping ada kemudahan akses, penuh dengan tanggung jawab, dan kebebasan bergerak, lingkungan pendi-dikan anak perlu didesain sedemikian rupa agar terlihat nyata, alamiah, dan indah.
Pembaharuan Pendidikan Islam Konsep Pendidikan Tinggi Islam Menurut Pemikiran Fazlur Rahman Najib, Aan
Nadwa Vol 9, No 2 (2015): Pendidikan Inovatif dan Pendidikan Karakter
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2015.9.2.517

Abstract

Fazlur Rahman idea of renewal Islamic college is lead to improvement of the current Islamic education. The final conclusion of this paper is (1).the formulation of thought the concept of Islamic higher education to be developed must be built on a solid paradigm spiritually, superior intellectually, and graceful morally with the Qur'an as a first reference and foremost. (2) offer a curriculum that are open to the studies of philosophy and social-science. (3) If the Islamic college in Indonesia is willing to follow the educational Fazlur Rahman thinking, motivation Indonesian Muslims to the development of science will be stronger, the dichotomy of science will be increasingly eroded.AbstrakGagasan Fazlur Rahman tentang pembaharuan pendidkan tinggi Islam sangat berhubungan dengan peningkatan pendidikan Islam masa kini. Kesimpulan akhir dari makalah ini adalah (1) formulasi pemikiran tentang konsep pemikiran mengenai pendidikan tinggi Islam yang akan dikembangkan harus dibangun di atas paradigma spiritual yang solid, unggul secara intelektual, dan anggun secara moral sesuai dengan Al-Qur'an sebagai rujukan pertama dan terutama. (2) kurikulum yang terbuka untuk studi filsafat dan ilmu sosial. (3) Jika perguruan tinggi Islam di Indonesia bersedia mengikuti pemikiran pendidikan Fazlur Rahman, maka keinginan umat Islam Indonesia untuk pengembangan ilmu pengetahuan akan lebih kuat, dikotomi ilmu akan semakin terkikis.
Ilmu Ladunni dalam Perspektif al-Ghazali Sutiyono, Agus
Nadwa Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.564

Abstract

Science Ladunni inspiration is flowing light, which can occur after improvement (taswiyah). Rationally, all knowledge can be acquired through learning. This is key in pursuing the  events and education trips. Learning becomes importantwhen one wants to reach the succes top life in understanding the science. How to get the science ladunni according to al-Ghazali, namely; first, trying to grab all the knowledge and take the highest ration of science the most. Second, proper training (ar-riyad ash sad iqah) and supervision are valid (al-muraqabah as sahihah), and still a fraid God with truth. Third, thinking (tafakur), if the soul has learned and trained to be a science, then he bertafakur. Fourth rabbaniyah purify hearts decorated with zikrullah.AbstrakIlmu Ladunni ialah mengalirnya cahaya ilham, yang bisa terjadi setelah penyempurnaan (taswiyah). Secara rasional, semua ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui belajar. Ini merupakan kunci dalam meniti peristiwa dan perjalanan pendidikan. Belajar menjadi penting Ketika seseorang ingin mencapai puncakkeberhasilan hidupnya dalam memahami ilmu. Cara  mendapatkan ilmu ladunni menurutt al-Ghazali yaitu; pertama, berusaha meraih semua ilmu dan mengambil jatah terbanyak dari ilmu yang paling banyak. Kedua, latihan yang benar ( ar-riyad}ah as}-s}adiqah ) dan pengawasan yang sahih ( al-muraqabah as}-s}ahihah ), serta tetap merasa takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Ketiga, berfikir (tafakur), apabila jiwa telah belajar dan terlatih akan suatu ilmu, kemudian iabertafakur. Keempat mensucikan hati  rabbaniyah yang dihiasi dengan  z\ikrullah .
Implementasi Evaluasi Kinerja Guru Di MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo Harjali, Harjali
Nadwa Vol 10, No 1 (2016): Pendidikan Islam dan Humanisme
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2016.10.1.909

Abstract

AbstractThe success of education is determined by the readiness of teachers in preparing their students through learning activities. The goal of this research is to know the implementation of the performance evaluation of teachers in MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Qualitative method is used to describe the implementation of teacher performance evaluation program. The result shows that the teacher performance evaluation program is needed by teachers to improve their performance so that quality standards can be reached. The program evaluation of MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo refers to the principle of management that includes four components, namely (1) Performance evaluation planning, (2) Organizing the performance evaluation, (3) implementing the performance evaluation, (4) Monitoring the performance evaluation of teachers in MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. AbstrakKeberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar mengajar.  Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan evaluasi kinerja guru di MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan mengenai pelaksanaan program evaluasi kinerja guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja. Begitu pula dengan program evaluasi kinerja guru di MA. Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo, program tersebut juga mengacu pada prinsip manajemen yang meliputi empat komponen, yaitu (1) Perencanaan evaluasi kinerja, (2) Pengorganisasian evaluasi kinerja, (3) Pelaksanaan evaluasi kinerja, (4) Pengawasan evaluasi kinerja guru di MA Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. 
MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM: MENCARI FORMAT BARU MANAJEMEN YANG EFEKTIF DI ERA GLOBALISASI roni, Tobroni
Nadwa Vol 6, No 1 (2012): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2012.6.1.453

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa untuk merubah dari siklus negatif menjadi siklus positif atau untuk merubah dari sekolah yang tidak berkualitas (bad school) menjadi sekolah berkualitas (good school), faktor kepemimpinan memegang peran yang sangat menentukan. Lembaga pendidikan yang baik dipimpin oleh pemimpin yang baik, walaupun tidak semua pemimpin yang baik mampu menjadikan lembaga pendidikan menjadi baik. Bagi lembaga pendidikan Islam yang menghadapi persoalan berat dan misi yang sangat mulia (pendidikan dan dakwah), perlu dipimpin oleh pemimpin yang memiliki kekuatan luar biasa. Model kepemimpinan konvensional seperti kepemimpinan situasional, transaksional dan transformasional perlu disempurnakan dengan model kepemimpinan spiritual. Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang mendasarkan visi, misi dan perilaku kepemimpinannya pada nilai-nilai ketuhanan.
Pengembangan Kualitas Kepribadian Guru Oktradiksa, Ahwy
Nadwa Vol 6, No 2 (2012): Signifikansi Pendidikan Profetis
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2012.6.2.590

Abstract

Teachers play a role in improving the quality of education. As individuals, the teacher is the embodiment of all the unique characteristics according to its position as the teaching profession stakeholders. Personality is the primary foundation for self-realization as an effective teacher in carrying out their professional duties. This requires a teacher to be able to realize effective personal to carry out the functions and responsibilities. Teachers must know himself and is able to develop in the direction of the realization of a healthy personal and plenary. Teacher's personality is an important factor for the success of ter-learning students. Personality of the teacher becomes an example for their students. Teacher's personality into the factors that determine good or bad personality of the child. Good personality became a teacher requirements. Abstrak Guru memegang peran dalam peningkatan mutu pendidikan. Sebagai pribadi, guru merupakan perwujudan dari seluruh keunikan karakteristik yang sesuai dengan posisinya sebagai pemangku profesi keguruan. Kepribadian merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai guru yang efektif dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Hal ini menuntut seorang guru harus mampu mewujudkan pribadi yang efektif untuk dapat melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya. Guru harus mengenal dirinya sendiri dan mampu mengembangkannya ke arah terwujudnya pribadi yang sehat dan paripurna. Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Kepribadian guru menjadi contoh bagi peserta didiknya. Kepribadian guru menjadi faktor yang menentukan baik atau buruknya kepribadian anak. Kepribadian yang baik menjadi persyaratan sorang guru. Kunci kunci: n.
SICI: Alternatif Model Pembelajaran PAI Unggulan Zulfa, Umi
Nadwa Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.546

Abstract

This study aims to find a new PAI learning model that is more creative and innovative. Data collection methods used were observation, interview and documentation. The data analysis technique used was the qualitative analy-sis of interactive models. Based on the research methods used, the findings are: a) the policy of the PAI learning in SDIP Kroya deals with learning inside and outside the classroom, b) the implementation stages of the PAI learning are through religious values socialization, religious values inter-nalization, continuity and religious values institutionalization, c) learning outcomes indicate that the new religious values just become a custom made by students, not as strong character, d) the PAI learning model found with the name of SICI learning Model.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan satu model pembelajaran PAI yang baru, yang lebih kreatif dan inovatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik ana-lisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif model interaktif. Berda-sarkan metode penelitian yang digunakan, diperoleh temuan penelitian bah-wa: a) kebijakan tentang pembelajaran PAI di SDIP Kroya adalah pembela-jaran yang dilakukan di dalam kelas dan luar kelas, b) pelaksanaan pem-belajaran PAI melalui tahapan sosialisasi nilai agama, internalisasi nilai agama, kontinuitas dan institusionalisasi nilai agama, c) hasil pembelajaran menunjukkan bahwa nilai-nilai agama baru sekedar menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh subjek didik, belum sepenuhnya menjadi karakter yang kuat, d) temuan model pembelajaran PAI dengan nama Model Pembelajaran SICI.
Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini Jailani, M. Syahran
Nadwa Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.580

Abstract

This paper describes the responsibilities of parents in early childhood education. From the review of the literature it is known that the family environment be-comes a major place of a child to education. Father and mother in the family becomes the first educators in the process of development of a child's life. Par-ents do not just build a relationship and do various family for reproductive pur-poses, continue descent, and establish affection. The main task of the family is to create buildings and atmosphere of family education process so that the next generation of intelligent and noble generation as a solid footing in the tread life and the journey of human children. The fact is supported by the findings of the theories that support the importance of family education as the first basic educa-tion of children. AbstrakMakalah ini menjelaskan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak usia dini. Dari kajian literatur diketahui bahwa lingkungan keluarga menjadi tempat yang utama seorang anak memperoleh pendidikan. Ayah dan ibu dalam keluarga menjadi pendidik pertama dalam proses perkembangan kehidupan anak. Orang tua tidak sekedar membangun silaturahmi dan melakukan berbagai tujuan berkeluarga untuk reproduksi, meneruskan keturunan, dan menjalin kasih sayang. Tugas utama keluarga adalah menciptakan bangunan dan suasana proses pendidikan keluarga sehingga melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sebagai pijakan yang kokoh dalam menapaki kehidupan dan perjalanan anak manusia. Kenyataan tersebut ditopang temuan teori-teori yang mendukung pentingnya pendidikan keluarga sebagai dasar pertama pendidikan anak-anak.
Desain Model Manajemen Pemasaran Berbasis Layanan Jasa Pendidikan pada MTs Swasta Se-Kota Semarang oji, Fatkuroji
Nadwa Vol 9, No 1 (2015): Kualitas dan Pemasaran Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2015.9.1.522

Abstract

Abstract This study aimed to develop a management model based marketing services pro-per education to increase the services of Private MTs in Semarang. The results showed the implementation of the model design management development based marketing services consist of three functions: (1) planning consists of: (a) analysis of consumer needs, b) education outreach programs MTs, c) a SWOT analysis of MTs, d) Vision-Mission & destination MTs, e) service policy MTs; (2) The imple-mentation consists of: a) the implementation of MTs service program, b) a policy strategy 7P + 1, c) Target & MTs market segment, d) consumer satisfaction, e) the relevance of the needs and services; (3) The evaluation consists of: a) customer loyalty, b) the interest of student enrollment to MTs.AbstrakPenelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model manajemen pemasaran berbasis layanan pendidikan yang layak untuk meningkatkan layanan jasa MTs Swasta di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan desain mo-del pengembangan manajemen pemasaran berbasis layanan jasa terdiri atas tiga fungsi yaitu: (1) perencanaan terdiri atas: (a) analisis kebutuhan konsumen, b) pro-gram layanan pendidikan MTs, c) analisis Swot MTs, d) Visi-misi & tujuan MTs, e) kebijakan layanan MTs; (2) pelaksanaan terdiri atas: a) implementasi program layanan MTs, b) kebijakan strategi 7P+1, c) Target & segment pasar MTs, d) ke-puasan konsumen, e) relevansi kebutuhan dan layanan; (3) evaluasi terdiri atas: a) loyalitas konsumen, b) animo pendaftaran siswa ke MTs. 

Page 10 of 53 | Total Record : 522


Filter by Year

2012 2025