cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Mediatisasi Sufisme: Otoritas, Komunitas, dan Autentisitas Tasawuf di Dunia Maya Shadiqin, Sehat Ihsan; Jamil, Shabrun
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26654

Abstract

In the digital era, Sufism has undergone a transformation in both its dissemination and organization. Once grounded in local communities, Sufism now leverages digital media to reach a global audience, expanding its spiritual network beyond geographical boundaries. This article addresses the primary issues of how digitalization affects the dissemination of Sufi teachings, the formation of transnational communities, and challenges related to authenticity and privacy. The research employs a literature review method, analyzing scholarly publications on Sufism, digital religion, and online communication from academic sources such as Taylor & Francis, JSTOR, MDPI, and DOAJ. This approach enables a comprehensive analysis of three aspects: the spread of Sufi ideas, digital organizational models, and the role of media in strengthening community networks. The findings reveal that digital media facilitates Sufi ideological campaigns, creates technology-based organizational structures, and strengthens community bonds. However, mediatization also presents challenges in preserving the authenticity of teachings and protecting follower privacy. The article concludes that digital media offers significant opportunities for the global development of Sufism but requires careful efforts to maintain the essential values of Sufi spirituality.Abstrak: Dalam era digital, Sufisme mengalami transformasi dalam penyebaran dan pengorganisasiannya. Tradisi yang sebelumnya terikat pada komunitas lokal kini menggunakan media digital untuk menjangkau audiens global, memperluas jaringan spiritual tanpa keterbatasan geografis. Masalah utama yang diangkat dalam artikel ini adalah bagaimana digitalisasi memengaruhi penyebaran ajaran Sufi, pembentukan komunitas lintas negara, serta tantangan autentisitas dan privasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis publikasi ilmiah terkait Sufisme, agama digital, dan komunikasi online dari sumber-sumber akademik seperti Taylor & Francis, JSTOR, MDPI, dan DOAJ. Pendekatan ini memungkinkan analisis komprehensif tentang tiga aspek: penyebaran ide Sufi, model organisasi digital, dan peran media dalam memperkuat jaringan komunitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa media digital memfasilitasi kampanye ide Sufi, menciptakan struktur organisasi berbasis teknologi, serta mempererat ikatan komunitas. Namun, mediatisasi juga memunculkan tantangan dalam menjaga keaslian ajaran dan melindungi privasi pengikut. Artikel ini menyimpulkan bahwa media digital menawarkan peluang besar bagi perkembangan Sufisme secara global, namun menuntut upaya hati-hati dalam mempertahankan nilai-nilai esensial spiritualitas Sufi.
Pendekatan Syarah Ibn al-‘Attar dalam Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam: Analisis Sosio-Historis Chovifah, Anisatul; Muhid, Muhid; Nurita, Andris; Verawati, Sellyana; Hasbulloh, Moh
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.21224

Abstract

This study examines the sharh methodology employed by Ibn al-‘Attar in his work Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Using a qualitative method and a library research approach, this research focuses on the socio-historical analysis of Ibn al-‘Attar's intellectual background and the influence of the Shafi’i school on his works. The findings indicate that Ibn al-‘Attar applied the tahlili (analytical) method in his sharh, aimed at facilitating readers, particularly beginners, in understanding legal hadiths. Social factors, especially the Shafi’i culture in Damascus, along with the significant influence of his teacher, Imam Nawawi, greatly shaped Ibn al-‘Attar's approach. The book demonstrates a clear system, providing detailed explanations based on the companions' narrations and their associated rulings. This study contributes significantly to understanding the role of sharh in the development of hadith studies and the influence of the Shafi’i school on hadith interpretation within Islamic scholarly traditions.Abstrak: Kajian ini membahas metodologi syarah yang digunakan oleh Ibn al-‘Attar dalam karyanya Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan, penelitian ini berfokus pada analisis sosio-historis yang melatarbelakangi pemikiran Ibn al-‘Attar serta pengaruh mazhab Syafi’i terhadap karya-karyanya. Temuan menunjukkan bahwa Ibn al-‘Attar menerapkan metode tahlili (analisis) dalam syarahnya, yang ditujukan untuk memudahkan pembaca, terutama pelajar pemula, dalam memahami hadis-hadis hukum. Faktor sosial, terutama budaya Syafi’i di Damaskus, serta pengaruh besar dari gurunya, Imam Nawawi, sangat memengaruhi pendekatan Ibn al-‘Attar. Kitab ini juga menunjukkan sistematika yang jelas, dengan penjelasan yang rinci dan berbasis pada riwayat sahabat serta hukum-hukumnya. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran syarah dalam perkembangan ilmu hadis dan pengaruh mazhab Syafi’i terhadap interpretasi hadis dalam tradisi keilmuan Islam.
Pandangan Teologis Jamaah Tabligh tentang Kerja, Usaha, dan Takdir di Kota Medan Surya, Maulana Andi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26313

Abstract

The Jamaah Tabligh is a religious movement that emphasizes missionary work (dakwah) as a form of devotion, but this emphasis often raises concerns regarding the balance with economic responsibilities and family welfare. This study aims to explore the theological views of the Jamaah Tabligh in Medan regarding work, effort, and fate, and how these three concepts are interrelated in their daily lives. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews, observation, and and relevant literature review. The findings reveal that Jamaah Tabligh perceive work as a religious obligation, where individuals must exert maximum effort, but the outcomes are ultimately left to God’s will. They also distinguish between immutable fate (takdir mubram) and changeable fate (takdir muallaq), which can be altered through effort and prayer. In conclusion, the theological views of Jamaah Tabligh integrate the doctrine of human effort with submission to divine fate. The implications of this study highlight the importance of balancing missionary activities with economic responsibilities in religious practice.Abstrak: Jamaah Tabligh merupakan gerakan keagamaan yang menekankan dakwah sebagai bentuk pengabdian, namun hal ini sering dipertentangkan dengan tanggung jawab terhadap kerja dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan teologis Jamaah Tabligh di Kota Medan terkait kerja, usaha, dan takdir, serta bagaimana ketiga konsep ini saling berhubungan dalam kehidupan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi dan kajian litratur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jamaah Tabligh memandang kerja sebagai kewajiban yang memiliki nilai ibadah, di mana manusia diwajibkan berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya tetap dikembalikan kepada kehendak Tuhan. Mereka juga membedakan antara takdir yang tidak dapat diubah (takdir mubram) dan takdir yang bisa diubah melalui usaha dan doa (takdir muallaq). Kesimpulannya, pandangan teologis Jamaah Tabligh menggabungkan antara doktrin usaha manusia dengan kepasrahan terhadap takdir Tuhan. Implikasi dari penelitian ini memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara aktivitas dakwah dan tanggung jawab ekonomi dalam praktik beragama Jamaah Tabligh.
Analisis Hadis tentang Praktik Menggantungkan Doa pada Balita: Studi Kasus di Desa Janji, Labuhanbatu Harahap, Ikhall Ahmad Fauzan; Rambe, Uqbatul Khoir
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26348

Abstract

The practice of hanging prayers on infants is a tradition observed in Desa Janji, believed to offer spiritual protection. However, with the evolution of Islamic scholarship and modern thought, questions have arisen regarding the legitimacy of this practice based on hadith. This study aims to investigate whether the practice is grounded in authentic hadith. A descriptive qualitative method was used, with data collected through observations and interviews with five respondents. Takhrij al-Hadith was applied to assess the validity of the related hadith. The findings indicate that the hadith holds the status of Hasan-Shahih Lighairih, despite one narrator, Muhammad bin Ishaq, receiving criticism as a Mudallis and Mu’an’an. Nevertheless, supporting narrations strengthen the hadith, elevating its reliability as evidence (hujjah). In conclusion, the practice of hanging prayers on infants is permissible as long as the prayers are not considered talismans. This study contributes to addressing public concerns about the legal basis of this practice based on hadith analysis.Abstrak: Praktik menggantungkan doa pada tubuh balita merupakan tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Desa Janji untuk perlindungan spiritual. Seiring berkembangnya kajian Islam dan modernitas, muncul pertanyaan terkait legitimasi praktik ini berdasarkan hadis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dasar hadis yang mendasari praktik tersebut. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan lima responden. Takhrij al-hadith digunakan untuk menganalisis validitas hadis. Hasil menunjukkan bahwa hadis terkait berstatus Hasan-Shahih Lighairih, meskipun perawi Muhammad bin Ishaq mendapat kritik sebagai Mudallis dan Mu’an’an. Namun, hadis ini diperkuat oleh riwayat lain, sehingga dapat dijadikan hujjah. Kesimpulannya, praktik menggantungkan doa pada tubuh balita diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai jimat. Penelitian ini membantu menjawab keraguan masyarakat mengenai legalitas praktik tersebut berdasarkan analisis hadis.
Monoteisme dalam Tafsir Juz ‘Amma: Analisis Komparatif Tafsir Salafi Firanda Andirja, Klasik, dan Kontemporer Nurdiatin, Arsy; Ghianovan, Jaka; Mualim, Mohamad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.28866

Abstract

The interpretation of monotheistic verses in Juz ‘Amma plays a pivotal role in shaping Islamic theological discourse. Amidst the rise of concealed shirk practices and spiritual disorientation in contemporary Muslim societies, Salafi-oriented Qur’anic exegesis has reemerged with a strong emphasis on the purification of faith. This study analyzes Firanda Andirja’s interpretation of three key surahs in Juz ‘Amma—Al-Ikhlas, Al-Falaq, and An-Nas—and compares them with classical (Al-Qurthubi) and modern contextual (Quraish Shihab) commentaries. Using a qualitative library-based approach and thematic (maudhu’i) method, this study examines how different exegetical traditions approach core tenets of tawhid, especially within the framework of rububiyyah, uluhiyyah, and asma’ wa sifat. The findings reveal that Firanda employs a rigid, literalist, and theologically apologetic style rooted in Salafi epistemology, while Al-Qurthubi’s exegesis is philological and jurisprudential, and Quraish Shihab adopts a reflective, contextual style. While Firanda’s approach strengthens theological clarity, it tends to lack social engagement and ethical reflection. This study contributes to the development of Salafi exegetical literature and offers critical insight into the role of monotheistic interpretation in addressing contemporary religious challenges. Abstrak: Penafsiran ayat-ayat monoteisme dalam Juz ‘Amma memainkan peran sentral dalam pembentukan akidah umat Islam. Di tengah maraknya praktik syirik terselubung dan krisis spiritual modern, tafsir Salafi kontemporer menjadi salah satu arus penting yang menekankan pemurnian tauhid. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Firanda Andirja terhadap tiga surah kunci dalam Juz ‘Amma—Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas—dan membandingkannya dengan tafsir klasik Al-Qurthubi serta tafsir kontemporer Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan pendekatan tematik (maudhu’i). Data primer bersumber dari tafsir Firanda Andirja, sedangkan data sekunder mencakup Al-Qurthubi dan Al-Misbah, serta literatur pendukung lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Firanda mengusung tafsir teologis-apologetik dengan penekanan kuat pada tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat secara literal dan tekstual, berbeda dengan Qurthubi yang bersifat filologis-mazhabi, dan Quraish Shihab yang kontekstual-reflektif. Penafsiran Firanda memiliki kekuatan dalam menguatkan akidah, tetapi cenderung minim dalam refleksi sosial dan etika publik. Kajian ini berkontribusi dalam memperluas literatur tafsir bercorak salafi serta menawarkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan keberagamaan umat Islam kontemporer.
Multivokalitas Makna Kata Al-Fitnah dalam Tafsir Fathul Qadir: Pendekatan Al-Wujûh wa al-Nazhâ’ir Lathifah, Lathifah; Nidhom, Khoirun; Mualim, Mohamad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29258

Abstract

The semantic interpretation of the term al-fitnah in the Qur’an reveals a complex spectrum of meanings, often reduced in common discourse to mere defamation or slander. This study aims to explore the multidimensional meanings of al-fitnah through the lens of Fathul Qadir, a classical tafsir by Imam al-Shawkani, using the al-wujûh wa al-nazhâ’ir approach—a linguistic methodology that categorizes polysemous terms based on contextual usage in different verses. Employing a qualitative library research design combined with thematic exegesis, the study maps the occurrences and meanings of al-fitnah across 60 instances in 58 surahs. The findings reveal a wide range of meanings including trial, punishment, disbelief, misguidance, chaos, deceit, and sin. The analysis highlights al-Shawkani’s nuanced interpretive strategy and its relevance to contemporary socio-religious discourses. The study contributes to Qur’anic hermeneutics by integrating a classical linguistic framework with modern contextual readings, thereby enriching thematic interpretations of key Qur’anic terms. Abstrak: Pemaknaan kata al-fitnah dalam Al-Qur’an menunjukkan keragaman semantik yang kompleks, yang seringkali tidak terjangkau oleh pemahaman umum masyarakat yang cenderung menyempitkannya hanya pada konteks pencemaran nama baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kata al-fitnah dalam Al-Qur’an melalui tafsir Fathul Qadir karya Imam Asy-Syaukani dengan pendekatan al-wujûh wa al-nazhâ’ir, suatu pendekatan linguistik-klasik dalam studi tafsir yang memetakan ragam makna lafaz musytarak berdasarkan konteks ayat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan tafsir tematik (maudhu‘i), yang kemudian dikontekstualisasikan melalui klasifikasi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata al-fitnah ditemukan sebanyak 60 kali dalam 58 surah, dengan makna yang beragam seperti ujian, adzab, kekufuran, kesesatan, kekacauan, hingga tipu daya dan dosa. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Asy-Syaukani dalam tafsirnya menunjukkan kehati-hatian semantik dan sensitivitas kontekstual yang khas, serta membuka ruang refleksi teologis atas berbagai bentuk “fitnah” dalam dinamika sosial-keagamaan kontemporer. Kontribusi utama studi ini terletak pada integrasi pendekatan al-wujûh wa al-nazhâ’ir dengan tafsir klasik, sehingga memperluas horizon kajian linguistik-tematik dalam studi Al-Qur’an.
Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Pencari Nafkah Perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi Sumardi, Agiesni Inayatillah; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29286

Abstract

This study aims to examine the position and role of women as breadwinners from the perspective of the Sundanese exegesis Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an by KH Ahmad Sanusi. The background of this research is driven by the importance of understanding the role of women in family economics within the Sundanese cultural context, which is often influenced by more conservative interpretations of exegesis. However, this exegesis offers a more progressive understanding of the role of women, particularly in the economic field. The method used is qualitative analysis with a literary exegesis approach, focusing on analyzing the texts in Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an to examine verses related to women as breadwinners. The research findings indicate that this exegesis provides space for women to play an active role in the family economy without neglecting their domestic responsibilities. This exegesis emphasizes equality in social and economic roles between men and women, as well as the importance of balance in family life. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan dan peran perempuan sebagai pencari nafkah dalam perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi. Latar belakang penelitian ini didorong oleh pentingnya pemahaman peran perempuan dalam ekonomi keluarga dalam konteks budaya Sunda yang sering dipengaruhi oleh interpretasi tafsir yang lebih konservatif. Meskipun demikian, tafsir ini memberikan pemahaman yang lebih progresif mengenai peran perempuan, khususnya dalam bidang ekonomi. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan tafsir literer, yakni menganalisis teks dalam Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an untuk menelaah ayat-ayat yang terkait dengan perempuan sebagai pencari nafkah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir ini memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam ekonomi keluarga tanpa mengabaikan tanggung jawab domestik mereka. Tafsir ini menekankan kesetaraan peran sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, serta pentingnya keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga.
Dialektika Pendekatan Normatif dan Kontekstual dalam Penafsiran Rezeki: Studi Komparatif Tafsir An-Nur dan Al-Misbah terhadap Surah Al-Baqarah Ayat 168 dan 172 Hasibuan, Siti Rokan; Ghianovan, Jaka; Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29412

Abstract

This article explores the dialectic between normative and contextual approaches in interpreting the Qur’anic concept of sustenance (rizq) through a comparative thematic analysis of two influential Indonesian tafsir works: Tafsir An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy and Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab. The study focuses on the interpretations of Surah Al-Baqarah verses 168 and 172, which articulate the principles of lawful (ḥalāl), wholesome (ṭayyib), and grateful consumption. Employing a qualitative library research method and thematic exegesis, this study examines the interpretive orientations, methodological frameworks, and the contemporary relevance of rizq. Tafsir An-Nur emphasizes legalistic dimensions within a fiqh-normative framework, prioritizing adherence to Islamic legal boundaries. In contrast, Tafsir Al-Misbah advances a contextual approach, foregrounding spirituality, ethical consumption, and social responsibility. The dialectical relationship between these approaches reveals the multidimensional nature of rizq and underscores their complementarity in addressing modern materialist challenges. This article contributes to the development of thematic Qur’anic interpretation in Indonesia and proposes a more holistic conceptualization of rizq as an ethical and spiritual guide in contemporary Muslim life. Abstrak: Artikel ini membahas dialektika pendekatan normatif dan kontekstual dalam penafsiran konsep rezeki melalui studi komparatif terhadap dua karya tafsir otoritatif di Indonesia: Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Kajian ini difokuskan pada analisis tematik terhadap Surah Al-Baqarah ayat 168 dan 172, yang memuat prinsip konsumsi halal (ḥalāl), baik (ṭayyib), dan syukur. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, artikel ini mengeksplorasi corak penafsiran, orientasi metodologis, serta konstruksi makna rezeki dalam kedua tafsir. Tafsir An-Nur menampilkan pendekatan fiqih-normatif yang menekankan kehalalan dan kepatuhan terhadap hukum syariat, sementara Tafsir Al-Misbah menghadirkan pendekatan kontekstual yang menyoroti etika konsumsi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Dialektika antara dua pendekatan ini menunjukkan bahwa pemaknaan rezeki dalam Al-Qur’an bersifat multidimensional dan saling melengkapi. Artikel ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian tafsir tematik di Indonesia serta menawarkan kerangka konseptual rezeki yang lebih holistik dan aplikatif dalam menghadapi tantangan materialisme modern.
From Radical Autonomy to Divine Trust: Rethinking Human Freedom through Sartre and Tawhid Furqan, Fatik; Juwaini, Juwaini; Huringin, Nabila; Yasin, Taslim HM.
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29533

Abstract

This article critically examines the concept of human freedom through a comparative analysis of Jean-Paul Sartre’s existentialism and the Islamic doctrine of tawhid. Employing a qualitative library research method, the study analyzes Sartre’s foundational texts—Being and Nothingness and Existentialism is a Humanism—alongside key Islamic philosophical and theological sources. Sartre views human freedom as absolute and burdened with self-definition in the absence of divine authority, leading to anxiety, alienation, and moral subjectivism. In contrast, Islam situates freedom within the framework of divine will (qada’ and qadar), viewing it as a trust (amanah) exercised under God’s guidance and evaluated through moral accountability. Through four key themes—ontological freedom, responsibility, divine will, and moral implication—the study demonstrates that while Sartre articulates the existential depth of human autonomy, the Islamic worldview offers a more coherent and ethically sustainable model of freedom. This integrated understanding grounds freedom in spiritual purpose, communal responsibility, and the moral agency of the individual. Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang konsep kebebasan manusia melalui analisis perbandingan antara eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan doktrin tawhid dalam Islam. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, kajian ini menganalisis teks-teks utama Sartre—Being and Nothingness dan Existentialism is a Humanism—bersama sumber-sumber filsafat dan teologi Islam klasik maupun kontemporer. Sartre memandang kebebasan manusia sebagai sesuatu yang absolut dan menuntut definisi diri sepenuhnya dalam ketiadaan otoritas ilahi, yang pada akhirnya melahirkan kecemasan, keterasingan, dan moralitas yang subjektif. Sebaliknya, Islam menempatkan kebebasan dalam kerangka kehendak ilahi (qada’ dan qadar), sebagai amanah yang dijalankan di bawah bimbingan Tuhan dan dipertanggungjawabkan secara moral. Melalui empat tema utama—ontologi kebebasan, tanggung jawab, kehendak Tuhan, dan implikasi moral—studi ini menunjukkan bahwa meskipun Sartre berhasil mengartikulasikan kedalaman eksistensial dari kebebasan manusia, pandangan Islam menawarkan model kebebasan yang lebih koheren dan berkelanjutan secara etis. Pemahaman yang terintegrasi ini menempatkan kebebasan dalam tujuan spiritual, tanggung jawab sosial, dan agensi moral individu.
Pemahaman Hadis tentang Kebolehan Membaca Tahlil bagi Pelaku Dosa Besar melalui Pendekatan Historis Muhid, Muhid; Hafizoh, Nurul; Suryani, Khotimah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.31445

Abstract

This study examines the understanding of hadith regarding the permissibility of reciting tahlil (the declaration of “Laa ilaaha illallah”) for individuals who have committed major sins, using a historical approach. The research focuses on the analysis of authentic hadiths that emphasize the virtue of the tahlil phrase and the opportunity for forgiveness for anyone who sincerely repents, including those who have committed grave transgressions such as adultery or theft. The research method involves a comprehensive literature review, takhrij (critical examination) of hadiths, analysis of classical texts, and limited interviews with hadith experts. The findings indicate that the practice of tahlil is strongly supported by authentic hadiths and historical precedents from the Prophet Muhammad and his companions, demonstrating that this ritual can serve as a valid medium for repentance and supplication, even for those who have committed major sins. Besides its theological foundation, tahlil has also developed as a religious and social tradition among Indonesian Muslims, reinforcing values of inclusivity and spiritual reconciliation. This study affirms that Islam provides ample space for repentance and self-improvement, and establishes tahlil as a relevant and moderate practice for contemporary Muslim societies. Abstrak: Penelitian ini membahas pemahaman hadis tentang kebolehan membaca tahlil (pengucapan “Laa ilaaha illallah”) bagi individu yang pernah melakukan dosa besar, dengan menggunakan pendekatan historis. Fokus kajian diarahkan pada analisis hadis-hadis sahih yang menegaskan keutamaan kalimat tahlil dan peluang ampunan bagi siapa pun yang bertobat, termasuk mereka yang pernah terjerumus dalam dosa besar seperti zina atau pencurian. Metode penelitian ini meliputi studi pustaka secara komprehensif, takhrij (kritik sanad dan matan) hadis, analisis literatur klasik, serta wawancara terbatas dengan ahli hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik tahlil didukung oleh hadis-hadis sahih dan contoh nyata dari sejarah Nabi Muhammad serta para sahabat, yang membuktikan bahwa amalan ini dapat menjadi sarana taubat dan permohonan ampunan yang sah, bahkan bagi pelaku maksiat besar. Selain memiliki dasar teologis, tahlil juga berkembang menjadi tradisi sosial keagamaan di masyarakat Muslim Indonesia yang menegaskan nilai inklusivitas dan rekonsiliasi spiritual. Kajian ini menegaskan bahwa Islam membuka ruang luas untuk taubat dan perbaikan diri, serta menempatkan tahlil sebagai amalan yang relevan dan moderat dalam dinamika masyarakat Muslim kontemporer.