cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
ADDIN
ISSN : 08540594     EISSN : -     DOI : -
ADDIN is an international journal published by Research Center of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Kudus, Central Java, Indonesia. ADDIN is an academic journal published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 442 Documents
Mengenal Pendidikan Multikultural Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Model Inklusi Dalam Pendidikan Islam *, Sulthon
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah hak semua warga Negara tanpa memandang setatus social, ras , etnis, suku, bangsa termasuk anak yang menyandang kecacatan. Dengan demikian anak berkelaianan juga memiliki hak yang sama dengan anak pada umumnya dalam kesempatan berpendidikan yang layak, sesuai dan bermartabat. Semua yang menyangkut aturan undang-undang sudah jelas dan terakomodir keberadaannya, namun dari segi pelaksanaannya masih banyak yang menyimpang dari aturan yang sesungguhnya. Pada kenyataanya anak berkelainan belum bisa mengikuti pendidikan yang leluasa karena tidak semua sekolah yang ada bisa melayaninya karena alasan-alasan klasik yang merugikan anak berkelainan. Sekolah yang memberikan pendidikan bagi anak ini masih bersifat apresiatif dan ironis sehingga perlu perjuangan yang berat menuju pendidikan yang benar-benar demokratis. Secara ideal dengan pendidikan yang terintegrasi berarti anak berkelainan dapat dilayani disekolah manapun mereka inginkan, termasuk memilih sekolah di madrasah. Karena madrasah akan menjadi pilihan bagi mereka karena baik orang tua maupun siswa anak berkelainan ini membutuhkan sentuhan-sentuhan yang berkenaan dengan penyadaran, keimanan, dan keikhasan. Pendekatan keagamaan secara fitrah menjadi bagian yang sangat berpengaruh dalam setiap kondisi dan situasi yang dihadapi manusia, karena pada hakekatnya manusia itu akan selalu menyatu dengan Tuhannya melalui pengembangan spiritualitasnya. Berbagai problem yang dihadapi anak berkelainan dan juga orang tuanya akibat kecacatan yang dideritanya menyebabkan timbulnya berbagai macam masalah yang mengirinya termasuk kesulitan belajar, bersosialisasi, dan kesulitan lain yang berkaitan dengan problem psikologis, yang kesemuanya dibutuhkan kekuatan dalam menghadapinya. Kata Kunci : Pendidikan, Multikultural, Inklusi, dan Islam
GLOBALISASI, BUDAYA LOKAL, DAN AGENDA MASYARAKAT MULTIKULTURAL Dewi, Siti Malaiha
ADDIN Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi merupakan tantangan berat bagi semua bangsa yang belum tertata rapi kondisi ekonomi, politik maupun kondisi sosial lainnya. Terutama bagi negara yang berlatar belakang plural, multi etnis dan agama, akan dengan mudah terancam disintegrasi yang dengan segera menjadikan permasalahan rumit bagi bangsa itu sendiri. Sebagaimana Indonesia, sebagai bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan berbagai macam agama maupun etnis yang berada di bawah naungnya. Anthony Giddens memberikan tiga point bagaimana Globalisasi berhasil merombak dunia, yakni push away, pull down dan squeeze side away. Dan yang perlu menjadi catatan penting berkenaan dengan tulisan ini adalah ketika Globalisasi melakukan push down (daya tekan ke bawah) yang memperluas jaringan komunikasi hingga menggerus budaya lokal dan menghilangkan identitas lokal menjadi satu budaya yaitu budaya global. Selain hujaman globalisasi tersebut, homogenisasi budaya juga dilakukan oleh Orde Baru melalui kebijakan formalisasi budaya dengan falsafah Taman Mini-nya. Walhasil, ada dikotomi “pusat - pinggiran”. Akibat proses dikotomi tersebut, masyarakat tidak terkonstruks menjadi dewasa akan perbedaan, dan konflik menjadi jalan penyelesaian atas persoalan. Maka sudah menjadi keharusan bagi warganya untuk memiliki pemahaman multikultural, pemahaman bahwa Indonesia adalah sebuah negeri dengan banyak bangsa dan kesadaran bahwa ada “yang lain” di luar kita. Kata Kunci : Globalisasi, Budaya Lokal, Multikultural
Membangun Sistem Distribusi Perspektif Ekonomi Islam Rahmawati, Anita
ADDIN Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distribution is one of human economic activity. As one economic activity, the distribution becomes important in the study area of the economy. Studies on the distribution of the positions of the theory of Islamic economics because the economic problems it is actually located on the distribution of goods and services in order to meet human needs, so the study was always draws attention to the Islamic economic thinkers as well as conventional economics today. Reality in society today shows that many of the injustice, inequality and distortion distribution of goods and services that result in scarcity, and the impact on prices of goods on the market. Looking at the above phenomena, this paper examine, and analyze the various problems distribution that many irregularities occurred in Indonesia, and at the end of this paper offers a distribution system in the economic perspective of Islam as the solution to the Islamic economy toward justice and prosperity. Keywords: Sistem distribusi, Perspektif Ekonomi Islam.
DAKWAH PADA MASYARAKAT MARGINAL DI KAMPUNG PECINAN ARGOPURO KUDUS *, Mubasyaroh
ADDIN Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam sebagai salah satu agama dakwah di dalamnya terdapat upaya oleh umatnya untuk menyebarluaskan isi kebenaran ajaran agamanya. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh da’i dalam aktifitas dakwahnya, seperti ceramah, nasehat, diskusi, bimbingan dan penyuluhan serta metode yang lain. Dalam hal ini Quraish Shihab mengingatkan bahwa metode apapun yang baik tidak menjamin keberhasilan suatu dakwah secara otomatis. Akan tetapi keberhasilan dakwah ditunjang oleh faktor-faktor yang lain diantaranya kepribadian da’i dan ketepatan pemilihan materi. 1 Demikian pula kegagalan da’i disebabkan karena ketidaktepatan pemilihan materi atau pemilihan metode yang kurang tepat dan keterbatasan da’i dalam pemilihan metode. Disamping itu kegagalan dakwah juga bisa disebabkan karena materi dakwah tidak sesuai dengan konteks (situasi dan kondisi) Islam merupakan agama yang universal, egaliter dan inklusif. Tiga konsep mendasar itulah yang memberikan nuansa lebih dibanding berbagai tradisi agama yang lain. Dari prinsip-prinsip fundamental itu, kemudian melahirkan nilai-nilai dogmatis yang bisa diejawantahkan dalam tradisi- tradisi demokratis, kosmopolit. dan pluralis: suatu ciri dari pola peradaban modern yang bervisi futuristik. Dakwah Islam dalam pelaksanaannya harus memperhatikan 1Quraish Shihab, Membumikan al-Quran dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, 1995, hlm.94 mad’u (sasaran dakwah) pada berbagai lapisan masyarakat, termasuk di dalamnya adalah pada masyarakat marginal yaitu suatu masyarakat dengan ciri-ciri diantaranya adalah hidup dalam garis kemiskinan, pekerjaan yang tidak menentu dan terisolasi atau hidup terpisah dari masyarakat luas. Kata Kunci: Dakwah Islam, Marginal, Metode Dakwah,Mauidhah Hasanah
ANALISIS ORANG SEBAGAI SUBYEK HUKUM DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERDATA Supriyadi, Ahmad
ADDIN Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang bagi hukum Islam merupakan subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban dalam kontek hukum muamalah. Tapi dalam kontek hukum ibadah, manusia sebagai subyek hukum yang mempunyai kewajiban saja dan tidak mempunyai hak. Orang bagi hukum perdata juga sebagai subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban sebagaimana diatur oleh UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Undang-Undang ini dijabarkan dari Pancasila sila pertama yang berbunyi Ketuhanan yang maha esa. Sila ini mendasari hubungan keterikatan bahwa kaedah agama harus menjadi dasar segala peraturan hukum yang berlaku di Indonesia. Bila di hubungkan dengan manusia sebagai subyek hukum, maka dasar ia sebagai subyek hukum juga harus didasarkan pada kaedah agama. Orang sebagai subyek hukum, baik dalam sosiologi Hukum Islam maupun dalam hukum perdata diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban. Karena itu ia berhak untuk berbuat hukum dan dianggap cakap berbuat hukum. Penyebutan orang dalam Islam disebut mukallaf yaitu orang yang dibebani kewajiban. Adapun sesorang itu dianggap subyek hukum Islam itu sejak ia balig dan dalam KUH Perdata semenjak telah cukup umur dan berakal. Hukum Islam tidak mensyaratkan umur sebagai patokan dalam menentukan ia cakap berbuat hukum atau tidak, tetapi cukup dengan kata balig. Adapun tentang badan hukum, Islam menyebutnya syarikat yaitu perkumpulan yang terdiri dari beberapa orang menyatu membentuk perkumpulan untuk memusyawarahkan permasalahan di masyarakat
PENGGUNAAN TEORI PERTUKARAN PETER M. BLAU DALAM MENGANALISIS PILKADES (STUDI KASUS DI DESA KARANGBENER ) Nuruddin, Muhammad
ADDIN Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dasarnya sebuah kehidupan di dunia tumbuh muncul karena adanya pertukaran antara keinginan individu dengan kehendak lingkungan masyarakat. Antara keduanya tentunya mempunyai peranan saling melengkapi bahkan membutuhkan. Dalam birokrasi umpamanya, titik pangkal pokok kajian teori ini, seorang staf perusahaan membutuhkan penghargaan dari perusahaan berupa upah dan hadiah lainnya. Demikian pula perusahaan memerlukan mereka untuk mengejar produksi sesuai target yang diharapkan. Teori pertukaran muncul dari akar sejarahnya yang dikemukakan oleh aliran behaviorisme. Istilah behaviorisme terkenal dalam dunia psikologi yang dikemukakan oleh seorang filosuf bernama John Lock pada abad 16 di Inggris, dan pada zaman modern dikembangkan oleh Homans ia menamakan Psikologi Sosial. Terori psikologi social sangat berpengaruh terhadap sosiologi perilaku dan pada akhirnya memberi terhadap teori pertukaran yang dikembangkan oleh Peter M. Blau dari Amerika. ( 1964). Pertukaran antar individu dengan lingkung sosial tidak terlepas dari interaksi social. Interaksi tampak mencolok jikalau terjadi perbenturan antara kepentingan individu dengan lingkungan. Sosiologi perilaku memusatkan kajian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang actor terhadap lingkungan. Hubungan ini adalah berkaitan dengan pengendalian operan (operant conditioning) atau proses belajar yang dengannya perilaku dapat diubah. (Baldwin and Baldwin: 1986). Perilaku menurut teori ini berasal dari lingkungan baik berupa lingkungan social maupun lingkungan fisik, semuanya akan berpengaruh terhadap dirinya di masa mendatang, baik yang bersifat positif maupun negative. Bila reaksi telah menguntungkan actor pelakunya maka kemungkinan besar akan diulang di masa selanjutnya, demikian juga sebaliknya apabila perilaku itu bersifat negative kecil kemungkinan akan terulang. Menurut teori ini perilaku yang dilakukan pada masa lalu akan menentukan terhadap perilaku pada masa kini. Dengan mengetahui faktor penyebab perilaku tertentu pada masa lalu, kita akan dapat memprediksi terhadap kejadian yang akan terjadi pada diri seseorang di masa kini. Menurut behaviorisme perilaku seseorang juga terkait dengan hadiah (stimulus) dan ongkos (punishman). Hadiah ditentukan oleh kemampuan dalam memperkuat perilaku, sedangkan biaya mengurangi kemungkinan perilaku. Aliran behaviorisme sangat berpengaruh terhadap teori pertukaran. (G. Ritzer : 2004; 356-7)
Urgensi Metode Visiting Area Dalam Pembelajaran Sejarah Rosyid, Mohammad
ADDIN Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengunjungi lokasi yang bernilai sejarah agar peserta didik tak jenuh sekaligus dijadikan metode pembelajaran sejarah (visiting area/VA) sangat bermanfaat bagi pemahaman pesan sejarah. Hal ini dengan dalih, mengurangi kebosanan peserta didik jika hanya belajar (sejarah) di kelas dan meyakinkan peserta didik bahwa peristiwa masa lalu benar-benar terjadi. Area yang dikunjungi dapat di museum, makam, atau lainnya. Hal ini perlu dilakukan dengan pertimbangan, berdasarkan temuan United States Agency for International Development (USAID), kurang lebih sepertiga pelajaran yang diobservasi di kelas jenjang tingkat dasar hingga perguruan tinggi (PT) masih didominasi model ceramah. Hal itu berdampak proses belajar tak berjalan kreatif, tak efektif, dan tak menyenangkan. Metode pembelajaran sejarah di sekolah harus diubah/disesuaikan jika tak inovatif agar lebih menyenangkan dan tak membosankan peserta didik. Siswa tak hanya menghafalkan isi buku teks sejarah dan tak memahami latar belakang sejarah tertentu. Mata pelajaran sejarah harus disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan dan tak harus secara konvensional di kelas. Metode pembelajaran meliputi pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran berpusat pada anak (Child-centered learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Berbekal fasilitas lembaga pendidikan berupa bus sekolah/kampus, laboratorium, lahan-ladang praktek, atau lainnya peserta didik dapat dengan mudah menggunakan fasilitas tersebut untuk menunjang proses pembelajaran. Di antara tempat yang ideal didatangi adalah museum. Hal yang dapat dipetik, peserta didik yakin dengan kebenaran peristiwa sejarah karena dapat membuktikan secara langsung peninggalan sejarah. Dengan metode “anjangsana dan praktek” diharapkan peserta didik tak jenuh dengan lingkungan monoton. Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah dan VA
FILM SEBAGAI MEDIA DAKWAH Zaini, Ahmad
ADDIN Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The mass media has a very important role to convey information to the public. Through printing and electronic media, one can more easily convey his message. One of the preferred electronic medium is movie. The movie as a mass communication tools, can be used as a medium to convey the dakwa message that calls for the truth and stepping foot in the way of Allah. And of course, as a medium of dakwa, the film has its own advantages compared with other media. The advantage of movie as a medium for dakwah since the movie has being audio visual. With the advantages of that, the movie can be an effective dakwa media, in which its message can be delivered to the audience smoothly and touch the recesses of their hearts unconciously. This is in line with the teachings of Allah that in order to communicate the messages, they should be done in the right word, which means that the messages are communicated properly, touching, and being long lasting in the heart. The power of film and its ability to reach many segments of the people, necessarily make the experts jump into the conclusion that the film potentially affects their audiences. The film gives a great influence on the human soul. In a process of watching a movie, there is a phenomenon called social psychology as a psychological identification. When the process of decoding occurs, the audience often equates or imitates all characteristics in the movie. The film goers can not only understand or feel an actor’s experiences but they also seemed to experience scenes in the movies. Keyword: film, dakwah
Study Al-Quran : Perspektif Muhammad Arkoun Itmam, Muhammad Shohibul
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merupakan fakta umum bahwa orang- orang yang sezaman dengan nabi Muhammad banyak dibentuk dan ditaklukkan oleh bentuk tunggal dimana firman Allah disampaikan oleh Muhammad. Muhammad menjadi figur sentral rujukan terhadap semua masalah yang dihadapi manusia saat itu dengan menjelaskan al- Qur’an sebagai sumber utama yang merupakan bahasa umat saat itu. Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan fenomena kehidupan, dewasa ini terjadi korelasi yang kohesif anatara ilmu dan penelitian sehingga keduanya tidak mungkin mampu dipisahkan. Kajian al-Qur’an yang sangat panjang dan luas dalam perkembangkannya bisa dikelompokkan dalam tiga dekade, kodifikasi teks, penerjemahan teks dan dekade upaya umat Islam dalam memahami teks tersebut. Dalam tiga dekade tersebut, Arkoun memposisikan diri pada kajian yang pertama dengan menguak proses pewahyuan al-Qur’an dari dzat maha absolut, Allah SWT kepada manusia yang serba terbatas dengan penjelasan teori ilmiah. Arkoun adalah seorang ilmuan, pemikir Islam yang sangat terkenal yang dilahirkan di negara Aljazair yang dilanjutkan pengembangan intlektual dan karirnya di negara Perancis. Pemikirannya yang cemerlang mengkombinasikan antara konsep- konsep filsafat dan teori ilmiah moderen termasuk kritiknya yang sangat tajam terhadap fenomena pewahyuan al-Qur’an. Gagasannya menjadikan al-Quran terbukti secara ilmiah dengan istilah “Nalar Islami dan Nalar Moderen”, yang mampu menyatukan fenomena global dengan peradaban Islam. Tulisan ini akan membahas pemikiran Arkoun, yang dilanjutkan dengan produk pemikirannya tentang pewahyuan al-Qur’an sampai menjadi kitab yang tertutup (Official Clossed Corpus). Kata Kunci: Study, al- Qur’an, Muh. Arqoun.
REVISITASI MULTIKULTURALISME DALAM PENANGANANAN TERORISME DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN INDONESIA Khamdan, Muh
ADDIN Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap manusia terlahirkan dalam keadaan yang suci. Keterbatasan berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang kiranya memiliki peran menjadikan adanya perubahan potensi menjadi buruk. Hal demikian tentu menjadi momentum narapidana teroris untuk membuat pengaruh terhadap penghuni lainnya dengan tampilan keberagamaan yang serius dan janji-janji surga atasnama jihad. Menggelandang terorisme seringkali membawa risiko pembinaan yang serius, baik sesama narapidana maupun petugas penjara. Resiko yang muncul bisa bervariasi dari pengaruh dogma keagamaan yang menggiurkan surga terhadap penghuni sehingga dimungkinkan terjadinya sel jaringan teroris baru, hingga ancaman teror karena adanya jaringan yang belum teridentifikasi di luar penjara. Jadi pembinaan menjadi sulit karena pemahaman keagamaan aparat penjara bisa didistorsi oleh narapidana teroris yang memiliki retorika buaian surga. Narapidana teroris adalah orang yang sudah terdoktrin dengan dogma keagamaan yang kuat salah tafsirnya sehingga sangat membutuhkan peran agamawan yang memiliki penguasaan agama baik. Terapi psikologis melalui penguatan nilai-nilai moral etik keagamaan dengan spirit multikulturalisme menjadi lebih penting daripada sekadar pengamanan yang berlapis. Kata Kunci: Narapidana, terorisme, pembinaan, multikulturalisme.

Page 2 of 45 | Total Record : 442