cover
Contact Name
Fathul Qorib
Contact Email
fathul.indonesia@gmail.com
Phone
+6285354769970
Journal Mail Official
jisip.unitri@gmail.com
Editorial Address
Jl. Telaga Warna, Tlogomas, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP)
ISSN : -     EISSN : 24426962     DOI : 10.33366/jisip
JISIP Journal of Social and Political Science is published three times a year (April, August and December). Article published in JISIP is an article based on the results of research (priority), and articles on scientific reviews of contemporary phenomena in the field of Social and Political Science, Communication and Public Administration. In receiving articles that will be reviewed by internal, external editors and reviewers. Each article entered in the JISIP journal will be sent to the editors section through the Initial Review process. After that, the articles will be sent to peer reviewers to get the Double-Blind Peer Review Process. JISIP will be published papers chosen under the a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Articles 608 Documents
Pengelolaan Informasi Privat dan Mitigasi Risiko Sosial pada Mahasiswa Kos Pelaku Perilaku Seksual Pranikah di Kota Madiun Ardianingsih, Neni Utami; Magdalena, Maria; Hasan, Fikri
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3989

Abstract

This study explores the privacy communication management of boarding house students in Madiun engaged in premarital sexual behavior through the lens of Communication Privacy Management (CPM). Using a qualitative case study approach, the research focuses on how these individuals manage information ownership, construct privacy boundaries, and navigate turbulence within interpersonal relationships. Data were gathered through in-depth interviews with three students and analyzed using CPM’s core pillars: privacy ownership, boundaries, rules, and turbulence. The findings reveal that students perceive their sexual behavior as highly sensitive private property under their absolute control as information owners. Disclosure is executed selectively, dictated by levels of interpersonal trust, relationship context, and potential social risks. Consequently, students establish situational and flexible privacy rules while designating specific confidants as "co-owners" of the information. When these rules are breached, leading to information leakage, informants experience privacy turbulence that triggers significant emotional responses. However, such turbulence does not invariably result in a total communication breakdown; instead, it prompts students to recalibrate their privacy boundaries and tighten future communication patterns. This research contributes to interpersonal communication studies by demonstrating the resilience of CPM theory in explaining the complex privacy dynamics of students facing intense social stigma and moral risks within a conservative environment.Penelitian ini mengeksplorasi manajemen komunikasi privasi mahasiswa kos di Madiun yang terlibat dalam perilaku seksual pranikah melalui perspektif Communication Privacy Management (CPM). Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, fokus penelitian diarahkan pada bagaimana individu mengelola kepemilikan informasi, mengonstruksi batasan privasi, serta menavigasi turbulensi dalam hubungan interpersonal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga mahasiswa dan dianalisis menggunakan pilar utama CPM: kepemilikan, batasan, aturan, dan turbulensi privasi. Temuan mengungkapkan bahwa mahasiswa memandang perilaku seksual mereka sebagai properti pribadi yang berada di bawah kendali penuh mereka sebagai pemilik informasi. Pengungkapan dilakukan secara selektif, yang ditentukan oleh tingkat kepercayaan interpersonal, konteks hubungan, dan potensi risiko sosial. Akibatnya, mahasiswa menetapkan aturan privasi yang situasional dan fleksibel sambil menunjuk orang kepercayaan tertentu sebagai "pemilik bersama" (co-owners) informasi tersebut. Ketika aturan ini dilanggar dan memicu kebocoran informasi, informan mengalami turbulensi privasi yang memicu respons emosional yang signifikan. Namun, turbulensi tersebut tidak selalu berujung pada pemutusan komunikasi total; sebaliknya, hal itu mendorong mahasiswa untuk melakukan rekalibrasi batasan privasi dan memperketat pola komunikasi di masa depan. Penelitian ini berkontribusi pada studi komunikasi interpersonal dengan menunjukkan ketahanan teori CPM dalam menjelaskan dinamika privasi kompleks mahasiswa yang menghadapi stigma sosial dan risiko moral di lingkungan konservatif. 
Presentasi Diri Antara Tubuh Privat dan Tubuh Sosial Perempuan Generasi Z dalam SmartChallenge Le Sserafim di TikTok Valensia, Amara; Fajar, Fajar
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3970

Abstract

This study aims to explore the negotiation of self-presentation between the private body and the social body of Generation Z women in SmartChallenge Le Sserafim on TikTok. The approach used is qualitative, employing Erving Goffman’s dramaturgical theory as the theoretical analysis framework. The research location is in Sekaran Village, Gunungpati District, Semarang City, which was chosen because of the high use of TikTok among Generation Z, especially female students of the Faculty of Social and Political Sciences, Semarang State University. Data were collected through interviews with nine main informants, namely female students who were actively involved in the SmartChallenge trend, and five supporting informants, namely female students who only knew about the trend. Data validity was tested through triangulation, while data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldana model, namely, data condensation, presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that SmartChallenge Le Sserafim on TikTok has become a space for Generation Z women to present themselves socially and privately. There is a conscious negotiation between the desire for recognition and concerns about public judgment, so Generation Z women tend to use a second account to maintain privacy and avoid body shaming. Body representation on TikTok is a conscious negotiation between the front and backstage, in accordance with the concept of dramaturgy. This phenomenon demonstrates that Generation Z women actively strategize self-presentation to maintain safety, comfort, and identity amidst the pressures of algorithms and social norms.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana negosiasi presentasi diri antara tubuh privat dan tubuh sosial perempuan generasi Z dalam SmartChallenge Le Sserafim di TikTok. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan menempatkan teori dramaturgi Erving Goffman sebagai kerangka analisis teoritis. Lokasi penelitian berada di Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang dipilih karena tingginya penggunaan TikTok di kalangan generasi Z, khususnya mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan sembilan informan utama yaitu mahasiswi yang aktif terlibat dalam tren SmartChallenge, dan lima informan pendukung yaitu mahasiswi yang hanya mengetahui tren tersebut. Validitas data diuji melalui triangulasi, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yaitu kondensasi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SmartChallenge Le Sserafim di TikTok menjadi ruang bagi perempuan generasi Z untuk menampilkan diri secara sosial maupun privat. Ditemukan adanya negosiasi aktif antara keinginan untuk diakui dan kekhawatiran terhadap penilaian publik, sehingga perempuan generasi Z cenderung menggunakan akun kedua untuk menjaga privasi serta menghindari body shaming. Representasi tubuh di TikTok menjadi bentuk negosiasi sadar antara panggung depan dan belakang sesuai konsep dramaturgi. Fenomena ini membuktikan bahwa perempuan generasi Z secara aktif mengatur strategi presentasi diri supaya  tetap aman, nyaman, dan sesuai identitas pribadi di tengah tekanan algoritma dan norma sosial.
Kesenjangan Struktural antara Penegakan Represif dan Rehabilitasi Sosial Berkelanjutan dalam Penanganan Kelompok Perkotaan yang Terpinggirkan di Kabupaten Banyumas Celesta, Araska Arkananta; Wijayanti, Tutik
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3782

Abstract

The increasing number of beggars, vagrants, and homeless people (BVH) in Banyumas Regency highlights the limitations of social welfare policies in addressing these issues sustainably. Previous studies have tended to focus on aspects of enforcement, control, or partial rehabilitation, while policy evaluations that integrate implementation performance and inter-agency governance at the local level remain limited. This study aims to evaluate the effectiveness, adequacy, responsiveness, and equity of BVH management policies for the 2020–2024 period and to analyze governance between the Social Affairs Office and the Civil Service Police Unit (Satpol PP). The study employs a descriptive qualitative method using a case study approach in South Purwokerto Subdistrict, selected due to high community mobility and the intensity of BVH presence. There were five informants, consisting of two functional officials for social rehabilitation from the Social Affairs Office, one section head from the Community Police Unit, one shelter manager, and one community member selected through purposive sampling. Data collection was conducted through in-depth interviews and field observations over a seven-day period. Research data included Banyumas Regency Regulation No. 16 of 2015 as well as BVH statistical data from the publication Banyumas in Figures for the 2020–2024 period. Analysis utilized William N. Dunn’s policy evaluation framework and Edwards III’s (1980) implementation model. Results indicate that implementation remains dominated by a temporary repressive approach, while rehabilitation efforts are limited due to resource constraints and insufficient service capacity. Policy performance is also influenced by weak inter-agency governance, particularly structural fragmentation, communication barriers, and the absence of integrated technical regulations.Meningkatnya jumlah Pengemis, Gelandangan, dan Orang Terlantar (PGOT) di Kabupaten Banyumas menunjukkan keterbatasan kebijakan kesejahteraan sosial dalam menangani permasalahan secara berkelanjutan. Penelitian terdahulu cenderung menitikberatkan aspek penertiban, pengendalian, atau rehabilitasi secara parsial, sementara evaluasi kebijakan yang mengintegrasikan kinerja implementasi dan tata kelola antarinstansi daerah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas, kecukupan, responsivitas, dan perataan kebijakan penanganan PGOT periode 2020–2024 serta menganalisis tata kelola antara Dinas Sosial dan Satuan Polisi Pamong Praja. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus di Kecamatan Purwokerto Selatan yang dipilih karena tingginya mobilitas masyarakat dan intensitas PGOT. Informan berjumlah lima orang, terdiri dari dua pejabat fungsional rehabilitasi sosial Dinas Sosial, satu kepala seksi Satpol PP, satu pengelola rumah singgah, dan satu anggota masyarakat yang dipilih purposive. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan selama tujuh hari. Data penelitian meliputi Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 16 Tahun 2015 serta data statistik PGOT dalam publikasi Banyumas dalam Angka periode 2020–2024. Analisis menggunakan kerangka evaluasi kebijakan William N. Dunn dan model implementasi Edwards III (1980). Hasil menunjukkan implementasi masih didominasi pendekatan represif temporer, sedangkan rehabilitasi terbatas akibat keterbatasan sumber daya dan kapasitas layanan. Kinerja kebijakan juga dipengaruhi lemahnya tata kelola antarinstansi, terutama fragmentasi struktural, kendala komunikasi, dan belum tersedianya regulasi teknis terintegrasi.  
Soft Masculinity dan Female Gaze pada Iklan Mirael Sugar Wax x Jefri Nichol “Waxing Itu Enak, Waxing Itu Mirael, Nagih Kan?” Sandi, Rifki Aris; Lomanto, Reiner Christlouvie; Narendra, Rama; Gusma, Favian Daffa
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3639

Abstract

 This study explores how the Mirael Sugar Wax x Jefri Nichol advertisement titled “Waxing Itu Enak, Waxing Itu Mirael, Nagih Kan?” constructs soft masculinity while mobilizing the female gaze as a commercial strategy. The analysis focuses on a single video advertisement, examining frame composition, gaze direction, bodily gestures and facial expressions, vocal intonation, lighting, background color, and the interaction between visual and audio elements in producing meaning. Using Multimodal Discourse Analysis, the study finds that Jefri Nichol’s body is presented as sensual and aesthetically appealing, open to being looked at, yet still maintaining symbolic control through his athletic physique and carefully managed performance. This representation does not fully challenge patriarchal structures; instead, it offers a softer and more flexible form of masculinity that remains within the same framework of power. In this context, the female gaze does not operate as a reversal of dominance but as a contemporary way of packaging and marketing the male body within visual consumer culture. The study contributes to masculinity and advertising scholarship in Indonesia by demonstrating how male objectification can function as a market strategy that reshapes masculine imagery without fundamentally disrupting dominant gender arrangements.Penelitian ini membahas bagaimana iklan Mirael Sugar Wax x Jefri Nichol berjudul “Waxing Itu Enak, Waxing Itu Mirael, Nagih Kan?” membangun representasi soft masculinity sekaligus memanfaatkan female gaze sebagai strategi komersial. Analisis dilakukan terhadap satu video iklan dengan menelaah komposisi gambar, arah tatapan, gestur dan ekspresi tubuh, intonasi suara, pencahayaan, warna latar, serta hubungan antar unsur visual dan audio yang membentuk makna. Melalui pendekatan Multimodal Discourse Analysis, penelitian ini menunjukkan bahwa tubuh Jefri Nichol ditampilkan sebagai sosok yang sensual dan estetis, terbuka terhadap tatapan, tetapi tetap memegang kendali simbolik melalui tubuh yang atletis dan performa yang terkontrol. Representasi ini tidak benar benar menggugat struktur patriarki, melainkan menampilkan bentuk maskulinitas yang lebih lembut dan lentur namun tetap berada dalam kerangka kuasa yang sama. Female gaze dalam iklan ini bekerja bukan sebagai pembalikan dominasi, tetapi sebagai cara baru untuk mengemas dan menjual tubuh laki laki dalam budaya konsumsi visual. Temuan ini memberi sumbangan pada kajian maskulinitas dan periklanan di Indonesia dengan menunjukkan bahwa objektifikasi laki laki dapat menjadi strategi pasar yang memperbarui citra maskulinitas tanpa sepenuhnya menggeser tatanan gender yang dominan. 
Public Attitudes Toward Green Energy During the Russia-Ukraine War: Social Media Sentiment Analysis Ali, Suaad Yahya Mohammed; Majeed, Muhammad Kashif; Amzat, Ismail Hussein
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3949

Abstract

 The Russia-Ukraine war, beginning in February 2022, profoundly disrupted global energy markets and forced European nations to reconsider their long-standing dependence on Russian fossil fuels. This geopolitical crisis intensified public debate regarding the role of green energy in ensuring energy security and national sovereignty. This study examines public attitudes toward green energy during the first five months of the conflict through a sentiment analysis of 153,515 Facebook posts. By applying emotional intensity measurements and statistical techniques, the research identifies shifting discourse patterns across two distinct phases: Phase 1 (February–March) and Phase 2 (April–June). Findings reveal that public engagement increased substantially, with Phase 2 containing 59% more content than Phase 1. Overall sentiment shifted from slightly negative (-0.02) to positive (+0.03), characterized by a significant rise in hope and urgency alongside a marked decrease in fear. Most significantly, the framing of green energy as a tool for energy independence increased by 60%, as support grew from 21.6% to 25.9%. These results indicate that the war fundamentally reframed public discourse, positioning renewable energy as a strategic security imperative rather than a purely environmental concern. This shift presents new opportunities for accelerating energy transitions, provided that persistent concerns regarding reliability and cost are addressed.
Socio-Economic Analysis of the Resilience of Tobacco Farmers in Tatung Village in Maintaining Sustainable Agriculture Ridho, Irvan Nur; Triono, Bambang; Marsiwi, Dwiati; Nguyen, Nong Bang
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3783

Abstract

 The dynamics of tobacco farmers’ economic livelihoods in Indonesia represent a crucial issue in terms of agricultural sustainability. The discourse surrounding tobacco farmers is full of pros and cons. On the one hand, tobacco farming contributes significantly to regional income; on the other hand, it poses challenges in the midst of smoking restrictions. Moreover, there is growing discourse on replacing natural tobacco with synthetic tobacco and even taro leaves as substitutes. This study employs a qualitative method with a phenomenological design, conducted in Tatung Village, Balong   District, Ponorogo Regency. Data were collected through direct observation, interviews, and documentation to capture how local farmers strategize in facing challenges that threaten the sustainability of tobacco farming. The resilience model of tobacco farmers can be formulated into three main pillars: individual capabilities, community social capital, and informal institutional support. These three pillars are interconnected and together form a strong socio-ecological foundation for coping with dynamic shifts in the economy, climate, and policy. The practical implications of this study are the need for agricultural policies that recognize local capacities and adaptive strategies of farmers, encourage the formation of community-based farmer cooperatives, increase farmers' access to market information and sustainable planting technologies. The resilience model found in this study can be replicated in other areas with similar agricultural commodities.Dinamika mata pencaharian ekonomi petani tembakau di Indonesia merupakan isu krusial dalam hal keberlanjutan pertanian. Wacana seputar petani tembakau penuh dengan pro dan kontra. Di satu sisi, pertanian tembakau berkontribusi secara signifikan terhadap pendapatan daerah; Di sisi lain, itu menimbulkan tantangan di tengah pembatasan merokok. Selain itu, ada wacana yang berkembang tentang penggantian tembakau alami dengan tembakau sintetis dan bahkan daun talas sebagai pengganti. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologis, yang dilakukan di Desa Tatung, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi untuk menangkap bagaimana petani lokal menyusun strategi dalam menghadapi tantangan yang mengancam keberlanjutan pertanian tembakau. Model ketahanan petani tembakau dapat dirumuskan menjadi tiga pilar utama: kemampuan individu, modal sosial masyarakat, dan dukungan kelembagaan informal. Ketiga pilar ini saling berhubungan dan bersama-sama membentuk fondasi sosial-ekologis yang kuat untuk mengatasi pergeseran dinamis dalam ekonomi, iklim, dan kebijakan. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya kebijakan pertanian yang mengakui kapasitas lokal dan strategi adaptif petani, mendorong pembentukan koperasi tani berbasis masyarakat, meningkatkan akses petani terhadap informasi pasar dan teknologi penanaman berkelanjutan. Model ketahanan yang ditemukan dalam penelitian ini dapat direplikasi di daerah lain dengan komoditas pertanian serupa. 
When the State Remains Silent: Media Framing and the Politics of Femicide in Indonesia Hajad, Vellayati; Ikhsan, Ikhsan; Herizal, Herizal
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3612

Abstract

This study explores the intersection between media discourse and policy inaction concerning femicide in Indonesia. Despite increasing cases of lethal violence against women, the term "femicide" remains absent mainly in state narratives and legal frameworks. The objective of this research is to examine how Indonesian online news media frame femicide cases and to analyze why these narratives fail to influence policy responses. Methodologically, the study employs a qualitative approach using Critical Discourse Analysis (CDA) and Multiple Streams Framework (MSF). A purposive sample of 20 news articles from major Indonesian news outlets  and reports from women's rights organization was analyzed. CDA was used to identify dominant discursive patterns, actor representation, and silencing strategies, while MSF was applied to understand why femicide has not been translated into public policy. The findings reveal that media coverage tends to individualize cases, focusing on sensational elements and moral panic rather than systemic gender-based violence. Government officials are rarely cited, and policy solutions are virtually absent from the discourse. The analysis also shows that although the problem stream (public awareness) is present, the policy stream (available solutions) and political stream (elite will) remain disconnected, hindering agenda-setting. The study concludes that a formal policy response does not reflect institutional inertia and a more profound gendered political silence. It recommends integrating gender-sensitive terminology in official discourse, enhancing collaboration with civil society, and institutionalizing femicide as a category in national crime data and law.
Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Karawang melalui Analisis Beban Kerja Pendamping dan Sinkronisasi Data dalam Perspektif George C Edwards III Amarani, Seccilia; Purnamasari, Hanny
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3849

Abstract

This study analyzes the implementation of the Family Hope Program (PKH) in Pasir Kamuning Village, Karawang Regency, based on Ministry of Social Affairs Regulation No. 1 of 2018, using George C. Edwards III’s policy implementation model. Adopting a descriptive qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews with the PKH Assistant, the Head of Social Protection and Security at the Karawang Social Affairs Office, the Village SIKS-NG Operator, and the PKH Group Leader. Data analysis was conducted using Miles and Huberman’s interactive model, involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The results reveal four key findings: (1) Communication occurs through P2K2 forums and WhatsApp groups, yet delays in disbursement information frequently cause uncertainty among Beneficiary Families (KPM); (2) Resources are a crucial constraint, as one assistant manages 342 KPM across three villages, making the role of group leaders vital for information flow; (3) Implementers' disposition is the strongest factor, characterized by high commitment and persuasive approaches to maintain KPM compliance with education and health requirements; (4) Bureaucratic structure necessitates intensive coordination with SIKS-NG operators, though inter-institutional data synchronization still faces timing challenges. This study concludes that strengthening digital data integration and increasing field personnel are essential to optimize PKH implementation at the village level.Penelitian ini menganalisis implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Pasir Kamuning, Kabupaten Karawang, berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018 melalui model kebijakan George C. Edwards III. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan Pendamping PKH, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Karawang, Operator SIKS-NG, serta Ketua Kelompok PKH. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama: (1) Komunikasi berjalan melalui forum P2K2 dan grup WhatsApp, namun keterlambatan informasi jadwal pencairan masih sering memicu ketidakpastian di tingkat Keluarga Penerima Manfaat (KPM); (2) Sumber daya manusia menjadi kendala krusial, di mana satu pendamping harus menangani 342 KPM di tiga desa berbeda, sehingga peran ketua kelompok sangat vital dalam menjaga alur informasi; (3) Disposisi pelaksana merupakan faktor pendukung terkuat, ditandai dengan komitmen tinggi dan pendekatan persuasif untuk menjaga kepatuhan KPM terhadap kewajiban pendidikan serta kesehatan; (4) Struktur birokrasi menuntut koordinasi intensif dengan operator SIKS-NG, meskipun sinkronisasi data antar-instansi masih menghadapi tantangan ketepatan waktu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan integrasi sistem data digital dan penambahan tenaga lapangan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan efektivitas implementasi PKH di tingkat desa.