cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
DOMINASI PENCAHAYAAN ALAMI SEBAGAI DASAR RANCANGAN GALERI KERAJINAN KALIMANTAN TIMUR DI SAMARINDA Nirmala Ashita; Jusuf Thojib; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.904 KB)

Abstract

Kalimantan Timur memiliki beragam kerajinan yang terbuat dari bahan-bahan alam seperti kayu, rotan, dedaunan, manik-manik, bebatuan, dan tanah liat. Beragam kerajinan tersebut dapat dijadikan potensi bagi Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda yang merupakan ibukota dari Provinsi Kalimantan Timur untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung serta mengenal kebudayaan Kalimantan Timur. Oleh sebab itu dibutuhkanlah suatu wadah untuk memamerkan benda-benda kerajinan tersebut, yaitu galeri kerajinan. Salah satu faktor penting pada sebuah galeri adalah faktor pencahayaan, karena aktivitas utama dari sebuah galeri adalah melihat benda kerajinan, maka diperlukanlah suatu pencahayaan alami yang dapat memenuhi aktivitas utama tersebut. Fungsi pencahayaan task lighting merupakan fungsi pencahayaan yang dapat memenuhi aktivitas melihat pada galeri karena fugsi pencahayaan tersebut adalah untuk menerangi objek pamer (benda kerajinan) sehingga pengunjung dapat melihat benda kerajinan yang dipamerkan dengan baik. Kota Samarinda terletak di titik koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BT - 141°45'BT memiliki iklim tropis dengan energi panas bumi yang besar yang dapat dimanfaatkan sehingga pemakaian energi listrik yang pada akhirnya menyumbangkan CO2 dan menyebabkan efek rumah kaca dapat berkurang. Oleh sebab itu pencahayaan pada galeri kerajinan, khususnya ruang pameran, menggunakan pencahayaan alami sebagai sumber penerangannya.Kata kunci: galeri kerajinan, kerajinan Kalimantan Timur, pencahayaan alami
TATA LETAK RUANG HUNIAN-USAHA PADA RUMAH LAMA MILIK PENGUSAHA BATIK KALANGBRET TULUNGAGUNG Rizky Amelia; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.725 KB)

Abstract

Desa Kalangbret merupakan salah satu sentra industri batik tertua di Kecamatan Tulungagung. Pada kawasan ini terdapat rumah-rumah lama berusia lebih dari 50 tahun milik pengusaha/ juragan Batik Kalangbret yang dulu berfungsi sebagai hunian-usaha. Industri Batik Kalangbret yang mengalami kemunduran pada tahun 1970-an menyebabkan rumah-rumah lama tersebut berubah menjadi fungsi hunian saja. Setiap rumah memiliki kelengkapan dan tata letak ruang yang berbeda-beda. Ruang-ruang usaha tersebut pada beberapa rumah masih dipertahankan namun telah mengalami perubahan fungsi. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tata letak ruang hunian-usaha pada rumah lama milik pengusaha Batik Kalangbret dan faktor yang membentuk tata letak ruang tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan memaparkan hasil pengamatan di lapangan untuk kemudian dianalisis berdasarkan variabel-variabel yang telah dipilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi jenis dan fungsi ruang usaha yang dimiliki terdapat tiga tingkat kelengkapan ruang, lalu terdapat delapan macam pola tata letak yang terbagi dalam tiga tipe, yaitu tipe ruang usaha berada di dalam bangunan utama, tipe ruang usaha berada di dalam skala tapak (halaman rumah) dan tipe ruang usaha yang berada terpisah di luar tapak. Faktor-faktor yang membentuk tata letak ruang tersebut adalah faktor ekonomi, faktor sosial, dan sistem kepemilikan usaha.Kata kunci: tata letak ruang, rumah hunian-usaha, rumah lama
KARAKTER WARNA BATIK MALANGAN SEBAGAI DASAR DESAIN INTERIOR GALERI BATIK MALANGAN Charistya Permana; Triandriani Mustikawati; Triandi Laksmiwati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.89 KB)

Abstract

Galeri merupakan suatu sarana yang berguna sebagai tempat pameran, koleksi, media promosi dan jual beli karya yang memiliki nilai tinggi. Penataan interior salah satunya dapat dilakukan dengan pembentukan suasana ruang tertentu untuk pengunjung. Batik Malangan merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh Kota Malang yang sedang diusahakan untuk diperkuat lagi identitasnya. Salah satu cara untuk membentuk suasana ruang pamer suatu galeri batik adalah dengan menerapkan karakter warna Batik Malangan agar masyarakat lebih mudah mengenal warna khas Batik Malangan tersebut, di samping motif yang beragam yang perlu diselaraskan. Karakter warna Batik Malangan yang digunakan dipilih berdasarkan analisis komposisi warna dan dimensi warna (hue, value dan chroma/intensitas). Pada analisis tersebut akan dihasilkan warna dominan dan warna yang paling jarang digunakan, serta karakter Batik Malangan berdasar warna, sebagai pembentuk suasana ruang. Warna dari motif batik Malangan ini dapat diterapkan pada elemen arsitektural yaitu untuk pewarnaan elemen dinding, lantai dan plafon serta perabot dengan memperhatikan unsur dan prinsip desain interior galeri.Kata kunci: warna Batik Malangan, interior galeri
Pemanfaatan Ruang Sirkulasi Pasar Blimbing Malang (Kajian Arsitektur dan Perilaku) Made Bayu Permana Antara; Jenny Ernawati; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.572 KB)

Abstract

Mengamati kecenderungan pemanfaatan ruang sirkulasi di pasar tradisional dilatar-belakangi oleh pentingnya kelangsungan operasional pasar itu sendiri. Sebagai salah satu pasar tradisional di Malang, Pasar Blimbing juga dituntut mampu mempertahankan keinginan masyarakat untuk tetap terlibat sedangkan efektifitas ruang sirkulasinya diperlukan untuk menjamin setiap ruang operasional pasar berjalan optimal. Arsitektur dan perilaku adalah pendekatan yang menunjukkan hubungan peran manusia dan ruang dimana ruang/teritori yang diperuntukkan bersama disebutkan cenderung rentan terhadap intervensi. Perhatian penelitian ini dititik-beratkan pada bagaimana ruang sirkulasi Pasar Blimbing dimanfaatkan sehingga bisa diterjemahkan menjadi rekomendasi perancangan. Teknik behavioral mapping diterapkan untuk mengamati, merekam, dan mengerti bagaimana kecenderungan itu terbentuk, didukung oleh data melalui wawancara jenis in-depth interview untuk mendapatkan indikasi penyebabnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap intervensi sifatnya memotivasi kecenderungan-kecenderungan berikutnya dimana personalisasi ruang sirkulasi oleh pedagang merupakan perilaku pertama. Mereka memiliki persepsi bahwa ruang pun menyediakan peluang untuk diintervensi sehingga yang diperlukan adalah ruang yang mampu mengendalikan peruntukkannya sendiri dan mengantisipasi intervensi terjadi kembali.Kata kunci: pemanfaatan ruang sirkulasi, pasar tradisional, arsitektur dan perilaku
Perancangan Museum Pinisi dengan Menerapkan Konsep Living Museum di Bulukumba Wisnu Hanggara; Chairil Budiarto Amiuza; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.477 KB)

Abstract

Pembuatan kapal pinisi di Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu aset industri dan kebudayaan maritim bagi Indonesia yang telah dikenal dunia internasional. Keberadaannya saat ini terus mengalami degradasi, padahal dalam proses pembuatan kapal pinisi terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang berpadu harmonis dengan kemampuan teknis kekriyaan para pengrajinnya. Perancangan Museum Pinisi di Bulukumba ini merupakan upaya untuk menjaga warisan budaya tersebut dan mempertahankan identitas masyarakatnya. Penerapan konsep museum hidup diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyelenggarakan program aktivitas dalam museum yang berbasis pengalaman langsung mengenai proses pembuatan kapal pinisi. Pemilihan tapak yang terintegrasi langsung dengan kampung pengrajin pinisi di Desa Tanah Beru diharapkan dapat memberikan informasi dan pengalaman ruang yang otentik, maka dari itu penambahan fasilitas museum diupayakan tetap mempertahankan pola aktivitas asli dan seminimal mungkin merubah suasana ruang di sekitarnya. Sehingga maksud dan tujuan museum pinisi ini dapat dirasakan manfaatnya, baik oleh masyarakat lokal maupun masyarakat luas.Kata kunci: konsep museum hidup, perancangan museum, program aktivitas museum
Pusat Fasilitas Wisata Tamblingan di Desa Wisata Munduk (Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular) Vera Muslikha; Chairil Budiarto Amiuza; Beta Suryokusumo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.125 KB)

Abstract

Desa Wisata Munduk memiliki Danau Tamblingan sebagai destinasi wisata utama dengan pengembangan ke arah wisata alam dan spiritual. Sebagai dukungan akomodasi perlu adanya sebuah pusat fasilitas yang berbasis pada masyarakat, budaya dan lingkungan sesuai dengan kriteria desa wisata. Pencapaian kriteria tersebut ditunjukkan dengan perancangan yang berkarakter lokal, ramah lingkungan dan menyesuaikan kondisi saat ini. Hal ini dapat diproses dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular yang mengkinikan arsitektur vernakular setempat dengan transformasi berdasarkan makna dan fungsi. Metode kajian diarahkan pada metode deskriptif kualitatif yang disusun secara programatik dengan penekanan ideologi dari arsitektur neo-vernakular. Fungsi yang diwadahi dalam Pusat Fasilitas Wisata Tamblingan terbagi dalam fungsi wisata (informasi, edukasi dan rekreasi) dan fungsi kemasyarakatan (sarana pembinaan dan organisasi masyarakat). Karakter arsitektur neo-vernakular pada skala tapak ditunjukkan dengan aplikasi pola zonasi berdasarkan hirarki, pola lansekap mengadaptasi konsep natah, konsep sirkulasi kombinasi Arsitektur Bali yang dimodifikasi dan sistem utilitas ramah lingkungan. Pada skala bangunan, bentuk aplikasinya adalah tipe bangunan tropis, material alami dan sistem struktur ekspos yang dikembangkan sesuai fungsi, tatanan masa majemuk serta adaptasi karakter tipologi bentuk dan tampilan bangunan setempat.Kata kunci: pusat fasilitas wisata, desa wisata, arsitektur neo-vernakular
KONSEPSI POLA TATA RUANG PEMUKIMAN MASYARAKAT TRADISIONAL PADA HOTEL RESORT DI TOYABUNGKAH KINTAMANI Kade Praditya S. Empuadji; Abraham Mohammad Ridjal; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.488 KB)

Abstract

Toyabungkah yang berada di Kabupaten Bangli memiliki potensi wisata yang belum dapat dimaksimalkan karena kurangnya ketersediaan akomodasi wisata yang memadai. Padahal, Toyabungkah memiliki potensi untuk dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata peristirahatan, karena Toyabungkah berada di kawasan pegunungan di tepi Danau Batur. Untuk mengembangkan daya tarik wisata peristirahatan di Toyabungkah, dibutuhkan sebuah hotel resort sebagai akomodasi pendukung pengembangan pariwisata. Namun, perencanaan tersebut dibatasi oleh Perda setempat karena Toyabungkah merupakan kawasan Daya Tarik Wisata Khusus dan berada di dalam Zona Efektif Pariwisata yang memiliki ketentuan pembangunan yang mengutamakan konsep budaya lokal dan berlandaskan kebudayaan Bali. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, hotel resort di Toyabungkah dapat menerapkan konsep pola tata ruang pemukiman tradisional Bali pada perancangan pola tata ruangnya. Untuk menerapkan konsep pola tata ruang pemukiman tradisional Bali tersebut, dibutuhkan kajian analisis tentang pola tata ruang tradisional Bali. Hasil dari kajian ini nantinya terfokus pada penataan massa bangunan di dalam hotel resort yang nantinya dapat digunakan sebagai dasar perancangan hotel resort di kawasan Toyabungkah.Kata kunci: hotel resort, pola tata ruang pemukiman tradisional Bali
Perancangan Sport Center di Kota Bontang (Pengaruh Bukaan pada Selubung Bangunan) Haviidho Zulkarnaen; Agung Murti Nugroho; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.531 KB)

Abstract

Tingginya tingkat kesibukan yang terjadi di masyarakat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan, tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi hal ini adalah dengan olahraga teratur. Minimnya sarana olahraga menjadi kendala masyarakat untuk berolahraga, sehingga pemerintah Kota Bontang berencana membangun sport center untuk memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasarana olahraga. Kota Bontang terletak pada wilayah garis khatulistiwa dan memiliki cuaca panas yang cukup stabil sepanjang tahun, hal ini menunjukkan potensi dari potensi alam di Kota Bontang akan sangat berguna jika dimanfaatkan sebagai pengganti energi pada bangunan sport center. Metode yang digunakan pada perancangan sport center di Kota Bontang ini menggunakan metode programatik. Tujuan dari metode ini adalah untuk menghasilkan sintesis yang berupa konsep perencanaan melalui pengolahan atau analisis terhadap data-data yang telah dikumpulkan. Aktivitas olahraga pada bangunan sport center tentu akan menghabiskan banyak energi listrik sebagai pencahayaan buatan, namun jika bangunan dirancang dengan dengan memanfaatkan potensi alam seperti sinar matahari, dan angin maka penggunaan energi pada bangunan akan sangat berkurang, oleh karena itu dengan bukaan pada selubung bangunan bertujuan untuk memanfaatkan pencahayaan alami agar didapatkan bangunan yang hemat energi.Kata kunci: sport center, pencahayaan alami, hemat energi
Museum Jembatan sebagai Bangunan Ikonik Pulau Madura Dedy Asrizal; Chairil Budiarto Amiuza; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.645 KB)

Abstract

Bangunan ikonik memiliki peran penting sebagai penanda (sign) atau ikon sebuah tempat, lingkungan, kota, kawasan, bahkan negara. Kehadirannya memberi identitas sehingga tempat tersebut mudah diingat dan dikenal oleh masyarakat atau lingkungannya. Bangunan ikonik memiliki pengertian adalah bangunan yang dapat dijadikan penanda tempat di lingkungan sekitar ataupun karya arsitektur yang menjadi tanda waktu/era tertentu. Objek rancang pada studi ini adalah Museum Jembatan yang direncanakan strategis di gerbang utama Pulau Madura lebih tepatnya pada lahan reklamasi kaki Jembatan Suramadu. Bangunan tersebut akan mengedukasi masyarakat dengan perkembangan teknologi jembatan dan dokumentasi pembuatan Jembatan Suramadu sebagai jembatan kebangggan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan untuk mengevaluasi objek rancang Museum Jembatan sebagai bangunan ikonik Pulau Madura adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rancangan Museum Jembatan telah memenuhi kriteria sebagai bangunan ikonik dengan ciri-ciri diantaranya adalah, (a) memiliki skala bangunan relatif besar dan cenderung megah, (b) memiliki bentuk atraktif, (c) memiliki unsur kekuatan bangunan yang tinggi, dan (d) berlokasi pada tempat strategis.Kata kunci: Museum Jembatan, bangunan ikonik, Pulau Madura
PEMENUHAN ASPEK KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN PADA LINGKUNGAN PUSAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Wilujeng Werdi Astuti; Triandriani Mustikawati; Haru Agus Razziati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.307 KB)

Abstract

Universitas Brawijaya merupakan kawasan pendidikan yang terdapat di Kota Malang, yang memiliki lingkungan pusat kampus sebagai pusat kegiatan para civitas akademika. Studi ini merupakan kajian tentang jalur pejalan kaki pada lingkungan pusat kampus yang saling menghubungkan antar gedung utama. Jalur pejalan kaki dikaji tentang aspek kenyamanannya, yang meliputi rute langsung, keamanan jalur, dan kejelasan jalur. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan observasi langsung terhadap area yang dikaji. Terdapat delapan area jalur pejalan kaki yang menjadi kajian. Dari hasil kajian menunjukkan jika terdapat beberapa jalur pejalan kaki pada lingkungan pusat kampus, yaitu aspek keamanan jalur dan aspek kejelasan jalur yang belum terpenuhi aspek kenyamanannya. Kajian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan kampus di masa yang akan datang. Sehingga semua gedung yang terdapat pada lingkungan pusat kampus dapat terhubung dengan jalur pejalan kaki yang memenuhi aspek kenyamanan.Kata Kunci: pedestrian, kampus pusat, kenyamanan, rute langsung, keamanan, kejelasan

Page 11 of 148 | Total Record : 1474