cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 47, No 1 (2023): June" : 7 Documents clear
Identity and Diversity in the Hudoq Dance: A Review of Religious Moderation Based on Ancestral Heritage Among the Dayak Tribe Robbaniyah, Nur; MJ, Noer Hidayat; Ningrum, Velida Apria; Ulya, Nur Afina
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.25321

Abstract

The study of culture in the Dayak Wehea community continues to evolve, but various studies often overlook an examination of the religious identity displayed. This religious identity becomes a practice of religious moderation born in the Dayak Wehea community. Therefore, the author investigates how religious moderation is displayed through the identity and symbols contained in the Hudoq dance in the Dayak Wehea community. This article aims to discuss the Hudoq dance as one form of identity and heritage-based diversity in the Dayak Wehea tribe, particularly in the context of examining religious moderation. The Hudoq dance is not only an ethnic identity but also an ancestral heritage, serving as a religious practice in the community. This research combines field and literature studies, collecting data through interviews, documentation, and relevant literature. The data is discussed using a descriptive-analytical method with a qualitative approach. The article concludes that the practice of religious moderation in the Dayak Wehea community can be observed through the religious values displayed in the Hudoq dance. These religious values include the principles of unity, peace, tolerance among religious communities, and the balance between humans and the universe. The religious values presented in the rice harvest festival and the Hudoq dance contribute to the creation of unity and harmony in the Dayak Wehea community and its surroundings. Abstrak: Kajian tentang kebudayaan di masyarakat Dayak Wehea terus mengalami perkembangan namun berbagai kajian yang ada luput mengkaji identitas keberagamaan yang ditampilkan. Identitas keberagamaan ini menjadi praktik moderasi beragama yang dilahirkan di masyarakat Dayak Wehea. Oleh karena itu penulis meneliti bagaimana moderasi beragama ditampilkan melalui identitas dan simbol yang terkandung dalam tarian Hudoq di masyarakat Dayak Wehea. Artikel ini bertujuan mendiskusikan tentang tarian Hudoq, sebagai salah satu bentuk identitas dan keragaman berbasis warisan leluhur pada suku Dayak Wehea, khususnya dalam meninjau moderasi beragama. Tari Hudoq merupakan tari yang tidak hanya menjadi identitas kesukuan sekaligus warisan leluhur, tetapi juga menjadi praktik keagamaan di masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian lapangan dan pustaka sekaligus, sehingga data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, serta literatur-literatur terkait topik kajian. Data-data tersebut didiskusikan dengan menggunakan metode deskriptis-analitis dengan pendekatan kualitatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengamalan moderasi beragama yang berkembang di masyarakat Dayak Wehea dilihat melalui nilai-nilai keagamaan yang ditampilkan dalam tari Hudoq. Nilai-nilai keagamaan ini meliputi nilai persatuan, perdamaian, toleransi antar umat beragama, dan nilai keseimbangan antara manusia dengan alam semesta. Nilai-nilai agama yang ditampilkan pada kegiatan pesta padi dan tari Hudoq menjadi salah satu faktor pendorong terciptanya persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat Dayak Wehea dan sekitarnya.
Contextualization of Hadith on the Recommendation of Marriage and Its Relevance to the Legal Age of Marriage in Indonesia Nelli, Jumni; Jaafar, Nia Elmiati
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23161

Abstract

Determination of the age of marriage in Indonesia from 19 years for men and 16 years for women to 19 years for men and women is considered contrary to Islamic law especially the hadith advising marriage. This study aims to confirm that the hadith advocating marriage has a connection with setting the age limit for marriage in Indonesia. This research is qualitative research using the approach to understanding the hadith, namely by understanding the meaning of the hadith about the recommendation to marry, then it is analyzed using a statutory approach, namely (statute approach) and other approaches. The data were obtained from hadith books, applicable laws in Indonesia, and other data such as journals and other articles related to this paper. The results of the research explain that the hadith advocating marriage has relevance to the age limit for marriage in Indonesia. The hadith advising youth to marry means youth between the ages of 16 and 30. While the word ba'ah (able) in the hadith is understood by scholars as the ability to perform jima' (sexual intercourse) and the cost of marriage. The ability to have sexual intercourse is interpreted in a broad sense, namely being able to have sex and bear the consequences of that sexual relationship (to have children). Being able to afford a wedding is interpreted as the economic ability of the family and those related to the family economy. If it is related to the age that is "able" according to this hadith in Indonesian culture are those who have graduated from high school, that is, at least 19 years old.Abstrak: Penetapan usia menikah di Indonesia dari usia laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun menjadi laki-laki dan perempuan 19 tahun dianggap bertentangan dengan hukum Islam, terutama hadis anjuran menikah. Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa hadis anjuran menikah mempunyai kaitan dengan menetapan batas usia menikah di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan pemahaman hadis yakni dengan memahami makna hadis tentang anjuran menikah, selanjutnya dianalisis dengan pendekatan perundang-undangan yakni (statute approach) dan pendekatan lainnya. Data diperoleh dari kitab-kitab hadis, perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan data lain seperti jurnal, artikel lain yang berkaitan dengan tulisan ini. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hadis anjuran menikah memiliki relevansi dengan batas usia menikah di Indonesia. Hadis tentang anjuran menikah kepada pemuda maksudnya adalah pemuda dalam rentang usia 16 sampai 30 tahun. Sedangkan lafaz ba’ah (mampu) dalam hadis dipahami oleh para ulama adalah kemampuan untuk melakukan jima’ (hubungan seksual) dan biaya pernikahan. Kemampuan hubungan seksual dimaknai dengan arti luas yaitu mampu melakukan seksual dan menanggung akibat dari hubungan seksual tersebut (mempunyai keturunan). Mampu membiayai pernikahan dimaknai dengan kemapuan ekonomi keluarga dan yang berhubungan dengan ekonomi keluarga. Bila dihubungkan dengan usia yang “mampu” menurut hadis tersebut dalam budaya Indonesia adalah mereka yang sudah tamat sekolah menengah atas yaitu minimal 19 tahun.
Virtual Da'wah Authority in Tafsir Rahmat H. Oemar Bakry: An Analysis of Intertextuality from Julia Kristeva Hidayat, M. Riyan; Wijaya, Roma; el-Feyza, Muhafizah; HS, Muh. Alwi; Akmaluddin, Muhammad; Nazarmanto, Nazarmanto
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23022

Abstract

Religious activities in Indonesia suffered such massive turmoil that social media was used as a container. Then, the devotion performed by one individual is an obligation for Indonesian Muslims and the world. The spread of religious content in the virtual world seemed to upset Muslim viewers about the authenticity and validity of the source of the content distributed by an account on social media of various platforms. However, through the Book of Mercy, the author sees that there is an offer of innovation about the virtual authority of prophecy so as not to cause a faulty expansion of science. What's more, the diverse understanding of content creators has the potential to complain to the sheep and spread propaganda to the general public. Through a library-based study using the intertextuality glasses that were designed by Julia Kristeva, the message and substance of H. Oemar Bakry's offer to look at the problem will be depicted. Thus, this paper aims to respond to the new offer by creating an agency under the government's auspices of virtual authority. The aim is to counteract the provocative, tendentious, biased, subjective, and evocative messages that float in the virtual universe. Starting from this research, it will be illustrated that this study has produced a new finding that H. Oemar Bakry offers the meaning of forming a strong, honest, and orderly group of preachers. The function of the jury is to be a source of reference for the treasures of Indonesian Islamic sciences.Abstrak: Kegiatan dakwah di Indonesia mengalami gejolak yang begitu besar, dimana sosial media digunakan sebagai wadahnya. Kemudian, dakwah yang dilakukan dari satu individu merupakan kewajiban muslim Indonesia dan dunia. Penyebaran konten dakwah dalam dunia virtual seakan meresahkan para viewers muslim tentang keaslian dan keotentikan sumber konten yang disebarkan oleh sebuah akun di media sosial dari berbagai flatform.  Namun, melalui Tafsir Rahmat penulis melihat bahwa ada tawaran kebaharuan tentang otoritas dakwah virtual agar tidak terjadinya ekspansi ilmu yang cacat. Terlebih lagi, pemahaman yang beragam dari para content creator berpotensi mengadu domba dan menyebarkan propaganda di khalayak luas. Melalui kajian yang berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan kacamata intertekstualitas yang dipelopori oleh Julia Kristeva akan tergambar pesan dan substansi tawaran H. Oemar Bakry dalam melihat problematika tersebut. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan merespon tawaran baru dengan membuat sebuah lembaga di bawah nauangan pemerintah tentang otoritas dakwah virtual. Tujuannya untuk menanggulangi pesan-pesan dakwah yang sifatnya provokatif, tendensius, bias, memihak, subjektif, evokatif yang berseliweran di jagad maya. Hasil dari penelitian ini akan tergambar bahwa kajian ini telah menghasilkan temuan baru bahwa H. Oemar Bakry menawarkan makna akan dibentuk kelompok juru dakwah yang kuat, jujur, dan teratur. Fungsi dari juru dakwah yakni menjadi sumber referensi khazanah keilmuan Islam Indonesia.
Social Intelligence in Islamic Education; Analysis of the Social Jurisprudence Ideas of KH. MA. Sahal Mahfudh Prasetia, Senata Adi; Fahmi, Muhammad; Faizin, Moh.
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.21865

Abstract

The article explores the development of social intelligence in Islamic education. In this period, Islamic education tended to be oriented only to cognitive and affective aspects but hardly to psychomotor ones. This shows that many students cannot interact with their environment. This article argues that the development of social intelligence in Islamic education under the guidance of KH. MA. Sahal Mahfudh focuses more on the aspects of social intelligence that are included in the idea of social fiqh. The findings suggest that the idea of social fiqh KH. MA. Sahal Mahfudh is the most essential foundation for the development of students' social intelligence. In this case, the development of social intelligence is displayed through social sensitivity, social insight, and social communication. Through education that focuses on social sensitivity, social knowledge and social communication, Kiai Sahal has created a strong foundation for developing aspects of social intelligence in the context of Islamic education in Indonesia. The concrete form of social intelligence development carried out by Kiai Sahal is reflected in the formulation of intellectual, social-community education, organizational education, sports and health education, and skills education. Applying the idea of social fiqh, Kiai Sahal in Islamic education should be a model and a new paradigm for developing social intelligence in learners.Abstrak: Artikel ini membahas bagaimana pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam dan relevansinya di era kontemporer perspektif KH. Sahal Mahfudh. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu memerlukan orang lain untuk berinteraksi. Atas dasar itu, pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam sangat dibutuhkan. Artikel ini berargumen bahwa pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam di bawah bimbingan KH. MA. Sahal Mahfudh lebih menitikberatkan pada aspek kecerdasan sosial yang tercakup dalam gagasan fikih sosial. Melalui penelitian kualitatif-eksploratif dan kepustakaan, serta dokumentasi dan pengayaan literatur serta analisis data menggunakan tiga aspek; kondensasi data, display data dan verifikasi data, hasil temuan menunjukkan bahwa gagasan fikih sosial KH. MA. Sahal Mahfudh menjadi basis utama bagi pengembangan kecerdasan sosial peserta didik. Dalam hal ini, perkembangan kecerdasan sosial ditampilkan melalui kepekaan sosial, wawasan sosial, dan komunikasi sosial. Melalui pendidikan yang terfokus pada sensitivitas sosial, pengetahuan sosial, dan komunikasi sosial, Kiai Sahal telah menciptakan landasan yang kuat guna pengembangan aspek kecerdasan sosial dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk konkret pengembangan kecerdasan sosial yang dilakukan Kiai Sahal tercermin dalam rumusan pendidikan intelektual, pendidikan sosial kemasyarakatan, pendidikan organisasi, pendidikan olahraga dan kesehatan, serta pendidikan keterampilan. Penerapan pemikiran fikih sosial Kiai Sahal dalam pendidikan Islam hendaknya menjadi model dan paradigma baru dalam mengembangkan kecerdasan sosial pada peserta didik pada pendidikan Islam Indonesia kontemporer.
Anxiety in Hadith Perspective: A Study of Ihya’ Al-Sunnah Management Sultani, Hikmawati; Ahmad, Arifuddin; Yahya, Muhammad
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.26154

Abstract

The Nabi has paid great attention to the psychological state of his people and one of them is anxiety. Anxiety is a normal condition but if it occurs intensely and is not handled, it will have implications for a person's psychological and social life. Humans are fragile and weak creatures, so the apostle shared how to overcome anxiety through spiritual psychotherapy in the form of prayer. The purpose of the study is to explore the meaning of the hadith about anxiety. The type of research used is qualitative using the maudu'iy method. This research is based on the management of ihya' al-hadis which is based on the steps; a) input of hadith data c) output; and d) outcome. This study concludes that the textual interpretation of anxiety is interpreted as al-hamm which means anxiety, worry, unrest, and restlessness which always goes hand in hand with the word al-hazn (sadness). As for the intertextual hadith, anxiety is a feeling of being hit by worry, anxiety, and anxiety manifested from various mixed emotional processes that occur when a person is depressed and experiencing conflict or something that is not right. The contextual meaning; prayer for protection from Allah can be done in everyday life or when struck by anxiety. The output of this hadith is seen from the substantive (maqasid al-hadis) can be hajiyyah and even daruriyyah which is formally (al-sunnah al-nabawiyyah) in the form of qawliyyah. The outcome of this hadith is syumuliyyah and mahalliyah which can be applied by each person proportionally and even optimally. Abstrak: Rasulullah Saw., telah menaruh perhatian yang besar terhadap keadaan psikologis umatnya and salah satunya adalah anxiety atau kecemasan. Anxiety merupakan keadaan yang normal namun jika terjadi secara intens and tidak tertangani maka akan berimplikasi pada psikis seseorang and kehidupan sosialnya. Manusia adalah makhluk yang rentan rapuh and lemah, maka rasul sharing cara mengatasi anxiety melalui psikoterapi spiritual berupa doa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali kandungan makna hadis tentang anxiety. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan metode maudu’iy (tematik). Penelitian ini didasarkan pada cara kerja manajemen ihya’ al-hadis yang berdasarkan pada langkah; a) input data hadis; b) proses interpretasi; c) output; and d) outcome. Penelitian ini berkesimpulan bahwa interpretasi secara tekstual anxiety dimaknai al-hamm yang beriringan dengan kata al-hazn (kesedihan). Secara intertekstual hadis anxiety merupakan perasaan dilanda kekhawatiran, kegelisahan, and kecemasan yang termanifestasikan dari berbagai proses emosi yang bercampur baur yang terjadi ketika seseorang seandg tertekan and alami pertentangan atau sesuatu yang tidak disenangi. Sedangkan makna kontekstual; doa permohonan perlindungan pada Allah dapat dilakukan dalam keseharian atau pada saat dilanda anxiety. Output hadis ini dilihat dari subtantif (maqasid al-hadis) dapat bersifat hajiyyah bahkan daruriyyah yang secara formatif (al-sunnah al-nabawiyyah) berbentuk qawliyyah. Outcome hadis ini bersifat syumuliyyah and mahalliyah yang dapat diterapkan oleh setiap personal secara proposional bahkan optimal.
A Critical Study of Iskandar Zulkarnain's Thought on 'The Ahmadiyya Movement in Indonesia' from the Phenomenological Perspective of Edmund Husserl Budiman, Arman
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.21799

Abstract

Studying the Ahmadiyah movement in Indonesia through the work of Iskandar Zulkarnain, according to researchers, requires a reassessment of the figure to determine whether the history is truly discussed without any intervention from any party or the opposite. This is crucial as it will determine the historical accuracy and reveal whether Ahmadiyah has contributed to the development of Islamic scholarly studies, especially in Indonesia. The method used in this research is library research. The data collection technique relevant to this study is documentary research, which involves various literature related to the thoughts or concepts of the figure under examination. The results of this research conclude that the Ahmadiyah movement entered Indonesia with the departure of three Indonesian youths to India. These three youths were Abu Bakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, and Zaini Dahlan, all from Padang Panjang, West Sumatra. In his research on the Ahmadiyah movement in Indonesia, Iskandar Zulkarnain truly used two tools offered by Edmund Husserl, namely epoche and eidetic. Iskandar successfully suspended his initial knowledge to obtain valid information from the Ahmadiyah community, as evidenced by Iskandar Zulkarnain's research. Many historical facts support that Ahmadiyah is appreciated by Muslim intellectuals in the homeland. Through the Islamic works written by Indonesian figures, it can be traced that there are indications that their ideas are inspired by the literature of Ahmadiyah figures, especially in the narrative of comparative religion and Christology. With this evidence, it can be concluded that Ahmadiyah's ideas are visualized in many intellectual works by Indonesian Muslim figures.Abstrak: Mengkaji gerakan Ahmadiyah di Indonesia melalui karya Iskandar Zulkarnain menurut peneliti perlu adanya tinjauan ulang terhadap tokoh (peneliti), apakah benar-benar mengulas sejarah tanpa adanya intervensi dari kalangan manapun atau malah sebaliknya. Hal ini sangat penting, sebab akan menentukan kebenaran sejarah dan pengungkapan apakah Ahmadiyah memiliki kontribusi dalam perkembangan pengkajian keilmuan Islam khususnya Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian  (library research). Teknik pengumpulan data yang relevan dengan penelitian ini adalah studi dokumentasi, studi dokumentasi mengarah kepada berbagai macam literatur yang berhubungan dengan pemikiran atau konsep tokoh yang dikaji. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa gerakan Ahmadiyah masuk ke Indonesia dimulai dengan berangkatnya tiga orang pemuda Indonesia ke India. Ketiga pemuda itu adalah Abu bakar Ayyub, Ahmad Nuruddin dan Zaini Dahlan, ketiganya berasal dari Sumatera Barat Padang Panjang. Dalam penelitiannya tentang gerakan Ahmadiyah di Indonesia Iskandar Zulkarnain benar-benar menggunakan dua alat yang ditawarkan oleh  Edmund Husserl, baik itu epoche dan eiditic. Iskandar berhasil menanggalkan pengetahuan awalnya demi mendapatkan informasi yang valid dari jemaah Ahmadiyah, terbukti melalui riset Iskandar Zulkarnain, banyak fakta-fakta sejarah yang mendukung Ahmadiyah diminati oleh intelektual muslim tanah air. Melalui karya keislaman yang ditulis oleh tokoh asal Indonesia, dapat dilacak adanya indikasi bahwa ide karya mereka terinspirasi dari literatur milik tokoh Ahmadiyah, terutama dalam narasi perbandingan agama dan kristologi. Cukup dengan bukti ini, bahwa ide Ahmadiyah tervisualisasikan dalam banyak karya intelektual muslim asal Indonesia.
Fiqh Al-Ḥaḍarah from a Geopolitical Perspective: The Idea of NU's Peace Diplomacy Through the Recontextualization of Political Jurisprudence Rois, Choirur; Masrury, Farhan; Zikri, Arfad
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.25330

Abstract

  The conception of the jurisprudence of civilization (fiqh al-Ḥaḍarah) as an idea of peace diplomacy offered by Nahdlatul Ulama (NU) is the main starting point of this study. This idea presents religious thoughts as a solution to various unsolved conflicts. For example, the Middle East issue gave rise to stereotypes and negative images of Islam as the basis for conflict under the pretext of jihad as a movement idea. Based on the results of the International Conference on the Jurisprudence of Civilization I, in Nahdlatul Ulama's view, the recontextualization of political jurisprudence from a geopolitical perspective, on the one hand, is critical as a basis for understanding carrying out Islamic teachings in the political sector of state administration. On the other hand, it is also an effort to create sustainable peace. The question here is how can the recontextualization of political jurisprudence in the view of Nahdlatul Ulama be used as an idea for world peace diplomacy when viewed from a geopolitical perspective. This paper uses a descriptive qualitative method with data collection using desk research and an annotated bibliography. The approaches used include textual-contextual, sociological approach to Islamic law, and the theory of critical discourse analysis. This research shows that, based on NU's view from a geopolitical perspective, fiqh al-Ḥaḍarah can be used as a term to re-contextualize political jurisprudence discourse in an ideal direction. It is according to the needs and demands of the era. It presents islamic jurisprudence thinking as a solution to welcoming a better civilization in the future, either as a diplomatic idea or as an idea of sustainable peace. Abstrak:   Tulisan ini berangkat dari konsepsi fikih peradaban (fiqh al-h}aḍarah) sebagai gagasan diplomasi perdamaian yang ditawarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) kepada dunia untuk menghadirkan gagasan agama sebagai solusi atas berbagai konflik yang tak kunjung selesai sampai saat ini. Seperti halnya studi kasus di Timur Tengah yang memunculkan stereotipe dan citra negatif atas Islam sebagai dasar konflik dengan dalih jihad sebagai ide gerakan. Dalam pandangan Nahdlatul Ulama berdasarkan hasil Muktamar Internasional Fikih Peradaban I, rekontekstualisasi fiqh siya>sah dalam perspektif geopolitik menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai dasar pemahaman dalam menjalankan ajaran Islam di sektor politik ketatanegaraan serta sebagai upaya dalam mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan. Lantas bagaimana rekontekstualisasi fiqh siya>sah dalam pandangan Nahdlatul Ulama bisa dijadikan gagasan diplomasi perdamaian dunia jika dilihat dari perspektif geopolitik? Tulisan ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data menggunakan metode desk research dan annotated bibliography. Pendekatan yang digunakan diantaranya, tekstual-kontekstual, pendekatan sosiologi hukum Islam dan teori analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Hasil dalam tulisan ini menunjukkan bahwa, berdasarkan pandangan NU dalam perspektif geopolitik fiqh al-h}aḍarah dapat dijadikan sebagai istilah untuk dapat merekontekstualisasikan diskursus fiqh siya>sah ke arah yang lebih ideal sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zamannya serta menghadirkan pemikiran fikih sebagai solusi dalam menyongsong peradaban yang lebih baik di masa depan. Baik sebagai suatu gagasan diplomasi ataupun sebagai ide gagasan perdamaian yang berkelanjutan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue