cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 10, No. 3 Desember 2023" : 8 Documents clear
Exploring The Value Of Mappasilasae Local Wisdom To Prevent Early Marriage As An Effort To Preserve The Identity Of The Classic Bugis Tribe In The Era Of Disruption Nurhasmiah, Siti; Hafid, Umy Qalzum; Ratmila, Sri Reski; Ramli, Mauliadi
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.53726

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pemaknaan dan menjadikan nilai kearifan lokal mappasilasae untuk mencegah pernikahan dini sebagai upaya pemertahanan identitas Suku Bugis klasik di era disrupsi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Creswell. Tahapan penelitian yaitu, 1) Penyusunan instrumen penelitian, 2) Pengumpulan data, 3) Analisis data, validasi data, dan penyusunan laporan penelitian. Sumber data penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data, 1) Observasi 2) Wawancara informan secara purposive subjective dengan kriteria anak yang menikah dini 4 informan, orang tua/keluarga dari anak menikah dini 3 informan, masyarakat sekitar 6 informan, budayawan yang mengetahui kearifan lokal mappasilasae 2 informan, dan pemerintah setempat 1 informan, 3) Dokumentasi. Hasil yang diperoleh, 1) Makna kearifan lokal mappasilasae yaitu ade’, siri’, sipakainge’, ammaccangeng, dan manini’ /makkaritutu yang jika diterapkan, dapat mencegah pernikahan dini. 2) Tahap pencegahan pernikahan dini berbasis kearifan lokal mappasilasae, yaitu naisseng pasilaingngi tuju na salae, mappallaiseng “issengngi maja’e panassaiwi madecengnge”, appilengeng, dan sippettungeng. Di era disrupsi, masyarakat dapat mempertahankan kearifan lokal mappasilassae dengan cara patettongngi ade’ mappasilasae ri assilessurengnge, rilaleng paddissengeng dan rilaleng wanua. Jadi, disimpulkan bahwa kearifan lokal mappasilasae dapat digunakan sebagai upaya pencegahan pernikahan dini dan juga sebagai pemertahanan identitas Suku Bugis klasik di era disrupsi.Kata kunci : Mappasilasae, Pernikahan Dini, Suku Bugis, Era DisrupsiAbstractThis research endeavors to elucidate the significance and value of the local wisdom known as "mappasilasae" in averting early marriages, aiming to safeguard the distinct identity of the traditional Bugis community amidst contemporary disruptions. Employing qualitative methodologies following Creswell's phenomenological approach, the research comprises specific stages: 1) Preparation of research instruments, 2) Data collection, 3) Data analysis, validation, and research report compilation. Primary and secondary data sources are utilized, employing data collection techniques such as observation, purposive subjective informant interviews, and documentation. The findings reveal that the local wisdom of mappasilasae embodies principles like "ade'," "siri'," "sipakainge'," "ammaccangeng," and "manini'/makkaritutu," which, when applied, effectively deter early marriages. Furthermore, the research delineates stages for early marriage prevention rooted in mappasilasae, namely "naisseng pasilaingngi tuju na salae," "mappallaiseng," "appilengeng," and "sippettungeng." In the context of contemporary disruption, the preservation of mappasilasae involves adherence to its core principles "patettongngi ade' mappasilasae ri assilessurengnge," "rilaleng paddissengeng," and "rilaleng wanua." Consequently, this study concludes that the local wisdom of mappasilasae serves as a significant strategy to combat early marriages and uphold the enduring classical Bugis identity during times of disruption.Keywords : Mappasilasae, Early Marriage, Bugis Tribe, Disruption
Eksodus kaum Kristen Luwu bagian Selatan pada masa Gerakan DI/TII hingga terbentuknya Desa Seriti 1951-1954 Grasia, Geby; Sahabuddin, Jumadi; Malihu, La
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.23353

Abstract

Penelitian dan penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana latar belakang terjadinya Eksodus Kaum Kristen Luwu bagian Selatan pada tahun 1951, bagaimana upaya penyelamatan pengungsi yang dilakukan kaum Kristen Luwu bagian Selatan selama 1952-1953, bagaimana proses terbentuknya Desa Seriti 1954. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan historis. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa kaum kristen luwu bagian selatan pada masa gerakan DI/TII adalah masyarakat kristen yang bertempat tinggal di luwu bagian selatan yang dipaksa untuk di islamkan dan ingin direkrut menjadi anggota DI/TII maka mereka melakukan penyelamatan diri atau pengungsian ke daerah Lamasi/ Luwu bagian Utara. Dalam perjalanannya mereka meramba hutan yang dimana dipimpin oleh kepala-kepala kampung, pemerintah setempat dan TNI-AD Batalyon 506 Sriti pada saat itu, sebagian dari mereka dititipkan di masyarakat jawa yang berada di Lamasi dan sebagian melakukan peninjauan lokasi dengan kepala kampung bernama Mangentang Ia menancapkan kayu ke tanah apabila kayu itu semakin panjang berarti tanah itu layak untuk di huni oleh kaum Kristen luwu bagian selatan pada saat itu, kemudian ketika lokasi itu telah didapatkan maka empat bulan kemudian keluarga yang masih ada di luwu bagian selatan menyusul ke daerah lamasi dan prosesnya dibantu oleh TNI-AD Batalyon 506 Sriti. Hal ini menegaskan bahwa kaum Kristen Luwu bagian Selatan tetap berpegang teguh terhadap keyakinannya sekalipun nyawa mereka adalah taruhannya dan hingga akhirnya mereka bisa selamat dari gangguan dan ancaman DI/TII. DI/TII dikatakan pemberontak Negara dikarenakan ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi Negara islam seperti yang diketahui bahwa Indonesia terbentuk karena adanya semangat yang tinggi dari berbagai daerah, agama, etnis dan golongan, maka dari itu seharusnya perbedaan itulah yang menjadi landasan untuk berpikir dan membangun Negara ini. Kata Kunci : kaum Kristen Luwu bagian Selatan, DI/TII, Lamasi, TNI-AD AbtractThis research and writing aims to find out the background to the exodus of Southern Luwu Christians in 1951, how efforts to rescue refugees were carried out by Southern Luwu Christians during 1952-1953, how the process of forming Seriti Village in 1954 was carried out. This research uses qualitative methods with historical approach. Data collection techniques use interviews and observation. From this research it is known that the Christians in southern Luwu during the DI/TII movement were Christians who lived in southern Luwu who were forced to convert to Islam and wanted to be recruited as members of DI/TII, so they carried out self-saving or refuge in the Lamasi/TII area. North Luwu. On their journey, they explored the forest, which was led by village heads, the local government and TNI-AD Battalion 506 Sriti at that time, some of them were entrusted to the Javanese community in Lamasi and some of them carried out site inspections with the village head named Mangentang. wood to the ground, if the wood becomes longer, it means that the land is suitable for habitation by Christians in southern Luwu at that time, then when the location has been found, four months later the families still in southern Luwu follow them to the Lamasi area and are assisted in the process. by TNI-AD Battalion 506 Sriti. This confirms that the Southern Luwu Christians still adhere to their beliefs even though their lives are at stake and until they are finally able to survive the harassment and threats from DI/TII. DI/TII are said to be state rebels because they want to change the ideology of Pancasila into an Islamic state. As is known, Indonesia was formed because of the high enthusiasm of various regions, religions, ethnicities and groups, therefore these differences should be the basis for thinking and developing this country.Keywords: Southern Luwu Christians, DI/TII, Lamasi, TNI-AD
Kopi Garoet: “A Cup Of Java-Preanger Stelsel” Penopang Jalur Rempah Nusantara yang Mendunia Usep, Usep
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.37721

Abstract

Kajian “Jalur Rempah” menarik untuk dikaji, materi ini menjadi salah satu materi untuk fase E pada kurikulum merdeka. Berbicara mengenai jalur rempah, maka pembelajaran bukan lagi membahas jalur pala, lada dan cengkeh di Banten, tetapi secara spesifik mengkaji rempah di Garut, “Kopi Garut”, yang menjadi primadona sejak awal abad ke-18 di eropa dalam bingkai “A Cup of Java-Preanger Stelsel”. Adapun metode yang pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran berbasis Project (PjBL), Lawatan Kesejarahan serta untuk asesmennya dilakukan melalui Podcast. Peserta didik melakukan research secara langsung dengan menelusuri situs jalur rempah kopi di kota garut, serta untuk memahamkan secara actual melakukan observasi dan wawancara dengan para pengusaha kafe-kafe kopi di kota garut. Dari pembelajaran ini diperoleh pemahaman bahwa Kopi Garut merupakan salah satu rempah agraris yang menopang jalur rempah maritim yang laku di pasaran dunia, selain itu terbuka peluang bagi peserta didik untuk mengasah daya berpikir kritis dan kreatifitasnya untuk andil menjadi bagian dari bisnis kopi garut dengan mendesain Packaging kopi garut dan mendesain Grafis-Photo untuk kepentingan promosi kopi garut di sosial media. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kurikulum merdeka, memberikan keleluasaan mengenai pemilihan materi yang esensial yang tidak jauh dari lingkungan sekitarnya serta memberikan kebermanfaatan bagi perkembangan peserta didik di dalam kehidupannya.Kata kunci:  Kopi Garoet, Kurikulum Merdeka, Packaging Kopi AbstractThe "Spice Path" study is interesting to study, this material is one of the materials for phase E in the independent curriculum. Talking about the spice route, learning no longer discusses the nutmeg, pepper and clove route in Banten, but specifically examines the spices in Garut, "Garut Coffee", which has been a favorite since the early 18th century in Europe in the frame of "A Cup of Java -Preanger Stelsel”. The learning methods used are Project-based learning (PjBL), Historical Tours and the assessment is carried out via Podcast. Students carry out research directly by exploring the coffee spice route site in Garut city, and to gain actual understanding, carry out observations and interviews with coffee cafe entrepreneurs in Garut city. From this lesson, we gain an understanding that Garut Coffee is one of the agricultural spices that supports the maritime spice route which sells well on the world market. Apart from that, there is an opportunity for students to hone their critical thinking skills and creativity to contribute to being part of the Garut coffee business by designing coffee packaging. arrowroot and designing photo-graphics for the purpose of promoting arrowroot coffee on social media. It can be concluded that independent curriculum learning provides freedom regarding the selection of essential material that is not far from the surrounding environment and provides benefits for students' development in their lives.Keywords: Garoet Coffee, Merdeka Curriculum, Coffee Packaging
Prosesi dan Makna Tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Kecamatan Banda Naira Amsi, Najirah; Muhammad, Rafita
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.59662

Abstract

Kepulauan Banda yang dikenal sebagai negeri rempah menyimpan kekayaan alam dan budaya yang beragam. Keragamana Budaya dapat ditemukan disetiap desa atau negeri. Salah satu yang paling menarik adalah tarian cakalele Kampung Adat Ratu. Kampung adat ratu merupakan kampung adat yang berbeda dengan kampung adat lainnya, karena merupakan satu-satunya kampung adat yang menunjukkan kekuatan gander, yaitu Ratu (perempuan). Olehnya itu, penelitian ini hadir untuk menelaah prosesi cakalele dan makna Kampung Adat Ratu di Desa Dwiwarna, Kecematan Banda.  Penelitian ini adalah penelitian deskritif  kualitatif (penelitian secara alamiah) yang bertujuan untuk sebuah tinjauan historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Kecamatan Banda Naira. Subjek penelitian ini adalah para Informan yang mengetahui proses Tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) Banda Naira. Prosedur penelitian yaitu heoristik, kritik, interprestasi, dan histiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini memilih informan yang dianggap dapat dipercaya serta paham dengan maksud permasalahan yang di teliti. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian dari historis tarian Cakalele Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) adalah tarian Cakalele merupakan tarian perang. Pada umumnya di Kecamatan Banda adalah sebuah tarian yang bernuansa kepahlawanan, dari masing-masing Negeri Adat mempunyai Tarian Cakalele dan Tarian tersebut mempunyai berbagai model dan jenis dalam penampilannya itu berbeda-beda tetapi pada prinsipsinya sama yang membedakannya ialah dari gaya dan pertunjukkannya. Ada sebelas prosesi dalam Tarian Cakalele Tarian Kampung Adat Ratu (Dwiwarna) yaitu rapat atau musyawara, putar tempat siri permisi, bawa tempat siri, persiapan alat, putar jaster/mahkota, potong bambu untuk gapura, putar tempat siri besar, potong bambu untuk Cakalele, buka puang, hari H dan tutup Kampung. Kata kunci : Tarian Cakalele, Kampung Adat, Prosesi, Makna AbstractThe Banda Islands, which are known as the land of spices, contain diverse natural and cultural riches. Cultural diversity can be found in every village or country. One of the most interesting is the cakalele dance from Kampung Adat Ratu. Ratu traditional village is a traditional village that is different from other traditional villages, because it is the only traditional village that shows the power of gander, namely Ratu (female). Therefore, this research aims to examine the cakalele procession and the meaning of the Ratu Traditional Village in Dwiwarna Village, Banda District. This research is a qualitative descriptive research (natural research) which aims to provide a historical review of the Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) Banda Naira District. The subjects of this research were informants who knew the process of the Banda Naira Traditional Village Ratu (Dwiwarna) Cakalele Dance. The research procedures are heoristics, criticism, interpretation, and histiography. The data collection technique in this research selects informants who are considered trustworthy and understand the meaning of the problem being studied. Data collected through observation and interviews. The results of research from the historical Cakalele dance of the Ratu Traditional Village (Dwiwarna) are that the Cakalele dance is a war dance. In general, in Banda District, it is a dance that has a heroic nuance. Each traditional country has the Cakalele Dance and this dance has various models and types. The performance is different, but in principle it is the same, what differentiates it is the style and performance. There are eleven processions in the Cakalele Dance, the Queen's Traditional Village Dance (Dwiwarna), namely meeting or deliberation, turning the siri excuse me place, bringing the siri place, preparing tools, turning the jaster/crown, cutting bamboo for the gate, turning the big siri place, cutting bamboo for Cakalele, open Puang, D day and close Kampung. Keywords: Cakalele Dance, Traditional Village, Procession, Meaning 
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Adobe Premiere Pro Cc 2019 Tema Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Di Bukit Siguntang untuk Mengatasi Pembelajaran Sejarah Masa Pandemi Covid-19 Wulandari, Bunga; Syarifuddin, Syarifuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.31031

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian Research and Development yang diterapkan terhadap peserta didik kelas X di Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Palembang. Penelitian ini terfokus pada materi Peninggalan kerajaan Sriwijaya di Bukit Siguntang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model Hannafin dan Peck. Kevalidan media pembelajaran divalidasi oleh tiga ahli, yakni ahli media, ahli materi dan ahli desain pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat dampak efektivitas dari produk yang dihasilkan dalam pembelajaran daring. Dampak efektifitas terlihat dari peningkatan hasil pembelajaran setelah menggunakan Adobe Premiere Pro CC 2019 sebesar 39,37% dengan N-gain sebesar 0,74. sehingga dapat dikatakan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi Adobe Premiere Pro CC 2019 valid.Kata kunci: Pengembangan, media, Pembelajaran Sejarah, Adobe Premiere Pro CC 2019                                         Abstract This research is a type of research and development which is applied to class X students at Senior High School 15 Palembang. This research focuses on the material of Relics of the Srivijaya Kingdom on Siguntang Hill. This is a development research that use the Hannafin and Peck model. The validity of teaching material is validated by three experts, they are media expert, material expert and learning design expert. The purpose of this research is to see the impact of the effectiveness of the products produced in online learning. The effect of effectiveness can be seen from the increasein learning outcomes after using. Adobe Premiere Pro CC 2019 by 39,37% with an N-gain of 0,74. so that itcan be said that the on Adobe Premiere Pro CC 2019 learning media is valid.Keywords: Development, learning media, History Learning, Adobe Premiere Pro CC 2019
Dinamika Sosial Masyarakat Transmigrasi Bali di Desa Bunga Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara Khumairah, Anis; Agustang, Andi
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.53088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) dinamika sosial budaya masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara dan 2) faktor-faktor yang mendukung terjadinya dinamika sosial budaya pada masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara. Jenis penelitian yang digunakan dalam konteks ini adalah penelitian kualitatif. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang yang ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria yaitu 1) masyarakat Bali yang melakukan transmigrasi, 2) masyarakat Bali yang berusia 17 tahun, dan 3) keturunan dari masyarakat Bali yang telah melakukan transmigrasi. Prosedur pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan member check. Analisis data dilakukan dengan 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Dinamika sosial budaya pada masyarakat transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara terjadi karena dua hal, yaitu adaptasi dan interaksi sosial. 2) Faktor pendukung terjadinya dinamika sosial budaya pada masyarakat Transmigrasi Bali di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara ada 2, yaitu faktor internal diantaranya: a) bertambah dan berkurangnya penduduk, b) konflik, c) sarana dan prasarana, d) toleransi. Serta faktor eksternal diantaranya: a) Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia, b) pengaruh kebudayaan lain, dan c) pendidikan lebih maju.Kata Kunci: Dinamika Sosial, Transmigrasi, Masyarakat BaliAbstractThis study aims to find out: 1) the socio-cultural dynamics of the Balinese transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency, and 2) factors that support the occurrence of socio-cultural dynamics in the Balinese transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency. The type of research used in this context is qualitative research. The number of informants in this study was 10 people determined through purposive sampling techniques with criteria namely 1) Balinese people who transmigrated, 2) Balinese people aged 17 years, and 3) descendants of Balinese people who had transmigrated. Data collection procedures are observation, interviews and documentation. Checking the validity of data is carried out by member check. Data analysis is carried out by 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) conclusions. The results of this study show that: 1) Socio-cultural dynamics in the Balinese transmigration community in Bunga jadi Village, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency occur due to two things, namely adaptation and social interaction. 2) There are 2 supporting factors for the occurrence of socio-cultural dynamics in the Bali Transmigration community in Bunga Jadi, Muara Kaman District, Kutai Kartanegara Regency, namely internal factors including: a) increasing and decreasing population, b) conflict, c) facilities and infrastructure, d) tolerance. As well as external factors including: a) Causes derived from the physical natural environment around humans, b) the influence of other cultures, and c) more advanced education.  Keywords: Social Dynamics, Transmigration, Balinese Society
Kembali ke Pangkuan NKRI: Sulawesi Selatan dalam Mata Rantai Sejarah Partai Masyumi Amri, Khaerul; Makkelo, Ilham Daeng; Amir, Amrullah
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.51690

Abstract

Kajian ini fokus pada dinamika politik Partai Masyumi sebagai penanda sejarah terbentuknya wajah Indonesia yang baru. Pandangan Fraksi Partai Masyumi melalui Mosi Integral Natsir dalam Sidang  Parlemen membuka jalan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kajian ini menggunakan metode sejarah, yang merumuskan permasalahan penelitian berdasarkan perspektif sejarah. Tahapan yang dilakukan meliputi: pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (seleksi data), interpretasi (penafsiran), dan penyajian atau penulisan sejarah (historiografi). Hasil Kajian ini menunjukkan bahwa peran sakral Partai Masyumi mengembalikan keutuhan bangsa Indonesia sangatlah besar. Dibalik kursi elit parlemen lahir sebuah gagasan monumental. Gagasan ini diikuti dengan kobaran semangat panji bulan bintang di Sulawesi Selatan Tenggara melalui sejumlah program metodik kepartaian. Partai Masyumi mampu memenangkan kontestasi politik dengan mendominasi perolehan suara di daerah pemilahan dua belas. Hal ini juga menandai kedigdayaan para pemikir sekaligus politisi Islam yang bahu-membahu merebut simpati rakyat pada pemilu perdana negeri ini.Kata Kunci: Islam, Masyumi, Pemilu                                                AbstractThe political dynamics of the Masyumi party are the main subject of this study since they have historically signaled the appearance of a fresh face in Indonesia. The unitary state of the Republic of Indonesia was founded thanks to the opinions of the Masjumi party faction expressed by Natsir's integral motion in the parliamentary session. The historical approach, which frames research questions in historical context, is used in this study. Research and source gathering (heuristics), source analysis (selection of material), interpretation (interpretation), and presentation or historiography (history) are the steps that are taken. The findings of this study show how crucial the Masjumi party's holy role is in restoring Indonesia's integrity. Behind the elitist seats in the legislature, a revolutionary concept emerged. . The Spirit of the Moon and Stars Banner in South and Southeast Sulawesi adopted this concept and implemented a number of meticulous celebration programs. By controlling the voting in the twelve divisions, the Masyumi Party was able to prevail in the political struggle. This demonstrates the superiority of Islamic political leaders and philosophers, who collaborated to appeal to voters during this nation's first election.Keywords: Islam, Masyumi, Election
Perubahan Sistem Tiket Kertas Menjadi Tiket Elekronik Pada KRL Commuter Line Jabodetabek: (2003-2016 Khalishah, Arinisya
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 3 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v10i3.50866

Abstract

Penelitian dengan judul Perubahan Sistem Tiket Kertas Menjadi Tiket Elekronik Pada KRL Commuter Line Jabodetabek: (2003-2016) bertujuan untuk merekonstruksikan perkembangan tiket KRL Commuter Line Jabodetabek menjadi lebih modern pada tahun 2003-2016, dimulai dari tiket kertas hingga menjadi tiket elektronik. Penelitian ini ditulis menggunakan metode penelitian historis yang disajikan dalam bentuk deskriptif naratif. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini didapat dari buku, jurnal, surat kabar, dan skripsi yang berkaitan dengan topik penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiket KRL Commuter Line Jabodetabek pada tahun 2003 hingga 2016 mengalami transformasi perubahan yang sangat kompleks. Dalam perkembangannya sistem tiket KRL Commuter Line mengalami beberapa perubahan mulai dari sistem kertas hingga penerapan sistem tiket elektronik. Pada masa penerapan tiket kertas mengalami beragam permasalahan akibat penumpang yang tidak membayar seperti atapers, pedagang, pengamen, dan pencopet yang mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan KRL. Sehingga pada tahun 2013 PT KCJ menerapan sistem e-ticketing secara menyeluruh dengan mengganti seluruh tiket kertas menjadi tiket elektronik berbentuk kartu untuk perjalanan KRL di Jabodetabek agar dapat memudahkan penumpang. Dalam perkembangan ini juga tidak terlepas dari penolakan masyarakat, tetapi berhasil mengubah citra KRL Commuter Line menjadi transportasi yang aman, nyaman, bersih, dan sistematis.

Page 1 of 1 | Total Record : 8