cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Pandemi Covid-19 dalam Diskursus Teologi Islam Lukman Hakim
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.16904

Abstract

The emergence of the COVID-19 pandemic has had the most significant impact on human life in this century and has become the subject of study for various disciplines. However, a discussion on the existence of the pandemic from the perspective of Islamic theology has not been adequately addressed. This article aims to discuss how Islamic theological discourse interprets the COVID-19 pandemic and the influence of theological beliefs in responding to the pandemic mitigation efforts. This study uses a descriptive analytical method to examine the phenomenon within the framework of Islamic theology. The study shows that Islam theologically views disasters from two perspectives; first, as an absolute decree of God believed to have wisdom and education for human beings, and secondly, as part of the sunnatullah that can be explored scientifically. The study also reveals that three theological patterns have emerged in responding to the COVID-19 pandemic. First, the fatalistic pattern (Jabariah) that entirely surrenders to the will of Allah SWT without attempting to resist it. Second, the freewill pattern (Qadariyah) that believes that humans have the full ability to resist and eliminate COVID-19. Third, the Ahlusunah Wal Jamaah pattern that regards COVID-19 as sunnatullah; thus, in addition to accepting it as part of fate, humans need to perfect their efforts to avoid this deadly epidemic.Abstrak: Munculnya pandemi covid-19 telah memberi dampak terdahsyat bagi kehidupan manusia di abad ini dan telah menjadi objek kajian dari berbagai disiplin keilmuan, Namun kajian dari perspektif teologi Islam terkait keberadaan pandemi belum terdiskusikan secara memadai. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang bagaimana diskursus teologi Islam dalam memaknai pandemi covid-19 dan bagaimana pengaruh corak keyakinan teologis dalam merespons upaya mitigasi pandemi ini. Kajian ini menggunakan metode deskriptif analisis dalam melihat fenomena ini dalam kerangka pikir teologi Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa secara teologis Islam memandang bencana dari dua sisi; yaitu sebagai sebuah ketetapan Tuhan yang mutlak yang diyakini memiliki hikmah dan edukasi bagi manusia, serta dipahami sebagai bagian dari sunnatullah yang dapat dieksplorasi secara saintifik. Kajian ini juga menunjukkan bahwa tiga corak teologi muncul dalam konteks merespons pandemi Covid-19; Pertama, corak fatalisme (Jabariah) yang menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT tanpa harus berusaha untuk melawannya. Kedua, corak freewill (Qadariyah) yang menganggap bahwa manusia memiliki kemampuan penuh untuk melakukan perlawanan dan membasmi Covid-19. Ketiga, corak Ahlusunah Wal Jamaah yang memandang bahwa Covid-19 ini adalah sunnatullah, karenanya selain manusia harus menerimanya sebagai bagian dari takdir tetapi juga manusia perlu menyempurnakan ikhtiar untuk menghindari wabah yang mematikan ini.
Mempertimbangkan Waktu Kemunculan Hadis dalam Penggunaannya sebagai Bayan Al-Quran untuk Istimbath Hukum Maizuddin Maizuddin; Abd. Wahid; Tarmizi M. Jakfar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17696

Abstract

This article aims to examine the hadiths used by the majority of scholars from the perspective of the emergence of hadiths to be used as bayan of the Koran in the inheritance of kalalah by conducting a literature review of ushul fiqh works, interpretations and explanations of hadiths. This is based on the decisions of several religious courts in Indonesia which stipulate that the existence of daughters hinders siblings from obtaining inheritance. This ruling is different from fiqh which in no way makes having a daughter hinder siblings from obtaining an inheritance based on the hadith used in interpreting the Koran. The results of this study show that consideration of the time of appearance (wurud) of hadith has become the practice of Sunni scholars in legal istinbath, but is not applied to the function of bayan of the Koran. While the Prophet made legal decisions based on the verses of the Koran that had been revealed to him. On the other hand, it can be seen that the inheritance system built by the Qur'an is carried out gradually in four stages with the revelation of verses within a span of six years, each of which stipulates certain aspects of inheritance law. The use of these hadiths is seen as inappropriate because the hadiths have lost the spirit of renewal that the Qur'an has made. The context of the verses that were revealed later was different from the verses that were revealed earlier. The hadith is only appropriate to use as bayan verses 11 and 12 of sura al-Nisa' which explain their respective parts, not to explain the meaning of kalalah. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menelaah hadis yang digunakan oleh jumhur ulama dari sisi pertimbangan waktu munculnya hadis untuk digunakan sebagai bayan Alquran dalam kewarisan kalalah dengan melakukan telaah literatur dari karya-karya ushul fiqh, tafsir dan syarah hadis. Hal ini didasari adanya putusan beberapa pengadilan agama di Indonesia yang menetapkan keberadaan anak perempuan menghalangi saudara dalam memperoleh warisan. Putusan ini berbeda dengan fikih yang sama sekali tidak menjadikan adanya anak perempuan menghambat saudara dalam memperoleh warisan berdasarkan hadis yang digunakan dalam menafsirkan Alquran. Hasil telaahan tersebut memperlihatkan bahwa pertimbangan waktu kemunculan (wurud) hadis telah menjadi praktik ulama Sunni dalam istinbath hukum, tetapi tidak diterapkan untuk fungsi bayan Alquran. Sementara Nabi membuat keputusan-keputusan hukum didasarkan atas ayat Alquran yang telah diturunkan kepada beliau. Di sisi lain, terlihat bahwa sistem kewarisan yang dibangun Alquran dilakukan secara gradual dalam empat tahap dengan turunnya ayat dalam rentang waktu enam tahun yang masing-masingnya menetapkan aspek-aspek tertentu hukum kewarisan. Penggunaan hadis-hadis tersebut oleh jumhur ulama dipandang tidak tepat karena hadis-hadis telah kehilangan semangat pembaruan yang telah dibuat Alquran. Konteks ayat yang turun kemudian telah berbeda dengan ayat yang turun terlebih dahulu. Hadis tersebut hanya tepat digunakan sebagai bayan ayat 11 dan 12 surat al-Nisa’ yang menjelaskan bagian masing-masing, tidak untuk menjelaskan makna kalalah.
Nasaruddin Umar: Tasawuf Wasathiyah dalam Masyarakat Modern Rizki Maulana; Muhammad Iqbal Irham
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.16850

Abstract

This article aims to present an in-depth exploration of Wasathiyah Sufism, which is a form of modern Sufism, without simplifying or expanding its core ideas. Wasathiyah Sufism seeks to transform modern society that is rational, empirical, hedonistic, materialist, individualist, even secular into a pious, tolerant, high social spirit, and moral society without isolating oneself from society, the world, or the workplace. This Sufism helps humans develop objectivity, professionalism, and awareness of their duties, obligations and responsibilities as servants of Allah and messengers of Allah on earth which are very much needed by the people. This study uses a qualitative method to examines Nasaruddin Umar's thoughts supported by the literature in accordance with the topic of this study. The results of this study concluded that the method of getting closer to Allah through tasawuf wasathiyah is carried out by combining concern for the world with concern for the hereafter. The goal is to realize a virtuous social and spiritual order, this moderate idea (tawasuth) will give birth to a new model of contemporary society that is balanced (tawazun), proportional (i'tidal), and tolerant (tasamuh).Abstrak: Artikel ini bertujuan menyajikan penggalian mendalam atas tasawuf wasathiyah yang merupakan salah satu bentuk tasawuf modern, tanpa penyederhanaan atau perluasan gagasan intinya. Tasawuf Wasathiyah berupaya mengubah masyarakat modern yang rasional, empiris, hedonistik, materialis, individualis, bahkan sekuler menjadi masyarakat yang saleh, toleran, berjiwa sosial tinggi, dan bermoral tanpa mengisolasi diri dari masyarakat, dunia, atau tempat kerja. Tasawuf ini membantu manusia mengembangkan objektivitas, profesionalisme, dan kesadaran akan tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah dan utusan Allah di muka bumi yang sangat dibutuhkan oleh umat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang meneliti pemikiran Nasaruddin Umar dalam didukung dengan literatur-literatur kepustakaan sesuai dengan topik penelitian ini. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode mendekatkan diri kepada Allah melalui tasawuf wasathiyah dilakukan dengan menggabungkan kepedulian terhadap dunia dengan kepedulian terhadap akhirat. Sasarannya adalah mewujudkan tatanan sosial dan spiritual yang berbudi luhur, gagasan moderat (tawasuth) ini akan melahirkan model baru masyarakat kontemporer yang seimbang (tawazun), proporsional (i'tidal), dan toleran (tasamuh).
Relevansi antara Ilmu Kedokteran dengan Struktur Kulit Manusia dalam Al-Qur’an Aprilita Hajar; Ana Miftahul Hidayah; Lailatul Wardah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17596

Abstract

This article aims to discuss the relevance of medical science to the Quran regarding the structure of human skin. This study uses a qualitative research method presented in a descriptive analysis design, based on the theory of scientific interpretation. The technique used for data collection is literature review using books and journals that have a correlation with this research. This study shows the relationship between the structure of human skin and medical science as written in the verses of the Quran. The different fingerprints on human skin have been explained in the Quran and are relevant to the explanation of forensic science in the field of medicine, to help identify criminals or find the owner of fingerprints. Furthermore, the anatomical structure of the skin also serves as a pain receptor, as explained in the Quran, which is relevant to the explanation of medical science, that if sensory nerves are damaged, pain receptors will disappear. Therefore, it is clearly written in the Quran that the punishment for disbelievers in hell is that their skin will be burned and Allah will replace it with new skin, so that the disbelievers will feel continuous pain. This study concludes that the connection between the Quran and existing technological advancements is very close, as everything that exists and happens has been clearly written in the Quran.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang relevansi ilmu kedokteran dengan Al-Qur’an tentang struktur kulit manusia. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang penyajiannya menggunakan desain analisis deskriptif, yang didasari oleh teori tafsir sains. adapun teknik dalam pengumpulan data, menggunakan telaah kepustakaan dengan sumber buku-buku dan jurnal yang memiliki korelasi dengan penelitian ini. Kajian ini menunjukkan adanya hubungan antara struktur kulit manusia dengan ilmu kedokteran sebagaimana telah tertulis dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Sidik jari pada kulit manusia yang berbeda-beda telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan relevan dengan penjelasan ilmu forensik yang ada pada bidang kedokteran untuk membantu menemukan pelaku kejahatan atau menemukan pemilik sidik jari. Lalu struktur anatomi kulit juga menjadi reseptor rasa sakit sebagaimana penjelasan Al-Qur'an juga relevan dengan penjelasan ilmu kedokteran, yaitu jika ujung saraf sensorik sudah rusak, maka reseptor rasa sakit akan hilang. Maka dari itu tertulis jelas di dalam Al-Qur’an bahwa balasan azab bagi orang-orang kafir di neraka kelak adalah jika kulit itu hangus maka Allah akan mengganti dengan kulit yang baru, agar orang kafir merasa sakit yang bersifat terus menerus. Kajian ini menyimpulkan bahwa keterkaitan antara Al-Qur’an dengan perkembangan teknologi yang ada sangatlah erat, karena sesungguhnya segala sesuatu yang ada dan terjadi telah tertulis jelas di dalam Al-Qur’an.
Western Materialism and Modernism's Philosophical Sources Suraiya IT
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.17735

Abstract

One of materialism's and modernism's most serious flaws is their failure to take a holistic picture of human life. Transcendental ideals are rejected by almost all modernist ideologists. To put it another way, there is no objective, absolute standard for truth. Truth and moral standards, on the other hand, are only relative, with validity restricted to time, location, and situation. Modernists label societies founded on divine revelation as "static" and "petrified." Change is considered a virtue in and of itself, and the sooner things change, the better. The highest virtue of modernity is being current. The primary goal of this article was to investigate features of Western materialism and modernization, as well as the underlying causes at work in the process of materialism and modernization. It begins by studying the nature of materialism and the modernization process through an examination of the core narrative of Western history. The knowledge gathered from this analysis is utilized to create a conceptual framework. The paradigm is then used to investigate the consequences of Western modernity on non-Western countries.
Tasawuf dan Modernisasi: Urgensi Tasawuf Akhlaki pada Masyarakat Modern Muhammad Nur; Muhammad Iqbal Irham
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i1.16851

Abstract

Sufism is a part of Islamic religious teachings. Ethical Sufism is one of the Sufi teachings that can help shape individuals with noble character. Amidst the hedonistic and materialistic lifestyle that has contributed to the moral decline of modern society, the moral aspect of Sufism seeks to balance these opposing forces. By implementing Sufism in contemporary culture, values of goodness and nobility can be instilled, offering a solution to one of the major problems plaguing modern society: the fragmentation of the human soul, something that can undermine one's moral worth. In dealing with this glittering materialism and even neglecting God in one's life, modern life as it is today sometimes reveals undesirable tendencies. The ethical aspect of Sufism, particularly the moral teachings that should be applied in one's daily life to achieve optimal satisfaction, emphasizes the importance of Sufism for contemporary human beings. Learning the teachings of ethical Sufism is a path to developing one's character in a way that honors God, fellow humans, and one's own best interests. Good introspection in facing difficulties, purifying the soul from negative qualities (takhalli), and adorning oneself with praiseworthy qualities are just a few of the positive concepts of ethical Sufism that may form noble traits (tahalli). The teachings of Sufism can serve as a guide for one's actions, a source of normativity, inspiration, and moral compass.Abstrak: Tasawuf adalah bagian dari ajaran agama Islam. Tasawuf akhlaqi merupakan salah satu ajaran sufi yang dapat membantu membentuk manusia yang berakhlak mulia. Berada di tengah gaya hidup hedonistik dan materialistis yang turut menyebabkan kemerosotan moral masyarakat modern, sufisme moralitas berupaya menyeimbangkan antara dua kekuatan yang berlawanan tersebut. Dengan implementasi tasawuf dalam kebudayaan masa kini, nilai-nilai kebaikan dan keluhuran dapat terbentuk, menawarkan solusi atas salah satu persoalan besar yang melanda masyarakat kontemporer: fragmentasi ruh manusia. sesuatu yang dapat menjatuhkan harga dirinya secara moral. Dalam menyikapi materi gemerlap ini dan bahkan mengesampingkan Tuhan dalam hidupnya, kehidupan modern seperti sekarang ini terkadang menampakkan kecenderungan yang tidak terpuji. Tasawuf akhlak, khususnya ajaran-ajaran akhlak yang harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari seseorang untuk memperoleh kepuasan yang optimal, menekankan pentingnya tasawuf bagi manusia kontemporer. Mempelajari ajaran tasawuf akhlaqi adalah jalan untuk mengembangkan karakter seseorang dengan cara yang memuliakan Tuhan, sesama manusia, dan kepentingan terbaiknya sendiri. Introspeksi diri yang baik dalam menghadapi kesulitan, membersihkan jiwa dari sifat-sifat yang buruk (takhalli), dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji hanyalah beberapa dari konsep positif tasawuf akhlaqi yang mungkin membentuk sifat yang mulia (tahalli). Ajaran tasawuf dapat menjadi pedoman bagi tindakan seseorang, sumber normativitas, inspirasi, dan kompas moral.
Modernisasi Arab Saudi Era Muhammad bin Salman Sarah, Siti; Arifin, Nana Fitriana; Ramona, Elza; Adam, Yusril Fahmi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.19688

Abstract

This research aims to examine the modernization that occurred in Saudi Arabia under the leadership of Muhammad bin Salman. The modernization of Saudi Arabia in the era of Muhammad bin Salman became important for Muhammad bin Salman's political attitude, which tended to be open to foreign cultures and move away from Wahhabism values that had been ingrained in Saudi Arabian culture. To support the analysis in the research, this article uses a historical approach and modernization theory. Through this approach and theory, this research is not only narrative-descriptive but more analytical-descriptive. The findings in this research are that the Wahhabism doctrine that developed in Saudi Arabia had a major impact not only on socio-religious aspects but also on political aspects. Through the Saudi royal authorities and Wahhabi clerics, everything that is not in accordance with the values of Wahhabism will be considered wrong and outside the pure teachings of Islam. This condition lasted until the end of King Salman's time and changed during the time of Muhammad bin Salman due to the modernity implemented in the Arab Vision 2030.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji modernisasi yang terjadi di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Muhammad bin Salman. Modernisasi Arab Saudi di era Muhammad bin Salman menjadi penting sikap politik dari Muhammad bin Salman yang cenderung kepada keterbukaan terhadap kebudayaan luar dan keluar dari nilai-nilai Wahhabisme yang selama ini telah mengakar dalam budaya Arab Saudi. Untuk mendukung analisis dalam penelitian, artikel ini menggunakan pendekatan sejarah dan teori modernisasi. Melalui pendekatan dan teori tersebut, penelitian ini tidak hanya bersifat naratif-deskriptif, melainkan lebih kepada analitis-deskriptif. Temuan dalam penelitian ini adalah, bahwa doktrin Wahhabisme yang berkembang di Arab Saudi memberikan dampak besar tidak hanya bagi sosial-keagamaan, melainkan juga aspek politik. Melalui otoritas kerajaan Saudi dan ulama Wahhabi, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Wahhabisme akan dianggap salah dan keluar dari ajaran Islam yang murni. Kondisi tersebut berlangsung hingga berakhirnya masa Raja Salman dan berubah pada masa Muhammad bin Salman akibat modernitas yang diimplementasikan dalam Visi Arab 2030.
Analysis and Evaluation of Ghazali's Critiques in Tahafut Al-Falasafah to Ibn Sina in The Context of Theology Syukur, Muhammad; Rezapour, Mohammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20381

Abstract

The theological and philosophical understanding of issues related to the divine has always been a complex and contentious debate. Ghazali's work, Tahafut Al-Falasafeh, faces significant challenges in these issues, isolating and excommunicating philosophers on three specific points and accusing them of heresy and innovation in seventeen other areas. However, criticisms of Ghazali by Ibn Rushd in Tahafut Al-Tahaft, coupled with fundamental differences between the philosophies of Ibn Sina and Ibn Rushd, necessitate an exploration and analysis of Ibn Sina's perspective to dispel pessimism within the Islamic community regarding his philosophy. This study employs a literature review methodology with a descriptive, analytical, and critical approach. The research focuses on theological issues such as the proof of God's existence, the creation of the universe, the eternity of the world, and the science of God in Ibn Sina's works. Through a detailed analysis of Ibn Sina's viewpoints, it becomes evident that Ghazali's theological anxieties might stem from misinterpretations of the core tenets of Ibn Sina's philosophy.Abstrak: Pemahaman teologis dan filosofis mengenai isu-isu ketuhanan selalu menjadi perdebatan kompleks. Kitab Tahaft Al-Falasafeh karya Ghazali menghadapi tantangan signifikan dalam isu-isu ini, mengucilkan dan mengkafirkan para filosof dalam tiga isu serta menuduh mereka sesat dan bid’ah dalam tujuh belas isu lainnya. Namun, kritik terhadap Ghazali oleh Ibnu Rusyd dalam Tahaft Al-Tahaft dan perbedaan mendasar antara filsafat Ibnu Sina dan filsafat Ibnu Rusyd menimbulkan kebutuhan untuk menjelaskan dan menganalisis pandangan Ibnu Sina, agar masyarakat Islam tidak merasa pesimis terhadap filsafatnya. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif, analitis, dan kritis. Fokus penelitian ini adalah pada isu-isu teologis seperti pembuktian keberadaan Tuhan, penciptaan alam semesta, keabadian alam, dan ilmu Tuhan dalam karya Ibnu Sina. Dalam analisis mendalam pandangan Ibnu Sina, tampak bahwa kegelisahan teologis Ghazali mungkin disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap esensi filsafat Ibnu Sina.
Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Perspektif Filsafat Lingkungan dan Kontribusinya pada Pengembangan Kajian Ekologis Masykur, Zein Muchamad; Ni'am, Syamsun; Naim, Ngainun
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20121

Abstract

Tulisan ini mencoba menggali konsep ilmu yang dibayangkan oleh Nasr dan mencoba mengkaji ide-ide dasar struktur keilmuan Nasr yang kemudian sering disebut dengan istilah Scientia Sacra, serta menyoroti sisi ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Hal itu kemudian dikaitkan dengan perkembangan filsafat lingkungan sehingga mendapat aksentuasi kontributif dari pemikiran Nasr tentang filsafat lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis pustaka yang menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analitis dengan pendekatan filosofis kritis. Pengumpulan data diperoleh melalui dua jenis data, yakni data primer dan data sekunder yang ditentukan oleh tingkat relevansinya dengan subjek penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah Nasr tidak serta-merta menyalahkan paradigma antroposentris, melainkan ia menunjukkan ‘lubang’ dalam kapal sains modern terhadap paradigma antroposentrisme, yakni pada aspek-aspek tersembunyi dari ilmu pengetahuan yang selama ini dilupakan oleh manusia modern; aspek sakralitas dan spiritualitas. Melalui pemikirannya tentang Scientia Sacra, Nasr memberikan kontribusi terhadap tiga fase paradigma filsafat lingkungan pada nilai onto-teleologis yang baru. Bukan hanya menunjukkan lubang, akan tetapi juga memberikan petunjuk arah demi tujuan baru bagi kajian filsafat lingkungan.Abstract: This article aims to explore the concept of science imagined by Nasr and examine the basic ideas of Nasr's scientific structure, which is often referred to as Scientia Sacra, as well as highlight its ontological, epistemological, and axiological sides. This was then linked to the development of environmental philosophy, so it received a contributory accent from Nasr's thoughts on environmental philosophy. This research is literature-based qualitative research that uses descriptive-qualitative methods. Data analysis techniques are carried out using analytical techniques with a critical philosophical approach. Data collection was obtained through two types of data, namely primary data and secondary data, which were determined by the level of relevance to the research subject. The conclusion of this research is that Nasr does not necessarily blame the anthropocentric paradigm, but rather he shows 'holes' in the ship of modern science regarding the anthropocentrism paradigm, namely the hidden aspects of science that have been forgotten by modern humans: aspects of sacredness and spirituality. Through his thoughts on Scientia Sacra, Nasr contributed to the three phases of the environmental philosophy paradigm on new onto-teleological values. Not only does it show holes, but it also provides directions for new goals for the study of environmental philosophy.
Identifikasi Ummatan Wasathan dalam Tafsir Era Klasik dan Tafsir Indonesia Al Alafiy, Muhammad Shiddiq
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20212

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang tafsir al-Qur’an terhadap frasa ummatan wasathan yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 143 berdasarkan karya tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Tafsir era klasik yang dimaksud di sini yaitu tafsir al-Thabari dan al-Razi, sedangkan tafsir Indonesia mengambil karya Hamka dan M. Quraish Shihab. Tujuannya adalah mengidentifikasi makna ummatan wasathan kaitannya dengan moderasi Islam dalam konteks keindonesiaan. Guna mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan riset pustaka berbasis komparasi yang menyorot tiga persoalan: Pertama, bagaimana interpretasi ummatan wasathan dalam tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Kedua, komparasi antara keduanya. Ketiga, identifikasi ummatan wasathan berdasarkan komparasi tersebut. Hasilnya, konsistensi penafsiran tentang ummatan wasathan antara tafsir era klasik dan tafsir Indonesia berada pada posisi yang tidak jauh berbeda, hanya pada ranah kontekstualisasi masing-masing mempunyai kecenderungannya sendiri. Selaras dengan itu, ummatan wasathan dapat diidentifikasi sebagai umat yang moderat serta adil sehingga menjadi teladan bagi seluruh manusia dan istiqamah mengikuti jejak Nabi Saw.Abstract: This article aims to discuss the Qur'anic interpretation of the phrase ummatan wasathan contained in Surah al-Baqarah verse 143, based on the works of classical-era commentaries and Indonesian commentaries. The classical era interpretations referred to here are tafsir al-Thabari and al-Razi, while Indonesian interpretations take the works of Hamka and M. Quraish Shihab. The aim is to identify the meaning of ummatan wasathan in relation to Islamic moderation in the Indonesian context. To achieve this goal, this article uses comparative-based library research that highlights three issues: First, how is the interpretation of Ummatan Wasathan in classical era tafsir and Indonesian tafsir? Second, the comparison between the two Third, the identification of Ummatan Wasathan based on the comparison As a result, the consistency of interpretation of ummatan wasathan between classical era tafsir and Indonesian tafsir is in a position that is not much different; only in the realm of contextualization, each has its own tendency. In line with that, ummatan wasathan can be identified as a moderate and fair ummah so that it becomes an example for all humans and istikamah following the footsteps of the Prophet.