Articles
1,492 Documents
Optimalisasi Pelayanan Pasca Kelahiran/ Neonatal Pada Desain Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kelas A di Kabupaten Lumajang
Anita Galuh Yuniar Kusumastuti;
Subhan Ramdlani;
Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1424.82 KB)
Upaya kesehatan bagi ibu dan anak perlu mendapatkan perhatian utama. Beberapa indikator digunakan untuk mengukur status kesehatan ibu dan anak. Indonesia masih tertinggal dalam hal kesehatan ibu anak, terlihat dari capaian angka yang masih tinggi jika dibandingkan dengan negara di ASEAN. Salah satu penyebabnya adalah tingginya angka kematian pada masa neonatal. Banyaknya jumlah penduduk yang menjalani Umur Perkawinan Pertama (UKP) di bawah 20 tahun sangat mempengaruhi tingginya Angka Kematian Neonatal. Di Jawa Timur, Kabupaten Lumajang termasuk dalam prosentase tinggi UKP di bawah 20 tahun. Upaya pencegahan UKP yang tinggi dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan jangka panjang dan tindakan penanganan bagi usia muda yang telah menikah. Hal ini dilakukan dengan cara pelatihan (perawatan ibu dan bayi pasca melahirkan) dalam fasilitas ibu dan anak yang saling terintegrasi yaitu RSIA. Kabupaten Lumajang belum memiliki RSIA dan jumlah kebutuhan tempat tidur yang masih kurang. Pendirian RSIA perlu direncanakan karena pengembangan sarana kesehatan telah diatur dalam Kebijakan Pemerintah Kabupaten Lumajang yaitu Rencana Teknis Ruang Kawasan (RTRK) tahun 2014-2015 dan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Lumajang tahun 2012-2032 dalam hal penentuan lokasi pengembangan rumah sakit. RSIA yang dirancang tentunya harus dapat mengoptimalkan pelayanan pasca kelahiran (neonatal).Kata kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Optimalisasi, Neonatal
Karakter Spasial dan Visual pada Bangunan Gedung Juang 45 Bekasi Jawa Barat
Dewa Gde Agung Wibawa;
Antariksa Antariksa;
Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1158.094 KB)
Beberapa bangunan masih berdiri dan berfungsi dari peninggalan kolonial Belanda di Bekasi adalah Gedung Juang 45 Bekasi. Bangunan ini masih memiliki keaslian bentuk dan fasade bangunan dari sejak pertama kali dibangun hingga saat ini. Perubahan fungsi yang terjadi pada bangunan Gedung Juang 45 Bekasi ini mempengaruhi aspek spasial maupun visual yang ada pada bangunan. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui karakter spasial dan visual dari bangunan Gedung Juang 45 Bekasi Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan langkah mendekripsikan elemen-elemen spasial dan visual bangunan dan menganalisisnya sehingga dapat disimpulkan karakter spasial dan visual bangunan. Karakter visual yang ditunjukkan oleh Gedung Juang 45 Bekasi adalah langgam Indische Empire Style. Penggunaan jendela dan pintu dengan ukuran berskala besar pada fasade bangunan menggambarkan bangunan milik penguasa yang ingin membuat bangunannya lebih monumental dari yang lain.Kata Kunci: Karakter Spasial, Karakter Visual, Bangunan kolonial Belanda
Karakteristik Spasial dan Visual Balaikota Madiun (Eks Raadhuis Madioen)
Vicky Rizaldi;
Antariksa Antariksa;
Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1157.594 KB)
Bangunan pemerintahan Balai Kota Madiun merupakan bangunan bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun oleh biro konsultan arsitektur Fermont dan Eduard Cuypers yang proses pembangunannya dimulai pada tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1930. Langgam arsitektur Balai Kota Madiun bercirikan Nieuwe Bouwen yang terinspirasi oleh aliran International Style dan mengadopsi karakter arsitektur lokal. Penelitian ini fokus pada pembahasan mengenai karakteristik spasial dan karakteristik visual. Dari segi spasial, denah bangunan terdiri dari keseimbangan asimetris yang didominasi oleh bentukan geometri sederhana, court sebagai elemen bentukan void ditempatkan di tengah bangunan Keunikan dari karakteristik visual ditunjukkan melalui peletakan tower dekat pintu masuk utama, peletakan portico di depan porch pintu masuk utama, fasade bangunan yang didominasi warna putih. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang fokus pada pendekatan historis dan metode analisis kualitatif yang fokus pada observasi bangunan.Kata kunci: Madiun, Balai Kota, karakteristik spasial, karakteristik visual
Optimalisasi Kenyamanan Akustik Ruang pada JX International Surabaya
Alfa Nanda Ramadhan;
M. Satya Adhitama;
Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1192.299 KB)
Bangunan multifungsi merupakan salah satu fasilitas umum untuk mengadakan aktifitas yang berhubungan dengan percakapan dan musik. Kualitas kenyamanan akustik ruang merupakan salah satu hal utama yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bangunan multifungsi, karena hal tersebut memiliki pengaruh besar dalam menentukan keberhasilan sebuah aktifitas yang ditampung didalamnya. JX International merupakan salah satu penyedia fasilitas multifungsi di Surabaya yang didominasi oleh penggunaan hard material. Penggunaan hard material yang terlalu banyak berpotensi menimbulkan cacat akustik seperti gema dan dengung ruang di dalamnya. Penggunaan metode iso-akustik dan pensimulasian menggunakan Ecotect Analysis untuk mengetahui fenomena cacat akustik yang ada di dalam ruang sehingga dapat ditentukan kriteria rekomendasi desain acoustic treatment sebagai langkah pengoptimasian kualitas akustik ruang di JX International Surabaya. Strategi yang digunakan antara lain dengan meneliti fenomena akustik ruang yang terjadi dengan menggunakan grafik noise mapping, penggunaan material, dan permukaan bidang yang dapat mempengaruhi sifat fenomena bunyi dalam ruang sehingga dapat memunculkan kriteria rekomendasi desain secara tentative yang sesuai dengan nilai standar RT60 (reverberation time) sebagai upaya optimalisasi akustik ruang di JX International Surabaya.Kata kunci: akustik ruang, noise mapping, multifungsi, Ecotect Analysis, acoustics treatment, reverberation time
Morfologi Ruang Taman Jayengrono pada Kawasan Kota Lama Surabaya
Indah Ciptaning Widi;
Subhan Ramdlani;
Lisa Dwi Wulandari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (922.715 KB)
Surabaya sebagai Kota Hijau memiliki banyak taman kota yang tersebar di banyak kawasan. Salah satu taman kota yang merupakan taman tertua di Surabaya yakni Taman Jayengrono berada di kawasan Kota Lama. Taman seluas 5.300 m² tersebut telah mengalami perubahan ruang dari wajah sebelumnya. Namun dengan fungsi lahan yang tetap sama yakni peruntukkan sebagai ruang terbuka. Tepat pada tahun 2012, Pemerintah Kota Surabaya meresmikan Taman Jayengrono dengan memberi predikat sebagai memorial park. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi ruang pada Taman Jayengrono pada saat ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik berdasarkan teori tentang morfologi ruang terbuka beserta isi elemen lansekap oleh Hakim.(2012). Variabel yang dikaji meliputi elemen-elemen lansekap pembentuk ruang taman seperti garis, bidang, macam ruang, sirkulasi ruang, elemen desain serta aktivitas baik di dalam maupun di sekitar Taman Jayengrono. Kesimpulan yang didapatkan adalah bahwa masing-masing elemen taman menonjolkan karakter ruang yang tegas, kokoh, kaku, namun tetap dinamis. Begitu juga hubungan antara morfologi dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya memperlihatkan bahwa morfologi ruang Taman Jayengrono mampu menyesuaikan bermacam aktivitas bahkan memberi wadah lebih fungsional.Kata kunci : morfologi, ruang terbuka, taman, lansekap
Penerapan Konsep Healing Garden Pada Pusat Rehabilitasi Narkoba di Batu
Jhon Andrew Hasudungan;
Jenny Ernawati;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1498.496 KB)
Narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya) sangat pesat perkembangannya di seluruh negara, negara indonesia termasuk dalam kategori yang pesat dalam perkembangan penggunaan narkoba setiap tahunnya. Kenaikan angka pengguna narkoba negara indonesia tidak tinggal diam, dengan alasan tersebut harus adanya fungsi fasilitas yaitu pusat rehabilitasi narkoba, yang dapat memulihkan kondisi pecandu narkoba dalam hal fisik, mental, psikologis, medis dan sosial. Pusat rehabilitasi narkoba merupakan sebuah lingkungan penyembuhan yang desain nya memiliki tujuan untuk mempercepat proses penyembuhan dan memberikan pelayanan bagi pecandu narkoba. Bangunan pusat rehabilitasi narkoba harus mendukung keadaan psikologis dan emosional para penderita narkoba untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Berdasarkan perilaku pecandu Narkoba dan kebutuhan dari rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, pengguna narkoba dapat dikategorikan sebagai pasien yang sedang mengidap suatu penyakit (fisik & psikis) fasilitas yang diberikan kepada pasien harus seimbang antara fasilitas medis maupun kebutuhan untuk psikis pasien. Menciptakan suatu pengobatan yang optimal dari fasilitas-fasilitas dari bangunan rehabilitasi narkoba tersebut seperti bagian luar bangunan yang dapat berperan untuk membantu dalam proses penyembuhan, seperti menambahkan fasilitas Healing Garden. Penerapan ruang luar dengan konsep healing garden dikarenakan, manfaatnya lebih berkaitan bahwa taman ini dapat terintegrasi dengan kesehatan dan suatu kegiatan yang dapat membantu suatu proses penyembuhan seseorang.Kata kunci : Healing garden, Pusat rehabilitasi narkoba
Penerapan Konsep Ruang Luar Pada Desain Community Center di Kota Tangerang Selatan
Juniawan Adhari;
Jenny Ernawati;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (596.872 KB)
Pusat kegiatan masyarakat atau biasa disebut Community Center merupakan tempat kegiatanmasyarakat yang mewadahi berbagai macam kegiatan masyarakat suatu wilayah. CommunityCenter di kecamatan Pondok Aren, merespon kondisi jumlah penduduk yang sangat tinggi danminimnya ruang luar untuk publik di Tangerang Selatan. Sehingga Community Center dikecamatan Pondok Aren dirancang sebagai ruang luar publik yang mewadahi berbagai aktivitasmasyarakat, kedalam tiga fungsi utama yaitu fungsi olahraga, fungsi komunitas dan fungsikesenian & kebudayaan . Banyaknya jumlah ruang luar yang memiliki fungsi dan aktivitastertentu, dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara fungsi dan aktivitas pada ruang luar yangdapat membuat fungsi dari ruang luar tidak dapat berfungsi dengan baik. Penerapan konsepruang luar diperlukan untuk menghasilkan kesatuan perancangan ruang luar yang baik, yaitu darisisi desain maupun kesesuaian konsep dan aktivitas pada ruang luar tersebut. Penggunaankonsep pembentukan ruang luar spatial impact, digunakan sebagai konsep masing-masing ruangluar pada Community Center. Penggunaan konsep spatial impact untuk kegiatan yang aktifdigunakan untuk ruang luar pada zona olahraga, konsep spatial impact kegiatan komunal dansosial digunakan pada zona komunitas dan konsep spatial impact untuk kegiatan hiburan danpertunjukan digunakan pada ruang luar pada zona kesenian.Kata kunci: ruang luar, konsep, Pondok Aren, spatial impact, community center
Sambungan dan Material Konstruksi Bangunan Tradisional Uma Jompa di Desa Maria, Kabupaten Bima
Tsalats Falaqie Chandra No Hikari;
Antariksa Antariksa;
Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1168.068 KB)
Uma Jompa yang berada di Kabupaten Bima keberadaannya semakin sedikit. Bangunan yang memiliki peran penting dalam masyarakat Bima ini berfungsi sebagai lumbung padi, keberadaannya diketahui telah ada sebelum Islam datang ke Sumbawa (1620 M). Uma Jompa berada di sekitar gunung api aktif dan patahan kerak bumi yang diketahui berpotensi tinggi adanya gempa. Hal ini menjadi sebuah ketertarikan dalam penelitian yang bertujuan mengkaji bentuk sambungan konstruksi pada Uma Jompa. Selain itu hubungannya juga dengan jenis material yang digunakan dalam pembangunan Uma Jompa yang secara umum menggunakan material kayu. Penggunaan kayu sebagai material bangunan dan teknik sambungan tradisional menggunakan wole (pasak) dan purus-lubang menjadi jawaban dari ketahanan bangunan Uma Jompa. Pemilihan jenis material, cara pemasangan, hingga dimensi konstruksi dengan ukuran bangunan memiliki kecocokan sehingga bangunan dapat berdiri hingga ratusan tahun lamanya. Lokasi penelitian berada di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.Kata kunci: Uma Jompa, Sambungan Tradisional, Material Konstruksi, Konstruksi Tradisional, Konstruksi Kayu, Arsitektur Nusantara
Pengoptimalan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Pada Komplek Hutan Kota Velodrom Sawojajar
Salman Al Farisi;
Subhan Ramdlani;
Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1042.549 KB)
Pembangunan diberbagai sektor merusak fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan, penurunan kualitas lingkungan Kota tersebut terjadi akibat ketidakseimbangan antara lingkungan terbangun (binaan) dengan lingkungan perlindungan (alam) pada komplek hutan Kota Velodrom Sawojajar, sehingga kualitas lingkungan tidak terjaga seoptimal mungkin, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi RTH berdasarkan variabel dan kriteria pengoptimalan fungsi RTH. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis pada objek penelitian menggunakan pendekatan kebutuhan RTH yang dijadikan variabel penelitian dan kriteria dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, peraturan dan penelitian terdahulu yang terkait pengoptimalan fungsi RTH. Hasil dari analisis tersebut kemudian di sintesis sehingga menghasilkan rekomendasi awal berupa pengoptimalan pada ke empat variabel kebutuhan RTH yakni: daya dukung ekosistem yang mencangkup penggunaan lahan, pengaplikasian parking lot dan penerapan drainase, pengendalian gas berbahaya dari kendaraan bermotor yang mencangkup pohon penyerap timbel dan karbon dioksida, pengamanan lingkungan hidrologis yang mencangkup penerapan kenaikan sirkulasi dari permukaan tanah, pengaplikasian biopori dan variabel yang terakhir adalah pengendalian suhu udara yang mencangkup pengoptimalan patio dan pengaplikasian green roof. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi awal pada tiap variabel dan kriteria yang telah diolah pada tahap sebelumnya.Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, Hutan kota, Pengoptimalan ruang terbuka hijau.
Pengembangan Fasilitas Wisata Taman Hiburan Pantai Kenjeran Surabaya Dengan Konsep Waterfront
Rahmat Sepa Indrawan;
Herry Santosa;
Sri Utami
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1047.234 KB)
Surabaya sebagai salah satu kota metropolis tidak banyak memiliki objek wisata yang dapat diandalkan. Seperti halnya Taman Hiburan Pantai Kenjeran dan Kebun Binatang Surabaya 2 objek wisata tersebut kian lama ditinggalkan Karena tidak terawat dan kurangnya fasilitas yang memadahi. Pemkot Surabaya sudah memiliki rencana akan menata ulang dan mengembangkan outlet tujuanb wisata tersebut. Rencana pengembangan induk pariwisata kota Surabaya (BAPPEKO) telah mencantumkan wisata yang perlu dikembangkan termasuk dalam wisata-wisata yang diunggulkan seperti Taman Hiburan Pantai Kenjeran yang berada pada Kecamatan Tambak Wedi pengembangan unit 3. Rencana pengembangan Taman Hiburan Pantai Kenjeran sekarang memasuki tahap dimana jembatan atau jalan pintas yang melewati sudah selesai dibangun dan telah digunakan. Selain adanya rencana pengembangan kawasan strategis Kaki Jembatan Suramadu hingga Pantai Kenjeran, terdapat rencana Masterplan pengembangan Kawasan Pantai Kenjeran yang telah dibuat oleh Pemkot Surabaya tahun 2016. Proses perancangan Taman Hiburan Pantai Kenjeran diawali dengan tahap evaluasi. Evaluasi kondisi Taman Hiburan Pantai Kenjeran yang di lintasi Jembatan Surabaya ini bertujuan untuk mengetahui fasilitas yang ada (eksisting) sekaligus melihat atau mengidentifikasi potensi yang ada. Dikarenakan posisi atau objek wisata yang berbatasan dengan air atau pantai, maka wisata Taman Hiburan Pantai Kenjeran ini dikembangkan dengan konsep wisata tepi air (waterfront) agar dapat mengoptimalkan potensi fasilitas wisata yang berkaitan dengan lingkungan tepi air.. Tahap ke dua yaitu mengevaluasi masterplan Taman Hiburan Pantai Kenjeran yang telah dibuat oleh pemkot. Studi evaluasi masterplan Kenjeran menggunakan aspek waterfront.Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Analisa dan sintesa, diawali dengan melakukan evaluasi eksternal dan internal pada Taman Hiburan Pantai Kenjeran, kemudian studi evaluasi masterplan kawasan. Pada tahap perancangan menggunakan kaidah aspek dominan waterfront. Kesimpulan yang didapat adalah Pengembangan fasilitas wisata Taman Hiburan Pantai Kenjeran merupakan suatu bentuk upaya meningkatkan fasilitas wisata kota Surabaya agar menjadi ODTW (Objek dan Daya Tarik Wisata). Menggunakan teori waterfront sebagai penunjang perancangan arsitektur tepi laut dan elemen-elemen di dalamnya merupakan sebuah patokan untuk merancang wisata yang berbatasan dengan tepian laut.Kata kunci : fasilitas wisata, wisata tepi air, pengembangan