cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Efek Heterosis dan Heritabilitas pada Komponen Ukuran Buah Pepaya F1 Sukartini, -; Budiyanti, Tri; Sutanto, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pepaya sebagai sumber vitamin, ketersediaannya dalam bentuk yang sesuai dengan permintaanmerupakan salah satu tujuan pemuliaan tanaman pepaya. Tujuan penelitian adalah mengetahui efek heterosis danheritabilitas pada komponen ukuran buah pepaya F1. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Aripan, Balai PenelitianTanaman Buah Tropika, Solok dari bulan Januari 2003 sampai Desember 2004. Rancangan percobaan yang digunakanadalah acak kelompok dengan 5 perlakuan genotip tetua, yaitu Semangko-01, Meksiko-01, Py-Rif- 90, Solo-01, danSmn-01 dengan 4 ulangan. Untuk memperkecil bias, data diambil dari 3 tanaman contoh/perlakuan/ulangan. Penelitiandilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap I (tahun 2003) dilakukan penanaman 5 tetua sampai panen dan tahap II (tahun2004) dilakukan penanaman 10 F1 sampai panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heterosis pada F1 yangberbeda menurut uji t 5% diakibatkan oleh aksi gen dominan negatif tidak sempurna dan dominan positif tidaksempurna. Nilai heritabilitas dalam arti luas untuk karakter bobot, panjang, dan lingkar buah berturut-turut adalah0,92 g, 0,91 cm, dan 0,75 cm. Tetua Semangko-01 yang mempunyai ukuran buah tergolong besar dan Py-Rif-90dengan ukuran buah tergolong kecil dapat digunakan untuk pembentukan hibrida dengan bobot, panjang, dan lingkarbuah yang berukuran sedang (konsumsi keluarga kecil).ABSTRACT. Sukartini, T. Budiyanti, and A. Sutanto. 2009. Heterosis Effect and Heritability on Fruit SizeComponents of F1 Papaya. The objectives of this study were to determine effect of heterosis and heritability of fruitcharacters of F1 papaya. The research was conducted at Aripan Field Station of Indonesian Tropical Fruits ResearchInstitute from January 2003 until December 2004. A randomized block design was used in this research where thetreatments was the genotypes, namely Semangko-01, Mexico-01, Py-Rif- 90, Solo-01, and Smn-01, with 4 replicationsand 3 samples of papaya plant/treatment/replication. The research was done in to 2 steps: first step (2003) 5 parents wasplanted until harvest and second step (2004) 10 F1 was planted until harvest. The results showed that heterosis valuesin F1 population showed significant different at 5% level of t test due to the negative and positive partial dominancegene action. In general, heritability for weight, length, and circumference of fruit characters were 0.92, 0.91, and0.75 respectively. Parental Semangko-01 with big size of fruit and Py-Rif-90 with small size of fruit can be used togenerate hybrid with medium size of weight, length, and circumference for small family consumption.
Peranan Larutan Pengawet terhadap Mutu Bunga Potong Alpinia Selama Peragaan Amiarsi, Dwi; Utami, Pudji K
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Larutan perendam (pulsing) merupakan suatu larutan yang diberikan segera pada bunga sebelum pengiriman untuk memberi tambahan energi, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan, dan menunda kelayuan. Penelitian ini bertujuan memperoleh komposisi larutan perendam yang tepat dalam upaya memperpanjang masa kesegaran bunga potong Alpinia. Penelitian dilakukan sejak  Agustus 2005 sampai dengan Februari 2006 di Kebun Percobaan Pasarminggu, Balai Penelitian Tanaman Hias.Tiga jenis bahan pengawet digunakan dalam penelitian ini, yaitu gula pasir dengan lima taraf konsentrasi 5, 10, 15, 20, dan 25% serta AgNO3 50 ppm dan asam sitrat 50 ppm (pH 3-4) dengan lama perendaman 2 dan 10 jam. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan lima ulangan dan lima tangkai bunga potong per unit perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan perendam yang mengandung  AgNO3 50 ppm + gula 20% + asam sitrat 50 ppm (pH 3-4) dengan perendaman selama 2 jam memberikan hasil terbaik, yaitu masa kesegaran bunga potong mencapai 11,22 hari (atau 5,56 hari lebih lama dibanding tanpa perendaman) dengan persentase pembukaan braktea  sebesar 33,14%. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk merancang pengaturan suplai bunga potong ke pasar.Pulsing solution is commonly used to prolong vaselife by dipping the flower stalks in a solution containing sugars and germicides before delivering to give energy and to prevent the plugging of stalks by microbial growth, and to postpone wilting of flowers. The experiment was conducted to determine the appropriate composition of pulsing solution to prolong vaselife of Alpinia cut flowers. Three kinds of pulsing solution were tested in the experiment i.e. sucrose with concentration levels of 5, 10, 15, 20, and 25%, 50 ppm AgNO3, and 50 ppm citric acid (pH 3-4) with dipping periods of  2 and 10 hours. The experiment was arranged in a completely  randomized block design with five replications and five cut flowers stalks per treatments. The results indicated that pulsing solution containing 50 ppm AgNO3 + 20% sugar + 50 ppm citric acid (pH 3-4) with the 2 hours dipping period was the best treatment exhibited vaselife up to 11.22 days or 5.56 days longer than control, and with bud opening of 33.14%. The result implies that the such method can be exploited to arrange cut flower supply to the market.
Bioefikasi Beberapa Isolat Nematoda Entomopatogenik Steinernema spp. terhadap Spodoptera litura Fabricius pada Tanaman Cabai di Rumah Kaca Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Agustus sampai Oktober 2003. Percobaan ini bertujuan mengetahui isolat dan tingkat kepadatan populasi entomopatogen yang efektif terhadap larva Spodoptera litura pada tanaman cabai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 21 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu 5 macam isolat Steinernema spp. dari Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Masing-masing isolat dicoba dengan 4 tingkat kepadatan populasi nematoda, yaitu (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml serta kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan infektivitas antara Steinernema spp. isolat Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Isolat Lembang merupakan isolat yang paling infektif yang menyebabkan mortalitas tertinggi terhadap S. litura pada kepadatan 200, 400, dan 800 JI/ml, masing-masing sebesar 23,9, 51,1, dan 78,3% pada 120 jam setelah aplikasi dan LT50 yang terpendek yaitu 33,7565 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Bioefficacy of Some Strains of Entomopathogenic Nematode Steinernema spp. Against Spodoptera litura Fabricius on Red Chili in the Greenhouse. The objective of this research was to study the infection capacity of entomopathogenic nematodes Steinernema spp. strains Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta on Spodoptera litura on red chili in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang, Bandung District, from August-October 2003. The experiment was arranged in a randomized block design with 21 treatments and 4 replications. The treatments were 5 strains of Steinernema spp. (strain Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta) with 4 level of nematode population (200, 400, 800, 1.600 JI/ml), and control. The results showed that there were differences in the capacity of infection among the strain of Steinernema spp. tested. Strain Lembang was the most infectious, which caused the highest mortality on S. litura. Population of Steinernema spp. at 200, 400, and 800 JI/ml caused mortality of S. litura up to 23.9; 51.1; and 78.3% respectively, at 120 hours after application. The LT50 of strain Lembang was also the shortest (33.7565 hours after application).
Analisis Pola Segregasi dan Distribusi Beberapa Karakter Cabai Sofiari, Eri; Kirana, Rinda
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Capsicum chinense banyak dipakai sebagai sumber gen sifat ketahanan terhadap penyakit padaprogram pemuliaan cabai. Salah satu kelemahan penggunaan C. chinense yaitu bentuk buahnya tidak sesuai dengankeinginan konsumen. Persilangan antara C. annuum L. x C. chinense yang dilanjutkan dengan evaluasi pola segregasiketurunannya yang melibatkan generasi tetua (20 tanaman), F1 (20 tanaman), dan F2 (213 tanaman) dilakukan diRumah Kasa serta di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai Oktober 2001 sampai Juni 2003.Tujuan penelitian adalah mempelajari tipe segregasi beberapa karakter kualitatif dan kuantitatif pada populasi keturunanpersilangan antara C. annuum x C. chinense. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua karakter kualitatifyang diamati (tipe tumbuh, bentuk daun, warna daun, jumlah bunga tiap nodus, posisi tangkai bunga, sudut antara bungadan tangkai bunga, serta posisi buah) pada populasi F1 termasuk ke dalam kategori sedang/intermediate, sedangkanuntuk karakter kuantitatif seperti umur berbunga, lebar buah, dan jumlah buah per tanaman cenderung menuju kearah C. annuum, tetapi untuk panjang buah lebih cenderung ke arah C. chinense. Bobot buah per tanaman populasiF1 berada pada nilai tengah kedua tetua. Tipe segregasi karakter kualitatif F2 mendekati C. annuum, kecuali bentukbuah cenderung mendekati C. chinense. Karakter kuantitatif hasil persilangan antara C. annuum dan C. chinensediduga dikendalikan oleh gen mayor dan minor sekaligus.ABSTRACT. Sofiari, E. and R. Kirana. 2009. Analysis of the Segregation and Distribution of Some Traits inHot Pepper. Capsicum chinense was used as a diseases resistant donor traits in pepper breeding program. However,C. chinense fruit shape is not preferable for Indonesian market. The interspecific crosses between C. annuum x C.chinense and continue with segregation evaluation of parents (20 plants), F1 (20 plants), and F2 (213 plants) wereconducted at screenhouse and in the field of Indonesian Vegetable Research Institute from October 2001 to June2003. The objectives of this study were to determine the segregation and distribution of 13 progeny characters ofC. annuum and C. chinense crossing. The results showed that there was intermediate type of all F1’s qualitativecharacters (growth habit, leaf shape, leaf color, flower number per node, pedicel position at anthesis stage, tip angle,and fruit position). The quantitative characters such as flowering date, fruit width, and fruit number per plant type ofF1 tended to C. annuum type, except fruit length type of F1 tended to C. chinense type. The qualitative characterson F2 except fruit shape were segregated to C. annuum type. The quantitative characters from C. annuum and C.chinense crossing were estimated due to all at once of major and minor genes.
Karakteristik Mutu dan Ketahanan Simpan Bunga Potong Sedap Malam di Sentra Produksi Sunarmani, -; Amiarsi, Dwi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai saat ini mutu bunga sedap malam (Polianthes tuberose L.) yang diproduksi oleh petani kecil belum dapat memenuhi mutu sesuai kebutuhan pasar. Penurunan mutu bunga sedap malam diduga berkaitan dengan kurangnya keseragaman diameter tangkai bunga, bentuk tangkai bunga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai karakteristik mutu bunga potong sedap malam komersial di sentra-sentra produksi. Mutu bunga sedap malam sangat ditentukan oleh ukuran tangkai bunga dan kesegaran bunga. Penelitian dilakukan sejak bulan Juli 2006 sampai  dengan Februari 2007. Sampel bunga potong sedap malam dipanen dari daerah Cianjur (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), dan Pasuruan (Jawa Timur) masing-masing sebanyak 100 tangkai untuk diamati karakteristik fisiknya, yaitu panjang tangkai bunga, diameter bunga, panjang bunga, warna, dan kesegaran bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga potong sedap malam dari daerah Jawa Timur adalah tipe bunga tunggal dengan jumlah bunga per malai 49,1 ± 8,2, stadia kemekaran bunga 1,6±0,5, dan diameter tangkai bunga 10,8±1,5 cm. Aroma bunga sangat tajam, dengan penampilan lebih ramping dibanding bunga potong sedap malam asal Jawa Barat dan Jawa Tengah. Informasi mengenai mutu bunga potong sedap malam  sangat bermanfaat bagi pedagang atau eksportir untuk mendapatkan produk yang diinginkan pasar atau konsumen.Quality of tuberose cut flowers which are produced by small farmers until now has not enough to fulfil market demand. The decrease of tuberose cut flower quality is believed to be related to unavailability of stalk diameter and other flower characteristics. The aim of the study was to determine quality characteristics of fresh tuberose cut flowers harvested from  farmer field  in production centers. Tuberose cut flowers quality is mainly affected by the flowers size and freshness. The research was conducted from July 2006 to February 2007. Tuberose cut flower were freshly harvested at farmer  field in Cianjur (West Java), Bandungan (Central Java), and Pasuruan (East Java), 100 samples collected from each district. The cut flower samples were observed and evaluated for physical appearance i.e. length of flower stalk, diameter, color, and freshness. The results showed that the tuberose cut flower from East Java was a single type with flower number 49.1 ± 8.2, the number of opening flower 1.6 ± 0.5, stem diameter 10.8 ± 1.5 cm. The aroma of the flowers was very keen compared to slimmer appearance of delicate tuberose cut flowers from West Java and Central Java. The information of tuberose cut flowers characteristics will benefit to saler or exporters to obtain the product that demanded by market and consumers.  
Pengaruh Durasi Pemanasan terhadap Keberadaan Chrysanthemum Virus-B pada Tiga Varietas Krisan Terinfeksi Budiarto, K; Sulyo, Y; Rahardjo, B; Pramanik, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Chrysanthemum virus-B (CVB) merupakan salah satu jenis virus penting yang dapat menyebabkan degenerasi pertumbuhan pada tanaman krisan. Usaha eliminasi virus pada tanaman terinfeksi merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan kembali tanaman sehat dengan potensi genetik yang sesuai dengan varietas asalnya. Usaha eliminasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kombinasi metode pemanasan dan kultur meristem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi pemanasan terhadap kandungan partikel CVB pada plantlet 3 varietas krisan terinfeksi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan Februari hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah 3 varietas krisan yaitu Cut Nyak Dien, Sakuntala, dan Yellow Fiji. Faktor kedua adalah durasi terapi pemanasan dengan 3 taraf, yaitu 1, 2, dan 3 minggu pemanasan suhu 38-40oC. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan toleransi antarvarietas yang dicoba terhadap durasi suhu tinggi akibat perlakuan pemanasan. Pada ketiga varietas yang dicoba, jumlah plantlet hidup pascaperlakuan pemanasan menurun seiring dengan semakin lamanya durasi pemanasan. Persentase plantlet bebas virus semakin meningkat seiring dengan lamanya durasi pemanasan yang dilakukan dan perlakuan pemanasan selama 3 minggu yang diikuti kultur meristem secara efektif dapat membebaskan plantlet krisan dari infeksi CVB.ABSTRACT. Budiarto, K., Y. Sulyo, I.B. Rahardjo, and D. Pramanik. 2008. The Effect of Duration of Heat Treatment on Chrysanthemum Virus-B at Three Varieties of Infected Chrysanthemum. Chrysanthemum virus-B (CVB) is one of the important pathogenic viruses caused significant degeneration on chrysanthemum growth. Efforts have been made to get the healthy protocols by eliminating virus from the infected plants. One of the promising methods was the combination of heat treatments and meristem culture. The research was conducted to find out the influence of heat durations of meristem culture on the existence of CVB on infected chrysanthemum plants. The experiment was carried out in Tissue Culture Laboratory and Virology Laboratory of The Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February until August 2005. A randomized completely block design with 5 replications was used. The first factor was 3 chrysanthemum varieties, namely Cut Nyak Dien, Sakuntala, and Yellow Fiji. The second factor was duration of heat treatments; 1, 2, and 3 weeks heat treatments at 38-40oC. The results of the experiment showed that different responses existed among varieties to heat durations. The plantlet survival rates also decreased in line with the length of heat duration. However, the percentage of virus-free plantlets increased along with the lengthened heat treatments. Three weeks heat treatment of meristem culture, effectively eliminated CVB from infected plantlets.
Pengelompokan dan Jarak Genetik Plasma Nutfah Nenas Berdasarkan Karakter Morfologi Hadiati, Sri; Yuianti, Sri; Sukartini, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman nenas merupakan tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetatif. Secara genetik tanamannenas mempunyai keragaman yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk menentukan pengelompokan dan jarak genetikantar-aksesi nenas berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika,Solok mulai bulan Januari 2005 sampai Desember 2006. Karakterisasi dilakukan terhadap 5 tanaman contoh darisetiap aksesi nenas menggunakan pedoman karakterisasi descriptor list of pineapple (IBPGR 1991). Data hasilkarakterisasi dianalisis dengan program biodiversity profesional version 2.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwadari 83 aksesi dapat dikelompokkan menjadi 12 kelompok pada kemiripan genetik 75%. Untuk meningkatkan efisiensidan mempermudah pemeliharaan koleksi plasma nutfah, maka aksesi-aksesi yang mempunyai kemiripan genetik93,33% atau jarak genetik 0,07 dapat dipilih salah satu di antaranya untuk mewakili kelompoknya. Di samping itu,hasil penelitian juga bermanfaat untuk perakitan nenas tahan terhadap penyakit. Ananas bracteatus, A. bracteatusvariegata, dan A. lucidus dapat disilangkan dengan A. comosus.ABSTRACT. Hadiati, S., S. Yulianti, and Sukartini. 2009. Clustering and Genetic Distance of Some PineapplesGermplasm Collection Based on Morphological Characters. Pineapple is vegetatively propagated crop. However,the crop has high genetical variability. The objective of the study was clustering and determine the genetic distanceof inter-accessions of pineapples based on morphological characters. The research was conducted at the Aripan FieldStation of Indonesian Tropical Fruits Research Institute from January 2005 until December 2006. Five plants of eachpineapple accession were selected as samples for characterization using descriptor list of pineapple characterizationguidelines (IBPGR 1991). The data obtained from characterization were analyzed using profesional biodiversityprogram version 2.0. The results showed that from 83 accessions tested, 12 clusters were obtained at 75% of geneticsimilarity. For easy and efficient maintenance of germplasm collection, one of the accessions with genetic similarityof 93.33% or genetic distance of 0.07 can be choosen as a representative among the group. In addition, these resultsare useful also for pathogen resistance breeding, such as A. bracteatus, A. bracteatus variegata, and A. lucidus canbe crossed with A. comosus.
Vaksin CARNA 5 untuk Memproteksi Tanaman Krisan Varietas Reagent Orange dari Infeksi Virus Mosaik Mentimun Rahardjo, I B; Diningsih, E; Sulyo, Y
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu alternatif pengendalian CMV yang menginfeksi tanaman krisan adalah menggunakan vaksin CARNA 5. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh CARNA 5 pada umur tanaman yang berbeda untuk mengendalikan CMV pada varietas krisan Reagent Orange. Penelitian dilaksanakan di Rumahkaca dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Pacet, Cianjur, Jawa Barat, pada bulan Januari sampai Desember 2002. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan rancangan dasar acak kelompok dengan 3 ulangan. Sebagai petak utama adalah umur tanaman saat disambung, yaitu (1) 2 minggu setelah tanam (MST), (2) 4 MST, dan (3) 6 MST. Sebagai anak petak adalah perlakuan vaksin dan CMV, yaitu (1) perlakuan tanpa vaksin dan tanpa CMV, (2) perlakuan tanpa vaksin tetapi dengan CMV, (3) perlakuan dengan vaksin tetapi tanpa CMV, dan (4) perlakuan dengan vaksin + CMV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang diberi perlakuan vaksin dan tanaman kontrol tidak menunjukkan gejala mosaik. Umur tanaman krisan yang disambung 2, 4 dan 6 MST tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Tinggi tanaman, jumlah bunga, dan diameter bunga krisan Reagent Orange tidak memberikan respons yang nyata terhadap perlakuan CMV, walaupun nilai absorbansi virus pada perlakuan CMV berbeda nyata dibandingkan dengan tanpa perlakuan, perlakuan vaksin, dan perlakuan vaksin + CMV. Kualitas bunga krisan Reagent Orange pada perlakuan vaksin + CMV tidak menampakkan warna yang pecah , sedangkan perlakuan CMV menyebabkan tanaman krisan Reagent Orange menghasilkan bentuk bunga yang abnormal. Perlakuan vaksin dapat memproteksi CMV pada tanaman krisan.ABSTRACT. Rahardjo, I.B., E. Diningsih, and Y. Sulyo. 2008. CARNA 5 Vaccine to Protect Chrysanthemum Reagent Orange Variety Against Cucumber Mosaic Virus (CMV). One of the alternative to control CMV on chrysanthemum was the use of CARNA 5 vaccine. The objective of the experiment was to know the effect of application of CARNA 5 at different plant ages for controlling CMV on chrysanthemum var. Reagent Orange. The experiment was conducted in Virology Laboratory & Screenhouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute at Segunung, Pacet, Cianjur, West Jawa, from January to December 2002. RC BD Split-plot design with 3 replications was used. The main plots were graft inoculation on the plant at 2, 4, and 6 weeks after planting (WAP). The subplot was treatments of vaccine and CMV, i.e. (1) without vaccine and CMV, (2) CMV only, (3) vaccine only, and (4) vaccine + CMV. The results of the experiment showed that chrysanthemum treated with vaccine and control did not show any mosaic symptom. The graft inoculation at 2, 4, and 6 WAP did not show any significant different. Plant height, flower number, and flower diameter did not give significant response to CMV treatment, although virus absorbance value on CMV treatments was significantly different compared to control, vaccine treatment, and vaccine + CMV treatment. The quality of flower color on vaccine + CMV treatment did not show any color breaking, while on CMV treatment produced the abnormal flower form. The vaccine application was able to protect chrysanthemum plants against CMV infection.
Pengendalian Penyakit Sayuran yang Ditanam dengan Sistem Budidaya Mosaik pada Pertanian Periurban Suryaningsih, E
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Efek negatif penggunaan pestisida sintetik yang berlebihan telah banyak dideteksi, bukan hanya di daerah produksi sayuran dataran tinggi saja, tetapi juga di pertanian periurban. Agar mendapatkan alternatif metode pengendalian penyakit alternatif selain penggunaan pestisida sintetik, seperangkat percobaan lapangan telah dilakukan di kebun petani daerah periurban, di Rancaekek (elevasi 680 m dpl), Bandung, Jawa Barat, dari Januari sampai Juli 2001. Percobaan digelar menggunakan rancangan acak kelompok, diulang 6 kali. Sayuran tersebut ditanam dengan sistem budidaya mosaik di kawasan pertanian periurban. Perlakuan yang diuji adalah kurungan net plastik putih, pestisida biorasional Agonal 866 + Tigonal 866, Bacillus subtilis 108, Mancozeb 64 WP 0,2% + B. subtilis 108, dan tanpa pestisida (kontrol). Hasil penelitian memberi indikasi bahwa semua metode pengendalian yang diuji sangat efektif mengendalikan penyakit utama cabai, bawang merah, terung, buncis, dan mentimun. Penemuan ini sangat penting bahwa penggunaan pestisida sintetik yang sangat beracun di pertanian periurban, dan urban mengakibatkan senyawa beracun tersebut lebih berpeluang meracuni manusia dan lingkungan.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008. Disease Control Method for Several Vegetables Planted in Mosaic Farming System in Periurban Agriculture. The negative effects of the overuse of synthetic pesticides has been detected, not only in highland vegetable growing areas but also in periurban agriculture. In order to find out an alternative disease control method other than application of synthetic pesticide, a set of field experiment was conducted at periurban area farmer’s field in Rancaekek (elevation 680 m asl), Bandung, West Java, from January to July 2001. The experiment was laid in a randomized block design, replicated 6 times. The following treatments were employed, namely white plastic net cage, biorational pesticide Agonal 866 + Tigonal 866, Bacillus subtilis 108, Mancozeb 64 WP 0.2% + B. subtilis 108, and unsprayed (control). The results of the experiment gave positive indication that all of alternative control method were very effective to control the major disease of chili pepper, shallot, egg plant, beans, as well as cucumber planted in mosaic farming system in periurban agriculture. These findings were very important since application of poisonous synthetic pesticide in periurban, as well as in urban agriculture tend to be overused and harmfull for human being as well as environment.
Evaluasi Daya Hasil Kultivar Lokal Bawang Merah di Brebes Sofiari, Eri; Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varietas lokal bawang merah di Kabupaten Brebes telah berkembang menjadi varian-varian baruyang merupakan hasil seleksi petani. Keberadaan varian-varian varietas tersebut perlu diuji untuk mengetahuikeunggulannya. Penelitian bertujuan mendapatkan kultivar bawang merah lokal yang sesuai ditanam di Slatri,Brebes. Jumlah kultivar yang diuji sebanyak 10 buah ditambah 2 kultivar pembanding, yaitu Tanduyung dan Ilokos.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Populasi tanaman per plot terdiriatas 500 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kultivar yang sesuai di Slatri adalah kultivar KuningSidapurna dan Kuning Tablet yang memiliki potensi hasil sama baiknya dengan kultivar impor yang populer dipetani, yaitu kultivar Ilokos.ABSTRACT. Sofiari, E., Kusmana, and R.S. Basuki. 2009. Evaluation of Potential Yield of Local Varieties ofShallots at Brebes. Shallot local variety in Brebes has been developed to be more variations as a results of selectiondone by farmers. Superiority of this variances need to be evaluated. The objective of the research was to evaluate shallotcultivars which have high yielding at Slatri, Brebes. Twelve cultivars were used in this study, including 2 popularimport varieties as check, namely Tanduyung and Ilokos. Experimental design used was randomized complete blockdesign with 3 replications. Population per plot was 500 plants. The results indicated that cultivars Kuning Sidapurnaand Kuning Tablet performed high yielding at Brebes that were comparable to import variety of Ilokos

Page 17 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue