cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
COST OF PRODUCTION AND FEASIBILITY STUDY OF ORGANIC SITRONELA AGRIBUSINESS Ekwasita Rini Pribadi; Agus Kardinan; Octavia Trisilawati; Molide Rizal
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 26, No 2 (2020): December, 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v26n2.2020.119-128

Abstract

The cost production and business feasibility is useful in determining the price cost, and decision making for future business development of organic citonella. The research was conducted at the PT. Pemalang Agro Wangi in Jonggol - Bogor Regency in April 2019.  Analysis of the cost of production was carried out by the full costing method. The feasibility test was carried out with several investment feasibility criteria, namely B/C ratio, NPV and IRR.Data collection was done by interviewing key informants, namely: producers and farmers of organic citronella using snowball sampling. The results showed that price cost of seeds, herbs and oil of organic  sitronela were Rp.103,00/cuttings, Rp662,00/kg and Rp205.757,00/kg. The Organic sitronela nursery and herbs were feasible, at 7% / year interest rates,  each  produced Net B/C ratio were 4,7% and NPV Rp289.386.802,00 per ha, and B/C ratio of 1.05, NPV of Rp49.024.781,00 and IRR 17,92% for eleven ha Organic citronella cultivation produced essential oil content of 0.35% to 0.7% lower than inorganic cultivation >1%, thus impact on higher cost of product. In order for the cultivation of organic citronella to develop, the selling price of oil should be more expensive than inorganic citronella oil.Keywords: Cymbopogon nardus (L.) Rendl, organic, cost price, business feasibility AbstrakANALISA BIAYA POKOK DAN KELAYAKAN AGRIBISNIS SERAI WANGI ORGANIKPerhitungan harga pokok dan kelayakan usaha sangat bermanfaat dalam menetapkan harga jual, dan pengambilan keputusan untuk pengembangan usaha serai wangi organik. Penelitian dilakukan di kebun PT. Pemalang Agro Wangi di Jonggol – Kabupaten Bogor pada bulan April 2019. Analisis harga pokok produksi dilakukan dengan metode full costing. Uji kelayakan dilakukan dengan kriteria kelayakan investasi yaitu B/C ratio, NPV dan IRR. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara kepada informan kunci yaitu: produsen serai wangi organik dan petani penggarap menggunakan metode bola salju (snowball sampling). Hasil penelitian menunjukkan usaha agribisnis serai wangi organik menghasilkan harga pokok benih, daun dan minyak masing-masing sebesar Rp103,00/stek,  Rp662,00/kg dan Rp205.757,00/kg. Usahatani benih dan daun serai wangi organik layak diusahakan, pada suku bunga 7%/tahun. Untuk usaha benih diperoleh B/C 4,7 dan NPV Rp289.386.802,00 per ha, serta untuk usaha daun diperoleh B/C 1,05, NPV Rp49.024.781,00 dan IRR 17,92 % per delapan ha. Budidaya serai wangi organik menghasilkan kadar minyak atsiri 0,35-0,7% lebih rendah dari pada budidaya anorganik (>1%), sehingga berdampak pada harga pokok produk yang lebih tinggi. Agar budidaya serai wangi organik berkembang, harga jual minyak seharusnya lebih mahal dari minyak serai wangi anorganik.Kata kunci: Cymbopogon nardus (L.) Rendl, organik, harga pokok, kelayakan usaha
Dormancy Breaking and Stimulation of Apical and Basal Sugarcane Stem to Increase Multiplication Index Dian Hapsari Ekaputri; Endah Retno Palupi; Purwono Purwono; Sri Suhesti
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n1.2021.1-11

Abstract

Sugarcane is propagated by stem cuttings, each stem consisted of 13-18 nodes. However, only 8 nodes at the middle part of the sugarcane stem are taken for cuttings/bud setts. The objective of the research was to investigate the possibility used of apical and basal stems as planting materials and to investigate dormancy breaking and stimulating bud growth methods of apical and basal stems. The research was arranged in a completely randomized design with two factors. The first factor was the position of bud setts in a stem (apical, middle, and basal). The second factor was dormancy breaking and growth-promoting solutions (IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, GA3 50 ppm, GA3 100 ppm, KNO3 3%, ZA 0.36% for 30 min. and hot water treatment (HWT) 500C for 1 and 2 hours). All the treatments were replicated three times. The result showed that soaking apical bud setts in IAA 100 ppm or water could increase 3 shooted bud setts, whereas basal bud setts soaked in KNO3 3% or water could increase 1 shooted bud setts. Soaking bud setts from the middle part of the stem in water, ZA 0.36% or KNO3 3% resulted in 6 shooted bud setts. Bud setts from apical and basal stems could be used as planting materials, which increase the multiplication index to 1:11, higher than the current procedure (1:6). Soaking into the water for 30 minutes recommended for dormancy breaking and stimulating apical and basal bud setts.Keywords: Auxin, basal, bud setts, multiplication index, nitrogen AbstrakSTUDI PEMATAHAN DORMANSI DAN PERCEPATAN PERTUNASAN RUAS BATANG ATAS DAN BAWAH TEBU UNTUK MENINGKATKAN FAKTOR PENANGKARANTebu diperbanyak menggunakan setek batang, setiap batang terdiri dari 13-18 ruas, tetapi hanya 8 ruas yang digunakan untuk setek batang satu mata/bud setts. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi potensi pemanfaatan batang atas dan batang bawah tebu sebagai sumber benih dan mendapatkan metode perlakuan benih untuk meningkatkan viabilitas benih yang berasal dari batang atas dan bawah tebu. Rancangan penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap 2 Faktor. Faktor pertama yaitu bagian batang (atas, tengah dan bawah). Faktor kedua adalah pematahan dormansi dan percepatan pertunasan dengan perendaman dalam larutan IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, GA3 50 ppm, GA3 100 ppm, KNO3 3%, ZA 0,36% selama 30 menit, hot water treatment (HWT) 500C selama 1 dan 2 jam. Semua perlakuan diulang 3 kali. Perendaman bud setts batang atas dalam larutan IAA 100 ppm atau air menghasilkan tambahan 3 bud setts, sedangkan perendaman bud setts yang berasal dari batang bawah dalam larutan KNO3 3% atau air menghasilkan tambahan 1 bud setts. Perendaman bud setts yang berasal dari batang tengah dalam air, ZA 0,36% atau KNO3 3% menghasilkan 6 bud setts. Penggunaan batang atas dan bawah sebagai bahan tanam dapat meningkatkan faktor penangkaran menjadi 1:11 (jika berdasarkan Standar Operasional Prosedur 1:6). Perendaman dengan air selama 30 menit direkomendasikan untuk pematahan dormansi dan percepatan pertunasan bud setts asal batang atas dan bawah tebu.Kata kunci : Auksin, batang bawah, bud setts, faktor penangkaran, nitrogen. 
Genetic Diversity Analysis of Kemiri Sunan Population in East Nusa Tenggara Based on RAPD Markers Izzah, Nur Kholilatul; Herman, Maman; Wardiana, Edi; Pranowo, Dibyo
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n1.2021.12-21

Abstract

Genetic diversity analysis is the first step to determine the level of genetic diversity of kemiri sunan accessions. High genetic diversity in generative propagated germplasm collection is a basic foundation to develop new high-yielding varieties. The research aimed to detect the genetic diversity of kemiri sunan population in NTT based on RAPD markers. The study was conducted at the Integrated Laboratory, Balittri, Sukabumi from May to July 2019. A total of 32 kemiri sunan accessions were obtained from a private plantation owned by PT BHLI in Bajawa, Flores, NTT analyzed its genetic diversity using 40 RAPD markers. Markers that produced polymorphic bands were scored in binary data format and were then used for genetic diversity analysis using the NTSYS program. Results showed that 11 RAPD markers were polymorphic and generated a total of 41 bands consisting of 32 polymorphic bands (78.05%) and 9 monomorphic bands (21.95%). The genetic diversity analysis with a genetic similarity value of 0.737 showed that the 32 kemiri sunan accessions were divided into 2 clusters. Among those, two accessions (T2 and T4) can be selected as candidates for new high-yielding varieties, because they are located in different groups and showed high per plant fruit number. The result of the study also obtained the genetic distance value between kemiri sunan accessions varies from 0.00 to 0.46. The combination of two kemiri sunan accessions with a high genetic distance value should be useful as parents to obtain F1 progeny with a high heterosis effect.Keywords: Accesion, genetic diversity, parental selection, RAPD marker, Reutealis trisperma (Blanco) Airy ShawAbstrakANALISIS KERAGAMAN GENETIK POPULASI KEMIRI SUNAN DI NUSA TENGGARA TIMUR BERDASARKAN MARKA RAPDAnalisis keragaman genetik merupakan langkah awal untuk mengetahui tingkat keragaman genetik dan hubungan kekerabatan dari setiap aksesi kemiri sunan. Keragaman genetik yang tinggi pada koleksi plasma nutfah yang diperbanyak secara generatif merupakan modal dasar dalam upaya untuk merakit varietas unggul baru. Penelitian bertujuan untuk mendeteksi keragaman genetik populasi kemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) di Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan marka RAPD. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu, Balittri, Sukabumi mulai bulan Mei sampai Juli 2019. Sebanyak 32 aksesi kemiri sunan yang diperoleh dari perkebunan swasta milik PT BHLI di Bajawa, Flores, NTT, dianalisis keragaman genetiknya menggunakan 40 marka RAPD. Marka yang menghasilkan pita polimorphic diskoring dalam format data biner dan digunakan untuk analisis keragaman genetik menggunakan program NTSYS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 marka RAPD bersifat polimorfik dengan jumlah pita sebanyak 41 yang terdiri dari 32 pita polimorfik (78,05%) dan 9 pita monomorfik (21,95%). Sementara, hasil analisis keragaman genetik membagi 32 aksesi kemiri sunan menjadi 2 kelompok pada nilai kesamaan genetik 0,737. Berdasarkan hasil analisis diperoleh dua aksesi kemiri sunan (T2 dan T4) yang dapat dipilih sebagai kandidat varietas unggul baru, karena terdapat pada kelompok yang berbeda dan mempunyai jumlah buah yang banyak. Dari hasil penelitian juga diperoleh nilai jarak genetik antar aksesi kemiri sunan yang bervariasi, yaitu 0,00-0,46. Kombinasi dari dua aksesi kemiri sunan dengan nilai jarak genetik yang tinggi dapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk mendapatkan keturunan F1 yang lebih unggul.Kata kunci : Aksesi, keragaman genetik, marka RAPD, Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw, seleksi tetua
POTASSIUM FERTILIZER AND YOUNG SHOOT REMOVAL OF LARGE WHITE GINGER PLANT IMPROVE RHIZOME SEEDS STORABILITY Melati Melati; Satriyas Ilyas; Endah Retno Palupi; Anas D. Susila
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 26, No 2 (2020): December, 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v26n2.2020.92-107

Abstract

The application of the appropriate potassium dosage is expected to produce high quality of rhizome seeds, hence improving its storability.Growing shoots are a strong sink. Thus, shoot removal aims to divert the photosynthate partition of shoots to the rhizome to improve rhizome development. The purpose of the research was to evaluate K dosage and young shoot removal:s effect to improve the production and quality of rhizome seeds of large white ginger. The experiment was arranged in the glasshouse in a split-plot design with four replications. The main plot was shoot removal treatments: 1) un removal, and 2) young shoots removal at six months after planting(MAP). The subplots were five doses of K; 0, 150 kg/ha, 300kg/ha, 450kg/ha, 600 kg/ha equivalent to 0, 3.75, 7.5, 11.25 and 15 g/plant respectively. The potassium fertilization was two times at 1 and 3 MAP, half dosage for each application. There was no interaction between young shoot removal and potassium dosage on the rhizome’s yield, physical, and biochemical quality. However, potassium dosage affected seed viability significantly. Potassium dosage presented a quadratic response with 7.5 g K/plant gave the best seed viability, whereas the optimum dosage for plant height was at 6.7 g K/plant. Shoot removal at 6 MAP produced seeds with enhanced storability, up to 9 months. Furthermore, it also improved seed viability as indicated by better seed growth than unremoval shoot treatment.Keywords: optimum dosage, seed quality, yield, Zingiber officinal. AbstrakPEMUPUKAN KALIUM DAN PEMBUANGAN TUNAS MUDA TANAMAN JAHE MENINGKATKAN DAYA SIMPAN BENIH JAHE PUTIH BESARPemberian pupuk K yang tepat diharapkan dapat menghasilkan benih rimpang yang bermutu tinggi karena dapat disimpan dalam jangka waktu yang panjang. Tunas yang sedang berkembang merupakan sink yang kuat. Pembuangan tunas bertujuan untuk dapat mengalihkan partisi fotosintat dari tunas ke rimpang. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K dan mengetahui pengaruh pembuangan tunas muda terhadap produksi benih dan mutu rimpang jahe putih besar (JPB) sehingga memiliki daya simpan lama. Percobaan disusun dengan rancangan petak terbagi dengan empat ulangan. Petak utama adalah pembuangan tunas yaitu: 1)tanpa pembuangan tunas, dan 2)tunas muda dibuang pada 6 bulan setelah tanam (BST). Anak petak adalah lima dosis pupuk K yang diberikan pada 30 dan 90 BST yaitu: 1) tanpa K, 2) 150 kg/ha, 300 kg/ha, 450kg/ha, 600 kg/ha. Dosis pupuk tersebut setara dengan penambahan 0; 3,75; 7,5; 11,25 dan 15 g per tanaman masing-masing 1/2 dosis pada setiap pemberian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa faktor tunggal pembuangan tunas muda pada umur 6 bulan setelah tanam (BST) dan pupuk K tidak berpengaruh terhadap produksi dan mutu fisik serta biokimia rimpang. Dosis pupuk K memengaruhi viabilitas benih yang dihasilkan. Viabilitas benih terbaik didapatkan pada penambahan pupuk K dosis 7,5 g/tanaman dengan respon kuadratik dan konsentrasi optimum untuk tinggi tanaman adalah 6,7 g/tanaman. Pembuangan tunas muda tanaman induk pada 6 BST menghasilkan benih yang dapat disimpan dalam jangka waktu 9 bulan serta viabilitas benih dengan pertumbuhan bibit yang lebih baik dibandingkan tanaman tanpa pembuangan tunas.Kata kunci: dosis optimum, mutu benih, produksi, Zingiber officinal.
The Effect of Colchicine onGenome Size and Agronomical Traits and Correlation with Sugarcane Putative Mutants Production Nurya Yuniyati; Trikoesoemaningtyas Trikoesoemaningtyas; Sri Suhesti
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n1.2021.22-33

Abstract

The mutation could improve plant genetic variability. Some putative sugarcane mutants originating from the PS 881 variety have been produced through mutation induction using colchicine. The study aimed to determine the effect of colchicine induced on genome size and agronomical traits, and its correlation with sugarcane putative mutants production. The experiment was conducted at the UPBUP of IAARD, Bogor, July 2018-April 2019. The research was carried out in an augmented design in randomized complete block design, using 35 genotypes of the first generation G0 (30 putative mutants from colchicine 0.03 and 0.05%, five check varieties). The genome size, agronomical traits, i.e. stem number, length, diameter, and weight per meter; internode number and length; brix, and production, were evaluated. This result showed that colchicine increased 5.03-13.64% genome size of putative sugarcane mutants compared to the original variety PS 881. It is significantly different for almost all of agronomical traits. The genome size was significantly correlated very positively with brix and significantly positively with stem length and diameter, and production. Path analysis showed that stem (weight per meter and length) has a direct effect on production, in contrast, genome size, stem diameter, internode number, and brix have an indirect effect through stem weight per meter to production. Indirect selection to obtain high production can be done through stem (weight per meter and length), consider for genome size, stem diameter, internode number, and brix. This is  experimental preliminary information, validation on field is needed among direct and indirect of production components to production.Keywords: agronomical traits correlation, colchicine, path analysis, sugarcane production AbstrakPENGARUH KOLKISIN TERHADAP UKURAN GENOM DAN KARAKTER AGRONOMI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKSI MUTAN PUTATIF TEBUPeningkatan keragaman genetik dapat dilakukan melalui mutasi. Sejumlah mutan putatif tebu yang berasal dari varietas PS 881 telah dihasilkan melalui induksi mutasi menggunakan kolkisin. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kolkisin terhadap ukuran genom dan karakter agronomi, serta hubungannya dengan produksi mutan putatif tebu. Percobaan dilaksanakan di Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP), Badan Litbang Pertanian, Bogor, Juli 2018-April 2019. Penelitian menggunakan rancangan augmented dalam rancangan acak kelompok lengkap, dengan 35 genotipe generasi awal G0 (30 mutan putatif tebu hasil perlakuan kolkisin 0,03 dan 0,05%, serta lima varietas pembanding). Karakter yang diamati adalah ukuran genom dan karakter agronomi (jumlah, panjang, diameter, dan bobot batang per meter; jumlah dan panjang ruas; brix; serta produksi). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kolkisin meningkatkan ukuran genom mutan putatif tebu 5,03-13,64% dibandingkan tetua PS 881 dan mengakibatkan perbedaan yang nyata pada hampir seluruh karakter agronomi. Ukuran genom berkorelasi positif sangat nyata dengan brix dan nyata dengan panjang dan diameter batang, serta produksi. Analisis lintas menunjukkan karakter bobot batang per meter dan panjang batang berpengaruh langsung pada produksi, sedangkan karakter ukuran genom, diameter batang, jumlah ruas, dan brix berpengaruh tak langsung pada produksi melalui bobot batang per meter. Seleksi tak langsung untuk mendapatkan produksi tinggi terutama melalui karakter bobot batang per meter dan panjang batang dengan mempertimbangkan karakter ukuran genom, diameter batang, jumlah ruas, dan brix. Hasil penelitian merupakan informasi awal yang memerlukan validasi hubungan pengaruh langsung dan tak langsung komponen produksi terhadap produksi di tingkat lapangan.Kata kunci : analisis lintas, kolkisin, korelasi karakter agronomi, produksi tebu 
The Effectiveness of Melaleuca bracteata Oil Formula on Trapping of Fruit Fly Pests (Bactrocera spp.) Agus Kardinan; Elna Karmawati
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n1.2021.44-50

Abstract

 Fruit flies (Bactrocera spp) can cause yield losses of 30-40% of the horticultural product and even crop failure. One way to control is to use an attractant with the active ingredient methyl eugenol. The objective of the research was to identify the catching ability and the durability of the formula on trapping fruit flies. It was conducted from October 2020 to March 2021 in orchards in the Bogor area, designed in a randomized block with 8 treatments and 3 replications. The treatments consisted of oils: (1) nutmeg, (2) cloves, (3) citronella, (4) palm, (5) melaleuca + nutmeg, (6) melaleuca + cloves, (7) melaleuca + citronella, (8 ) melaleuca + palm (1:1 ratio). As much as 1 ml of oil is dropped on a cotton swab in a trap bottle and hung on a fruit tree. Observations were made every 5 days by counting the number, type of flies, and sex of the flies trapped. It showed that nutmeg and clove oil were able to trap 5 and 7 fruit flies in the first 5 days, but subsequently no flies were trapped, while citronella and palm oil were unable to trap fruit flies. A mixture of melaleuca oil containing 84.86% methyl eugenol with nutmeg, citronella, and palm oil was able to trap fruit flies for about 3 months with a total catch of 2.479; 2.434; and 2.487, respectively, while the mixture of melaleuca+cloves was able to trap fruit flies for 4 months and was able to trap 2 female flies.Keywords:   Attractant, Bactrocera spp., Melaleuca bracteata, methyl eugenol AbstrakEfektivitas Formula Minyak Melaleuca bracteata Terhadap Daya Tangkap Hama Lalat Buah (Bactrocera spp.)Lalat buah (Bactrocera spp) dapat menimbulkan kehilangan hasil sebesar 30–40% pada produk hortikultura, bahkan gagal panen. Salah satu cara pengendaliannya adalah dengan menggunakan atraktan (pemikat) berbahan aktif metil eugenol (C11H14O2). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tangkap dan daya tahan formula dalam memerangkap hama lalat buah. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2020 sampai Maret 2021 di kebun buah-buahan (rambutan, jambu biji, dan jambu air) di Bogor, dengan rancangan acak kelompok 8 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan terdiri dari minyak : (1) pala, (2) cengkeh, (3) serai wangi, (4) sawit, (5) melaleuca + pala, (6) melaleuca + cengkeh, (7) melaleuca + serai wangi, (8) melaleuca + sawit (dengan perbandingan 1 :1).  Sebanyak 1 ml minyak diteteskan pada kapas di dalam botol perangkap dan digantungkan pada pohon. Pengamatan dilakukan setiap 5 hari terhadap jumlah, jenis dan jenis kelamin lalat yang terperangkap. Hasil menunjukkan bahwa minyak pala dan cengkeh mampu memerangkap lalat buah sebanyak 5 dan 7 ekor berturut-turut pada 5 hari pertama, namun selanjutnya tidak ada lalat yang terperangkap, sedangkan minyak serai wangi dan sawit tidak mampu memerangkap lalat buah. Campuran minyak melaleuca yang mengandung metil eugenol 84,86% dengan minyak pala, serai wangi dan sawit mampu memerangkap lalat buah selama sekitar 3 bulan dengan total tangkapan sebesar 2,479; 2,434; dan 2,487 ekor per perangkap berturut-turut, sedangkan campuran Melaleuca dengan cengkeh mampu memerangkap lalat buah selama 4 bulan dan mampu memerangkap 2 ekor lalat betina, walaupun dengan jumlah tangkapan yang lebih rendah (2,078 ekor) daripada perlakuan lain.Kata kunci : Atraktan, Bactrocera spp., Melaleuca bracteata, metil eugenol
The effectiveness of kaffir lime leaf essential oil as a fumigant for Tribolium castaneum (Herbst) Alif Khalifah; Idham Sakti Harahap; Dadang Dadang
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n2.2021.51-57

Abstract

Pests are often a problem with stored post-harvest products. One of the pests that often attack post-harvest products in storage is Tribolium castaneum (Herbst). The most common warehouse pest control effort is fumigation. Unwise and inappropriate application of fumigants can cause various negative impacts, such as pest resistance. Therefore, it is necessary to develop alternative control strategies that are more environmentally friendly through essential oils. The purpose of this study was to determine the effectiveness of kaffir lime (Citrus hystrix) essential oil as a botanical fumigant against T. castaneum that held at SEAMEO Biotrop Bogor. Kaffir lime leaf essential oil (KLLEO) is obtained by distillation. Tests in this study include the toxicity test of essential oils and essential oil fractions, resistance tests, and test the effect of essential oils on larval development. KLLEO n-hexane fraction caused high mortality of T. castaneum imago after 72 hours of fumigation. The LD95 KLLEO value in imago was 1.14 ml / l of air. MADJP also had high repellency activity against imago. The lowest dose of 0.03 ml/l air and the highest dose of 1.14 ml/l air showed a degree of 95.5 and 100% reliability, respectively, 6 hours after treatment. Chemical composition analysis using GCMS showed that citronella was the most dominant compound at 79.05%.Keywords: Citrus hystrix, fumigation, post-harvest pests AbstrakKEEFEKTIFAN MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT SEBAGAI FUMIGAN Tribolium castaneum (HERBST)Serangga hama seringkali menjadi masalah pada produk pascapanen yang disimpan. Salah satu hama yang sering menyerang produk pascapanen di gudang penyimpanan adalah Tribolium castaneum (Herbst). Upaya pengendalian hama gudang yang paling umum dilakukan adalah dengan fumigasi. Aplikasi fumigan yang tidak bijaksana dan tidak tepat dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti terjadinya resistensi hama. Oleh karena itu, perlu dikembangkan strategi pengendalian alternatif yang lebih ramah lingkungan melalui penggunaan minyak atsiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix) sebagai fumigan nabati terhadap T. castaneum yang dilaksanakan di SEAMEO Biotrop Bogor. Minyak atsiri daun jeruk purut (MADJP) diperoleh melalui distilasi. Pengujian dalam penelitian ini meliputi uji toksisitas minyak atsiri dan fraksi minyak atsiri, uji repelensi, dan uji pengaruh minyak atsiri terhadap perkembangan larva. Fraksi n-heksana MADJP menyebabkan kematian yang tinggi pada imago T. castaneum setelah 72 jam fumigasi. Nilai LD95 MADJP pada imago sebesar 1,14 ml/l udara. MADJP juga memiliki aktivitas repelensi yang tinggi terhadap imago. Dosis terendah 0,03 ml/l udara dan dosis tertinggi 1,14 ml/l udara menunjukkan derajat keandalan berturut-turut 95,5 dan 100% pada 6 jam setelah perlakuan. Analisis komposisi kimia menggunakan GCMS menunjukkan bahwa sitronela merupakan senyawa yang paling dominan sebesar 79,05%.Kata kunci : Citrus hystrix, fumigasi, hama pasca panen, sitronela
Formulation and Characterization of Nanoencapsulated-Based Eucalyptus Oil (Eucalyptus citriodora) Lozenges Hard Candy Christina Winarti; Rohula Utami; Gusmaini Gusmaini; Kendri Wahyuningsih; Cylvia Arinta Agustaningrum
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n2.2021.58-68

Abstract

Eucalyptus citriodora is one type of essential oil with many benefits including adjuvant therapy of Covid-19. One product that can be developed is hard candy. Addition of eucalyptus oil in the form of nanoencapsulates in the manufacture of hard candy can increase the functional value of the resulting product, provides a relief effect and distinctive taste when consume. The purpose of this research was to find out the physical, chemical and sensory characteristics, also to know the best formulation of hard candy lozenges. Research was conducted at Laboratory of Indonesian Center Postharvest Research and Development on October 2020 – February 2021. It used the Completely Randomized Design (CRD) with one factor and five treatments, that was the ratio of sucrose and nanoencapsulate concentrations. Formulation of hard candy were glucose 24.3%, water 18.2%, ratio of sucrose and nanoencapsulate percentage were 56:1.5; 55.5:2; 55:2.5; 54,5:3; 54:3.5. Sample repetitions were carried out three times. Collected data were analyzed by one way ANOVA. Determination of the best formula used weight score. Result showed that the best and most preferred formula was at F3 with a ratio of sucrose:nanoenkapsulat 55:2.5. This formulation has physical characteristics of total color difference 8.52; density 1.774 g/cm3. The chemical characteristics of moisture content, ash, total sugar, reducing sugar and essential oil content were 1.38%; 0.75%; 51.07%; 4.39%; and 0.31% respectively. Manufacturing eucalyptus base candy is one of diversification of essential oil for health as throat relief.Keywords: Hard candy; nanoencapsulates; eucalyptus oil; peppermint oil, lozenge  AbstrakFORMULASI DAN KARAKTERISASI HARD CANDY PELEGA TENGGOROKAN BERBASIS NANOENKAPSULAT MINYAK EUKALIPTUS (Eucalyptus citriodora)Eucalyptus citriodora merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri dengan banyak manfaat, termasuk untuk pendukung terapi Covid-19. Salah satu produk yang bisa dikembangkan adalah permen keras (hard candy). Penambahan minyak eukaliptus dalam bentuk nanoenkapsulat pada pembuatan hard candy dapat meningkatkan nilai fungsional, serta memberi efek melegakan dan cita rasa khas ketika dikonsumsi. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik fisik, kimia, sensoris, dan formulasi terbaik pada produk hard candy pelega tenggorokan dengan penambahan nanoenkapsulat minyak eukaliptus-peppermint. Penelitian dilakukan di Laboratorium BB Pascapanen pada bulan Oktober 2020–Februari 2021. Rancangan percobaan menggunakan Acak Lengkap satu faktor dengan 5 perlakuan perbandingan konsentrasi sukrosa dan nanoenkapsulat masing-masing sebesar 56:1,5; 55,5:2; 55:2,5; 54,5:3; dan 54:3,5. Pada setiap formula digunakan glukosa 24,3% dan air 18,3%. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data karakteristik fisik, kimia, dan sensoris dianalisis menggunakan ANOVA, sedangkan penentuan formulasi hard candy terbaik menggunakan metode uji pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula hard candy terbaik dan paling disukai adalah formula dengan perbandingan sukrosa:nanoenkapsulat 55:2,5. Formula ini memiliki karakteristik fisik perbedaan warna total (∆E*) 8,52 dan kerapatan 1,774 g/cm3; serta karakteristik kimia yang meliputi kadar air 1,38%; kadar abu 0,75%; kadar sukrosa 51,07%; kadar gula reduksi 4,39%; dan kadar total minyak atsiri 0,31%. Pembuatan permen berbasis eukaliptus merupakan diversifikasi minyak atsiri untuk kesehatan yang dapat membantu melegakan tenggorokan.Kata kunci : Hard candy; nanoenkapsulat; minyak eukaliptus; minyak peppermint, pelega tenggorokan 
Consumers’ Preference of Ready to Drink Coffee Food Pairing: Check-All-That-Apply (CATA) Approach Zulfa Nur Hanifa; Dase Hunaefi; Budi Nurtama
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n2.2021.69-79

Abstract

Coffee products expand at the same rate as consumer needs. Ready-to-drink (RTD) coffee is a ready-to-drink coffee beverage that is convenient to consume. RTD coffee pairs well with a variety of foods, this combination will produce a sensory trait called Food Pairing. The purpose of this study was to determine the sensory attribute characteristics of RTD coffee and its nourishments using CATA method, as well as the sensory attribute intensity change using modified RATA method. The research process was carried out by initial screening of the panelists, followed by Focus Group Discussion (FGD) to determine sensory attribute and sensory testing, which was carried out using the Home Used Test (HUT). Responses were processed using statistical software XLSTAT and generated a food pairing sensory profile of RTD coffee. The results showed that consumers like RTD coffee paired with chocolate wafer. The "Coffee-Chocolate Wafer" profile features a creamy and thick texture along with a sweet and chocolate flavor, making it near-ideal food set based on CATA result. The "Coffee- Coconut Biscuit" set's profile has a crunchy texture and a bitter from the coffee and coconut flavors. The "Coffee-Potato Chips" profile features a crisp texture, salty, umami, roasted beef flavor, and oily mouthfeel. When paired, the intensity of each attribute increases, decreases, or even persists. RTD coffee product innovation can be made by combining the attributes of coffee and chocolate wafers as the ideal and preferred pairing, resulting in RTD coffee variants with sweet, creamy, chocolate, and crunchy attributes.Keywords : RTD coffee, food pairing, CATA  AbstrakPreferensi Konsumen pada Food Pairing Kopi Ready To Drink dengan Pendekatan Check-All-That-Apply (CATA)Produk olahan kopi berkembang pesat karena menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Kopi ready to drink (RTD) adalah produk minuman kopi yang siap saji dan siap dikonsumsi sehingga dinilai lebih praktis. Kopi RTD sering dikonsumsi dengan berbagai makanan pendamping, perpaduan ini akan menghasilkan sifat sensori jika dikonsumsi secara bersamaan, yang disebut dengan Food Pairing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik atribut sensori dari perpaduan kopi RTD dengan makanan pendampingnya dengan metode CATA, serta perubahan intensitas atribut sensori dengan modifikasi metode RATA. Penelitian ini dilakukan dengan screening awal panelis, Focus Group Discussion (FGD) untuk menentukan atribut sensori, dan pengujian sensori yang dilakukan secara Home Used Test (HUT). Respon yang didapatkan diolah menggunakan software XLSTAT dan menghasilkan profil sensori food pairing kopi RTD. Hasil pengujian menunjukkan konsumen menyukai kopi RTD yang dipasangkan dengan wafer cokelat. Profil pasangan “Kopi-Wafer Cokelat” memiliki tekstur creamy, thick, rasa sweet, dan cokelat sehingga mendekati pasangan ideal berdasarkan hasil CATA. Profil pasangan “Kopi-Biskuit Kelapa” memiliki tekstur crunchy, rasa pahit dari kopi, coffee flavor, dan coconut flavor. Profil pasangan “Kopi-Keripik kentang” memiliki tekstur crispyness, rasa salty, umami, roasted beef, dan mouthfeel oily. Intensitas setiap atribut akan mengalami perubahan yaitu meningkat, tetap, atau menurun saat dipasangkan. Inovasi produk kopi RTD dapat dilakukan dengan menggabungkan atribut wafer kopi dan cokelat sebagai pasangan ideal dan disukai, sehingga menghasilkan varian kopi RTD dengan atribut sweet, creamy, chocolate, dan crunchy.Kata kunci : kopi RTD, food pairing, CATA 
The Effect of Drying and Roasting to Quality of Robusta Coffee in Kepahiang Taufik Hidayat; Siti Rosmanah; Taupik Rahman; Lina Ivanti; Wilda Mikasari; Shannora Yuliasari; Hendri Suyanto; Darkam Musaddad
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n2.2021.80-89

Abstract

Coffee is a superior regional commodity in Bengkulu Province, but post-harvest processing of coffee at the farmer level is still traditional. Coffee farmers in Kepahiang Regency harvest rainbow cherry picks and use dry coffee processing, which reduces product quality. This study aims to study the effect of drying techniques and roasting temperature on the quality of Kepahiang robusta coffee powder and local consumer preferences. The study was conducted in Sidorejo Village, Kabawetan District, Kepahiang Regency, from June 2019 to December 2019. The study used a Randomized Block Design (RAK) with two treatments, namely drying technique treatment with two levels (with and without solar dryer) and roasting treatment with three levels of roasting temperature (light, medium and dark), in total, six treatment combinations with four replications. The quality parameters of ground coffee observed included water content, ash content, coffee extract, ash alkalinity and caffeine content based on SNI 01-3542-2004 regarding ground coffee. Organoleptic tests (aroma, colour, taste, texture, and overall appearance) involved 30 [Br1] semi-trained panellists. The results showed that ground coffee produced from the P1S3 treatment combination had the water content, ash content, coffee extract and ash alkalinity that met the SNI 01-3542-2004 standard with the lowest caffeine content compared to other treatments. The P2S2 treatment is the most preferred ground coffee by the panellists.Keywords:   Robusta coffee, drying, roasting, quality, preferenceAbstrakPENGARUH CARA PENGERINGAN DAN SUHU PENYANGRAIAN TERHADAP KUALITAS BUBUK KOPI ROBUSTA KEPAHIANGKopi merupakan komoditas unggulan daerah di Provinsi Bengkulu, namun pengolahan pascapanen kopi di tingkat petani masih tradisional. Petani kopi di Kabupaten Kepahiang melakukan panen petik pelangi dan pengolahan kopi secara kering yang mengurangi kualitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh teknik pengeringan dan suhu penyangraian terhadap kualitas bubuk kopi robusta Kepahiang dan preferensi konsumen setempat. Penelitian dilakukan di Desa Sidorejo, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang dari bulan Juni 2019 sampai dengan Desember 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua perlakuan, yaitu perlakuan teknik pengeringan dengan dua taraf (dengan dan tanpa solar dryer), dan perlakuan penyangraian dengan tiga taraf suhu penyangraian (light, medium dan dark), sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan dengan empat ulangan. Parameter mutu kopi bubuk yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, sari kopi, kealkalian abu dan kadar kafein berdasarkan SNI 01-3542-2004 mengenai kopi bubuk. Uji organoleptik (aroma, warna, rasa, tekstur, dan tampilan keseluruhan) dilakukan dengan melibatkan 30 orang panelis[Br1]  semi terlatih. Hasil penelitian menunjukkan kopi bubuk yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan pengeringan dengan solar dryer dan suhu penyangraian 200-205oC (P1S3) memiliki kadar air, kadar abu, sari kopi dan kealkalian abu memenuhi standar SNI 01-3542-2004 dengan kadar kafein terendah dibanding perlakuan lain. Perlakuan pengeringan tanpa solar dryer dan suhu penyangraian (P2S2) merupakan kopi bubuk yang paling disukai oleh panelisKata kunci : Kopi robusta, pengeringan, penyangraian, mutu, preferensi

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue