cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIEKONOMIKA
ISSN : 23019948     EISSN : 24076260     DOI : -
AGRIEKONOMIKA, terbit dua kali dalam setahun yaitu pada April dan Oktober yang memuat naskah hasil pemikiran dan hasil penelitian bidang sosial, ekonomi dan kebijakan pertanian dalam arti umum.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
PEMASARAN KOMPREHENSIF DALAM AGRIBISNIS “LORJUK” Di KABUPATEN PAMEKASAN MADURA Endang Tri Wahyurini; Aminatus Zahro
Agriekonomika Vol 6, No 1: April 2017
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v6i1.1903

Abstract

ABSTRAKPermasalahan penelitian ini bagaimana gambaran umum usaha agribisnis lorjuk di Kabupaten Pamekasan dan bagaimana model pemasaran komprehensif yang terbaik pada komoditas lorjuk. Tujuan  penelitian untuk menganalisis keragaan lorjuk sebagai produk agribisnis di Pamekasan, dan menganalisis pemasaran lorjuk secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analitik. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa 1) Segmentasi lorjuk menurut produsen bahwa lorjuk merupakan sumber penghasilan yang masih diminati oleh konsumen tertentu. 2) Lorjuk menurut konsumen adalah bahwa bahwa responden yang paling banyak memilih atribut bisa dibuat camilan, dibuat oleh-oleh dan di buat suguhan tamu sebanyak 43,3%.  3) Positioning lorjuk menurut produsen adalah produk lorjuk lebih disukai dan diminati oleh konsumen jika dibandingkan dengan “rung-terung” (teripang). 4) Berdasarkan analisis   SWOT   bahwa strategi bauran pemasaran yang perlu dilakukan adalah strategi intensif atau strategi terintegrasi. Strategi dalam penelitian ini terletak pada kuadran I, yaitu memanfaatkan peluang dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat penjual lorjukABSTRACTThis research problems of how a general overview of agribusiness lorjuk in Pamekasan and how best comprehensive marketing model in lorjuk commodities. The aim of research to analyze the performance of lorjuk as agribusiness products in Pamekasan, and analyze marketing lorjuk comprehensively. This research uses descriptive method analytics. The result of this study showed that 1) Lorjuk segmentation according to the manufacturer that lorjuk is source of income is still in demand by certain consumers. 2) Lorjuk according to the consumer is the most respondents choose which attributes can be made snack, made souvenirs and treats for the guests as much as 43.3%. 3) Positioning Lorjuk product according to the manufacturer is preferred and desired by consumers when compared to the "bird-eggplant" (sea cucumbers). 4) Based on SWOT analysis that marketing mix strategy needs to be done is the intensive strategy or integrity strategy. The strategy in this study lies in quadrant I, which take advantage of opportunities to use the strength of the community lorjuk seller.
DAYA SAING DAN FAKTOR PENENTU EKSPOR KOPI INDONESIA KE MALAYSIA DALAM SKEMA CEPT-AFTA Achmad Edi Setiawan; Teti Sugiarti
Agriekonomika Vol 5, No 2: Oktober 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i2.1758

Abstract

CEPT-AFTA dapat menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Malaysia, namun dalam perkembangannya ekspor kopi Indonesia ke Malaysia fluktuatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing dan faktor penentu ekspor kopi Indonesia ke Malaysia dalam  skema  CEPT-AFTA.  Metode  yang digunakan yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk menganalisis daya saing ekspor kopi Indonesia di pasar Malaysia dan metode regresi linier berganda untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi Indonesia ke Malaysia. Hasil dari analisis RCA menunjukkan bahwa kopi Indonesia   di  Pasar   Malaysia   memiliki   daya   saing   (nilai   RCA1)   namun mengalami penurunan daya saing setelah diberlakukannya CEPT-AFTA. Hasil estimasi analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi Indonesia ke pasar Malaysia adalah produksi kopi Indonesia, harga ekspor kopi Indonesia ke Malaysia, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Sedangkan nilai RCA dan dummy CEPT-AFTA tidak berpengaruh
ADAPTASI STRUKTUR KOMUNIKASI PEMERINTAH DAN PETERNAK DALAM BUDIDAYA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) DI PURWOREJO Tatag Handaka; Hermin Indah Wahyuni; Endang Sulastri; Paulus Wiryono
Agriekonomika Vol 6, No 2: Oktober 2017
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v6i2.1909

Abstract

Tujuan penelitian adalah menganalisis adaptasi yang dikembangkan sistem komunikasi Pemerintah dan peternak. Teori yang digunakan adalah teori sistem komunikasi dalam perspektif Niklas Luhmann. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi. Populasi penelitian di Kabupaten Purworejo yang menjadi sentra budidaya kambing Peranakan Ettawa (PE). Informan penelitian adalah Kepala Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan (DPPKP), Ketua Kelompok Jabatan Fungsional (KJF), Kepala Bidang Peternakan DPPKP, Koordinator Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK), Petugas Penyuluhan Lapang (PPL), Ketua Kelompok Tani, dan Peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem komunikasi Pemerintah dijalankan oleh struktur komunikasi yang ada di KJF dan BPK. Sistem komunikasi Pemerintah dalam menghadapi kompleksitas lingkungan budidaya kambing PE berevolusi menjadi sistem yang tidak adaptif. Sistem komunikasi peternak dikembangkan oleh struktur kelompok tani (poktan). Sistem komunikasi peternak dalam menghadapi kompleksitas lingkungan budidaya kambing PE berevolusi menjadi sistem adaptif.ADAPTATION OF GOVERNMENT AND FARMER COMMUNICATION SYSTEMS INETTAWA CROSSBREED GOAT FARMING IN PURWOREJO REGENCYASBTRACTThe aim of this research was to analyze the adaptation process that was developed by government and farmer communication systems. The theory used was communication system by Niklas Luhman’s perspective. The research method used was ethnography. Population of this study was conducted in Purworejo regency as the center of Ettawa Crossbreed (EC) goat farming.Informants of the study are: Head of the Agricultural, Livestock, Marine and Fisheries Offices, Head of Functional Group, Head of Livestock Affairs, Coordinator of Center for Agricultural Extension, extension staff, head of farmer groups, and farmers. The result of the study showed  that government communication system was developed by Functional Group (KJF) which is underthe Agricultural, Livestock, Marine and Fisheries Offices (DPPKP) and Center for Agricultural Extension (BPK) located in the subdistrict. Government communication system in encountering the environmental complexity of EC goat farming evolved into a system that was not adaptive. On the other hand, farmer communication system was developed by farmer groups (poktan). Farmercommunication system encountering environmental complexity of EC goat farming evolved into an adaptive system.
INTEGRATED DESEASE MANAGEMENT FOR CHILI FARMING IN BREBES AND MAGELANG - CENTRAL JAVA: SOCIAL ECONOMIC IMPACTS Joko Mariyono
Agriekonomika Vol 5, No 2: Oktober 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i2.1686

Abstract

This study aims to analyze the impact of an integrated disease management (IDM) on chilli. Chili disease control technologies that include crop barrier with corn and Crotalaria, and compost tea have been introduced to farmers in Magelang and Brebes. A qualitative approach was used to assess and estimate the socio-economic impact of agricultural research. The study was conducted in 2011. The results showed that based on land use chili, the net economic benefits generated was relatively low. There were only a few farmers who have adopted the technology on chili peppers. Furthermore, the survey also illustrates that three years after its introduction in 2007 the technology status at farm level was just at consciousness phase. Learning of this fact, a thorough evaluation of the technology on chili pepper should be done immediately. Research institutions which have developed the technology should encourage bottom-up initiatives and build a shared commitment to complete the implementation of a clear strategic plan. The adoption of the strategic plan should include the integration of research activities with promotional activities for example by revitalizing participatory approaches to awareness of farmers.
Agro-Tourism Development Strategy in Desa Wisata Kaligono (Dewi Kano) of Kaligesing District of Purworejo Regency Siwi Harning Pambudi; Sunarto Sunarto; Prabang Setyono
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.3835

Abstract

This research aims were: to gain information about villagers’ perception concerning to the plan of building an agro-tourism area in Dewi Kano, to find out the side effect of agro-tourism, to formulate the strategy in developing the agro-tourism. Researcher used observation, interview, questionnaire, and SWOT analysis (in formulating the agro-tourism development strategy) as methods. The results of the research show that the villagers of Dewi Kano are supporting the plan of developing their area as an agro-tourism; this is seen from their perceptions which tend to agree, because they understand that agro-tourism development can give benefits in ecology, economy, social, and management. The strategy which can be applied in developing agro-tourism of Dewi Kano is a progressive strategy; it means, the research location is in a great condition, so it will be well-developed by maximizing the opportunities.
Pemetaan dan Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Sayuran di Kabupaten Karanganyar Yos Wahyu Harinta; Joko Setyo Basuki; Sri Sukaryani
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.3201

Abstract

Demi membangun Kawasan Strategis Ekonomi, suatu wilayah perlu untuk mengetahui potensi komoditas yang dimiliki dan layak untuk dikembangkan. Potensi tersebut bisa karena potensi alam ataupun karena sektor tersebut memiliki keunggulan komparatif. Sehingga dengan modal yang sama, dapat berproduksi dalam waktu yang relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian daerah juga besar. Pertanian masih menjadi sektor unggulan di Kabupaten Karanganyar karena selalu masuk dalam posisi kedua sebagai penyumbang PDRB daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komoditas unggulan sayuran di Kabupaten Karanganyar. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis Location Quetient (LQ) yang didapatkan dari sumber data sekunder yaitu data produksi sayuran di Kabupaten Karanganyar yang berupa data series lima tahun terakhir dan didapatkan dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karanganyar (dan didukung oleh data dari BPS Kabupaten Karanganyar). Hasil penelitian ini adalah komoditas sayuran yang dapat dijadikan unggulan dan layak dikembangkan potensinya di Kabupaten Karanganyar ditunjukkan dengan nilai Location Quotient (LQ) lebih dari 1. Hal ini berarti bahwa komoditas tersebut menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan. Komoditas memiliki keunggulan komparatif yang hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah yang bersangkutan namun juga dapat diekspor ke luar wilayah. Komoditas yang mendapatkan nilai LQ tertinggi dan mempunyai sebaran wilayah terbanyak adalah komoditas cabai yaitu di tujuh kecamatan (Kecamatan Jumapolo, Jumantono, Matesih, Ngargoyoso, Karanganyar, Mojogedang, Kerjo dan Jenawi). Sedangkan komoditas wortel nilai LQ-nya tertinggi di Kecamatan Karangpandan. Komoditas bawang putih menjadi tertinggi di Kecamatan Tawangmangu dan komoditas sawi tertinggi di Kecamatan Jatiyoso. Kata Kunci :  Pengembangan Agribisnis, analisis Location Quotient.
Pengembangan Agroindustri Wilayah Pesisir Berbasis Komoditas Unggulan Ikan Hasil Tangkapan Nurrisalah Hayati; Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.3590

Abstract

Sektor perikanan merupakan salah satu sektor riil yang potensial dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa komoditas hasil tangkap unggulan dan merumuskan strategi pengembangan agroindustri yang berasal dari komoditas hasil tangkap unggulan yang terpilih. Metode yang digunakan adalah metode Location Quotient (LQ) untuk mengetahui komoditas hasil tangkap unggulan dan Analisys Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui strategi pengembangannya. Berdasarkan hasil analisis LQ, ikan kurisi dan ikan cakalang merupakan komoditas unggulan di Wilayah Pesisir Kecamatan Tlanakan sedangkan hasil analisis AHP, kriteria modal menjadi prioritas pertimbangan utama dalam memilih alternatif agroindustri berbasis komoditas hasil tangkap unggulan, kemudian prioritas selanjutnya adalah kriteria sarana prasarana, teknologi, peluang pasar, kebijakan pemerintah, tenaga kerja, dan bahan baku.
Marketing Aspects of Vegetables: Comparative Study of Four Regions in East Java and Bali Joko Mariyono; Hanik A. Dewi; Putu B. Daroini; Evy Latifah; Abu Z. Zakariya; Victor Afari-Sefa
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.3410

Abstract

One of the factors that determines the success or failure of agribusiness is ability of farmers to sell the product. Thus, marketing is an important part of vegetable farming. Good marketing process leads to commercialization, and unsuccessful in this step leads to inadequate income. This study aims to explore the marketing aspects of vegetables using descriptive analysis of vegetable marketing relates issues. The aspects include sources of information, traders, time to sell, use of mobile phone in marketing and the potential constraints.  Marketing characteristics of each region were discussed by comparing and contrasting one to another. Data for this study were gathered from a quantitative investigation of 360 farm households situated in four main vegetable producing regions of rural East Java and Bali, Indonesia. The results show that farmers relied on traders and neighbouring farmers as the trusted sources market information. The ways of farmers to sell the product to the market varied across regions. Commonly, farmers had frequent buyers or costumers to sell the products without any special commitment. In majority, farmers contacted a few of traders to sell the product about three days before harvesting. Highly fluctuation of prices was perceived to be the most important constraint among  other factors limiting good marketing. Thus, there is a need to address such constraints to help farmers to get fairness.
Karakteristik Petani Muda Agribisnis dan Faktor-faktor yang Mepengaruhi Alih Fungsi Lahan di Malang Eri Yusnita Arvianti; Salbinus Abin
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.1068

Abstract

Fungsi lahan pertanian di Indonesia sekarang ini harus bersaing dengan pemukiman, bidang industri dan properti. Upaya perlindungan terhadap status lahan sawah kemudian menjadi bagian yang paling urgen. Optimisme perlu dibangun dengan pandangan bahwa dengan membina petani muda agar berjiwa agribisnis (wirausaha) maka pembangunan sektor pertanian akan tetap berlanjut. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui karakteristik petani muda di Malang, mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi praktik alih fungsi lahan di daerah penelitian, mengetahui model komunitas petani muda di Malang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Curungrejo, Desa Jatirejoyoso, Desa Mangunrejo, dan Panggungrejo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling.  Hasilnya adalah karakteristik petani muda yang paling banyak dimiliki adalah yang bersemangat di bidang agribisnis, kemudian dilanjutkan dengan karakteristik berusahatani sendiri, dan yang menganggap bertani sebagai usaha utama menduduki peringkat ketiga. Sedangkan variabel yang berpengaruh terhadap praktik alih fungsi lahan adalah kendala irigasi, resiko usahatani, harga jual lahan dan tingkat pendapatan.
Relasi Kuasa, Mekanisme dan Strategi Meraih Kekuasaan dalam Program Social Forestry pada Taman Nasional Meru Betiri Diah Puspaningrum; Ati Kusmiati
Agriekonomika Vol 7, No 1: April 2018
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v7i1.3142

Abstract

Social forestry adalah upaya yang dilakukan untuk membuat masyarakat di sekitar hutan menjadi berdaya. Peneliti ingin mengungkap lebih jauh mengenai proses pemberdayaan dalam kerangka social forestry yang dilakukan terhadap masyarakat desa hutan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri dengan menggali bagaimana relasi kuasa antara masyarakat desa hutan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri dengan powerholders (Taman Nasional Meru Betiri). Hubungan pertukaran antara masyarakat desa penyangga kawasan konservasi bersifat asimetris terutama dalam melaksanakan norma atau aturan konservasi. Dalam hubungan ini terdapat kekuasaan yang bersifat memaksa bagi warga masyarakat. Pengaruh dan  hubungan kekuasaan dalam program pemberdayaan antara lembaga masyarakat desa penyangga dan Taman Nasional Meru Betiri  adalah bersifat negatif karena hubungan tersebut terjadi proses kekuasaan yang berlangsung dari pemimpin ke pengikut (dari atas  ke bawah) dan ada wewenang dalam pengelolaan kawasan konservasi. Mekanisme dan strategi meraih kekuasaan terkait dengan peran hukum dan aturan belum disadari sebagai suatu perjanjian bersama antara masyarakat dan taman nasional sebagai suatu konsensus bersama.