cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Agama, Mitos dan Sains: Perspektif Masyarakat tentang Covid-19 Ernita Dewi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v23i2.10194

Abstract

After the United Nations declared a worldwide pandemic of the Covid-19 virus, the debate over religion and science resurfaced. This situation raises various responses and perceptions in the middle. The Indonesian people are no exception. Since the first case of the Covid-19 virus was recorded in Indonesia in March 2020, the pros and cons in Acehnese society, especially in Pidie Jaya Regency, began to emerge. Some communities say that the virus was engineered while others claim that the virus is a myth. This study aims to identify the Pidie Jaya Community's perspective on the Covid-19 virus. This research was conducted in Pidie Jaya Regency using a descriptive qualitative approach. Data collection techniques using documentation and interview techniques. This research shows that some people believe that the Covid-19 virus is scientific and needs to be studied with science and technology. They stated that to avoid the virus, they had to follow health protocols. But some believe that the Covid-19 virus will not affect the people of Aceh, except for the Chinese community, where the virus originated. This perspective makes people ignore health procedures, so they are reluctant to use masks, do not keep their distance, and wash their hands because they are sure that their bodies will not be infected by the Covid-19 virus. Besides that, some people don't believe at all about the virus, and say it's just a lie, fabricated by certain parties, to scare people. For people who don't believe in this virus, they are very ignorant of health procedures, they believe that only reading prayers can reject this virus.Abstrak: Setelah PBB menyatakan pandemi virus Covid-19 diseluruh dunia, perdebatan mengenai agama dan sains muncul kembali. Keadaan tersebut memunculkan berbagai respon dan persepsi di tengah masyarakat. Tak terkecuali dikalangan masyarakat Indonesia. Sejak kasus virus Covid-19 pertama sekali tercatat di Indonesia pada Maret 2020, pro kontra di dalam masyarakat Aceh terutama di Kabupaten Pidie Jaya mulai bermunculan.  Beberapa komunitas  mengatakan bahwa virus itu rekayasa dan sebagian lainnya menyatakan bahwa virus tersebut adalah mitos. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perspektif Masyarakat Pidie Jaya tentang virus Covid-19. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pidie Jaya dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan Teknik dokumentasi dan wawancara. Hal penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat percaya bahwa virus Covid-19 adalah  ilmiah dan perlu dikaji dengan ilmu penggetahuan  dan teknologi. Mereka menyatakan bahwa untuk menghindari virus tersebut, mereka harus mengikuti protokol kesehatan. Tetapi masih ada juga yang percaya bahwa virus Covid-19 itu tidak akan terdampak pada masyarakat Aceh, kecuali masyarakat Cina, dimana virus itu berasal. Cara  pandang  seperti ini membuat  masyarakat mengabaikan prosedur kesehatan, sehingga mereka enggan menggunakan masker, tidak menjaga jarak, dan mencuci tangan karena yakin tubuhnya tidak akan dihinggapi oleh virus Covid-19. Disamping itu ada juga masyarakat yang tidak percaya sama sekali tentang virus tersebut, dan menyebutkan hanya cerita bohong, rekayasa pihak-pihak tertentu, untuk membuat masyarakat takut. Bagi masyarakat yang tidak percaya tentang virus ini, maka mereka sangat abai dengan prosedur kesehatan dan mereka yakin dengan hanya membaca doa mereka dapat menolak virus ini
Konsep Al-‘Ilm dalam Studi Pemikiran Filsafat Mulla Sadra Nurul Khair
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v23i2.10797

Abstract

This paper is a literature review of Mulla Sadra's thoughts on the concept of ilm al-ilahī to complement the western epistemological discourse which is considered to eliminate the spiritual aspect in philosophy. This paper aims to explain the meaning, purpose, and urgency of Ilm al-Ilahī to add paradigms and individual behavior in Mulla Sadra's perspective by referring to one of his magnum opus entitled al-Hikmah al-Mutāliyah fī al-Asfār al-Aqliyyah al-Arba'ah. . By using the philosophical descriptive method, it is concluded that al-'Ilm al-Ilah' in Mulla Sadra's philosophical systematics explains the significance of the paradigm and individual behavior to achieve ultimate perfection through the actuality of the soul. The soul in Mulla Sadra's view is the substance of human existence that experiences a movement from potential to actuality by involving the existence of reason and the five senses as the basic building of Islamic epistemology. The result of this paper is that the western epistemological discourse has not yet explained spiritual knowledge in human existence, while Mulla Sadra's significant role is to complete it by adding the spiritual side that is neglected in western discourse.Abstrak: Tulisan ini merupakan telaah pustaka pemikiran Mulla Sadra mengenai konsep ilm al-ilahī untuk menyempurnakan wacana epistemologi barat yang dipandang telah menghilangkan pengetahuan spiritual dalam peradaban filsafat. Tulisan ini bertujuan menjelaskan makna, tujuan, dan urgensi Ilm al-Ilahī untuk menyempurnakan paradigma dan perilaku individu dalam perspektif Mulla Sadra dengan merujuk salah satu magnumopusnya yang berjudul al-Hikmah al-Mutāliyah fī al- Asfār al-Aqliyyah al-Arba’ah. Dengan menggunakan metode deskriptif filosofis dihasilkan kesimpulan bahwa al-‘Ilm al-Ilahī dalam sistematika filsaat Mulla Sadra menjelaskan signifikansi paradigma dan perilaku individu untuk mencapai kesempurnaan hakiki melalui aktualitas jiwa. Jiwa dalam pandangan Mulla Sadra merupakan substansi keberadaan manusia yang mengalami pergerakan dari potensial menuju aktualitas dengan melibatkan eksistensi akal dan pancaindra sebagai bangunan dasar epistemologi Islam. Hasil dari tulisan ini, ialah menyempurnakan wacana epistemologi barat yang dipandang belum menjelaskan pengetahuan spiritual dalam eksistensi manusia melalui studi pemikiran Mulla Sadra.
Terjemahan Al-Qur`an Bahasa Dayak Kanayatn: Telaah Vernakularisasi sebagai Upaya Awal menunju Indigenisasi Wendi Parwanto
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v23i2.9412

Abstract

Rural communities in West Kalimantan use the Dayak language as their daily communication language. However, they do not understand the language, this condition makes it difficult for them to understand the contents of the Qur'an which is generally translated into language. This is qualitative research, with a descriptive-analytic method. The results of this study indicate that the Vernacularization of the Qur'an in the Kanayatn Dayak language has never been done before. Therefore, based on this, the research is feasible to do. The stage is to see the vernacularization process as an initial effort of indigenization (indigenization), especially for the people of the interior of West Kalimantan. The results of this study indicate that the vernacularization of the Qur'an is carried out using the ijmali (global) interpretation method by providing footnotes for verses that require explanation. Meanwhile, the process of indigenization is to make the Qur'an easier to understand, especially for the people of the interior of West Kalimantan, so that the values of the Qur'an can be applied in the daily life of the Dayak community.Abstrak: Masyarakat pedalaman Kalimantan Barat menggunakan bahasa Dayak sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dan minimnya pemahaman dalam bahasa Indonesia, hal tersebutlah menyulitkan mereka untuk memahami isi al-Qur`an yang pada umumnya menggunakan terjemahan bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan motede analisis-deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Vernakularisasi Al-Qurʻan dalam bahasa Dayak Kanayatn belum pernah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, berdasarkan hal tersebut maka penelitian layak untuk dilakukan yaitu melihat proses vernakularisasi sebagai upaya awal dari indigenisasi (pribumisasi) terutama untuk masyarakat pedalaman Kalimantan Barat.  Adapun hasil dari penelitian ini adalah vernakularisasi Al-Qur'an yang mencakup seluruh isi al-Qur'an dengan menggunakan metode interpretasi ijmali (global), yaitu dengan memberikan catatan kaki untuk ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan. Sementara proses indigenisasinya adalah menjadikan al-Qur'an lebih mudah dipahami, terutama untuk masyarakat pedalaman Kalimantan Barat, sehingga nilai-nilai al-Qur'an dapat bumisasikan.
Pemikiran Gender Asghar Ali Engineer tentang Konsep Keluarga Berencana Ahmad Murtaza MZ; Iin Parninsih; Raisa Zuhra Salsabila Awaluddin
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.12280

Abstract

This paper aims to find an interpretation of gender justice in Asghar Ali Engineer's family planning concept. This research is text analysis, the data is obtained through a qualitative study process. The primary data in this paper is Asghar Ali Engineer's writing entitled Pembebasan Perempuan. This study results that family planning is understood as an effort to form a sakinah, mawaddah, and rahmah family, Asghar puts forward aspects of the relationship between husband and wife that have been forgotten. In addition, the moral aspect becomes an important emphasis in family planning. This article uses an epistemological study of interpretation to explore forms of gender-just interpretation of Asghar which focuses on three things, namely, sources, methods, and validity of interpretation with three theories of truth, coherence, correspondence, and pragmatism. The sources used by Asghar are the Qur'an, hadith, and ijma' ulama. While the method used is to prioritize normative verses that contain universal understanding. While the validity of Asghar's interpretation in the study of family planning applies the three theories of truth in his family planning discourse. Abstrak:  Tulisan ini bertujuan untuk menemukan tafsir berkeadilan gender dalam konsep keluarga berencana Asghar Ali Engineer. Penelitian ini bersifat analisis teks yang diperoleh melalui proses studi kualitatif. Data primer dalam tulisan ini adalah tulisan Asghar Ali Engineer berjudul Pembebasan Perempuan. Penelitian ini menghasilkan bahwa keluarga berencana dipahami sebagai upaya untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah, Asghar mengedepankan aspek kesalingan antara suami dan istri yang selama ini terlupakan. Selain itu, aspek moral menjadi penekanan penting dalam keluarga berencana. Dalam artikel ini menggunakan kajian epistemologi tafsir untuk menggali bentuk penafsiran berkeadilan gender dari Asghar yang memfokuskan pada tiga hal yakni, sumber, metode, dan validitas penafsiran dengan tiga teori kebenaran, koherensi, korespondensi, dan pragmatis. Sumber yang digunakan Asghar adalah al-Qur’an, hadis, dan ijma’ ulama. Sedangkan metode yang digunakan adalah mengutamakan ayat normatif yang berisikan pemahaman universal. Sedangkan validitas penafsirannya Asghar dalam kajian keluarga berencana menerapkan ketiga teori kebenaran dalam diskursus keluarga berencana yang digagasnya. Di samping itu pula peranan pemerintah dan juga pemuka agama sangat diperlukan agar keluarga berencana dapat terealisasikan yang sesuai dengan tujuan-tujuannya. 
Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Varian Pemikiran 3 (Tiga) Generasi Serta Kritik Terhadap Positivisme, Sosiologi, dan Masyarakat Modern Suci Fajarni
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.13045

Abstract

The Critical Theory of the Frankfurt School through its emancipatory vision requires a new paradigm in social science that can liberate humans from the economic domination of capitalism, various established ideologies, and social order that is oppressive and unfair. This article aims to: 1) review in detail the variants of Critical Theory thought developed by the first, second, and third generations of the Frankfurt School; 2) explain the criticisms of Critical Theory on positivism; 3) describe the criticisms of Critical Theory on Sociology; and 4) reviewing the criticisms of Critical Theory on modern society. By using a qualitative approach and library research design, as data mining techniques, this study concludes that: 1) There are differences of thought among the three generations of the Frankfurt School. The first generation has built the foundation of Critical Theory towards the ideas of emancipation while acknowledging the subject-object relation, as well as agreeing to objectification. Jurgen Habermas as the second generation through his communicative action theory framework answers the stagnation of the first generation by emphasizing his Critical Theory on developing the subject's argumentative capacity. The third generation of thought by Axel Honneth departs from ethical interests through recognition; 2) Critical Theory criticizes positivism for preserving the status quo so that it fails to get out of the existing problems and preserving these problems; 3) Critical Theory criticizes Sociology because it is considered ideological, neutral, passive, and too focused on methodology, thus failing to build public awareness to overcome unequal and unfair realities; 4) Critical theory states that modern society went through cultural repression, where certain social and cultural obligation was institutionalized by the capitalistic economy. Those capitalism ethics makes humans view other humans as things or objects. Abstrak: Teori Kritis Mazhab Frankfurt melalui visi emansipatorisnya menghendaki sebuah paradigma baru dalam ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari dominasi ekonomi kapitalisme, ragam ideologi mapan, serta tatanan sosial yang penuh penindasan dan ketidakadilan. Artikel ini bertujuan untuk: 1) mengulas secara rinci varian pemikiran Teori Kritis yang dikembangkan oleh generasi pertama, generasi kedua, dan generasi ketiga Mazhab Frankfurt; 2) menjelaskan kritik-kritik Teori Kritis terhadap positivisme; 3) memaparkan kritik-kritik Teori Kritis terhadap Sosiologi; serta 4) mengulas kritik-kritik Teori Kritis terhadap masyarakat modern. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain library research, artikel ini menyimpulkan bahwa: 1) Terdapat perbedaan pemikiran diantara ketiga generasi Mazhab Frankfurt. Generasi pertama telah membangun fondasi Teori Kritis ke arah emansipatoris dengan tetap mengakui relasi subjek-objek, sekaligus mengamini objektifikasi dan kemudian mengalami kebuntuan pemikiran akibat terjebak dengan kritik yang mereka buat sendiri. Jurgen Habermas sebagai generasi kedua melalui kerangka teori tindakan komunikatifnya menjawab kebuntuan generasi pertama dengan menitikberatkan Teori Kritisnya pada pengembangan kapasitas argumentatif subjek. Adapun pemikiran generasi ketiga oleh Axel Honneth berangkat dari kepentingan etis melalui jalan pengakuan; 2) Teori Kritis mengkritik positivisme karena melanggengkan status quo, sehingga ia tidak mampu keluar dari permasalahan yang ada melainkan melanggengkan permasalahan tersebut; 3) Teori Kritis mengkritik Sosiologi karena dianggap bersifat ideologis, netral, pasif, dan terlalu fokus pada metodologi, sehingga gagal dalam membangun kesadaran masyarakat agar dapat mengadakan perubahan terhadap realitas yang penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan; 4) Teori Kritis menyatakan bahwa masyarakat modern mengalami represi kultural, yakni suatu kondisi di mana tuntutan sosial budaya tertentu dilembagakan oleh tatanan ekonomi kapitalisme. Prinsip kinerja kapitalis tersebut membuat manusia memandang yang lain sebagai benda (things) atau objek.
Historiografi Hadis: Analis Embrio, Pemetaan dan Perkembangannya Ja'far Assagaf
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.12978

Abstract

This article examines the historiography of hadith from the beginning of its emergence, then it becomes a separate form in the study of Islamic history. This study uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method to find three parts of hadith historiography, namely: embryo, mapping, and development. This study concludes that the embryo of the historiographical emergence of hadith is a historical reality that was real at the time it was reported, and the historical reality of the existence of written works in the second-century hijrah. Both are sources that are interrelated and cannot be separated. At the source mapping level, hadith historiography obtains biographical information on rijal al-hadith from the books al-Sirah, al-Tarikh, al-Thabaqah, and al-Manaqib even though these books are also sources of Islamic historiography. Another further finding is that the development of modern hadith historiography is more on the historical trajectory of hadith with several forms that still revolve around classical hadith issues. Social, political, and other approaches can function as integration in hadith historiography so that they can examine the development of hadith in modern society. Abstrak:  Artikel ini mengkaji historiografi hadis dari awal kemunculannya sebagai embrio, kemudian menjadi bentuk tersendiri dari jenis kitab dalam kajian sejarah Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi untuk menemukan tiga bagian historiografi hadis yakni: embrio, pemetaan, dan pengembangan. Kajian ini menemukan bahwa embrio kemunculan historiografis hadis adalah realitas sejarah yang nyata pada saat diberitakan, dan realitas sejarah keberadaan karya tulis pada abad kedua hijriyah. Keduanya merupakan sumber yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Pada pemetaan sumber, historiografi hadis memperoleh informasi biografi rijal al-hadits dari kitab-kitab al-Sirah, al-Tarikh, al-Thabaqah, dan al-Manaqib meskipun kitab-kitab tersebut juga merupakan sumber historiografi Islam. Temuan lain selanjutnya adalah perkembangan historiografi hadis modern lebih pada lintasan sejarah hadis dengan beberapa bentuk yang masih berkisar pada persoalan hadis klasik. Pendekatan sosial, politik dan lainnya dapat berfungsi sebagai integrasi dalam historiografi hadis yang mampu mengkaji perkembangan hadis dalam masyarakat modern, media sosial, dan lain-lain.
Makna Filosofis Bangunan Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Gede Kraton Yogyakarta Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih; Syamsul Bakri; Siti Fathonah; Vera Imanti
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.10941

Abstract

The architect of the Kraton Kasultanan Yogyakarta and Kraton Kasunanan Surakarta is the same person, namely Sultan Hamengkubuwono I. The basic assumption of this research is that there are similarities in the parts of the building and the message to be conveyed through the philosophy of form and naming. The purpose of this study is to describe the philosophical meaning contained in the details of the building of the Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mosque and the Yogyakarta Hadiningrat Sultanate Palace mosque. This study uses a philosophical approach, qualitative data analysis. Data were collected by observation, documentation and interview. The results showed that every part of the mosque building of Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat and Kraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat has a philosophical meaning related to the way of life of the Javanese-Islamic community.Abstrak:  Arsitek dari Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Keraton Kasunanan Surakarta adalah orang yang sama, yaitu Sultan Hamengkubuwono I. Asumsi dasar penelitian ini adalah bahwa ada persamaan bagian bangunan dan pesan yang ingin disampaikan melalui filosofi bentuk dan penamaannya. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan makna filosofis yang terdapat dalam detail bangunan masjid Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan masjid Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis, analisis data kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian bangunan masjid Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat Islam-Jawa
Post-Tradisionalisme: Membincang Basis Epistemologi dan Transformasi Gerakan Moderasi Beragama Nahdlatul Ulama Muhamad Bindaniji; Moh Ashif Fuadi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.12909

Abstract

Islamic post-traditionalism is one of the discourses of Islamic thought that is developing in Indonesia. It emerged from the historical development of Islamic thought in Indonesia that continues to grow to find a  compatible and comprehensive format of Islam that is relevant to the problem faced by the Muslim Community. This study aims to explain the development of post-traditionalism discourse and its epistemology and the transformation of the religious moderation movement among the Nahdhatul Ulama organization. This study uses a literature study consisting of books, articles, and other relevant sources. Through a sociological-historical approach, this study concludes that post-traditionalism within Nahdlatul Ulama (NU) is not a modernist group seen from its movement and characteristics of its thoughts because they still adhere to salaf traditions. In addition, through cultural movements, Nahdlatul Ulama plays a very important role in internalizing wasathiyah through the acceptance of madzhab, Asy'ariyah creed, integration of Islam into nationality, and interfaith dialogue movements. Abstrak: Wacana post-tradisionalismeisme Islam adalah sebuah produk pemikiran yang terbingkai dalam korpus wacana pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia. Sebagai sebuah produk pemikiran, post-tradisionalismeisme sejatinya terlahir dari perkembangan sejarah pembentukan wacana pemikiran Islam di Indonesia yang terus berdialektika sambil menemukan bentuk atau format yang kompatibel dan komprehensif dengan perkembangan zaman. Adapun bentuk dialektika tersebut dapat tercermin melalui pergulatan ‘tradisi’ yang menghasilkan istilah post-tradisionalismeisme, dalam hal ini Nahdlatul Ulama (NU), melalui persentuhan dengan pemikiran atau realitas lain di luar tradisi asal NU. Penelitian ini menggunakan studi literatur baik melalui buku, artikel jurnal, dan berbagai sumber relevan lainnya. Melalui pendekatan sosiologis-historis, penelitian ini menyimpulkan bahwa post-tradisionalismeisme dalam tubuh NU bukanlah kelompok modernis baik dari sisi gerakan maupun corak pemikiran, karena masih berpegang teguh terhadap tradisi-tradisi salaf, hanya saja kalangan post-tradisionalismeisme memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan radikal melampaui tradisi itu sendiri. Selain itu, melalui gerakan kultural yang dipelopori Gus Dur, NU sangat berperan dalam menginternalisasikan wasathiyah melalui penerimaan mazhab, Aqidah Asy’ariyah, integrasi keislaman dengan kebangsaan, dan gerakan dialog antar agama.
Menakar Ulang Hermenuetika Al-Quran: Kritik Atas Pemikiran Muhammad Arkoun Setio Budi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i1.12127

Abstract

Qur'an interpretation will constantly evolve towards altering times. Modern thoughts advent in Islam, particularly towards Qur'an deconstruction, is an interpretations critique of the classical and middle ages. Repeated history and political interests colored the interpretation itself. So, it could not construct the text's significance according to the requirements of the times. Of this background, modern interpreters furnished another choice for reading the Qur'an scientifically with the hermeneutic approach, one of which is  Muhammad Arkoun. This writing depicted Arkoun's thoughts on the hermeneutics of the Qur'an, which has drawn a lot of disagreement among Muslims. This investigation aimed to encounter Arkoun's hermeneutics and criticism of its ideas by utilizing a library research qualitative approach. The outcomes demonstrated Arkoun's hermeneutics contains numerous shortcomings and aspects that must be abandoned, including; Arkoun's opinions that the Qur'an is not faithful, removes the theological feature of the verse, eradicates the component of the author, and that the Qur'an is a historical outgrowth. In practical terms, Arkoun's hermeneutics can only be used at the ma  haulal Qur’an level, not at the ma fi Qur’anAbstrak: Penafsiran Alquran akan selalu mengalami perkembangan seiring perubahan waktu dan zaman. Lahirnya pemikiran-pemikiran modern dalam Islam khususnya dalam kajian Alquran merupakan kritik atas penafsiran di masa klasik dan dan pertengahan. Penafsiran pada masa tersebut menurutnya hanya diwarnai dengan penggunaan riwayat yang diulang-ulang, kepentingan politik, dan sebagainya. Sehingga hal tersebut tidak mampu memproduksi makna teks sesuai kebutuhan zaman. Berangkat dari latar belakang ini para penafsir kontemporer memberikan alternatif lain dalam pembacaan Alquran yang bersifat ilmiah dengan metode hermeneutika, salah satunya Muhammad Arkoun. Tulisan ini akan memaparkan pemikiran Arkoun tentang hermeneutika Al Qur'an yang banyak menuai kontroversi di kalangan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hermeneutika Arkoun sekaligus kritik terhadap pemikirannya, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hermeneutika Arkoun mempunyai banyak kekurangan serta sisi yang harus ditinggalkan, diantaranya; Arkoun memandang bahwa Alquran tidak otentik, menghilangkan unsur teologis ayat, menghilangkan unsur pengarang dan  Alquran merupakan produk sejarah. Dalam tataran praktisnya hermeneutika Arkoun hanya bisa digunakan pada tataran ma haula al Qur'an bukan pada ma fi Qur’an.
Konstruksi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Perspektif Filsafat Agama Theguh Saumantri
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14854

Abstract

Abstract: Indonesia has a variety of ethnicities, cultures and religions so that it can be called a multicultural country. As a result of these differences, Indonesian society is vulnerable to friction between religious groups. This study aims to describe the idea of the philosophy of religion as the basis for logical thinking and understanding religion universally and comprehensively. The method used in this research is library research, to explore and examine data or information regarding the research discussion. This study concludes that an understanding of religion needs to be based on moderate values as an effort to create harmony between religious communities. Philosophy of religion can be a means of constructive thinking in understanding religion rationally, logically, critically, and deeply so as to create a moderate perspective. The construction of religious moderation values aims to realize a way of thinking that chooses the middle way to realize social harmony and balance, not to behave and think in a radical way in understanding things.Abstrak: Indonesia dengan segala kekayaan yang dimilikinya, mulai dari beragam suku, budaya dan agama menjadikannya negara yang multikultural. Namun Sebagai negara yang memiliki masyarakat yang plural dengan berbagai pemahaman, akan selalu ada gesekan antar kelompok beragama jika kebenaran didikte pada satu kebenaran tunggal atas kelompoknya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gagasan filsafat agama sebagai landasan berpikir logis dan memahami agama secara mendalam, universal dan komprehensif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepustakaan (library research), yang memiliki tujuan yakni menelusuri dan menelaah suatu data atau informasi mengenai bahasan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa pemahaman tentang agama perlu dilandasi oleh nilai-nilai moderat hal ini sebagai upaya menciptakan keharmonisan antar umat beragama. Filsafat agama dapat menjadi sarana berpikir konstruktif dalam memahami agama  secara  rasional,  logis,  kritis, dan mendalam sehingga dapat menciptakan perilaku moderat. Konstruksi nilai-nilai moderasi beragama bertujuan sebagai upaya sikap moderasi dalam beragama dengan sikap memilih jalan pertengahan untuk mewujudkan harmoni sosial dan keseimbangan hidup, tidak berperilaku ekstrim dalam berpikir maupun bertindak