cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
RETHINKING HAK-HAK PEREMPUAN DALAM PERNIKAHAN: TELAAH ATAS PEMIKIRAN TAFSIR WAHBAH AL-ZUHAILI Kaltsum, Lilik Umi
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktek kekerasan dan pelecehan banyak dilakukan priaterhadap wanita dalam pernikahan akan menjauhkanrumah tangga dari tujuan utama pernikahan. Situasi iniberlangsung terus-menerus dengan dalih agama. Beberapaayat dari Al-Qur’an diposisikan sebagai legalitas tindakanarogansi dan superior. Tulisan ini berfokus pada ayat ayat yang mengurangi hak-hak perempuan dalam perkawinan,dihubungkan dengan gambaran yang lengkap darihak perempuan dalam perkawinan, diharapkanmeminimalkan terjadinya kekerasan di tangga rumahdan dapat menghidupkan kembali semangat Alquranuntuk kemerdekaan perempuan dan pembebasanperbudakan yang tidak manusiawi. Penafsiran alZuhailiterhadapayat-ayat tersebut terbagi menjadi dua bagian antara penafsiran yang masih ditemukan adanya bias gender dan beberapa penafsiran yang agak ramah terhadap perempuan seperti penghargaannya atas peran reproduktif perempuan.Kata kunci: Hak-Hak Perempuan, unggul, Pemimpin keluarga
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN : KRITISISME ATAS UU NO. 23 TAHUN 2004 TENTANG KDRT Rahmawati, Anita
PALASTREN Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baru-baru ini, kasus kekerasan dalam rumah tangga(KDRT) meningkat. Jumlah kasus yang terungkap tidak sebanyak kasus yang sebenarnya terjadi, karena kasus inimasih dianggap sebagai urusan rumah tangga yang tidaklayak untuk diketahui oleh publik. Budaya patriarkimenjadi salah satu kendala bagi korban, sebagian besar dari mereka adalah perempuan, melaporkan kekerasan yang mereka alami ke polisi untuk mendapatkanperlindungan hukum tidak membantu penyelesaianmasalah yang dialami perempuan ini. Selain itu, aparathukum dianggap tidak peka terhadap gender dalampenanganan kekerasan kasus di rumah. Undang-UndangNomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasandalam Rumah Tangga diharapkan mampu meningkatanperlindungan hukum bagi perempuan dan anak-anaksebagai korban kekerasan dalam rumah tangga. Makalah ini disajikan kekerasan terkait gender dalam UU Nomor 23 Tahun 2004kata kunci: Kekerasan berbasis gender, kekerasan domestik, UU No 23 Tahun 2004 The violence case in household is increasing recently.The number of cases caught is not as many as the oneactually occurs, because the case is still considered as thehousehold affair that does not deserve to be known bypublic. Patriarchy culture becomes one of obstacles forthe victim, most of them are women, to report violencethey experience to the police due to a great number of lawdo not help the women remaining, and the law apparatusnot sensitive to the gender in handling violence case inhouse-hold. Prevailing Undang-Undang Number 23 Year2004 about Violence Abolition in Household is expectedto present the increase of law protection for the womenand the children as the victims of violence in household.This paper presented the gender-related violence in UU Number 23 Year 2004 perspective.Keywords: Gender-related Violence; Domestic Violence; UU No. 23 tahun 2004
PENDIDIKAN AKHLAK MUSLIMAT MELALUISYA’IR : ANALISIS GENDER ATAS AJARAN SYI’IR MUSLIMAT KARYA NYAI WANIFAH KUDUS Said, Nur
PALASTREN Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada tiga hal: (1) Apakah karakteristik lingkup isi Syi’ir Muslimat?, (2) Bagai-manakah kondisi sosial budaya pada saat naskah ditulis oleh penulis?, (3) Apa nilai-nilai pendidikan moral bagi perempuan Muslim di isi Syi’ir Muslimat dalam perspektif gender?. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dengan meningkatkan penggunaan analisis gender. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, Syi’ir Muslimat ditulis oleh Nyai Wanifah, seorang wanita yang hidup pada zaman kolonial Belanda dipesantren tradisi di Kudus, Jawa Tengah. Kedua, beberapa nilai pendidikan moral di Syi’ir Muslimatantara lain: (1) Pentingnya pendidikan moral, (2) Bahaya perempuan bodoh; (3) Pentingnya belajar bagi perempuan di usia dini, (4) Etika menghias diri; (5) Bahaya materialisme, (6) Etika hubungan keluarga; (7) Dari rumah untuk mencapai surga; (8) Berhati-hatilah dengan tipu iblis; (9) Hindari perzinahan; (10) yang penting dari penutupan aurot; (11) yang ditujukan kepada orang tua. Ketiga, meskipun ada beberapa senyawa yang bias gender dalam Syi’ir Muslimat misalnya: (a) Ada penjelasan yang menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam derajat, (2) Pernyataan bahwa wanita bicara dibandingkan laki-laki, (3) wanita hanya cocok di wilayah domestik; Namun secara umum nasihat di syi’ir masih sangat relafen dalam konteks sekarang, terutama untuk memberikan solusi alternatif dalam merespon krisis moral bangsa terutama pada wanita generasi muda.Kata kunci: Syi’ir Muslimat, Pendidikan Karakter, Analisis Gender.This study focused on three things: (1) What is the characteristics of the scope of contents of Syi’ir Muslimat?, (2) What is the socio-cultural conditions at the time the manuscript was written by the author?, (3) What are the moral education values for Muslim women in the content of Syi’ir Muslimat in the perspective of gender?. This research uses a philological approach with enhanced use of gender analysis. The result of this study are: Firstly, Syi’ir Muslimat is written by Nyai Wanifah, a woman who lived during the Dutch colonial era in Islamic boarding schools (pesantren) tradition in Kudus, Central Java. Secondly, some of the moral education values in Syi’ir Muslimat among others: (1) The importance of moral education, (2) The danger of stupid women; (3) The importance of learning for women at early age, (4) Ethics decorated themselves; (5) The danger of materialism, (6) The ethics of relation the family; (7) From the house to reach heaven; (8) Beware the devil trickery; (9) Avoid adultery; (10) the important of closing aurot; (11) devoted to parents. Third, although there are some compounds that gender bias in Syi’ir Muslimat for example: (a) There is an explanation that shows that women lower than men in degree, (2) The claim that women are talkative than men, (3) Women only fit in the domestic sphere; however in general the advices in syi’ir is still very relafen in the present context, particularly to give alternative solution in responding the nation moral crisis especially in women young generation.Keywords:Syi’ir Muslimat, Character Education, Gender Analysis.
IMPLIKASI HUKUM DARI PERKAWINAN SIRI TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK Adillah, Siti Ummu
PALASTREN Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan sirri dianggap tidak sah oleh negara, oleh karena itu, anak-anak yang lahir dari pernikahan ini dianggap sebagai anak yang lahir di luar pernikahan.Hal ini berbeda dengan sudut pandang agama. Pendapatini didasarkan pada pasal 43 ayat (1) Undang-UndangPerkawinan mengatakan bahwa “Anak-anak yang lahirdi luar pernikahan hanya mungkin memiliki hubunganperdata dengan ibu dan keluarga ibu mereka. Oleh karena itu pernikahan sirri  akan menganulir hak istri dan anak-anak. Dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII / 2010, anak yang lahir di luar pernikahanmungkin memiliki hubungan perdata dengan laki-lakiyang terbukti menjadi ayah biologisnya. Berdasarkan halini, Pasal 43 ayat (1) berbunyi: “anak-anak yang lahir diluar nikah memiliki hubungan perdata dengan ibu dankeluarga ibunya serta dengan ayah mereka dan keluargaayah mereka dalam kasus hubungan biologis ini dapatterbukti secara ilmiah atau teknologi, dan / atau ada bukti lain seperti hubungan darah, termasuk hubungan sipil dengan keluarga ayah mereka dapat dibuktikan.kata kunci: Pernikahan sirri, Anak ilegal, Keputusan Mahkamah Konstitusi “Sirri marriage is not considered valid by the state, therefore, children born out of marriage are regardedas children born outside of marriage. This is differentfrom the religious point of view. This oppinion based onarticle 43 paragraph (1) Marriage Act tells that “Childrenwho are born outside of marriage may only have a civilrelationship with their mother and their mother’s family. Sirri mariage therefore will decrease the right of  the wifeand children. With the decision of the ConstitutionalCourt No. 46/PUU-VIII/2010, children born outsideof marriage may have a civil relationship with the manwho is proved to be the biological father.Thus Article 43paragraph (1) shall read: “Children born out of wedlockhave a civil relationship with their mother and theirmother’s family as well as with their father and theirfather’s family in case the fathership can be scientificallyor technologically proved, and / or other evidence suchas blood relations, including civil relationship with their father’s family can be proved.”Keywords: Sirri marriage, illegal child, the Constitutional Court Decision
KONTESTASI IDENTITAS MELALUI PERGESERAN INTERPRETASI HIJAB DAN ABSTRAK JILBAB DALAM AL QUR’AN Suhendra, Ahmad
PALASTREN Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas reinterpretasi yang relevan tentang jilbab. Jilbab adalah pakaian yang telah ada jauh sebelumIslam datang. peradaban Yunani dan Romawi juga akrab dengan jilbab sebagai pakaian kain yang dikenakan oleh perempuan. Bahkan, di beberapa daerah, perempuan sangat ketat memakai  jilbab jika dibandingkan dengan aturan yang diberikan Islam. Setiap peradaban dan agama memiliki interpretasi yang berbeda, seperti orang orang diIndonesia.Apresiasi masyarakat Indonesia pada jilbab juga bergeser.Kata kunci: Hijab, Sejarah, Wanita, Identitas. This article  discusses relevant reinterpretation on veil. Veil is a costume that have existed long before Islam came. Greek and Roman civilization are also familiarwith the veil as a cloth worn by women. In fact, in someareas, women are very tight wearing this if it is compared with the given rules of Islam. Every civilization and religions have its different interpretations, like people inIndonesia and also Indonesian society appreciation on itis also shift.Keywords: hijab, history, veil, women, Identity.
DEHUMANISASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM PRAKSIS POLIGAMI : DIALEKTIKA ANTARA NORMATIVITAS DAN HISTORISITAS Hariyanto, Hariyanto
PALASTREN Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktek di lingkungan masyarakat etnis dan agamanon-Muslim, konsep poligami dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda. Berbagai pernikahan dalam Islam bertujuan, antara lain, untuk menghin dari praktik yangmengarah pada dehumanisasi perempuan . Namun,masalah poligami masih menjadi isu kontroversial di beberapa kalangan. Selain itu, banyak orang lebih memilih praktik poligami ilegal daripada dengan izin resmi. Telah ada kesenjangan antara konsep dan praktek poligami yang ideal. Aturan mengenai poligami tidak bisa efektif dalam mengatur masyarakat. Selain itu, hal ini dipengaruhi oleh sejarah perkawinan masyarakat pra-Islam, pola budaya patriarki mata pencaharian dimasyarakat, dan kesalahpahaman dari sumber-sumber agama (Islam) karena pengaruh budaya .kata kunci: Poligami, Dehumanisasi, Perempuan.
SEKSISME PEREMPUAN DALAM BUDAYA POP MEDIA INDONESIA Farihah, Irzum
PALASTREN Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran perempuan dalam media bagaikan buah simalakama. Di satu sisi, Media dapat berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri bagi perempuan, namun di sisi yang lain seringkali perempuan hanya dilihat sebelah mata bagi para laki-laki maupun mesin-mesin yang memproduksinya sebagai sebuah obyekobjek. Mediacenderung  mereduksi perempuan hanya semata persoalan tubuh. Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaimana permasalahan seksisme perempuan dalam media. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini menyimpulkan bahwa, seksisme dalam media berasal dari pandangan bias gender terhadap perempuan  baik dalam masyarakat umum maupun pelaku industri media, terutama  melalui chanel-chanel saluran kapitalisme. kata kunci: Perempuan, Media The presence of women in the media makes an awry conditions. In one side, tThe media may seencan serve asa forum for women’s self-actualization, but on the othersidehand women are oftenly  only seen onnext to the eye for the men and machines that produce as an objects. Themedia tend to reduce women merely as a body issues. Thise article aimed to explore the women sexism in media.Through the qualitative method, this article  concludesthat sexism in the media formed by rom the view ofgender bias against women in both the public and themedia industry players  especially through the channel of capitalism.keywords: Women, Media
PEREMPUAN DALAM RELASI KUASA TAFSIR AL QUR’AN : TELAAH ATAS CORAK TAFSIR UMMU SALAMAH R.A Mahmudah, Nur
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hindun bint Abi Umayyah (Ummu Salamah) merupakansahabat perempuan terpenting kedua setelah Aishah yang paling banyak terlibat dalam penafsiran al-Qur’an. Artikelini merekonstruksi tafsir Ummu Salamah dalam halsumber tafsir, sumber dan nilai sanad serta karakteritiktafsir. Studi ini menghasilkan sejumlah kesimpulan Sumber tafsir yang digunakan oleh Ummu Salamah terdirisejumlah sumber eksternal maupun internal. Kualitas sanad tafsir merentang dari s}ah}i>h, h}asan dan dha‘i>f. TafsirUmmu Salamah menafsirkan berbagai ayat baik yang berkaitan dengan aspek teologis, hukum maupun sosial.Secara khusus, untuk tafsir yang bersumber dari Nabi,mayoritas bersumber dari pertanyaan Ummu Salamahkepada Nabi atas beberapa ayat al-Quran. Upaya UmmuSalamah ini dalam satu sisi dapat mewakili keterlibatanperempuan dalam memahami dan menafsirkan al-Quran.Di samping itu, juga ditemukan adanya ayat-ayat yang secara spesifik berbicara untuk menjawab protes Ummu Salamah yang diabadikan dalam al-Quran. Kata Kunci: Penafsiran Perempuan, Teks Suci, UmmuSalamah
MENEGAKKAN HAM MELALUI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI INDONESIA Rochaety, Nur
PALASTREN Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Realitas yang ada di tengah masyarakat menunjukkan bahwa masalah kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan perempuan korban kekerasan dalam bidang hukum masih sangat rendah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi proses penegakan hukum, yaitu:substansi, struktur dan budaya. Dalam substansi, produk hukum yang tersedia saat ini adalah Undang-UndangNomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KekerasanDalam Rumah Tangga, dan UU Nomor 21 Tahun 2007tentang Tindak Pidana Perdagangan dalam artikel Persons. Tulisan ini mencoba untuk melihat berbagai jenis kekerasan terhadap perempuan baik di rumah, tempat kerja  dan juga dalam masyarakat sebagai manifestasi dari ketidakseimbangan daya tawar yang dimiliki perempuan dalam relasi  pria dan wanita. Melalui metode penelitian kualitatif peneliti ingin mengetahui bentuk kekerasan terhadap perempuan termasuk fisik,seksual, ekonomi, politik, dan penampilan psikologis yang dapat dilakukan baik oleh individu, masyarakat dan negara. Artikel ini menunjukkan bahwa penegakan hukum untuk melindungi perempuan masih rendah. kata kunci: Perlindungan hukum, perempuan, korbankekerasan The Real life of the community showed that in the legal field,the problem of violence against women and protection ofwomen victims of violence are not sufficient. Various factorsaffect the law enforcement process, namely: the substance,structure and culture. In substance, legal products availabletoday are Law Number 23 of 2004 on the Elimination ofDomestic Violence, and the Law Number 21 Year 2007concerning the Crime of Trafficking in Persons.This articlefocused on kinds of  violence against women either athome, the workplace, and in society as a manifestation ofthe bargaining power imbalance in the relationship betweenmen and women. Through qualitative research method theresearcher would like to know forms of violence againstwomen include physical, sexual, economic, political, andpsychological appearence which can be done either byindividuals, communities and countries. This article showsthat the law enforcement to protect the women is still low.Keywords: legal protection, women, violence victims
ISLAM DAN PENYANDANG DISABILITAS : TELAAH HAK AKSESIBILITAS PENYANDANG DISABILITAS DALAM SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA Sholeh, Akhmad
PALASTREN Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan Islam terhadap penyandang disabilitas dan aksesibilitasnya terhadap pendidikan. Melalui metode kualitatif, penelitian menunjukkan bahwa Islam memandang bahwa pendidikan merupakan suatu hak dan kewajiban bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali, termasuk bagi penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas merupakan bagian dari umat manusia yang mempunyai hak dan kewajiban dasar yang sama untuk belajar dan menuntut ilmu. Akan tetapi dalam realitanya kesempatan dan fasilitas bagi penyandang disabilitas kurang mendapatkan perhatian. Demikian juga dengan kebijakan-kebijakan yang kurang sensitif terhadap disabilitas.Kata Kunci:Disabilitas, Aksesibilitas, Pendidikan.The research aimed to describe the Islamic view against persons with disabilities and their accessibility to education. Through qualitative method, this research will find the Islamic view against persons with disabilities and accessibility to education. The research finding that the Islamic view that education is right and obligation to all men, without exception, including persons with disabilities. 3 Persons with disabilities are part of the human who have rights and obligations equal basis learning and studying. But in reality the opportunity and facilities for persons with disabilities received less attention. Likewise, the policies issued that less sensitive to disability.Keywords:Disability, Accessibility, Education.

Page 9 of 47 | Total Record : 466