cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jsal@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran, Malang, 65145, INDONESIA
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23563389     EISSN : 26559676     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jsal
JSAL is a journal under the management of the Environmental Engineering Study Program, Agricultural Technology Faculty, Brawijaya University Indonesia which has been established since 2014. The journal periodically publishes three issues in April, August, and December. JSAL accepts article in Bahasa Indonesia or English by covering topics on natural and environmental resource engineering and other related topics. JSAL has been indexed by Google Scholar, GARUDA (Garba Rujukan Digital) and Crossref (DOI/Digital Object Identifier) and Science and Technology Index (SINTA). Also JSAL already has an International Standard Serial Number (ISSN) in both the online (E-ISSN 2655-9676) and print version (P-ISSN 2356-3389). We are looking forward to accepting articles from potential authors, please kindly search our homepage for information and instruction or contact us.
Arjuna Subject : -
Articles 204 Documents
Hubungan Daya Dukung Lingkungan Berbasis Kemampuan Lahan dengan Kerentanan Banjir di Kecamatan Teluk Betung Selatan Fachri Muhammad Rasyid; Abdullah Aman Damai; Adnin Musadri Asbi
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.01.1

Abstract

 ABSTRAKBerdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana Kota Bandar Lampung tahun 2016 – 2020, Kecamatan Teluk Betung Selatan yang berlokasi di Kota Bandar Lampung memiliki tingkat bahaya banjir tinggi. Keadaan lahan yang berupa dataran rendah dengan kemiringan lereng relatif datar, merupakan faktor pemicu akan adanya bahaya banjir di lokasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis hub ungan antara kerentanan bahaya banjir terhadap daya dukung lingkungan yang dilihat dari kondisi kemampuan lahan di daerah penelitian. Metode pengumpulan data berupa survei. Metode analisis penelitian ini adalah analisis asosiasi korelatif yang dalam penelitian ini menggunakan Koefisien Sommer (d). Nilai yang dihasilkan oleh Koefisien Sommer (d) memiliki rentang antara -1 (hubungan tidak searah sempurna) sampai 1 (hubungan searah sempurna). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan berdasarkan kemampuan lahan di Kecamatan Teluk Betung Selatan tergolong dalam kelas d yang berarti memiliki kemampuan pengembangan agak tinggi dalam aspek fisik dan lingkungannya, di mana kelas tersebut berada pada lima kelurahan (Kelurahan Talang, Kelurahan Gedong Pakuon, Kelurahan Pesawahan, Kelurahan Teluk Betung, dan Kelurahan Gunung Mas). Tingkat kerentanan banjir di daerah penelitian yang termasuk dalam kelas sedang tersebar di empat kelurahan yaitu Kelurahan Gedong Pakuon, Talang, Pesawahan, dan Teluk Betung. Berdasarkan hasil analisis asosiasi korelatif, diketahui bahwa terdapat hubungan yang cenderung erat atau kuat antara daya dukung lingkungan yang ditinjau berdasarkan kemampuan lahan dengan tingkat kerentanan banjir di daerah penelitian yang ditunjukkan oleh aspek sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan.Kata kunci: analisis asosiasi korelatif, daya dukung lingkungan, kemampuan lahan, kerentanan banjir ABSTRACT Based on the 2016 - 2020 Bandar Lampung City Disaster Risk Study Documents, Teluk Betung Selatan District, located in Bandar Lampung City, has a high flood hazard level. The condition of land (lowlands) with a relatively flat slope is a triggering factor for hazards in that location. This study aims to analyze the vulnerability of floods to the carrying capacity of the environment as seen from the conditions of the research area. The training method is in the form of survey data. The research analysis method is correlative association analysis in the study using Sommer's coefficient (d). The value generated by the Sommer coefficient (d) has a range between -1 (the relationship is not perfectly aligned) to 1 (the relationship is perfectly unidirectional). The results showed that the carrying capacity of the environment based on the land capability in Teluk Betung Selatan District is classified in class d which means it has a rather high development capability in terms of its physical and environmental aspects, where the class is located in five subdistricts (Talang Subdistrict, Gedong Pakuon Subdistrict, Pesawahan Subdistrict, Teluk Betung Subdistrict, and Gunung Mas Subdistrict). The level of flood vulnerability in the research area which is included in the medium class is spread across four subdistricts, namely Gedong Pakuon, Talang, Pesawahan, and Teluk Betung. Based on the results of the correlative association analysis, it shows that there is a relationship that tends to be close or strong between the carrying capacity of the environment as seen based on the capacity of the land and the level of flood vulnerability in the study area, which is indicated by social, physical, economic, and environmental aspects.Keywords:  correlative association analysis, environmental carrying capacity, land capability, flood vulnerability
Analisis Perubahan Daya Dukung Sumberdaya Air Berdasarkan Ketersediaan dan Kebutuhan Air di DAS Gembong Tahun 2010-2020 Mega Widiyaningsih; Chatarina Muryani; Rahning Utomowati
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.02.1

Abstract

ABSTRAKPerubahan penggunaan lahan terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Gembong Kabupaten Karanganyar khususnya di Kecamatan Tawangmangu yang terletak di bagian hulu DAS Gembong terjadi akibat meningkatnya pengembangan kawasan wisata. Sebagai pengatur tata air dan kawasan resapan, keberadaannya perlu dilestarikan fungsinya untuk menjaga keseimbangan ekosistem di DAS tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya dukung sumber daya air, dan perubahan daya dukung sumber daya air dari tahun 2010 hingga 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan keruangan. Perhitungan ketersediaan air disimulasikan berdasarkan data curah hujan dan iklim, sedangkan kebutuhan air dihitung berdasarkan berbagai macam peruntukan kebutuhan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung sumber daya air di DAS Gembong pada tahun 2010 dan 2020 dalam keadaan surplus. Tahun 2010 terjadi surplus penggunaan air sebesar 24,163,553.54 m3 per tahun, sedangkan tahun 2020 juga terjadi surplus air sebesar 23,550,429.40 m3 per tahun. Berdasarkan nilai daya dukung sumber daya air antara tahun 2010 hingga 2020 telah mengalami perubahan yang cukup signifikan karena mengalami penurunan yang cukup tinggi sebesar 1,360,828.92 m3.Kata kunci: daya dukung, kebutuhan air, persediaan air, sumber daya airABSTRACTChanges in land use occur in the Gembong Watershed (DAS) Karanganyar Regency, especially in Tawangmangu District, which is located in the upstream part of the Gembong Watershed, due to the increasing development of tourist areas. As a regulator of water systems and catchment areas, its function needs to be preserved to maintain the balance of the ecosystem in the watershed. The research objective was to determine the carrying capacity of water resources and their changes from 2010 to 2020. The research method used was a quantitative descriptive method with a spatial approach. Calculation of water availability is simulated based on rainfall and climate data; while water demand is calculated based on various uses of water needs. The results showed that the carrying capacity of water resources in the Gembong watershed in 2010 and 2020 was in a state of surplus. In 2010 there was a water use surplus of 24,163,553.54 m3 per year, while in 2020 there was also a water surplus of 23,550,429.40 m3 per year. Based on the value of the carrying capacity of water resources between 2010 and 2020, there has been a significant change due to a fairly high decline of 1,360,828.92 m3.Keywords: carrying capacity, water demand, water supply, water resources
Optimasi Dosis Enzim Glukoamilase dan Waktu Fermentasi dalam Produksi Bioetanol dari Air Cucian Beras Rinette Visca; Mubarokah Nuriani Dewi; Marungkil Sinaga; Siti Nurcahyati
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2020.007.03.2

Abstract

ABSTRAKSaat ini 85% dari kebutuhan energi dunia berasal dari bahan bakar minyak. Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat mensubsitusi transportasi minyak mentah diperoleh dari biomassa berupa bahan bakar bioetanol. Biomassa termasuk beras dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol menggantikan bahan bakar minyak. Karbohidrat merupakan komponen utama beras yang terdiri dari 85–90% pati. Air cucian beras yang mengandung karbohidrat dapat diubah menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu fermentasi terbaik dalam produksi bioetanol dari air cucian beras dengan menggunakan enzim glukoamilase dan ragi. Pembuatan bioetanol melalui tahap persiapan, hidrolisa air cucian beras, pemeriksaan kadar glukosa, fermentasi, distilasi dan analisa hasil. Variabel yang digunakan adalah waktu fermentasi (3, 4, 5, 6, dan 7 hari), dan volume enzim glukoamilase  (0.5, 1.5, dan 3.0 ml). Hasil penelitian diperoleh  densitas bioetanol optimum sebesar 0.998 g.ml-1 dengan enzim glukoamilase  0.5 ml. Kadar glukosa sesudah inversi tertinggi sebesar 4.217%, dan kadar etanol tertinggi 19.387% dihasilkan dengan dosis enzim glukoamilase 3.0 ml dalam waktu fermentasi selama lima hari.Kata kunci: air cucian beras, bioetanol, enzim glucoamilase, fermentasi, ragi ABSTRACTCurrently, 85% of the world's energy needs come from fuel oil. Indonesia overcomes dependence on fuel oil. One of the alternative energy sources that can substitute crude oil transportation is obtained from biomass in the form of bioethanol fuel. Biomass, including rice, is used for the development of bioethanol to replace fuel oil. Carbohydrates are the main component of rice which consists of 85–90% starch. Rice washing water which contains carbohydrates can be converted into ethanol. This study’s aim was to have the best fermentation time in bioethanol production from rice washing water using glucoamylase enzymes and yeast. Bioethanol production goes through the preparation stage, hydrolysis of rice washing water, checking glucose levels, fermentation, distillation, and yield analysis. The variables were fermentation time (3, 4, 5, 6, and 7 days), and the volume of the glucoamylase enzyme (0.5, 1.5, and 3.0 ml). The results showed that the optimum bioethanol density was 0.998 g.ml-1 with 0.5 ml glucoamylase enzyme. The highest glucose level after inversion was 4.217%, and the highest ethanol content was 19.387%, which was produced with 3.0 ml glucoamylase enzyme dosage in five days of fermentation.Keywords: rice washing water, bioethanol, glucoamylase enzyme, fermentation, yeast
Penerapan Test Strip dalam Uji Kontaminan Bakteri Escherichia coli pada Air Bersih Afrilyani Kontryana; Akira Kikuchi
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.01.2

Abstract

ABSTRAKPengujian kualitas air berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) menggunakan alat-alat khusus yang hanya ada di laboratorium dan harus dioperasikan oleh seorang laboran menyebabkan keterbatasan data yang diperlukan karena memerlukan biaya yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan metode alternatif yang lebih terjangkau dan mudah digunakan dalam uji kualitas air. Dengan menggunakan Test Strip sebagai alat untuk menguji kontaminasi bakteri Escherichia coli (E.Coli) dan total coliform pada sampel air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui bagaimana kemampuan penggunaan alat Test Strip diterapkan dalam metode alternatif untuk uji kualitas air yang tidak berdasarkan standar SNI. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif eksploratif, dimana hasil penelitian berdasarkan pengamatan yang dialami oleh penulis selama menggunakan Test Strip. Hasil menunjukkan bahwa Test Strip merupakan alat yang mudah digunakan, terjangkau dan dapat digunakan sebagai alat edukasi mandiri dalam menghasilkan informasi kualitas air bersih dalam uji mikroba pada sampel air, tetapi untuk mendapatkan hasil yang akurat tidak dianjurkan untuk menggunakan alat Test Strip. Penggunaan Test Strip lebih sesuai digunakan untuk kondisi yang cepat atau mendesak sehingga para pengguna dapat melakukan tindakan preventif awal yang lebih cepat terhadap adanya kontaminan bakteri pada air bersih yang biasa dikonsumsi.Kata kunci: metode alternatif, mudah digunakan, terjangkau, Test Strip, uji kualitas air ABSTRACT Indonesian National Standard (SNI) to testing water quality using special equipment that is only available in the laboratory and must be operated by a laboratory assistant can be causing limited result because required high cost. Therefore we need an alternative method that is more affordable and easy to use in testing water quality. Test Strip used as a tool to test for contamination of Escherichia coli (E.Coli) and total coliform in clean water samples. This study aims to determine how the capability of Test Strip as an alternative method that is not based on SNI standards in clean water quality testing. The research used descriptive exploratory as the research method, where the results of the study are based on the observations experienced by the author along with using the Test Strip. The results show Test Strip is a tool that easy to use, affordable, and can be used as an independent educational tool in producing clean water quality information. But, Test Strip is not recommended to be used to get accurate results. Test Strip is more suitable to obtain water quality information in rapid or urgent conditions so that users can take faster preventive action against the presence of bacterial contaminants in clean water.Keywords: affordable, alternative, easy to use, Test Strip, water quality testing
Evaluasi Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik di Inkubator Bisnis Permata Bunda Kota Bontang Alexander Tunggul Sutan Haji; Bambang Suharto; Ahmad Raihan Darmawan
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.02.2

Abstract

ABSTRAKInkubator Bisnis (Inbis) Permata Bunda merupakan kompleks bangunan kewirausahaan penyandang disabilitas di kota Bontang, Kalimantan Timur. Inbis Permata Bunda mempunyai sistem IPAL domestik sendiri. IPAL ini dirancang bekerja sama dengan PT. Pupuk Kaltim dan selesai pada tahun 2019 namun mengalami redesain pada tahun 2020. IPAL mulai berjalan setelah mengalami redesain, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui kinerja IPAL Inbis Permata Bunda. Tujuan penelitian adalah untuk menginventarisasi air limbah, mengevaluasi kinerja IPAL, dan melakukan review desain untuk memberikan rekomendasi IPAL Inbis Permata Bunda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian evaluatif formatif. Evaluasi kinerja IPAL didasarkan pada inventarisasi sumber air limbah, evaluasi proses pengolahan, dan evaluasi outlet air limbah. Sampling dilakukan dengan metode grab sampling. Evaluasi proses didasarkan pada uji laboratorium dan dibandingkan dengan referensi standar desain. Parameter yang dijadikan acuan adalah pH, BOD, COD, TSS. Fe, dan Pb. Outlet air limbah yang dihasilkan dari IPAL Inbis Permata Bunda sesuai dengan baku mutu Permen LH No. 68 tahun 2016. Secara keseluruhan kinerja IPAL masih berjalan dengan baik namun secara efisiensi waktu pengolahan masih terlalu lama akibat debit yang terlalu kecil. Selain itu, masih terdapat kebocoran pada beberapa bak pengolahan yang perlu diperbaiki.Kata kunci: air limbah domestik, evaluasi, IPALABSTRACTThe Permata Bunda Business Incubator is an entrepreneurial building complex for persons with disabilities in the city of Bontang, East Kalimantan. Inbis Permata Bunda has its own domestic WWTP system. This WWTP was designed in collaboration with PT. Pupuk Kaltim and completed in 2019 but underwent a redesign in 2020. The WWTP started running after undergoing a redesign, so an evaluation was needed to determine the performance of the Inbis Permata Bunda WWTP. The purpose of the study was to take an inventory of wastewater, evaluate the performance of the WWTP, and conduct a design review to provide recommendations for WWTP Inbis Permata Bunda. The research method used is formative evaluative research method. WWTP performance evaluation is based on an inventory of wastewater sources, evaluation of treatment processes, and evaluation of wastewater outlets. Sampling is done by grab sampling method. Process evaluation is based on laboratory tests and compared with reference design standards. Parameters used as reference are pH, BOD, COD, TSS. Fe, and Pb. The waste water outlet generated from the Permata Bunda WWTP is following the quality standard of the Minister of Environment Regulation No. 68 of 2016. Overall, the performance of the WWTP is still running well, but in terms of efficiency, the processing time is still too long due to the discharge being too small. In addition, there are still leaks in several processing tanks that need to be repaired.Keywords: domestic wastewater, evaluation, WWTP
Analisis Perbandingan Konsentrasi Suspended Particulate Matter (SPM) di Tiga Wilayah di Jakarta Periode Tahun 2006-2019 Juniarto Widodo
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2020.007.03.3

Abstract

ABSTRAKSuspended Particulate Matter (SPM) adalah polutan berbahaya yang umumnya diakibatkan oleh kontribusi bahan buangan dari asap kendaraan dan mesin pabrik. Penelitian ini untuk mendeskripsikan perbandingan polutan SPM pada tiga wilayah Jakarta yaitu Ancol, Monas dan Glodok berdasarkan analisis data SPM bulanan. Metode pengolahan dalam penelitian adalah analisis kuantitatif dengan memanfaatkan data bulanan SPM dari BMKG dari tahun 2006-2019. SPM diukur menggunakan alat HV Sampler dengan menggunakan kertas filter yang diputar dengan kecepatan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi SPM tertinggi terjadi di kawasan perdagangan Glodok (313 μgr.m-3), tertinggi kedua adalah Ancol (223 μgr.m-3) dan terendah terjadi di Monas (193 μgr.m-3). Nilai ambang batas aman  SPM di udara adalah 230 μgr.m-3. Frekuensi kejadian SPM di atas ambang batas berturut-turut dari tertinggi hingga terendah adalah Glodok (73%), Ancol (44%) dan Monas (27%). Berdasarkan konsentrasi SPM di atas ambang batas secara rata-rata tahunan, untuk wilayah Ancol berlangsung lebih dari 6 bulan yaitu pada bulan Mei-Nopember, untuk wilayah Monas pada Juni-Agustus, namun untuk wilayah Glodok SPM berlangsung sepanjang tahun dari Januari hingga Desember. Buruknya kualitas udara di Glodok ini menunjukkan bahwa wilayah Glodok perlu mendapatkan penanganan agar udara semakin bersih dan nyaman untuk kesehatan dan kehidupan masyarakatnya.Kata kunci: ambang batas, konsentrasi, SPM ABSTRACTSuspended Particulate Matter (SPM) is a hazardous pollutant that is generally caused by the contribution of waste materials from vehicle fumes and factory engines. This study is to describe the comparison of SPM pollutants in three areas of Jakarta, namely Ancol, Monas, and Glodok based on monthly SPM data analysis. This research used a quantitative analysis method using monthly SPM data from BMKG in the years 2006-2019. SPM was measured using an HV Sampler using filter paper that was rotated at high speed. The results showed that the highest average SPM concentration occurred in the Glodok trading area (313 μgr.m-3), the second-highest was Ancol (223 μgr.m-3) and the lowest occurred in Monas (193 μgr.m-3). The threshold value for safe SPM in the air is 230 μgr.m-3. The frequency of SPM occurrences above the threshold, from the highest to the lowest, was Glodok (73%), Ancol (44%), and Monas (27%). Based on the SPM concentration above the annual average threshold, for the Ancol area, it lasted more than 6 months, namely in May-November, for the Monas area in June-August, but, for the Glodok area, SPM always high from January to December. The poor quality of air in Glodok shows that Glodok needs to be treated so that the air is cleaner and more comfortable for health and people’s life.Keywords:  safety threshold, concentration, SPM
Biodegradabilitas Bioplastik Berbahan Dasar Limbah Cair Tahu dengan Penguat Kitosan dan Plasticizer Gliserol Bambang Rahadi Widiatmono; Akhmad Adi Sulianto; Corry Debora
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.01.3

Abstract

ABSTRAK Plastik merupakan salah satu bahan pengemas yang banyak digunakan. Sampah plastik yang dibiarkan akan menumpuk dan memberikan dampak negatif. Solusi dari penumpukan sampah plastik ini dengan cara membuat plastik yang biodegradable. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh penambahan kitosan dan plasticizer gliserol pada bioplastik dengan bahan dasar limbah cair tahu. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan pendekatan kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk mendeskripsikan hasil perhitungan terhadap sifat biodegradabilitas, sifat solubilitas dan gugus fungsi dari bioplastik yang dihasilkan. Hasil analisa menunjukan untuk sifat biodegradabilitas dan solubilitas yang terbaik terdapat pada bioplastik perlakuan K2G2 yaitu dengan komposisi kitosan sebanyak 2.3 g dan gliserol sebanyak 1.5 ml. Pada perlakuan K2G2 didapat besar persentase biodegradabilitas sebesar 97.667% dan untuk persentase solubilitas sebesar 40.444%. Gugus fungsi dari bioplastik yang dihasilkan dapat membuktikan sifat hidrofilik yang dimiliki. Kata kunci: biodegradable, gugus fungsi, solubilitas ABSTRACT Plastic is one of the most commonly used packaging materials. Plastic waste which is left will accumulate and give a negative impact. The solution for plastic waste is by making biodegradable plastic. The purpose of this research is to identify the effects of adding chitosan and plasticizer glycerol to bioplastics made up of tofu liquid waste. The method used in this research is a quantitative approach with a Completely Randomized Design to describe the result of the biodegradability characteristic, solubility characteristic, and a cluster function of bioplastic. The result of the analysis for the best biodegradability and solubility was found in K2G2 treatment with a composition of chitosan as much as 2.3 g and glycerol as much as 1.5 ml. On the K2G2  treatment, it was shown that this treatment attained a percentage of biodegradability as much as 97.667% and a percentage of solubility amounting to 40.444 %. A cluster function of bioplastic produced can prove the nature of the hydrophilic.Keywords:  biodegradable, cluster function, solubility 
Analisis Kelimpahan Mikroplastik Pada Air Permukaan di Sungai Metro, Malang Alexander Tunggul Sutan Haji; Jhohanes Bambang Rahadi Widiatmono; Nazarina Tiftah Firdausi
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.02.3

Abstract

ABSTRAKMikroplastik merupakan plastik dengan ukuran kecil yaitu <5mm. Berdasarkan sumbernya, mikroplastik primer yaitu di produksi dalam ukuran yang kecil untuk kepentingan tertentu dan rnikroplastik sekunder berasal dari penguraian plastik yang lebih besar sebelumnya. Penelitian dilakukan di Sungai Metro Malang yang mengalir melalui Kota Malang dan berakhir di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis, kelimpahan dan sumber mikroplastik di Sungai Metro Malang. Sampel air diambil pada tiga titik lokasi yaitu hulu, tengah dan hilir. Tahapan penelitian yaitu penyaringan sampel, pengeringan sampel, pemurnian dengan Wet Peroxide Oxidation (WPO) yaitu dengan 20 mL larutan Fe (II) 0.05 M, larutan H202 20 mL dan NaCl 6 gram per 20 mL sampel, pemisahan partikel dengan density separator dan pengamatan dengan mikroskop Olympus SZX 16. Jenis mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber, film dan fragmen dengan jumlah yang paling banyak yaitu pada titik 3 (hilir). Warna mikroplastik yang didapatkan yaitu bening, biru, merah, dll. Ukuran mikroplastik paling banyak yaitu pada saringan 177 μm. Kelimpahan dan beban pencemar mikroplastik didapatkan paling tinggi yaitu jenis fiber pada titik 3 (hilir). Mikroplastik diketahui bersumber dari adanya penggunaan plastik pada lahan pertanian dan pemukiman yang menjadi tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Metro Malang.Kata Kunci: fiber, film, fragmen, mikroplastik, Sungai MetroABSTRACTMicroplastics are plastics with a small size that is <5mm. Based on the source, primary microplastics are produced in small sizes for specific purposes and secondary microplastics are derived from the decomposition of larger plastics before. The research was conducted on the Malang Metro River which flows through Malang City and ends in Kepanjen District, Malang Regency. The purpose of this study was to determine the type, abundance, and source of microplastics in the Metro Malang river. Water samples were taken at three locations, namely upstream, middle and downstream. The research stages are sample filtering, sample drying, purification with Wet Peroxide Oxidation (WPO), namely with 20 mL of 0.05 M Fe (II) solution, 20 mL H202 solution and 6 grams of NaCl per 20 mL sample, particle separation with a density separator and observations with microscope Olympus SZX 16. The types of microplastics found were fiber, film, and fragments with the highest number at point 3 (downstream). The colors of the microplastics obtained are clear, blue, red, etc. The size of most microplastics is 177 m sieves. The highest abundance and load of microplastic pollutants were obtained, namely the type of fiber at point 3 (downstream). Microplastics are known to originate from the use of plastics on agricultural land and settlements which are land use in the Metro Malang Watershed.Keywords: fiber, film, fragment, microplastics, Metro River
Daya Dukung Air di Kawasan Pariwisata Nusa Penida, Bali Sudipa, Nyoman; Mahendra, Made Sudiana; Adnyana, Wayan Sandi; Pujaastawa, Ida Bagus
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2020.007.03.4

Abstract

ABSTRAKPerkembangan pariwisata di Nusa Penida dalam kurun waktu 4 tahun terakhir meningkat pesat. Perkembangan ini dapat dilihat dari jumlah kedatangan wisatawan yang terus meningkat dan pertumbuhan pembangunan sarana akomodasi pariwisata yang mengalami peningkatan. Tumbuhnya Kawasan Pariwisata Nusa Penida berdampak kepada meningkatnya kebutuhan air untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat dan pariwisata. Analisis untuk mengetahui kapasitas pasokan air yang ada sangat penting untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat dan pariwisata Nusa Penida. Sumber data menggunakan data primer yang merupakan hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian dan sumber data dari literatur atau penelitian sebelumnya. Kebutuhan air untuk pariwisata Nusa Penida pada Tahun 2028 diperkirakan sebesar 94,542,400 m3 per tahun. Status daya dukung air dengan sumber dari curah hujan surplus sebanyak 901,002.56 m3 per tahun. Status daya dukung penggunaan air dengan sumber dari  10% sumber air yang sudah eksisting pada tahun 2028 surplus sebesar 2,433,865,856.44 m3 per tahun. Status daya dukung penggunaan air dari curah hujan+10% penggunaan air yang sudah eksisting pada tahun 2028 surplus sebesar 2,529,309,259 m3 per tahun. Sedangkan air yang berasal dari air hujan dan sumber mata air yang ada pada tahun 2028 mengalami surplus sebesar 34,958,390,240 m3 per tahun.Kata Kunci : air, kebutuhan, Nusa Penida, pariwisata, pasokanABSTRACTThe development of tourism in Nusa Penida in the last 4 years has increased rapidly. The development of tourism in Nusa Penida has been accompanied by a number of tourist arrivals and the increasing need for tourism accommodation facilities in Nusa Penida. The growth of the Nusa Penida Tourism Area has an impact on the increasing need for water to support tourism activities. Analysis to determine the existing water supply capacity is very important for the sustainability of community life and tourism in Nusa Penida. The data source uses primary data which is the result of direct observation at the research location and data sources from literature or previous research. Water demand for Nusa Penida tourism in 2028 is estimated at 94,542,400 m3 per year. The status of the water carrying capacity with a source of surplus rainfall is 901,002.56 m3 per year. The status of water carrying capacity from 10% of existing water sources in 2028 is a surplus of 2,433,865,856.44 m3 per year. The status of water carrying capacity from rainfall +10% of existing water sources in 2028 has a surplus of 2,529,309,259 m3 per year. Meanwhile, water from rainfall and all springs in 2028 will experience a surplus of 34,958,390,240 m3 per year.Keywords: water, necessities, Nusa Penida, tourism, supply
Status Mutu Air Sungai Cibeureum, Kota Cimahi Yanfa Irham Hermawan; Eka Wardhani
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.01.4

Abstract

ABSTRAK Sungai Cibeureum merupakan salah satu Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang melintasi dua wilayah yaitu Kota Bandung dan Kota Cimahi. DAS Cibeureum berada di Kecamatan Cimahi Selatan melewati Kelurahan Cibeureum, Kelurahan Melong dan berbatasan dengan Kelurahan Cijerah, Kota Bandung. Kelurahan Cibeureum dan Kelurahan Cijerah memiliki kepadatan penduduk tinggi, yaitu 225 jiwa.ha-1 dan 282 jiwa.ha-1, sedangkan Kelurahan Melong memiliki kepadatan rendah yaitu 91 jiwa.ha-1. Wilayah tersebut berpotensi memiliki resiko sanitasi terutama terkait pengelolaan air limbah. Penelitian ini akan menganalisis dan menghitung status mutu air Sungai Cibeureum sehingga diketahui tingkat pencemaran yang terjadi di Sungai Cibereum. Metode yang digunakan untuk menghitung status mutu air Sungai Cibeureum yaitu Indeks Pencemaran. Kualitas air sungai dibandingkan dengan baku mutu kelas II Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Terdapat 15 parameter yang dianalisis dimana sample air diambil di 3 lokasi pada musim pancaroba, kemarau dan hujan. Berdasarkan analisis diketahui bahwa BOD5, COD, TSS, dan fecal coliform merupakan parameter utama penyebab pencemaran sungai. Hampir semua status mutu air Sungai Cibeureum pada berbagai musim dan lokasi memiliki indeks tercemar berat. Musim hujan memiliki skor Indeks Pencemaran paling tinggi dibanding dengan musim lainnya, yaitu sebesar 13.67 di bagian hulu, 16.65 di bagian tengah, dan 14.15 di bagian hilir sungai.Kata kunci: baku mutu, Indeks Pencemar, kualitas air, resiko sanitasi, Sungai Cibeureum ABSTRACT Cibeureum River is one of the Citarum sub-watersheds that crosses two regions that are Bandung and Cimahi. The Cibeureum watershed is located in the South Cimahi District through the Cibeureum sub-district, Melong sub-district, and borders the Cijerah sub-district, Bandung City. The Cibeureum sub-district and Cijerah sub-district have a high population density of 225 people.ha-1 and 282 people.ha-1, while the Melong sub-district has a low density of 91 people.ha-1, so the area has the potential to have sanitation risks, especially related to wastewater management. This study will analyze and calculates the water quality status of the Cibeureum River so that the level of pollution is known. The method for calculating the water quality status of the Cibeureum River used is the Pollution Index. River water quality compared to class II quality standards Government Regulation (PP) Number 82 of 2001 concerning Water Quality Management and Water Pollution Control. Water samples were taken at 3 locations during the transition, dry and rainy seasons. There are 15 parameters analyzed. Based on the analysis show that BOD5, COD, TSS, and fecal coliform are the main parameters causing river pollution. The water quality status of the Cibeureum River in almost all locations at various seasons has a heavily polluted index. The rainy season has the highest pollution index score than any other season, amounting to 13.67 in the upstream, 16.65 in the middle of the river, and 14.15 in the downstream.Keywords: quality standard, Pollutant Indeks, water quality, sanitation risk, Cibeureum River