cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
Elemen Ruang Dalam pada Fasilitas Rawat Inap Pasien Gangguan Jiwa Berdasarkan Aspek Keamanan Azhari Azizah Rifqi; Rinawati P Handajani; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.455 KB)

Abstract

Kurangnya kapasitas Rumah Sakit Jiwa dan Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa mengakibatkan banyak pasien gangguan jiwa tidak mendapatkan perawatan yang baik. Oleh karena itu dibutuhkan fasilitas perawatan untuk pasien gangguan jiwa. Pada fasilitas perawatan gangguan jiwa, banyak terjadi tindakan negatif dari pasien yang membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Diantaranya, banyak yang memanfaatkan elemen ruang dalam untuk melakukan kekerasan atau melarikan diri. Aspek-aspek pada elemen ruang dalam ruang pada rumah sakit jiwa dapat memberikan pengaruh negatif terhadap keselamatan dan keamanan pasien mental. Seharusnya, fungsi keamanan pasien selain didapatkan dari pengawasan parawat juga bisa didapatkan dari aspek fisik melalui bangunan yang meliputinya (Saraswati & Haryangsah, 2003). Untuk itu, diperlukan desain elemen ruang pada bangunan berdasarkan keamanan pasien. Untuk merancang elemen ruang berdasarkan keamanan pasien, tahap pertama yang dilakukan yaitu pengumpulan data mengenai perilaku pasien gangguan jiwa, kategori/ klasifikasi pasien gangguan jiwa, standar elemen/ sarana dan prasarana pada Rumah Sakit Jiwa. Tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis mengenai perilaku pasien yang disesuaikan dengan klasifikasi pasien dan standar sarana prasarana pada fasilitas kesehatan mental. Konsep elemen ruang dibuat sesuai dengan hasil analisis tiap ruang. Pada desain, dihasilkan tiga jenis ruang pasien yaitu ruang pasien golongan depressed, semi-depressed, dan co-operative. Elemen ruang pada ruang golongan depressed memiliki tingkat keamanan yang paling tinggi sedangkan elemen ruang pada ruang dolongan co-operative memiliki tingkat keamanan yang paling rendah.Kata kunci: elemen ruang, gangguan jiwa, keamanan
Koridor Kampung Kota sebagai Ruang Komunikasi Informal Siti Miftahul Ulum; Triandriani Mustikawati; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.576 KB)

Abstract

Urbanisasi pada kota-kota besar seperti Jakarta mendorong timbulnya permasalahan pemukiman kota, yaitu munculnya pemukiman padat penduduk di kampung kota. Keterbatasan lahan dalam lingkungan kampung kota merubah sifat ruang luar menjadi lebih publik dan terbuka. Kebutuhan akan interaksi sosial dan aktivitas mempengaruhi perubahan fungsi ruang menjadi fungsi lain sesuai kebutuhan (Najib, 2005). Kondisi pemukiman Kampung Menteng yang sangat padat, mengakibatkan koridor gang di lingkungan pemukiman menjadi ruang luar milik publik yang masih tersisa. Disinilah ruang aktivitas sosial terbentuk. Warga dapat berinteraksi satu sama lain meski dengan berbagai keterbatasan ruang fisik jalan. Studi ini bertujuan untuk mengungkap ruang komunikasi informal sebagai aktivitas yang paling dominan pada koridor kampung kota. Studi ini merupakan studi lapangan dengan metode deskriptif eksploratif. Hasil yang didapat pada kajian ini menunjukkan bahwa aktivitas yang mendominasi pada salah satu gang di pemukiman Kampung Menteng ini adalah aktivitas komunikasi informal yang dapat terjadi sepanjang hari di sepanjang koridor gang.Kata kunci: ruang komunikasi informal, koridor, kampung kota
REDESAIN OBJEK WISATA REMBANGAN DI JEMBER Dewi Permatasari Wiyono; Haru Agus Razziati; Triandi Laksmiwati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.064 KB)

Abstract

Objek wisata Rembangan merupakan satu-satunya objek wisata pegunungan di Jember. Objek wisata Rembangan ini dahulu dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937. Bangunan pertama yang dibangun di Rembangan adalah restoran Rembangan. Restoran Rembangan ini memiliki karakteristik dari bentuk dan tampilan. Jumlah pengunjung yang berwisata dan menginap di hotel dari tahun ke tahun semakin bertambah maka perlu adanya pengembangan pada penyelarasan tampilan bangunan hotel dengan restoran. Hal ini disesuaikan dengan penekanan bentuk dan tampilan serta penambahan kamar hotel, pengembangan fasilitas dan pengolahan tapak dengan penekanan sirkulasi dan tata massa. Sehingga terdapat keselarasan dan keterkaitan bangunan restoran dan hotel.Kata kunci: penyelarasan, pengembangan fasilitas dan tapak
PERANCANGAN KEMBALI PASAR SETONOBETEK KOTA KEDIRI (Penerapan Pola Tata Ruang dan Pemilihan Material yang Mengacu pada Peraturan Pasar Sehat) Dyah Ayu Permata Hari; Indyah Martiningrum; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.804 KB)

Abstract

Pasar merupakan salah satu fasilitas untuk masyarakat dalam mempermudah memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari, yang tentunya sangat berpotensi untuk dikembangkan. Eksistensi pasar tradisional semakin menurun yang diakibatkan oleh pertumbuhan pasar belanja modern yang semakin meningkat, selain itu pasar tradisional merupakan ruang publik yang digunakan sebagai tempat untuk aktivitas berjualan bahan pangan dan makanan yang seharusnya bersih, aman, nyaman, sehat dan terhindar dari vektor penular penyakit. Namun sayangnya kebanyakan kondisi pasar tradisional saat ini kumuh, kotor dan tidak tertata sehingga mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota dan kabupaten dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan nomor 519 tahun 2008 tentang Pedoman Pasar Sehat. Objek perancangan yang dipilih adalah Pasar Setonobetek Kota Kediri yang sejak berdiri yaitu 21 tahun yang lalu hingga saat ini belum dilakukan renovasi atau peremajaan sedikitpun dan pasar tersebut merupakan pasar terbesar serta terlengkap di Kota Kediri sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan. Fokus permasalahan perancangan pada tata ruang dan pemilihan material, karena kedua hal tersebut merupakan aspek utama dan memiliki pengaruh besar terhadap terwujudnya pasar sehat.Kata kunci: pasar tradisional, pola tata ruang, material, pasar sehat
Perpustakaan Daerah Kabupaten Malang dengan Pendekatan Pencahayaan Alami Hanief Ariefman Sani; Agung Murti Nugroho; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.659 KB)

Abstract

Kota Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan, membuat pembangunan dan pengembangan fasilitas pendidikan di Kota Malang menjadi keharusan. Salah satu fasilitas pendidikan yang akan dikembangkan di Kota Malang adalah perpustakaan. Perpustakaan adalah fasilitas dengan kebutuhan utama pada aspek pencahayaan. Kebutuhan pencahayaan pada perpustakaan sebaiknya tidak silau, tidak merusak koleksi dan memiliki kuat cahaya yang sesuai kebutuhan. Kini banyak perpustakaan yang menerapkan pencahayaan buatan untuk memenuhi kebutuhan pencahayaan tersebut, yang berdampak pada konsumsi energi bangunan yang semakin besar. Indonesia sebagai Negara tropis yang kaya akan sinar matahari sepanjang tahun dapat memanfaatkan kekayaan tersebut sebagai sumber pencahayaan alami. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang lebih menekankan analisisnya pada proses analisis serta penyimpulan dengan menggunakan logika ilmiah. Desain perpustakaan ini menerapkan pencahayaan alami dengan mempertimbangkan kebutuhan pencahayaan perpustakaan berdasarkan aktivitas dan koleksi. Untuk mendapatkan cahaya yang maksimal dilakukan analisis kondisi pencahayaan pada tapak, kondisi pembayangan dan sudut jatuh matahari. Penerapan pencahayaan alami menyesuaikan sudut jatuh matahari dan waktu kebutuhan cahaya paling maksimal. Ruang dengan penggunaan pagi-sore menghadap ke arah cahaya seimbang pagi-sore. Ruang dengan penggunaan siang hari menghadap kearah cahaya cenderung siang hari. Untuk penyesuaian kebutuhan kuat cahaya, diterapkan selubung bangunan pada masing-masing sisi bangunan.Kata kunci: perpustakaan, pencahayaan alami
Kebun Binatang Surabaya (Perancangan Ulang dengan Pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau) Devi Ariani Putri; Subhan Ramdlani; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.71 KB)

Abstract

Kebun Binatang Surabaya merupakan salah satu tempat wisata favorit yang juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau terbesar di kota Surabaya. Kota Surabaya sebagai kota metropolis mengalami penyusutan Ruang Terbuka Hijau yang banyak memiliki manfaat bagi makhluk hidup, namun saat ini Kebun Binatang Surabaya memiliki problema diantaranya banyak satwa yang mati, kondisi fisik yang menurun dan jumlah pengunjung yang tidak stabil. Selain itu, keberadaan Kebun Binatang Surabaya di tengah permukiman padat penduduk memerlukan adanya ruang transisi agar tidak berhubungan langsung dengan rumah penduduk sekitar. Kebun Binatang Surabaya memiliki fungsi konservasi, edukasi, wisata dan juga Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang perlu dipertahankan. Maka pengembangan Kebun Binatang Surabaya ke depannya harus dapat mengoptimalkan RTH agar fungsi dan kebutuhannya dapat seimbang. Proses analisis menggunakan metode programatik dengan objek komparasi Singapore Zoo dan Batu Secret Zoo dan untuk proses perancangan menggunakan metode pragmatik yakni penyesuaian fungsi dengan atribut kota hijau yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan dengan membandingkan antara objek komparasi dan mengacu pada atribut kota hijau maka dihasilkan konsep kebun binatang yang tetap memperhatikan lingkungan, kebutuhan satwa dan juga wisata dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau.Kata kunci: kebun binatang Surabaya, pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau
SEMANTIK ARSITEKTUR PADA PASAR SENI KABUPATEN SIDOARJO Alifian Kharisma S; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.833 KB)

Abstract

Dalam perkembangannya, arsitektur di era modern telah mengesampingkan makna. Arsitektur hanya untuk kepentingan sepihak saja (subjektif). Lalu mulai dicetuskan lagi di era posmodern tentang pemaknaan terhadap suatu karya arsitektur dan kembali ke nilai-nilai lokal. Di masa kini muncul banyak kritik arsitektur sehingga mulai bermunculan beragam pendekatan merancang. Salah satunya yang menilai arsitektur secara holistik adalah semiotika arsitektur. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda visual yang berhubungan dengan bentuk, fungsi, dan makna. Salah satu cabangnya adalah semantik arsitektur yang fokus pada pemaknaan tanda visual arsitektur. Pendekatan merancang ini dapat dilakukan pada bangunan pasar seni yang merupakan salah satu ikon dan merupakan aset sosio-kultural kota. Sidoarjo merupakan kabupaten yang memiliki banyak potensi budaya kesenian. Pusatnya adalah daerah kota lama yang juga menjadi pusat perkembangan perekonomian. Tahapan pertama, diperlukan studi preseden dengan pendekatan semiotika. Hal ini akan menentukan kriteria perancangan pasar seni yang baik. Lalu untuk memasukkan nilai nilai lokal ke dalam wujud pasar seni, dilakukan studi tanda visual khususnya pada dimensi makna terhadap kesenian yang mewakili karakter khas Sidoarjo, salah satunya ialah Batik Jetis. Metode desain menggunakan transformasi borrowing dan metafora. Desain yang didapat mampu merepresentasikan karakter lokal.Kata kunci: semiotika, semantik, Pasar Seni Sidoarjo, makna
PENERAPAN KONSTRUKSI BAMBU PADA FASILITAS KAMPEONG KIDZ DI SEKOLAH ALAM SELAMAT PAGI INDONESIA, BATU M. Thaufan Dwi Putro; Edi Hari Purwono; Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.218 KB)

Abstract

Sekolah Alam Selamat Pagi Indonesia yang terletak di Kota Batu memiliki fasilitas berupa Kampoeng Kidz yang berfungsi sebagai wahana rekreasi edukasi dengan konsep bangunan yang menyatu dengan alam disekitarnya. Pada kawasan SPI area Kampoeng Kidz menggunakan sistem konstruksi bambu namun tidak menggunakan sistem konstruksi bambu bentang panjang sehingga berkurangnya efektivitas ruang, terutama pada bangunan hall. Dalam waktu dekat bangunan penjualan merchandise akan diganti dengan material bambu yang baru karena masa usia pemakaian bambu dan penambahan fungsi bangunan hall. Menyikapi permasalahan tersebut maka dibutuhkan perancangan fasilitas hall dan tempat penjualan merchandise dengan menggunakan sistem konstruksi bentang panjang dan pengolahan pada material bambu sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Metode perancangan yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, progrmatik dan pragmatik. Pengumpulan data dilakukan dengan melihat kondisi tapak secara langsung dengan penggunaan teori yang dipaparkan secara kualitatif. Tahap analisis dan sintesis dilakukan dengan metode programatik, sedangkan konsep penerapan konstruksi bambu dikembangkan melalui metode pragmatik. Objek komparasi yang digunakan ialah komparasi bangunan dengan fungsi sejenis dan bangunan dengan sistem konstruksi bentang panjang. Komparasi bertujuan untuk memberikan alternatif konstruksi bambu pada perancangan. Hasil dari kajian menunjukan bahwa pada bangunan perancangan yang menggunakan sistem konstruksi bambu dengan bentang panjang dapat memberikan efektivitas ruang dalam bangunan sangat baik dan pada pengolahan bahan material bambu secara perendaman kimia dapat menjadikan usia pakai material bambu dalam jangka waktu panjang.Kata kunci: Sekolah Alam Selamat Pagi Indonesia, sekolah alam, konstruksi bambu
KENYAMANAN VISUAL GEDUNG PAMER PUSAT SENI DAN KERAJINAN KENDEDES KABUPATEN MALANG Sutantri Sutantri; Jusuf Thojib; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.928 KB)

Abstract

UMKM daerah sangat tahan banting sebagai usaha penopang dinamika ekonominasional yang semakin menurun. DPRI memfokuskan UMKM dalam bidang arsitektur,kerajinan, dan desain. Kabupaten Malang merupakan salah satu bagian terbesar JawaTimur dengan potensi pariwisata di bidang kerajinan dan kesenian dalam Pusat Senidan Kerajinan Kendedes. Gedung/ ruang pamer karya yang merupakan bagian utamabangunan, dimana aktivitas pengguna bangunan adalah proses melihat dan mengamatihasil seni/ kerajinan. Kebutuhan cahaya baik cahaya alami maupun cahaya buatan padagedung/ ruang pamer cukup tinggi mengingat fungsinya sebagai tempat kerja yangkegiatannya sangat mengandalkan mata. Pemanfaatan cahaya alami ditekankan padasiang hari (SNI-03-2396: 2001), sehingga penggunaan pencahayaan buatan harusdiminimalisir. Akan tetapi cahaya dalam gedung pamer Pusat Seni dan KerajinanKendedes yang terlalu tinggi menimbulkan silau. Keterbatasan wadah pameransemakin menambah kesan silau. Karena itu, diperlukan wadah yang mampumemberikan kenyamanan visual sesuai kebutuhan melihat, baik aspek teknispencahayaan maupun gedung pamer berdasarkan standar pencahayaan rata-ratasebesar 300 lux (SNI-6197: 2011). Pengelolaan elemen bangunan mampu memberikankenyamanan visual gedung pamer dengan mempertimbangkan kondisi ruang luar,organisasi dan orientasi, sistem tata cahaya (alami/ bukaan dan buatan/ lampu),bentuk/ modifikasi bangunan (sun shading), warna dan material (finishing), danperencanaan interior (jarak/ sudut pandang dan display produk).Kata kunci: pencahayaan, kenyamanan visual, ruang pamer, pusat seni dan kerajinan
PENERAPAN MATERIAL KAYU LAMINASI PADA KONSTRUKSI PUSAT KERAJINAN RAKYAT DI KOTA BATU Brian Basundara Tjokrowijanto; Edi Hari Purwono; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.173 KB)

Abstract

Kota Batu merupakan kota dengan konsep wisata dengan pendekatan nuansa alam. Untuk mewujudkan konsep wisata alam pada perancangan Pusat Kerajinan Rakyat di Kota Batu ini, dibutuhkan bentuk yang dinamis agar dapat menyatu dengan alam lingkungan sekitar. Pemilihan material utama pun juga dapat menonjolkan konsep wisata alam, salah satunya adalah material kayu. Hal ini dapat dilakukan dengan teknologi pengolahan kayu yang dapat membuat kayu lebih dinamis, dimana produknya sebagai bahan material konstruksinya biasa dikenal dengan teknologi balok laminasi. Pusat Kerajinan Rakyat ini menggunakan ekspresi struktur kayu dengan konstruksi material yang menggabungkan dua material kayu menjadi material kayu laminasi sebagai bahan konstruksi utama. Dengan penonjolan ekspresi struktur kayu dan pemanfaatan teknologi laminasi pada material kayu, menunjukkan bahwa kayu sebagai konstruksi alami memiliki karakter visual alam yang kuat dan juga struktur yang dinamis. Metode deskriptif digunakan dalam pemaparan issue sebagai latar belakang penerapan material kayu laminasi. Pada aspek programatik membahas akan aktivitas dan fungsi serta komponen yang dibutuhkan sehingga pembahasan ini mengarah pada struktur tata ruang, pada aspek pragmatik membahas tentang konsep dan ide penerapan material laminasi, yang mengarah kepada struktur rangka dan sistem ruang.Kata kunci: material kayu, konstruksi, teknologi laminasi, kerajinan rakyat

Page 9 of 148 | Total Record : 1474