cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
PENGARUH PEMBERIAN Naphtalene Acetic Acid ( NAA ) DAN LAMPU LED TERHADAP PERBANYAKAN TUNAS PADA KALUS ANGGREK Phalaenopsis Indriani, Harni; Adisarwanto, Titis; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orchid is a leading ornamental plant that is in demand by consumers because of its high economic value. The demand for high enough orchids can not be matched by the availability of adequate seeds. Tissue culture is a method used to multiply plants rapidly in large numbers and free of disease. The study aimed to determine the color of LED lamp and the correct dose of NAA to increase shoot growth on Phalaenopsis Orchid callus. The research was conducted at Biotechnology Laboratory of Agriculture Faculty of Tribhuwana Tunggadewi University Malang, East Java, from May to July 2017. The research was conducted by using Factorial Random Design Random (RAL) consisting of 2 factors. Factor I is the treatment LED lamp consists of 3 colors namely: A1: White Light, A2: Green Light and A3: Blue Light. Factor II is MS + NAA Media Concentration, consisting of 4 levels: B1: MS + 0 ppm NAA, B2: MS + 2 ppm NAA, B3: MS + 4 ppm NAA and B4: MS + 6 ppm NAA. Parameters observed were, Number of shoots per explant, Live explant percentage, Shoot height, Root length, Fresh Weight. The results show NAA interaction (6 ppm) and green, blue LEDs produces shoot length and the highest number of shoots/explants. NAA interactions (2 ppm) and green LEDs produce the longest root length. NAA interactions (4 ppm) and NAA (6 ppm) and white, blue and green LEDs produce the heaviest fresh weights. Anggrek adalah tanaman hias unggulan yang diminati oleh konsumen karrna mempunyai nilai ekonomi tinggi. Permintaan bunga anggrek yang cukup tinggi ternyata tidak dapat diimbangi dengan ketersediaan bibit yang memadai. Kultur jaringan adalah metode yang digunakan untuk memperbanyak tanaman secara cepat dalam jumlah yang banyak serta bebas penyakit. Penelitian bertujuan menentukan warna lampu LED dan dosis NAA yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan tunas pada kalus Anggrek Phalaenopsis. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Jawa Timur, pada bulan Mei hingga Juli 2017. Penelitian dilakukan dengan memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor I adalah perlakuan Lampu LED terdiri dari 3 warna yaitu : A1 : Cahaya Putih, A2 : Cahaya Hijau dan A3 : Cahaya Biru. Faktor II adalah Konsentrasi Media MS + NAA, terdiri dari 4 taraf yaitu : B1 : MS + 0 ppm NAA, B2 : MS + 2 ppm NAA, B3 : MS + 4 ppm NAA dan B4 : MS + 6 ppm NAA. Parameter yang diamati yaitu, Jumlah tunas per eksplan, Persentase eksplan hidup, Tinggi tunas, Panjang akar, Berat Segar. Hasil menunjukan Interaksi NAA (6 ppm) dan LED hijau, biru menghasilkan panjang tunas dan jumlah tunas / eksplan tertinggi. Interaksi NAA (2 ppm) dan LED hijau menghasilkan panjang akar terpanjang. Interaksi NAA (4 ppm) dan NAA (6 ppm) dan LED putih, biru dan hijau menghasilkan bobot segar terberat.
PERBEDAAN HASIL PENGUKURAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA SAMPEL DAUN JAGUNG Megawati, Rina; Sutoyo, Sutoyo; Islami, Titiek
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap jenis daun pada tumbuhan, mempunyai kandungan klorofil yang berbeda-beda bahkan dalam satu individu tumbuhan. Perbedaan kadar klorofil pada tumbuhan ini disebabkan karena kadar pigmen lain yang ada pada daun tersebut lebih dominan atau disebabkan oleh adanya faktor adaptasi pada suatu tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan prosedur yang tepat untuk pengukuran kadar klorofil daun jagung. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Mei ? Juli 2015. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Air bebas ion, aceton 80%, kertas saring whatman no. 42 dan tanaman jagung dengan umur 28 hst, 42 hst, 56 hst dan 60 hst. Tanaman jagung yang digunakan sebagai sample adalah tanaman jagung yang sehat, dengan mengambil daun bagian bawah, tengah dan ujung. Sedangkan alat yang digunakan antara lain gelas piala, pestel dan mortar dan spektrofotometer. Penelitian yang dilaksanakan terdiri dari 12 perlakuan, 3 ulangan dan menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F taraf kesalahan 5%). Apabila terdapat pengaruh yang signifikan pada perlakuan, maka dilanjutkan dengan menggunakan Uji Duncan (DMRT) pada taraf 5% untuk mengetahui adanya perbedaan diantara perlakuan. Dari hasil penelitian, kadar klorofil a yang paling tinggi terdapat pada ujung daun pada umur 60 hst. Sedangkan klorofil b dan klorofil total, paling tinggi terdapat pada daun bawah dengan umur pengamatan 56 hst. Meskipun pada pengamatan ujung daun dengan umur 60 hst dan daun bawah dengan umur pengamatan 56 hst tidak berbeda nyata kandungan klorofilnya.
EVALUASI ESTETIKA LANSKAP JALAN PADA JALAN RAYA SOEKARNO HATTA KOTA MALANG Mbete Tani, Maximus Seno; Alfian, Rizki; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aesthetic qualities assessment on sidewalks needs to be done to find out people's perceptions and preferences regarding the characteristics of the road landscape environment especially in relation to the use and influence of the curb trees visually. This study aims to study and evaluate the visual aesthetic qualities of trees in the landscape of the road and to study the visual perceptions of canopy and flower form on the trees. The simulation study was conducted on the landscape of Soekarno Hatta Road Malang City, considering the function of the road as a common circulation path and has a clear landuse. This research was conducted by survey method, literature study and simulation. Stages of research activities include: (1) preparation stage, (2) implementation stage and (3) data processing and recommendation stage. At the processing stage carried out the processing and analysis of questionnaire data of respondents who have done using SBE and SD. The identification done on Soekarno Hatta road landscape to the type and number of trees there are several types of vegetation Trembesi (Samaneasaman) with the amount of 50, Mangga (Mangiferaindica) with the amount of 5, Angsana (Pterocarpusinsidus) with the number of 65 and Palem king (Roystonearegia) The analysis of visual quality performed, it is known that the highest value of SBE has an average value between 47.05-87,26, the value of SBE is having average value between 20,76-43,34, low value of SBE has the average value, average between 2.62-19.53. Semantic Differential Analysis conducted, it is known that the highest SD value has a value> 1.7. A high-quality visual landscape represents a landscape that looks cool, beautiful, spacious, organized, and clean. Analysis performed, it is known that the lowest SD value has a value 1,7. Lanskap kualitas visual tinggi menggambarkan lanskap yang terlihat sejuk, indah, luas, tertata, dan bersih. Analisa yang dilakukan, diketahui bahwa nilai SD terendah memiliki nilai < 1,7. Lanskap kualitas visual rendah menggambarkan lanskap yang terlihat gersang, sempit, berantakan, jelek dan kotor.
PENGARUH TINGKAT KONSUMSI DAN KECERNAAN BK, PK ITIK MOJOSARI YANG DIBERI PAKAN CAMPURAN KEONG SAWAH logho, Emanuel; Supartini, Nonok; Santoso, Erik Priyo
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the best treatment combination in the Mojosari duck ration. The study used a complete randomized design on each treatment with 3 replications resulting in 21 Test Units. From the research result showed that the highest consumption was in the treatment of A0B2 equal to 57,071,50 gr that was mixture of feed material between rice paddy 25% and Bekatul 75% with highest average value at treatment A0B2 equal to 380,48 gr / head / day. In the consumption of Digestibility Dry matter with the highest value at treatment A0B1 of 248.31 gr / head / day and also the highest daily rate of digestion at treatment A0B0 is 100% control feed. The highest dry matter digestibility percentage in A0B0 treatment was 76.85%. Highest Raw Protein Protein Consumption in A0B3 treatment was 62,82 gr / cow / day while mean of highest Raw Protein digestion was treated A0B3 equal to 54,60 gr / cow / day and highest percentage of digestibility Protein was found in treatment A0B3 equal to 86,90%. So from each treatment of feed consumption, dry matter digestibility as well as the digestibility of Rough Protein gives a very real difference P
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI CABAI RAWIT DI DESA NGANTRU KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG Nduwa Ndewa, Alice Aprilia Susanti; Arvianti, Eri Yusnita; Khoirunnisa', Ninin
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chili commodities is widely used as raw material for the domestic processing industry (medicines, food and cosmetics). Consumption of chili commodities is increasing in line with the increasing number of population and the increasing variety of types and food menu that utilize this product. Fulfillment of national cayenne consumption needs of the increasing can be supported by increased production of cayenne pepper. The ability of chili production is influenced by the development of land area and productivity level of chili in certain area. Chili farming activities generally have a risk that is often faced by farmers harvest failure, lack of selling certainty, fluctuating prices, low probability of business margin, and weak market access. Farmer of chili farming conducted by the farmers in the research location has the purpose to improve the welfare of the family, but in improving the income and welfare of farmers, often faced with the problems of knowledge of farmers who are still relatively low, limited capital, small land and lack of farmers skills that will eventually effect on farmer acceptance. The research was conducted in Ngantru Village, Ngantang District, Malang Regency using sample of 50 peasants in this village. The system conducted in this village is feasible to be developed. The results showed that the R / C value of 1.40 (> 1), BEP farmer's acceptance is smaller than the acceptance received by farmers is Rp.13.270.336,00, the amount of chiliproduction is greater than BEP of chili production (5,860 kg> 2,413 Kg), and the price received by farmers is larger than BEP price (Rp.5,500.00> Rp.3,917.00). Cabai rawit komoditas pertanian banyak digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan dalam negeri (obat-obatan, makanan dan kosmetik). Kebutuhan konsumsi komoditas cabai rawit ini semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan semakin bervariasinya jenis serta menu makanan yang memanfaatkan produk ini. Pemenuhan kebutuhan konsumsi cabai rawit nasional yang semakin meningkat dapat ditunjang oleh peningkatan produksi cabai rawit. Kemampuan produksi cabai rawit dipengaruhi oleh perkembangan luas lahan dan tingkat produktivitas cabai rawit pada daerah tertentu. Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan tingkat produktivitas cabai rawit tertinggi. Kegiatan usahatani cabai rawit pada umumnya memiliki resiko yang sering dihadapi oleh petani antara lain resiko gagal panen, tidak adanya kepastian jual, harga yang berfluktuasi, kemungkinan rendahnya margin usaha, dan lemahnya akses pasar. Usahatani cabai rawit yang dilakukan petani memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, namun demikian dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, sering dihadapkan pada permasalahan pengetahuan petani yang masih relatif rendah, keterbatasan modal, lahan garapan yang sempit serta kurangnya ketrampilan petani yang pada akhirnya akan berpengaruh pada penerimaan petani. Penelitian dilakukan di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dengan menggunakan sampel sebanyak 50 orang petani cabai rawit di desa ini. Cabai rawit yang dilakukan layak untuk dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R/C sebesar 1,40 (>1), BEP penerimaan petani lebih kecil yaitu Rp 13.270.336,00, jumlah produksi cabai rawit lebih besar dari BEP produksi cabai rawit (5.860 kg > 2.413 Kg), dan harga yang diterima oleh petani lebih besar dari BEP harga (Rp 5.500,00 > Rp 3.917,00).
UJIDAYA HASIL PENDAHULUAN KLON-KLON UBIJALAR (Ipomoea Batatas L.) BERDAGING UNGU Hidayat, Fariz Nur; Lestari, Sri Umi; Indawan, Edyson
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selection to be implemented on the ground tuber yield entrisol Wringinsongo Village Tumpang subdistrict Malang. Randomized block design MK II, 2014. Materials studied as much as 40 purple sweet potato clones, divided into three blocks, and each block planted three varieties (check). Each clone planted 20 plants by bunds. Phonska fertilized gived with a dose of 300 kg / ha. Characters are observed are the number and weight of tuber by mound, tuber dry matter content, color of skin, flesh, the uniformity of the shape and size of the tuber. Selection purposes is to obtain clones of sweet potato varieties with the above results Antin 3 and have high anthocyanin score >5. Chosen 12 clones with the tuber yield 24.38 to 33.75 kg / ridges (from 19.50 to 27.00 t / ha), namely RIS 10053-01, 10233-01 RIS, MSU 10001-08, 10003-54 MSU, MSU 10010-50, 10010-80 MSU, MSU 10017-02, 10018-39 MSU, MSU 10021-26, MSU 10025-29, 10031-12 MSU and MSU 10031-16. Retrieved 4 clones were selected with high anthocyanin levels are RIS 10233-01 (U6 dark), MSU 10001-08 (U7 very dark), MSU 10010-50 (U6 dark), and MSU 10018-39 (U6 dark). Seleksi untuk hasil umbi dilaksanakan pada tanah entrisol Desa Wringinsongo Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang menggunakan rancangan acak kelompok MK II 2014. Bahan yang diteliti sebanyak 40 klon ubijalar ungu, dibagi menjadi tiga blok dan masing-masing blok ditanam tiga varietas pembanding (cek). Setiap klon ditanam 20 tanaman per guludan.Pertanaman dipupuk Phonska dengan dosis 300 kg/ha. Karakter yang diamati adalah jumlah dan bobot umbi per guludan,kadar bahan kering umbi, warna kulit, daging, serta keseragaman bentuk dan ukuran umbi. Tujuan seleksi adalah untuk mendapatkan klon-klon ubijalar dengan hasil di atas varietas Antin 3 dan memiliki skor antosianin tinggi >5.Terpilih 12 klon dengan hasil umbi 24,38?33,75 kg/guludan (19,50?27,00 t/ha) yaitu RIS 10053-01, RIS 10233-01, MSU 10001-08, MSU 10003-54, MSU 10010-50, MSU 10010-80, MSU 10017-02, MSU 10018-39, MSU 10021-26, MSU 10025-29, MSU 10031-12, dan MSU 10031-16. Diperoleh 4 klon yang terpilih dengan level antosianin tinggi adalah RIS 10233-01 (U6 gelap), MSU 10001-08 (U7 sangat gelap) ,MSU 10010-50 (U6 gelap), dan MSU 10018-39 (U6 gelap).
FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI DESA NGIJO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG Ciet, Markus; Arvianti, Eri Yusnita; Pudjiastuti, Agnes Quartina
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pertanian merupakan sektor strategis dan berperan penting dalam perekonomian nasional, namun dewasa ini keberlanjutan sektor pertanian dihadapkan pada ancaman serius yakni konversi lahan pertanian yang terjadi secara masif hingga mencapai 100 ribu hektar pertahun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Februari 2016.Tujuan penelitian ini menganalisis faktor sosial ekonomi petani yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian di Desa Ngijo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan alih fungsi lahan dengan jumlah sebanyak 42 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus, sedangkan analisis statistik yang digunakan adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa usia petani, tingkat pendapatan, jumlah tangungan anggota keluarga,luas lahan yang dimiliki dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap alih fungsi lahan, dengan nilai koefisien determinasi R2= 0,874 atau 87,4%. Variabel tersebut memiliki pengaruh terhadap alih fungsi lahan sebesar 87,4%, sedangkan sisanya (12,6%) dipengaruhi oleh faktor lain. Adapun faktor yang paling berpengaruh terhadap alih fungsi lahan yaitu tingkat pendidikan dengan koefisien regresi 0,265 pada taraf signifikan 0,016 < ? 0,05.Disarankan kepada petani untuk mempertimbangkan kembali sebelum mengambil keputusan untuk alih fungsi lahan, sehingga dapat membantu pemerintah dalam menciptakan ketahanan pangan berkelanjutan.
EVALUASI TANAMAN UBIJALAR PADA ALFISOL Wendo, Consianus; Indawan, Edyson; Agastya, I Made Indra
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The decline in the fertility rate of intensive agricultural land and the deterioration of environmental quality has resulted in lower supply of food. The focus of agricultural development is partly directed to ensure sustainable food availability, both quantity and quality. Land use whose quality or designation is not in accordance with the suitability of the land will cause failure or damage to the land resources. Increased production of sweet potato continues to be cultivated, one of which is through evaluation of sweet potato plants on Alfisol soil. Alfisol is a type of soil that is quite potential for agriculture. The study aimed to determine the potential yield of sweet potato plants on Alfisol soil. The experiment was conducted using a Randomized Block Design with 3 replications, 13 sweet potato clones namely Kuning Putih, BIS OP-61-OP-22, 73-6/2, Beta 1, Beta 2, Kuning Merah, 73 OP-8, BIS OP- 61, 73 OP-5, Sari, Boko, Jago, BIS OP-61-?-29 and Sub Plots: Biochar (B0 = Without Biochar, B1 = 5 tons/ha). The variables observed included: the number of tubers/plots, fresh weight of tubers (kg/plot), fresh weighted stem (kg/plot),% dry weight of tubers,% dry weight of stover, tuber tuber, and BK stover. analysis using Randomized Block Design. The results of the study it can be concluded that: The best clones/varieties on tuber yield were BIS OP-61-?-29 varieties which showed the highest protein of 3.86% (without biochar), while the starch content was 75.07% in varieties 73 OP-8 (biochar 5 tons/ha). The best biochar dose is at a dose of 5 tons/ha on the number of tubers/plots as much as 39.36 tubers/ in Alfisol soil. Penurunan tingkat kesuburan lahan pertanian intensif dan memburuknya kualitas lingkungan telah mengakibatkan pasokan bahan pangan yang lebih sedikit. Fokus pengembangan pertanian sebagian diarahkan untuk memastikan ketersediaan pangan berkelanjutan, baik kuantitas maupun kualitas. Penggunaan lahan yang kualitas atau peruntukannya tidak sesuai dengan kesesuaian lahan akan menyebabkan kegagalan atau kerusakan pada sumber daya lahan. Peningkatan produksi ubi jalar terus dibudidayakan, salah satunya adalah melalui evaluasi tanaman ubi jalar di tanah Alfisol. Alfisol adalah jenis tanah yang cukup potensial untuk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil tanaman ubi jalar pada tanah Alfisol. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan, 13 klon ubi jalar yaitu Kuning Putih, BIS OP-61-OP-22, 73-6 / 2, Beta 1, Beta 2, Kuning Merah, 73 OP-8, BIS OP- 61, 73 OP-5, Sari, Boko, Jago, BIS OP-61-?-29 dan Sub Plot: Biochar (B0 = Tanpa Biochar, B1 = 5 ton / ha). Variabel yang diamati meliputi: jumlah umbi / petak, bobot umbi segar (kg / petak), batang berbobot segar (kg / petak),% berat kering umbi,% berat kering brangkasan, umbi umbi, dan BK stover. analisis menggunakan Rancangan Acak Kelompok. 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Klon / varietas terbaik pada hasil umbi adalah BIS OP-61-?-29 varietas yang menunjukkan protein tertinggi 3,86% (tanpa biochar), sedangkan kandungan pati adalah 75,07%. % dalam varietas 73 OP-8 (biochar 5 ton / ha). Dosis biochar terbaik hasil umbi adalah dengan dosis 5 ton / ha pada jumlah umbi / petak sebanyak 39,36 umbi / di tanah Alfisol.
PRODUKSI MIE INSTAN DARI BAHAN BAKU TEPUNG UWI (Dioscorea alata) TERMODIFIKASI DENGAN TEPUNG JAGUNG PULUT (Zea mays L. var. ceratina kulesh) NUSA TENGGARA TIMUR Wona, Yosevina; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Instant noodles are staple food products in dry form. Instant noodle has many advantages that is long shelf life, practical under everywhere and easy in its presentation. Raw materials of carbohydrate uwi have 75% -84% as a substitute of wheat flour and corn pulut is a binder when the process of making noodles replace gluten. This research aims to know the best treatment of modified uwi flour with corn flour in the manufacture of instant noodles, to know the feasibility of the business of instant noodle making of modified wheat flour with corn flour maize.The experimental design used in this research is Completely Randomized Design (RAL) of one factor as its factor that is the proportion between uwi flour and corn flour.The proportions are as follows: 95%: 5%, 90%: 10%, 85%: 15%, 80%: 20%, 75%: 25%, 70%: 30%, 65%: 35%.the results showed that the best treatment in this study was the proportion of modified noodle 70% and 30% cornflour with 8.56% protein parameter, 3.07% ash content, 0.88% water content, 1.87N crude and crude fiber 0.76%. Mie instan adalah produk makanan pokok dalam bentuk kering.Mie instan mempunyai banyak kelebihan yaitu umur simpannya panjang, praktis dibawah kemana-mana dan mudah dalam penyajiannya. Bahan baku uwi mempunyai karbohidrat sejumlah 75%-84% sebagai pengganti tepung terigu dan jagung pulut bersifat sebagai bahan pengikat saat proses pembuatan mie menggantikan gluten. Penelitan ini bertujuan Untuk mengetahui perlakuan terbaik tepung uwi termodifikasi dengan tepung jagung pulut dalam pembuatan mie instan, Untuk mengetahui kelayakan usaha pembuatan mie instan tepung uwi termodifikasi dengan tepung jagung pulut. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelian ini adalah Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor sebagai faktornya yaitu proporsi antara tepung uwi dan tepung jagung pulut. Adapun proporsinya sebagai berikut: 95%:5%, 90%: 10%, 85% : 15%,80%:20, 75% : 25%, 70: 30%, 65% : 35%. Hasil penelitian menunjukan bahwa Perlakuan terbaik proporsi tepung uwi termodifikasi 70% dan tepung jagung pulut 30% dengan parameter protein 8.56%, kadar abu 3.07%, kadar air 0.88%, daya patah 1.87N, serat kasar 0.76%.
PROPORSI TEPUNG SAGU DAN KACANG GUDE (Cajanus cajan L) PADA PEMBUATAN KUE BAGIAK Nipu, Gema; Ahmadi, Kgs; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagiak is one of the traditional food ingredients which are then processed end printed according to the desired shape and size also has a taste and savory that is integrated perfectly. The treatment applied in this study aims to get best in making the bagiak using sago flour and the gude beans to find out the feasibility of the cake making business for the good based on the best treatment. This study used a completely randomized end desing 3 replication with the proportion of sago flour in gude bean flour 95: 5%, 90:10%, 85:15%, 80: 20%, 75:25%. The results showed that the best treatment for making the cake was the treatment of 80% sago flour and 20% gude peanut flour with protein content of 3.62%, ash 1.98%, moisture 4.01%, fracture 13.32% , color 3.66, aroma 4.03, and flavor 3.51. Bagiak merupakan salah satu bahan makanan tradisional yang terbuat dari bahan- bahan sederhana yang kemudian diolah dan dicetak sesuai bentuk dan ukuran yang dikehendaki juga memiliki rasa dan gurih yang terpadu dengan sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan terbaik dalam pembuatan kue bagiak menggunakan tepung sagu dan tepung kacang gude mengetahui kelayakan usaha pembuatan kue bagiak berdasarkan perlakuan terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (Randomizel compelte Desing) dengan 3 kali ulangan,dengan proporsi tepung sagu tepung kacang gude, 95: 5%, 90:10%, 85:15%, 80: 20%, 75:25%. Hasil penelitian menunjukan perlakuan terbaik pada pembuatan kue bagiak adalah perlakuan tepung sagu 80% dan tepung kacang gude 20% dengan hasil kadar protein 3,62%, kadar abu 1,98%, kadar air 4,01%, daya patah 13,32%, warna 3,66, aroma 4,03, dan rasa 3,51.