cover
Contact Name
Dr. Evi Mu'afiah
Contact Email
muafiahevi@gmail.com
Phone
(0352) 481277
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM IAIN Ponorogo Jl. Pramuka No.156 Ponorogo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam
ISSN : 19076371     EISSN : 25279254     DOI : -
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam is a journal based on Islamic research published by Institute for Research and Community Services, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2007 to facilitate the publication of research, articles, and book review. The Journal issued biannually in June and December.
Articles 411 Documents
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERSANGKA ANAK SEBAGAI UPAYA UNTUK MELINDUNGI HAK ASASI ANAK (Studi di Wilayah Kepolisian Resot Kabupaten Ponorogo) Mahfiana, Layyin
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepribadian seorang anak sebagai individu belum matang sehinggamudah terkena pengaruh dari luar sehingga memungkinkan merekauntuk berperilaku, menyimpang antara lain adanya dampak negatifdari perkembangan pembangunan, pembangunan yang cepat, arusglobalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmupengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya hidup sebagianorang tua, anak kurang memperoleh kasih sayang, asuhan, bimbingandan pembinaan dalam pengembangan sikap, perilaku, penyesuaiandiri, serta pengawasan dari orang tua, wali, atau orang tua asuh.Apabila hal tersebut dibiarkan, dapat mengakibatkan terjadinyapelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak. Penyimpangan danpelanggaran tersebut jika dilakukan, maka anak tersebut dikatakansebagai anak nakal. Dalam menghadapi dan menanggulangiperbuatan dan tingkah laku anak nakal ini perlu dipertimbangkankedudukan anak dengan segala ciri dan sifatnya yang khas.Meskipun dalan realitanya kedudukan anak dengan ciri dan sifatyang khas ini seringkali dilanggar oleh penegak hukum, sehinggaanak kehilangan hak asasinya.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis melakukan penelitiandengan mengambil permasalahan, bagaimanakah perlindunganhukum terhadap tersangka anak dalam proses penyidikan dikepolisian?; faktor‑faktor apa saja yang menjadi penghambatperlindungan hukum terhadap tersangka anak dalam prosespenyidikan di kepolisian. Jenis data yang digunakan dalam penelitianini adalah data primer yang diperoleh dari hasil pengumpulan datadi lapangan serta data sekunder yang diperoleh dari hasil-hasilpenelitian terdahulu maupun beberapa literatur. Pengumpulan data primer dilakukan dengan beberapa cara yaitu: wawancaramendalam (indepth interview) dan dokumentasi. Data yang berhasildikumpulkan kemudian dianalisis dengan model interaktif.Hasil Penelitian di lapangan menjelaskan bahwa 1) Dalam prosespenyidikan, guna melindungi hak asasi anak, anak mempunyaibeberapa hak diantaranya hak untuk segera diperiksa; penyidikwajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbingkemasyarakatan; penyidik tidak memakai pakaian dinas; hak anakyang dikenakan upaya paksa penahanan, maka tempat tahanananak harus dipisahkan dari tempat tahanan orang dewasa, danselama anak ditahan, kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anakharus tetap dipenuhi; hak mendapatkan bantuan hukum dariseorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu danpada setiap tingkat pemeriksaan; hak untuk memberi keterangandalam keadaan bebas, tidak butuh waktu lama, menggunakanbahasa lugas dan dimengerti anak; dalam penyidikan anak perludirahasiakan; dan lamanya waktu penahanan. Hak-hak tersebutdiatas, dalam prakteknya tidak semuanya terpenuhi dengan baikdengan beberapa alasan, diantaranya keterbatasan personel,ruangan yang terbatas, prosedur yang lambat, keterbatasandana dan kurangnya kesadaran dari penyidik; 2)Faktor-faktoryang menjadi penghambat perlindungan hukum terhadap anakdiantaranya rata-rata tersangka anak itu adalah anaknya golonganmenengah kebawah, jadi tidak mampu membayar pengacara;Dalam proses penyidikan terkadang penyidik juga susah memintaketerangan kepada anak; Dalam aturan kasus anak harus tertutuptetapi dalam realitanya media selalu mencari cari berita, akhirnyaterexpose; Belum maksimalnya peran PPT (Pusat PelayananTerpadu) sehingga visum untuk perbuatan tindak pidana (korban/pelaku) khususnya anak harus bayar sendiri dan hasilnya kadangmembutuhkan waktu lama; Ruangan pemeriksaan dan shelter yangterbatas; Belum adanya LSM yang benar-benar konsen menanganimasalah anak yang bermasalah dengan hukum; Selama ini PPTterfokus pada perlindungan korban, sedangkan dalam aturan danprakteknya juga, masih sangat minim sekali perlindungan terhadappelaku terutama masalah pelayanan kesehatan.
HUBUNGAN KEPERDATAAN ANAK DENGAN BAPAKNYA: KAJIAN KRITIS PENAFSIRAN PASAL-PASAL DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM Subroto, Subroto
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasal 53 ayat (1) KHI : “Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkandengan pria yang menghamilinya.” Secara gramatikal adanyaPasal 53 ayat (1) KHI bila ditafsirkan akan berdampak bahwalelaki yang bukan menghamili wanita yang telah hamil di luar nikahjuga dapat menikahi wanita yang hamil tersebut. Hal ini berdasarkankata “dapat” dalam bunyi Pasal 53 ayat (1) KHI. Oleh sebab itu lelakiyang bukan bapak si anak tersebut, konsekuensi hukumnya terhadaphubungankeperdataan anak berdasarkan bunyi Pasal 53 ayat (1)KHI, terikat secara hukum dan memiliki hubungan keperdataandengan anak tersebut secara langsung, akibat perkawinan ibunya,walaupunlelaki tersebut bukan bapak biologis dari si anak tersebut.Berdasarkanuraian di atas dan adanya putusan Mahkamah KonstitusiNomor 46/PUU-VIII/2010 tentang dihapusnya Pasal 43 ayat (1)UU Perkawinan dan adanya Pasal 53 ayat (1) KHI telah membukaangin baru bagi pengakuan keperdataan anak hasil perkawinan dibawah tangan dan hasil perkawinan wanita hamil dengan lelaki yangtidak menghamilinya.
UPAYA REFORMASI MATA KULIAH USHUL FIQH PADA PRODI MUAMALAH DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH Ihsan, Aminuddin; Masjupri, Masjupri; Yahya, Ismail
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berusaha mengaplikasikan teori-teori ushul fiqh dalam bidangekonomi Islam. Hal ini dilakukan karena melihat pentingnyaIlmu UshulFiqh dalam memahami hukum-hukum syara’ dan menjawabpersoalankontemporer di satu sisi, dan adanya persoalan baru yang terus menerusmuncul, khususnya yang berkaitan dengan masalah ekonomi Islam di sisilain. Teori-teori ushul fiqih yang urgen dalam mengembangkan hukum danmenjawab persoalan-persoalan kontemporer adalah teori-teori istinbathhukum, di antaranya adalah qiyas, istihsan, maslahah mursalah, sadduzzari’ah, istishhab, dan uruf. Kajian tentang hukum syara’ dan metodeistinbath hukum, tidak hanya dapat diaplikasikan dalam masalah ibadahsebagaimanaumumnyadalam pembahasan-pembahasan ushul fiqih,namun dua kajian itu juga dapat diaplikasikan dalam masalah-masalahekonomi Islam. Dengan demikian, sangat tepat, jika dalam perkuliahanushul fiqih untuk program studi Mu’amalat dan Ekonomi Islam, teori-teoritersebut diaplikasikandalam kasus-kasus ekonomi Islam agar mahasiswalebih mudah memahaminya, dan memiliki dasar hukum yang kuat dalammemahami konsep-konsep ekonomi.
INVESTIGASI EMPIRIS ATAS PRESTASI BELAJAR SISWI MADRASAH ALIYAH MODEL SINGLE SEX EDUCATION DAN COEDUCATION DI KABUPATEN PONOROGO Muafiyah, Evi
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pendidikan Islam di Indonesia secara umum menganut Single-SexEducation (SSE) maupun dicampur atau Co-Education (CE). Berdirinyapembelajaran model SSE tersebut didasarkan pada mengakarnyapemahaman terhadap karya-karya fiqih Abad Pertengahan yang banyakmengharamkan pertemuan antara laki-laki dan perempuan di satu tempat,bahkan mengharamkan munculnya perempuan di ranah publik. Jika harusberada di wilayah publik, maka harus dalam komunitas perempuan saja danjika laki-laki dan perempuan harus berada pada satu tempat, maka posisiharus dipisahkan dengan tirai pembatas atau biasanya laki-laki di depan danperempuan di belakang. Terkait dengan pemisahan tersebut, tentunya,implikasinya sangat luas. Penelitian ini mengambil sekolah agama dalambentuk SSE, maupun CE yang masing-masing mempunyai kelebihan dankekurangan. Lembaga pengelola pendidikan, yayasan, pihak swasta maupunpesantren dituntut untuk membuat terobosan yang dalam pembelajarannya,tanpa harus memposisikan dirinya sebagai model SSE murni maupun CEmurni yang rigid. Lokasi penelitian ini MAN 2 Ponorogo, MA Al-MawaddahCoper Ponorogo dan MA Darul Huda Mayak Ponorogo. Dari hasilpenelitian terungkap bahwa terdapat perbedaan dan kekhasan di masingmasinglembaga tersebut. Dalam hal inilah posisi peserta didik perempuanmenjadi satu pijakan penting dalam proses pembelajaran tersebut, mengingatperempuan dengan ketekunannya mempunyai potensi besar dalam berkiprahdi wilayah publik, untuk kemudian bersama-sama dengan laki-laki bersinergidan bekerja sama, berbagi secara adil dalam lapangan-lapangan yangsebelumnya tidak banyak digarap perempuan.
TA’WIL DALAM EPISTEMOLOGI ULU Muhsin, M.
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya Imam al-Ghaza>li> yang berjudul Jawa>hir al-Qur’a>n, Fays}al al-Tafri>qahdan Qanu>n al-Ta’wi>l menjawab adanya dugaan absennya pemikiran al-Ghaza>li> di bidang ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Khusus dalam Fays}al al-Tafri>qah danQanun> al-Ta’wil> , ia membahas teori dan kaidah ta’wil. Dalam konsepsi al-Ghaza>li> , bangunan dan struktur al-Qur’an terdiri dari ajaran kulit (al-S}adfwa al-Qas}r), dan ajaran inti: rahasia (Asra>r wa al-Jawha>r). Demikian jugailmu-ilmu al-Qur’an terdiri dari ilmu yang berkaitan dengan lapisan luar,ajaran kulit (al-Qas}r); dan ilmu yang berkaitan dengan permata (ilmuJawha>r). Posisi al-Ghazali sebagai seorang sufi acapkali menjadikan hatisebagai ukuran dalam melakukan ta’wil. Di sisi lain, dia menyatakan bahwaukuran penta’wilan adalah akal. Jika mengacu pada yang pertama, makata’wil al-Ghaza>li> bercorak ta’wil batini; dan jika mengacu pada yang keduaia bercorak ta’wil rasional. Bertolak pada latar belakang dan kegelisahanakademik tersebut, maka penelitian berfokus pada teori ta’wil al-Ghaza>li>.Penelitian ini mennggunakan metode berfikir deduktif, dengan teorihermeneutika teoritis dan teori ta’wil. Hermeneitika teoritis dimaksudkanuntuk ‚membaca‛ dan ‚mengungkap secara obyektif‛ pemikiran al-Ghaza>li>di bidang Ulu>m al-Qur’a>n , sedang alat yang akan digunakan untuk‚menilai‛ teori ta’wil al-Ghaza>li> adalah teori ta’wil. Berangkat dari teorita’wil al-Ghaza>li> yang bercorak rasional serta berada di bawah naungan teorikeilmuannya yang bercorak sufistik, bisa dikatakan teori ta’wilnyamerupakan teori ta’wil rasional batini. Itu terlihat dari prinsip ta’wilnya,yakni menjadikan akal sebagai pijakan penta’wilan; di sisi lain, pembagianal-Qur’an yang menjadi dua kategori: z}ahir dan batin, baik pada sisi strukturajarannya maupun sisi maknanya pada lafaz.
PARENTING DAN HAK ASASI ANAK PERSPEKTI F KYAI DI PONOROGO Maulidia, Rahmah
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gabriela Mistral, pendidik, diplomat dari Chile, penerima nobelsastra 1945, mengatakan bahwa “esok sudah terlambat, yangterpenting buat anak adalah hari ini. Hari ini tulang anak sedangdibentuk, darahnya sedang dibuat, dan perasaannya sedangdibangun.” Pernyataan ini membangunkan komitmen seluruhmanusia untuk peduli pada anak hari ini. Karena mereka adalahmakhluk rentan yang tidak punya kuasa untuk melawan hegemonimanusia dewasa.Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Hak Anak. Ada empatprinsip utama dalam Konvensi Hak Anak (KHA) tersebut: 1). Nondiskriminasi; 2). Prinsip yang terbaik bagi anak ; 3). Hak untukhidup dan berkembang, serta 4). Hak untuk ikut berpartisipasi. Yangdimaksud dengan prinsip non-diskriminasi artinya tidak membedakananak berdasarkan asal-usul, suku, agama, ras dan sosial ekonomi.Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip kepentingan terbaik bagianak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anakyang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, danbadan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harusmenjadi pertimbangan utama.Penelitian ini menelaah parenting perspektif kyai, dengan tigapertanyaan inti yang diajukan yaitu; pertama, bagaimanapandangan para kyai tentang konsep parenting dan Hak AsasiAnak; Kedua, bagaimana dan sejauhmana peran kyai membangunkesadaran parenting, hak asasi dan perlindungan anak, ketiga,bagaimana pendapat mereka melihat fenomena sosial menyangkutpekerja anak (child labour), pekerja seks anak (prostituted children),perdagangan anak (child trafficking), perlakuan kekerasan (violation)dan penyiksaan (turtore) terhadap anak.Masing-masing kyai memiliki konsep yang khas tentang parenting dan HAM anak. Argumentasi yang dibangun dideduksi dari al-Qur’andan hadis. Dalil yang digunakan adalah surah al-Fatihah, QS at-Tahrim : 6, QS. Al-A’raf : 189, QS al-Baqarah : 233, dan hadishadispendidikan. Semua kyai memprihatinkan kasus kekerasanseksual dan pemukulan pada anak. Namun peran keterlibatan dansosialisasi yang dilakukan minimalis. Menurut mereka persoalanini dapat diselesaikan dengan membangun sikap orangtua yangberilmu (well-educated). Namun solusi yang ditawarkan ini belummenjadi aksi nyata dengan membentuk wadah sekolah parentingbagi orangtua atau sejenisnya.
KONTROVERSI KEPEMIMPINAN POLITIK PEREMPUAN PERIODE PERTENGAHAN: Kasus Pemerintahan Syajarat al-Durr Masa Dinasti Mamlûk Rofiq, Ahmad Choirul
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Historical review shows us that Syajarat al-Durr was a phenomenal figurein the Mamluk dynasty. She was a slave who become a leader. Howeverher political leadership arose a clash and strife among the Muslims. Thosewho agreed to accept her government thought that Syajarat al-Durr wasthe proper one who could prove her ability to manage the government,but those who refused her believed that the community that is governedby a woman will be unsuccessful forever because the messenger (pbuh)has said that in his saying. There were two political policies performed bySyajarat al-Durr, i.e. expelling the crusaders from Egypt and strengtheningthe public support to the government of Syajarat al-Durr.
VALIDITAS, RELIABILITAS, DAN KEPRAKTISAN UJIAN MELALUI OBSERVASI DAN BENTUK LISAN BAGI KELAS BESAR PADA PRODI PAI FAKULTAS TARBIYAH DAN BAHASA IAIN SURAKARTA Suparmin, Suparmin; Bakar, Usman Abu; Giyoto, Giyoto; Fauzi, Ahmad
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif terhadap pelaksanaanujianmandiri (non-terjadual)dosen pengampu matakuliah paralel (kelas besar/lebih dari 30 mahasiswa dalam satu kelas) pada Prodi PAI semestergenap tahun 2011/2012. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanvaliditas, reliabilitas dan kepraktisan soal dan penyelenggaraannya. Datadiperoleh dari angket dan observasi terhadap mahasiswa. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa: a) Tingkat validitas soal ujian lisan dilihat daributir-butir pertanyaannyacukup mengukurkompetensi mata kuliah yangdirencanakan, namun seringkalididapatisoal yang sama pada beberapamahasiswa untuk kelas paralel. Demikian pula dalam pelaksanaan ujiankecenderungansoal berkembang sesuai situasi dan kondisi Dosen padawaktu itu yang mengakibatkan mahasiswa kesulitan untuk menjawabpertanyaanyang diberikan karena lebih sulit dari materi yang telah diajarkanatau tidak konsisten terhadap kompetensi yang dituju. Tes lisandengan cara tidak terjadwal serempak dan mandiri sangat baik untukmenanyakan perbedaan-perbedaan pendapat (judgment) peroranganterhadap kasus tertentu. Tetapi tes lisan tidak efektif untuk menanyakankompetensi referensial dan normatif sebagaimana dalam buku sumber.b) Reliabilitassoal yang diujikan rendah hal ini dipengaruhi oleh tingkatsubyektifitas dosen sangat tinggi karena kondisi psikologisnya dan responmahasiswa terhadap soal yang diujikan.c) Tingkat kepraktisan soal ujianlisan juga rendah, karena soal rawan bocor danuntuk menjawabnya memerlukanwaktu yang lebih longgar dari jadwal akademik yang telah ditentukan.Kata Kunci:Validitas
MAHASISWA DAN KEPATUHAN HUKUM: Studi Pelaksanaan Pasal 106 UU No. 22 TH. 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepatuhan terhadap hukum adalah merupakan hal yang substansial dalammembangun budaya hukum. Masyarakat Indonesia banyak yang tidak patuhterhadap hukum, hal ini karena individu dan masyarakat dihadapkan pada duatuntutan kesetiaan dimana antara tuntutan kesetiaan yang satu bertentangandengan tuntutan kesetiaan yang lain, yaitu antara “setia terhadap hukum”atau “setia terhadap kepentingan pribadi”. Kenyataan yang terjadi bahwamasyarakat menjadi lebih berani untuk tidak patuh terhadap hukum demikepentingan pribadinya. Mahasiswa STAIN Ponorogo dengan statusmahasiswa dapat mewakili sekelompok masyarakat yang mempunyai latarbelakang dan tingkat pendidikan yang boleh dibilang tinggi, tentunya dapatmenjadi obyek dari penelitian ini. Bertitik tolak pada pasal 106 ayat (8) UUNo. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yangberbunyi:“Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpangsepeda motor wajib menggunakan helm yang memenuhi Standar NasionalIndonesia”. Suatu ketentuan yang diciptakan demi keamanan dan keselamatanmasyarakat itu sendiri. Walaupun di dalam prakteknya banyak terjadipenyimpangan-penyimpangan di dalam pelaksanaannya.
TREND MASYARAKAT GLOBAL DALAM PEMILIHAN PASANGAN & PERKAWINAN ANTAR RAS PRESPEKTIF UMUM DAN ISLAM Safala, Udin
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arus perkembangan teknologi termasuk informasi tak terbendung lagi. Seiringdengan arus informasi serta beragam kemudahan fitur yang diusungnya, iamembawa pada hal yang problematik yang tidak terpikirkan sebelumnya.Teknologi internet melalui fitur-fitur layanan komunikasi sosial yang disediakanmembawa pada hubungan sosial antar manusia dalam bentuk yang relatif barudengan menyisihkan konsep jarak, ruang dan waktu. Facebook, email, situslayanan perjodohan, matrimonial telah membawa kelompok manusia berada diruang geografis, ras, kebangsaan, serta keyakinan agama yang berbeda dalamsebuah komunikasi cukup intens dan hubungan sosial baru serta bertujuan tidaksaja sekedar untuk berteman tetapi untuk mencari pasangan, bahkan berlanjutpada sebuah perkawinan antar ras baik dalam pengertian wilayah, fisik, biologis,linguistik, atau geografis. Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisiplinerbaik sains ataupun agama dengan menggunakan analisa diskriptif yang mencobauntuk mengeksplorasi seberapa besar (prosentasi) trend kecenderunganmasyarakat global dalam memilih pasangan dan melakukan perkawinan.

Page 3 of 42 | Total Record : 411