cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Manusia Pontifical dalam Diskursus Modernitas: Studi Komparasi Pemikiran S.H. Nasr dan Carl G. Jung Mahmudi Mahmudi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14431

Abstract

Abstract: This article analyzes Nasr’s thoughts concerning human spirituality and compares Jung’s perspective on the Human soul in the modern era. This article uses a comparative study with a hermeneutical approach to the understanding meaning of spirituality in the contemporary era. The method of this study is library research focusing on Man and Nature and Modern Man in Search of the Soul written by Nasr and Jung. The author uses content analysis to understand the book written by Nasr and Jung. This article concludes that spirituality is critical in modern era as a discourse on religion and humanity.Abstrak: Artikel ini menganalisis pemikiran S.H. Nasr tentang spiritualitas manusia dan hendak mengkomparasikan dengan pandangan Carl G. Jung akan jiwa manusia pada era modern. Artikel ini menggunakan studi komparatif dengan pendekatan hermeneutika dalam memahami makna spiritualitas pada era modern. Metode dalam artikel ini adalah studi pustaka dengan fokus kepada buku Man and Nature Spiritual Crisis of Modern Man yang ditulis oleh S.H. Nasr dan Modern Man in Search of the Soul yang digarap oleh Carl G. Jung. Penulis juga menggunakan analisis isi untuk memahami buku yang ditulis baik oleh Nasr maupun Jung. Artikel ini menyimpulkan bahwa spiritualitas adalang sangat penting dalam era modern sebagai diskursus dalam agama dan kemanusiaan.
Antitesis Stereotip Terorisme pada Islam: Analisis QS. Al-Isra’: 33 dan HR. Al-Bukhari: 983 Muhammad Torieq Abdillah; Dinda Shofi Innayah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14439

Abstract

Abtract:  This paper aims to prove the antithesis of the stereotipe of terrorism in Islam due to the many terrorism groups that use Islamic attributes in their actions by tracing the background of the formation of the stereotipe that Islam is a religion of terrorism and the antithesis of that stereotipe through Q.S. Al-Isra':33 and HR. al-Bukhari: 983. This research method is descriptive qualitative with the type of library research. The results of this study indicate that the stereotipe of Islam as a religion of terrorism actually does not need to be created because Islamic teachings themselves do not recommend committing violence, especially acts of terror, this can be seen in Q.S. al-Isra':33 and HR. Al-Bukhari: 978. However, due to misinterpretation in understanding the meaning of jihad in Islam, this stereotipe emerges. Until finally, the stereotipe has continued until now, exacerbated by the existence of many political interest groups who act in the name of Islam to carry out jihad.Abstrak:  Tulisan ini bertujuan untuk membuktikan antitesis stereotip terorisme pada Islam akibat banyaknya kelompok terorisme yang menggunakan atribut Islam dalam aksinya dengan menelusuri latar belakang terbentuknya stereotip bahwa Islam sebagai agama terorisme dan antitesis stereotip tersebut melalui analisis Q.S. al-Isra’: 17: 33 dan H.R. al-Bukhari: 983. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stereotip Islam sebagai agama terorisme sebenarnya tidak perlu diperbesar sebab Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kekerasan, terlebih pertumpahan darah yang berujung pada kematian, terlebih melalui analisis QS. Al-Isra’: 33 dan HR. Al-Bukhari: 978. Namun, akibat misinterpretasi dalam memahami makna jihad dalam Islam, maka muncul stereotip tersebut. Hingga akhirnya stereotip tersebut terus berlanjut hingga sekarang dengan diperparah adanya banyak kelompok kepentingan politik yang mengatasnamakan Islam dengan alasan jihad
Akulturasi Islam dan Budaya Mistik Kampung Keramat Bekasi dalam Perspektif Sejarah Yusril Fahmi Adam
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.15069

Abstract

Abstract: This article is a historical research that aims to analyze the phenomenon of acculturation of Islam and mystical culture in the Keramat Village, Bekasi. This article uses historical methods, anthropological approaches, and acculturation theories of culture. This article is not only narrative-descriptive, but also analytical-descriptive. The findings in this article indicate that there are problems in the religious aspect that intersect with the local culture that develops in the community of Kampung Keramat Bekasi. Local people believe in mystical things, such as worship on petilasan and objects that are considered to have supernatural powers. Therefore, there are efforts from Muslims including the initiative of local scholars to eliminate these mystical beliefs with an Islamic acculturation approach. In the end, the mystical culture that is similar to animism-dynamism slowly fades and even disappears in the current contemporary era, on the other hand, the people around Kampung Keramat Bekasi also have the awareness to implement Islamic law based on the Qur'an and HadithAbstrak: Artikel ini merupakan penelitian sejarah yang bertujuan untuk menganalisis fenomena akulturasi Islam dan budaya mistik yang berada di Kampung Keramat Bekasi. Di dalam analisisnya, artikel ini menggunakan metode sejarah, pendekatan antropologi, serta teori akulturasi budaya. Dengan metodologi yang digunakan, artikel ini tidak hanya bersifat naratif-deskriptif, melainkan lebih kepada analitis-deskriptif. Temuan dalam artikel ini adalah terdapatnya permasalahan di dalam aspek keagamaan yang beririsan dengan budaya lokal yang berkembang di dalam masyarakat Kampung Keramat Bekasi. Budaya lokal yang melekat di dalam masyarakat setempat adalah adanya kepercayaan terhadap hal-hal mistis, seperti pemujaan di atas petilasan serta benda-benda yang dinilai memiliki kekuatan ghaib. Oleh karena itu, terdapat upaya dari umat Islam atas inisiatif ulama setempat untuk menghilangkan kepercayaan mistik tersebut dengan pendekatan akulturasi Islam. Pada akhirnya, budaya mistik yang serupa dengan animisme-dinamisme tersebut perlahan memudar bahkan menghilang di era kontemporer saat ini, dan juga masyarakat sekitar Kampung Keramat Bekasi telah memiliki kesadaran akan pentingnya syariat Islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadits
Etos Kerja dalam Tafsir Mafatih Al-Ghayb: Suatu Kajian Tafsir Ahkam Muamalah Fauzi Fauzi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14617

Abstract

Abtract: A Muslim must include aspects of spirituality and morality in each of his works, but many of human activities do not refer to these values, resulting in an output that is not optimal and has less value for human life. This study describes the work ethic to encourage human productivity to be useful for human life by referring to the Tafsir Mafatih al-Ghayb. This interpretation is one of the studies of in-depth understanding of the Qur'an with the background of the exegetes who are broad-minded not only in the field of kalam, philosophy of logic, and even linguistics. This research is qualitative with data collection techniques through a literature review, this research also uses a tahlili (synthesis) approach. The results of this study indicate that, first, the Qur'an encourages people to work. Second, the Qur'an emphasizes the work ethic aspect that is rooted in the syakilah, namely the soul, spiritual values and character as well as habits in life. Another aspect of work is to increase obedience and obedience to Allah.Abstrak:  Seorang muslim harus mengedepankan aspek-aspek spiritualitas dan moralitas dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan untuk mencapai hasil yang maksimal. Kenyataanya banyak aktivitas manusia yang tidak merujuk pada nilai-nilai tersebut sehingga terjadi output yang tidak maksimal dan kurang memiliki nilai manfaat bagi kehidupan manusia. Penelitian ini menguraikan tentang etos kerja untuk mendorong produktivitas manusia agar berguna bagi kehidupan manusia dengan merujuk pada Tafsir Mafatih al-Ghayb. Tafsir ini termasuk salah satu kajian pemahaman Alquran mendalam dengan background mufassirnya yang berwawasan luas tidak hanya dalam bidang ilmu kalam, filsafat logika bahkan ilmu bahasa. Penelitian bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kajian literatur, penelitian ini juga menggunakan pendekatan tahlili (sintesis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, Alquran mendorong manusia untuk bekerja. Kedua, Alquran menekankan aspek etos kerja yang bersumber pada syakilah yaitu jiwa, nilai spiritual dan tabiat serta kebiasaan-kebiasaan dalam hidup. Aspek lain dalam bekerja adalah untuk meningkatkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah
Model Penafsiran Quraish Shihab terhadap Pemaknaan dan Pemahaman Al-Quran dalam Chanel Youtube Najwa Shihab Mahbub Ghozali; Alfi Ifadatul Umami
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14457

Abstract

Abstract: The meaning of the Qur'an made on social media can occur in the form of an oral and more dialectical explanation. Quraish Shihab interprets the Qur'an on Najwa Shihab's Youtube Channel by responding to people's understanding of the Qur'an. This study aims to analyze the cultural structure of understanding and meaning depicted on Najwa Shihab's Youtube Channel. This study uses qualitative methods and content analysis as a data analysis tool. Meanwhile, the achievement of cultural analysis in language uses a structuralist anthropological approach introduced by Levi-Strauss. This study concludes that the explanation of meaning is carried out through two mechanisms; delegitimization as a critique of understanding and figurative as a meaning mechanism that is relevant to the understanding of new issues that exist. The delegitimization and figurative mechanisms used represent the actual cultural structure of meaning in Quraish Shihab and the puritanical and modernist-quasi-objective culture of understanding. The culture that is represented in the structure of meaning on social media shows another function of the representation of the Qur'an on Youtube as a medium of "storage" of culture that can be recognized through its explanation mechanism.Abstrak:  Pemaknaan terhadap al-Qur’an yang berlangsung di media sosial hadir dalam bentuk penjelasan secara oral dan lebih dialektis. Quraish Shihab menghadirkan penafsiran terhadap al-Qur’an di Channel Youtube Najwa Shihab dengan memberikan respon terhadap pemahaman masyarakat terhadap al-Qur’an yang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur budaya pemahaman dan pemaknaan yang tergambar pada Channel Youtube Najwa Shihab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai perangkat analisa data. Sedangkan pencapaian analisa budaya dalam bahasa menggunakan pendekatan antropologi strukturalis yang dikenalkan Levi-Strauss. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penjelasan terhadap makna dilakukan melalui dua mekanisme; delegitimasi sebagai kritik atas pemahaman dan figuratif sebagai mekanisme pemaknaan yang relevan dengan pemahaman isu baru yang berkembang. Mekanisme delegitimasi dan figuratif yang digunakan merepresentasikan struktur budaya pemaknaan yang aktual pada diri Quraish Shihab dan budaya pemahaman yang puritan dan modernis-quasi-objektif. Penampakan budaya dalam struktur pemaknaan di media sosial menunjukkan fungsi lain dari representasi al-Qur’an di Youtube sebagai media penyimpanan budaya yang dapat dikenali melalui mekanisme penjelasannya.
Konstruksi Penemuan Hukum Islam dari Perilaku Kemanusian Nabi Ditinjau dari Maqashid Syariah Salman Abdul Muthalib
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17668

Abstract

Prophet Muhammad SAW had two roles, as a messenger and an ordinary human being. However, the assumption of some people that the words of Prophet Muhammad as an ordinary human being are considered as religious obligations to be followed or avoided, this burdens the weight of practicing religion and eventually leads some of the community to ignore all religious teachings. In this study, the author wants to look at a clear format of the elements of sharia in the Prophet's Sunnah so that it can be used as a guide in finding laws and providing a clear understanding to the community about what teachings are truly part of the religion. This research is qualitative, with the main focus on studying the Prophet's actions as a basis for discovering laws. The study found that some of the Prophet's actions are not included in the elements of sharia, whether it is mandatory, recommended, or permissible by sharia law, so the hadiths in this category cannot be used as sharia law and are not binding on Muslims to follow them. The Prophet's actions related to worldly matters, such as being a head of state and a judge, customary practices, or human characteristics, cannot be used as a reference in establishing sharia law and are not part of Islamic teachings. Abstrak: Nabi Muhammad SAW memiliki dua sifat, sebagai Rasul dan  manusia biasa. Akan tetapi anggapan sebagian orang bahwa ucapan Nabi Muhammad selaku manusia biasa pun dianggap sebagai agama yang wajib diikuti atau dijauhi, hal ini membuat beban dalam beragama menjadi lebih berat dan akhirnya mendorong sebagian umat mengabaikan seluruh ajaran agama. Dalam kajian ini, penulis ingin melihat format yang jelas mengenai unsur-unsur syariat dalam Sunnah Nabi sehingga dapat dijadikan panduan dalam menemukan hukum dan memberi gambaran yang jelas kepada umat ajaran apa saja yang benar-benar bagian dari agama. Penelitian ini bersifat kualitatif, fokus utama adalah kajian terhadap perbuatan Nabi sebagai dasar dalam penemuan hukum. Penelitian menemukan bahwa beberapa tindakan Nabi yang tidak termasuk dalam unsur syariat, baik itu hukum wajib, sunnah, atau mubah syar‘iyyah, sehingga hadis-hadis dalam kategori ini tidak bisa dijadikan sebagai hukum syariat dan tidak mengikat umat Islam untuk mengikutinya. Tindakan Nabi yang terkait dengan masalah dunia, seperti sebagai kepala negara dan hakim, kebiasaan adat, atau sifat kemanusiaan, tidak dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menetapkan hukum syariah dan bukan bagian dari ajaran Islam.
Reinterpretasi Makna "Idribuhunna" dalam QS. An-nisa Ayat 34: Analisis Tafsir Al-Jailani dari Perspektif Teori Double Movement Muhammad Imam Syafi'i; Moh. Abdul Kholiq Hasan
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17502

Abstract

This study aims to reinterpret the meaning of "idribuhunna" in Al-Jailani's interpretation of verse 34 of Surah An-Nisa and then provide provisions and limitations on hitting a disobedient wife. This research uses a literature review method, with the primary source being Al-Jailani's Tafsir, and then uses Fazlur Rahman's Double Movement Hermeneutics Theory to reinterpret the meaning of "idribuhunna." This study shows that the moral idea behind Surah An-Nisa verse 34 is to provide education and teaching to a disobedient wife so that she does not act disobediently again, not to hurt or punish her. Al-Jailani's interpretation seems to legitimize the action of hitting a disobedient wife without providing clear provisions and limitations, which is not in line with the moral idea contained in Surah An-Nisa verse 34. Therefore, the most relevant meaning of the word "idribuhunna" is a symbolic gesture without direct hitting. If hitting is really necessary, then it must adhere to the provisions and limitations, namely, it must not cause pain, injury, or broken bones; hit the face area; repeat hitting in the same place; and using a whip or stick is prohibited. Although hitting a wife is allowed, scholars agree that leaving is preferable.Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi makna “idribuhunna” dalam penafsiran Al-Jailani pada penggalan ayat QS. An-Nisa’ ayat 34, kemudian memberikan ketentuan dan batasan dalam memukul istri yang nusyuz. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan sumber primernya adalah kitab Tafsir Al-Jailani, kemudian menggunakan pendekatan teori hermeneutika Double Movement milik Fazlur Rahman dalam melakukan reinterpretasi makna “idribuhunna”. Kajian ini menunjukkan bahwa ide moral dari QS. An-Nisa’ ayat 34 adalah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada istri yang nusyuz agar tidak berbuat nusyuz lagi, bukan menyakiti dan menyiksanya. Al-Jailani dalam tafsirnya terkesan melegitimasi tindakan pemukulan terhadap istri yang nusyuz tanpa memberikan ketentuan dan batasan yang jelas, sehingga hal ini tidak sejalan dengan ide moral yang terkandung dalam QS An-Nisa ayat 34 tersebut. Maka makna dari kata “idribuhunna” yang paling relevan adalah isyarat tangan saja tanpa memukul secara langsung. Jika memukul memang benar-benar diperlukan, maka harus memperhatikan ketentuan dan batasan yaitu tidak boleh menyakitkan, tidak menyebabkan luka, tidak sampai mematahkan tulang, tidak memukul pada daerah wajah, tidak boleh mengulangi pukulan di tempat yang sama, dan dilarang menggunakan cambuk atau tongkat. Meskipun tindakan memukul istri ini dibolehkan, para ulama sepakat bahwa meninggalkan cara ini lebih utama.
Konseptualisasi Agama dan Implikasinya di Indonesia Aulia Kamal
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.16944

Abstract

This article discusses how the concept of "religion" is conceptualized in Indonesia and its implications. Through literature review, data was collected and analyzed descriptively, and it was found that: First, the term "religion" is conceptually constructed academically based on the World Religion Paradigm (WRP) with Islam as the model and monotheism as the main feature. Politically, the WRP is increasingly hegemonic through Pancasila, and is constructed in accordance with the policy of religious life from the colonial era to the orde New Order (Orde Baru). Thus, the definition and categorization of religion are stricter and more political. Second, this construction has implications for: (1) Monotheism becoming the standard feature of "recognized religion", making it exclusive and discriminatory. (2) In order to be recognized by the state, Hinduism, Buddhism, and Confucianism are forced to monotheize their theological concepts and submit to Pancasila. (3) The government hastily reduces various local practices to "belief systems". (4) Religion becomes the main identity in citizenship, leading to discrimination and stigmatization of believers of faiths. (5) Academically, the WRP also influences the paradigm in the study of religion. This article recommends the need for a re-identification of religious categories academically, outside of political interests. In addition, it is necessary to distinguish native religions from belief systems because even though they are not identical to world religions, they are not as simple as spiritual practices. Abstrak: Artikel ini mendiskusikan bagaimana kata "agama" dikonseptualisasi di Indonesia dan implikasinya. Melalui studi kepustakaan, data dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif, dan ditemukan bahwa: Pertama, kata “agama” secara konseptual dikonstruksi secara akademis berdasarkan paradigma agama dunia (WRP) dengan Islam sebagai model dan monoteistik sebagai fitur utama. Secara politis, WRP semakin hegemonik melalui Pancasila, lalu dikonstruksi seturut kebijakan kehidupan beragama dari masa kolonial hingga Orde Baru. Jadi definisi dan kategori agama lebih ketat dan politis. Kedua, konstruksi ini berimplikasi pada: (1) Monoteistik menjadi ciri standar pengakuan “agama”, sehingga eksklusif dan diskriminatif. (2) Agar diakui negara, Hindu, Budha, dan Konghucu dipaksa untuk memonoteistifikasi konsep teologinya, tunduk kepada Pancasila. (3) Pemerintah secara gegabah mereduksi berbagai praktik lokal ke dalam "aliran kepercayaan". (4) Agama menjadi identitas utama dalam kewarganegaraan, yang mengarah pada diskriminasi dan stigmatisasi penghayat kepercayaan. (5) Secara akademis, WRP juga mempengaruhi paradigma dalam studi agama. Artikel ini merekomendasikan perlunya identifikasi ulang kategori agama secara akademis, di luar kepentingan politik. Selain itu, perlu membedakan agama pribumi dari aliran kepercayaan karena meskipun tidak identik dengan agama dunia, namun ia tidak sesederhana sebagai praktik kebatinan.
Integrasi Islam dan Politik dalam Perspektif Hamka Amril Amril; Endrika Widdia Putri; Delavia Andrea
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17097

Abstract

The human desire to engage in politics is an integral part of their nature. However, in order to conduct politics well and in line with desired goals, a strong understanding of politics is required. Therefore, it is important to understand the concept of politics in Islam through modernist figures such as Hamka, who created a new conception of Islam and politics. The purpose of this research is to analyze Hamka's views on the rules of politics in Islam and the goals of Islamic politics. This research is the result of a qualitative literature study using Hamka's work entitled "Lembaga Hidup" as the main source. The results of the study show that, according to Hamka, the rules of Islamic politics should be based on natural law, moral law, and the law of human nature, and serve the interests of individuals, not groups or the state. The purpose of Islamic politics is to create justice for society, provide individual freedom, and create unity, brotherhood, and equality among human beings.Abstrak: Keinginan manusia untuk berpolitik adalah bagian integral dari kodrat kemanusiaannya. Namun, untuk menjalankan politik dengan baik dan sejalan dengan tujuan yang diinginkan, diperlukan pemahaman yang kuat tentang perpolitikan. Oleh karena itu, penting untuk memahami konsep perpolitikan dalam Islam melalui tokoh modernis seperti Hamka, yang menciptakan konsepsi baru tentang Islam dan politik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pandangan Hamka tentang aturan perpolitikan dalam Islam serta tujuan politik Islam. Penelitian ini merupakan hasil kajian kepustakaan menggunakan metode kualitatif dengan sumber utama yaitu karya Hamka yang berjudul "Lembaga Hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Hamka, aturan perpolitikan Islam harus didasarkan pada hukum alam, hukum moral, dan hukum fitrah manusia serta melayani kepentingan individu, bukan kepentingan kelompok atau negara. Tujuan dari politik Islam adalah untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat, memberikan kebebasan individu, serta menciptakan persatuan, persaudaraan, dan kesetaraan antar-manusia.
Magisitas Al-Qur’an dalam Pengobatan Sakit Gigi dengan Media Paku pada Masyarakat Madura Abd. Basid; Faridatul Maulidah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17189

Abstract

Throughout the history of the Quran, the reception of the Quranic text and hadith by humanity has continued to evolve and has not always been the same in every time and place. The response and reaction of people to the Quran vary greatly, and one of them is the practice of treating toothache using Quranic verses and a nail as a tool in the village of Tobungan, Galis District, Pamekasan Regency, Madura. This shows that the Quran is not only a routine reading for Muslims during worship, but it can also be applied for healing purposes. This study uses a descriptive qualitative method, living Quran analysis, religious psychological approach, and interview, observation, and literature techniques. The study shows that Q.S. Al-Fatihah is positioned by some of the community members in Tobungan Village, Galis District, Pamekasan Regency, Madura as a verse that has magical power and can be used as a healing tool with additional rituals and equipment, such as nails and paper. This study concludes that the Quran is not only a religious text to be read during worship, but it also has healing value. Living Quran practices such as treating toothache with Quranic verses and nails in the village of Tobungan, Galis District, Pamekasan Regency, Madura demonstrate changes in people's response and reaction to the Quran over time and place. This study provides an overview of how the value of the Quran can change and be interpreted by the community according to their context and needs. Abstrak: Dalam perjalanan sejarah Al-Qur’an, penerimaan teks Al-Quran dan hadis oleh umat manusia terus berkembang dan tidak selalu sama di setiap waktu dan tempat. Respons dan tanggapan masyarakat terhadap Al-Quran sangat beragam dan salah satunya adalah praktik pengobatan sakit gigi dengan menggunakan ayat Al-Qur’an dan media paku di Desa Tobungan Kecamata Galis Kabupaten Pamekasan Madura. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran tidak hanya sebagai rutinitas bacaan umat muslim ketika beribadah, namun juga bisa diaplikasikan sebagai pengobatan. Kajian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, analisa living Qur’an, pendekatan psikologis religious, dan teknik wawancara, observasi dan pustaka. Kajian menunjukkan bahwa Q.S. Al-Fatihah oleh sebagian masyarakat Desa Tobungan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan Madura diposisikan sebagai ayat yang memiliki kekuatan magis yang bisa menjadi media pengobatan dengan ritual dan perlengkapan tambahan berupa paku dan kertas. Kajian ini menyimpulkan bahwa Al-Quran tidak hanya sebagai teks keagamaan untuk dibaca dalam rutinitas ibadah, tetapi juga memiliki nilai pengobatan. Praktik living Quran seperti pengobatan sakit gigi dengan ayat Al-Quran dan media paku di Desa Tobungan Kecamata Galis Kabupaten Pamekasan Madura menunjukkan perubahan respons dan tanggapan masyarakat terhadap Al-Quran seiring waktu dan tempat. Studi ini memberikan gambaran bagaimana nilai Al-Quran bisa berubah dan diinterpretasikan oleh masyarakat sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka.