cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
STUDI PERBANDINGAN ATAS OTONOMI PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN DAN BIBEL
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba melacak kembali dugaan orang bahwa teks-teks suci Al-Qur’an dan Alkitab telah menciptakan budaya patriarki di masyarakat. teks-teks suci tidak lebih dari pernyataan tentang wanita. Pernyataan-pernyataan ini membangkitkan keberadaan feminisme sebagai perspektif dan aktivisme, baik ideologi dan metodologi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membaca dan mempertimbangkan kembali penggunaan ayat-ayat tersebut yang didasarkan pada tradisi atau budaya yang telah menciptakan gambar perempuan yang tergantung pada laki-laki, yang kemudian memberikan perbandingan antara dua sumber teologi.Berdasarkan beberapa ayat tentang penciptaan perempuan,peran perempuan dan warisannya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dua kitab suci yang berbeda, Alkitab dan Al-Qur’an membawa semangat yang sama dalam berbicara tentang perempuan sebagai individu yang memiliki hidup otonom sendiriKata Kunci: Otonomi, Wanita, Kekuasaan, Al-Qur’an,Al-kitab. This paper attempts to trace back allegedly that thesacred texts of the Qur’an and Bible have been creatinga culture of patriarchy in the society. Sacred texts are not more than/nothing but a statement about women.These statements awaken the existence of  feminism asperspective and activism, both ideology and methodology. The purposes of this article are to read and to reconsider the use of such verses that are based on a tradition or culture that has created images of women who dependon men, which then owes a comparation between  two sources of theology. Based on some verses about womencreation, role of women and her inheritance, this paper’s findings indicate that essentially two different scriptures,Bible and Al-Qur’an carry an identical spirit in talking about women as individuals who have their own autonomous life.Keywords: Autonomy, Women, Power, Al-Qur’an, Bible
MELIHAT LOGIKA AL-QURAN TENTANG PEREMPUAN MELALUI TERJEMAH REFORMIS Iwanebel, Fejrian Yazdajird
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merangkum ide-ide baru yang mencoba untuk memahami pengembalian istilah yang terkait dengan perempuan dalam Al Qur’an dengan memeriksa sebuah karya Qur’an terjemahan berjudul “Al-Qur’an:Sebuah terjemahan Reformer”. Karya ini menawarkan metodologi baru dalam membaca Al-Qur’an, melalui“Qur’an saja”, membiarkan Qur’an berbicara tentang dirinya sendiri melalui proses redefinisi kata-kata dan koherensi logis. Salah satu bentuk terjemahan yangtampak berbeda dari yang lain, misalnya di QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamu>na ‘ala an-Nisa’ diterjemahkan dengan laki-laki “untuk mendukung” para wanita.Dalam ayat yang sama, ia juga diterjemahkan sebagai salihat dengan “perempuan yang direformasi”. Dalam terjemahan progresif membutuhkan sentuhan aspekhistoris sehingga terjemahan ini tidak lepas dari maknaasli. Jika mereka mengabaikan data historis, penafsiranpara ulama, Ulumul Quran, hadits nabi, dan sebagainya untuk menggunakan tekstualitas Al-Qur’an sebagai penafsir Al-Qur’an, bukan tidak mungkin bahwa merekaakan memiliki kesalahpahaman.kata kunci: Keadilan, Reformis, Quran, Wanita. This paper reviews new ideas that try to make sense of returning the terms related to women in the Qur’an by examining a work of Qur’an translation entitled “ Qur’an: A translation Reformer”. This work offersa new methodology in reading the Qur’an, through “Qur’an alone”, it is let the Qur’an speaks about itself through a process of redefinition of words and logical coherence. One form of translation seems different fromthe others, for example in the QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamuna ‘ala an-Nisa’ translated by men are “to support” the women. In the same paragraph, he alsotranslated as-salihat with “the reformed women”. This progressive translation in the researcher’s point of view needs a touch of historical aspects so that translation is not separated from the original meaning of which is understood by the first audience. If they ignore the historical data, the interpretation of the scholars, Ulumul Quran, hadith of the prophet, and more likely to use thetextuality of the Quran as the interpreter of the Qur’an, it is not impossible that they will have misconceptions.Keywords: Justice, Reformers, Quran, Women.
PENDIDIKAN SENSITIF GENDER DALAM ISLAM : TELAAH PARADIGMATIS DALAM SEJARAH INTELEKTUALISME ISLAM INDONESIA Zumrodi, Zumrodi
PALASTREN Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam adalah proses untuk membangun seseorang secara holistik, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pendidikan Islam tidak mendiskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Diskriminasi dan bias gender sebenarnya terbentuk oleh budaya. Namun kesalahan penafsiran Al-Quran juga mempunyai peran dalam pemahaman konsep gender. Hal ini tidak terlepas dari tradisi sebagian orang yang menginterpretasi Al-Qur’an secara parsial dan tidak komprehensif, disamping pemahaman yang menekankan unsur tekstual ketimbang kontekstual. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bias gender dalam proses pendidikan dan juga cara untuk mengatasinya. Melalui metode kualitatif artikel ini menemukan bahwa pendidikan Islam sebenarnya memberikan pria dan wanita posisi yang proporsional tidak hanya dalam peran domestik, melainkan juga di masyarakat.kata kunci: Pendidikan, Islam, Gender.Islamic education is a process to build some person holistically, i.e. cognitive, affective, and psychomotor field. It does not discriminate men and women. The discrimination and gender bias merely constructed by culture. However the missinterpretation of Quran also takes a part of the gender issue. It comes from the tradition of some Moslem that interprete the Qur’an not in a comprehensive way. Moreover, it is understood textually and not contextually. This article aimed to explore the gender bias in terms of education process and also the way to solve it. Through the qualitative method this article finds that Islamic education actually gives both men and women a proportional position not only in domestic role but also in public one.Keywords:Education, Islam, Gender.
STUDI PSIKOLOGI POLITIK MENAKAR KEPRIBADIAN PEREMPUAN DALAM PANGGUNG POLITIK Saliyo, Saliyo
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psikologi politik memiliki dua dimensi yaitu aktivitas politik dan idiologi politik. Dimensi pertama tentang aktivitas politik berkaitan dengan apatisme politik, konformitas,kepemimpinan, mengikuti pola politik, isolasi politik, pengambilan keputusan politik, fleksibilitas, kekacuan politik dan kreativitas politik. Kedua dimensi idiologi berkaitan dengan intensitas idiologi dalam aktivitas politik. Idiologi politik seseorang  berkaitan dengan ekspresi kepribadian seseorang. Akhir-akhir ini telahterjadi revolusi ekstrim yaitu revolusi peran laki-lakidan perempuan serta revolusi teknologi. Tulisan inibertujuan untuk melihat bagaimana dua revolusi tersebutmenjadikan berubahnya peran laki-laki dan perempuan.Perubahan tersebut di antaranya adalah perempuan mampu tampil dalam sektor publik yaitu sektor politik.Dalam sejarah Islam ataupun perjuangan Indonesia,banyak perempuan mampu mewarnai untuk menjadi inspirasi perjuangan emansipasi wanita. Perempuantampil dalam sektor publik tidak hanya berbasis padaidiologi pragmatis, liberal pada kesataraan gender.Perempuan tampil disektor publik dengan keanggunan, kesantunan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Perempuantampil disektor publik mampu menjadi tauladan bagi perempuan lainnya.kata kunci: Psikologi Politik, Perempuan, Panggung Politik. Political psychology has two dimensions, namely politicalactivity and political ideology. The first dimension ofpolitical activities related to political apathy, conformity,leadership, following the pattern of politics, politicalisolation, political decision-making, flexibility, politicalturmoil and political creativity. The second dimensionrelates to the intensity of the ideology  in politicalactivity. A person’s political ideology associated with theexpression of one’s personality. Lately there has been anextreme revolution in terms of men and women”s roleand also in technology. This paper aims to look at howthe two revolutions, change and affect the roles of menand women. Such changes are women ability to performin the public sector, namely the political sector. In thehistory of Islam or the struggle of Indonesia, manywomen capable of coloring to be inspiring struggle forthe emancipation of women. Women appear in the public sector is not only based on the ideology of pragmatic, liberal on gender equality. Women performing publicsector with elegance, modesty, intelligence, and wisdom.Women performing public sector is able to be a rolemodel for other women.Keywords: Political Psychology, Women, Politic Area.
REFORMULASI HAK IJBAR FIQHI DALAM TANTANGAN ISU GENDER KONTEMPORER Haq, Husnul
PALASTREN Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep hak ijbar dalam fiqh, dan menyelidiki relevansinya dengan isu-isu gender saat ini. Penelitian ini dimulai dengan menjelaskan wali dan kepercayaan, makna hak ijbar, opini ulama ‘tentang hak ijbar, dan relevansi hakijbar terhadap isu-isu gender. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptifkualitatif,karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan dan menjelaskan hak ijbar di fiqh dilihatdari perspektif gender. Dengan menggunakan metodepenelitian yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa hak ijbar tidak berlaku untuk gadis-gadis yangmatang dan kompeten tentang hukum. Ini berarti hakuntuk memilih calon pendamping hidup adalah milikanak. Peran wali adalah sebagai pertimbangan pemberidan masukan saja. Perubahan sosial yang sangat signifikanmembuat wanita lebih mudah untuk berinteraksi denganlaki-laki, dan memungkinkan mereka untuk mengetahui sifat dan karakter mereka.kata kunci: fiqh, hak ijbar, wali
KONSTRUKSI DAN REPRODUKSI BUDAYA KHITAN PEREMPUAN : PERGULATAN ANTARA TRADISI, KEBERAGAMAAN DAN KEKERASAN SEKSUAL DI JAWA Mustaqim, Muhammad
PALASTREN Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa sekarang ini, keberadaan khitan perempuan masih dalam perdebatan. Hal ini disebut sukarela sunat sukarela perempuan atau juga dikenal sebagai mutilasi Alat Kelamin Perempuan (FGM). Di sini, sunat perempuan sering dikaitkan dengan ajaran agama dan tradisi masyarakat yang harus selalu dijaga. Bagi Untuk beberapa feminis, sunat perempuan dianggap sebagai praktik kekerasan yang harus dihilangkan dari masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana tradisi, keberagamaan dan juga isu gender berpengaruh dalam membentuk pandangan masyarakat terkait praktik sunat perempuan ini. Budaya masyarakatdan tradisi keagamaan yang lebih bernuansa patriarki,menjadi legitimasi kelangsungan praktek ini. Melalui metode kualitatif, tulisan ini menemuka njelaskan beberapa tren sunat perempuan, pelaksanaannya padaperempuan, dimensi agama, tradisi dan tinjauan kritis dari praktek ini .Kata kunci: sunat perempuan, tradisi, agama dankekerasan jender. In today’s world, the existence of female circumcision isstill in debate. It is called  voluntary female circumcisionor it is also known as Female Genital Mutilation (FGM).Here, female circumcision is often associated with religiousteachings and traditions of society that must always bemaintained. For some feminists, female circumcision is considered as the practice of violence that should beeliminated from society. This paper aimed to explore howdoes the tradition, religiousity and also gender issue effectthe community way of thingking about circumcision.Community culture and religious traditions that havebeen more nuanced patriarchal, became the legitimacyof the continuity of this practice. Trough the qualitativemethod, this paper finds ssome trends of circumcision,it’s implementation for women, the religious dimension, tradition and critical review of this practice.Keywords: female circumcision, traditions, religious and gender violence
URGENSITAS MANAJEMEN WAKTU DALAM PENDIDIKAN SPIRITUAL ANAK : STUDI KASUS PADA KOMUNITAS PENGAJIAN MUSLIMAT DINOYO, KOTA MALANG, JAWA TIMUR Hanafi, Yusuf
PALASTREN Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas pola pengelolaan waktu dalam upaya mengembangkan kecerdasan spiritual anak di komunitas pengajian muslimat Dinoyo Malang Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan studi kasus untuk menemukan keunikan manjemen keluarga komunitas muslim. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa 80% kegiatan perempuan di waktu luang tidak digunakan secara efektif untuk mendidik moral dan mentalitas anak-anak mereka.Ini mengimplikasikan efektivitas waktu luang sebagai waktu produktif dalam meningkatkan kualitas keluargayang belum mencapai pola ideal yang diharapkan.Kecenderungan aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga dalam mendampingi anak-anak mereka adalah aktivitas perawatan fisik. Banyak kegiatan yang tidak produktif tanpa memberikan pemahaman tentang nilai-nilai spiritual bagi anak. Dampaknya, anak-anak belajar tentang konflik , mimpi materialistis, dan sejenisnya.kata kunci: Manajemen Waktu, Kecerdasan Spiritual Anak.
BIAS GENDER DALAM KONSTRUKSI HUKUM ISLAM DI INDONESIA Hadi, Solikul
PALASTREN Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat.Pengaturan peran laki-laki dan perempuan dalamkeluarga berdampak pada peran dan kedudukannya dalam masyarakat. Rumusan dalam Kompilasi Hukum Islam (KID) yang membedakan peran perempuan dan laki Iaki perlu  dikritisi.Pembagian peran di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHl) yang sangat patriarkis dalam banyak hal cenderung banyak diilhami oleh aturan aturan jauh sebelumnya yang bersifat diskriminati.  Ditingkat nasional, pemerintah Indonesia pada tahun 1974melakukan reformasi hukum keluarga berupa Undang Undang Perkawinan Nomor 1/1974 yang kemudian dilengkapi dengan Kompilasi Hukum Islam. Pada aturanfornal pemerintah itu, dapat ditemukan sejumlah normayang ambivalen. Di satu pihak pemerintah mengakuilegal capacity kaum perempuan, di satu pihak justru mengukuhkan peranan berdasarkan jenis kelamin (sexroles) dan stereotype terhadap perempuan dan laki laki dengan membagi secara kaku, peran perempuan di sektor domestik dan peran laki-Iaki di sektor publik.Kata Kunci: Rekonstruksi, Gender, Kompilasi Hukum Islam The family is the smallest unit of society. Setting theroles of men and women in the family have an impact onthe role and position in society. The formulation in theCompilation of Islamic Law which distinguish the roleof women and male-to be scrutinized. The division ofroles in the Compilation of Islamic Law very patriarchalin many cases tend to more or less inspired by the rulesahead of time that is diskriminati. At the national level,the Indonesian government in 1974 to reform familylaws such as the Marriage Law No. 1/1974 which wasthen fitted with Islamic Law Compilation. Fornal on therules of the government, can be found a number of normswere ambivalent. On the one hand it recognizes the legalcapacity of women, on the one hand it confirms the roleof gender (sex roles) and stereotypes of women and menby dividing rigidly, the role of women in the domestiksector and the role of male-in the public sector.Keywords: Reconstruction, Gender, Compilation ofIslamic Law
TAFSIR FEMINIS M.QURAISH SHIHAB : TELAAH AYAT-AYAT GENDER DALAM TAFSIR AL-MISBAH Wartini, Atik
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah interpretasi dan pemahaman selalu berdasarkankondisi sosial, politik, dan budaya mereka. Al Misbahadalah salah satu penafsiran Alquran modern Indonesiayang terkenal yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Artikelini berhubungan dengan pemikiran Quraish tentangperempuan melalui tafsirnya. Tulisan Ini menyimpulkanbahwa Quraisy membuat interpretasi kuno, tapi ia tidakmenyangkal adanya interpretasi baru. Ia membangunjembatan dan alur rantai sehingga interpretasi sensitif jender dapat dipertimbangkan dalam penafsiran masadepan. Pembaharuan ini mengalami kemajuan perlahandan pasti, dapat dibuktikan dengan tidak adanyapenolakan dalam penafsiran ketika ia menafsirkan ayat-ayat tentang wanita dan isu-isu gender.Kata kunci: Penafsiran Qur’an, Al-Misbah, Ayat Gender
KETIDAKADILAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN : STUDI PANDANGAN POLITIK PEREMPUAN ANGGOTA LEGISLATIF DI KABUPATEN KUDUS Yuliani, Farida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ingin mengidentifikasi bentuk-bentuk kesenjangan gender dalam pembangunan pertaniandi Kabupaten Kudus serta seberapa jauh pandangan politik perempaun anggota legislatif di Kudus menjangkau pembangunan di bidang pertanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasusdan fenomenologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam pengambil keputusan, tidak ada kebijakankhusus untuk perempuan, tetapi arah kebijakan menujukesetaraan gender di mana perempuan sudah mulai terlibat aktif dalam gabungan kelompok tani tetapijumlah perempuan yang diakses teknologi baru ataumodal pertanian dari pemerintah dan wanita yangmengelola pertanian, masih kurang dari laki-laki. Dalammenyikapi hal ini legislator perempuan menyatakan perlunya pendidikan khusus sesuai dengan potensi petani lingkungan perempuan, sehingga mereka memiliki rasa kepercayaan diri dan mendapatkan posisi tawar yanglebih baik.Kata kunci: Perempuan legislator; kesenjangan gender;pertanian This article investigates the women legislator facing  gender gap in faming developmen in Kudus Central Java. This reasearch used a case study and phenomenological approach. The congclution of this article are women farm workers are always behind the men in terms oftecnological access. In the level of decicion maker, thereis no specific policy for women, but the policy directionis towards the gender equality where women have startedto be involved actively in the Joint Group of Farmers butthe number of women that accessed new technologiesor farming capital from government and women whomanage agricultural, still less than male. In addressingthis matter of women legislators expressed the needfor special education in accordance with the potentialof neighborhood women farmers, empowering womenthrough cooperatives and recitation, and revitalize thePKK as a means of distributing information, so they havemore capability, resulting sense of confidence and gain a better bargaining position.Keywords: Woman legislator, Gender gap, Agricultural

Page 11 of 47 | Total Record : 466