cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
PENERAPAN STRUKTUR SPACE FRAME PADA HANGGAR PEMELIHARAAN PESAWAT DI BANDARA SAMARINDA BARU Agung Hariyanto; Beta Suryokusumo; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.171 KB)

Abstract

Pada Bandar Udara Samarinda Baru direncanakan terdapat hanggar pesawat yang mampu melakukan perawatan preventif dan dapat menampung pesawat jenis Boeing 737-300 dan ATR 72. Untuk menampung pesawat Boeing 737 dan ATR 72 bentang hanggar minimum yang dibutuhkan adalah 60 meter. Mengingat bentang bangunan hanggar yang sangat lebar, maka dibutuhkan suatu sistem struktur bentang lebar yang dapat mewujudkan berdiri bangunan hanggar tersebut. Sistem struktur yang dipilih adalah sistem struktur space frame (rangka ruang). Kajian ini bertujuan untuk merancang hanggar dengan melakukan penerapan sistem struktur space frame yang sesuai dengan fungsi bangunan, penerapan sistem struktur rangka ruang dilakukan khususnya pada bagian atap bangunan. Dalam pemilihan sistem struktur bentang lebar pada suatu rancangan dapat menggunakan kriteria-kriteria seperti kemampuan pelayanan dan keamanan (serviceability), efisiensi, dan konstruksi (Schodek, 1998). Kajian ini dilakukan dengan menggunakan metoda programatik, yaitu metode pembahasan secara sistematis, rasional, dan analitik dengan menggambarkan, mendiagramkan, serta memvisualisasikan tentang objek kajian berdasarkan literatur dan standar yang ada. Dengan dilakukannya kajian penerapan sistem struktur rangka ruang pada bangunan hanggar pesawat, maka diharapkan akan didapatkan rancangan hanggar pesawat yang sesuai dengan kapasitas dan fungsi yang akan diwadahi serta diketahui penerapan sistem struktur space frame yang sesuai untuk fasilitas hanggar perawatan pesawat di Bandara Samarinda Baru, khususnya pada bagian atap bangunan.Kata kunci: Bandara Samarinda Baru, hanggar pesawat, sistem struktur rangka ruang
POLA RUANG DALAM BANGUNAN RUMAH GADANG DI KAWASAN ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU – SUMATERA BARAT Maulana Abdullah; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.136 KB)

Abstract

Rumah Gadang merupakan salah satu rumah tradisional yang terdapat di Indonesia, terletak di Sumatera Barat. Rumah Gadang merupakan rumah tinggal bagi kaum Minangkabau. Keberadaan Rumah Gadang saat ini masuk dalam kategori terancam karena adanya bencana alam yaitu gempa, karena kawasan yang terdapat Rumah Gadang merupakan daerah pergerakan lempeng bumi pada bagian barat Indonesia. Selain itu, perawatan dan pemeliharaan Rumah Gadang semakin berkurang di berbagai kawasan di Minangkabau. Kawasan Alam Surambi Sungai Pagu merupakan salah satu kawasan yang masih banyak terdapat Rumah Gadang dan memiliki ruang dalam yang asli dengan berbagai bentuk penambahan sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Kawasan ini juga disebut sebagai Nagari Saribu Rumah Gadang yang terletak di Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini fokus pada permasalahan pola ruang dalam bangunan Rumah Gadangdi kawasan Alam Surambi Sungai Pagu yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode deskriptif dengan survei langsung ke lapangan, objek penelitian berupa Rumah Gadang yang difungsikan sebagai rumah tinggal dan tempat kegiatan adat. Hasil studi menunjukkan susunan-susunan ruang dalam bangunan Rumah Gadang dari berbagai jenis klasifikasi yang telah dibagi berdasarkan pola ruang dalam yang terdapat di kawasan tersebut.Kata kunci: Rumah Gadang, rumah tradisional, pola ruang dalam
TERBENTUKNYA POLA RUANG DALAM BATIH BARU RUMAH PANGGUNG DAYAK KENYAH DI DESA PAMPANG SAMARINDA Ririn Prasetya P; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.032 KB)

Abstract

Perpindahan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Desa Pampang Samarinda merupakan keputusan yang diambil mereka untuk dapat hidup yang lebih layak dan memisahkan diri dari Lamin adat. Lamin adat yang terbentuk di Desa Pampang merupakan bentuk batih baru, dimana batih baru merupakan tempat tinggal masyarakat Dayak Kenyah yang dihuni dua belas kepala keluarga oleh para tetua suku. Pola ruang yang terbentuk masing-masing rumah panggung dilakukan berdasarkan keputusan adat dan hukum adat batih baru. Penelitianini dilakukan untuk menemukan bagaimana bentuk pola ruang dalam batih baru yang terbentuk setelah perpindahan Suku Dayak Kenyah dari Apouyakan ke Desa Pampang, dan faktor apa yang mempengaruhi terbentuknya pola ruang. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskripsi. Data yang didapatkan secara langsung melalui wawancara terhadap para tetua suku Dayak Kenyah di Desa Pampang, dianalisis untuk mendapatkan pola ruang batih baru yang terbentuk setelah perpindahan mereka ke Desa Pampang. Terbentuknya pola ruang batih baru oleh faktor modernisasi dikarenakan letak dari Desa Pampang tepat dipinggir Kota Samarinda.Kata kunci: pola ruang dalam, rumah panggung
Sistem Insulasi Termal sebagai Dasar Perancangan Pasar Ikan Higienis di Sendang Biru Sona Maharahmi; Jusuf Thojib; Rinawati P Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.738 KB)

Abstract

Pasar ikan di Indonesia umumnya berfungsi kurang optimal karena masih bersifattradisional. Kondisi pasar ikan tradisional umumnya bau, kotor, dan becek, sehinggamenyebabkan konsumen lebih memilih untuk berbelanja di pasar swalayan, khususnyamasyarakat dari golongan ekonomi menengah ke atas. Oleh karena itu, saat ini Pasar IkanHigienis sangat diperlukan di Indonesia. Di Jawa Timur, potensi pengembangan pasar ikanyang berorientasi higienis adalah Pasar Ikan Sendang Biru, Kabupaten Malang.Berdasarkan hasil wawancara, permasalahan yang sering dihadapi adalah kurangnyahigienitas akibat kondisi fisik bangunan dan sanitasi yang tidak sesuai dengan ketentuanpasar sehat. Jenis ikan pelagis besar yang merupakan komoditas utama di Sendang Biruadalah ikan tuna, namun penanganan pada ikan tersebut tidak higienis. Perlu adanyapenanganan khusus pada tempat penjualan ikan pelagis besar agar kualitas ikan tetapterjaga. Oleh karena itu, perancangan Pasar Ikan Higienis ini melalui pendekatan sisteminsulasi termal yang difokuskan untuk menjaga suhu agar kesegaran ikan tetap terjaga.Perancangan Pasar Ikan Higienis di Sendang Biru ini menggunakan metode perancangan,yaitu metode kanonik dan metode pragmatik. Perancangan Pasar Ikan Higienis denganmenggunakan metode tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu rancangan yanghigienis dan memenuhi kebutuhan Pasar Ikan Sendang Biru. Hasil akhir merupakanrancangan Pasar Ikan Higienis dengan dasar sistem insulasi termal.Kata kunci: pasar ikan, higienis, sistem insulasi termal
PERANCANGAN PUSAT KUNJUNGAN DI KOTA BLITAR (BLITAR VISITOR CENTER) Pandu Panoto Gomo; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.124 KB)

Abstract

Kota Blitar sering dikaitkan dengan nama besar Bung karno dan oleh karenanya Kota Blitar terkenal dengan nilai historisnya. Seiring dengan terus berkembangnyapembangunan, Kota Blitar memiliki visi dan misi menjadi kota pariwisata danperdagangan jasa yang berwawasan kebangsaan dan lingkungan. Untuk itulah KotaBlitar harus dapat mewadahi sistem kepariwisataan nasional baik melalui sistempariwisatanya maupun fasilitas yang menunjang pariwisata tersebut. Sistemkepariwisataan sendiri telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah, akan tetapi menjaditanggung jawab tersendiri bagi suatu daerah untuk memfasilitasi pariwisatanya. Dalamilmu kepariwisataan, banyak sekali aspek yang perlu dipenuhi untuk menunjangaktivitas pariwisata seperti upaya promosi, akomodasi, transportasi, dan lainsebagainya, serta kebutuhan Kota Blitar akan kualitas dan kuantitas untuk menampungwisatawannya. Agar dapat memenuhi kebutuhannya, Kota Blitar perlu menyediakansebuah media yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut. Untuk itu peran sebuahVisitor Center sangat dibutuhkan untuk mewadahi berbagai macam kebutuhan fungsiruang yang ada. Pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini adalah ArsitekturHibrid, dengan tujuan untuk mengkerucutkan banyaknya kebutuhan ruang pada fasilitasvisitor center. Hasil dari penggabungan fungsi ruang tersebut nantinya dapat menjadiruang transisi antara fasilitas satu dengan yang lainnya.Kata kunci: fasilitas penunjang, pariwisata, arsitektur hibrid
Penerapan Struktur Lipat pada Pengembangan Terminal Kepuhsari di Jombang Nurul Hidayat Sihabuddin; Tito Haripradianto; Bambang Yatnawijaya Soebandono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.35 KB)

Abstract

Struktur lipat merupakan salah satu jenis struktur bentang panjang yang memiliki nilaiestetika tersendiri. Pada pengembangan Terminal Kepuhsari diterapkan sebuah jenisstruktur lipat yang menaungi bangunan utama terminal tersebut. Bentuk yangmemanjang menjadi salah satu alasan penerapan struktur lipat ini. Penerapan strukturlipat dalam bangunan tidak hanya pada atap bangunan, struktur ini bisa digunakanpada bagian bangunan lain seperti selubung bangunan. Metode pragmatis digunakanuntuk menyelesaikan permasalahan tersebut.Kata kunci: terminal, struktur, struktur lipat
PERANCANGAN RUANG LUAR RSO PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA DENGAN KONSEP GREEN HOSPITAL Samuel Bawole; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.384 KB)

Abstract

“Pada tahun 2020 semua rumah sakit di Indonesia harus sudah menerapkan Green Hospital”. Demikian disampaikan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada Seminar Green Hospital tanggal 27 September 2012 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Green Hospital merupakan rumah sakit yang berwawasan lingkungan dan jawaban atas tuntutan kebutuhan pelayanan dari pelanggan rumah sakit yang telah bergeser ke arah pelayanan paripurna serta berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit. Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, maka pihak Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta memiliki gagasan untuk menyelenggarakan perancangan Desain Green Hospital Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta dalam kesatuan desain yang utuh khususnya pada perancangan ruang luar dalam kawasan rumah sakit, yang berpotensi untuk dikembangkan melalui penerapan green hospital. Dengan penerapan green hospital pada pengembangan masterplan RSO Prof. DR. R. Soeharso Surakarta diharapkan nantinya akan menjadi ciri khas sekaligus model pembangunan Green Hospital yang berkelanjutan untuk industri rumah sakit.Kata kunci: green hospital, pengembangan masterplan, perancangan ruang luar
RESORT BATU AMPAR BALI DENGAN KONSEP VENTILASI SILANG MELALUI RASIO BUKAAN RAGAM HIAS Erick Christ P.S P.S; Jusuf Thojib; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.201 KB)

Abstract

Keadaan alam yang berada di Kawasan Pariwisata Batu Ampar berdasarkan hasil Balaibesar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika wilayah III, Denpasar tahun 2010.Kawasan Pariwisata Batu Ampar memiliki suhu udara sebersar 280C, kelembapanudara 78%, curah hujan 2023 mm, dan kecepatan angin 7-12 knot. DalamWonorahardjo (2010) sistem pengendalian termal bangunan merupakan upaya untukkonservasi energi dengan cara pengendalian kalor yang masuk pada ruangan, efesiensisistem pendinginan, dan pengendalian beban pendinginan. Kelembaban udara yangtinggi pada Kawasan Batu Ampar memerlukan sistem sirkulasi udara yang baiksehingga ruangan tidak panas dan lembab. Sistem ventilasi alami yang optimalditerapkan sebagai elemen penangkap angin dan pelepas angin pada bangunan resortBatu Ampar. Dengan adanya penerapan sistem ventilasi silang dengan penerapanragam hias diharapkan mampu menyelesaikan masalah kenyaman termal dan dapatmemenuhi persyaratan yang diwajibkan peraturan daerah Bali. Strategi penyusunanResort Batu Ampar Bali pada tahap awal adalah dengan penentuan pola penyusunantata masa yang disesuaikan dengan lokalitas arsitektur Bali dan keadaan eksistingsesuai dengan arah datangnya angin. Setelah itu menentukan posisi inlet serta outletdengan parameter posisi dan besar rasio bukaan yang berasal dari bentuk pola ragamhias Karang Sae. Penentuan Karang Sae disesuaikan dengan ciri dan indentitas dariarsitektur Bali.Kata kunci: sistem ventilasi silang, posisi bukaan, rasio bukaan
PENERAPAN ELEMEN-ELEMEN AKUSTIKA RUANG DALAM PADA PERANCANGAN AUDITORIUM MONO-FUNGSI, SIDOARJO - JAWA TIMUR Ika Budi Setya Zuyyinati; Jusuf Thojib; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.73 KB)

Abstract

Perkembangan MICE (Meeting, Insentive, Convention and Exhibition) di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya mengakibatkan kebutuhan akan wadah tersebut terus meningkat terutama untuk kota-kota besar. Selaras dengan permasalahan tersebut, kabupaten Sidoarjo berencana membangun gedung serbaguna terbesar. Gedung tersebut terutama digunakan untuk kegiatan pertemuan, seminar dan sebagainya sehingga dibutuhkan ruang auditorium. Menyikapi permasalahan tersebut, dalam perancangan auditorium perlu memperhatikan beberapa hal terutama kenyamanan audio dan visual. Metode perancangan berawal dari menganalisis jumlah pelaku, menentukan sifat elemen-elemen pembentuk ruang sebagai pemantul atau penyerap, pemilihan material yang digunakan, dan menghitung waktu dengung yang terjadi dalam ruangan. Penghitungan waktu dengung digunakan sebagai tolak ukur kenyamanan audio yang disarankan terjadi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penempatan material sesuai dengan karakter material itu sendiri mempengaruhi penyebaran suara yang terjadi di dalam ruang.Kata kunci: Sidoarjo, auditorium, akustika ruang dalam
PENGARUH FASADE BANGUNAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI PADA LABORATORIUM POLITEKNIK NEGERI MALANG Adila Bebhi Sushanti; Jusuf Thojib; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.973 KB)

Abstract

Pemanasan global dan keterbatasan sumber energi merupakan permasalahan yangtelah dihadapi selama 20 tahun terakhir. Penghematan energi dapat dilakukan denganmemanfaatkan pencahayaan alami untuk mengurangi penggunaan energi. Desainfasade (dinding, jendela, dan atap), orientasi dan luas jendela dapat mempengaruhibesar cahaya yang masuk. Indonesia merupakan daerah beriklim tropis yang memilikiketersediaan cahaya yang melimpah, begitu pula di Kota Malang. Perguruan tinggimerupakan satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi yang memiliki saranadan prasarana akademik khusus berupa laboratorium, laboratorium memilikikebutuhan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan aktivitasnya. Politeknik NegeriMalang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuankhusus yang mahasiswanya diarahkan untuk melakukan praktek di laboratorium danbengkel yang telah tersedia. Permasalahan pada laboratorium di Politeknik NegeriMalang yaitu pada beberapa laboratorium menggunakan pencahayaan buatan danalami, karena cahaya dalam ruangan kurang memenuhi standar dan tidak merata.Tingkat pencahayaan 500lux menurut Kepmenkes nomor 1405 tahun 2002 denganjenis kegiatan dalam ruang yaitu pekerjaan agak halus - pekerjaan dengan mesin.Dengan menggunakan 3(tiga) tahap untuk memperoleh hasil pengukuran didapatkanbahwa tingkat pencahayaan pada masing-masing ruangan kurang memenuhi standarminimal. Untuk memenuhi tingkat pencahayaan dalam ruangan laboratorium sesuaidengan standar, maka dapat diperhatikan lokasi, letak dan orientasi bangunan, bentuk,ukuran dan orientasi jendela.Kata kunci: fasade bangunan, pencahayaan alami, laboratorium

Page 10 of 148 | Total Record : 1474