cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal" : 128 Documents clear
Pengaruh Kekakuan Sambungan pada Rangka Jembatan Baja terhadap Gaya Dalam, Deformasi, dan Tegangan Elemen Batang Akhmad Reza Irhamy; Wisnumurti; Devi Nuralinah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sambungan pelat buhul pada rangka jembatan baja yang diatur dalam pedoman Bina Marga selalu dianggap sebagai sambungan sendi-sendi. Padahal pelat buhul tersebut memiliki kekakuan dan disambung dengan banyak baut. Oleh karena itu, tentunya terdapat perbedaan analisis gaya dalam, deformasi, dan tegangan apabila menganggap sambungan rangka jembatan berupa sambungan sendi dan jepit. Penelitian ini menggunakan model jembatan rangka baja kelas A bentang 40 m dari Bina Marga 2005 dan dibantu dengan Analisis pemodelan dibantu dengan software SAP2000 Trial Version yang terdapat fitur Partial Releases/ Partial Fixity untuk mendefinisikan kekakuan sambungan sendi dan jepit pada pemodelan rangka jembatan baja. Adapun hasil analisis yang ingin diperoleh adalah perbandingan gaya dalam, deformasi, dan tegangan kedua pemodelan. Selain itu, dilakukan pula pembuktian klasifikasi pelat buhul sebagai sambungan sendi menggunakan lebar efektif Whitmore dan perhitungan tegangan yang terjadi pada pelat buhul. Hasil penelitian diperoleh nilai gaya aksial batang yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami penurunan rasio 0,105% untuk gaya tarik maksimum dan 0,112% untuk gaya tekan maksimum apabila dimodelkan sebagai sambungan jepit. Deformasi maksimum yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami penurunan rasio 0,291% apabila dimodelkan dengan sambungan jepit. Sebaliknya, nilai tegangan yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami peningkatan rasio 11,8% terhadap nilai keamanan apabila dimodelkan dengan sambungan jepit. Selain itu, Rasio indeks kekakuan lentur pelat buhul terhadap batang yang disambungan dengan lebar efektif Whitmore hanya sebesar 0,404% sehingga masih termasuk klasifikasi sambungan sendi. Adapun tegangan yang terjadi sisi pelat buhul adalah 24,933 MPa untuk tegangan tekan dan 23,504 MPa untuk tegangan tarik. Kata kunci: deformasi, gaya dalam Jembatan rangka baja, kekakuan sambungan, tegangan
ANALISIS PENGARUH KECEPATAN KENDARAAN TERHADAP FAKTOR BEBAN DINAMIS (FBD) PADA STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA Lalita Nurul Azizah; Agoes Soehardjono Moesono Djojoatmodjo; Wisnumurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan menerima beban dinamis dari lalu lintas kendaraan yang melintasinya. Beban dinamis dari kendaraan tersebut akan memberikan efek amplifikasi atau perbesaran beban pada struktur jembatan. Berdasarkan SNI 1725:2016, beban lalu lintas kendaraan didesain sebagai beban statis. Untuk memenuhi nilai amplifikasi tersebut, maka ditetapkan Faktor Beban Dinamis (FBD) berkisar 30% - 40% dan hanya ditinjau terhadap bentang jembatan. Oleh karena itu, dilakukan pemodelan struktur jembatan rangka baja untuk menganalisis pengaruh kecepatan kendaraan terhadap FBD. Hasil analisis didapatkan dari perbandingan respon akibat gaya aksial tekan, gaya aksial tarik, dan lendutan antara beban kendaraan dinamis dengan beban kendaraan statis pada gelagar induk. Berdasarkan hasil analisis hubungan FBD dengan kecepatan kendaraan didapatkan nilai terbesar yaitu akibat respon gaya aksial tekan dengan nilai FBD direntang 2.5% - 4%. Persamaan regresi untuk hubungan FBD dengan kecepatan yaitu FBD = 0.0136 v 0.210, dengan syarat tipe jembatan rangka baja bentang 40 m. Berdasarkan SNI 1725:2016 pengaruh terbesar untuk FBD adalah bentang jembatan, maka dibuat persamaan regresi hubungan FBD dengan kecepatan kendaraan serta bentang jembatan dan didapatkan, FBD = 0.48 L -0277 v 0.210. Kata kunci: beban lalu lintas, beban dinamis, Faktor Beban Dinamis (FBD), jembatan rangka baja
ANALISIS PENGARUH BEBAN KENDARAAN TERHADAP FAKTOR BEBAN DINAMIS (FBD) PADA STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA Badruz Zamanul Mughni; Wisnumurti; Agoes Soehardjono Moesono Djojoatmodjo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan menerima beban dinamis akibat beban lalu lintas di atasnya. Beban dinamis akan memberikan efek amplifikasi pada beban lalu lintas jembatan. Pada SNI 1725:2016, terdapat Faktor Beban Dinamis (FBD) yang bernilai antara 30% sampai 40% untuk memperhitungkan efek tersebut. Namun FBD pada SNI hanya diperhitungkan berdasarkan bentang jembatan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis untuk mengetahui pengaruh aspek lain yang mempengaruhi nilai FBD, salah satunya adalah beban kendaraan. Analisis dilakukan pada struktur jembatan rangka baja dengan bentang 40 meter. Kendaraan yang digunakan sesuai dengan model truk pada SNI 1725:2016 dengan berat antara 100 sampai 500 kN. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan respon statis dan respon dinamis pada rangka induk jembatan. Dari analisis didapatkan bahwa pengaruh beban kendaraan terhadap FBD sangat kecil. Namun bisa didapatkan bahwa semakin besar beban kendaraan, nilai FBD akan semakin kecil. Dari hasil analisis didapatkan persamaan regresi hubungan beban kendaraan dengan FBD yaitu FBD = 0,0039 W-0,033, dengan syarat bentang jembatan yang digunakan adalah jembatan rangka baja dengan bentang 40 meter. Dari persamaan tersebut bisa dijabarkan kembali persamaan regresi hubungan antara FBD dengan bentang jembatan dan beban kendaraan, yaitu FBD = 1,32 L-0.277 W-0,033. Kata Kunci: beban dinamis, beban lalu lintas, Faktor Beban Dinamis (FBD), jembatan rangka baja.
ANALISIS STABILITAS LERENG DENGAN PERKUATAN SOIL NAILING STUDI KASUS LERENG DESA DADAPREJO Putra, Arba Ardana; Yulvi Zaika; As'ad Munawir
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada Agustus 2020 lereng Desa Dadaprejo mengalami kelongsoran sehingga membahayakan bangunan yang berada di bagian atas lereng. Kondisi lereng di Desa Dadaprejo yang curam menyebabkan lereng tersebut berpotensi mengalami kelongsoran kembal sehingga dibutuhkan perkuatan lereng. Perkuatan yang digunakan dalam analisis ini adalah perkuatan soil nailing. Data-data yang digunakan merupakan data primer seperti parameter tanah yang diperoleh dari pengujian yang dilakukan di Laboratorium Universitas Brawijaya. Hasil analisis stabilitas lereng eksisting menunjukkan nilai FS sebesar 1,102. Karena nilai FS < 1,2 maka lereng tersebut dikatagorikan tidak aman. Dari hasil analisis stabilitas lereng eksisting menggunakan aplikasi Slope/W, didapatkan nilai FS sebesar 1,298. Karena nilai FS > 1,2 maka lereng tersebut dikatagorikan dalam kondisi aman. Dari hasil analisis stabilitas lereng eksisting menggunakan aplikasi Plaxis 8.6, di dapatkan nilai FS sebesar 1,220. Karena FS < 1,2 maka lereng tersebut dikatagorikan aman. Analisis yang menggunakan variasi besar dan jarak pembebanan menunjukkan bahwa semakin besar pembebanan maka semakin kecil nilai FS. Analisis yang menggunakan variasi jarak menunjukkan bahwa semakin jauh jarak posisi pembebanan dari tepi lereng, semakin kecil nilai FS. Lereng eksisting tidak mampu menahan beban yang diberikan dengan software plaxis di berbagai variasi jarak pembebanan (FS<1,2). Pada Slope/W lereng mampu menahan beban hingga 20kN/m2 di berbagai jarak pembebanan. Lereng dengan perkuatan soil nailing mampu menahan beban hingga 100kN/m2 dengan software plaxis di berbagai variasi jarak pembebanan. Pada Slope/W lereng mampu menahan beban hingga 60kN/m2 di berbagai jarak pembebanan. Kata Kunci: Stabilitas, Lereng, Angka Keamanan, Soil Nailing, Longsor
Pengaruh Pembebanan Lateral terhadap Deformasi Lateral Susunan Panel Beton Agregat Kasar Limbah Batu Onyx dengan Sambungan Baut -, M. Ahmes Avisiena Helvin; Agoes Soehardjono M. DJ.; Edhi Wahjuni S.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Panel beton merupakan produk dari pengembangan beton pracetak yang dapat digunakan untuk pembuatan dinding. Perkembangan ini dimulai dari inovasi para desainer bangunan yang mencari solusi untuk permasalahan bangunan sebelumnya. Untuk memastikan bahwa komponen struktur menunjukkan perilaku struktural yang baik, perlu diperhatikan retakan yang timbul saat struktur dikenai beban kerja. Penyusutan dan kekuatan tarik yang rendah dapat menjadi penyebab terjadinya retakan, sehingga di rancanglah susunan dinding panel beton dengan agregat kasar batu onyx yang dihubungkan menggunakan sambungan baut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi baut dan dampak deformasi lateral yang ditimbulkan oleh variasi sambungan baut A307 pada panel beton onyx. Penelitian dilaksanakan dengan perancangan panel beton berukuran 80 cm x 40 cm x 6 cm. Diameter variasi sambungan baut yang digunakan adalah 6 mm, 8 mm, dan 10 mm dengan plat baja BJ-37 berketebalan 3 mm.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan diameter sambungan baut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap deformasi lateral pada panel beton dengan agregat limbah batu onyx. Pada panel beton dengan sambungan baut berdiameter 6 mm, tercapai beban maksimum rata-rata 1233.33333 kg dengan deformasi lateral rata-rata 8.15667 mm. Pada sambungan baut berdiameter 8 mm, terdapat beban maksimum rata-rata 1233.3333 kg dengan deformasi lateral rata-rata 9.17 mm. Sedangkan pada sambungan baut berdiameter 10 mm, beban maksimum rata-rata yang tercapai adalah 1100 kg dengan deformasi lateral rata-rata 8.863333 mm. Kata kunci : panel dinding beton onyx, pola retak dan lebar retak, sambungan baut
Analisis Perilaku Lentur Pelat Beton Bertulang Satu Arah dengan Variasi Rasio Tulangan Menggunakan Metode Elemen Hingga Anafebri Prameswari; Bhondana Bayu Brahmana Kridaningrat; Desy Setyowulan
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan merupakan salah satu infrastruktur penghubung antar wilayah yang perlu ditingkatkan pembangunannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam percepatan pembangunan adalah penerapan teknologi material precast dan pemanfaatan software analisis. Dalam sistem precast pada konstruksi jembatan, yang dapat direncakan adalah bagian pelat beton bertulang satu arah. Pelat merupakan komponen struktur yang pertama kali menerima beban mati maupun beban hidup. Penambahan tulangan baja di dalam pelat dapat meningkatkan kemampuan pelat untuk menahan momen lentur dan beban-beban yang diterapkan, dimana hal ini akan berpengaruh juga pada besarnya rasio tulangan yang harus direncanakan dengan tepat agar mampu mendukung kekuatan struktur. Pada penelitian ini, analisis perilaku lentur dilakukan menggunakan bantuan software ABAQUS untuk mengetahui kapasitas beban, lendutan, tegangan, dan regangan maksimum. Spesimen uji dimodelkan seperti kondisi pada laboratorium karena perlu dilakukan validasi hasil antara hasil analisis dengan hasil pengujian. Model spesimen uji terdiri dari tiga variasi berdasarkan rasio tulangannya, yaitu spesimen uji ρ-2,3%, ρ-2,0%, dan ρ-1,7%. Data input material disesuaikan dengan data hasil laboratorium. Data hasil uji tekan diolah menjadi data Concrete Damage Plasticity (CDP) dan data hasil uji tarik baja diolah menjadi True Stress-Plastic Strain. Hasil analisis melalui software ABAQUS menunjukkan bahwa rasio tulangan berpengaruh terhadap besarnya kapasitas beban lentur. Semakin besar rasio tulangan, maka semakin besar beban maksimum pelat. Pada analisis lendutan, dengan beban yang sama besarnya rasio tulangan berbanding terbalik dengan nilai lendutan. Sedangkan pada analisis tegangan dan regangan dengan besar beban yang sama, menunjukkan bahwa semakin besar rasio tulangan, semakin kecil kapasitas tegangan dan regangannya. Hasil analisis ABAQUS yang dibandingkan dengan pengujian laboratorium tidak mampu menghasilkan nilai kapasitas yang sama, namun perilaku yang dihasilkan baik hubungan beban-lendutan maupun tegangan-regangan mengindikasikan pola perilaku yang serupa. Kata kunci : Rasio Tulangan, Beban Lentur, Lendutan, Tegangan-Regangan Aksial, ABAQUS.
Evaluasi Perpanjangan Runway pada Bandar Udara Kalimarau Berau Kalimantan Timur Eko Nur Prastyo; Lasmini Ambarwati; Hendi Bowoputro
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bandar Udara Kalimarau berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Saat ini melayani maskapai penerbangan Susi Air, Citilink, Wings Air, dan Batik Air yang dimana jenis pesawat yang digunakan adalah Grand Caravan, ATR 72-600, dan Airbus A320-200 dengan fasilitas udara runway panjang 2.250 meter, lebar 45 meter, dan lebar 52 cm. Tujuan dari penelitian mengetahui berapa panjang dan tebal runway yang dibutuhkan agar dapat digunakan oleh pesawat Airbus A320-200 dan Boeing 737-800NG secara 100% dengan aman pada Bandar Udara Kalimarau. Pada evaluasi perencanaan runway menggunakan metode Federal Aviation Administration (FAA) dan International Civil Aviation Organization (ICAO) yang dilaksanakan dengan perhitungan manual dan aplikasi FAARFIELD dan sehubungan dengan perhitungan PCN dan ACN mempergunakan aplikasi COMFAA. Dari hasil perhitungan untuk kebutuhan panjang diperlukan sebesar 2650 meter. Sedangkan ketebalan yang dibutuhkan sebesar 81,28 cm. Lapisan permukaan (surface) 10,16 cm, lapisan pondasi atas (base) 43,18 cm, lapisan pondasi bawah (subbase) 27,94 cm. Untuk nilai PCN yang didapatkan lebih besar besar dibanding nilai ACN yang dimana nilia PCN sebesar 54,3 dan nilai ACN sebesar 47. Kata kunci: Runway, Bandar Udara Kalimarau, Pesawat
Perilaku Pola Retak dan Lebar Retak Maksimum pada Pelat Perkerasan Kaku dengan Variasi Nilai CBR Duta Ariza Pratama Putra; Agoes Soehardjono Moesono Djojoatmodjo; Roland Martin Simatupang
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini banyak penggunaan jalan tipe perkerasan kaku sebagai pilihan di Indonesia. Pelaksanaan perkerasan kaku kerap dilakukan secara padat karya terutama pada daerah pedesaan. Alhasil aspek pelaksanaanya tidak memenuhi standar sehingga pemadatan tanah subgrade tidak maksimal yang mengakibatkan variasi nilai CBR subgrade. Selain itu, sering kali terjadi overloading pada musim panen akibat jalan yang ramai dilalui kendaraan pengangkut hasil panen. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut, perkerasan kaku dapat mengalami kerusakan seperti keretakan. Penelitian ini menggunakan spesimen pelat dengan mutu beton 35 MPa dan variasi nilai CBR subgrade sebesar 5,77% ; 8,12% ; 12,83%. Pada penelitian ini, nilai CBR subgrade mempengaruhi terhadap lebar retak pelat perkerasan kaku. Pada pembebanan 200 kN, lebar retak maksimum terjadi pada spesimen CBR 5,77% sebesar 0,4617 mm yang berada di daerah as, disusul spesimen CBR 8,12% sebesar 0,3478 mm, dan spesimen CBR 12,83% sebesar 0,1329 mm. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai CBR maka lebar retak yang terjadi akan semakin kecil. Pada setiap spesimen dengan variasi CBR subgrade, muncul tiga garis retakan. Rata-rata jarak antar retak untuk setiap variasi spesimen sebesar 180 mm. Garis retak yang paling panjang pada setiap variasi spesimen berada di daerah as. Kata kunci : Beam on Elastic Fondation, CBR subgrade, Lebar Retak Pelat, Perkerasan Kaku, Pola Retak Pelat.
Perilaku Pola Retak dan Lebar Retak Maksimum pada Pelat Perkerasan Kaku dengan Variasi Mutu Beton Indra Wahyu Prasetyo; Agoes Soehardjono Moesono Djojoatmodjo; Roland Martin Simatupang
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini sudah banyak infrastruktur jalan pada wilayah perkotaan maupun pedesaan di seluruh Indonesia yang menggunakan jenis perkerasan kaku (rigid pavement). Namun, seringkali proses pelaksanaan konstruksi perkerasan kaku tidak sesuai dengan standar yang berlaku, terutama di wilayah pedesaan dimana pelaksanaanya masih menggunakan metode padat karya. Sehingga untuk mencapai kekuatan struktur yang direncanakan akan sulit tercapai. Ditambah dengan adanya overloading yang terjadi saat musim menyebabkan kerusakan pada struktur perkerasan seperti retak. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian mengenai pola retak dan lebar retak maksimum pada pelat perkerasan kaku dengan variasi mutu beton. Penelitian ini menggunakan variasi mutu beton 9.13 MPa, 20.23 MPa, dan 35.06 MPa pada CBR 12.83%. Berdasarkan hasil eksperimen, mutu beton berpengaruh terhadap pola retak dan lebar retak maksimum pelat perkerasan kaku. Ditinjau pada beban 200 kN, variasi mutu beton 9.13 MPa, 20.23 MPa, dan 35.06 MPa menghasilkan lebar retak maksimum eksperimen berturut-turut sebesar 0.3883 mm, 0.3069 mm, dan 0.1329 mm. Selain itu, jumlah retakan yang terjadi berturut-turut sebanyak 6 retakan, 5 retakan dan 3 retakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi mutu beton maka lebar retak maksimum akan semakin kecil dan jumlah retakan yang terjadi juga akan semakin sedikit. Kata kunci: BoEF (Beam on Elastic Foundation), lebar retak maksimum pelat, mutu beton, perkerasan kaku, pola retak pelat
Studi Analisis Hubungan Momen-Kurvatur Kolom akibat Pengaruh Perbedaan Beban Gempa Rencana Menurut SNI 1726:2002 dan SNI 1726:2019 Studi Kasus Gedung Ibu dan Anak RSUP Sardjito Yoyakarta Muhammad Hasby; Retno Anggraini; Ari Wibowo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2024): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik bumi yang utama dan aktif bergerak, menjadikan Indonesia sebagai daerah rawan mengalami gempa serta bencana lainnya, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam kontruksi gedung bertingkat. Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai peraturan mendasar mengalami perubahan untuk mengadaptasi ilmu baru yang dibutuhkan untuk meningkatkan faktor keamanan bangunan akan resiko terhadap gempa bumi yang tertuang pada SNI lama yaitu SNI 1726:2002 yang telah tergantikan dengan SNI 1726:2019. Struktur kolom ialah elemen utama karena bertindak sebagai penopang beban aksial tekan vertikal sehingga apabila terjadi kegagalan maka bangunan akan runtuh. Penelitian ini meninjau gedung eksisting yang diberikan gempa berdasarkan kedua SNI. Kondisi yang ditinjau merupakan kondisi sebelum retak, leleh, dan kondisi ultimate. Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan pada respon spetrum yang dihasilkan oleh SNI 1726:2002 dan SNI 1726:2019 sehingga menghasilkan perubahan pada gaya-gaya dalam yang dihasilkan sehingga membuat kebutuhan rasio tulangan yang berbeda dan hubungan momen-kurvatur yang dihasilkan juga berbeda Kata Kunci : Respon Spektrum gempa, SNI 1726, Momen-Kurvatur, Kolom

Page 1 of 13 | Total Record : 128