cover
Contact Name
Ahmad Shulhany
Contact Email
ahmad.s@untirta.ac.id
Phone
+62254-376712
Journal Mail Official
teknika@untirta.ac.id
Editorial Address
Jl. Jendral Sudirman KM 03, Cilegon 42435
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi
ISSN : 1693024X     EISSN : 26544113     DOI : http://dx.doi.org/10.36055/tjst
Core Subject : Engineering,
Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi merupakan jurnal peer-reviewed dalam Bahasa Indonesia di bidang keteknikan, diantaranya bidang teknik sipil, bidang teknik mesin, bidang teknik industri, bidang teknik kimia, bidang teknik metalurgi, dan bidang teknik elektro.
Arjuna Subject : -
Articles 318 Documents
Analysis resistance and flow patterns of hull catamaran axe bow for tourism boat Romadhoni Romadhoni; Budhi Santoso; Bobi Satria; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.12552

Abstract

The axe bow type catamaran is a ship used specifically for recreational purposes between Beting Island Aceh, which has two hulls (catamarans). This analysis aims to see a more reductive resistance value that can be used in the Beting Island Aceh  (Rupat) waters. To get the main size of the ship, namely the parent design approach method, which is to find data on the main ship and the same displacement to analyze the value of the ship's resistance. The main data of the ship, namely, LOA=12.20 m, B=4.089 m, H=1.48 m, T=0.62 m, ∆=7.243 tons. The resistance value of the axe bow type catamaran is smaller than the non-axe bow type catamaran, with a difference of 5.92%. Based on the results of running, the engine power of the axe bow type catamaran is 227 HP, while the non-axe bow type catamaran is 241 HP. Catamaran tipe axe bow adalah kapal yang digunakan khusus untuk rekreasi antar Pulau Beting Aceh yang memiliki dua lambung (catamaran). Analisis ini bertujuan untuk melihat nilai resistansi yang lebih reduktif yang dapat digunakan di perairan Pulau Aceh Beting (Rupat). Ukuran utama kapal diperoleh dengan menggunakan metode parent design approach, mencari data kapal induk dan displacement yang sama untuk menganalisa nilai hambatan kapal. Dan didapatkan data utama kapal yaitu LOA=12,20 m, B=4,089 m, H=1,48 m, T=0,62 m, =7.243 ton. Nilai hambatan kapal katamaran tipe axe bow lebih kecil dibandingkan dengan kapal katamaran tipe non axe bow dengan selisih sebesar 5,92%. Berdasarkan hasil running, tenaga mesin catamaran tipe axe bow adalah 227 HP, sedangkan catamaran tipe non axe bow adalah 241 HP.
The effect of current strength on tensile strength and impact toughness of cast iron welded joints Wijoyo Wijoyo; Mujahid Mujahid; Achmad Nurhidayat; Eko Surjadi; Iman Saefuloh
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.11216

Abstract

Cast iron is a high-carbon iron-carbon alloy. Cast iron is difficult to weld because of the high carbon concentration. A good connection necessitates the application of specific strategies and processes. This study investigates the effect of current strength on the mechanical properties of tensile strength and impact toughness of cast iron welded joints. The main materials used are gray cast iron and CIN 3 filler. The welding process uses an AC TIG welding machine. The welding seam is made of a single V with an angle of 70o, and the electric current variations are 80A, 90A, and 100A, respectively. Tensile testing is carried out with a UTM machine referring to ASTM E8M, while the Charpy impact test refers to ASTM E23. From the study results, it was found that the higher the use of electric current resulted in the mechanical properties of the tensile strength and impact toughness of the weld being also higher, which occurred at 100A electric current, reaching 181.05 MPa and 0.22 J/mm2. Besi cor merupakan paduan antara besi dan karbon di atas 2.5%. Kadar karbon yang tinggi ini menyebabkan besi cor sulit untuk dilas. Perlu teknik dan proses tertentu untuk mendapatkan sambungan yang baik. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh kuat arus terhadap sifat mekanik kekuatan tarik dan ketangguhan impak sambungan las besi cor. Bahan utama yang digunakan adalah besi cor kelabu dan filler CIN 3. Proses pengelasan menggunakan mesin las TIG AC. Kampuh las dibuat V tunggal bersudut 70o, variasi arus listrik berturut-turut adalah 80A, 90A dan 100A. Pengujian tarik dilakukan dengan mesin UTM mengacu pada ASTM E8M, sedangkan pengujian impak charpy mengacu pada ASTM E23. Dari hasil penelitian didapatkan, pemakaian arus listrik semakin tinggi mengakibatkan sifat mekanik kekuatan tarik dan ketangguhan impak hasil lasan juga semakin tinggi, yaitu terjadi pada kuat arus listrik 100A, mencapai 181.05 MPa dan 0,22 J/mm2.
Evaluation of resilience modulus of polymer-modified asphalt mixture using gypsum filler Dwi Esti Intari; Rindu Twidi Bethary
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.13034

Abstract

Road infrastructure plays an important role as one of the driving wheels of economic growth and development so that during its service life, it can provide good comfort and safety with quality that must be met. The selection and change of materials used are measures to preserve the pavement construction quality. The utilization and renewal of waste in the road construction sector have become important. One of the waste materials in road construction developed is gypsum powder because the lime (CaO) content is quite high. Resilience modulus is one of the fundamental parameters used in determining the quality of the material used and measuring the stiffness of the asphalt concrete mixture. This study aims to determine the mechanical properties or the resilience modulus of the HRS-WC lataston asphalt mixture using polymer modified asphalt with gypsum powder as a filler. Based on the results obtained, it is known that the addition of gypsum filler into the lataston asphalt mixture can reduce the value of the resilience modulus so that the stiffness in the mixture is reduced and can make the mixture more resistant to repeated loads. Infrastruktur jalan memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sehingga selama umur layan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan yang baik dengan kualitas yang harus dapat terpenuhi Salah satu upaya untuk menjaga kualitas struktur perkerasan adalah dengan pemilihan dan modifikasi material yang digunakan. Pemanfaatan dan pembaharuan limbah dalam sektor konstruksi jalan menjadi isu yang penting salah satu material limbah dalam konstruksi jalan yang telah dikembangkan adalah bubuk gypsum, karena kandungan kapur (CaO) yang cukup tinggi. Modulus resilien merupakan salah satu parameter fundamental yang digunakan dalam menentukkan kualitas material yang digunakan juga ukuran kekakuan campuran beton aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat mekanis atau atau modulus resilien pada campuran aspal lataston HRS-WC yang menggunakan aspal modifikasi polimer dengan bubuk gypsum sebagai filler. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa dengan adanya penambahan filler gypsum ke dalam campuran beraspal lataston dapat menurunkan nilai modulus resiliennya sehingga kekakuan dalam campuran berkurang dan dapat membuat campuran tersebut lebih tahan terhadap beban berulang.  
Leaching Cu from e-waste PCB using thiourea solution and oxidizing H2O2 Tiara Triana; Soesaptri Oediyani; Rindang Puspa Rini; Tio Aji Pamungkas
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.12875

Abstract

Technological advances that occur in developed and developing countries impact increasing the amount of electronic waste (e-waste). In Indonesia, the growth rate of e-waste is predicted to increase by ±23.2% in 2028. The impact that e-waste can have on human health requires processing electronic waste such as printed circuit boards (PCBs) to reduce environmental pollution and economic benefits. PCB waste can be reprocessed because it contains Au, Ag, and Cu metals. The purpose of this study was to determine the effect of size, percent solids, the concentration of oxidizing agent H2O2, and the addition of oxidizing volume H2O2 to the amount of Cu extracted. The fire assay analysis results show that the mixed PCB waste contains 9.08% Cu. PCB waste leaching was carried out by agitation leaching method using thiourea solution. The leaching process was carried out with a size variation of 80; 100; 120#, a percent solids variation of 10; 15; 20 percent, an oxidizing concentration of H2O2 variation of 0.2; 0.4; 0.6 M, and the addition of an oxidizing volume H2O2 variation of 20; 28; 36 percent. Leaching was then performed for 6 hours at a rotation speed of 200 rpm, a temperature of 25°C, and a pH of 1-2. The leaching of mixed PCB waste resulted in 3.5% Cu in the leached solution with 10% solids percent and an additional 28% H2O2 oxidizing volume. PCB waste with the finest particle size of -120# and concentration of 0.4 M H2O2 produces Cu in the leached solution with 0.26%. Kemajuan teknologi yang terjadi pada negara maju maupun negara berkembang berdampak pada meningkatnya jumlah limbah elektronik atau e-waste. Laju pertumbuhan limbah elektronik di Indonesia telah diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar ±23,2% pada tahun 2028. Dampak yang dapat ditimbulkan dari limbah elektronik dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, sehingga diperlukan adanya pengolahan limbah  elektronik seperti printed circuit boards (PCB) untuk mengurangi pencemaran lingkungan serta keuntungan secara ekonomi yang didapatkan. Limbah PCB berpotensi untuk diolah kembali dikarenakan memiliki kandungan logam seperti Au, Ag, Cu, Sn, dll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran, persen padatan, konsentrasi oksidator H2O2 dan penambahan volume oksidator H2O2 terhadap nilai persen ekstraksi Cu. Berdasarkan hasil analisis fire assay, limbah PCB campuran mengandung 9,08% Cu. Pelindian limbah PCB dilakukan dengan metode agitation leaching menggunakan larutan thiourea. Proses pelindian dilakukan pada variasi ukuran 80; 100; 120#, dengan variasi persen padatan sebesar 10; 15; 20% pada varisai konsentrasi oksidator H2O2 0,2; 0,4; 0,6 M serta penambahan volume oksidator H2O2 20; 28; 36%. Setelah itu dilakukan pelindian selama 6 jam, dengan kecepatan putaran 200 rpm pada temperatur 25°C dengan pH 1-2. Hasil penelitian pelindian limbah PCB campuran menghasilkan kadar Cu pada larutan hasil pelindian sebesar 3,5% dengan persen padatan 10% dan penambahan volume oksidator H2O2 sebesar 28%. Limbah PCB dengan ukuran -120# dengan konsentrasi H2O2 0,4 M menghasilkan Cu pada larutan hasil pelindian dengan kadar 0,26%. 
Analysis of the application of the lean six sigma method to minimize waste in the plywood production process Fadila Meriska Putri; Anggriani Profita; Suwardi Gunawan
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.11093

Abstract

PT. XYZ is a manufacturing company that produces plywood. The problem that this plywood company has faced is that in the plywood production process, there are still many activities classified as waste, thus disrupting productive activities. Therefore, identification of waste and the factors that cause it must be done to provide improvements so that waste in the production process can be reduced or even eliminated. Efforts that can be made to overcome the problems that occur were by using the lean six sigma method. The most influential waste in the plywood production process is overproduction with a sigma level of 0.00, waiting with a sigma level of 1.52, and defects with a sigma level of 3.85. The factors that cause waste are WIP waste overproduction, waste waiting between the process, and waste defect delamination. The recommendation for improvement for waste to minimize waste is for waste overproduction, namely making digitization forms, waste waiting, adding mini dryers and waste defects, and implementing the Kanban system. PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi kayu lapis (plywood). Permasalahan yang ditemui pada perusahaan adalah dalam proses produksi plywood masih terdapat aktivitas yang tergolong kedalam waste, sehingga mengganggu kegiatan produktif. Oleh karena itu, identifikasi waste dan faktor penyebabnya perlu dilakukan, sehingga dapat memberikan perbaikan agar pemborosan pada proses produksi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan metode lean six sigma. Waste yang paling berpengaruh pada proses produksi plywood adalah overproduction dengan level sigma sebesar 0,00, waiting dengan level sigma sebesar 1,52, dan defect dengan level sigma sebesar 3,85. Faktor-faktor penyebab waste adalah untuk waste overproduction WIP, waste waiting between process, dan waste defect delaminasi. Rekomendasi perbaikan untuk waste untuk meminimasi masing-masing waste adalah untuk waste overproduction yaitu membuat form digitalisasi, untuk waste waiting yaitu menambah dryer mini, dan untuk waste defect yaitu untuk menerapkan sistem Kanban.
Making duck bone meal as a source of calcium using the sidrap protein hydrolysis technology from poultry-based conventional food processing waste Nurul Qisti; Rukmelia Rukmelia; Zulfatun Najah; Elsa Windiastuti; Monalisa Ibrahim; Putri Nurul Hikmah
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.12821

Abstract

This research is a study to improve duck bone meal characteristics with higher calcium and protein content. This study aims to determine the best conditions of modification processing of duck bone meal based on the chemical characteristics and the highest calcium content. The research method was modified by Putranto et al., including washing, bone boiling, damage, presto process, boiling process, extraction of NaOH base, washing, drying, and flouring. The research was used a completely randomized experimental design (CRD), consisting of 3 treatments and three replications, namely P1 (NaOH immersion for 2 hours), P2 (NaOH immersion for 3 hours), and P3 (NaOH immersion for 4 hours). The data analysis technique was quantitative and analytic using ANOVA with a significance level of 5% using the SPSS application to determine the effect of immersing NaOH various treatments on the chemical characteristics of duck bone meal. The analysis includes yield, proximate composition, and calcium. In addition, physical, organoleptic, and microbiological analyses were carried out. The best of manufacture of duck bone meal which produces the best characteristics was found in the 3 hours immersion treatment (P2) with an average ash content of 56.88%, the water content of 4.08%, fat content of 14.45%, protein content of 23.08%, crude fiber content of 0.29%, phosphorus content of 12.03% and calcium content of 9.86%. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan untuk memperbaiki karakteristik tepung tulang itik dengan kandungan kalsium dan protein yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik pada modifikasi proses pembuatan tepung tulang itik berdasarkan karakteristik kimia dan kandungan kalsium tertinggi. Metode penelitian merupakan modifikasi dari metode yang dilakukan oleh Putranto, dkk, diantaranya pencucian, perebusan tulang, pembersihan, proses presto, proses perebusan, ekstraksi basa NaOH, pencucian, pengeringan dan penepungan. Rancangan percobaan yang dilakukan adalah Rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan yakni P1 (Perendaman NaOH selama 2 jam), P2 (Perendaman NaOH selama 3 jam) dan P3 (Perendaman NaOH 4 jam). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan analitik menggunakan ANOVA dengan taraf nyata 5% menggunakan aplikasi SPSS untuk mengetahui pengaruh perendaman NaOH berbagai perlakuan terhadap karakteristik kimia tepung tulang itik. Analisis yang dilakukan meliputi rendemen, komposisi proksimat dan kalsium. Selain itu dilakukan analisa fisik, organoleptik dan mikrobiologi. Proses produksi tepung tulang itik yang menghasilkan karakteristik terbaik terdapat pada perlakuan perendaman selama 3 jam (P2) dengan rata-rata kadar abu 56.88%, kadar air 4.08%, kadar lemak 14.45%, kadar protein 23.08%, kadar serat kasar 0.29%, kadar fosfor sebesar 12.03% dan kadar kalsium 9.86%.
Real-time detection of fruit ripeness using the YOLOv4 algorithm Widyawati Widyawati; Reni Febriani
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.12254

Abstract

Indonesia is a country that has many types of commodities of various kinds of fruit. Based on BPS data, fruit production reached 22 million tons in 2019, an increase of 5% compared to 2018. However, with such a large production volume, most fruit inspection (sorting) processes in Indonesia are still carried out manually by humans. The manual process requires a lot of time and energy resources, is prone to inconsistencies and inaccuracies. With the help of computer vision, the automation process is expected to be able to eliminate manual processes to reduce costs and increase efficiency and accuracy. In this study, the method used is the YOLOv4 algorithm. The algorithm is applied to detect banana ripeness automatically. The algorithm training process is carried out using 369 banana images divided into two classes, and the testing process is carried out on videos captured in real-time. Based on the research results, the best average accuracy rate is 87.6%, and the video processing speed is 5 FPS (frames per second) using a single-GPU architecture. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak jenis komoditi berbagai macam buah-buahan. Berdasarkan data BPS, produksi buah mencapai 22 juta ton pada 2019 atau meningkat 5% dibandingkan 2018. Namun dengan volume produksi sebesar itu, sebagian besar proses pemeriksaan (sorting) buah di Indonesia masih dilakukan secara manual oleh manusia. Proses manual membutuhkan banyak waktu dan sumber daya, rentan terhadap inkonsistensi dan ketidakakuratan. Proses otomatisasi dengan bantuan computer vision diharapkan dapat menghilangkan proses manual sehingga dapat menekan biaya, meningkatkan efisiensi dan akurasi. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah algoritma YOLOv4. Algoritma ini diterapkan untuk mendeteksi kematangan pisang secara otomatis. Proses pelatihan algoritma dilakukan dengan menggunakan 369 citra pisang yang dibagi menjadi dua kelas dan proses pengujian dilakukan pada video yang ditangkap secara real time. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat akurasi rata-rata terbaik adalah 87,6% dan kecepatan pemrosesan video adalah 5 FPS (frame per seconds) dengan menggunakan arsitektur single-GPU.
Experimental study of the effect of adding bioethanol to RON 90 gasoline on exhaust gas emissions of a four-stroke motor vehicle Hadi Sutanto; Christefa Hendy Setianto
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.11330

Abstract

The use of biofuels in the world is increasing due to their economic prices and an energy crisis. Bioethanol is an alternative renewable fuel suitable for use in internal combustion engines. When compared to the octane number of gasoline, this fuel has a relatively high octane number. Another major property is that bioethanol can reduce motor vehicle emissions when compared to fossil fuels. This study aimed to determine the number of exhaust emissions with fuel that uses a mixture of pertalite RON 90 gasoline and bioethanol. The test method uses a loaded engine with three rpm variations, namely 1200, 6000, and 9000 rpm, with exhaust emission measurement parameters consisting of CO2, CO, HC, and NOx. The test used four kinds of bioethanol mixtures, namely bioethanol 5% (E5), bioethanol 10% (E10), bioethanol 15% (E15), and bioethanol 20% (E20), in addition to pure gasoline RON 90 (pertalite). Measurement of exhaust emissions is carried out using an exhaust gas analyzer. The test results show that using a mixture of bioethanol as fuel does not reduce the total amount of exhaust emissions. The proportion of CO2 tends to grow as the bioethanol mixture increases, and vice versa for the percentage of CO. Meanwhile, the proportion of HC reduced as the bioethanol mixture rose, whereas the percentage of NOx increased. Penggunaan bahan bakar nabati di dunia semakin bertambah disebabkan oleh harga ekonomisnya dan adanya krisis energi. Bioetanol sebagai bahan bakar alternatif yang bersifat terbarukan sesuai untuk digunakan pada mesin pembakaran dalam. Bahan bakar ini memiliki angka oktan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka oktan bensin. Sifat utama yang lain yaitu bioetanol dapat mengurangi emisi kendaraan bermotor jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besar emisi gas buang dengan bahan bakar yang menggunakan campuran bensin jenis pertalite RON 90 dan bioetanol. Metode pengujian menggunakan mesin terbebani dengan tiga macam variasi rpm yaitu 1200, 6000 dan 9000 rpm dengan parameter pengukuran emisi gas buang terdiri dari CO2, CO, HC dan NOx. Pengujian menggunakan empat macam campuran bioetanol, yaitu bioetanol 5% (E5), bioetanol 10% (E10), bioetanol 15% (E15) dan bioetanol 20% (E20), selain bensin murni RON 90 (pertalite). Pengukuran emisi gas buang dilakukan dengan menggunakan exhaust gas analyzer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan campuran bioetanol sebagai bahan bakar tidak mengurangi seluruh jumlah emisi gas buang. Persentase CO2 cenderung naik terhadap kenaikan campuran bioetanol dan sebaliknya pada persentase CO. Sedangkan persentase HC menurun dengan naiknya campuran bioetanol dan sebaliknya persentase NOx meningkat dengan campuran bioetanol pada bensin.
Identification of implementation and understanding of health and work safety with hazard and operability study (Hazop) method at SMG Mulya Factory Tri Wisudawati; Wahyu Adhi Saputro
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.12393

Abstract

The micro, small and medium enterprises sector has a major contribution to economic development in Indonesia. One of the micro, small, and medium enterprises (UMKM) is the SMG Mulya Factory, which produces snacks, and complimentary crackers. The work area certainly has risks and hazards that may arise. The reason makes MSME owners implement occupational safety and health for both owners and workers. This study aims to identify the application and understanding of occupational health and safety at the SMG Mulya Factory. This research uses the hazard and operability study (HAZOP) method. The results showed that the potential for extreme work hazards was 8.33%, high and medium risk hazards were 25%, and low risk was 41.83%. There is an extreme risk when frying crackers is not accompanied by personal protective equipment (PPE), so it is feared that it will be splashed by heat from the oil used when frying. There is a high risk when the dough-making machine does not use a lid, so it is feared that when washing the tool, there will be puddles of water on the floor so that it is slippery and causes injuries to workers. Sektor usaha mikro, kecil dan menengah memiliki kontribusi yang besar dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Salah satu pengembangan Unit Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM) adalah adanya Pabrik SMG Mulya yang memproduksi krupuk yang notabenenya adalah makanan ringan, cemilan dan pelengkap. Area kerja tentunya memiliki resiko dan bahaya yang dimungkinkan muncul. Hal tersebut membuat pemilik UMKM menerapkan adanya keselamatan dan kesehatan kerja baik bagi pemilik maupun bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan dan pemahaman kesehatan dan keselamatan kerja pada Pabrik SMG Mulya. Penelitian ini menggunakan metode hazard and operability study (HAZOP). Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa potensi bahaya kerja ekstrim sebesar 8,33%, potensi bahaya risiko tinggi dan sedang sebesar 25% dan risiko rendah sebesar 41,83%. Resiko ekstrim terdapat pada saat penggorengan krupuk tidak disertai penggunaan alat pelindung diri (APD) sehingga dikhawatirkan terkena cipratan panas dari minyak yang digunakan saat penggorengan. Resiko tinggi terdapat pada saat pembuatan adonan mesin tidak menggunakan tutup sehingga dikhawatirkan ketika mencuci alat tersebut menjadikan adanya genangan air pada lantai sehingga licin dan mengakibatkan luka pada pekerja.
Effect of substitution of coconut coir waste on the compressive strength of non-structural concrete Imam Heru Nurfais; Nur Azizah Affandy; Salwa Nabilah
Jurnal Teknika Vol 17, No 2 (2021): Available Online in November 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i2.11449

Abstract

Using coconut fiber waste (LSK) in concrete mixes has good prospects because Indonesia has abundant natural resources. The addition of this fiber aims to improve the properties of concrete. This study aims to determine the effect of adding coconut fiber waste (LSK) as a substitute for coarse aggregate on the compressive strength of non-structural concrete and utilizing coconut fiber waste to reduce the accumulation of coconut waste and increase the selling value of coconut fibers. Making concrete mixtures with standard SNI 03-2834-2000, concrete compressive strength f'c 16.9 MPa concrete age 28 days, with 4 variations of the mixture, namely LSK 0%, LSK 0.5%, LSK 1%, LSK 1.5%, and LSK 2%. The test object is cylindrical with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm, with 30 specimens. According to the findings of this study, the addition of coco fiber reduced the compressive strength of the concrete. In the compressive strength test of concrete, aged seven days and 28 days, the highest average compressive strength values of LSK 0 were 14.72 MPa and 21.62 MPa. Of the three variations of LSK, LSK 0.5 and LSK 1 are closest to normal concrete. The relationship between the uses of LSK on the compressive strength of concrete at the age of 28 days. Its effect on the decrease in compressive strength occurs in LSK 0.5, LSK 1, LSK 1.5, and LSK 2. The equation obtained from the linear regression equation y = -4.764+19.88 with a value of R2 = 0.827. The results show that the coconut fiber mixture (LSK) cannot provide a compressive strength of concrete that exceeds the compressive strength of normal concrete. Penggunaan limbah sabut kelapa (LSK) dalam campuran beton memiliki prospek yang bagus karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Penambahan serat ini bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah serat sabut kelapa (LSK) sebagai subtitusi agregat kasar terhadap kuat tekan beton non-struktural, dan memanfaatkan limbah sabut kelapa sehingga bisa mengurangi penumpukan limbah kelapa dan menambah nilai jual dari sabut kelapa. Pembuatan campuran beton dengan standar SNI 03-2834-2000, kuat tekan beton f’c 16,9 MPa usia beton 28 hari, dengan 4 variasi campuran, yaitu LSK 0%, LSK 0,5%, LSK 1%, LSK 1,5% dan LSK 2%. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, dengan jumlah benda uji 30 buah. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan serat sabut kelapa mengakibatkan terjadinya penurunan kuat tekan pada beton. Pada uji kuat tekan beton umur 7 hari dan 28 hari nilai kuat tekan rata-rata tertinggi LSK 0 adalah 14,72 MPa, dan 21,62 Mpa. Dari ketiga variasi LSK, LSK 0,5 dan LSK 1 yang paling mendekati beton normalnya. Hubungan penggunaan LSK terhadap kuat tekan beton pada umur 28 hari pengaruhnya pada penurunan kuat tekan yang terjadi pada LSK 0,5, LSK 1, LSK 1,5 dan LSK 2. Persamaan yang didapat dari persamaan regresi linear y = -4,764+19,88 dengan nilai R2 = 0,827. Hal ini menunjukkan bahwa campuran sabut kelapa (LSK) tidak bisa memberikan kuat tekan beton melebihi kuat tekan beton normal.