cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Memahami Hadis dalam Perspektif Sains Modern: Kajian Teori dan Metode Rahmanini, Aulia; Matondang, Syaza El-Millah; Zein, Achyar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.24039

Abstract

In the era of modern scientific advancements, there is an increasing need to reassess the methods of hadith interpretation to ensure its relevance to contemporary scientific developments. Many hadiths explicitly address scientific phenomena, but their proper interpretation requires careful and methodological approaches. This study aims to analyze the theories and methods used in interpreting hadiths, particularly in the context of modern science, and to explore how the values embedded in hadiths can contribute to the advancement of science and technology. The study employs a qualitative approach using library research methods. Primary data consists of hadiths sourced from authentic hadith collections, while secondary data is derived from relevant scientific literature. The analysis is conducted through content analysis and comparative methods, comparing hadiths with contemporary scientific findings. The results showed that many hadiths align with scientific phenomena, such as those concerning embryonic development, food consumption, and the benefits of Zamzam water, which correspond to modern scientific discoveries. Understanding hadiths within the framework of science requires the application of appropriate theories and methods, such as thematic and linguistic analysis. This study reaffirms that integrating hadith and modern science is crucial to ensuring the relevance of Islamic teachings in contemporary contexts. The use of proper interpretative methods can lead to accurate and meaningful interpretations, enriching the dialogue between religion and science.Abstrak: Dalam era kemajuan sains modern, muncul kebutuhan untuk mengkaji kembali metode pemahaman hadis agar relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak hadis yang secara eksplisit berkaitan dengan fenomena ilmiah, namun pemahaman yang tepat membutuhkan pendekatan yang cermat dan metodologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori dan metode dalam memahami hadis, khususnya dalam konteks sains modern, serta mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam hadis dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data primer berupa hadis yang diambil dari kitab-kitab hadis sahih, sementara data sekunder diperoleh dari literatur terkait sains modern. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) dan komparasi, membandingkan hadis dengan temuan ilmiah terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak hadis yang relevan dengan fenomena ilmiah, seperti hadis mengenai perkembangan embrio, konsumsi makanan, dan manfaat air Zamzam, yang sejalan dengan temuan ilmiah modern. Pemahaman hadis dalam konteks sains membutuhkan penerapan teori dan metode yang tepat, seperti analisis tematik dan kebahasaan. Penelitian ini menegaskan kembali bahwa integrasi antara hadis dan sains modern sangat penting untuk memastikan relevansi ajaran Islam dalam konteks kontemporer. Penggunaan metode yang tepat dalam memahami hadis dapat menghasilkan pemahaman yang akurat dan relevan, memperkaya dialog antara agama dan sains.
Studi Kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas Min Tafsir Ibni ‘Abbas oleh Al-Fairuzabadi Hikmah, Farisa Aliyatul; Dahliana, Yeti; Nirwana, Andri; Suharjianto, Suharjianto; Azizah, Alfiyatul; Rha’in, Ainur
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22695

Abstract

Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas by Al-Fairuzabadi is a classical tafsir (Quranic exegesis) that compiles the interpretative methodology of Ibnu ‘Abbas and offers a unique perspective in tafsir studies. This study aims to deepen understanding of the interpretative methodology in "Tanwir al-Miqbas," detailing how Ibnu ‘Abbas interpreted the Quran as compiled by Al-Fairuzabadi. Utilizing a qualitative approach and bibliographic research, this study relies on primary and secondary data sources for a descriptive analysis of Al-Fairuzabadi’s biography, interpretative methodology, as well as the strengths and weaknesses of "Tanwir al-Miqbas" tafsir. It reveals that this exegesis emphasizes a global (ijmali) explanation of Quranic verses using popular and accessible language, incorporating narrations of Ibnu ‘Abbas in interpretation. Although considered a tafsir bil ma'tsur, it exhibits broader exploration on certain verses. "Tanwir al-Miqbas" presents an important perspective in tafsir studies, merging ijmali and linguistic interpretative methodologies that directly refer to Prophet Muhammad. Despite questions regarding the validity of its sanad (chain of transmission), this work remains a significant contribution to Quranic exegesis literature.Abstract: Kitab Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni ‘Abbas karya Al-Fairuzabadi merupakan salah satu tafsir klasik yang menghimpun metodologi penafsiran Ibnu ‘Abbas dan menawarkan perspektif unik dalam studi tafsir. Kajian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang metodologi penafsiran dalam Tanwir al-Miqbas, menguraikan cara Ibnu ‘Abbas menafsirkan Al-Quran yang dikompilasi oleh Al-Fairuzabadi. Menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan sekunder untuk analisis deskriptif tentang biografi Al-Fairuzabadi, metodologi penafsiran, serta kelebihan dan kekurangan tafsir Tanwir al-Miqbas. Kajian ini menunjukkan bahwa kitab tafsir ini menekankan penjelasan global (ijmali) ayat-ayat Al-Quran menggunakan bahasa yang populer dan mudah dipahami, menggabungkan riwayat Ibnu ‘Abbas dalam penafsiran. Meski dianggap sebagai tafsir bil ma'tsur, terdapat eksplorasi lebih luas pada ayat tertentu. Kitab Tanwir al-Miqbas menawarkan perspektif penting dalam studi tafsir, menggabungkan metodologi penafsiran ijmali dan linguistik yang merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada pertanyaan mengenai validitas sanad, karya ini tetap berkontribusi signifikan dalam literatur tafsir Al-Quran
Spiritualitas dan Kewirausahaan: Eksplorasi Peran Praktik Tasawuf dalam Kesuksesan Usaha Priyanto, Aris; Mahdafi, M. Reza; Saputri, Mita Mahda
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.21897

Abstract

This article explores the impact of Tasawuf (Islamic mysticism) practices on entrepreneurial success, focusing specifically on jeans entrepreneurs in Wonopringgo, Pekalongan District. This study adopts a qualitative approach with a Tasawuf Akhlaki framework to understand how spiritual values influence business behaviors. The subjects of the research include three entrepreneurs, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Descriptive analysis reveals that the continuity of worship practices, particularly prayer, significantly contributes to developing entrepreneurs who are resilient and have integrity. The findings affirm that entrepreneurs who are consistent in their worship practices tend to experience better business stability and growth. This study confirms that integrating Tasawuf in entrepreneurship not only enriches the personal dimensions of entrepreneurs but also yields a competitive advantage. These conclusions suggest the importance of considering spiritual factors in modern business development strategies.Abstrak: engan fokus khusus pada pengusaha celana jeans di Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka tasawuf akhlaki untuk memahami bagaimana nilai-nilai spiritual mempengaruhi perilaku bisnis. Subjek penelitian meliputi tiga pengusaha, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa keberlanjutan praktik ibadah, khususnya shalat, secara signifikan berkontribusi pada pembentukan karakter pengusaha yang resilien dan berintegritas. Hasil ini menegaskan bahwa pengusaha yang konsisten dalam praktik ibadahnya cenderung mengalami stabilitas dan pertumbuhan bisnis yang lebih baik. Studi ini mengkonfirmasi bahwa integrasi tasawuf dalam kewirausahaan tidak hanya memperkaya dimensi pribadi pengusaha tetapi juga menghasilkan keuntungan kompetitif. Kesimpulan ini menyarankan pentingnya mempertimbangkan faktor spiritual dalam strategi pengembangan bisnis modern.
Ismail Raji Al-Faruqi: The Islamization of Sciences and Its Philosophy IT, Suraiya
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23423

Abstract

Islam is a way of life that provides guidance and direction to Muslims in all aspects. However, the separation between religion and secularism has become a reality, leading to various issues. The lack of knowledge about Islam and illiteracy has made the faith of Muslims emotional and intolerant in religious matters. Conversely, young graduates from secular institutions possess deep scientific knowledge but lack understanding of religious issues, creating tension between modern and religious groups, which ultimately causes social, political, and economic instability. This article aims to analyze Al Faruqi's ideas and thoughts on the Islamization of Knowledge and how this approach can address the conflict between contemporary science and Islamic principles, as well as strengthen the unity and development of the Muslim community. This research employs a qualitative method with a textual analysis approach to Al Faruqi's works. The primary data sources consist of Al Faruqi's writings on the Islamization of Knowledge and secondary literature discussing his thoughts. The data analysis technique involves examining the arguments put forth by Al Faruqi and assessing their relevance and application in the modern context. The research finds that Al Faruqi presents several important arguments, one of which is that contemporary sciences lack objectivity and are not entirely scientific because humans cannot be neutral or value-free. He argues that Allah created humans with the gift of Al’aql (mind and reasoning) and senses to influence and be influenced. Only when these sciences adopt divine principles and an ummatic approach can they be applied universally. Al Faruqi's approach to the Islamization of Knowledge offers a solution to address the conflict between modern and religious groups by emphasizing the integration of scientific knowledge with Islamic principles. This not only enhances understanding and tolerance within the Muslim community but also has the potential to strengthen the social, political, and economic stability of Muslims as a whole. 
Utilization of Al-Qur'an Verses in Mental Therapy at The Islamic Therapy Center (ITC), Banda Aceh Bahri, Samsul; Wahid, Abdul; AB, Zuherni; Humaira, Siti
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.10145

Abstract

The Quran, serving as a guiding principle for Muslims' lives, provides comprehensive rules regarding life in this world and the hereafter. Described as “al-Shifa” or a healing remedy, the Quran plays a crucial role as a cure for all ailments, both physical and spiritual. Mental therapy emerges as a vital aspect in maintaining life balance and addressing mental disorders. This article aims to explore the role of Quranic verses as a method of mental therapy at the Islamic Therapy Center (ITC) in Banda Aceh. The study employs a qualitative method with field research. Data are obtained through observations and in-depth interviews at ITC Banda Aceh. The study reveals that mental therapy at ITC involves Quranic verses as a means of treatment closely tailored to the patients' level of disturbance. Cases ranging from mild to severe disorders are addressed through the recitation of adapted ruqyah verses. The study concludes that Quranic-based mental therapy at ITC Banda Aceh is effective in addressing various mental disorders, leading to physical and mental improvements post-ruqyah therapy. Positive impacts include increased faith, inner peace, and a deeper spiritual understanding. Thus, this approach can be considered an alternative in addressing the mental health of the community.Abstrak: Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat Muslim, memberikan aturan paripurna terkait kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur'an dijelaskan sebagai “al-Syifā” atau obat penawar, memegang peran penting sebagai penyembuh segala penyakit, baik fisik maupun rohani. Terapi mental menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan mengatasi gangguan jiwa. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ayat-ayat Al-Qur'an sebagai metode terapi mental di Islamic Therapy Center (ITC) Banda Aceh. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam di ITC Banda Aceh. Kajian ini menunjukkan bahwa terapi mental di ITC melibatkan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sarana pengobatan dan terkait erat pada tingkat gangguan pasien. Kasus-kasus seperti gangguan ringan, sedang, hingga berat, semuanya ditangani dengan membaca ayat-ayat ruqyah yang disesuaikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa terapi mental berbasis Al-Qur'an di ITC Banda Aceh efektif dalam mengatasi berbagai gangguan jiwa. Pasien mengalami perbaikan fisik dan mental setelah menjalani terapi ruqyah. Dampak positif ini mencakup peningkatan keimanan, ketenangan jiwa, dan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan alternatif dalam merawat kesehatan mental masyarakat.
Dating Apps dalam Perspektif Hadis: Kajian Tematik Zina di Era Digital Rozaq, Muhammad Abdur; Muzakki, Muhammad Asgar; ‘Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23455

Abstract

Technological advancements have influenced human interactions, including partner searches through dating apps. Although dating apps offer certain benefits, they also raise concerns regarding behaviors that verge on zina (adultery), especially within Muslim societies. This study aims to examine the Islamic perspective, particularly through thematic hadith, on the use of dating apps in relation to zina behavior prohibited by the Qur'an and As-Sunnah. The research employs a library research method, gathering data from books, journals, and other relevant literature sources. A thematic-conceptual approach in hadith studies is utilized to analyze various forms of zina and how the use of dating apps can potentially lead to such behaviors. The findings of this study indicate that using dating apps, whether for finding a life partner or for entertainment, can create opportunities for various forms of zina, including zina of the eyes, zina of the tongue, and zina of the heart. However, the use of dating apps can be acceptable in Islam if conducted with good intentions, in accordance with sharia, maintaining ethics, and avoiding actions that approach zina. Therefore, the importance of education and self-awareness in using technology is emphasized, along with the role of the community and scholars in providing guidance aligned with Islamic teachings.Abstrak: Kemajuan teknologi telah mempengaruhi cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pencarian pasangan melalui dating apps. Meskipun memiliki manfaat, dating apps juga menimbulkan kekhawatiran terkait risiko perilaku yang mendekati zina, terutama dalam masyarakat Muslim. Studi ini bertujuan untuk mengkaji perspektif Islam, khususnya melalui hadis tematik, terhadap penggunaan dating apps dalam kaitannya dengan perilaku zina yang dilarang oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan mengumpulkan data dari buku, jurnal, dan sumber literatur lainnya yang relevan. Pendekatan yang digunakan adalah tematik-konseptual dalam kajian hadis, untuk menganalisis berbagai bentuk zina dan bagaimana penggunaan dating apps dapat berpotensi menimbulkan perilaku tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan dating apps untuk mencari pasangan hidup maupun sekadar hiburan dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk zina, termasuk zina mata, zina lisan, dan zina hati. Namun, penggunaan dating apps dapat diterima dalam Islam jika dilakukan dengan niat yang baik, sesuai dengan syariat, menjaga etika, dan menghindari hal-hal yang mendekati zina. Oleh karena itu, pentingnya edukasi dan kesadaran diri dalam penggunaan teknologi juga ditekankan, serta peran komunitas dan ulama dalam memberikan panduan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Syukur sebagai Pencegah Insecure Perspektif Abu Hamid Al-Ghazali Hakim, Lukman; Baaly, Ali Sajjad; Yamani, Abu Bakar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22711

Abstract

In the contemporary era characterized by rapid technological advancements, humans encounter both conveniences and challenges, one of which is the emergence of feelings of insecurity. This study aims to explore the feeling of insecurity and its relationship with the concept of gratitude within Sufism, from the perspective of Abu Hamid Al-Ghazali, as a preventative strategy. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, this research reveals that gratitude can serve as an effective mechanism to mitigate feelings of insecurity. According to Al-Ghazali, gratitude comprises three hierarchical components: knowledge, spiritual state, and action. The findings indicate that the internalization and practice of these components can act as preventative measures against insecurity. In terms of knowledge, individuals are required to acknowledge and believe that everything originates from Allah, which stimulates positive thinking and happiness towards Allah and oneself. This belief and love for Allah lead to an intrinsic desire to perform good deeds, indirectly alleviating feelings of insecurity.Abstrak: Di era modern yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, manusia menghadapi berbagai kemudahan sekaligus tantangan, salah satunya adalah munculnya perasaan tidak aman atau insecure. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perasaan insecure dan hubungannya dengan konsep syukur dalam sufisme, berdasarkan perspektif Abu Hamid Al-Ghazali, sebagai strategi preventif. Menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, studi ini mengungkapkan bahwa syukur dapat menjadi mekanisme efektif untuk mengatasi perasaan insecure. Menurut Al-Ghazali, syukur terdiri dari tiga komponen hierarkis: pengetahuan (ilmu), kondisi spiritual (hal), dan tindakan (amal). Penelitian ini menunjukkan bahwa proses internalisasi dan praktik dari ketiga komponen ini dapat berfungsi sebagai langkah preventif terhadap insecure. Dalam aspek ilmu, diwajibkan bagi individu untuk mengakui dan percaya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, yang menstimulasi pemikiran positif dan rasa bahagia terhadap Allah dan diri sendiri. Kepercayaan dan cinta kepada Allah mengarah pada keinginan intrinsik untuk berbuat baik, secara tidak langsung menekan perasaan insecure. 
Masyarakat Nelayan dalam Merawat Multikulturalisme Liata, Nofal; Alawiyah, Tuti; Natasya, Zahwa
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.25442

Abstract

This study explores the concept of multiculturalism within the fisherman community of Pusong Village, Lhokseumawe, Aceh Province. Here, multiculturalism naturally emerges among low-income and fisherman populations, not upheld by the educated members of the society. This research aims to identify how multiculturalism is maintained in a village that has historically grown on the outskirts of Lhokseumawe since the beginning of Indonesia's independence. The focus is on understanding the existing social relationship patterns, exploring the multicultural understanding developed by the community, and investigating why the majority of the fisherman community accepts a diversity of ethnicities and religions in their village. A qualitative descriptive methodology was employed, with data gathered through field observations, in-depth interviews, and relevant literature analysis. The findings reveal that the sustenance of multiculturalism in Pusong Village is supported by communal empathy, active roles of community leaders as models of socialization, high social concern, social interactions transcending individual backgrounds, and strong adherence to local norms and rules. Multiculturalism in Pusong Village organically evolves, significantly influenced by the economic and social dynamics associated with the village's position as a port and market area. This study demonstrates how ethnic and religious diversity in Pusong Village can serve as an exemplar of how diversity can promote social harmony and enhance communal welfare.Abstrak: Penelitian ini menggali konsep multikulturalisme dalam komunitas nelayan di Desa Pusong, Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Dalam studi ini, multikulturalisme muncul secara alami di kalangan masyarakat berpendapatan rendah dan buruh nelayan, bukan dikawal oleh warga berpendidikan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana multikulturalisme dipertahankan di desa yang secara historis tumbuh di pinggiran kota Lhokseumawe sejak awal kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola hubungan sosial yang ada, menggali pemahaman multikultural yang dibangun oleh masyarakat, dan menjelajahi alasan penerimaan ragam etnis dan agama oleh mayoritas masyarakat nelayan di desa tersebut. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan multikulturalisme di Desa Pusong didukung oleh empati antar komunal, peran aktif tokoh masyarakat sebagai model sosialisasi, kepedulian sosial yang tinggi, interaksi sosial yang melampaui latar belakang individu, dan pengikatan kuat pada norma serta aturan lokal. Multikulturalisme di Desa Pusong berkembang secara organik, terutama dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan posisi desa sebagai area pelabuhan dan pasar. Penelitian ini mengungkapkan bahwa adaptasi dan toleransi yang terjadi di Desa Pusong dapat menjadi contoh bagaimana diversitas etnis dan agama dapat mempromosikan harmoni sosial dan meningkatkan kesejahteraan komunal.  
Kontroversi Hukum Shalat Gaib: Analisis Fiqh Al-Hadith M. Jakfar, Tarmizi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.22402

Abstract

Among the types of prayers performed by Muslims on the dead body is occult prayer, which is blaming the body of his fellow Muslim brother who died, but the body is not in front of the person performing the funeral prayer, but is elsewhere. Regarding the observance of occult prayers, there is disagreement among scholars. Some are restrictive and some forbid and there are also scholars who view the Sunnah in certain circumstances, not in others. This difference arises due to differences in the way the scholars of the madhab take religious law from the hadith text. In this study, the author uses a type of library research and this type of research is comparative descriptive with the fiqh al-hadith approach. The crux of the problem in this article is: first, what is the quality of the hadiths about occult prayers. Second, How is the quality of the hadiths related to occult prayers with the understanding of madhab scholars. Imam al-Shafi'i and one of Imam Ahmad's opinions consider the occult funeral prayer to be absolutely solemnized, based on the hadith of Najasyi. According to them, this hadith is a common proposition. Imam Hanafi and Imam Malik said it was forbidden, because the practice of praying the occult corpse of the Prophet (saw) over Najasyi was a specialty for the Prophet (saw) that should not be followed by the people, as for the practice of praying the Prophet over Najasyi, because Allah had raised Najasyi before the Prophet (saw). While other scholars such as Ibn Taymiyah, Abdurrahman 'Ali Sa'di, Shaykh Ibn Baz and others, argue that the prayer of the occult corpse is prescribed under certain conditions only, not in other conditions. This condition is if the corpse has great priority and contribution to the people, as well as those who have not been prayed the body.Abstrak: Di antara jenis shalat yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah adalah shalat gaib, yakni menyalatkan jenazah saudaranya sesama muslim yang wafat, tetapi jenazahnya tidak berada di depan orang yang melakukan shalat jenazah itu, melainkan berada di tempat lain. Mengenai disyariatkannya shalat gaib terdapat perselisihan di kalangan ulama. Ada yang menyunahkan dan ada pula yang mengharamkan dan ada juga ulama yang memandang sunnah dalam keadaan tertentu, tidak dalam keadaan yang lain. Perbedaan ini timbul dikarenakan adanya perbedaan cara para ulama mazhab dalam pengambilan hukum agama dari teks hadis. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kajian kepustakaan (library research) dan tipe penelitian ini adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan fiqh al-hadith. Inti permasalahan dalam artikel ini adalah: pertama, bagaimana kualitas hadis-hadis tentang shalat gaib. Kedua, Bagaimana keterkaitan kualitas hadis-hadis shalat gaib dengan pemahaman ulama mazhab. Imam al-Syafi’i dan salah satu pendapat Imam Ahmad menilai shalat jenazah gaib disyariatkan secara mutlak, di dasarkan pada hadis Najasyi. Menurut mereka hadis tersebut merupakan dalil yang umum. Imam Hanafi dan Imam Malik mengatakan diharamkan, karena praktek shalat jenazah gaib Nabi saw. atas Najasyi merupakan kekhususan bagi Nabi saw. yang tidak boleh diikuti oleh umat, adapun praktek shalat Nabi atas Najasyi, karena Allah telah mengangkat Najasyi di hadapan Nabi saw. Sedangkan ulama lain seperti Ibn Taymiyah, Abdurrahman ‘Ali Sa’di, Syaikh Ibn Baz dan yang lainnya, berpendapat shalat jenazah gaib disyariatkan dalam kondisi tertentu saja, tidak pada kondisi yang lain. Kondisi tersebut adalah jika jenazah memiliki keutamaan dan andil besar untuk umat, serta yang belum dishalatkan jenazah.
Konsep Muraqabah dan Pencapaian Personalitas Kolektif dalam Pemikiran Tasawuf Muhammad Fethullah Gulen Hakim, Lukman; Saleh, Fauzi; Zaini, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23688

Abstract

The basic of Islamic Sufism thought is how to develop human spiritual awareness. In Muhammad Fethullah Gulen's view, Sufism's thought has the urgency of increasing individual spirituality until the collective spiritual personality of Muslims is realized. This collective personality will emerge from the muqarabatullah person, who believes that his life is always under the supervision of Allah. This article discusses the concept of Muraqabah and the formation of a perfect human in the perspective of Muhammad Fethullah Gulen. This study focuses on a literature review that try to describe and analyze the realm of Sufism studies on Muhammad Fethullah Gulen through his works and other writings relevant. Conceptually, Gulen said that Muraqabah is an important element in the study of Sufism which is built on total awareness that humans are always under the supervision of Allah. The predicate of muqarabatullah will be possible to achieve through belief that Allah is always present, looking and seeing in detail our lives, both physically and spiritually. Then put your trust in Allah and open your heart to receive the abundance of divine grace with patience and steadfastness. Gulen stated that achieving this level of faith would make the collective spiritual problems of the Muslim community complete.Abstrak: Dasar utama dari pemikiran tasawuf Islam adalah bagaimana membangkitkan kesadaran spiritual manusia. Dalam pandangan Muhammad Fethullah Gulen, pemikiran tasawuf memiliki urgensitas dalam peningkatan spiritualitas individual hingga terwujud personalitas spiritual kolektif muslim. Personalitas kolektif atau collective personality ini akan muncul dari insan muqarabatullah, yang meyakini bahwa hidupnya selalu dalam pengawasan Allah. Artikel ini membahas tentang konsep muraqabah dan pembentukan manusia paripurna dalam perspektif Muhammad Fethullah Gulen. Kajian ini difokuskan pada kajian kepustakaan yang mencoba mendeskripsikan dan menganalisis ranah kajian tasawuf Muhammad Fethullah Gulen melalui karya dan tulisannya yang relevan. Secara konseptual Gulen menyampaikan bahwa Muraqabah adalah salah satu elemen penting dalam kajian tasawuf yang dibangun atas kesadaran total bahwa manusia selalu dalam pengawasan Allah. Predikat muqarabatullah akan mungkin digapai melalui keyakinan bahwa Allah selalu hadir, memandang dan melihat secara detail kehidupan kita lahir dan batin. Kemudian bertawajuh kepada Allah dan membuka hati menerima limpahan anugerah ilahi dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Gulen mengemukakan bahwa pencapaian level keimanan ini akan mewujudkan persoalitas spiritual kolektif komunitas muslim menjadi paripurna.