cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 301 Documents
Qira’at Al-Qur’an: Genealogi Kemunculan dan Perbedaan Bacaan Masruroh, Maulidati; Syuhada, Aswadi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.22807

Abstract

The study of Qira'at (Quranic recitations) holds a crucial position in the scholarly discourse on the Quran, focusing on the theoretical aspects of accurately reciting its verses. The Quran is characterized by its extensive variety of recitations, historically rooted in the teachings of Prophet Muhammad. This diversity often leads to confusion and skepticism among the public regarding the authenticity of the Quranic readings. This article aims to explore the genealogy of the variations in Qira'at, including their origins, contributing factors, and the wisdom behind these variations. Our research indicates that the emergence of different Qira'ats is attributed to both internal and external factors: internally, the Prophet's request to Allah for additional variations in recitation, as evidenced by numerous narratives on the revelation of the seven Ahruf (modes of recitation), and externally, the perspectives of orientalists such as Arthur Jeffery, Theodore Noldeke, and Ignaz Goldziher, who argue that these variations arose due to the absence of vowel and consonant markings in the original text. The benefits of Qira'at diversity include reinforcing Islamic unity, facilitating easier and more accessible recitation across various dialects, and highlighting the miraculous nature of the Quran and Allah’s favor towards the followers of Prophet Muhammad SAW.Abstrak: Ilmu Qira'at adalah bidang studi penting dalam disiplin ilmiah Al-Quran, fokusnya adalah pada teori dan praktik membaca ayat-ayat Al-Quran secara akurat. Al-Quran dikenal memiliki beragam variasi bacaan, yang berakar dari pengajaran Nabi Muhammad SAW. Variasi ini sering kali menimbulkan kebingungan dan skeptisisme terhadap autentisitas bacaan Al-Quran di kalangan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk membahas genealogi perbedaan qira'at, mencakup asal-usul, faktor penyebab, dan manfaat dari variasi qira'at tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan qira'at muncul dari dua faktor utama: faktor internal, seperti permintaan Nabi kepada Allah untuk menambah variasi dalam cara bacaan yang dibuktikan dengan banyaknya riwayat tentang sab’ah al-qira’at, dan faktor eksternal, termasuk pandangan orientalis seperti Arthur Jeffery, Theodore Noldeke, dan Ignaz Goldziher yang berargumen bahwa perbedaan tersebut timbul karena ketiadaan tanda vokal dan konsonan pada teks asli. Manfaat dari variasi qira'at ini termasuk memperkuat kesatuan umat Islam, memudahkan pembacaan dengan berbagai dialek, serta menegaskan keajaiban Al-Quran dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW.  
Keterlibatan Pemerintah dalam Pengamalan Beragama di Banda Aceh Nurlaila, Nurlaila
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.25534

Abstract

This study explores the phenomena of objectification and scientification in religious life in Indonesia, focusing specifically on the province of Aceh, where Islamic Sharia is fully implemented. Building on Kuntowijoyo's insights into the transformation of the Indonesian Muslim community, this research employs a phenomenological approach to understand the perceptions of the Banda Aceh community regarding governmental involvement in religious regulation. Data were collected using qualitative methods, including in-depth interviews with diverse community groups. The findings reveal that the majority of the Aceh community supports the implementation of Islamic Sharia, which has become an integral part of their daily lives. However, criticisms from young intellectuals have been identified, highlighting potential issues in the Sharia application that may sideline minority rights and divert attention from crucial social issues such as poverty and unemployment. These results provide a critical perspective on the discourse surrounding the implementation of Islamic Sharia in Aceh and its social and political implications.Abstrak: Penelitian ini meneliti bagaimana objektifikasi dan ilmu mempengaruhi praktik keagamaan dengan fokus khusus pada provinsi Aceh yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Berlandaskan pandangan Kuntowijoyo tentang transformasi masyarakat Islam Indonesia, studi ini menggunakan pendekatan fenomenologis untuk memahami persepsi masyarakat Banda Aceh terhadap keterlibatan pemerintah dalam regulasi keagamaan. Data dikumpulkan melalui metode kualitatif, mencakup wawancara mendalam dengan berbagai kelompok masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Aceh mendukung penerapan syariat Islam, yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Namun, teridentifikasi pula kritik dari pemikir muda yang menyoroti penerapan syariat yang berpotensi mengesampingkan hak-hak minoritas serta mengalihkan fokus dari isu sosial penting seperti kemiskinan dan pengangguran. Temuan ini menambahkan perspektif kritis terhadap diskursus tentang penerapan syariat Islam di Aceh, serta implikasi sosial dan politik yang menyertainya.
Damai Bertahan dan Konflik Berulang: Analisa terhadap Perdamaian Aceh Sahlan, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.22606

Abstract

This article aims to understand the complexities behind sustainable peace by employing the frameworks of durable peace theories and recurring conflict theories. The research methodology is a qualitative approach, with a primary focus on literature review. Through a critical analysis of relevant literature, this study adopts an inductive analysis method to identify, comprehend, and synthesize the factors that influence the sustainability of peace in Aceh. This process involves a critical evaluation of previous studies, related theories, and both historical and contemporary data concerning conflict and peace in Aceh. The findings of this research indicate that the sustainability of peace in Aceh cannot be attributed to a single factor. Instead, the results affirm that a combination of several factors plays a role. These factors include: (1) the duration and the level of damage caused by the conflict, which affect community perceptions and desires for peace; (2) the quality of the peace agreement, including provisions that facilitate reconciliation and social integration; and (3) the inclusion of former activists from the Free Aceh Movement (GAM) into the political and social structure, facilitating the transition from conflict to peace.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memahami kompleksitas di balik perdamaian yang berkelanjutan dengan menggunakan kerangka teori damai bertahan (durable peace theories) dan teori konflik berulang (recurring conflict theories). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan fokus utama pada tinjauan literatur. Melalui analisis kritis terhadap literatur yang relevan, penelitian ini mengadopsi metode analisis induktif untuk mengidentifikasi, memahami, dan mensintesis faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan perdamaian di Aceh. Proses ini melibatkan penilaian kritis terhadap studi-studi sebelumnya, teori-teori terkait, serta data historis dan kontemporer yang berkaitan dengan konflik dan perdamaian di Aceh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perdamaian di Aceh tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, hasilnya menegaskan bahwa ada kombinasi dari beberapa faktor yang berperan. Faktor-faktor ini meliputi: (1) durasi dan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh konflik, yang mempengaruhi persepsi dan keinginan masyarakat untuk perdamaian; (2) kualitas dari perjanjian damai, termasuk ketentuan-ketentuan yang memungkinkan untuk rekonsiliasi dan integrasi sosial; serta (3) inklusi mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke dalam struktur politik dan sosial, yang memfasilitasi transisi dari konflik ke perdamaian.
Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Hamka Ubaidillah, Ahmad; Ghianovan, Jaka; Muzakki, Asgar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23844

Abstract

Islamic education is unique as it is based on the guidance of the Quran, requiring educators to continuously enhance their morals and apply teaching methods that are easily accepted by students. Ki Hajar Dewantara proposed the educational trilogy, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, and Tut Wuri Handayani, which resonates with Islamic values. This study aims to analyze this educational trilogy from the perspective of Buya Hamka's Tafsir Al-Azhar, specifically Surah Al-Ahzab verse 21, Al-Isra verse 36, and An-Nahl verse 43. Using a qualitative approach and library research method, this study links Ki Hajar Dewantara's educational concepts with Islamic educational principles. The findings reveal that the educational trilogy aligns with Islamic teachings, emphasizing the importance of exemplarity, motivation, morality, and independence in the educational process. Teachers play a crucial role as role models and facilitators, aiding students in developing their potential according to Islamic values. This study underscores the necessity of professionalism and morality in teachers to cultivate students who are not only intellectually capable but also possess noble character. Integrating the educational trilogy with Islamic values is hoped to be a solution to current educational challenges and moral crises. Abstrak: Pendidikan Islam memiliki keunikan karena berlandaskan pada tuntunan Al-Quran, yang menuntut pendidik untuk terus meningkatkan adab dan menerapkan metode pembelajaran yang dapat diterima oleh peserta didik. Ki Hajar Dewantara mencetuskan trilogi pendidikan, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, yang memiliki relevansi dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trilogi pendidikan tersebut dalam perspektif Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka terhadap Surah Al-Ahzab ayat 21, Al-Isra ayat 36, dan An-Nahl ayat 43. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi pustaka, penelitian ini mengaitkan konsep trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya keteladanan, semangat, moralitas, dan kemandirian dalam proses pendidikan. Guru berperan penting dalam menjadi teladan dan fasilitator, membantu siswa mengembangkan potensi mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menekankan pentingnya profesionalisme dan moralitas guru untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga memiliki akhlak mulia. Integrasi konsep trilogi pendidikan dengan nilai-nilai Islam diharapkan menjadi solusi bagi tantangan pendidikan dan krisis moral saat ini.
Pemaknaan Hadis-Hadis tentang Zuhud di Media Sosial: Studi Kasus Akun Instagram Aa Gym Bakar, Abu; Manik, Zulfirman
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23009

Abstract

In the digital era, social media plays a crucial role as a platform for disseminating various interpretations, including interpretations of hadiths about asceticism (zuhud). This study aims to analyze how hadiths on asceticism are constructed on social media, specifically through the Instagram account of Aa Gym. The methodology employed is qualitative research with a content analysis approach, where data were collected from posts on Aa Gym's Instagram account. Through the process of determining objects, creating categories, and analysis units, this study found that Aa Gym constructs interpretations of hadiths about asceticism by emphasizing the aspect of spirituality in drawing closer to Allah SWT, adopting a life stance that is not attached to worldly matters, and leading a simple and unexaggerated life. Furthermore, the research reveals that such interpretations are conveyed in a simple, easy-to-understand language that resonates emotionally with the audience, as evidenced by the number of positive comments on social media.Abstrak: Dalam era digital, media sosial berperan penting sebagai platform untuk menyebarkan berbagai pemaknaan, termasuk pemaknaan hadis tentang zuhud. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hadis-hadis tentang zuhud dikonstruksi dalam media sosial, khususnya melalui akun Instagram Aa Gym. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis isi, dimana data diambil dari postingan akun Instagram Aa Gym. Melalui proses menentukan objek, pembuatan kategori, dan unit analisis, studi ini menemukan bahwa Aa Gym mengonstruksi pemaknaan hadis tentang zuhud dengan menekankan pada aspek spiritualitas dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, sikap hidup yang tidak terpaut pada duniawi, dan kehidupan yang sederhana serta tidak berlebihan. Lebih lanjut, penelitian ini mengungkap bahwa konstruksi pemaknaan tersebut disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan mampu menyentuh hati audiens, seperti terlihat dari jumlah komentar positif di media sosial.
Moderasi Beragama dalam Pembangunan Tempat Ibadah Non-Muslim di Indonesia: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Juz 'Amma Pratama, Rangga Adi; Ghianovan, Jaka; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23394

Abstract

Indonesia, as the country with the largest Muslim population globally, faces challenges in implementing religious moderation to maintain harmony and peace amidst diversity. One such challenge is the rejection of constructing non-Muslim places of worship in several regions, indicating ongoing resistance to religious pluralism. This study aims to analyze Quranic verses related to religious moderation and the construction of non-Muslim places of worship through a comparative study between Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Juz 'Amma by Firanda Andirja, focusing on Surah Al-Hajj verse 40, Al-Baqarah verse 256, Al-An'am verse 108, and Al-Kafirun verses 1–6. The research employs a qualitative method with a literature study approach, analyzing the interpretations of both scholars on these verses. The findings indicate that Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar*emphasizes the importance of tolerance and respecting the rights of non-Muslims to worship and build places of worship, while affirming that there is no compromise in matters of faith and monotheism. In contrast, Firanda Andirja in Tafsir Juz 'Amma emphasizes a stance of disengagement regarding the welfare of non-Muslims and tends not to support the construction of non-Muslim places of worship, although still advocating for tolerance.Abstrak: Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menghadapi tantangan dalam menerapkan moderasi beragama untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah keberagaman. Salah satu tantangan tersebut adalah penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah non-Muslim di beberapa wilayah, yang menunjukkan masih adanya resistensi terhadap pluralitas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an terkait moderasi beragama dan pembangunan tempat ibadah non-Muslim melalui studi komparatif antara Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Juz 'Amma karya Firanda Andirja, dengan fokus pada Surah Al-Hajj ayat 40, Al-Baqarah ayat 256, Al-An'am ayat 108, dan Al-Kafirun ayat 1–6. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menganalisis penafsiran kedua mufasir terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan pentingnya toleransi dan menghargai hak non-Muslim untuk beribadah dan mendirikan tempat ibadah, sambil tetap menegaskan bahwa dalam akidah dan tauhid tidak ada kompromi. Sementara itu, Firanda Andirja dalam Tafsir Juz 'Amma lebih menekankan sikap berlepas diri dalam hal kemaslahatan non-Muslim dan cenderung tidak mendukung pembangunan tempat ibadah non-Muslim, meskipun tetap menganjurkan sikap toleransi.
Pembelajaran Qiraat di Era Digital: Telaah Maqra’ah Qur’aniyyah Online Himmad, Gumaa Ahmed; Mokhtar, Ahmad Baha' Bin; Hidayatil, Rifqi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.21938

Abstract

Maqra’ah, traditionally, has served as a cornerstone for Quranic education, aimed at preserving and transmitting the teachings of the Quran across generations within the Islamic community. Initially centered on face-to-face interactions, Maqra’ah has experienced a paradigm shift with the advent of modern technology, manifesting in the form of online Maqra’ah. This innovative model breaks down geographical and temporal barriers, connecting teachers and students globally. Despite its significant potential, this study identifies that the adoption of online Maqra’ah, especially those focused on Qiraat learning, remains relatively underexplored. Consequently, this research aims to describe various online Maqra’ah platforms offering Qiraat learning programs, utilizing a literature study method. The findings reveal a diversity of Quranic Maqra’ah offering Qiraat education programs in contemporary times. The emergence of online Maqra’ah serves as an effective step in preserving the knowledge of Qiraat, which has become somewhat alienated among the Muslim community in recent decades. The advent of online Maqra’ah presents a new alternative, facilitating students in deepening their Qiraat studies and potentially serving as an effective and flexible learning method..Abstract: Maqra’ah, secara tradisional, merupakan pusat pembelajaran Al-Quran yang bertujuan untuk mempertahankan dan menyampaikan pengajaran Al-Quran dari generasi ke generasi dalam komunitas Islam. Maqra’ah yang pada awalnya berfokus pada interaksi tatap muka, telah mengalami pergeseran dengan pemanfaatan teknologi modern yang berupa maqra’ah online. Model inovatif ini memecahkan batasan geografis dan waktu, menghubungkan guru dan murid dalam lingkup global. Meskipun potensinya yang besar, penelitian ini mengidentifikasi bahwa adopsi maqra’ah online, khususnya yang fokus pada pembelajaran ilmu qiraat, masih belum begitu populer. Oleh karena itu kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai platform maqra’ah online yang menyediakan pembelajaran ilmu qiraat dengan metode studi kepustakaan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai macam maqra’ah Al-Quran yang menawarkan program pembelajaran ilmu qiraat di zaman sekarang. Munculnya maqra’ah online telah menjadi sebagai satu langkah efektif dalam melestarikan ilmu qiraat yang sudah terasa asing dalam kalangan umat Islam sejak beberapa dekade terakhir. Kehadiran maqra’ah online telah menjadi alternatif baru yang dapat memudahkan para pelajar mendalami studi qiraat dan berpotensi menjadi metode pembelajaran yang efektif dan fleksibel. 
Kesehatan dan Sunnah: Analisis Konsumsi Semangka dan Kurma Dalam Hadis Nabi Muhammad Saw Prasetyo, Iman Darmawan; Nuh Siregar, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i1.23022

Abstract

This article aims to examines the consumption of watermelon and dates as recommended in the Hadith, exploring the nutritional content and potential health benefits of both fruits. The study aims to understand how these recommendations can be implemented in daily life to enhance overall well-being. The methodology employed is qualitative descriptive research with a critical analysis paradigm, based on a literature review. The primary sources for this research are Kutub at-Tis’ah and relevant secondary literature. The authenticity and health implications of the Hadith are validated through classical takhrij method analysis. The findings suggest that watermelon and dates, both rich in nutrients, offer various health benefits including improved hydration, blood pressure management, and reduced risk of chronic diseases. The Hadith not only reveals Prophet Muhammad SAW's healthy eating practices but also provides a balanced dietary guideline that aligns with contemporary health knowledge. Integrating the teachings of the Hadith on watermelon and dates into modern dietary practices enables Muslims to achieve optimal nutritional balance and enhance their overall health quality.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsumsi semangka dan kurma yang direkomendasikan dalam Hadis, dengan mengeksplorasi kandungan nutrisi dan potensi manfaat kesehatan dari kedua buah tersebut. Tujuan kajian ini adalah untuk memahami bagaimana rekomendasi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna meningkatkan kesejahteraan umum. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan paradigma analisis kritis, berdasarkan studi literatur. Sumber utama penelitian ini adalah Kutub at-Tis’ah dan literatur sekunder yang relevan. Analisis sanad hadis dilakukan menggunakan metode takhrij klasik untuk memvalidasi keautentikan dan implikasi kesehatan dari hadis tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa semangka dan kurma, keduanya kaya akan nutrisi, menawarkan berbagai manfaat kesehatan seperti peningkatan hidrasi, manajemen tekanan darah, dan pengurangan risiko penyakit kronis. Hadis ini tidak hanya mengungkap praktik makan sehat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menyajikan panduan diet yang seimbang yang relevan dengan pengetahuan kesehatan kontemporer. Integrasi ajaran hadis tentang semangka dan kurma dalam praktik diet modern memungkinkan umat Islam untuk mencapai keseimbangan gizi yang optimal dan meningkatkan kualitas kesehatan secara keseluruhan.
Pergeseran Peran dan Eksistensi Al-Quran: Studi Living Quran pada Masyarakat Waido, Pidie, Aceh Bahri, Samsul; Abraar, Muhammad Nuzul
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.24947

Abstract

This study examines the evolving ways in which the community of Waido, Peukan Baro, Pidie, perceives and engages with the Quran. Initially regarded as a sacred text and a source of religious norms, the Quran has undergone a shift in function and role, becoming a practical instrument used in various social and cultural activities. The research adopts the Living Quran model, employing a qualitative approach that incorporates ethnomethodology, anthropology, and phenomenological analysis. The findings reveal a significant transformation in the status and function of the Quran, which now extends beyond serving as a source of religious guidance to being utilized in everyday practices, such as agricultural rituals and conflict resolution through oath-taking. In Waido, the Quran has become an integral part of social and cultural life, transcending its status as a sacred text to function as a symbolic entity with broader social and spiritual significance. These findings provide insights into how local traditions, such as the Keunduri Blang ritual, shape and are shaped by the community's reception and interpretation of the Quran. Abstrak: Penelitian ini mengkaji perubahan cara masyarakat Waido, Peukan Baro, Pidie, dalam mempersepsikan dan memperlakukan Al-Quran. Al-Quran, yang awalnya dipandang sebagai teks suci dan sumber norma keagamaan, telah mengalami perluasan fungsi dan peran, menjadi instrumen praktis yang digunakan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan model Living Quran, dengan pendekatan kualitatif yang menggabungkan etnometodologi, antropologi, dan analisis fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam kedudukan dan fungsi Al-Quran, yang tidak hanya berperan sebagai sumber petunjuk keagamaan, tetapi juga digunakan dalam praktik sehari-hari, seperti ritual pertanian dan penyelesaian konflik melalui sumpah. Di masyarakat Waido, Al-Quran telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya, melampaui statusnya sebagai teks suci dengan berfungsi sebagai simbol sakral yang memiliki makna sosial dan spiritual yang lebih luas. Temuan ini menggambarkan bagaimana tradisi lokal, seperti Keunduri Blang, membentuk dan dipengaruhi oleh resepsi serta interpretasi terhadap Al-Quran.
Pemahaman Al-Jibt (Sihir) dalam Perspektif Hadis Fatrisia, Anggi; Halim, Abdul
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26073

Abstract

In the current digital era, the Muslim community faces increasing challenges related to the resurgence of practices reminiscent of the pre-Islamic era, such as witchcraft and paranormal activities, often publicized through social media and television. This phenomenon raises concerns about its impact on the faith of the community. This research aims to delve into and actualize the understanding of jibt and thagut from a hadith perspective, focusing on the application of relevant hadiths in the context of modern life. A qualitative methodology with a thematic analysis approach was employed, utilizing techniques of takhrij al-hadith and syarah al-hadith to evaluate and interpret the hadith texts. The findings indicate that the majority of hadiths discussing al-jibt possess weak chains of narration (sanad), however, the diversity of the narration chains mitigates the severity of these weaknesses. Al-jibt is identified as an illicit and misleading practice, often associated with demonic assistance. These findings are crucial for strengthening the Muslim community’s understanding to avoid being influenced by such misguided practices. This study fills a gap in the literature by providing a detailed analysis of the relevance of hadiths in addressing contemporary issues related to the revival of pre-Islamic practices. Abstrak: Di era digital saat ini, umat Islam menghadapi tantangan yang meningkat terkait kemunculan kembali praktik-praktik yang menyerupai adat jahiliyah, seperti perdukunan dan paranormalisme, yang sering dipublikasikan melalui media sosial dan televisi. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran mengenai pengaruhnya terhadap aqidah umat. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mengaktualisasikan pemahaman tentang jibt dan thagut dalam perspektif hadis, dengan fokus pada aplikasi hadis-hadis terkait dalam konteks kehidupan modern. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tematik, menggunakan teknik takhrij al-hadith dan syarah al-hadith untuk mengevaluasi dan memahami teks-teks hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas hadis yang mendiskusikan al-jibt memiliki sanad yang dhaif, namun variabilitas jalur sanad mengurangi keparahan kelemahan ini. Al-jibt ditemukan sebagai praktik yang haram dan menyesatkan, seringkali dilibatkan dengan bantuan setan. Temuan ini penting untuk memperkuat pemahaman umat Islam agar tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sesat. Penelitian ini mengisi celah dalam literatur dengan menyediakan analisis mendalam tentang relevansi hadis dalam menanggapi isu-isu kontemporer yang berkaitan dengan praktik jahiliyah yang dihidupkan kembali.