cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Koleksi dan Identifikasi Tungau Predator (Ascidae: Asca) Serta Kelimpahannya pada Ekosistem Jeruk Mandarin Affandi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tungau predator genus Asca dan kelimpahannya pada ekosistem jeruk mandarin. Survei dilakukan pada kebun jeruk mandarin di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan September 2003 sampai Juli 2004. Hasil penelitian telah berhasil mengoleksi dan mengidentifikasi 18 spesies tungau predator genus Asca dengan jumlah total 3.919 ekor. Di antara tungau predator tersebut, spesies Asca longiseta, A. labrusca, A. vulgaris, A. butuanensis, dan A. breviseta merupakan spesies yang paling berlimpah jumlahnya secara berurutan dari yang tertinggi sampai yang terendah. Habitat gulma di bawah kanopi tanaman jeruk merupakan habitat yang paling disukai oleh tungau predator genus Asca (rerata 2,33/sampel) daripada habitat kanopi tanaman jeruk (rerata 0,75/sampel) dan serasah di bawah kanopi tanaman jeruk (rerata 0,51/sampel). Di antara tanaman gulma, tungau predator genus Asca paling banyak ditemukan pada jenis gulma Chromolaena odorata dengan populasi rerata 5 tungau predator per sampel (75 g). Tungau predator cenderung migrasi ke habitat gulma saat populasi mangsa pada kanopi tanaman jeruk rendah. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui jenis-jenis tungau predator khususnya genus Asca yang berpotensi sebagai agens pengendali hayati terhadap tungau fitofag.ABSTRACT. Affandi . 2008 . Collection and Identification of Predatory Mites (Ascidae: Asca) and its Population on Mandarin Citrus Ecosystem. The objectives of the research were to find out the type of genera Asca predatory mites and its population on ecosystem of mandarin citrus. A purposive sampling survey method was conducted at a mandarin citrus orchard at Aripan Research Station of the Indonesian Tropical Fruits Research Institute, Solok, West Sumatera in the periode of September 2003 to July 2004. The results showed that there were 18 species of genera Asca predatory mites with total number of 3,919 were collected and identified. Among them, predatory mites Asca longiseta, A. labrusca, A. vulgaris, A. butuanensis, and A. breviseta were the most populous from the highest to the lowest, respectively. The most preferable habitat of genera Asca predatory mites was the weed under the canopy of citrus (average 2.33/sample), followed by the canopy of citrus (average 0.75/sample), and the plant wates under the canopy of citrus (average 0.51/sample). Among the weed, Chromolaena odorata was the most preferable habitat of genera Asca predatory mites with average population of 5 predatory mites per sample (75 g). Predatory mites tend to migrate to weed habitat when the population of prey in the canopy of citrus was low. The results of this research was useful to determine the type of predatory mites especially on genera Asca that has potential as biological control against phytophagous mites.
Eradikasi Tanaman Pisang Terinfeksi Fusarium Menggunakan Glifosat dan Minyak Tanah Hermanto, Catur; Eliza, -; Emilda, Denny
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala utama produksi pisang di dunia, karenanyapengelolaan tanaman terinfeksi menjadi isu penting dalam pengendalian penyakit. Penelitian bertujuan untukmendapatkan informasi tentang perkembangan cendawan fusarium dari jaringan terinfeksi dan mencari metodeeradikasi tanaman yang terserang penyakit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman dan KebunPercobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dari bulan Juli 2007 sampai Maret 2008, terdiri dari 3tahap kegiatan, yaitu (1) sporulasi cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cubense pada jaringan pembuluh vaskularsecara in vitro, (2) sporulasi cendawan fusarium akibat pemotongan batang semu pada tanah steril, dan (3) eradikasitanaman terinfeksi secara kimiawi. Hasil penelitian menunjukkan (a) pemotongan jaringan terinfeksi merangsangpembentukan konidiofor, sporulasi, dan produksi konidia, (b) peningkatan luas permukaan jaringan yang terinfeksipenyakit yang terbuka sampai 4,5 kali yang dapat meningkatkan produksi konidia sampai 14,83 kali, (c) fitotoksispada tanaman pisang terserang penyakit layu fusarium yang dieradikasi dengan herbisida glifosat terjadi pada 3-4hari setelah aplikasi dan mencapai nekrotik pada 14-16 hari setelah aplikasi, dan (d) injeksi 10 ml glifosat merupakanmetode eradikasi yang paling baik terhadap tanaman yang terserang penyakit layu fusarium karena mengakibatkanintensitas dan insidensi nekrosis daun, serta kematian patogen yang paling tinggi. Hasil penelitian dapat digunakansebagai dasar dalam pengelolaan tanaman pisang yang terserang penyakit layu fusarium secara tepatABSTRACT. Hermanto, C., Eliza, and D. Emilda. 2009. Eradication of Fusarium Infected Banana PlantUsing Glyphosate and Kerosene. Fusarium wilt disease is one of the major constraints of world banana production.Management of diseased plants becomes a critical issue in disease control. Research was aimed to gain information offusarium development from infected tissue and method to eradicate dying-infected plant. The research was conductedin Plant Protection Laboratory and Aripan Experimental Farm, Indonesian Tropical Fruit Research Institute from July2007 to March 2008, consisting of 3 steps, namely (1) in vitro sporulation of fusarium from dying-infected tissue,(2) study of fusarium sporulation from dying-infected tissue on sterile soil, and (3) chemical eradication of fusariumwilt dying plants. The results showed that (a) cutting of dying-infected tissue stimulated conidiophore formation,sporulation, and conidial production, (b) increase of the surface of dying-infected tissue by 4.5 times resulted inincrease of conidial production until 14.83 times, (c) phytotoxic of banana plant started appearing on 3-4 days afterapplication of glyphosate herbicide, and reached total necrotic on 14-16 days, and (d) 10 ml glyphosate injectioncaused phytotoxis on leaves, petioles, pseudostem, and fruits, resulting in the best eradication method for fusariumwilt dying plant with highest severity and incidence of leaf necrosis, and pathogen mortality. The results can be usedto properly manage fusarium wilt dying-infected banana plant.
Pengujian Kisaran Inang Nematoda Bentuk Ginjal (Rotylenchulus reniformis Linford dan Oliveira) Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rotylenchulus reniformis merupakan salah satu nematoda semiendoparasit penting yang menyerangberbagai jenis tanaman hortikultura di Indonesia. Nematoda ini dapat ditemukan di dataran rendah maupun datarantinggi di Indonesia. Salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan R. reniformis ialah melalui penerapan rotasitanaman dan sanitasi lingkungan, termasuk memusnahkan tanaman inang alternatif. Untuk itu, diperlukan pengujianstatus inang berbagai jenis tanaman dan spesies gulma terhadap R. reniformis. Penelitian dilaksanakan pada bulan April2002 sampai Januari 2003 di Rumah Kaca dan Laboratorium Nematologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung,Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur (1.100 m dpl.). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5ulangan. Sebanyak 84 jenis tanaman sayuran, tanaman hias, dan berbagai spesies gulma digunakan sebagai perlakuan.Setiap tanaman diinokulasi dengan 1.000 ekor nematoda yang merupakan campuran larva, nematoda jantan, dan betinapradewasa. Status inang ditentukan dengan kriteria faktor reproduksi R. reniformis lebih dari 1 = tanaman inang R.reniformis dan faktor reproduksi kurang dari 1 = bukan tanaman inang. Faktor reproduksi merupakan perbandinganantara populasi akhir dan populasi awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 41 jenis tanaman sayuran yangdiuji, 24 di antaranya merupakan tanaman inang R. reniformis. Cabai, wortel, dan bawang-bawangan bukan inangR. reniformis. Tujuh spesies gulma berdaun lebar dapat digolongkan sebagai inang R. reniformis. Semua gulmamonokotil yang diuji bukan inang R. reniformis. Populasi R. reniformis tidak dapat berkembang pada hibrida Tagetespatula dan T. erecta, Crotalaria usaramoensis, dan Ricinus communisABSTRACT. Marwoto, B. 2009. Study of Host Range of Reniform Nematode (Rotylenchulus reniformis Linfordand Oliveira ). Rotylenchulus reniformis is one of the most important semiendoparasitic nematode attacking differentspecies of horticultural crops and weeds in Indonesia. The nematode can be found in the lowland and highland areasin Indonesia. One of the most reliable control measures of the nematode in the field is by applying crop rotation anderadicating alternative hosts. Before applying those control measures, a research on the host status of different cropsand weed species to the nematode is necessarily to be done. This study was conducted on April 2002 to January2003 at the Greenhouse and Nematology Laboratory of The Research Institute for Ornamental Crops, Cianjur, WestJava (1,100 asl.). A completely randomized design with 5 replications was used in this study. A total of 84 speciesand varieties of vegetables, ornamental crops, and weeds were used as treatments. Every variety of the crops and theweeds were inoculated with 1,000 nematode population, comprised of larvae, male, and pre-adult female. Host statuswas determined by the following criteria reproductive factor: >1=host plant and reproductive factor; and <1=non-hostplant; where reproductive factor was ratio between initial population and final population. The results showed that ofthe 41 species and varieties of vegetable crops tested, 24 species were determined as non-host of R. reniformis. Amongthem were chili pepper, carrot, shallots, and garlic. Seven weed species were categorized as host of R. reniformis.Monocot weeds were mostly proven as non-host of R. reniformis. Population of R. reniformis could not grow onTagetes patula and T. erecta hibryds, Crotalaria usaramoensis, and Ricinus communis
Uji Efektivitas Bioinsektisida Berbahan Aktif Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin terhadap Kutudaun Macrosiphoniela sanborni pada Krisan Yusuf, Evi Silfia; Sihombing, Donald; Handayati, Wahyu; Nuryani, Waqiah; Saepuloh, -
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kutudaun Macrosiphoniela sanborni merupakan salah satu hama penting yang menimbulkan kerugian yang cukup serius pada budidaya krisan. Untuk mengendalikannya petani biasa menggunakan pestisida kimia sintetis. Selain itu pengendalian hayati berpotensi dapat menekan hama. Beauveria bassiana merupakan agens pengendali hayati  yang memiliki potensi besar untuk mengendalikan beberapa hama penting tanaman hias. Biorama 1, 2, dan 3 merupakan bioinsektisida berbahan aktif  B. bassiana dengan kepadatan1010 konidia per g bahan pembawa dengan bahan pembawa yang berbeda (tepung jagung, sekam, dan talk) yang dibuat di Laboratorium Biokontrol, Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Bioinsektisida tersebut terbukti efektif mengendalikan trips pada tanaman krisan. Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3 dalam mengendalikan kutudaun krisan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik Balithi Segunung sejak bulan Juli hingga November 2008. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Dendranthema grandiflora kultivar Sakuntala. Perlakuan yang diuji yaitu Biorama 1 (1010 konidia/g tepung jagung), Biorama 2 (1010 konidia/g arang sekam), dan  Biorama 3 (1010 konidia/g talk) masing-masing dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l, suspensi B. bassiana dengan kepadatan 1010 konidia/ml, Natural BVR adalah bioinsektisida komersial berbahan aktif B. bassiana (1010 konidia/g bahan pembawa) dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l sebagai kontrol positif dan air sebagai kontrol negatif. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3  efektif mengendalikan kutudaun M. sanborni dan efektivitasnya tidak berbeda nyata dibandingkan dengan Natural BVR dan suspensi  Beauveria. Perlakuan tersebut mampu menekan serangan M. sanborni, masing-masing dengan 68,58,  60,59, dan  54,37 % secara berurutan. Bioinsektisida memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas kutudaun. Biorama 1 dan 2 menunjukkan keefektifan yang paling tinggi  (22,30 dan 24,20%) dalam menekan kerusakan bunga  dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Implikasi dari penelitian ini ialah Biorama memiliki potensi yang besar diaplikasikan sebagai pestisida hayati ramah lingkungan pada budidaya krisan.Macrosiphoniela sanborni is one of the important pests causing serious losses on Chrysanthemum. Beauveria bassiana is a biological control agents, which has great potential to control several important pests on ornamental plants. Biorama 1, 2, and 3 are bioinsecticides containing B. bassiana as an active ingredient and made in Biological Control Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI). The bioinsecticides were successfully tested and gave significant effect on controlling Chrysanthemum thrips. The study was aimed to determine the effectiveness of Biorama 1, 2, and 3 on controlling Chrysanthemum aphids. The experiment was conducted at the Plastichouse of  IOCRI from July to November 2008. Plant material used in this study was Dendranthema grandiflora cv. Sakuntala. The treatments tested were Biorama 1 (1010 conidia/g corn powder), Biorama 2 (1010 conidia/g activated-carchoal), and  Biorama 3 (1010 conidia/g talk) respectively with a concentration of 5 g/l, B. bassiana suspension with a density of 1010 conidia/ml, Natural BVR is a bioinsecticide with active ingredient B. bassiana, which has been commercialized as positive control in concentration 5 g/l and water as negative control. The experiment was arranged by a randomized complete block design consisted of  six treatments and five replications. The results showed that Biorama 1, 2, and 3 were effective to control  M. sanborni and the results did not give significant difference compared to  Natural BVR and Beauveria suspension. They reduced Chrysanthemum aphids up to 68.58, 60.59, and 54,37% respectively. Bioinsecticide provide real impact on the mortality of aphids. The Biorama 1 and 2 indicated the highest effectiveness (22.3 and 24.2% respectively) on lowering to flower damage compared to other treatments and control. This results indicated that Biorama have high potential applied as an environmental friendly biopesticide on Chrysanthemum cultivation.
Pengawet untuk Menjaga Kualitas Bunga Potong Mawar Selama Penyimpanan Amiarsi, Dwi; Tejasarwana, Rahayu
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga mawar yang dikenal saat ini merupakan hibrida yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman selama puluhan tahun. Bunga mawar yang beredar di floris dewasa ini mempunyai variasi bentuk dan warna bunga yang menakjubkan seolah-olah tidak ada habis-habisnya kebaruannya. Varietas mawar Pergiwati dan Pergiwa merupakan salah satu produk nasional yang mempunyai warna menawan, namun sebagai bunga potong daya tahan kesegarannya masih terbatas dan perlu upaya untuk meningkatkan kesegarannya, khususnya dengan penggunaan pengawet. Keuntungan dari larutan pengawet ialah dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang kesegaran bunga potong. Penelitian dilakukan pada bulan September 2006 sampai dengan Januari 2007 di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengawet yang tepat dalam upaya mempertahankan masa kesegaran bunga mawar potong varietas baru yaitu Pergiwati dan Pergiwa. Penelitian menggunakan dua jenis larutan pengawet, yaitu 2,5% sukrose dengan dan tanpa 100 ppm asam benzoat. Suhu penyimpanan yaitu suhu ruang (27-31oC), 20-23oC, dan 5-10oC. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan 2,5% sucrose + 100 ppm asam benzoat pada bunga mawar Pergiwati mempunyai masa kesegaran bunga 28 hari bila disimpan pada suhu 5-10oC dengan persentase bunga mekar mencapai 100%. Implementasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur suplai bunga potong ke pasar.Rose flower that known this time are origin hybrids of more than 10 years of breeding process. Rose flower available on this time has attractive fine form and color as well as never ending its novelty. Rose varieties such us Pergiwati and Pergiwa generally showed short freshness as a cut flower, therefore to prolong the vaselife, a special treatment should be addressed and application of preservative has potential for this purpose. The advantages of applying preservatives are not only can keep the freshness, but also can maintain flower quality. The research was conducted at Laboratory of Physiological Product of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from September 2006 to January 2007. The research objective was to find out the proper preservative combinations to lengthen the freshness of rose cut flower of new varieties i.e. Pergiwati and Pergiwa. Two types of preservative used in the study were 2,5% sucrose with or without 100 ppm benzoic acid. Temperature ranges of flower storage tested in the experiment were 27-31oC, 20-23oC, and 5-10oC. The factorial experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that using the preservative solution containing 2.5% sucrose + 100 ppm benzoic acid for Pergiwati rose cut flower could prolong the flower freshness up to 28 days at 5-10oC storage with 100% opened-buds. The result implied that the supply of rose cut flower can be regulated through application of the preservative composition.
Pola Sebaran Vertikal Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae) pada Tanaman Paprika Prabaningrum, Laksminiwati; Moekasan, Tonny Koestoni
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian tentang pola sebaran vertikal Thrips parvispinus Karny pada tanaman paprika dilaksanakan dari bulan Maret - Desember 2003 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl). Tujuannya adalah untuk mengetahui bagian tanaman paprika yang paling disukai oleh T. parvispinus. Bagian tanaman yang diuji meliputi bunga, daun pucuk, daun atas, daun tengah, dan daun bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nimfa T. parvispinus paling banyak dijumpai pada daun atas, sedangkan imago pada daun pucuk. Dengan demikian, daun atas dan daun pucuk dapat dipilih sebagai unit contoh dalam kegiatan pengamatan trips.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2008. Vertical Distribution of Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae) on Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum). A Study on vertical distribution of T. parvispinus on sweet pepper was conducted from March to December 2003 at the Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang (1,250 m asl.). The aim of the study was to determine which part of the plant that most prefered by T. parvispinus. The plant parts tested were flower, shoot, upper leaf, middle leaf, and lower leaf. The results indicated that the highest population of nymph was found on upper leaf and the highest population of imago was found on shoot. Therefore, upper leaf and shoot can be chosen as sampling units in monitoring of thrips.
Preferensi Konsumen Hotel terhadap Bunga Potong Gerbera Nurmalinda, -; Yani, A
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerbera merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminta pasar. Dilihat dari besarnyapenjualan bunga potong gerbera di pasar bunga Rawabelong, berarti terbuka peluang bagi petani untuk meningkatkanproduksi bunga potong tersebut. Namun demikian, satu hal yang harus diperhatikan bahwa jenis bunga potonggerbera cukup banyak, sehingga perlu dipilah jenis-jenis yang paling disukai konsumen. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui preferensi konsumen hotel terhadap bunga potong gerbera. Penelitian dilakukan di hotel-hotelberbintang 4 dan 5 di wilayah DKI Jakarta, pada bulan September 2005-Februari 2006. Pemilihan hotel berbintang 4dan 5 adalah dengan pertimbangan bahwa hotel tersebut merupakan sentra kegiatan pelaku bisnis yang menggunakanrangkaian bunga segar sebagai dekorasi ruangan. Responden penelitian adalah konsumen antara, yaitu floris-florishotel yang menyediakan bunga untuk dekorasi ruangan hotel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang palingmemengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian bunga potong adalah pendidikan. Dari sisi produk, gerberayang banyak dicari konsumen adalah yang berkualitas tetapi harga tidak terlalu mahal dan diantar ke tempat olehsupplier. Promosi bunga melalui pameran merupakan salah satu kemudahan bagi responden untuk mendapatkaninformasi mengenai bunga potong umumnya dan gerbera khususnya. Selain itu, konsumen floris menyukai gerberaintroduksi yang sudah lama dikembangkan di Indonesia atau sering disebut sebagai jenis lokal, semua warna, ukuranbunga sedang, ketahanan bunga sekitar 5 hari.ABSTRACT. Nurmalinda and A. Yani. 2009. Hotel Consumer Preference on Gerbera Cut Flower. Gerberais one of cut flowers that has high market demand. High selling of gerbera cut flower in Rawabelong is a signal forfarmers to increase their production. However, it should be noted that the type of gerbera is quite a lot. Therefore,farmer should be aware of the type of gerbera mostly desired. This study was intended to examine hotel consumerpreference on gerbera cut flower. The research was carried out in 4 and 5 star hotel in Jakarta from September 2005to February 2006. Ten of 4 star hotels and 9 of 5 star hotels were selected purposively based on the potential ofbussinesmen using flower arrangement for room decoration. The florists of these hotels who provided flower forroom decoration were chosen as respondents. The results indicated that the main factor influenced the consumersto buy flower was education. In term of product, gerbera mostly demanded by consumers was of best quality, withreasonable price, and delivered by supplier. Flower exhibition provided an easy opportunity to get information oncut flowers in general and especially for gerbera. Furthermore, florist prefered gerbera that has been introduced anddeveloped in Indonesia for decades, or so called local variety of all color, medium size, 5 days vaselife.
Indeks Keberlanjutan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk Berkelanjutan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat Iswari, D; Sutjahjo, S H; Poerwanto, R
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keberlanjutan pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk Berkelanjutan (KSPJB) di Kabupaten Agam melalui 5 dimensi. Faktor dominan terhadap keberlanjutan diidentifikasi untuk memformulasikan rekomendasi kebijakan pengembangan KSPJB. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan KSPJB di Kabupaten Agam termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan (IKB) sebesar 49,56%, di antara skala keberlanjutan 0 (buruk) dan 100% (baik). Besarnya IKB masing-masing dimensi berturut-turut ialah dimensi ekologi dan sosial sebesar 51,29 dan 53,63% termasuk dalam kriteria berkelanjutan. Sedangkan dimensi ekonomi, teknologi, dan kelembagaan berturut-turut sebesar 48,82, 39,53, dan 35,21% termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan. Terdapat 14 faktor dominan/sensitif terhadap keberlanjutan KSPJB. Empat skenario perbaikan IKB dilakukan untuk memformulasi rekomendasi kebijakan pengembangan KSPJB. Rekomendasi kebijakan berdasarkan pada Skenario IV ialah skala prioritas jangka pendek melalui perbaikan dimensi kelembagaan, jangka menengah melalui perbaikan dimensi ekologi dan sosial, serta jangka panjang melalui perbaikan dimensi ekonomi dan teknologi.ABSTRACT. Iswari, D., S.H. Sutjahjo, R. Poerwanto, A.K. Seta, and A. Bey. 2008. Sustainability Index of Development of Citrus Production Center at Agam District, West Sumatera. The aim of the research was to elucidate sustainability index of citrus development at 5 dimensions. The key factors that affect sustainability were determined in order to formulate the policy recommendation for developing sustainable citrus production center. The results of the research indicated that the development of citrus production center in Agam District was determined as unsustainable. The sustainability index was 49.56%, within range of 0 (bad) to 100% (good). The sustainability index of ecology and social dimension were 51.29 and 51.63%, respectively which were determined as sustainable, while sustainability index of economic, technology, and institution dimensions were 48.02, 39.52, and 35.21% respectively which were determined as unsustainable. There were 14 important factors affected sustainability. Four scenarios were built to develop policy recommendations of sustainable development of citrus production center. The recommendation was based on scenario IV that determined as short term by improving institutions dimension, medium term by improving ecology and social dimensions, and long term by improving economic and technology dimensions.
Pengetahuan Petani dan Keefektifan Penggunaan Insektisida oleh Petani dalam Pengendalian Ulat Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah di Brebes dan Cirebon Basuki, rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan dan keefektifan penggunaan insektisidaoleh petani dalam pengendalian ulat Spodoptera exigua Hubn. pada tanaman bawang merah. Penelitian dilakukanpada bulan November 2005 menggunakan metode survei, di Kecamatan Losari dan Pabedilan, Kabupaten Cirebonserta di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Data dikumpulkan melalui teknik diskusi kelompok dan wawancaraindividual menggunakan kuesioner. Total jumlah responden yang diwawancara adalah 100 orang. Data yang terkumpuldianalisis menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama utama bagi petanidi Brebes dan Cirebon adalah S. exigua, S. mauritia, dan Liriomyza sp.. Untuk mengendalikan serangan hama S.exigua, petani di Brebes dan Cirebon mempunyai keterbatasan pengetahuan dan sumber informasi dalam memilihjenis insektisida yang efektif. Petani di Brebes dan Cirebon melakukan penyemprotan insektisida secara rutin, dengankonsentrasi formulasi 150-200% lebih tinggi dari rekomendasi dan interval penyemprotan pendek 1-2 hari sekali. Adaindikasi kuat bahwa penggunaan insektisida yang intensif oleh petani dipicu oleh kurang efektifnya jenis insektisidayang digunakan petani. Hama S. exigua di Brebes diduga telah resisten terhadap 3 dari 7 jenis insektisida (48%)yang digunakan petani, sedangkan di Cirebon telah resisten terhadap 5 dari 8 jenis insektisida (63%) yang digunakanpetani. Sebagian besar petani menggunakan insektisida campuran untuk mengendalikan hama S.exigua. Di Brebes,dari 17 petani yang menggunakan campuran 2 jenis insektisida, 8 petani (47%) menggunakan campuran yang bersifatsinergistik dan 2 petani (12%) menggunakan campuran yang bersifat antagonistik, sedangkan sisanya belum diketahui.Di Cirebon, dari 18 petani yang menggunakan campuran 2 jenis insektisida, 6 petani (33%) menggunakan campuranyang bersifat sinergistik, 5 petani (28%) menggunakan campuran yang bersifat antagonistik, dan sisanya tidak diketahui.Pengendalian hama S.exigua menggunakan insektisida yang dilakukan oleh 54% petani di Brebes dan 74% petani diCirebon masih belum efektif, dengan kerusakan tanaman oleh hama >10%. Komponen teknologi pengendalian yangdibutuhkan dan sesuai dengan kondisi petani adalah teknik memilih jenis insektisida yang efektif dan pencampuraninsektisida yang bersifat sinergistik.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Farmers’ Knowledge and the Effectiveness of Insecticide-use Practiced byFarmers to Control Spodoptera exigua on Shallots in Brebes and Cirebon. The objective of the research was tounderstand farmer’s knowledge and effectiveness of insecticides application done by farmers to control Spodopteraexigua on shallots in Brebes and Cirebon. Research was conducted in November 2005 through a survey in Losari andPabedilan Subdistricts in Cirebon District, and Wanasari Subdistrict in Brebes District. Data were collected through agroup discussion and individual interview using a questionnaire. Total respondents interviewed was 100 farmers. Datawas analyzed using descriptive statistics. The results showed that the main pest for farmers in Brebes and Cirebonwere S. exigua, S. mauritia, and Liriomyza sp.. Farmers in Brebes and Cirebon had a lack of knowledge and source ofinformation in selecting effective insecticides to control S. exigua. Farmers in Brebes and Cirebon sprayed insecticides ina routine basis, using a high concentration of formulation, 150-200% of the recommended rate, with interval of sprayingevery day or 2 days, in order to control the existing damages by S. exigua not becoming more severe. There was a strongindication that intensive application of insecticides done by farmers was triggered by ineffective insecticides selectedand used by farmers. Spodoptera exigua in Brebes was resistant to 3 from 7 types of insecticides (48%) used by farmers,whereas in Cirebon was resistant to 5 from 8 types of insecticides (63%) used by farmers. Most farmers applied a mixedinsecticides to control S.exigua. In Brebes, from 17 farmers who used a mixture of 2 insecticides, 8 farmers (47%)used a mixture with a sinergistics effect, 2 farmers (12%) used a mixture with an antagonistics effect, and the rest wasunknown. In Cirebon, from 18 farmers who used a mixture of 2 insecticides, 6 farmers (33%) used a mixture with asinergistics effect, 5 farmers (28%) used a mixture with an antagonistics effect, and the rest was unknown. Applicationof insecticides to control S. exigua done by 54% farmers in Brebes and 74% farmers in Cirebon were not effective.The plant damages by the pest still >10%. The technological components required by farmers and suitable for farmerscondition were techniques for selecting effective insecticides and mixing insecticides with sinergistics effect.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku dan Keputusan Konsumen untuk Membeli Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Adiyoga, Witono
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku dan keputusan konsumen dalam membeli kentang, bawang merah, dan cabai merah. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan April sampai dengan Juni 2007. Responden konsumen ialah 462 pengambil keputusan pembelian sayuran yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistika deskriptif, analisis faktor, dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berturut-turut 93,1 dan 80,7% responden menggunakan bawang merah dan cabai merah hampir setiap hari, sedangkan untuk komoditas kentang, 67,1% responden menyatakan mengonsumsinya 1-2 kali seminggu. Pasar tradisional merupakan pilihan terpopuler tempat pembelian sayuran, kemudian diikuti oleh supermarket, pedagang keliling, dan toko/warung. Komoditas yang menurut responden tren konsumsinya dapat meningkat antara 25-75% dalam 5 tahun ke depan secara berturut-turut ialah: kentang, bawang merah, dan cabai merah. Kentang dikategorikan ke dalam kelompok question marks karena secara relatif memiliki tren pertumbuhan tinggi dan penetrasi pasar rendah. Komoditas ini membutuhkan dukungan kapital tinggi (net cash absorber) untuk mempertahankan posisi pasarnya. Bawang merah dan cabai merah tergolong ke dalam kategori cash cows. Kedua komoditas ini berada di dalam pasar yang cenderung sudah mantap, sehingga dapat dikategorikan sebagai komoditas net cash generator. Keputusan pembelian kentang dipengaruhi oleh faktor-faktor  properti produk 1 (tidak ada tanda busuk, nilai gizi, kesegaran, dan minimal residu pestisida), properti produk 2 (aroma, warna daging, dan harga), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian bawang merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk 2 (minimal residu pestisida, tidak ada tanda busuk, kesegaran, dan penampakan visual), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian cabai merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk (warna, tidak ada tanda busuk, harga, minimal residu pestisida, dan kesegaran), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), serta persepsi kualitas produk.This study was aimed to identify factors affecting consumer behavior and purchasing decision on potatoes, shallots, and hot peppers. Consumer surveys were carried out in three big cities in Indonesia (Jakarta-DKI Jaya, Bandung-West Java, and Padang-West Sumatera) from April to June 2007. Respondents of these surveys were 462 vegetable purchasing decision makers who were randomly selected. Descriptive statistics, factor analysis and multiple regression analysis, were used for data elaboration. Results showed that 93.1 and 80.7% of respondents consume shallots and hot peppers almost everyday. Meanwhile, 67.1% of respondents consume potatoes once or twice a week. Traditional market is still the most frequently chosen place to buy vegetables, and then followed by supermarket, small vendor, and small grocery store. Crops perceived by consumers will have 25-75% increasing consumption trend in the next 5 years are consecutively potatoes, shallots, and hot peppers. Potatoes were in the  question marks category given their strong growth trend and relatively low market penetration. Potatoes require large amounts of cash (net cash absorber) to sustain their position in the market and to maintain the momentum of market growth. Shallots and hot peppers were in the cash cow category given their high market shares in low growth markets. These crops were in a mature market that requires lower cash hence they tend to be net cash generators. Factors affecting potato purchase are product property 1 (no blemishes, nutrition value, freshness, and minimum pesticide residue); product property-2 (aroma, flesh color, and price), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). Shallots purchase decision was influenced by some factors, such as product property 2 (minimum pesticide residue, no blemishes, freshness, and visual appearance), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). The decision to purchase hot peppers was affected by factors, such as product properties (color, no blemishes, price, minimum pesticide residue, and freshness), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), and product quality perception. 

Page 22 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue