cover
Contact Name
Darus Altin
Contact Email
darus_altin@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
darus_altin@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Sain Peternakan Indonesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 19783000     EISSN : 25287109     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sain Peternakan Indonesia (JSPI) pISSN 1978 – 3000 dan eISSN 2528 – 7109 adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan Ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian,telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 572 Documents
Rumen Fermentation and Microbial Protein Synthesis of Bali Cattle Heifers (Bos sondaicus ) Fed Ration Containing Different Energy Protein Level N. N. Suryani; I. W. Suama; I. G. Mahardika; N.P. Sarini
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.2.187-194

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of energy and protein levels on rumen fermentation, microbial protein synthesis of Bali cattle heifers. The study was conducted in Petang Village, Badung Regency, Province of Bali Indonesia on 12 Bali cattle heifers with initial body weight 193,67 ± 22,55 kg/head. The treatment given is four types of ration consists of different level of metabolizable energy (ME) and crude protein (CP): ME 2051.41 kcal/kg: 12.04% CP (Treatment A); ME 2107.79 kcal/kg : 13.05% CP (Treatment B); ME 2194.06 kcal/kg : 14.04% CP (Treatment C) and ME 2294.23 kcal/kg : 15.09% CP (Treatment D). Variables measured: nutrient intake, rumen fermentation, microbial protein synthesis and growth performance of Bali cattle heifer age of 18 month. This research was a randomized block design. The results showed that increase in ME to 2294.23 kcal /kg and 15.09% CP significantly (P <0.05) increased energy intake to 17,880.57 kcal /day and protein intake 686.56 g /day. Rumen fermentation was also highest (P <0.05) in treatment D seen from total VFA, propionic acid and butyric acid respectively 170.32 mMol, 28.52 mMol and 13.70 mMol. While acetic acid, methane and NGR significantly decreased (P <0.05) respectively 57.77 mMol, 18.38 mMol and 3.07. This resulted in the highest rumen microbial protein synthesis in treatment D which was 562.06 g / day so that it was able to produce the highest ADG too, which was 0.42 kg /day. This study concluded that giving rations containing ME 2294.23 kcal /kg and 15.09% CP increased rumen fermentation and microbial protein synthesis, resulting in the highest growth compared to lower levels.
Identifikasi Ukuran Tubuh Sapi Bali dan Simbal (Simmental-Bali) di Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat F. L. Syaiful; Khasrad Khasrad; S. Maulida
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.2.219-226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ukuran tubuh sapi Bali dan Simbal di daerah Luhak Nan Duo, Pasaman Barat. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan menggunakan sampel sebanyak 60 ekor sapi jantan pada sapi Bali dan Simbal yang  terbagi atas 30 ekor sapi Bali dan 30 ekor sapi Simbal. Setiap unit perlakuan terdiri atas 10 ekor. Perlakuan dikelompokkan pada berbagai umur ternak yakni lepas sapih (I0), 1,5-2 tahun (I1) dan 2,5-3 tahun (I2). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Sedangkan perbandingan  jenis sapi perlakuan dianalisis menggunakan uji-t. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang badan sapi Bali jantan pada umur I0, I1, I2 yaitu: 67,7+ 1,34; 82,3±7,01; 112,8±2,57 cm. Tinggi pundak: 84,5±1,58; 92,3±4,83; 111,9±4,28 cm. Lingkar dada yaitu: 93,1±2,23; 120,7±7,36; 142,4±7,73 cm. Sedangkan bobot badan adalah 53,09±3,36; 108,69±13,98; 209,35±24,04 kg. Panjang badan sapi Simbal yaitu: 82±2,62; 106,4±0,97; 126,6±1,07 cm. Tinggi pundak: 91,3±1,34; 105,3±95; 123,7±2,31 cm. Lingkar dada sebesar 96,9±37; 136,7±1,49; 155,3±1,64 cm. Sedangkan bobot badan 69,69±3,08; 179,93±5,01; 276,29±7,12 kg. Dari hal diatas dapat ditarik simpulan bahwa ukuran tubuh sapi Simbal lebih unggul dibandingkan sapi Bali.
Penggunaan Minyak Sawit dan Pemanasan Bungkil Inti Sawit untuk Manipulasi Ekosistem Rumen terhadap Performans Kambing T. Akbarillah; Hidayat Hidayat
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.3.280-286

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan minyak sawit dan bungkil inti sawit yang dipanaskan terhadap performan kambing. Kambing lokal digunakan dalam penelitian ini sebanyak 12 ekor umur 8 bulan dengan berat badan + 14 kg. Kambing diacak menjadi 4 kelompok perlakuan berdasarkan Rancangan Acak Faktorial 2X2 dengan 3 ulangan. Faktor pertama ialah penggunaan minyak sawit dan faktor kedua ialah penggunaan bungkil sawit. Pakan diberikan adalah hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 50:50. Pakan diberikan berdasarkan kebutuhan PK 11,2% dan TDN 58%. Variabel yang diukur adalah total konsumsi, koefisien kecernaan, dan pertambahan berat badan. Data yang diperoleh dianalisis variansi dengan program Systat for Windows, bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil analisis variansi menunjukkan pemanasan bungkil inti sawit berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering (BK). Abu, protein kasar (PK), ekstrak eter (EE) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sedangkan defaunasi dengan minyak sawit menurunkan konsumsi dan kecernaan serat kasar (P<0,05). Kombinasi perlakuan menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Koefisien cerna BK, abu, PK dan BETN pada perlakuan pemanasan bungkil sawit cenderung lebih tinggi dibanding tanpa pemanasan bungkil sawit. Semua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap rataan pertambahan berat badan harian.
Organoleptik Ayam Broiler Melalui Penggunaan Tepung Krokot (Portulaca oleracea L) yang Disubtitusikan dalam Ransum Komersial Manafe, M. E.; Ressie, M. L.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 16 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.16.1.68-73

Abstract

Penelitian ini dengan tujuan mengetahui pengaruh dan level penggunaan tepung krokot (Portulaca oleracea L) dalam ransum terhadap warna, aroma dan cita rasa daging ayam broiler, telah dilakukan di kandang ayam Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RAL B) yang terdiri dari 4 perlakuan, 5 blok dan 5 ulangan dengan masing-masing ulangan sebanyak 5 ekor sehingga total ayam adalah 100 ekor. Perlakuan tersebut yaitu KR0 = ransum komersial tanpa tepung krokot, KR5 = ransum komersial yang mengandung 5% tepung krokot, KR10 = ransum komersial yang mengandung 10% tepung krokot dan KR15 = ransum komersial yang mengandung 15% tepung krokot. Parameter yang diukur adalah warna, aroma dan cita rasa daging. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung krokot dalam ransum berpengaruh terhadap cita rasa daging tetapi tidak berpengaruh terhadap warna dan aroma daging. Disimpulkan bahwa penggunaan krokot dalam ransum komersial ayam broiler sampai dengan level 15% dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan organoleptik daging ayam broiler.
Nilai Total Digestible Nutrient pada Bahan Pakan By- Product Industri Pertanian sebagai Pakan Kambing yang Diuji secara In Vitro A. I. Syafrudin; E. Pangestu; M. Christiyanto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.3.302-307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai TDN pada berbagai macam bahan pakan by- product  industri pertanian yang dilakukan dengan teknik in vitro. Percobaan dilakukan menggunakan cairan rumen yang diambil dari kambing PE berfistula. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 7 Perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari T1 = Bungkil sawit, T2 = Kulit kopi, T3 = Janggel jagung, T4 = Ampas tahu, T5 = Bungkil kedelai, T6 = Bungkil kelapa dan T7 = Onggok. Parameter yang diukur pada penelitian ini yaitu kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan nilai TDN. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dan dilajut dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahan pakan by- product industri pertanian berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan nilai TDN. Simpulan dari penelitian ini bahwa bahan pakan kulit kopi dan bungkil sawit memiliki kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan nilai TDN yang rendah (<50%). Onggok, bungkil kelapa, bungkil kedelai, ampas tahu dan janggel jagung memiliki kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan nilai TDN yang tinggi.
Suplementasi Konsentrat untuk Memperbaiki Body Condition Score (BCS) Sapi Induk Menjelang Dikawinkan Mulyanti, E.; Keraf, F. K.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 16 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.16.1.85-92

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengkaji suplementasi  konsentrat terhadap skor kondisi tubuh atau body condition score (BCS) sapi potong induk telah dilaksanakan di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo,  Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini  menggunakan 48 ekor sapi potong induk yang terdiri atas 24 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) dengan rataan bobot badan (BB) 280,54 ± 34,79 kg (CV 12,40%) dan 24 ekor sapi silangan Simmental – PO (SPO) dengan rataan BB 357,29 ± 36,07 kg (CV 10,09%).  Pakan dasar yang digunakan adalah jerami padi fermentasi ad libitum dan rumput gajah 5,00% BB (bahan segar). Metode penelitian adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap Pola Tersarang yang terdiri atas 2 faktor dan 8 ulangan. Faktor pertama adalah bangsa sapi, yaitu Peranakan Ongole (PO) dan persilangan Simmental – PO (SPO), dan faktor kedua adalah jumlah penambahan konsentrat dalam ransum (PK 11,82% dan TDN 66,74%), yaitu T0 : tanpa konsentrat, T1 : konsentrat 0,50%BB (bahan segar), T2 : konsentrat 1,00% BB (bahan segar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa sapi tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, PBBH, sedangkan perlakuan ransum berpengaruh nyata (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian konsentrat dengan kadar PK 11,82%  dan TDN 66,74% sebanyak 1% dari bobot badan menghasilkan BCS yang paling ideal untuk sapi induk PO dan sapi induk silangan Simmental – PO pada saat menjelang dikawinkan.
Pengaruh Sistem Pemeliharaan secara Intensif dan Semi Intensif pada Itik Magelang A. Rahayu; S. Ratnawati; R. W. Idayanti; B. Santoso; N. A. Luthfiana
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.4.355-359

Abstract

Itik Magelang merupakan ternak unggas air lokal yang berasal dari daerah Magelang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bobot badan dan bobot telur itik yang dipelihara secara intensif dan semi intensif. Hipotesis dari penelitian ini bahwa ada perbedaan antara bobot badan dan bobot telur Itik Magelang yang dipelihara secara intensif dan semi intensif. Sampel penelitian ini adalah 100 ekor Itik Magelang yang berumur lebih dari 6 bulan, yang terdiri dari itik jantan 4 ekor dan itik betina 96 ekor. Parameter yang diamati adalah bobot badan dan bobot telur. Sampel diuji menggunakan paired sample T-test. Hasil uji menunjukkan bahwa Nilai t hitung bobot badan sebesar 6,637 dan bobot telur 3,242. Hal ini menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap bobot badan dan bobot telur antara itik yang dipelihara secara intensif dan semi intensif. Kesimpulan dari pemeliharaan sistem pemeliharaan semi intensif memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan bobot badan lebih cepat yaitu 0,265 kg/ekor dan kuantitas serta kualitas telur yang lebih baik.
Pemahaman Manajemen Peternak dalam Meningkatkan Produktivitas Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur M. M. Sol&#039;uf; M. Krova; A. A. Nalle
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.16.2.156-163

Abstract

Suatu penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami interaksi kompleks antar berbagai pemangku kepentingan serta faktor-faktor pengungkit dalam meningkatkan produktivitas sapi potong di Kabupaten Kupang.  Pengambilan contoh dilakukan secara bertahap. Tahap pertama penentuan  empat kecamatan contoh secara purposif, tahap kedua penentuan 40 peternak dan  10 orang pedagang secara snow ball sampling dan 6 orang pejabat pemerintah dengan pendekatan wawancara. Banyaknya informan kunci tergantung pada kejenuhan informasi yang diperoleh. Perangkat lunak yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ventana Simulation (Vensim) PLE. Perangkat lunak tersebut digunakan membuat diagram sebab akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dalam usaha ternak sapi potong dapat dikatakan bahwa interaksi antar pelaku aktual usaha sapi potong di wilayah Kabupaten Kupang  hanya sebatas pengadaan ternak atau jual beli ternak antar pelaku kepentingan dalam hal ini tidak terdapat interaksi lainnya yang dapat menumbuhkan atau meningkatkan produktivitas ternak sapi potong. Faktor penting yakni produksi sapi potong dan layanan pemerintah dan lembaga akademisi, yang berarti jika dua faktor ini diintervensi maka perilaku sistem dalam usaha ternak sapi potong dapat berubah secara signifikan.
Pengaruh Penggunaan Rumput Laut dalam Pellet Pakan Kelinci terhadap Tingkat Kekerasan, Durabilitas dan Organoleptik Pellet A. R. Majiid; S. Mukodiningsih; S. Sumarsih
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 15, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.15.4.360-366

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan rumput laut dalam pellet pakan kelinci terhadap tingkat kekerasan, durabilitas dan organoleptik pellet. Materi yang digunakan adalah tepung Sargassum sp., tepung jagung kuning, pollard, bungkil kedelai, wheat brand, bekatul, kulit kopi, bungkil kelapa, molasses, mineral dan garam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu T0 = pakan dengan level Sargassum sp. 0%, T1 = pakan dengan level Sargassum sp. 4% dan T2 = pakan dengan level Sargassum sp. 8% dan 6 ulangan. Parameter yang diamati yaitu tingkat kekerasan, durabilitas, warna, tekstur dan aroma pellet. Analsis data menggunakan analisis ragam pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda duncan. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan level Sargassum sp. berpengaruh nyata (P<0,05) menurunkan skor hardness, warna, tekstur, dan aroma, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap durabilitas pellet pakan kelinci. Rataan hardness perlakuan T0, T1 dan T2 yaitu 13,50; 12,13 dan 11,17 kg, rataan durabilitas perlakuan T0, T1 dan T2 yaitu 94,88; 95,13 dan 95,38%, rataan skor warna perlakuan T0, T2, dan T1 yaitu 4,00; 3,01; 3,00, rataan skor tekstur perlakuan T0, T1 dan T2 yaitu 2,88; 2,83; 2,20 dan rataan skor aroma perlakuan T0, T1 dan T2 yaitu 4,00; 3,69; dan 3,64. Simpulan penelitian adalah penggunaan level Sargassum sp. hingga 8% dapat menurunkan tingkat kekerasan pellet, nilai durabilitas pellet yang baik, warna coklat kehitaman, tekstur pellet semakin kasar dan aroma pellet agak berbau amis.
Pengaruh Perbedaan Kemasan Primer pada Kualitas Fisik-Kimia, Mikrobiologi serta Sensoris Daging Ayam Frozen Utuh pada Suhu-18°C E. Triyannanto; S. Rahmatulloh; D. Astuti; T. I. D. Putra; H. I. Diqna; S. Fauziah
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.16.2.123-129

Abstract

Daging ayam adalah bahan pangan yang bernilai gizi tinggi yang memerlukan waktu simpan panjang melalui inovasi kemasan. Usaha untuk meningkatkan kualitas daging ayam dilakukan melalui perlakuan pengemasan primer untuk mengurangi kerusakan produk daging. Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh perbedaan ketebalan kemasan primer terhadap mutu fisik-kimia, mikrobiologi, serta sensoris daging ayam beku utuh pada -18°C. Penggunaan 3 ketebalan plastik primer berbeda yakni T1 (65 µm), T2 (75 µm), dan T3 (105 µm). Hasil penelitian menunjukkan parameter uji fisik tidak berbeda nyata (P>0,05), nilai pH berkisar antara 5,78-6,08; daya ikat air 36,28-38,44%; susut masak 100,29-270,3%; dan keempukan 1,3-2,9 mm/ 50 gr. Analisis proksimat secara rata-rata menunjukkan bahwa komposisi kimia air T1-T3 berkisar pada 73,4-74,2%; protein 16,3-22,4%; lemak 3,9-6,06%; serta kolagen 1,32-1,98%. Protein dan lemak dalam hal ini tidak berbeda nyata diantara perlakuan (P>0,05). Analisa mikrobiologi menunjukkan nilai 1.4-1,55 × 106 CFU. Sedangkan uji sensoris menunjukkan nilai uji rasa sebesar 1,64-2,18; warna 1,91-2,18; tekstur 1,77-2,14; tekstur juicy 1,95-2,09; kekenyalan 1,45-2,36; serta daya terima sebesar 2,00. Keseluruhan parameter sensoris menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Data preliminari ini dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut terkait ayam beku utuh.