cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
Penilaian Kualitas Visual Desain Bangunan Adaptive Reuse Kafe Bergaya Kolonial Belanda Menurut Persepsi Masyarakat Di Kota Malang Yasykur, Bulan Anindita; Santosa, Herry
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Klojen merupakan salah satu kecamatan di Kota Malang yang memiliki banyak bangunan bersejarah pada masa kolonial Belanda dan sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah kafe. Penerapan konsep adaptive reuse atau pengalih fungsikan bangunan menjadi sebuah kafe dikarenakan adanya budaya minum kopi dan berkumpul yang beredar di kalangan masyarakat. Banyak masyarakat yang masih mengunjungi kafe bangunan bersejarah ini, salah satunya difaktori oleh desain bangunan yang dimiliki oleh kafe ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilaian persepsi masyarakat terkait kualitas visual pada desain bangunan adaptive reuse kafe bergaya kolonial Belanda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda pada program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa elemen eksterior jendela, pintu, dan papan nama, serta elemen interior pencahayaan, plafon, lantai, dan dinding merupakan elemen yang paling menarik menurut masyarakat dan masyarakat masih memperhatikan bagaimana desain elemen tersebut mempengaruhi kenyamanan suasana kafe dikarenakan beberapa elemen yang memiliki nilai signifikan < 0,05.
Perancangan Creative Hub Berbasis Flexibility Space di Surabaya sebagai Adaptasi Dinamika Perubahan Generasi Christanto, Dimas Alvin; Handajani, Rinawati Puji
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan karakteristik generasi terus berubah akibat dinamika sosial dan teknologi menuntut adanya ruang yang fleksibel. Surabaya, sebagai salah satu kota kreatif dengan potensi tinggi di sektor industri kreatif belum memiliki wadah terpusat yang secara khusus mendukung aktivitas kreatif lintas generasi. Oleh karena itu, perancangan Creative Hub berbasis flexibility space ini dilakukan sebagai upaya menjawab kebutuhan ruang yang mampu mengakomodasi aktivitas kerja, kolaborasi, dan pengembangan secara terpadu. Tujuan perancangan  ini adalah menciptakan  ruang multifungsi  yang fleksibel dengan mempertimbangkan preferensi dan gaya kerja  antar  generasi, serta  mendukung pertumbuhan komunitas industri kreatif di Surabaya. Pendekatan yang digunakan adalah flexibility  space dengan metode  desain pragmatis  berbasis  predictive  modelling  yang memfokuskan pada kemampuan ruang untuk beradaptasi secara fisik maupun fungsional terhadap kebutuhan  pengguna.  Solusi utama dalam perancangan mencakup integrasi ruang dalam dan luar, penggunaan partisi fleksibel, elemen modular, serta pengolahan massa  bangunan  yang responsif  terhadap  tapak.  Hasil perancangan menunjukkan penerapan prinsip fleksibilitas dalam skala arsitektural mampu menciptakan ruang adaptif dan produktif serta menjawab tantangan perubahan zaman. Kesimpulan dari perancangan ini menegaskan bahwa Creative Hub yang dirancang secara fleksibel menjadi katalisator pertumbuhan industri kreatif, memperkuat kolaborasi antar sektor, serta berkontribusi pada penguatan identitas Surabaya sebagai kota inovatif . Kata kunci: Creative Hub, flexibility space, adaptasi generasi, desain pragmatis   The development of generational characteristics continues to change due to social and technological dynamics demanding a flexible space. Surabaya, as one of the creative cities with high potential in the creative industry sector, does not yet have a centralized platform that specifically supports cross- generational creative activities. Therefore, the design of Creative Hub based on flexibility space is carried out as an effort to answer the need for space that is able to accommodate work activities, collaboration, and development in an integrated manner. The purpose of this design is to create a flexible multifunctional space by considering preferences and work styles between generations, as well as supporting the growth of the creative industry community in Surabaya. The approach used is flexibility space with a pragmatic design method based on predictive modeling that focuses on the ability of space to adapt physically and functionally to user needs. The main solutions in the design include the integration of indoor and outdoor spaces, the use of flexible partitions, modular elements, and the processing of building masses that are responsive to the site. The design results show that the application of the principle of flexibility on an architectural scale is able to create adaptive and productive spaces and answer the challenges of changing times. The conclusion of this design confirms that a flexibly designed Creative Hub catalyzes the growth of the creative industry, strengthens collaboration between sectors, and becomes a hub for the creative industry. Keywords: Creative Hub, flexibility space, generational adaptation, pragmatic
Pengaruh Pola Arsitektur Biofilik Terhadap Kualitas Hidup Taman Kota (Studi Kasus: Tebet Eco Park) Annisa Daffa; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An urban park is an open area that functions socially and aesthetically in urban level. The design approach in designing an urban park is chosen based on its ability to integrate natural elements that can improve the health and well-being of users. The application of biophilic design to urban parks contributes to physical and mental health, as well as improving the quality of life of urban communities. This study aims to see the application of biophilic patterns in Tebet Eco Park and its influence on the dimensions of quality of life. This study uses a quantitative method consisting of visual analysis and Importance-Performance Analysis (IPA) in the form of a questionnaire. The results of the visual analysis showed that biophilic patterns were applied to several components of the park and the questionnaire showed that biophilic patterns were spread across three IPA quadrants.   Keyword: Urban Park, Biophilic Patterns, Quality of Life, Importance-Performance Analysis.
Perancangan Stasiun Kereta Cepat Terintegrasi Sebagai Rencana TOD Dengan Pendekatan Wayfinding di Sidoarjo Kamemy, Iman Maizan; Sufianto, Heru
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan infrastruktur transportasi umum yang semakin meningkat sebagai penunjang perkembangan ekonomi pada kawasan industri Indonesia dalam kemudahan mobilitas masyarakat secara efisien. Salah satu tranpsortasi umum tersebut adalah stasiun kereta cepat, dimana dapat mengintegrasikan pada aspek ekonomi dan sosial serta melayani mobilitas penumpang pada koridor antarkota metropolitan (Presiden Republik Indonesia, 2020). Kebutuhan untuk perluasan infrastruktur transportasi umum antar kota tekhusus Jakarta-Surabaya dan sekitarnya sebagai salah dua kota metropolitan Pulau Jawa perlu diperhatikan dan ditingkatkan. pada Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024. Perancangan berfokus dalam menyelesaikan permasalahan desain yang sering terjadi pada transportasi publik yang ada di Indonesia, Pada beberapa studi kasus pada stasiun kereta api di Indonesia, tidak tersedianya informasi angkutan lanjutan dan titik kumpul evakuasi yang difungsikan menjadi lahan parkir kendaraan bermotor menjadi beberapa poin penting dari permasalahan pada Stasiun Tigakarsa (Aulia & Setyadi, 2022). Dan Tentunya dalam pada Peraturan Presiden Republik Indonesia No 18 Tahun 2020 dicantumkan bahwa salah satu manfaat dalam pembangunan kereta api berkecepatan tinggi adalah mendorong pengembangan TOD sekitar stasiun. Dengan adanya hasil perancangan ini adalah konsep stasiun yang tidak hanya berperan sebagai tempat integrasi transportasi, tetapi didukung juga dengan elemen-elemen wayfinding seperti signage, orientasi visual, dan penanda kawasan. Dengan demikian, stasiun ini diharapkan dapat mendukung mobilitas yang efisien, ramah pengguna, serta mendorong pengembangan kawasan TOD di Sidoarjo secara lebih berkelanjutan.   Kata kunci: Stasiun, Kereta Cepat, Wayfinding, Transit Oriented Development   The increasing development of public transportation infrastructure serves as a driving force for economic growth, particularly in industrial areas of Indonesia, by facilitating efficient community mobility. One of the key modes of transportation is the high-speed railway station, which plays a role in integrating economic and social aspects while serving intercity passenger mobility along metropolitan corridors (President of the Republic of Indonesia, 2020). The need to expand intercity public transportation infrastructure, especially in the Jakarta–Surabaya corridor—two major metropolitan areas on the island of Java—requires special attention and improvement, as stated in Presidential Regulation No. 18 of 2020 concerning the National Medium-Term Development Plan for 2020–2024. This design focuses on addressing common problems in Indonesia's public transportation facilities. Several case studies of railway stations in Indonesia show recurring issues, such as the lack of information regarding connecting transport services and the misuse of evacuation assembly points as parking lots, as seen at Tigaraksa Station (Aulia & Setyadi, 2022). Moreover, Presidential Regulation No. 18 of 2020 emphasizes that one of the benefits of developing high-speed rail infrastructure is to promote the implementation of Transit Oriented Development (TOD) in areas surrounding the stations. The result of this design proposes a station concept that not only functions as an integrated transportation hub but is also supported by wayfinding elements such as signage, visual orientation points, and area markers. Therefore, the station is expected to support efficient, user-friendly mobility while encouraging the sustainable development of TOD in the Sidoarjo area.   Keywords: Train Station, Transit Oriented Development (TOD), Wayfinding, High-speed Train
SURABAYA WATERFRONT : FISHPERIENCE DENGAN PENDEKATAN SUSTAINABLE ARCHITECTURE Krisandika, Patricia Irdy
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SURABAYA WATERFRONT : FISHPERIENCE DENGAN PENDEKATAN SUSTAINABLE ARCHITECTURE   Patricia Irdy Krisandika, Muhammad Satya Adhitama   Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Alamat email penulis: patriciairdy21@student.ub.ac.id   ABSTRAK     Kota Surabaya memiliki potensi besar dalam pengembangan kawasan pesisisr, khususnya di wilayah Kenjeran yang dikenal sebagai sentra perikanan dan terhubung dengan destinasi wisata seperti KenPark, Pantai Kenjeran Lama, dan Jembatan Suroboyo. Sayangnya, kawasan ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang publik edukatif dan berkelanjutan. Rendahnya literasi masyarakat terhadap perikanan dan kurangnya fasilitas interaktif menjadi latar belakang dalam perancangan Surabaya Fishperience Waterfront sebagai kawasan wisata edukatif yang mengususng konsep pengalaman langsung di bidang perikanan. Perancangan ini menggunakan pendekatan Sustainable Architecture dengan strategi yang mencakup desain selaras dengan alam, pelibatan komunitas lokal, serta penguatan identias kawasan pesisir. Fasilitas utama meliputi aquascapes, fish feeding, touch tank, sketch aquarium, restoran seafood, market, dan workshop kerajinan kulit kerang. Selain sebagai tempat wisata dan edukasi, kawasan ini dirancang sebagai penghubung antara destinasi pesisir sekitarnya, menciptakan sistem ruang yang terintegrasi secara ekologis, ekonomis, dan sosial. Hasil rancangan ini diharapkan mampu menciptakan destinasi yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelestarian ekosistem perikanan secara berkelanjutan.   Kata kunci: Kenjeran, perikanan, wisata edukatif, arsitektur keberlanjutan   ABSTRACT   Surabaya has significant potential for coastal development, particularly in the Kenjeran area, which is known as a fisheries hub and is directly connected to major tourist attractions such as KenPark, Old Kenjeran Beach, and the Suroboyo Bridge. However, the area has not been fully utilized as an educational and sustainable public space. Low public literacy in fisheries and the lack of interactive facilities serve as the basis for designing the Surabaya Fishperience Waterfront, a tourism area focused on experiential learning in the field of fisheries. This project adopts a Sustainable Architecture approach through strategies such as environmentally responsive design, local community involvement, and strengthening the coastal identity. Main facilities include aquascapes, fish feeding areas, touch tanks, sketch aquariums, seafood restaurants, processed fish product markets, and shell craft workshops. In addition to serving as an educational and recreational destination, the area is also designed to connect surrounding coastal attractions, creating a spatial system that is ecologically, economically, and socially integrated. The proposed design aims not only to offer a new and visually engaging destination but also to function as a public learning space that encourages community involvement in the sustainable preservation of marine and fishery ecosystems.   Keywords: Kenjeran, fisheries, educational tourism, sustainable architecture          
Pengaruh Pola Arsitektur Biofilik terhadap Kualitas Hidup Taman Kota Studi Kasus: Taman Literasi Martha Christina Tiahahu Boediono, Nadila; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jakarta merupakan kota dengan tingkat urbanisasi tinggi yang membuat banyak masyarakatnya menjalani pola hidup cepat (fast-paced). Kondisi ini berdampak kurang baik bagi kesehatan fisik dan mental, terlebih lagi ditambah dengan kualitas udara yang buruk serta minimnya ruang terbuka hijau (RTH) yang belum mencapai 30% sesuai ketentuan undang-undang. Desain biofilik menjadi salah satu pendekatan yang dapat menjadi solusi dari permasalahan ini. Desain biofilik menggabungkan elemen-elemen alam ke dalam lingkungan buatan untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan penggunanya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, metode yang digunakan merupakan analisis visual dan juga Importance Performance Analysis (IPA). Fokus studi dilakukan pada Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, dengan pengumpulan data dilakukan pada siang hari dan sore hari. Dari hasil analisis visual menunjukkan bahwa elemen terbuka dan alami lebih optimal dibanding elemen yang tertutup atau statis. Sedangkan, pada hasil IPA menunjukkan bahwa sebagian besar pola biofilik sudah hadir secara fungsional di taman, namun masih diperlukan peningkatan dalam penerapannya agar menciptakan ruang publik yang lebih nyaman, sehat, dan sesuai harapan masyarakat.    Kata kunci: Jakarta, Ruang Terbuka Hijau, Kesehatan Fisik dan Mental, Biofilik, Taman Literasi, Importance Performance Analysis, Analisis Visual
Neo-Gothic Architectural Style at Hati Kudus Yesus Church in Malang City Manalu, Citra; Ema Yunita Titisari
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hati Kudus Yesus or Kayutangan Church is a colonial building in Kayutangan historical tourism area of ??Malang City which is the only building for worship with a distinctive architectural style, namely Neo-Gothic. This study aim to reveal the significance and application of Neo-Gothic architectural style in the church. In addition, this study also reveals the meaning contained in Neo-Gothic architectural elements which have never been discussed in depth by previous studies. Literature review was conducted to formulate characteristics of each Neo-Gothic unit observation, sign’s classification based on objects, and the meaning of Neo-Gothic as church architecture. Field data were obtained through triangulation process, namely observation, interviews, and documentation. Results show that Kayutangan Church has a significant Neo-Gothic architectural identity because it meets 69% of all characteristics standards that focus more on visual and symbolic applications than structural and spatial applications. Religious symbolism is the most dominant meaning in the church’s architectural elements and is most visible in elements with symbolic sign types. Analysis through three stages produce formulation of appropriate preservation actions for Neo-Gothic architectural elements that include aspects that can be changed and cannot be changed as well as the extent to which preservation efforts can be carried out. Keywords: Kayutangan church, Neo-Gothic, meaning, sign
Pengaruh Arsitektur Bioklimatik terhadap Kenyamanan Suhu pada Masjid Lego Sidoarjo Saniya, Adila Hanoon
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan menyumbang 40% konsumsi energi terbesar dunia yang sebagian besar disumbangkan oleh Air Conditioner (AC). Di tengah kondisi tersebut, Masjid Lego yang terletak di Sidoarjo hadir sebagai representasi bangunan  yang  mengusung  prinsip  arsitektur  bioklimatik.  Masjid  ini mengedepankan  desain  yang  mempertimbangkan  kondisi  iklim  setempat. Masjid  dengan  karakteristik  dinding  dari  roster  ini  didesain  tanpa menggunakan AC dan mengandalkan ventilasi silang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh arsitektur bioklimatik terhadap kenyamanan suhu dan persepsi  kenyamanan  pengunjung  terhadap  suhu  udara  dalam  bangunan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif-kuantitatif dengan metode  analisis  deskriptif,  evaluatif,  dan  komparatif.  Pengambilan  data didapatkan  melalui  observasi  visual  terkait  prinsip  desain  bioklimatik, pengukuran suhu permukaan, suhu udara dan wawancara terstruktur kepada pengguna objek penelitian. Hasil observasi menunjukkan bahwa Masjid Lego menerapkan  seluruh  komponen  arsitektur  bioklimatik.  Sedangkan,  hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata hasil pengukuran masuk dalam kategori nyaman. Meskipun belum maksimal, setidaknya Masjid Lego dapat menurunkan suhu hingga 0,6°C. Responden juga menyatakan merasa nyaman ketika berada dalam Masjid Lego. Kata kunci: Bioklimatik, kinerja roster, kenyamanan suhu, Masjid Lego Buildings contribute 40% of the world's largest energy consumption, mostly due to Air Conditioners (AC). In the midst of these conditions, the Lego Mosque located in Sidoarjo stands as a representation of a building that embraces the principles of  bioclimatic  architecture.  This  mosque  prioritizes  a  design  that  takes  into account the local climate conditions. This mosque, characterized by its roster walls, was designed without using air conditioning and relies on cross ventilation. This  study  aims  to  determine  the  impact  of  bioclimatic  architecture  on temperature comfort and visitors' perception of air temperature comfort within the  building.  The  research  was  conducted  using  a  qualitative-quantitative approach with descriptive, evaluative, and comparative analysis methods. Data collection was obtained through visual observation related to bioclimatic design principles, surface temperature measurements, air temperature, and structured interviews with users of the research object. The results of the observation show that the Lego Mosque implements all components of bioclimatic architecture. Meanwhile, the measurement results indicate that the average results fall into the comfortable category. Although it is not yet optimal, at least Lego Mosque can lower the temperature by up to 0.6°C. Respondents also stated that they felt comfortable when in the Lego Mosque. Keywords: Bioclimatic, roster performance, temperature comfort, Lego Mosque 
Perancangan Malang Productive Zone dengan Pendekatan Active Living untuk Meningkatkan Aktivitas Gerak Penggunanya Hangayomi, Aurelia Rayya; Asikin, Damayanti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Malang, yang terletak di Jawa Timur, memiliki populasi sebesar 847.182 orang pada tahun 2023 dengan mayoritas penduduknya berada dalam rentang usia produktif 20-39 tahun. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi kota yang mencapai 6,07% pada tahun 2023. Penduduk kota ini sebagian besar terlibat dalam aktivitas produktif seperti bekerja dan belajar, termasuk di ruang kerja bersama (co-working space). Digitalisasi juga mempengaruhi aktivitas kerja dan belajar, dengan meningkatnya produk digital dan kerja jarak jauh atau hybrid. Namun, aktivitas ini memiliki dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental serta kesejahteraan secara keseluruhan. Ada dua penyakit degeneratif di kota ini, yaitu Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi yang mempengaruhi kondisi kesehatan penduduk. Konsep active living diperlukan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik. Active Design Guidelines (ADG) diperkenalkan pada tahun 2010 untuk meningkatkan kualitas kesehatan kota. Untuk itu, ketersediaan sebuah zona yang mendukung produktivitas utamanya masyarakat usia produktif Kota Malang dengan desain yang membuat penggunanya tetap aktif bergerak diperlukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dilengkapi fasilitas untuk mendukung gaya hidup sehat pengunjungnya dengan metode strukturalisme.   Kata kunci: active living, co-working space, gaya hidup sehat, ruang produktif
Simbolisme Arsitektur pada Rumah Adat di Desa Horinara, Flores Timur Ina Nula, Nabilah A. R.
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam arsitektur, perwujudan dari budaya tampak melalui simbol-simbol. Simbolisme yang ada pada ada pada rumah adat cara masyarakat Nusantara mewariskan budaya, tradisi dan pandangan hidup mereka kepada generasi berikutnya secara nonverbal. Suku Lamaholot merupakan salah satu suku di Indonesia yang mempunyai keberagaman budaya yang tercermin dalam simbolisme arsitektur rumah adatnya, seperti yang terlihat pada Desa Horinara. Sayangnya, penelitian mengenai arsitektur rumah adat ini tidak ditemukan, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui simbolisme arsitektur pada rumah adat di Desa Horinara. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teori semiotika yang digunakan adalah sintaksis (untuk melihat struktur dan hubungan antar elemen fisik bangunan) dan pragmatik (untuk melihat bangunan digunakan, direspon dan dimakanai oleh penggunanya). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sintaksis massa, ruang, fungsi dan konstruksi pada rumah adat  memiliki keterikatan dengan pragmatiknya dan menghasilkan simbolisme arsitektur. Penelitian ini mendukung pelestarian arsitektur tradisional dengan berfokus pada simbolisme pada setiap elemem bangunan, sehingga dapat menjadi reverensi dalam upaya konservasi budaya dan arsitektur lokal di Flores Timur dan kawasan serupa.