cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global Strategis
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24429600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Implementation of Green City Surabaya: Overcoming Challenges of Local-Global and Green Capitalism Development Siti Aminah
Global Strategis Vol. 16 No. 2 (2022): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.16.2.2022.329-356

Abstract

Green city is not merely an approach to achieving Sustainable Development Goals (SDGs). Instead, green city is a condition that should preexist to achieve the SDGs. Nevertheless, in many cases, there are gaps in the implementation of green city policies. Therefore, this study aims to evaluate the implementation of green city policy in Surabaya regarding the extent to which this development model has supported the realization of the SDGs set by the United Nations (UN). To answer the research questions, this study uses qualitative methods. Meanwhile, the data collection methods used were in-depth interviews, direct observation, and document analysis. Data analysis was conducted using interpretive methods and thematic analysis, and the perspective used for this study is urban politics. This study eventually finds that implementing the green city policy has supported the achievement of the SDGs in Surabaya, even though it still has many shortcomings. The implementation of a green city has also resulted in the transformation of Surabaya into a modern city that prepares investors and developers to produce the sustainability and feasibility of Surabaya as a pro-environmental city. However, this study also discovers that in order to fully realize a sustainable, humane, and civilized green city, Surabaya still needs to conduct better coordination and collaboration between stakeholders and all elements of society. Keywords: green city, SDGs, Surabaya, urban politics, green capitalism Green city bukan sekadar pendekatan untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Alih-alih, green city merupakan sebuah kondisi yang harus lebih dulu ada untuk mencapai SDGs. Namun, sering kali terdapat kekosongan dalam implementasi green city. Oleh karenanya, kajian ini hendak mengevaluasi penerapan green city di Kota Surabaya terkait sejauh mana model pembangunan tersebut dapat mendukung pencapaian SDGs yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Untuk menjawab pertanyaan penelitian, penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sementara itu, metode pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara mendalam, observasi langsung dan analisis dokumen. Analisis data menerapkan metode interpretif dan analisis tematik, serta perspektif yang digunakan adalah urban politics. Adapun hasil kajian menunjukkan bahwa walau masih memiliki banyak kekurangan, implementasi green city telah mendukung pencapaian SDGs di Surabaya. Implementasi green city juga telah menghasilkan transformasi Surabaya sebagai kota modern yang menyiapkan para investor atau pengembang juga menjadi pelaku untuk memproduksi keberlanjutan dan kelayakan Surabaya sebagai kota yang pro lingkungan. Namun, agar green city yang berkelanjutan, manusiawi, dan beradab sepenuhnya terwujud di Surabaya, masih diperlukan koordinasi dan kolaborasi yang lebih baik antarpemangku kebijakan dan semua elemen masyarakat. Kata-kata kunci: green city, SDGs, Kota Surabaya, politik perkotaan, kapitalisme hijau.
The Influence of Greenpeace Advocacy Towards CIMB International on the Issue of Coal Power Plant Financing Discharge in Indonesia Shafar, Wildan Ilmanuarif; Isnaeni, Nurul
Global Strategis Vol. 16 No. 2 (2022): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.16.2.2022.379-410

Abstract

In 2020, Greenpeace and several Indonesian NGOs formed a Transnational Advocacy Network (TAN) called The Hotter Earth Coalition to influence Bank CIMB's funding policy. In the period 2010-2020, CIMB is one of the financial institutions with the largest total investment in the coal sector in Southeast Asia, including in Indonesia. This advocacy then got its result when CIMB announced that they would stop financing coal starting in 2021. This article aims to explain the influence of Greenpeace's TAN advocacy on the CIMB's policy change. Using the concept of advocacy strategy by Keck & Sikkink and the level of influence of advocacy by Daniel McCormick, the results of this study conclude that the advocacy strategy carried out by TAN Greenpeace has succeeded in influencing CIMB's policy changes. This article finds that even though advocacy is carried out from outside the decision-making process of the targeted actor, NGOs can still exert influence mainly through information & accountability politics. Keywords: Transnational advocacy network, NGOs influence,  Greenpeace, environmental issues. Pada tahun 2020, Greenpeace dan beberapa NGOs Indonesia membentuk Transnational Advocacy Network (TAN) bernama The Hotter Earth Coalition untuk mempengaruhi kebijakan pendanaan Bank CIMB. Dalam kurun waktu 2010-2020, CIMB merupakan salah satu institusi keuangan dengan total investasi terbesar pada sektor batubara di Asia Tenggara. Pada Desember 2020, advokasi yang dilakukan oleh koalisi Greenpeace tersebut kemudian membuahkan hasil ketika CIMB mengumumkan bahwa akan menghentikan pendanaan batubara mulai tahun 2021. Artikel ini bertujuan menjelaskan pengaruh advokasi TAN Greenpeace terhadap perubahan kebijakan tersebut menggunakan konsep strategi advokasi oleh Keck & Sikkink dan tingkat pengaruh advokasi oleh Daniel McCormick. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi advokasi yang dilakukan TAN Greenpeace berhasil mempengaruhi perubahan kebijakan CIMB. Artikel ini menemukan bahwa meskipun sebuah advokasi dilakukan di luar proses pengambilan keputusan aktor yang ingin dipengaruhi, NGOs tetap dapat memberikan pengaruh terutama melalui penerapan strategi advokasi politik informasi dan akuntabilitas. Kata kunci: Jaringan advokasi transnasional, pengaruh NGO, Greenpeace, isu lingkungan.
Greenpeace Campaigns Against Asia Pulp & Paper and Wilmar International: A Comparative Research Sitorus, Syifa Adzraa; Purnama, Chandra
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.101-130

Abstract

As an International Non-Governmental Organization (INGO), for years, Greenpeace has waged campaigns against rainforest deforestation in Indonesia by multinational corporations, such as Asia Pulp & Paper and Wilmar International, the top players in their respective industries. This study reviews the similarities and differences in campaign strategies used by Greenpeace against APP and Wilmar while showing the process of global media communication. The research was conducted as a comparative study using qualitative methods based on the Sandman Environmental Communication Model. Data collected from documents and audio-visual materials passed through a triangulation process to cross-check its interpretation. Eventually, this research finds that Greenpeace relied on the image of well-loved characters like Barbie to create intrigue in its "Barbie, It's Over” campaign against Mattel and, in turn, APP. While with Wilmar, Greenpeace took a more sympathetic approach using a baby orangutan character in the "Rang-tan” video. Both align with the Sandman Model: relying on publicity stunts to stimulate independent information-seeking from the communicant, which in turn will change their behaviour. Greenpeace's campaign strategy described in this study can be an example for other civil society organizations to achieve sustainable positive behaviour change. Keywords: Asia Pulp & Paper; global media communication; Greenpeace; international environmental campaign; Wilmar International   Selama bertahun-tahun, Greenpeace sebagai Organisasi Non-Pemerintah Internasional (INGO) melakukan kampanye melawan deforestasi hutan hujan di Indonesia oleh perusahaan multinasional seperti Asia Pulp & Paper (APP) dan Wilmar International yang merupakan pemain utama di industri masing-masing. Penelitian ini mengkaji persamaan dan perbedaan strategi kampanye yang digunakan Greenpeace terhadap APP dan Wilmar serta menjelaskan proses komunikasi media global yang terjadi. Penelitian ini dilakukan sebagai studi komparatif menggunakan metode kualitatif berdasarkan Model Komunikasi Lingkungan Sandman. Data dikumpulkan melalui studi dokumen dan bahan audio visual yang melewati proses triangulasi untuk memeriksa silang interpretasi data. Temuan utama penelitian ini lantas adalah bahwa Greenpeace mengandalkan citra karakter yang dicintai publik seperti Barbie untuk menciptakan intrik dalam kampanye "Barbie, It's Over” melawan APP. Sementara dalam kampanye melawan Wilmar, Greenpeace mengambil pendekatan yang lebih simpatik dengan menggunakan karakter bayi orangutan dalam video "Rang-tan”. Keduanya sejalan dengan Model Sandman: mengandalkan aksi publisitas untuk merangsang pencarian informasi independen dari komunikan, yang pada gilirannya akan mengubah perilaku mereka. Strategi kampanye Greenpeace yang dijelaskan dalam studi ini pun dapat menjadi contoh bagi organisasi masyarakat sipil lainnya untuk mencapai perubahan perilaku positif yang berkelanjutan. Kata-kata kunci: Asia Pulp & Paper; Greenpeace; kampanye lingkungan internasional; komunikasi media global; Wilmar International
The Urgency of China's Crypto Mining Ban in Relation to the Carbon Neutral Policy 2060 Rossdiana, Renatha Ayu
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.183-214

Abstract

Cryptocurrencies, specifically Bitcoin, which have been developing since 2008, are gaining increasing popularity due to their high value, considered the future of global finance. With its decentralized concept, crypto activities from mining to buying and selling can be carried out by individuals anywhere at any time. Nevertheless, despite its popularity, several countries, including China, have banned crypto activities, including the mining process. This paper further elaborates on why China has banned cryptocurrency mining. In conducting the analysis, the author uses the concept of sustainable development, the concept of a green economy and the concept of environmental security. As a result, this paper finds that the Chinese government banned crypto mining because of the government's commitment to the Carbon Neutral Policy 2060, where crypto mining is one of the economic sectors that contribute to carbon emissions on a large scale, driving an increase in e-waste and its operations that consume large amounts of energy. This condition contributes to a decrease in the quality of the environment so that its carbon footprint has the potential to become an obstacle for China in realizing its Carbon Neutral Policy. Keywords: carbon neutral policy, China, crypto mining, green economy, sustainable development environment   Mata uang kripto, secara spesifik Bitcoin yang marak berkembang sejak tahun 2008, semakin diminati banyak orang karena nilainya yang tinggi sehingga dianggap sebagai masa depan finansial global. Dengan sifatnya yang terdesentralisasi, aktivitas kripto mulai dari penambangannya hingga jual belinya dapat dilakukan oleh individu perseorangan dimanapun dan kapanpun. Namun, terlepas dari popularitasnya, beberapa negara termasuk Tiongkok melakukan pelarangan aktivitas kripto termasuk penambangannya. Tulisan ini mengelaborasi lebih lanjut pertanyaan mengapa Tiongkok melakukan pelarangan penambangan mata uang kripto. Penulis menggunakan konsep pembangunan berkelanjutan, konsep ekonomi hijau, dan konsep keamanan lingkungan. Hasilnya, tulisan ini menemukan bahwa pemerintah Tiongkok melakukan pelarangan penambangan kripto karena komitmen pemerintah terhadap Carbon Neutral Policy 2060, sebab penambangan kripto merupakan salah satu sektor ekonomi yang menyumbang emisi karbon dalam skala besar, mendorong kenaikan sampah elektronik, dan operasinya yang mengkonsumsi energi dalam jumlah besar. Kondisi ini berkontribusi pada penurunan kualitas lingkungan hidup sehingga jejak karbonnya berpotensi menjadi penghambat Tiongkok dalam mewujudkan Carbon Neutral Policy. Kata kunci: kebijakan karbon netral, Tiongkok, penambangan kripto, ekonomi hijau, pembangunan lingkungan berkelanjutan
ASEAN Norms and Gender-Responsive Human security Kim, Hyung-Jong; Arnakim, Lili Yulyadi; Prihatini, Ella Syafputri; Dewi, Galuh Dian Prama
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.73-100

Abstract

The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) has instrumentalized gender equality to present itself as a responsible regional organization accommodating universal norms. However, there is an ontological gap between ASEAN and UN-led programs derived from the inconsistency between intrinsic and extrinsic motivation toward universal norms. This study argues that the inefficiency of ASEAN in pursuing gender equality is primarily attributed to the practice matter of ASEAN. Using primary and secondary data collected through various means, this paper finds that ASEAN efforts on gender equality were mainly raised in declarations and conferences. ASEAN is a particularly important agent in promoting gender-responsive human security, given the nature of challenges and the political and economic limitations of ASEAN member states. It also tends to be a good global citizen as a norm entrepreneur by promoting universal norms and involving global programs led by the UN, such as Millennium Development Goals (MDGs) and Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: ASEAN norms, ASEAN community, gender equality, human security, and norm entrepreneur   Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) telah melembagakan kesetaraan gender untuk menampilkan dirinya sebagai organisasi regional yang bertanggung jawab mengakomodasi norma-norma universal. Namun, terdapat kesenjangan ontologis antara program-program yang dipimpin ASEAN dan PBB, yang berasal dari inkonsistensi antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap norma-norma universal. Studi ini berpendapat bahwa inefisiensi ASEAN dalam mengejar kesetaraan gender sebagian besar dikaitkan dengan masalah praktik ASEAN. Dengan menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui berbagai sumber, makalah ini menemukan bahwa upaya ASEAN dalam kesetaraan gender secara umum diangkat dalam deklarasi dan konferensi. ASEAN adalah agen yang sangat penting dalam mempromosikan keamanan manusia yang responsif gender, mengingat sifat tantangan dan keterbatasan politik dan ekonomi negara-negara anggota ASEAN. Hal ini juga cenderung menjadi warga dunia yang baik sebagai norm entrepreneur dengan mempromosikan norma-norma universal dan melibatkan program global yang dipimpin oleh PBB seperti Millennium Development Goals (MDGs) dan Sustainable Development Goals (SDGs). Kata-kata kunci: ASEAN norms, komunitas ASEAN, kesetaraan gender, keamanan manusia, dan norm entrepreneur
Voluntourism as an Effort to Realize Sustainable Tourism to Reduce Waste in the Ocean Janitra, Nabila Thyra; Muis, Afni Regita Cahyani
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.51-72

Abstract

In response to the problem of increasing waste in the ocean, UNWTO formulated sustainable tourism to create economic, social, and environmental stability. In the effort to realize sustainable tourism, UNWTO introduces a voluntourism program that directly seek to attract tourists' interest and make tourists become aware of the importance of protecting the environment. This study aims to understand the voluntourism strategy to realize sustainable tourism to reduce waste in the ocean. The method used in this study is a qualitative-explorative method that intends to explore social phenomenon based on the variables that have been formulated. In responding to the issue of marine pollution caused by garbage, voluntourism makes various efforts to cooperate with several stakeholders. The voluntourism program that focuses on the topic of marine pollution is expected to become a policy recommendation to be implemented by various countries, hence efforts to reduce waste in the sea can be massively carried out in different parts of the world. This study discusses the distribution of waste in the oceans and efforts to handle it through voluntourism programs. Keywords: Ocean Waste, Sustainable Tourism, Voluntourism   Dalam merespon permasalahan peningkatan sampah di lautan, UNWTO memformulasikan pariwisata berkelanjutan untuk menciptakan kestabilan ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan, UNWTO memperkenalkan program volunterisme yang secara langsung menarik minat wisatawan dan membuat wisatawan semakin menyadari akan pentingnya menjaga lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi volunterisme untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan guna mengurangi sampah di lautan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-eksploratif yang menggali fenomena sosial berdasarkan variabel yang telah dirumuskan. Merespon isu polusi laut yang disebabkan oleh sampah, volunterisme menciptakan berbagai upaya untuk bekerja sama dengan para pemangku kepentingan. Program volunterisme yang berfokus pada topik polusi kelautan diharapkan mampu menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan oleh berbagai negara, sehingga upaya pengurangan sampah di lautan dapat secara masif dilakukan di berbagai bagian dunia yang berbeda. Studi ini mendiskusikan tentang penyebaran sampah di lautan dan upaya untuk menanganinya melalui program volunterisme. Kata-Kata Kunci: Limbah Lautan, Pariwisata Berkelanjutan, Volunterisme
Vegetable Oil Economic Diplomacy as an Instrument of Indonesian Foreign Policy Hutabarat, Leonard
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.131-152

Abstract

The development of international politics due to the Russian-Ukrainian conflict has caused international political instability and pressure on agricultural products and the energy sector in the world. Indonesia's leading export commodity, under discriminatory pressure from the European Union, also has economic implications due to the Russian-Ukrainian war. Disruption to the world's vegetable oil supply chains, the urgent need for food security, and the impact on achieving the goals of sustainable development that have been agreed upon so far make Indonesia seek to use the existing narrative through economic diplomacy. This condition is also related to Indonesia's vegetable oil diplomacy as one of the foreign policy instruments. Therefore, economic diplomacy regarding Indonesian vegetable oils is also part of Indonesia's national interest. This article uses qualitative methods with a descriptive-analytical type on how Indonesia uses the narrative of sustainable development issues in the context of Indonesian vegetable oils to achieve Sustainable Development Goals 2030, including instruments of economic diplomacy in realizing Indonesia's national interest in Indonesia's vegetable oil diplomacy. Keywords: economic diplomacy, Indonesia, foreign policy, vegetable oil, SDGs 2030   Perkembangan politik internasional akibat konflik Rusia-Ukraina telah menimbulkan dampak tidak hanya instabilitas politik internasional, namun juga tekanan terhadap komoditas produk pertanian maupun sektor energi di dunia. Komoditas ekspor unggulan Indonesia yang selama ini mendapatkan tekanan yang bersifat diskriminatif dari Uni Eropa juga memiliki implikasi ekonomi akibat terjadinya perang Rusia-Ukraina. Gangguan terhadap rantai pasok minyak nabati dunia dan sangat diperlukan tersedianya ketahanan pangan serta dampak terhadap pencapaian tujuan dari pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati selama ini, menjadikan Indonesia berupaya menggunakan narasi yang ada melalui diplomasi ekonomi. Hal ini juga terkait dengan diplomasi minyak nabati Indonesia sebagai salah satu instrumen kebijakan luar negeri. Diplomasi ekonomi berkenaan dengan minyak nabati Indonesia juga merupakan bagian dari kepentingan nasional Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan dengan metode kualitatif dengan jenis deskriptif analitis bagaimana Indonesia menggunakan narasi pembangunan berkelanjutan dalam konteks minyak nabati Indonesia guna mencapai Sustainable Development Goals 2030, termasuk instrumen diplomasi ekonomi dalam mewujudkan kepentingan nasional Indonesia dalam diplomasi minyak nabati Indonesia. Kata-kata Kunci: diplomasi ekonomi, Indonesia, kebijakan luar negeri, minyak nabati, SDGs 2030
The Influence of Indo-Pacific Economic Framework on Peace Stability in The ASEAN Region Abadi, Fany Anggun; Al-Fadhat, Faris
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.33-50

Abstract

By taking into account all motives for foreign economic cooperation, including the Indo-Pacific Economics Framework (IPEF), this framework will definitely affect the economies of several countries in the region, especially Southeast Asia. ASEAN is demanded not only as an elite state organization but furthermore, is also required to have the capability to involve all elements of its member countries' societies, in the varying fields, especially economic, political and peace stability. This paper then raised a question regarding how does the IPEF influence the peace stability in the ASEAN Region. In examining this question, the author used the theory of international organizations typology, international economic regime theory, and regional peace stability theory. It is concluded that the step that's certainly must be taken by countries in the region is to help each other. Thus, it is the joint responsibility of each country, both inside and outside the region to prevent the emergence of conflict and voluntarily build trust to achieve regional stability. In this context, ASEAN certainly must be stronger. Keywords: ASEAN, economy, stability Dengan memperhitungkan segala motif kerja sama ekonomi luar negeri, termasuk Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), kerangka ini pasti akan berpengaruh terhadap perekonomian beberapa negara di kawasan, khususnya Asia Tenggara. ASEAN dituntut tidak hanya sebagai organisasi elit negara, tetapi juga dituntut untuk memiliki kapabilitas untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat negara anggotanya dalam berbagai bidang, terutama ekonomi, politik, dan stabilitas perdamaian. Penelitian ini kemudian mengajukan pertanyaan terkait bagaimana pengaruh Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) terhadap stabilitas perdamaian di kawasan ASEAN. Dalam menganalisis pertanyaan ini, penulis menggunakan teori tipologi organisasi internasional, teori rezim ekonomi internasional, dan teori stabilitas perdamaian regional. Dapat disimpulkan bahwa langkah yang pastinya harus diambil oleh negara-negara di kawasan adalah saling membantu. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab bersama negara-negara, baik di dalam maupun di luar kawasan untuk mencegah konflik dan membangun kepercayaan secara sukarela untuk mencapai stabilitas kawasan. Dalam konteks ini, tentunya ASEAN harus semakin kuat. Kata-kata Kunci: ASEAN, ekonomi, stabilitas
Indonesia's Commercial Diplomacy towards South Korea in Efforts to Realize EV Battery Project Investment Nadhif, Aulia; Suryadipura, Dadan
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.215-238

Abstract

The EV battery project in Indonesia is one of Indonesia's nickel downstream policy agendas. This policy aims to be able to increase the value of nickel commodities and create Indonesia's ability to be able to engage in the downstream industry. To realize the EV battery project, the Indonesian government is cooperating with South Korea in developing the EV battery industry in Indonesia. This article focuses on the commercial diplomacy efforts of the Indonesian government to obtain investment for developing the EV battery industry in Indonesia through investment promotion. This article uses qualitative research methods. After conducting an analysis, this article shows that the Indonesian government is carrying out commercial diplomacy activities by using IIPC Seoul as an extension of the Ministry of Investment/BKPM which acts as a facilitator and clearing agent to facilitate investment from South Korea and Indonesia. This effort is assisted by other government agencies such as the Ministry of BUMN, Ministry of Energy and Mineral Resources, and others to achieve a large investment score for the development of the EV industry in Indonesia. This article concludes that the commercial diplomacy carried out by the Indonesian government succeeded in achieving the goal of obtaining investment for the EV battery project to be able to increase the value of nickel commodities and create a downstream industry. Keywords: Commercial Diplomacy, Nickel Downstream, Indonesia, Investment Promotion, EV Battery   Proyek baterai EV di Indonesia merupakan salah satu agenda dalam kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk dapat meningkatkan nilai komoditas nikel dan menciptakan kemampuan Indonesia untuk dapat bergerak dalam industri hilirisasi. Untuk dapat merealisasikan proyek baterai EV, pemerintah Indonesia melakukan kerja sama investasi terhadap Korea Selatan untuk dapat mengembangkan industri baterai EV di Indonesia. Artikel ini fokus kepada usaha perkembangan industri baterai EV di Indonesia melalui promosi investasi. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Setelah melakukan analisis, artikel ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan aktivitas diplomasi komersial dengan menggunakan IIPC Seoul sebagai perpanjangan tangan dari Kementerian Investasi/BKPM yang bertindak sebagai fasilitator serta clearing agent untuk dapat memudahkan lajur investasi dari Korea Selatan dan Indonesia. Usaha ini dibantu dengan perangkat pemerintah lainnya seperti Kementerian BUMN, Kementerian ESDM dan lainnya sehingga dapat mencapai torehan investasi yang besar untuk pengembangan industri EV di Indonesia. Artikel ini menyimpulkan bahwa diplomasi komersial yang dilakukan pemerintah Indonesia berhasil mencapai tujuan yaitu mendapatkan investasi untuk proyek baterai EV untuk meningkatkan nilai komoditas nikel dan menciptakan industri hilirisasi. Kata-kata kunci: Diplomasi Komersial, Hilirisasi Nikel, Indonesia, Promosi Investasi, Proyek Baterai EV
Global Response towards the Transnationalism of Illegal Rhinoceros Commodity Hunting and Trading in South Africa Numadi, Katong Ragawi; Ma'rifat, Filasafia Marsya
Global Strategis Vol. 17 No. 1 (2023): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.17.1.2023.239-268

Abstract

Globalization, which coincides with the formation of a global economic network, has provided convenience in various aspects as well as created new threats, one of them is illegal poaching and illegal trade in wildlife commodities. This is illustrated in this paper through the integration of Africa into the dynamics of the global economy which also has a negative impact in the form of increasing cases of illegal poaching and trade in wildlife commodities, especially African rhino species. The results of this qualitative research found that the issue of poaching wild rhinos in the African region experienced a drastic increase in the early 2010s and reached its peak in 2016 with South Africa as the hotspot as well as the starting point of the supply chain on this issue. Even though the South African government has ratified the Convention on International Trades on Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) and made various prevention efforts, the South African government is still experiencing bureaucratic limitations and conflicts of interest in dealing with this issue. As a result, the "transnational” term of illegal wildlife hunting and trade operations also requires other collaborative steps involving various international state organizations (IGOs) and non-state (INGOs) working in the same field. Keywords: Rhinoceros, Rhino Horn, South Africa, Poaching, Illicit Trade   Globalisasi yang bersamaan dengan terbentuknya jaringan perekonomian global pada faktanya telah memberikan kemudahan di berbagai aspek sekaligus memunculkan berbagai ancaman baru, salah satunya adalah perburuan dan perdagangan komoditas margasatwa ilegal. Hal tersebut diilustrasikan dalam tulisan ini melalui integrasi Afrika ke dalam dinamika ekonomi global yang tidak hanya berdampak positif, tetapi juga memunculkan dampak negatif berupa meningkatnya kasus perburuan dan perdagangan komoditas margasatwa ilegal, khususnya spesies badak Afrika. Hasil penelitian kualitatif ini menemukan bahwa isu perburuan badak liar di wilayah Afrika mengalami peningkatan drastis di awal dekade 2010-an dan mencapai puncaknya pada tahun 2016 dengan Afrika Selatan sebagai hotspot sekaligus titik awal rantai suplai dalam isu tersebut. Kendati pemerintah Afrika Selatan telah meratifikasi Convention on International Trades on Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) dan melakukan berbagai upaya pencegahan, pemerintah Afrika Selatan nyatanya masih mengalami keterbatasan birokrasi dan konflik kepentingan dalam mengatasi isu tersebut. Alhasil, sifat transnasional dalam operasi perburuan dan perdagangan satwa ilegal juga menuntut adanya langkah kolaboratif lain yang melibatkan berbagai organisasi internasional negara (IGOs) dan non-negara (INGOs) yang bergerak di bidang yang sama. Kata-kata Kunci: Badak, Cula Badak, Afrika Selatan, Perburuan, dan Perdagangan Ilegal